Senin, 28 Maret 2016

Super Sang Vespa Pertamaku

Foto Gua lagi culun-culunnya
PERTENGAHAN Maret 2016 kemarin, aku dan istriku tercinta, Mina, sibuk mencari STNK Revo Fit yang entah ke mana. Saat mencari dokumen itulah, terselip sebuah foto. Foto aku sedang berpose di atas Vespa Super 1966.

Mengenakan kemeja biru lengan panjang, menyandang tas hitam merah, mengenakan helmet custom hijau, selaras dengan kelier sang Super. Pose itu di ambil di halaman parkir belakang Graha Pena Pontianak Post, Jl Gajahmada Pontianak, pada akhir 2000.

Saat itu, aku baru saja diterima sebagai wartawan di koran milik Jawa Pos Grup itu. Foto diambil
Mas Timbul, Fotograper Senior di Pontianak Post, sesaat sebelum aku menjalankan tugas-tugas sebagai jurnalis.

Kebetulan tugas pertama liputan aku bertanggungjawab di desk liputan Kota Pontianak. Meliputi Pemkot dan DPRD Kota Pontianak. Wali Kotanya saat itu adalah Buchary A Rachman. Vespa Super ini kubeli dari seorang teman kuliah asal Mempawah, Kalbar, Isnaini.



Vespa ini kutebus Rp 1,6 juta. Isnaini kini telah jadi petinggi di Dinas Pendidikan Pemkab Mempawah. Vespa ini rupanya telah tersimpan lama di sebuat UPT Dinas Pendidikan yang lokasinya tepat di depan Kampus IAIN Pontianak. Jujur, saat itu, aku belum tahu banyak tentang Vespa.

Jadi, begitu ada Vespa yang harganya masuk dengan kocek, langsung kuambil. Rupanya, ada banyak jenis Vespa. Termasuk Vespa kedua yang kumiliki, Sprint 1978, atau The Last Model of Sprint.

Sebab, pada 1979 dan 1980, Vespa mengeluarkan PX. Jenis Vespa lainnya, ada Kongo, Spartan, PS, Exclusive, Excel. Ada juga selain keluaran  Piaggio, Bajaj yang konon diproduksi bukan di Italia, namun India.

Vespa pertama ini telah banyak berjasa, mengantarkan aku ke berbagai tempat liputan. Termasuk mengantar jemput istriku saat ini, Mina, yang saat itu bekerja di 21 Pontianak di Kawasan Pasar Nusa Indah, Pontianak.

Vespa Super 1966 ini, memiliki body sedikit lebih ramping ketimbang Sprint. Batok kepalanya juga sama. Hanya, ban Super lebih kecil ketimbang Sprint. Hampir setahun digunakan, aku melepas Super ini ke rekan kerja di kantor.

Namanya Bang Iwan. Bang Iwan kini tetap setia dengan Vespa, meski sudah berganti menunggangi Excel, yang didesain ulang sehingga kini lengkap dengan zespan di sebelah kiri. Usah menjual Super, aku beralih ke jenis Vespa lainnya, Sprint 1978.

Sprint ini sejatinya adalah milik rekanku sendiri sesama jurnalis, namanya Pay. Nama lengkapnya Zulfy Asmadi. Saat itu, karena saama-sama jurnalis aku beberapa kali memakai Sprint miliknya ini.

Sampai kemudian, ia berniat menjualnya dan aku pun langsung meminangnya dengan harga Rp 1,5 juta. Sprint yang masih standar ini, langsung kupercayakan kepada mekanik handal asal Singkawang, Bang Budi.

Bengkelnya, ada di Sungai Garam arah ke Sambas. Selain mengubah warna kuning dan menggantinya dengan hitam metalic, batok kepala juga dipreteli. Kemudi kemudian, kuganti dengan stang bergaya sport.

Stang sport dan berbagai keperluan spar part Vespa kubeli di NV Vespa, sebuah toko spare part Piagio ternama di Pontianak yang beralamat di Jl Sudirman. Sprint 1978 ini menemaniku hampir setahun selama bertugas di Kota Singkawang.

