Selasa, 01 Januari 2013

Akhirnya Dapat Juga BSA B40

Dana yang belum cukup untuk membeli motor-motor Eropa yang terkenal bernilai jual tinggi itu memaksa Muhammad Najib (38) bersabar.

Kala dana sudah terkumpul, lagi-lagi Najib, sapaannya, harus bersabar lantaran tak banyak atau sulit menemukan orang-orang yang hendak menjual motor-motor antik Eropa.

Penantian panjang Najib akhirnya terjawab. Pada 2012, Najib berhasil menemukan orang yang hendak menjual motor Birmingham Small Army (BSA) buatan Inggris. Kebetulan pula, motor Eropa yang sedang dicarinya yakni motor BSA B40 1960 kapasitas 350cc. 

Maka kesempatan itu tak disia-siakannya. Alhasil, dengan merogoh uang Rp 30 juta-an, ia memiliki motor tersebut. "Yang membuat saya berani merogoh kocek agak dalam lantaran kondisi mesin motor hidup dan onderdil motor masih original," ujarnya. 

Najib yang sudah 'gila' dengan motor eropa sejak 1997 itu tak serta-merta menggeber motor yang baru dibelinya tersebut. Beberapa onderdil motor masih harus dilengkapinya untuk mempertahankan originalitas motor BSA. 

Ia pun memesan onderdil-onderdil motor yang diperlukan seperti mblem BSA, karet tangki, tutup tangki, kampas kopling, sok belakang dan beberapa onderdil lain. "Saya memesan onderdil motor di Bandung, Surabaya dan Yogyakarta. Setelah onderdilnya lengkap, saya mulai membangun motor dan memakan waktu sekitar dua bulan," ungkapnya. 

Kepuasan seketika meliputi perasaan Najib kala motor BSA miliknya yang dicat kuning krim itu sudah 
siap menjajal jalanan Kota. Sempat terpikir, rasa-rasanya tak mungkin bisa memiliki motor Eropa lantaran harga jualnya yang tinggi. 

Namun, berbekal keinginan kuat dan kerja keras yang tak kenal lelah, Najib akhirnya dapat 'meringkus' BSA ke garasi rumahnya yang terletak di Jl Karet, No 45. "Bila ada rezeki, saya mau membeli motor Eropa ber-cc lebih tinggi dari motor eropa yang saya miliki kini," harap pria beranak dua yang bekerja sebagai Mekanik Freelance itu. 

Kegemaran Najib pada motor Eropa juga dilandasi niat untuk merawat sejarah motor BSA yang sudah berumur tua dan tidak diproduksi lagi. Motor Eropa seperti BSA dan motor-motor eropa tua lainnya, tidak pernah surut harganya kendati zaman kian maju. 

"Misal, orang mempunyai uang Rp 25 juta. Kemudian dibelikannya motor-motor keluaran sekarang. Boleh jadi, dua atau tiga tahun mendatang, harga jualnya akan turun. Namun, 'bermain' dengan motor Eropa, nilai jualnya tidak akan susut," jelasnya.(sumber:tribun pontianak/ful)

Selasa, 20 November 2012

Pelihara Sembilan Motor Klasik

NAMA Sapta Adjie, sudah santer seantero Kalbar. Ketua Motorhead West Borneo ini memang dikenal identik dengan motor-motor klasik Eropa.

Di garasi rumahnya, terkumpul sembilan motor antik berbagai jenis. Di antaranya, BSA C11 250cc tahun 1955 yang dibeli pada 2007, Raleigh 250cc tahun 1922 dibeli 2008, BSA M21 600cc, Norton ES2 350cc.

Motor-motor legendaris itu masing-masing buatan Inggris. Selain mengoleksi motor buatan Inggris, Adjie juga memiliki motor antik buatan Jerman. Ada Zundaap 50cc, BMW R25/3 250cc tahun 1955 yang dibeli pada 2009, dan EMW 350cc. 

Satu lagi, motor klasik Vespa Super 1964 buatan Italy yang dibeli 2009. "Masih ada dua frame yang sedang dibangun yaitu BMW R26 tahun 1956 buatan Jerman dan Matchless G12 tahun 1960 buatan Inggris," katanya. 

 Adjie mengakui, butuh jalan berliku untuk memiliki motor-motor incaran para kolektor tersebut. Namun, saat motor impian sudah di tangan, ada kepuasan yang sulit digambarkan lewat kata. "Setengah gila rasanya ketika berhasil memperoleh motor Eropa klasik," ujarnya. 

Adjie, tak mengetahui benar penyebab yang membuatnya gandrung pada motor Eropa. Hobinya yang tak lazim itu, begitu sulit dinalar. Ia mulai jatuh cinta pada 2008. Saat itu, ia membeli BSA seri C 11, 250 cc tahun 1955. 

BSA dibelinya dalam kondisi utuh dan surat-suratnya lengkap. Tak lama Adjie kembali membeli BMW R25/3 250cc tahun 1955 yang masih berbentuk bahan atau tidak lengkap seharga Rp 4 Juta. 

"Perlu waktu dua tahun untuk membangun dan menghidupkannya lantaran faktor spare part. Setelah menghabiskan biaya sekitar Rp 30 juta, motor baru bisa hidup serta dapat dikendarai," kata pria yang tinggal di Jl Komyos Sudarso, Perum II, Gg Goa VI itu. 

Kegilaan pada motor Eropa yang "frontal" serta nyali yang tak pernah ciut menjadi modal utama Adjie membeli serta mengoleksi motor-motor eropa original. Bagaimana tidak gila, kondisi mesin motor yang tak hidup dan spare part yang susah dibeli, sanggup Adjie hadapi. 

"Tak semua orang memiliki motor Eropa original. Kendati mampu, namun bila tidak berani dan bernyali jongkok, motor Eropa tak akan terbeli," ujarnya. 

Cara Adjie membeli motor Eropa yakni ada dua cara. Pertama membeli secara cash atau tunai. Sebagai contoh, ia pernah membeli Norton pada 2012 sebesar Rp 45 Juta. Cara kedua yakni secara tukar tambah. Pada 2011, ia menukar 1 unit BMW R25/3 250cc tahun 1955 buatan ditambah uang tunai Rp 15 Juta untuk Norton.

"Sebetulnya sangat sulit untuk menentukan harga motor tua. Kadang tergantung dari keutuhan atau originalnya serta kondisi sebuah motor, jumlah unit yang diproduksi pabriknya dan jumlah yang masih bertahan sampai saat ini, sejarah atau legenda dari motor tua tersebut dan selera dari si penghobi," jelasnya. 

Namun, tambahnya, saat ini harga sebuah motor tua Eropa atau Amerika dengan kondisi full original dan sehat atau hidup jalan, mulai dari Rp 15 juta sampai dengan miliaran rupiah. Sensasi dan kepuasan yang luar biasa adalah gejolak emosionalitas yang dirasakan Adjie ketika mengendarai motor-motor Eropa miliknya. 

Rasa senang, bebas, bangga melebur menjadi satu. "Bangga karena saya memiliki alat transportasi yang memiliki nilai sejarah serta turut serta melestarikan barang bersejarah," tukasnya. 

Adjie berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menjual kembali motor-motor Eropa miliknya, kecuali barter atau tukar tambah dengan motor antik juga. "Karena keinginan saya adalah bisa menambah terus peliharaan motor antik," ungkapnya. (sumber:ful/tribunpontianak.com)

Senin, 19 November 2012

Berburu M21 hingga Mancanegara

MEREK motor yang satu ini pasti sudah tak asing lagi di telinga para kolektor motor klasik. BSA sendiri merupakan kepanjangan dari Birmingham Small Arms.

