Oleh: Hasyim Ashari
Pada parak pagi, Aku terbangun. Terperanjat mendapati api sudah berkobar di mana-mana. Sebentar melompat ke dinding, sejurus kemudian menerjang lemari pakaian. Meninggalkan baramerah di daun pintu. Sisanya mengapit langit-langit. Kemudian jatuh melelehkan lantai.
Sedang kasurku yang usang, entah kenapa lidah api enggan menjilatnya. Kecuali kepekatan asap yang mulai menusuk tulang iga. Sangit yang menggigit, menuntunku menembus bara yang menggetarkan raga.
Mendatangkan tanya yang berkecamuk. Apa gerangan yang sedang terjadi. Mengapa semuanya sekian berubah. Padahal, semalam masih kulihat sebaris harapan. Berpendar bersama gemintang di keluasaan cakrawala. Sejenak setelah ayah menyanjungku.
"Ayah mengeluarkan dua juta sperma ketika ereksi. Dari jumlah itu, hanya seratus ribu yang selamat. Dan kau satu-satunya yang berhasil bertemu indung telur di rahim ibumu. Sebelum lahir, kau sudah memenangkan pertarungan besar. Jadi jangan sia-siakan hidupmu. Hasilkanlah sebanyak mungkin uang, karena dengan uang kau bisa membeli segalanya. Untuk itu, melanggar prinsip sesekali, tidak apa. Dan jika seseorang mempercayaimu, terimalah dengan jiwa besar. Karena tanpa itu, kau bukan siapa-siapa," kata-kata ayah seperti wasiat.
Dan iapun menutup ceritanya dengan menegaskan dirinya tidak tidur saat aku dilahirkan.
"Ayah manapun akan melakukan hal serupa. Sebuah keajaiban, menemanimu melihat dunia untuk pertama kali. Kau adalah pelipur perih ayah setelah kehilangan pekerjaan," ujarnya.
Kemudian, aku lelap dalam dekapan malam. Dengan angan mengembang, asa yang menyala-nyala dan cita-cita yang mengangkasa. Tapi pagi ini, hanya aroma kematian yang menyeruak. Bergerak di puncak ilalang yang mulai tegak.
Pada api yang tidak lagi jinak. Aku beringsut, mencoba duduk. "Kau sudah bangun, Anakku. Sini dekat ayah," suaranya bergetar datar.
Aku segera meruap meraih sisi lengannya yang perkasa. Kupenuhi gerak dengan gurat isyarat. Bahwa bayang ketakutan datang entah darimana. Meracun nafasku, hingga tarik alirnya tersengal-engah.
Ayah menghela nafas. Berat, dalam dan tersendat. Bukan karena asap yang mulai pekat. Tapi seperti dihimpit beban dahsyat. Dan dibiarkannya tetap begitu. Sesaat, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Berhenti menumbuk mataku.
Tapi keteduhan di wajahnya itu, seolah luluh runtuh. Ada semacam senyuman yang tidak jadi. Yang isinya cukilan misteri yang sukar kupahami. Entah bagaimana, aku merasa maut sedang bertengger di matanya. Memburu nadinya. Mengoyak belulangnya. Menohok jantungku sendiri.
Dalam sekejap kematian yang tertutup rapat, kini ikhwal yang terbentang gamblang. Sedang aku berubah ciut. Seperti guratan fajar yang membentuk bayang kehitaman cecabang pohon-pohon perdu di halaman belakang.
Aku tahu pasti akan mati. Yang tetap tidak kuketahui adalah, akan kemanakah kematian membawa ayah, membawa jiwaku serta. Adakah menjelma sebentuk burung Srigunting, di kehidupan selanjutnya. Yang menukik menyambar perjalanan hidupku yang singkat.
Atau aku akan berserak serupa debu. Melayang di semesta purba. Untuk kemudian tersesat dan menetap entah di tubuh siapa. Atau, aku tidak akan terlahir kembali. Hanya Mati saja. Dan siklus transendensi, berhenti. Titik. Dengan begitu tugas laki-laki sejati tidak pernah tuntas. Aku gagal membangun dinasti untuk orang-orang yang kucintai.
Tujuh belas hari yang lalu. Usai menerima surat merah jambu yang lusuh dan berdebu. Ayah seperti mayat di keranda. Diam dan dingin. Yang tersisa dari seluruh waktunya hanya kemarahan yang dipendam. Kesedihan dan kegamangan yang menjurang. Keputusasaan yang menenggelamkan keajaibannya sebagai suami, sebagai ayah dan sebagai dirinya sendiri. Ohh dimanakah cinta. Bukankah cinta adalah naluri manusia yang paling hakiki. Tanpanya, bagaimana melintasi senja.
Meski udara mulai menipis. Bahkan panas kian mengganas. Aku tidak berani bertanya. Sampai ayah memutuskan berbicara. Dengan cerita tanpa kata. Sebab putus oleh derita. Dalam kamar yang semakin membara. Penuturannya lara.
"Jika waktunya tiba, kejarlah gadis-gadis yang menarik. Jaga dan perlakukan mereka seperti putri raja. Karena memang begitulah adanya mereka. Jangan ulangi kesalahan ayah," Ayah menutup bibirnya dengan gigi bergeretak.
Di matanya terlihat mendung dan petir yang siap mengubahnya menjadi hujan. Wajahnya berpaling ke arah bantal berwarna biru, yang dibelinya untuk melamar ibu. Sepuluh tahun yang lalu.
Ayah benar-benar menangis. Tanpa air mata. Sebab kering terseka tebaran bara.
Ibu. Sosoknya seperti sebuah masa lalu. Bagai kilatan gambaran di kepala. Muncul begitu saja, lalu meruap entah kemana.
Tapi begitu nyata. Sebab kurasa emosi. Seperti ketika aku ingin menikam ayah, karena hanya diam. Diam dalam api yang sekam. Diam membiarkan ibu menghilang. Dari hari-hariku yang masih panjang. Dulu, dulu sekali. Ketika sebuah bisikan lembutnya, mengabarkan kalau usiaku menginjak 3 tahun. Tepat ketika ayam berkokok, ibu mengecup bibirku, mengusap rambutku.
"Jagoan ibu, jangan nakal yah."
Sosok elok itu dengan langkah sedikit berpaling, pergi menjinjing tas besar berwarna hitam. Lalu sirna bersama bus antar negara. Meninggalkan aku yang meronta di pelukan ayah. Aku kehilangan kecantikannya.
Ibuku memang cantik. Ayu sekali. Seperti penjelmaan dewi dan bidadari. Hatinya seperti peri. Rahangnya indah. Wajahnya dipenuhi taman bunga. Matanya embun cemara. Kalau tertidur, ia seperti berbicara banyak hal.
Entah bagaimana kalau ia bangun. Ibu memang hanya bangun kalau hendak menyusuiku. Selebihnya ia tidur dengan senyuman senja musim hujan. Begitulah, tidak ada yang menandingi naturalnya cinta.
Sangit sudah di mana-mana. Api semakin cepat saja merambat. Di luar, terdengar hiruk pikuk para tetangga. Kuyakin mereka kalang kabut. Sebab pagi ini bukan dipenuhi kabut, tapi api yang melaut. Aku dan ayah masih berdekapan. Duduk di atas tempat tidur. Bersandar pada dinding yang tidak lagi dingin.
"Baruna. Ini surat yang dikirim ibumu. Bacalah, agar kau tidak lagi bertanya, mengapa pagi ini semuanya bara,"
Belum sempat aku menjamahnya, atap rumah tiba-tiba runtuh. Jatuh tepat di sampingku. Baramerah berpencar seperti kembang api. Arang dan asap pekat. Aku tergagap. Dekapan ayah terlepas.
Surat di genggamanku terlontar dan terbakar. Sejurus kemudian, sepraiku yang dekil, berkobar. Lidah-lidah api mengejar dan menjalar dengan sangar. Aku masih melihat ayah menggelepar. Selain nyawanya yang meregang, seluruh tubuhnya adalah api. Tapi keperkasaannya bangkit dan berontak.
"Tuhan. Sudah kuputuskan, kalau kematian menjadi jalanku. Tempat dimana aku bisa berkehendak untuk berkuasa. Kematian akan menjadi kuasaku. Bukan kuasa-MU lagi. Kini akulah Sang Dalang. Akan kubuat Kau tergamam, mungkin juga sekian sedih. Bukankah begitu kau permainkan kami. Kau buat kami menangis, lain waktu Kau buat kami tertawa. Kini, lihatlah baik-baik. Aku, hamba-Mu yang taat, hamba-Mu yang dibalut taubat, akan tersayat. Lumat oleh hasrat. Hasrat untuk membunuh-Mu. Karena Kau sudah membiarkan, kehormatan istriku dikoyak majikan murtad. Karena Kau tidak berbuat apa-apa ketika kepala istriku pecah, terjun dari apartemen berlantai tujuh. Bangsaat! Keluarlah Kau Tuhan. Hadapi kuasaku,"
Dalam asap yang menggulung, ayah terhuyung. Terjerembab di tepi tempat tidur. Aku beringsut. Tapi ayah berhasil menggapai dan mendekapku. Dalam sekejap, api meraih rambut, wajah dan kulitku. Tapi aku malah menggigil kedinginan.
Kurasa maut segera menjelang. Datang bersama ibu yang kurindu. Dan kematian jadi begitu membahagiakan. Bersahaja dan baka. Seperti kehidupan, aku menanti kematian kembali setiap fajar. Juga ketika senja kala. Sebab kematian adalah selapis emas yang sedih.
Atau mungkin enigma tak bertepi. Aku tidak pernah sampai menyentuh dasar maknanya. Kecuali aku hanya bocah dengan keterbelakangan mental seumur hidup. Yang dibesarkan oleh kecewa. Yang kehadirannya ditolak oleh cinta.
Sungai Jawi, April 2005
Sabtu, 24 Oktober 2009
Menjemput Maut
Diposkan oleh gila^ontel di 02:00 0 komentar
Jumat, 09 Oktober 2009
Mananggar

Oleh: Hasyim Ashari
Dia satu-satunya lelaki yang tahu, bagaimana menyentuh hatiku dengan benar. Kharismanya berpendar, bersama tutur sapanya yang mutiara. Mengobati dahagaku dari reguk cinta yang sempurna.
Ia pernah memberiku setangkai mawar. Hanya karena hari itu adalah hari kamis. Romantis, manis. Menerima hadiah bukan karena kita sedang merayakan sesuatu. Sementara hasratnya, bisa membakar gairah yang sudah lama mati sekalipun. Tanpa diminta, ia sudah mengerti apa yang diinginkan seorang istri.
Sebelum kami saling mendekap dengan peluh yang melaut, langit-langit runtuh, kasur dan guling jebol, diterjang gelombang kasmaran. Oooh….!! Begitu dasyat. Selalu dasyat. Kelembutan, keindahan dan kasih sayang. Semua kudapatkan. Sebelum kemudian ajal mengakhiri segalanya.
Aku sedang mengiris mangga muda. Tiba-tiba ambulance meraung mengabarkan kematian. Auranya menebar kengerian. Membangkitkan bulu roma. Senja yang gerimis menjadi miris. Aku terperanjat.
Di luar orang mengetuk pintu. Suaranya terdengar seperti malaikat maut. Darahku berdesir, menyambar-nyambar seperti petir. Kecuali putih yang kulihat, kemudian semuanya menjadi gelap.
Aku pingsan. Tak kuasa memandang wajahnya pasi, bibirnya terkatup dan jemarinya tanpa geming. Entrapment berupa air deras yang datang tiba-tiba di buritan, gagal ditaklukannya. Perahu karetnya terhempas. Arus hole menggulungnya. Suamiku kehabisan nafas. Suamiku tewas.
Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Tapi kenyataan ini, sungguh tak terbantahkan. Aku tenggelam dalam linangan air mata yang melaut. Membayangkan harus menghabiskan separuh usia tanpa dirinya.
Kesedihan mengurungku. Hujan do'a sekalipun tidak mampu menyejukkan. Kehilangan menjadi kewajiban yang amat menyakitkan. Waktu telah mengubah segala-galanya. Meski hati kurebahkan pada tabah, tapi tetap terasa berat. Berat, karena aku harus belajar hidup lagi.
Sementara gerbang kematian menawarkan ruang maha lega. Jika bukan karena kandunganku, pasti sudah kuturut suamiku. Dengan mata pisau tertancap di ulu hati. Tentu saja.
"Sarah..adakah kau rindu pada bebatuan yang bertebaran, arus yang mendebarkan, deretan pohon-pohon Tengkawang, kicau Burung Tingkil dan angin yang mendesir tenang. Sungguh, layaknya harmoni mahakarya. Sebuah kedamaian yang memberi semua pengertian. Sayang, izinkan aku ke Mananggar. Lusa aku kembali. Aku menyayangimu. Jika bukan karenamu, aku tidak akan bisa berdiri tegar sampai hari ini. Tapi aku juga membutuhkan Mananggar," itulah kalimat terakhir yang kudengar, dari bibirnya yang mengobati lara. Ia kemudian menyambar perahu karet, pelampung, padle, helm dan sandal gunung.
Mananggar dan suamiku. Keduanya seperti lahir dan ditakdirkan untuk tidak terpisahkan. Suamiku telah jatuh cinta kepada panorama air terjun bertingkat tujuh itu. Bahkan sebelum keduanya dipertemukan oleh pandangan pertama.
Wajar. Sebab di tubuh Mas Doni mengalir darah petualang. Sedang Mananggar menanti ditaklukkan. Alurnya yang menganak sungai, memiliki arus bolak-balik yang unik. Karena itu, suamiku rela menempuh perjalanan 200 kilometer.
Sebulan dua kali ia rela bergegas meninggalkan Pontianak menuju Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak. Katanya, Mananggar telah banyak mengajarkan kebijaksanaan. Alam memiliki philosofi sendiri tentang hidup dan kematian.
"Bayangkan. Ukuran kita dibanding perbukitan itu, sungai-sungai itu, hamparan sabana itu, ribuan pepohonan itu. Kita hanya partikel terkecil dari cakrawala. Bahkan jika kita matipun, tak mempengaruhi semesta. Waktu tetap berputar. Melahirkan jiwa-jiwa yang lapar. Berkaca dari itu, bukankah tidak ada masalah besar dalam kehidupan manusia. Yang ada hanya masalah kecil yang belum ditemukan solusinya," kata suamiku ketika aku dibawanya serta, suatu ketika. Menutupi galau di hatinya.
Sebenarnya aku kuatir. Tapi tak kuasa menolak inginnya. Aku mencoba memahami perasaannya. Sebelas tahun menunggu momongan, tentu membuatnya lelah. Penantian tak berujung mengantarnya ke puncak putus asa. Sudah habis rasanya seluruh upaya.
Dari konsultasi ke dokter spesialis kandungan, berobat ke paranormal, hingga mencoba berbagai obat tradisional. Hasilnya, kami belum juga memiliki keturunan. Aku berharap, rafting membawanya ke dunia yang lain. Dunia dimana hanya ada keindahan dan ketakjuban. Sehingga pikiran tentang buah hati, tidak terlalu menyiksanya.
Benar. Setiap kembali ke rumah, selalu saja cinta yang dibawanya pulang. Berbinar dan terang benderang.
Sebelum kepergiannya ke Mananggar, sebenarnya aku sudah hamil satu bulan. Tapi sengaja kubungkus kabar ini rapat-rapat, sebagai kado ulang tahunnya yang ke-37. Kubayangkan wajahnya keharuan, penuh sukacita. Dia menjadi bapak dan tugasku lengkap sebagai wanita. Rumah kami sesak oleh tangis dan tawa si kecil kelak.
Sebuah keluarga bahagia seperti yang selalu kubaca di majalah-majalah wanita. Tapi ternyata kematian datang lebih cepat. Membuyarkan mimpi-mimpi indah, yang belum selesai itu. Bahwa kematian mengekalkan cinta, aku tidak tahu. Yang kutahu, kematian hanya akan menjadi debu dalam ruang-ruang hampa milik kita. Jadi lupakan kematian. Lebih cepat lebih baik.
Sudah seratus hari Mas Doni meninggalkan kami. Aku dan bayi dalam perutku. Kami jadi terbiasa. Tadi malam, aku seperti mendengar suaranya lagi. Layap-layap. Jauh, sangat jauh. Tapi begitu jelas. Suaranya datang membawa dingin yang sangat. Seolah ingin menyerap seluruh energi panas yang ada di dalam kamar. Tubuhku sampai menggigil.
"Temui aku di Mananggar..temui aku di Mananggar. Sebelum purnama sempurna," kata-katanya kemudian hilang ditelan fajar.
Meski terlalu nyata untuk sebuah mimpi, Aku tidak perduli. Sampai malam berikutnya, suara itu terdengar lagi. Dengan pesan serupa. Bahkan ketika aku sedang terjaga.
Aku masih memegang kemudi Daihatsu Feroza. Menyusuri jalan berbatu. Tidak terasa, aku sudah merambati Mananggar. Geli rasanya, datang ke sini hanya karena sebuah alasan. Mimpi.
Tapi kupikir, mimpi juga sebuah dunia. Dunia dengan logikanya sendiri. Dengan banyak alasan yang pantas dipertimbangkan. Lebih dari itu, aku memang ingin memaguti potongan kenangan suamiku yang masih tertinggal, meskipun terlalu menyakitkan untuk disimpan.
Di bawah senja yang pucat, kuseret kaki dengan rantai-rantai dari sisa rindu yang kemarin. Rindu pada suamiku. Sampai Mananggar menumbuk mataku dengan pesonanya.
Begitu banyak air tumpah. Putih. Jernih. Sambung menyambung seperti selendang bidadari. Dentumnya mengetuk perut bumi. Di kanan dan kirinya, semua rumput penuh warna. Marun, hijau, biru, merah dan kuning. Ujung-ujungnya mendongak ke langit. Seperti hendak berteriak.
Kupu-kupu hitam putih terbang disekitarku. Anak-anak penoreh getah, telanjang dada. Tubuhnya sangit dibakar matahari. Gigi kekuning-kuningan dan sorot mata memendam kekaguman sekaligus harapan.
Mendengar mereka bercengkrama dalam Bahasa Dayak, seperti dendang dari sebuah negeri ujung langit. Merdu. Murni. Apalagi memperhatikan telapak-telapak tangan kecil mereka yang lincah, melempar getah ke dalam tangkin. Kemudian beringsut pulang dijemput kabut. Desau angin pada wajahku, mengabarkan sebuah tanah kelahiran yang ditinggalkan jaman.
Telingaku menangkap ada langkah mendekat. Aku menoleh ke belakang untuk memastikan. Disampingku, ternyata sudah berdiri dengan anggun seorang wanita. Kutaksir umurnya tidak lebih dari 26 tahun.
Melihat parasnya, dia pasti dari desa sekitar. Meski demikian, ia terlihat terpelajar. Pada tangannya, anak laki-laki berayun manja. Usianya sekitar 5 tahun. Wajahnya menggemaskan. Tatapan matanya, seperti pernah kuakrabi siang malam. Tapi entah dimana. Aku jadi berkhayal. Seperti apa bayiku kelak.
"Maaf. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya," tanyaku memberanikan diri.
"Baru kali ini. Mbak seperti menunggu seseorang?"
"Iya..suamiku,"
"Suami mbak ada di sini,"
"Sulit untuk dijelaskan,"
"Maaf mbak. Saya tidak bermaksud lancang. Tapi, bukankah untuk beberapa hal, kita memiliki keterbatasan untuk menjelaskan. Dan pada titik itu yang kita butuhkan hanya kemauan untuk mengerti,"
"Mungkin begitu. Ngomong-ngomong apakah adik menunggu seseorang juga," aku balik bertanya.
"Aku menunggunya setiap senja. Di sini, di tempat yang amat dicintainya,"
"Suamiku juga mencintai tempat ini,"
Wanita itu kemudian menatapku. Penuh selidik tapi dalam batas kesopanan.
"Namaku Asti. Mbak pasti, Sarah..."
"Darimana adik tahu namaku,"
"Bang Doni menceritakan segalanya,"
"Asti mengenal suamiku?" tanyaku lagi.
Dia memalingkan wajahnya. Tatapannya menumbuk air yang tumpah itu, dalam-dalam. Ia seperti mencari sisa-sisa keberanian untuk berkata-kata. Kulihat, kelopak matanya mulai tergenang. Ada setetes air, jatuh dari sudut mata kanannya yang teduh.
"Lebih dari sekedar yang Mbak duga. Enam tahun lalu, kami menikah di sini. Dan ini Nikodemus. Dia darah daging kami. Bang Doni, memintaku menyampaikan maafnya, maaf kami. Telah merahasiakan semuanya."
Dadaku seperti hendak meledak. Ingin kuteriak. Namun suaraku tersekat. Lututku bergetar. Seluruh sendiku terasa rontok. Aku nyaris tersungkur. Tiba-tiba langit tak lagi menyimpan bintang. Sepotong purnama yang baru setengah, sirna. Seluruhnya menjadi bisu. Semua kembali kepada ketiadaan.