Kinerja dan daya tahan mesinnya sudah teruji karena hampir setiap hari Sabtu dan Minggu, aku pulang pergi Pontianak-Singkawang dengan sprint kesayangan ini. Setahun kemudian, aku jatuh cinta pada sepeda motor lainnya.

Meninggalkan Sprint, aku meminang Kawasaki Binter Mercy 200 Cc platina tahun 1981. Binter Mercy ini milik teman satu kantor juga, yang bekerja di bagian Ekspedisi, bernama Derry. Motor yang tak lagi orisinil ini, dan telah berubah menjadi chooper, kutebus Rp 1,6 juta.

Tak lama berselang, aku menebus Binter Mercy lainnya, tapi sudah CDI, tahun 1984. Sebutannya, Mercy Kobra. Sampailah, pada motor antik Eropa bernama Sparta Villers 200 CC, buatan Belanda dan Inggris kubeli pada 2007.

Sayang, Villiers tak lama berada di garasi rumah, karena ada kebutuhan mendesak. Sampai sekarang, mimpi punya motor antik lagi belum kesampaian. Padahal, sudah rindu ngaspal lagi.
Mudah-mudahan, mimpi itu segera menjelma nyata. Minimal ada Triump kek, BSA kek, Norton kek, BMW kek, AJS kek, wakakkakak. Amiinnnn ya robal alamiinnn.

Sejarah Vespa 

Sejarah Vespa dimulai lebih dari seabad silam, tepatnya 1884. Perusahaan Piaggio didirikan di Genoa, Italia pada tahun 1884 oleh Rinaldo Piaggio. Bisnis Rinaldo dimulai peralatan kapal. Tapi di akhir abad, Piaggio juga memproduksi Rel Kereta, Gerbong Kereta, body Truck, Mesin dan Kereta api.

Pada Perang Dunia I, perusahaannya memproduksi Pesawat Terbang dan Kapal Laut. Pada tahun 1917 Piaggio membeli pabrik baru di Pisa dan 4 tahun kemudian Rinaldo mengambil alih sebuah pabrik kecil di Pontedera di daerah Tuscany Italia.

Pabrik di Pontedera inilah yang mana menjadi Pusat produksi pesawat terbang beserta komponen-komponennya (baling-baling, Mesin dan Pesawat) Selama Perang Dunia II, pabrik di Pontedera membuat P108 untuk mesin Pesawat dua penumpang dan Versi Pembom.

Pada akhir Perang Dunia II, pabrik Piaggio dibom oleh pesawat sekutu. Setelah perang usai, Enrico Piaggio mengambil alih Piaggio dari ayahnya Rinaldo Piaggio. Pada saat itu perekonomian Italia sedang memburuk, Enrico memutuskan untuk mendisain alat transportasi yang murah.

Enrico memutuskan untuk fokuskan perhatian perusahaannya pada masalah personal Mobility yg dibutuhkan masyarakat Italia. Kemudian bergabunglah , Insinyur bidang penerbangan yang berbakat yang merancang, mengkonsep dan menerbangkan Helikopter Modern Pertamanya membuat rancangan yang simple,ekonomis, nyaman dan juga elegan.

D'Ascanio memimpikan sebuah revolusi kendaraan baru. Dengan mengambil gambaran dari tehnologi pesawat terbang, dia membayangkan sebuah kendaraan yang dibangun dengan sebuah "Monocoque" atau Unibody Steel Chassis.

Garpu depan seperti Ban mendarat sebuah pesawat yang mana mudah untuk penggantian ban. Hasilnya sebuah design yg terinspirasi dari pesawat yang yang sampai saat ini berbeda dengan kendaraan yang lain.