Birmingham Small Arms Company berdiri pada tahun 1863 di Kota Birmingham, Inggris. Saat ini, motor-motor BSA sesekali masih bisa kita jumpai di beberapa daerah di Indonesia seperti di Yogyakarta, Surabaya bahkan di jantung Ibu Kota Jakarta.  

Keberadaannya yang kini terbilang langka menjadi buronan para kolektor untuk direstorasi dan dijadikan koleksi vintage mereka. Satu di antara kolektornya adalah Nandiwardhana yang juga memiliki motor tua Honda C102. 

Pemuda asal Jakarta ini mengaku menemukan bangkai motor melalui sebuah iklan di media cetak kala itu. "Saya mendapatkan motor ini pada tahun 2008 dari seseorang yang beralamat di Bandung, Jawa Barat. Waktu itu saya membelinya seharga Rp 7,5 juta," tegas Nandi. 

BSA M21 produksi tahun 1941 ini merupakan motor tipe militer yang dirancang oleh BSA sebagai penyuplai kendaraan militer. Produksinya hanya dilakukan sekitar tahun 1939-1945.

"Hampir semua yang ada pada motor ini masih orisinil. Semua pengapian dan kelistrikan saya kondisikan sesuai aslinya," jelas Nandi. 

Sebagai pengganti beberapa part yang sudah usam, pemuda yang menetap di daerah Tebet ini tak segan-segan untuk memesannya hingga luar negeri. Namun memang ada beberapa part yang sengaja dibiarkan sesuai aslinya. Seperti terlihat pada jok yang dibiarkan sobek dan terlihat kuno. 

"Untuk sparepart yang saya gunakan sengaja saya datangkan dari luar negeri. Seperti dari Belanda, Australia namun kebanyakan memang saya datangkan dari negara asalnya, Inggris," ujarnya.

Melihat kondisi BSA M21 produksi tahun 1941 saat ini yang sudah mengalami banyak ubahan tentu saja menjadikan harga motor tersebut melambung tinggi. Bahkan Nandi juga menyebutkan jika harga motor yang ia miliki sekarang ini setara dengan satu unit mobil. 

"Saya pernah membawa motor ini dengan perjalanan paling jauh hingga Bandung," sanggah Nandi. (sumber:http://motor.sportku.com/berita/profil-modifikasi/modifikasi/15496-berburu-motor-lang ka-hingga-mancanegara)
 

Ariel Bangkit Dari Kubur

Di kalangan pecinta motor antik, nama Ariel NH 350cc lansiran 1937 ini bukan lagi mahluk asing.

Tapi, mengingat kisah dan sejarah motor yang bangkit dari kubur menjadi sesuatu yang luar biasa.

Lebih dari 50 tahun, motor ini terpendam di dalam pasir dan derasnya aliran sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa, Sungai Brantas.

Dan di tahun 2006 bangkai motor ini ditemukan oleh seorang penggali pasir Sungai Brantas. Tak ubahnya sebuah Mumi yang hidup kembali, setelah dua tahun ditemukan motor ini hidup kembali dan bahkan sudah menjelajah jalan Jogjakarta-Bali-Lombok dan kembali ke Jogjakarta. 

Konon, diceritakan warga Bojonegoro yang tinggal di bantaran Sungai Brantas, motor tersebut adalah milik seorang bule yang dibunuh warga pribumi waktu zaman penjajahan Belanda dan mayatnya dilempar ke Sungai Brantas bersama motornya. 

Sulistyo Budi yang kini menjadi empu motor tersebut menjelaskan, meski keadaan motor tersebut sudah jauh dari kondisi normal, namun bagi pecinta motor antik ada alasan tersendiri yang membuat sebuah motor menjadi sangat bernilai. 

"Seninya jadi seorang pecinta motor antik, ya masing-masing punya alasan yang berbeda. Bahkan terkadang ada hal yang dianggap orang lain tak masuk akal," kata warga asli Klaten yang tinggal di daerah Jl Prambanan-Klaten Kilometer 3 ini. 