Ngabang, 22 Januari 2004
Diposkan oleh gila^ontel di 10:36 0 komentar
Minggu, 13 September 2009
Sejarah Sepeda Gazelle

Tahun 1892
Willem Kolling, yang bekerja sebagai agen kantor pos disebuah desa di Belanda yang bernama Dieren, mengundurkan diri dan memulai usaha dagang sepeda dengan memesan sebuah sepeda di Inggris. Usaha dagangnya berkembang dengan sangat bagus. Kolling kemudian memulai kerja sama dengan pengecer perangkat dari besi dan kompor Rudolf Arentzen dari Dieren.
Tahun 1902
Arentzen dan Kolling membeli tanah dan bangunan baru ditempat berdirinya pabrik sekarang, dan memulai produksi sepeda. Dalam tahun yang sama, sepeda pertama kali yang bermerk Gazelle mulai dijual.
Tahun 1903
Kemudian Gazelle memperkenalkan produksi sepeda motornya yang pertama, namun tidak dibuat oleh Gazelle sendiri.
Tahun 1905
Meskipun perkembangannya berkembang bagus Arentzen mengundurkan diri dari perusahaan itu. Posisinya digantikan oleh Hendrik Kolling, Saudara Willem Kolling.
Tahun 1912
Dengan perluasan besar-besaran terhadap tanah dan bangunan awal mereka, dan dengan alat permesinan yang modern dan spesialis, rencana produksi sendiri bisa direalisasikan sepenuhnya. Mereka memiliki spesialisasi dalam pembuatan sepeda lengkap. Sementara itu aktivitas perdagangan borongan Gazelle menjadi semakin penting.
Tahun 1915
Keluarga Kolling dan kemenakan mereka Jan Breuking mengganti nama perusahaan menjadi " N.V. GAZELLE Rijwielfabriek v/h Arentzen en Kolling ". Dalam dua puluh lima tahun berikutnya perusahaan ini mengalami pertumbuhan yang mantap.
Permintaan dari Outlet domestik serta permintaan international meningkat secara signifikan. Hal ini juga karena pasar yang berkembang bagi sepeda Gazelle di Indonesia, yang pada saat itu menjadi Koloni Belanda. Disamping sepeda-sepeda standar, beberapa sepeda bermotor, Delivery Bicycles dan Carrier tricycle ( sepeda muatan tiga roda ) diproduksi untuk berbagai sektor industri.
Tahun 1930-1931
Gazelle memperkenalkan model kerangka silang 9X dan 8V
Tahun 1931
Berbagai variasi merk Invicta muncul dalam katalog Gazelle, sementara itu merk Gelria juga diperkenalkan.
Tahun 1935
Gazelle memperkenalkan tandem pertama yang sangat populer dalam tahun-tahun sebelum perang dunia kedua. Pada tahun perkenalannya, 600 unit tandem segera terjual.
Tahun 1937
Sepeda listrik yang digerakkan oleh akumulator 12 V dan didesain oleh Philips diproduksi oleh lima pembuat sepeda yang terkenal di Belanda. Diantara mereka, Gazelle adalah yang paling penting dan mereka memproduksi 117 sepeda jenis ini.
Tetapi sepeda jenis ini tidak pernah sangat populer. Seperti bagi banyak perusahaan belanda lainnya, perang merupakan masa yang sulit bagi Gazelle, sebagian mesin pabrik dibongkar oleh tentara jerman yang menduduki dan diangkut ke Jerman. Mesin yang masih tersisa diledakkan persis sebelum kedatangan sekutu.
Selain itu , Pabrik Willem Kolling menderita kerusakan hebat akibat perang. Dalam bulan Agustus 1946 sepeda Gazelle pasca perang yang pertama tersedia dan pada tahun 1950 tersedia sepeda Gazelle dengan Clip-on Motor. Produksi Carrier Bicycle dan Carrier tricycles diteruskan.
Tahun 1954
Perusahaan Gazelle yang sebelumnya merupakan perusahaan pribadi diubah menjadi In-corporation. Pada tahun yang sama, Gazelle membuat 1.000.000 sepeda.
Tahun 1963
Diawal tahun 1963, Gazelle melakukan merger dengan Batavus dari Heerenveen. Kerja sama ini tidak bisa memenuhi harapan yang mendasari dan putus sesudah dua tahun.
Tahun 1964
Gazelle merupakan perusahaan pembuat sepeda belanda pertama yang memperkenalkan sepeda lipat ( folding bike ) yang dinami "kwikstep". Berbeda dengan sepeda lipat umum lainnya, kwikstep dilipat pada sumbu horizontal dibawah siku-siku bawah (botoom bracket) tidak pada sumbu vertikal.
Tahun 1966
Gazelle memperkenalkan kembali model tandem, kali ini jenis modern yang tidak begitu berat. pada tahun yang sama 2.000.000 sepeda Gazelle dibuat.
Tahun 1968
Gazelle mengambil alih merk Juncker, Simplex dan Locomotive serta merk moped terkenal Berini. Selain hub (poros) depan dengan rem tromol (drum-brake front hub) bermerek Gazelle, yang masih diproduksi sampai sekarang.
Gazelle juga memproduksi three-speed rear hub (poros belakang dengan tiga kecepatan) dan dengan rem teromol pada tahun enam puluhan. sesudah membuat sekitar 45.000-50.000 unit, produksi dihentikan diakhir tahun enam puluhan karena biaya yang tinggi.
Tahun 1971
Gazelle diambil alih oleh Tube Investment (TI). Nama perusahaan ini sekarang adalah " Gazelle Rijwielfabriek B.V " sebuah perseroan terbatas swasta (private limited company).
Tahun 1987 :
TI menjual divisi sepedanya kepada Derby Cycles Corp. Perusahaan multinasional dengan kantor pusat di New York ini sekarang juga memiliki perusahaan pembuat sepeda Raleigh, produsen sepeda Sturmey-Archer serta merk-merk sepeda Jerman yang terkenal Kalkhoff, Rixe, Winora dan Staiger.
Tahun 1992
Gazelle merayakan ulang tahun yang ke-100. Pada tahun yang sama,produksi total komulatifnya mencapai 8 juta unit.
Tahun 1999
Dibulan April, Gazelle mencapai tonggak sejarah baru : 10 juta sepeda telah dikeluarkan oleh pabrik. Gazelle sekarang mempekerjakan 550 karyawan dan menghasilkan lebih dari 300.000 sepeda dalam setahun.
Gazelle merupakan salah satu dari sedikit perusahaan pembuat sepeda besar yang masih membuat sendiri sebagian besar rangkanya. 20% dari total produksi diekspor ke Belgia dan wilayah-wilayah Jerman yang berdekatan.
Tahun 2001
Derby Cycles Corporation menjual Gazelle kepada dana Investasi Belanda " Gilde Buy Out Fund ". Gazelle berkembang bagus,tetapi Derby mengalami masalah finansial yang serius. Produksi tahunannya adalah sekitar 380.000 unit, sementara pangsa pasar Gazelle mencapai sekitar tiga puluh persen.