Maka pada 1945, konstruksi alternatif tersebut ditemukan. Awalnya memang sebuah konsep sepeda motor berkerangka besi dengan lekuk membulat bagai terowong. Mengejutkan, ternyata bagian staternya dirancang dengan menggunakan komponen bom dan rodanya diambil dari roda pesawat tempur.

Guna mengoptimalkan bentuk dan keamanan penggunanya, pabrikan yang kala itu masih terbilang sebagai usaha "kaki lima" merancang papan penutup kaki pada bagian depan. Proyek ini langsung dipimpin oleh Corradino d'Ascanio. Karena itu, hak paten pun segera dapat mereka kantongi.

Hasilnya, muncullah pertama kali produk motor dengan seri MP5. Kendaraan ini berteknologi sederhana tetapi punya bentuk yang amat menarik, bagai binatang penyengat (lebah/tawon) karena bentuk kerangkanya.

Namun, karena bentuk penutup pengaman yang bagai papan selancar itu, sejumlah pekerja di pabrik Piaggio pun bahkan mengatakannya sebagai motor Paperino. Harap diingat, Paperino adalah sindiran sinis untuk tokoh Donald Duck (bebek). Maka, d'Ascanio pun putar akal untuk memperbaiki model tersebut.

D'ascanio hanya membutuhkan beberapa hari untuk mengonsep ulang bentuk desain kendaraannya dan prototipnya diberi nama MP6. Saat Enrico Piaggio melihat protototip MP6 itu, ia secara tak sengaja berseru "Sambra Una Vespa" (terlihat seperti Tawon).

Akhirnya dari seruan tak sengaja itu, diputuskan kendaraan ini dinamakan `Vespa' (tawon dalam bahasa Indonesia). Pada April 1946, prototip MP6 ini mulai diproduksi masal di pabrik Piaggio di Pontedera, Italia.

Pada Akhir 1949, telah di produksi 35000 unit dan dalam 10 tahun telah memproduksi 1 Juta unit dan pada pertengahan tahun 1950. Selama tahun 1960-an dan 1970-an Vespa menjadi simbol dari revolusi gagasan pada waktu itu.

Perkembangan selanjutnya, produk ini ternyata laris diserap pasar Prancis, Inggris, Belgia, Spanyol, Brazil, dan India - selain di pasar domestik produk ini laku bagai kacang goreng. Selain itu, India pun memproduksi jenis dan bentuk yang sama dengan mengambil mesin Bajaj.

Jenisnya adalah Bajaj Deluxe dan Bajaj Super. Sejumlah pihak lantas mengajukan lamaran untuk joint membuat Vespa. Maka pada 1950 munculah Vespa 125 cc buatan Jerman. Pada saat itu banyak negara lain yang mencoba membuat produk serupa, tetapi ternyata mereka tak sedikit pun mampu menyaingi Piaggio.

Di antara pesaing itu adalah Lambretta, Heinkel, Zundapp, dan NSU. Bagi masyarakat Indonesia, produk Lambretta dan Zundapp, sempat populer di era 1960-an. Selidik punya selidik, fanatisme terhadap Vespa ternyata muncul akibat ciri dasar bentuk motor ini yang selalu dipertahankan pada setiap produk berikutnya.

Bahkan saat mereka terbilang melakukan "revolusi" bentuk pada produk baru,Vespa 150 GS, kekhasan pantat bahenol masih terasa melekat. Produk150 GS, kala itu dikenal sebagai Vespamore dan hampir selalu tampil di tiap film tahun 1960-an, memang kemudi dan lampu sorotnya mulai dibuat menyatu.

Tetapi, secara keseluruhan apalagi bentuk pantatnya, benar-benar masih membulat. Dan cerita terus berlanjut saat ini dengan model generasi baru Vespa, mempersembahkan Vespa ET2, Vespa ET4, Vespa Granturismo dan Vespa PX150. Vespa bukan hanya sekedar Scooter tapi salah satu Icon besar orang Italia.

Sumber lain: http://scooter-super.blogspot.co.id/2011/01/sejarah-vespa-super.html


Tidak ada komentar: