Senin, 28 Maret 2016

Super Sang Vespa Pertamaku

Foto Gua lagi culun-culunnya
PERTENGAHAN Maret 2016 kemarin, aku dan istriku tercinta, Mina, sibuk mencari STNK Revo Fit yang entah ke mana. Saat mencari dokumen itulah, terselip sebuah foto. Foto aku sedang berpose di atas Vespa Super 1966.

Mengenakan kemeja biru lengan panjang, menyandang tas hitam merah, mengenakan helmet custom hijau, selaras dengan kelier sang Super. Pose itu di ambil di halaman parkir belakang Graha Pena Pontianak Post, Jl Gajahmada Pontianak, pada akhir 2000.

Saat itu, aku baru saja diterima sebagai wartawan di koran milik Jawa Pos Grup itu. Foto diambil
Mas Timbul, Fotograper Senior di Pontianak Post, sesaat sebelum aku menjalankan tugas-tugas sebagai jurnalis.

Kebetulan tugas pertama liputan aku bertanggungjawab di desk liputan Kota Pontianak. Meliputi Pemkot dan DPRD Kota Pontianak. Wali Kotanya saat itu adalah Buchary A Rachman. Vespa Super ini kubeli dari seorang teman kuliah asal Mempawah, Kalbar, Isnaini.

Sabtu, 19 Maret 2016

Korek Api dan Triumph TWN Tora Sudiro

Tora dan Triumph TWN
SEPEDA motor Triumph menghadirkan citra yang berbeda dengan kekhasan gaya Inggris. Gaya khasnya pun membuat pemain film Tora Sudiro tertarik sehingga akhirnya ia memiliki sebuah Triumph-Werke N├╝rnberg AG (TWN) buatan 1947.

Tora menebusnya dari seorang kolektor di Jogjakarta dengan harga Rp 40 juta Bagaimana Tora akhirnya bisa memiliki sebuah Triumph, itu ternyata ditengahi oleh kisah simpel yang lucunya ia jadikan nama untuk motor kesayangannya itu.

"Motor saya namanya Ganarko, Triumph TWN tahun 1947. Saya kasih nama Ganarko karena itu ada singkatannya, 'gara-gara naro korek'. Saya lagi ngobrol, naro korek, saya lihat motor. Buset, apaan nih? Wah Triumph, keren juga nih," celoteh Tora.

Panitera Penyemplak Motor BSA

Bayu bersama BSA 350 Cc miliknya
MEMILIKI banyak motor antik rupanya menjadi kepuasan tersendiri bagi Hendra Bayu Broto Kuncoro. Kolektor motor antik yang akrab disapa Bayu ini tak disangka adalah Panitera Muda Hukum Pidana Pengadilan Negeri (PN) Solo.

Bayu juga menjadi Ketua Motor Antik Community Indonesia (MACI) Chapter Solo. Saat ditemui di ruang kerjanya di PN Solo, pria berkumis ini terlihat nyentrik dengan memakai seragam khas bikers.

Banyak ornamen-ornamen dan foto antik yang dipajang di meja dan dinding tempat kerjanya.
"Foto-foto itu hanya untuk memberikan suasana berbeda di PN. Sehingga bisa mengubah kesan seram kepada pengunjung saat melihat foto yang terpajang di pengadilan," terang pria kelahiran Pacitan 49 tahun silam itu.

Selasa, 15 Maret 2016

Istimewa, Indian 1916 Koleksi David Handoko


Indian 1916 (kanan) Foto: Sulistyanto)

* Yogyakarta Simpan Harta Karun Dunia

SELAIN sebagai seorang pengusaha bidang otomotif, David Sunar Handoko, juga dikenal sebagai kolektor sepeda motor, maupun sepeda onthel tua.

Saat ini di tempat tinggalnya, kawasan Jl KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta, ada kisaran 400 unit sepeda motor dan 400 unit sepeda onthel tua.

Tak jarang para pehobi otomotif, khususnya roda dua, baik dari dalam maupun luar negeri datang ke tempat Handoko dan saling tukar wawasan.

Seperti halnya, Rabu (6/1/2016), Frannata Suryanto sebagai Presiden Vespa Club Indonesia yang juga penggemar Vespa maupun sepeda motor tua asal DKI Jakarta berkunjung ke rumah Handoko.

Honda 90Z, Yamaha XS650, hingga Norton

Derby di atas Triumph koleksinya
* Derby Romero Koleksi 15 Motor

DERBY Romero, artis ini kini sudah remaja. Aktivitas dan hobinya pun sangat laki-laki sekali. Doi punya hobi seperti ayah yang hobi didunia otomotif roda dua dan empat. Pemilik nama asli Martua Rumero Derby Nainggolan ini mengaku sudah sejak kecil suka dengan dunia otomotif.

Semua lantaran sang ayah pehobi motor dan mobil tua. Hobi sang ayah mengalir di kehidupan artis yang pernah membintangi film anak-anak Petualangan Sherina. Selain berkarier di dunia acting, doi sekarang juga terjun di dunia modifikasi motor dengan membuka rumah modifikasi  berlebel Flash Rabit Custom.

BMW R27 Koleksi Teja Wijaya

Teja Wijaya. Foto Motor Sportku.com
PUNYA hobi koleksi motor jadul memang miliki risiko tersendiri. Salah satu hal yang paling sulit adalah menjaga originalitas dari barangnya itu sendiri. Hal ini pula yang dialami Teja Wijaya.

Pentolan Imagineering Customs itu punya motor BMW R27 keluaran tahun 1966 di garasi rumahnya. "Waktu itu, lagi iseng-iseng nongkrong sama teman yang punya motor ini. Motor ini sebenarnya warisan orangtua tua teman saya itu. Tapi saya beli, kondisinya saat itu seperti barang rongsokan. Tidak menjadi barang berharga, hanya diletakkan di belakang rumah," kenang Teja.

Teja membeli motor BMW R27 ini seharga Rp 60 juta. Setelah 11 bulan hunting untuk mencari sparepart aslinya kini kondisi motor tersebut sangat layak pakai. Dan menjadi salah satu idaman Teja diantara motor-motor Harley-Davidson miliknya.

Pesona Nevia dan DKW RT 125

Nevia Senja. Foto Dapur Pacu.com 
HOBI tidak mengenal jenis gender. Itulah yang terjadi pada gadis belia bernama Nevia Senja. Nevia begitu mencintai sepeda motor tua. Tak hanya motor tunggangannya, wajah cantiknya juga mampu menyedot perhatian banyak orang.

Berpenampilan layaknya seorang biker, gadis berkulit kuning langsat dan berambut panjang ini mulai mengendarai motor sejak usia 15 tahun. Saat itu Senja masih berstatus sebagai pelajar SMP. "Aku diajarin temanku naik motor," kata Nevia.

Sejak itu wanita kelahiran Jakarta 21 tahun lalu mulai menyukai sepeda motor. Ke mana pun ia pergi, selalu ditemani sepeda motor yang dipinjam dari temannya. Namun kecintaannya dengan sepeda motor tua berawal saat dia duduk di bangku SMA.

Saat itu, sang pacar adalah anggota Motor Antique Club Indonesia (MACI) Bogor, yang selalu membonceng Nevia saat jalan dengan sepeda motor tuanya.

Jumat, 04 Maret 2016

Berburu Motor Klasik Sampai Dasar Sungai

Ariel 350 Cc ditemukan di Kali Brantas
SEPERTI pehobi pada umumnya, pecinta sepeda motor klasik terkadang berjuang keras demi incarannya.

Salah satunya adalah pengalaman Djoko Marseno, yang berburu sepeda motor klasik ke berbagai kota bahkan sampai di dasar sungai. Djoko mulai serius menggeluti hobi ini pada 1970-an.

"Sejak dulu saya memang sudah senang sepeda motor tua. Lebih simpel, tongkrongannya gede-gede," ujarnya. Dulu koleksinya cukup banyak, tetapi berkurang satu per satu seiring berjalannya waktu.

"Buat keperluan sekolah segala macam, ada yang saya jual. Namun saya menjual juga ke sesama kolektor, jadi barangnya masih bisa saya lihat," kata Djoko mengenang. Kini koleksi Djoko ada 4 unit, diantaranya adalah Indian keluaran 1948 dan BSA produksi 1953.

Probolinggo Pesan Motor Pertama Dunia

Hildebrand & Wolfmuller 1893. Foto: wikipedia
SEBAGAI alat transportasi, sepeda motor makin mendominasi sektor otomotif Indonesia. Penjualannya mengatasi moda transportasi lainnya. Pada 2013, penjualan sepeda motor mencapai 7,7 juta unit, naik dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 7.1 juta unit.

Padahal di negara-negara maju, sepeda motor adalah barang mewah yang menunjukkan status sosial seseorang. Tidak heran kalau populasi sepeda motor di dunia masih kalah jauh dibandingkan dengan mobil.

Saat ini sekitar 200 juta sepeda motor beredar di seluruh dunia, atau 33 unit per 1.000 orang. Sementara jumlah mobil adalah sekitar 590 juta atau 91 unit per 1.000 orang. Sepeda motor diperkenalkan pada era 1880-an di Inggris dan Jerman.

Tiga Motor Tua Berbanderol Selangit

Indian 8-Valve Board 1915
SUDAH menjadi rahasia umum jika sepeda motor antik dijual dengan harga yang cukup mahal. Bahkan, beberapa diantaranya dipasarkan dengan harga selangit.

Tingginya harga sepeda motor klasik ini tak lain karena nilai sejarah dan juga unitnya yang langka sehingga menjadi buruan para kolektor.

Seperti diketahui, motor-motor tua membutuhkan perawatan yang telaten dan kecintaan yang sangat tinggi terhadap kendaraan tersebut. Tak hanya itu, harga suku cadang dari motor tua pun biasanya sangat mahal karena amat langka di pasaran.

Demi perawatan rutin tunggangannya, para pemilik sepeda motor tua dapat menghabiskan dana mencapai puluhan juta rupiah. Berikut ini uraian singkat motor-motor yang dibanderol dengan harga selangit seperti dilansir dari Myinfopie, Senin (16/3/2015).

Harley Davidson Tua-Tua Keladi

Agus (kanan). Foto: ENRICO LAURENT
 
MENJADI ikon maskulinitas, Harley-Davidson (HD) merupakan bagian tradisi Amerika. Bahkan, menurut beberapa orang, perkembangan mesin produsen moge ini cenderung lamban.

Pasalnya, merek ini tak mementingkan tren, melainkan mempertahankan tradisi sejak 1903. Menurut Akbar, salah seorang mekanik Mabua SOS, HD sebenarnya sudah mengikuti zaman.

Sepeda motor keluaran 2000 hingga kini sudah menggunakan mesin injeksi. Namun, justru para penggila sepeda motor ini mencari HD bermesin karburator. "Tak dimungkiri, suara hasil karburator HD jadi ciri khas," kata Akbar.

Menurutnya, suara motor saat tak digas seperti suara tapak kuda beradu dengan tanah. Suara tersebut berkat mesin V orisinal HD. Suara itu yang tak bisa diikuti motor merek lain. Akbar menerangkan, hingga kini produsen lain tak bisa menghasilkan suara khas HD.

Mudik Semplak BMW R25 1955

Rafiq dengan BMW R25/3 miliknya
DALAM perjalanan memantau kondisi arus mudik lebaran di jalur selatan, tim otomotif Liputan6.com, menemui salah satu pemudik yang cukup unik. Pasalnya, ia menggunakan motor antik sebagai tunggangan mudik.

Pria paro baya tersebut bermama Eka atau yang memiliki nama panggilan Rafiq. Pemudik asal Tangerang ini menggunakan motor BMW R25/3 lansiran 1955 untuk menuju Cianjur, Jawa Barat.

Eka yang juga anggota komunitas Motor Antik Club Indonesia (MACI) Jakarta ini mengaku ada kebanggaan sendiri menggunakan motor antik.

Pesona AJS 500 Cc Pensiunan Marinir

Serma Suwandi di atas AJS 500 Cc
NANGKRING di atas AJS 500 cc lansiran 1956 buatan Inggris membuat banyak orang tercengang. Sebab usianya sudah tidak muda lagi. Umurnya sudah menginjak 70 tahunan. Pria yang terlihat gagah berbalut jaket loreng darah Koppasus itu adalah Suwandi.

Suwandi merupakan warga Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) yang doyan mengulik tunggangan besi tuanya yang sudah jadi andalan tentara sekutu dalam Perang Dunia ke-II. Segala cara dilakukan agar motor tuanya bisa tetap ngebul meskipun onderdil pabrik aslinya sudah sulit lagi ditemui.

"Saya mengakali onderil dengan menggunakan onderdil motor lain yang mirip. Bahkan terkadang juga membuat sendiri onderdil sesuai kebutuhan di PT PAL Surabaya," kata Suwandi yang seorang pensiunan Sersan Mayor (Marinir) TNI AL Lantamal Surabaya, Jawa Timur.

Henggar: Sang Dokter Pegila Motor Antik

dr Henggar dengan BSA 500 Cc
BERCITA-cita menjadi insinyur teknik mesin, Henggar Herawana justru `tersesat' menjadi dokter. Kesibukannya sebagai kepala Puskesmas tak menghalangi kegilaannya pada motor antik.

Bahkan, sudah 17 tahun, dia didapuk menjadi komandan pecinta motor antik di Kediri Raya. Syahdan, Henggar Herawana kecil suka otak-atik mesin. Cita-citanya menjadi insinyur teknik mesin. "Dulu, mobil Ford tahun 1948 milik bapak sering saya bongkar pasang," kata pria kelahiran Palembang 19 September 1957 ini.