Sekarang ini, Gazelle masih menjadi pemimpin industri sepeda belanda. Sepeda Gazelle diproduksi dalam jumlah besar dan dikenal sebagai sepeda yang sangat nyaman dan tangguh Mercedes Benz-nya merk-merk sepeda Belanda.
( Sepeda muatan Gazelle yang bisa dilipat (Diproduksi pertama kali tahun 1930), kotak muatannya bisa dilipat dan chasisnya juga bisa diubah. Sepeda Gazelle bisa dilacak tahun pembuatannya dengan sangat mudah. ada daftar nomor kerangka untuk periode 1916-1950, yang berasal dari arsip-arsip Gazelle.
Gazelle menggunakan nomor kerangka langsung sampai tahun 1974. Angka pertama mengacu kepada angka terakhir tahun pembuatan. Semenjak 1981, Gazelle menggunakan nomor kerangka dengan tujuh angka. (Sumber : Theo Matthijs and Herbert Kuner, 1999-2006)
Diposkan oleh gila^ontel di 01:09 0 komentar
Jumat, 21 Agustus 2009
Tribun Terbesar di Kalbar

*Hasil LP3ES di 15 Kota Besar
"Saat survei kita tanyakan media apa yang tiap hari mereka baca. Dari yang disebutkan, Tribun Pontianak, teratas."
Shanty Margaretha
Supervisor LP3ES
JAKARTA, TRIBUN - Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), mengukuhkan Harian Tribun Pontianak sebagai koran terbesar yang paling disukai pembaca Kalimantan Barat.
Penetapan lembaga independen yang tak diragukan kredibilitas, akuntabilitas dan integritasnya ini, didasarkan fakta hasil riset tim LP3ES terhadap surat kabar, majalah, tabloid dan media online di 15 kota besar di Indonesia. Survei terhadap 2.971 responden ini, menempatkan Tribun Pontianak sebagai koran terbesar yang paling dibaca masyarakat Kalbar.
"Saat survei, kita tanyakan kepada ibu-ibu dan pembaca di Kalbar, media apa yang tiap hari mereka baca. Dari tiga nama yang disebutkan, Tribun Pontianak, teratas dan sering disebutkan," kata Supervisor LP3ES untuk wilayah Kalimantan Barat, Shanty Margaretha kepada Tribun, Jumat (21/8).
Yang patut disyukuri lagi, Tribun Pontianak sebagai grup Kompas Gramedia, tampil sebagai market leader tak sampai setahun, setelah terbit untuk melayani masyarakat Kalbar, 1 Agustus 2008 lalu. Urutan kedua ditempati koran lama, Pontianak Pos dan urutan ketiga, Metro Pontianak.
Shanty yang tergabung dalam tim peneliti LP3ES mengungkapkan, alasan utama pembaca Kalbar adalah berita Tribun Pontianak bermutu, mengedepankan standar jurnalistik sebagaimana yang dianut harian terbesar di Indonesia Kompas.
"Pemberitaan yang ditampilkan sudah memenuhi standar. Pelatihan bagi wartawannya serta komposisi beritanya, oke," jelas Shanty.
Selain itu, masyarakat pembaca Kalbar terpesona tampilan cover yang atraktif, enak dipandang, enak dibaca disertai foto-foto menarik, dan harganya terjangkau. "Cetakannya juga sangat bagus," puji Shanty, mengutip aspirasi pembaca Kalbar.
Kepercayaan Publik
Agar makin memberi manfaat optimal terhadap masyarakat Kalbar, Shanty menyarankan Tribun segera me-launching Tribun Portal. Dengan berita yang real time yang bisa di-klik kapan pun dan di mana pun, peran dan pengaruh Tribun Pontianak makin impresif.
Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak, Albert Joko yang mensyukuri hasil riset lembaga independen itu, menyampaikan terimakasih yang besar kepada pembaca di Kalbar.
"Tribun berterimakasih setinggi-tingginya kepada segenap pembaca budiman yang setia membaca Tribun tiap hari. Hasil survei LP3ES ini nyata sebagai kepercayaan masyarakat kepada Tribun. Kepercayaan ini sekaligus amanah yang wajib dijawab Tribun dengan mutu layanan produk unggul dan berpijak nilai manfaat masyarakat," tutur Albert Joko.
Sebelumnya, hasil survei LP3ES bekerjasama dengan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) ini, disampaikan Direktur Eksekutif SPS Pusat Asmono Wikan dalam bentuk executive summary berjudul, Studi Perilaku Masyarakat dalam Mengkonsumsi Media Massa dalam Rapat Kerja SPS di Hotel Millennium Jakarta, Kamis (20/8) lalu. Raker dihadiri seluruh pengurus SPS se-Indonesia.
Anggota tim riset LP3ES, Hendrajit saat mempresentasikan hasil survei menyatakan, keberadaan surat kabar di Indonesia diperkirakan mampu bertahan sampai 15 tahun ke depan, karena beberapa keunggulannya dibanding media lain, seperti televisi, radio, maupun online. "Patut disyukuri, tapi tidak boleh euforia karena ke depan tetap bisa rawan," kata Hendrajit.
Keunggulan Grup Kompas
Menurut Hendrajit, surat kabar memiliki keunggulan dibanding media lain, yaitu kedalaman berita serta kearsipan yang membuat masyarakat tetap tertarik. Survei yang digelar di 15 kota, menggunakan sampel yang dipilih secara acak distratifikasi tak proposional pada masing-masing kota, seimbang secara gender dan kategori remaja dan dewasa.
Metodologi survei ini, merepresentasi pendapat masyarakat pembaca media cetak di 15 kota, dalam kelompok pembaca remaja (usia 12-18 tahun) dan dewasa (di atas 18 tahun). Sampel yang diambil sebanyak 2.971 responden.
Adapun pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner mulai 23 Juni 2009 sampai 29 Juni 2009. Tim survei LP3ES menetapkan margin of error 1,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Selain Tribun Pontianak yang tampil sebagai koran terbesar, grup Tribun di Manado, yakni Tribun Manado, dan Banjarmasin Post di Banjarmasin, juga tampil sebagai market leader di provinsi masing-masing.
Selain di Kalbar, LP3ES menggelar survei di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Padang, Batam, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, Manado dan Denpasar.
Di Jakarta, Harian Kompas tetap nomor satu, urutan berikutnya Pos Kota lalu Warta Kota.
Sedangkan di Batam, grup Tribun, yakni Tribun Batam menempati urutan kedua paling banyak dibaca setelah Batam Pos. Survei LP3ES juga mengungkap pertumbuhan tiras surat kabar harian, mingguan tabloid dan majalah.
Suratkabar harian paling sering dibaca, yakni mencapai 91,1 persen, jauh meninggalkan tabloid maupun majalah bulanan. Sedangkan cakupan sebarannya, surat kabar yang paling sering dibaca adalah surat kabar lokal dengan proporsi 69,0 persen, diikuti dengan surat kabar regional 22,4 persen dan surat kabar nasional 8,6 persen.