Menurut lelaki berambut gondrong ini, pada tahun 2006 silam seorang penggali pasir menemukan motor ini dengan kondisi terdapat tali Jadung (tali yang terbuat dari kulit bambu-red) yang mengikat sebuah tengkorak manusia. 

"Menurut masyarakat sekitar Sungai Brantas, saat masa penjajahan sebelum RI merdeka, memang ada kejadian pembunuhan terhadap seorang bule yang sedang naik motor oleh warga pribumi, mayat dan motornya kemudian dimasukan ke Sungai Brantas," beber lelaki yang akrab disapa Sulis ini. 

Nah, tengkorak yang terikat di motor Ariel tipe NH bermesin 350 cc itu diperkirakan sebagai pemilik motor pertama dengan rentang kejadian pembunuhan sebelum tahun 1945. Saat pertama diangkat oleh si penggali pasir dari lumpur dan pasir sungai Brantas, rangka nya dipotong jadi tiga bagian dan dijual ke pemulung rongsokan seharga Rp 350 ribu. 

Sempat berpindah tangan ke orang lain dan terakhir dimiliki oleh Mbah Warjo asal Kediri. Di bengkel milik Mbah Warjo inilah ketiga bagian rangka itu disatukan kembali. "Sebenarnya, yang pertama ditemukan bukanlah motor, tapi rangka mobil Fiat "Konde" rakitan tahun 40-an yang udah tak bermesin, selang beberapa saat setelah rangka mobil diangkat dari dasar Sungai Brantas ditemukanlah motor Ariel NH 350 ini," terang Sulis.

"Tahun 2008 saya nekat nebus motor ini meski kondisi mesin belum hidup bahkan banyak banget bagian motor sudah terkikis oleh derasnya aliran sungai Brantas. Jadi banyak teman berkata saya gila dan sinting ha ha ha," ujar lelaki gondrong yang nekat ngerogoh duit 22 juta untuk bisa meminang motor tua buatan tahun 1937. 

Meski secara fisik motor ini sudah seperti rongsokan tak bernilai karena banyak karat dan terkikis aliran air Sungai Brantas, tapi bagian mesin ternyata masih bagus dan berfungsi baik. Sisa oli yang terdapat di dalam mesinnya membuat jantung pacu Ariel NH 350 ini terlindungi dari korosi. 

Restorasi jeroan mesin yang dilakukan Sulis hanya mengganti piston dan ring bawaan dengan piston kepunyaan Mazda dan pengapian aslinya diganti CDI milik Honda Grand. 

"Bagian yang paling susah adalah ngusir 3 mahluk halus yang dari dulu bersarang dan menjaga motor ini. Sampai-sampai istri saya dan karyawan bengkel sering melihat penampakan hantu di motor itu. Tapi setelah dilakukan "upacara selamatan" akhirnya si hantu tersebut mau damai dan motor pun bisa hidup dan jalan lagi," beber pemilik Zundapp 50 Cc dan BSA Side Klep tahun 1941. 

Saat acara ulang tahun Himpunan Motor Tua di Bali tahun 2009 lalu, jadi langkah awal Ariel NH 350 menapak kembali aspal Indonesia setelah bangkit dari tidur panjangnya di dasar Sungai Brantas. Motor racikan duet maut James Starley dan William Hillman asal Inggris di tahun 1870 silam ini pun seperti hidup kembali. 

"Anehnya, meskipun sudah tiga kali motor ini dijual ke orang lain, motor ini tetap kembali lagi ke saya seolah enggak mau pindah dari tangan saya," tutup pria yang kini menjabat sebagai President Bajak Laut MC sambil berbisik "terakhir ada yang nawar sampai 37 jeti."
 
Sumber:http://gilamotor.com/2012/03/ariel-1937-bangkit-setelah-50-tahun-di-dasar-sungai)

Jumat, 16 November 2012

Rp 25 Juta untuk Mesin Norton

ANTIK, sangar dan bertenaga. Tiga kata ini begitu melekat pada tunggangan para penggila motor antik di Pontianak. Para kolektor ini tak sungkan merogoh kocek untuk kepuasan batin.