Akan tetapi, Harjono, sang ayah justru memintanya menjadi dokter. Begitulah. Henggar mengikuti kemauan ayahnya, kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret Solo, pada 1978. Lulus tahun 1984, Henggar ditempatkan di Kediri.

Akan tetapi, hasratnya terhadap dunia otomatif tak padam. Henggar punya motor Honda 400 cc. Ketertarikannya pada motor tua bermula ketika motornya beradu balap dengan Norton. "Semula saya meremehkan, wong Norton motor Kuno. Eh, malah motor saya yang kalah cepat," kisah  Henggar, sembari tergelak.

Sejak itu, Henggar tertarik memiliki motor kuno Eropa. Dia menjual Honda 400 cc lalu membeli BSA buatan 1956. Namun, perjalanannya mencintai motor antik tak mulus. BSA 1956 itu sering mogok lalu dijualnya motor itu.

Lalu, dia membeli BMW R-27 tahun 1960. Meski bodinya menarik, BMW kurang memiliki speed. Berkebalikan dengan Harley Davidson 900 cc Sporter yang dibeli Henggar setelah menjual BMW-nya. Harley hanya nyaman dikendarai untuk kecepatan tinggi.

Akhirnya, Henggar menemukan tambatan hati, kala memperoleh Triumph 1957. "Saya punya Ariel. Ada yang tertarik. Mau nukar dengan Triumph, tanpa pikir panjang saya ambil," katanya

Padahal, Triumph itu kondisinya rusak. Dia harus membeli onderdil ke Australia. Namun, Triumph itu hanya sekali turun mesin. Selanjutnya, Triumph menjadi motor yang tak tergantikan lagi.

"Motor ini nggak pernah rewel. Pernah saya bawa tour ke Jambore motor antik di Malino, Sulawesi Utara," ujar suami Dwi Hartini Irianti ini.

Bahkan, Henggar ketagihan untuk berburu motor antik lainnya. Selain Triumph, koleksinya kini Norton buatan 1956, BSA 1938 dan AJS 1954. Dia juga tengah mencoba menyulap mesin mobil MAZDA Caroll B-600 menjadi sebuah antik.

Rekan-rekannya di komunitas pecinta motor antik yang tergabung dalam Joyoboyo Motor Antique Club memilih Henggar sebagai ketua. Sejak 1998 hingga sekarang, Henggar belum tergantikan

Motor antik menjadi media refreshing Henggar di sela kesibukannya sebagai Kepala Puskesmas Plosoklaten. Bapak dari dr Paramita Putri Hapsari SpAn dan Rangga Adinegara ini selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama pecinta motor antik, tiap akhir pekan di stadion Brawijaya.

Pecinta motor ini tak jarang tour hingga ke luar pulau. Saat tour, mereka yang sebenarnya dari ekonomi kalangan menengah ke atas ini sering menggelandang di atas trotoar. Saat itu, kebersamaan terasa. Jiwa petualangan kian terasah.

Tak jarang, pecinta motor antik ini janjian bersama-sama membongkar dan merakit motor. "Karena, biasanya `kan dapet-nya hanya onderdil saja, kami rakit sendiri. Dari motor rusak, kemudian bisa kami bangun dan jadi. Di situlah letak seninya," paparnya.

Sebenarnya, merakit motor ini hanya hiburan. Namun, juga menghasilkan. Tak jarang, hanya bermodalkan puluhan juta rupiah, begitu jadi dan bisa dihidupkan, motor ditawar di atas Rp 100 juta.

Henggar merasa bangga memiliki motor antik. "Sebab, orang punya uang, belum tentu punya motor," tukasnya.

Kini, sebagian Henggar sudah dilabeli not for sale. Lho kok? "Sudah ada pewarisnya. Motor saya BSA buatan 1938 itu saya wariskan ke Anggoro, cucu dari anak saya pertama. Motor AJS 1956 saya wariskan ke anak saya kedua, Rangga Adinegara," katanya. (Danu Sukendro)

SUMBER: http://www.kediripedia.com/henggar-dokter-penggila-motor-antik/

Heboh AJS 350 Cc Terkubur di Blitar

Warga Desa Maliran membersihkan AJS yang ditemukan
INFORMASI penemuan AJS 350 cc berawal dari cerita Tricahyo Abadi, Sabtu, 13 desember 2014. Via grup FB Blitar Kutha Kawentar, beredar info melalui Mas Khader Arjack  mengenai ditemukannya sebuah motor gede (moge) yang lama terpendam di Dusun Banaran, Desa Maliran, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.