Menariknya, di survei tersebut terungkap rubrik yang paling sering dibaca adalah kecelakaan, musibah, bencana mencapai 67,9 persen. Berikutnya, rubrik kriminal dan pendidikan yang diminati pembaca. (rzi/kompas.com)
Diposkan oleh gila^ontel di 11:21 2 komentar
Selasa, 11 Agustus 2009
Pertemuan
Oleh: Hasyim Ashari
Lama aku tertahan untuk tidak pulang ke tanah kelahiranku, Bekasi. Meski sebenarnya, hasrat untuk bertemu ayah, ibu dan ketiga adikku membuat dadaku penuh sesak oleh rindu. Belum lagi kenangan masa kecil yang tercecer pada jalan setapak, melekat pada pematang sawah, pada angin dan gerai tawa penduduk desa yang renyah, segar dalam ingatan.
Seolah tidak pernah lelah memanggilku kembali. Untuk sekedar singgah atau bahkan mencumbui mereka sepanjang usia tidurku. Tentu saja, karena seperti aku menyimpannya, mereka juga memiliki lembaran indah bersamaku.
Setiap saat, setiap nafas yang kuhela dan pandangan yang kubuang. Namun kesibukanku sebagai wartawan, nyaris tidak memberikan ruang yang cukup untuk pulang. Kecuali kemarin, ketika pimpinan memintaku mengikuti lokakarya Peace Jurnalisme di Surabaya.
Peace Jurnalism adalah sebuah pendekatan yang menempatkan jurnalis sebagai juru damai di daerah konflik. Aku tidak punya kata untuk menolak. Karena lokakarya tersebut, sangat berarti untuk menopang tugas-tugas peliputanku kelak. Apalagi Pontianak dikenal sebagai daerah yang memiliki potensi konflik cukup tinggi.
Tujuh kali kerusuhan antar etnis. Ratusan nyawa tak berdosa terkubur sia-sia. Dan, perih yang memilukan itu, nyaris menganga setiap tahun. Lebih dari itu, aku memang memerlukan jeda untuk membebaskan diri dari aura andrenalin.
Tugas peliputan dan deadline yang tidak kenal kompromi, telah menyisakan guratan didahiku, menyerupai alur anak-anak Sungai Kapuas. Aku masih dikerubung keraguan, sesaat sebelum pesawat yang membawaku dari Surabaya, landing di Cengkareng.
"Singgah ke Bekasi, atau langsung ke Pontianak" gumamku. Kulirik jam di lobi bandara, pukul 15.30 WIB. Sementara pesawat ke Pontianak take off jam lima sore. Aku menuju cafe, kemudian memesan secangkir kopi hangat dan Dunkin Donnuts.
Bekasi, kota itu selalu membangkitkan kenangan pada kekasihku. Tujuh tahun yang lalu. Ketika kebesaran cinta melebihi tubuhku yang ringkih. Sebelum keputusan menyakitkan lahir, dibidani oleh keadaan yang melunjak. Sebelum cinta menyerah oleh dua keinginan yang berlainan. Dan pelukan hangat tidak lagi mampu menyatukannya.
Meskipun aku tidak pernah merasa ditinggalkan, karena ku tahu ia tidak sungguh-sungguh ingin melakukannya. Aku tidak pernah berhenti mencintainya. Pribadinya selalu kukagumi dan tak mampu kutolak, hadir setiap saat.
Bahkan hingga aku menjauh ke Pontianak, bahkan jika dia sedang bercumbu dengan laki-laki lain sekalipun. Hatiku mengingatnya, karena itu dia selalu hidup. Tidak pernah jauh apalagi menghilang.
Sebaliknya, namanya menjadi bunga yang menerbarkan aroma wewangian putri-putri khayangan, tumbuh subur di lubuk hatiku. Aku merasakannya. Dia membuatku mabuk kepayang. Jika aku singgah, kuasakah aku menolak perasaan seorang laki-laki? Haruskah terkoyak kembali luka lama yang merahnya membakar seluruh emosiku?
Belum setengah kopi kureguk, ketika langkah kaki gemeretak mendekat. Tapi aku terlalu lelah untuk terusik karenanya. Sampai kudengar suara yang nadanya dawai nirwana dan nyanyiannya adalah senandung dewa-dewi. Ketika mereka rindu redam.
"Darma? Hei..sedang apa di sini?," suara itu menohok tepat dijantungku. Aku rasa dadaku gemetar. Gemetar oleh pertemuan yang sudah lama kuhindari. Gemetar seperti terbangun dari mimpi menakutkan.
Tapi aku tidak bermimpi, sama sekali tidak. Laras benar-benar berdiri di sampingku. Menemukanku bulat-bulat ketika aku menjaga jarak. Meski aku sebenarnya tidak ingin menghindar. Keadaan yang memaksaku.
Tapi ternyata Tuhan selalu tahu, kapan memisahkan dan mempertemukan. Tiba-tiba aku seperti lahir kembali, setelah perasaan cemas membunuh keberanianku pelan-pelan.
"Laras !!. A..aku menunggu pesawat ke Pontianak. Laras sendiri sedang apa?,"
"Laras kan memang sering ke Bandara. Biasa antar anak-anak berangkat ke Singapura. Ini juga baru selesai check in,"
"Kamu...sudah punya anak? Berapa?" tanyaku penuh selidik. Melirik cincin di jari manisnya.
"Becanda kamu. Anak-anak itu maksudnya Tenaga Kerja Wanita. Dua tahun terakhir, Laras bekerja di sebuah PJTKI sebagai tutor bahasa inggris dan mengurusi keberangkatan. Kantornya di di Belakang Terminal Kampung Rambutan. Jadi, hampir setiap hari Laras ke bandara. Ngomong-ngomong tidak singgah ke Bekasi?"
"Sebenernya, aku ingin sekali. Tapi ..."
"Takut bertemu Laras...!," dia selalu begitu. Selalu bisa membaca isi kepalaku.
Ya Tuhan, tatapan itu masih bijak. Senyumnya mutiara dan wajahnya seteduh cemara. Kecuali kejelitaannya yang semakin dewasa, semua masih belia seperti tujuh tahun lalu, ketika aku melumatnya dengan cemas.
Ketakjuban itu dan pesona kesederhanaanya adalah sisi lain keajaiban yang kutemukan dari diri seorang perempuan. Tidak, emosiku harus kutekan sekelebat kilat di tengah prahara. Edan!
"Laras. Maaf aku harus chek in. Sebentar lagi pesawatku berangkat. Senang bertemu denganmu," aku tergopoh menyabet ransel.
Perasaanku berkecamuk. Rindu dan perih menjadi satu. Walau sebenarnya, aku ingin menatap wajahnya sepanjang hari ini. Jika saja, dia bukan milik orang lain dan tidak di tengah keramaian, aku pasti sudah memeluknya, hingga tulang belulangnya luruh dan bersatu dengan kulit serta dagingku. Dia lantas menghidupi separuh sisa hidupku.
"Dar..tunggu sebentar. Laras ingin menjelaskan semuanya,"
"Simpan saja penjelasan itu. Aku sudah tahu semua. Aku memakluminya, karena itu aku tidak pernah menaruh sakit hati, apalagi dendam. Waktu yang mengajariku demikian. Aku sungguh tak ingin mengusik bahagiamu. Sudahlah..!" aku bergegas. Meninggalkan Laras yang berlari kecil memburu langkahku.