Een, mekanik motor tua pemilik Bengkel Chika Motor di Jl Martadinata, adalah satu di antara pemilik motor antik. Een sudah terbiasa dengan aliran modifikasi motor khas untuk motornya. Misalnya chooper, jet style, brat style, bobber dan aliran lainnya.

Bagi Een, di balik tampilan garang motor antik, ternyata tersimpan nilai sejarah yang memukau. Ia rela mengeluarkan uang Rp 25 juta untuk membeli seunit mesin Norton Commando 750 Cc keluaran 1972 asal Inggris. Ia juga merogoh kocek Rp 9 juta untuk gearbox orisinil dari Inggris. 

"Hati saya seperti diciptakan untuk mengagumi motor-motor antik. Saya tak bisa berpaling. Dimensi ekstrimitas dan eksotisme motor antik menyandera imaji saya," ujar Een di bengkelnya. 

Tak tanggung-tanggung, setelah dirinci, Een mengeluarkan uang sekita Rp 60 juta untuk memodifikasi motornya. Een mengatakan, pecinta motor tua senantiasa mempertahankan keaslian mesin yang tergolong tua. Sebab, bagi pecinta sejati motor tua, mesin motor merupakan kunci dari seunit motor. 

"Melihat dan menemukan onderdil motor antik, seketika saya tak berpikir harganya. Ada kesenangan yang tak terdefinisikan," tuturnya. Anggota komunitas motor antik seperti Black Jack, Motor Head dan beberapa komunitas lainnya akrab dengan pria ini. Een juga berhasil memburu mesin motor Birmingham Small Arm (BSA) 350 Cc asal Inggris keluaran 1973 seharga Rp 27 Juta. 

Begitu pula motor Matchless asal Inggris. Albert John Steven (AJS) berkapasitas 350 Cc asal Inggris keluaran tahun 50-an juga bersarang di bengkelnya. "Nyaris tak mungkin menemukan motor BSA, AJS dan Matchless, lantaran pabrikan motor itu sudah lama pailit. 

Namun, berangkat dari cinta akhirnya membawa saya menemukan motor itu," katanya. Kegilaan terhadap Motik juga dirasakan Joko Black Jack (37). Joko berhasil mendapatkan motor Binter Merzy 200 CC 1980-an buatan Japan. 

Motor ini ia modivikasi dengan aliran choppers. Usut punya usut, rupanya ia terinspirasi film yang sempat membumi Renegade. "Walau bukan Harley sungguhan, namun kita bisa desain dengan jenis choppers. Kami di Black Jack berkiblat pada model motor choppers," kata Joko. 

Sejak 2004 hingga sekarang, ia sudah mengoleksi empat unit Motik, diantaranya dua unit Binter Merzy 200 CC 1980, Yamaha XS 400 Cc tahun 1970-an buatan Jepang. Kini, Norton 350 Cc idamannya juga sudah menggelinding di aspal. 

Untuk spare part, ia biasa memesannya di Kuching dan Australia. Biasanya, sistem kanibal juga dilakukan jika tak lagi tersedia spare part asli. Ketua Black Jack Very M (33) juga rela menghabiskan duit puluhan juta untuk memiliki dan mengkoleksi beberapa jenis motor. 

Binter Merzy 200 CC buatan Jepang, Yamaha XS 400 CC buatan Jepang, dan BSA 250 Cc buatan Ingris menjadi motor yang pernah dia miliki. Saat ini, hanya BSA yang masih ia pertahankan. (sumber:Tribun Pontianak)

Empu Motor Antik Bekasi

MANG Jajang. Itulah nama lelaki yang biasa menghidupkan mesin motor tua menjadi layak jalan. Karena keahliannya itulah, ia disejajarkan dengan Empu Gandring. He he he hee...

Jajang mengawali karier pebengkel karena didorong oleh kegemaran terhadap motor antik. Motor pertamanya, pada 1985 adalah BMW R25 keluaran tahun 1955 .

"Pada masa itu, motor antik masih mudah didapat. Namun jadi kendala karena sulit mencari orang yang mengerti seluk beluk mesin motor Eropa. Mungkin waktu itu komunitas-komunitas motor antik belum banyak terbentuk," kata Jajang.  

Kesulitan memaksanya belajar otodidak tentang mesin-mesin eropa. Belakangan ia pun kerap diandalkan para penggemar motor antik di daerah Bekasi ini. Bengkel ini, sambung Jajang, berdiri sejak 1990. Berbeda dengan bengkel sepeda motor tua lainnya. 

Sebab di bengkel ini, mempunyai ciri khas unik, yaitu memperbaiki dan memghidupkan kembali motor tua buatan Eropa-Amerika, walaupun tidak menutup juga untuk motor Jepang lansiran terbaru. Bengkelnya terletak di Jl Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi. 

Walaupun bengkelnya terlihat kecil dan sederhana, terpampang harta karun beberapa motor antik. Sebut saja Panonnia 500cc, BSA Golden Flash, Matchless 1954, Triumph 200 Cc, dan motor antik lainnya. Seperti diketahui penggemar motor antik Eropa-Amerika berasal dari berbagai latar belakang profesi. Pada umumnya sudah berusia di atas 30 tahun. 

Bagi mereka kecepatan bukan hal utama. Namun suatu kebanggaan dapat menjaga kelestarian sejarah dan budaya bangsa ini tetap bertahan. Selama menekuni usaha bengkel, yang jadi kendala adalah spare part atau suku cadang. Sebab untuk motor Eropa, adalan orisinalitasnya yang yang dicari. Bukan kanibal menggunakan spare part lain. 

Untuk mendapatkanya kadang ia hunting ke teman-teman sesama penggemar motor antik di luar daerah. "Butuh waktu lama menghidupkannya karena spare part susah. Perlu keahlian khusus karena mesinnya berbeda dengan motor keluaran Jepang," kata pemilik BSA Salur ini 

Meski susah mencari spare part dan butuh keahlian khusus, namun ia tidak meatok harga untuk perbaikan motor antik. "Persahabatan merupakan prinsip dalam menjalankan usaha ini. Soal rezeki sudah ada yang mengatur," ujarnya yakin. 

 Ia pun mengaku ada kepuasan tersendiri jika motor yang ditanganinya hidup dan bisa digunakan harian tanpa masalah. Tentu saja, selain sebagai ajang silaturahmi dan persaudaraan.

"Kepuasan itu, yang tidak diungkapkan dengan kata-kata. Bagi yang memiliki motor antik sekadar tukar pikiran, ataupun informasi terkait motor silakan telp 08159312273," katanya. (Sumber:http://bekasikota.go.id)

Kamis, 15 November 2012

Pride With Delapan Norton

KECINTAAN Mochammed Ballazam, asal Jawa Timur, kepada motor Inggris tak bisa dibilang main-main. Hal itu tercermin dari fanatiknya

Bella, demikian ia disapa, menjatuhkan pilihan kepada produk motor Inggris. Ya, Bella hanya memilih Norton. Motor legendaris dunia ini, diburu Bella, sampai ke luar negeri.

Ia rela menjelajah beberapa negara Eropa demi mendapat spare part orisinilnya. Baginya, motor antik lebih artistik. Tak ayal, dia pun berusaha mencari ke beberapa daerah di Indonesia. 

Hasilnya, Bella memperoleh delapan motor Norton dari tahun 1940 hingga 1960. "Saya suka motor antik sejak kecil karena motor antik lebih artistik," ujar Mochammed Ballazam atau biasa disapa Bella. 