"Dar..tunggu," Laras meraih lenganku. Jemarinya dingin, bergetar.
"Kamu yang mengajari Laras untuk jujur dan mendengarkan apa kata hati. Laras tahu perasaan Darma, jadi jangan membohongi diri sendiri,"
"Laras tahu apa tentang perasaanku. Mengapa baru sekarang. Bagaimana dengan tujuh tahun yang lalu. Mengapa Laras menutup hati, hingga seluruh pengorbanan, pengertian, dan kesetiaan yang kutanam, tidak mampu membukanya,"
"Tidak bolehkah orang membuat satu saja pilihan keliru dalam hidupnya. Sementara, kekeliruan itu yang kemudian mengajarinya bagaimana menjadi dewasa. Karena itulah, Laras ingin menebusnya Dar. Sekarang.! Har ini.!
Aku terperanjat. Menatap bibirnya yang bergetar. "Laras kuatir besok Laras sudah benar-benar menjadi milik orang lain dan kita tidak punya kesempatan lagi memperbaikinya. Jika tidak ingin memulainya lagi, maka akhirilah ini dengan indah. Pikirkanlah. Sehari saja. Laras tidak minta apa-apa, hanya seluruh waktu dalam satu harimu."
Matanya basah. Aku tahu Laras, dia tidak pernah main-main. Hatiku terenyuh. Tidak pantas memang aku bersama tunangan orang lain, meskipun dia mantan kekasihku. Lebih dari itu, karena akupun milik juwita yang sedang menunggu. Yang digenggamannya kecemasan dan harapan.
Tapi, aku masih mencintai Laras. Bahkan, kadarnya tidak berkurang. Malah bertambah sayangku. Jarak dan waktu, telah memupuknya menjadi kasih. Sore itu aku membatalkan penerbangan pulang.
Aku meraih jemari Laras dan menuntunnya ke dalam bus kota, ketika senja jatuh di Jakarta. Sinarnya keemasan dan warnanya kuning gading berebut ruang dengan pekat di ufuk timur. Gedung-gedung pencakar langit, takzim bertengadah menyambut malam, sebelum kerlip temaram neon menambah kemegahannya.
Senja ini, keindahannya masih seperti tujuh tahun yang lalu. Ketika kami berdekapan dalam seragam abu-abu. Sejak saat itu, kami selalu menunggu datangnya senja. Dimanapun ia menjatuhkan diri.
"Darma..satu senja saja sudah membekukan seluruh cinta yang Laras bina selama empat tahun bersama Doni. Laras semakin yakin, kalau cinta sejati itu benar-benar ada. Laras juga percaya bahwa setiap manusia memiliki pasangan jiwanya. Laras tahu cinta sejati tidak harus mengorbankan cinta orang lain. Sementara pasangan jiwa, kebijaksanaannya melebihi simbol-simbol ikatan perkawinan. Laras boleh jadi melahirkan lusinan keturunan laki-laki lain, tapi kenyataan tidak terbantah, kalau kamulah sebelah jiwa Laras,"
Pernyataan Laras berpacu dengan bus yang melesat menyisir belantara Jakarta menuju timur. Dia menyandarkan kepalanya dibahuku. Sementara aku melepaskan bebanku pada kelembutan sikapnya, pada harum dan kehangatan kulitnya dan pada rambutnya yang bergelombang.
Kami berbicara penuh makna, tanpa kata, tanpa penjelasan, tanpa pertanyaan. Kami sudah mengerti tanpa harus memberi pengertian. Sehingga tidak ada lagi yang harus diungkapkan. Hanya nafas cinta yang memburu. Seperti tujuh tahun yang lalu.
Sepanjang senja itu, aku tidak hanya memaafkan Laras, tapi juga mengampuni keadaan. Dan bila saja Tuhan memanggilku saat ini, aku ingin diserakan bersama gugusan gemintang. Bersama cakrawala menjadi pandu bagi seluruh sejoli yang sedang kasmaran, di bumi.
Juwita, aku tahu ini penghianatan atas percayamu. Tak kusangsikan kau adalah kekasihku, istriku, hidupku selamanya. Tapi Laras, jiwanya sudah menikahi jiwaku, jauh sebelum kita bertemu. Aku tidak mampu menolak, meski untuk satu hari. Setelah itu, akan kuserahkan semua milikku di bawah panji-panji kesetiaanmu. Maaf!
Jakarta, 4 Maret 2003
Diposkan oleh gila^ontel di 07:44 0 komentar
Jumat, 07 Agustus 2009
Motor Pertama di Pulau Jawa

*Si Kereta Setan Hildebrand Und Wolfmuller
Kereta Setan. Begitu orang menyebut kendaraan bermotor pertama di Jawa yang tidak ditarik oleh kuda atau hewan lainnya. Pokoknya, "kereta setan" yang maksudnya sepeda motor itu bikin bengong orang yang melihat "kereta setan" ini melintas. Saking terkesima dengan sepeda yang bisa lari sendiri dengan kencang maka kendaraan itu pun diberi nama "kereta setan".
Ternyata si kereta setan itu adalah kendaraan bermotor pertama di Jawa. Jadi, bukan mobil yang hadir pertama di Jawa, tapi sepeda motor. Orang pertama yang memiliki kereta setan ini adalah seorang masinis pabrik gula di Umbul, dekat Probolinggo. Namanya John C Potter, ia bukanlah orang Probolinggo tapi orang Inggris.
Potter, demikian disebutkan oleh JJ de Vries dalam Jaarboek van Batavia en Omstreken, Batavia, sampai-sampai membuat Hildebrand dan Wolfmuller - pemilik pabrik sekaligus penemu sepeda motor - kepayahan mencari letak kota Probolinggo lantaran mereka harus mengirimkan pesanan sepeda motor, atas nama Potter, dari Jerman ke pelosok Jawa Timur kala itu.
Hildebrand dan Wolfmuller tercatat sebagai penemu sepeda motor pertama di dunia pada tahun 1893. Nama mereka berdua menjadi nama pabrik sepeda motor, Hildebrand Und Wolfmuller. JJ de Vries menulis, bahkan bagi orang di masa sekitaran abad 20, sepeda motor temuan Hildebrand dan Wolfmuller dinilai ajaib. Bisa dibayangkan bagaimana orang di masa lampau ternganga dengan sepeda motor yang berjalan tanpa rantai, kopling, magnet, bahkan tanpa baterai dan seutas kabel pun.
Sepeda motor ini hanya menggunakan dua silinder horisontal dan dua tabung yang dipanaskan dengan bahan bakar naphta (minyak bumi berwarna kuning). Untuk menjalankannya perlu waktu 20 menit. Bangkai motor ini ditemukan di tahun 1932. Tercecer di bengkel Potter. Bangkai ini kemudian disusun kembali sebagai barang antik dan ditempatkan di museum lalu lintas Surabaya.
Bicara soal sepeda motor, akhir pekan ini, 8 dan 9 Agustus, Motor Besar Club (MBC) DKI Jakarta akan menggelar acara di kawasan Kota Tua yang dipusatkan di Taman Fatahillah termasuk Munas MBC di Museum Bank Mandiri. Acara bertema "Batavia Bike Week" ini digelar untuk pertama kali sebagai kepedulian kelompok ini dalam upaya memperkenalkan kawasan bersejarah di Jakarta sambil menyalurkan hobi terhadap motor besar.
Lintas Jawa
Tidak mau kalah dengan pengendara mobil, pengendara sepeda motor pun berupaya membukukan rekor perjalanan lintas Jawa dari Batavia (Jakarta) sampai Soerabaja (Surabaya) yang berjarak sekitar 850 kilometer.
Tanggal 7 Mei 1917, Gerrit de Raadt dengan mengendarai sepeda motor Reading Standard membukukan rekor perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dalam waktu 20 jam dan 45 menit. Sepuluh hari setelahnya, 16 Mei 1917, Frits Sluijmers dan Wim Wygchel yang secara bergantian mengendarai sepeda motor Excelsior memperbaiki rekor yang dibukukan Gerrit de Raadt.
Mereka mencatat waktu 20 jam dan 24 menit, dengan kecepatan rata-rata 42 kilometer per jam.
Rekor itu tidak bertahan lama. Sembilan hari sesudahnya, 24 Mei 1917, Goddy Younge dengan sepeda motor Harley Davidson membukukan rekor baru dengan catatan waktu 17 jam dan 37 menit, dengan kecepatan rata-rata 48 kilometer per jam.
Rekor itu sempat bertahan selama lima bulan sebelum dipecahkan oleh Barend ten Dam yang mengendarai sepeda motor Indian dalam waktu 15 jam dan 37 menit pada tanggal 18 September 1917, dengan kecepatan rata-rata 52 kilometer per jam.
Melihat rekornya dipecahkan oleh Barend ten Dam, enam hari sesudahnya, 24 September 1917, Goddy Younge yang berasal dari Semarang kembali mengukir rekor baru dengan catatan waktu 14 jam dan 11 menit, dan kecepatan sepeda motor Harley Davidson yang dikendarainya rata-rata 60 kilometer per jam.
Pada awal tahun 1960-an, mulai masuk pula skuter Vespa, yang disusul dengan skuter Lambretta pada akhir tahun 1960-an. Pada masa itu, masuk pula sepeda motor asal Jepang, Suzuki, Honda, Yamaha, dan belakangan juga Kawasaki.
Seiring dengan perjalanan waktu, sepeda motor asal Jepang mendominasi pasar sepeda motor di negeri ini. Urutan teratas ditempati oleh Honda, diikuti oleh Yamaha di tempat kedua dan Suzuki di tempat ketiga. (warta kota/kompas gramedia).
Diposkan oleh gila^ontel di 01:19 2 komentar
Kamis, 06 Agustus 2009
Mbah Surip Genjot Sepeda Ontel

*Dari Mojokerto ke Jakarta
Lelaki nyentrik, unik, dan sederhana itu menjejakkan kaki di Jakarta pada 1985. Tujuannya bukan untuk menjadi seniman, melainkan bertemu dengan petinju idolanya, Elias Pical, yang saat itu sedang naik daun.
Ia berambisi mengalahkan Elias Pical dalam adu panco. Lelaki kelahiran 1949 itu, yakin bakal menaklukkan sangan juara dunia. Apalagi, di kampungnya, Mojokerto, tidak ada yang bisa melawan Mbah Surip tanding panco. Ia kemudian bulat menetapkan hati ke Jakarta.
Siapa yang menyangka, kalau Mbah Surip tidak memilih menggunakan angkutan umum. Ia menggoes sepeda ontel dari Mojokerto ke ibu kota negara. Tidak tanggung-tanggung, ia tempuh perjalanan dalam waktu empat hari.
Tiba di Jakarta, Mbah Surip bingung karena tak punya tempat tinggal di Jakarta akhirnya ia pun melangkahkan kakinya ke Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ), Bulungan. Kepada seorang temannya, Andi, ia minta diantar ke rumah Elias Pical.
Andi menyanggupi, dengan persyaratan Mbah Surip harus mengalahkan orang-orang KPJ lebih dulu. Semua orang di KPJ kalah kecuali Andi. Walau sudah mencoba berulang-ulang, Mbah Surip tetap saja kalah.
Impian bertanding panco dengan Elias Pical pun tidak pernah terjadi. Sebab Mbah Surip sendiri sudah asik di KPJ. Tekadnya yang luar biasa untuk sruvive membuat lelaki
Bob Boreno, pelukis kenamaan di Kaltim menuturkan ia bertemu Mbah Surip tahun 1986. Mereka sama-sama berprofesi sebagai seniman di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (Gerajas) di Jl Bulungan, Jakarta Selatan.
"Dulu, Mbah Surip ke mana-mana selalu pakai sepeda ontel. Sepedanya suka saya umpetin (sembunyikan, Red.). Kalau ban sepedanya bocor, minta uang ke saya untuk menambal," ujar Om Bob.
Di matanya, Mbah Surip memiliki sifat yang sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya. "Kalau dia dapat rejeki habis ngamen, dan dia mau makan, dia tanya dulu teman-teman kiri kanan siapa yang belum makan, dia mau ngajak makan, dia yang bayar," papar Om Bob.
Perjuangan tak kenal menyerah, dedikasi dan kesetiaan kepada teman, mengantarkan Mbah Surip yang sederhana ke jenjang ketenaran. Orang mengenalnya di mana-mana, anak-anak, remaja, orangtua, kerap melantunkan Tak Gendong.
Bukti popularitas Mbah Surip, selain jadi ikon baru rumah-rumah produksi dan stasiun televisi, ring-back tone (RBT) Tak Gendong mampu merebut hati 130 ribu pelanggan Indosat dan XL. Ratusan ribu pelanggan itu mengaktivasi RBT Tak Gendong per Februari sampai Juni 2009.
Dari laris-manisnya RBT ini, Mbah Surip ketiban bagian Rp 4,5 miliar dari total pemasukan Rp 9 miliar.
Meski begitu, lihatlah ia sama sekali tidak berubah. Corak kehidupan jelata, bersahaja, dan selalu tertawa, tak ubahnya ekspresi seorang manusia miskin yang jujur dalam menjalani kehidupannya.
Pernah saat diikuti reporter Viva News, Mbah Surip makan di sebuah warteg. Ada pengemis dan pengamen yang mendekat. Ia buru-buru merogoh dua lembar Rp 50 ribu dari sakunya. Uang yang masih dalam amplop itu, adalah honornya jadi bintang tamu di Ceriwis di TRANS TV .
Kini, Bangsa Indonesia kehilangan seniman unik, nyentrik dan bertalenta tinggi ala Mbah Surip, Pelantun lagu Tak Gendong ini meninggal mendadak sekitar pukul 11.30 WIB, di rumah Mamiek Srimulat di Kampung Makassar, Jakarta Timur.
Selamat jalan Mbah..i love you full.!!
Diposkan oleh gila^ontel di 10:24 2 komentar