Bella mengenal motor antik dari sang ayah. Ayahnya, mengetahui motor dari orangtuanya. Maklum, kakek Bella adalah seorang Polisi dengan jabatan Komisaris Besar Polisi (Kombes) di Jawa Timur. Sang kakek memiliki tunggangan Harley Davidson UL. 

Berhubung ayah Bella menyukai sepeda motor, sang kakek memberikan motor Norton Dominator kepadanya. Koleksi motor Bella orisinil dan sangat artistikKoleksi motor Bella orisinil dan sangat artistikLambat laun Bella pun mulai diperkenalkan dengan motor tersebut oleh sang ayah. 

Sayang, saat Bella sudah mulai tertarik, ayahnya menjual motor ketika Bella duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP). Meski sudah dijual, Bella berharap suatu saat bisa punya Norton sendiri. Impiannya terkabul setelah dewasa. 

Dia mulai mencari-cari sepeda motor Norton ke berbagai wilayah Nusantara. Usaha pria kelahiran 30 September ini tak sia-sia, karena ia berhasil mengumpulkan satu demi satu. 

Kini Bella memiliki Norton International 1941 596cc, Norton ES 2 1949 500cc, Norton ES2 1956 500cc, Norton ES2 1956 350cc, Norton Dominator 1957 500cc, Norton Dominator 1962 500cc, Norton Jubilee 1964 400cc dan Norton Commando 1969 750cc. 

Seluruh motor tersebut dia dapat di Indonesia berkat hunting dan informasi dari teman-temannya. Sementara bahan untuk part dia beli dari luar negeri semisal Amerika, Inggris, New Zealand, Australia, Kanada hingga India. 

Dia membeli ke luar negeri bukan untuk gaya-gayaan. Melainkan memang sulit mencari part sepeda motor tersebut di Indonesia. Norton miliknya diproduksi antara tahun '40 hingga '60-an. Norton miliknya diproduksi antara tahun '40 hingga '60-an"Bisa dikatakan banyaknya barang tidak sebanding dengan banyaknya penggemar. Oleh karena itu, saya belanja ke luar negeri," jelas Bella. 

Empat motor Bella sendiri belum lengkap part dan aksesorisnya. Sementara, empat lainnya sudah cukup lengkap. Motor-motor tersebut ia parkir di garasi rumahnya. Walaupun begitu, kedelapan motor jarang Bella gunakan. 

Ia baru memakai jika ada waktu kosong. Maklum, Bella berprofesi sebagai Marine Engineer yang lebih banyak menghabiskan waktu di laut. Lantaran profesinya pula, Bella memutuskan tidak aktif lagi dalam sebuah komunitas motor. 

Namun, sebagai bentuk kerinduan mengendarai motor, seminggu sekali lulusan STIP ini menunggangi motor antik bersama teman-temannya di sekitar Rawamangun. Untuk perawatan motor, ia mengakui mengalami kesulitan. 

Terlebih saat part motor rusak. Jika seperti itu, Bella segera mencari part dengan cara searching atau tanya-tanya ke teman. Menurut Bella, masalah utama di motor tua adalah pengapian dan persneling. Bila mengalami masalah, terutama untuk maintenance dan overhaul dia mengerjakan sendiri dibantu satu orang sepupu dan tetangga. 

Dia menggunakan garasi sebagai lokasi restorasi motor-motornya. Meski sudah memiliki delapan buah motor Norton, Bella tidak ingin disebut sebagai kolektor. Dengan tegas dia menyatakan, sekedar hobi saja lantaran menyukai fashion untuk keorisinalan motor. 

Untuk itu, dia tidak pindah ke lain hati. Dia tetap menjatuhkan pilihan kepada Norton. "Keburu jatuh cinta sama Norton, jadi ya Norton sajalah," ucapnya seraya tersenyum. Di mata Bella, motor original asal Inggris rata-rata elegant, pride dan handsome sehingga menjadi sebuah kebanggaan tersendiri mempunyai tunggangan motor tua yang terjaga keasliannya. (sumber:http://www.tnol.co.id)