Memang info mengenai lokasi situs penemuan moge ini sempat simpang siur karena ada info serupa bahwa penemuannya adalah di Desa Jatilengger. Rupanya hal tersebut terjadi karena posisi kedua desa bersebelahan. 

Penduduk desa menemukan motor yang terpendam itu saat sedang menggali lubang pondasi untuk rumah salah satu penduduk desa. Kondisi motor dalam keadaan berkarat dimakan waktu. Namun, dari plat merknya yang masih utuh, dapat dipastikan motor tersebut bermerek AJS (AJ Stevens & Co Ltd.), yang merupakan merk legendaris dari Inggris.

Moge yang ditemukan tersebut diperkirakan telah terpendam selama puluhan tahun. Berdasarkan penampakan fisiknya, diduga moge tersebut adalah AJS 350 cc keluaran tahun 1956. Berikut ini perbandingan foto moge yang telah ditemukan warga dengan motor AJS 350 cc 1956 milik Cepi Budisentosa Memet (lebih sering dipanggil Kang Memet) yang juga berplat AG (Kediri, Blitar dan sekitarnya)

Karena kemiripan bemper mesinnya, pada awalnya motor yang telah ditemukan warga ini disangka adalah pabrikan Birmingham Small Arms (BSA) 350cc yang juga keluaran 1956 seperti milik seseorang dari Jawa Tengah di bawah ini:

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan siapa yang berhak memiliki harta karun terpendam tersebut. Menurut informasi yang diperoleh +Tukar Cerita, barang antik moge kuno ini masih diperebutkan antara si penemu vs pemilik rumah yang akan dibangun vs ahli waris tanah.

Sejarah Singkat 

AJS merupakan salah satu pabrikan motor Inggris tertua selain BSA, Ariel, Vincent, Matchless, Norton, dan Triumph. Pendirinya adalah empat dari lima anak laki-laki keluarga Stevens: Harry, George, Jack, dan Joe Stevens Junior (Stevens memiliki 9 anak dan seluruhnya terlibat dalam bisnis ini). 

Keluarga Steven memang terkenal reputasinya sebagai mekanik yang handal. Awalnya mereka berempat hanya memproduksi mesin motor. Pada tahun 1909, mereka memenangi sebuah kejuaraan ketahanan motor dihidupkan selama 24 jam non-stop sehingga mereka merasa perlu melindungi motornya tersebut. 

Mereka sepakat untuk mendirikan pabrik motor. Dan setelah mempertimbangkan masak-masak, mereka memutuskan untuk menamai pabrik mereka dengan inisial nama saja. Dan karena hanya Jack yang mempunyai dua nama Baptis, yaitu Albert dan John, akhirnya pada tanggal 14 November 1909, mereka secara resmi mendirikan pabrik motor bernama AJ Stevens & Co Ltd. 

Selama beberapa tahun, AJS menjadi penyokong utama industri motor Inggris. AJS mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1920-an dan 1930-an. Pabrik mereka ini sebenarnya tidak hanya memproduksi sepeda motor saja, tetapi juga mobil.

Kredit foto: Khader Arjack dan Cepi Budisentosa Memet
SUMBER: http://www.tukarcerita.com/2014/12/heboh-ditemukan-motor-terpendam-di.html


Rider Pontianak Tembus Trans Kalimantan

Suasana Kopi Darat di Radar Sampit
RATUSAN sepeda motor antik se-Kalimantan berkumpul di Halaman Kantor Radar Sampit, Sabtu, 28 November 2015.

Kegiatan bertajuk Kopdar Gabungan C-Series Borneo 2015 ini menjadi ajang silaturahmi pecinta motor jadul. Satu di antara peserta Kopdar Gabungan, Vivi, rela menempuh perjalanan jauh dari Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) ke Sampit, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Apalagi kendaraan yang dipakai adalah motor lawas. Puluhan jam mereka habiskan waktu di jalanan. "Berangkat dari Pontianak Jumat  pukul 7.00 pagi dan sampai Sampit Sabtu pukul 19.00,  karena di jalan ada motor yang mengalami trouble," ujarnya.

Perempuan ini berangkat bersama suaminya yang tergabung dalam 23 motor. Segala pengorbanan yang mereka keluarkan untuk mencapai Sampit itu terbayarkan sejak menginjakan kaki di halaman kantor SKH Radar Sampit, Sabtu malam.

"Yang namanya hobi ya cape, masalah di jalan itu hilang semua, karena intinya di sini untuk kebersamaan," ujar Vivi yang 20 tahun terakhir ini menggeluti hobi otomotif tersebut.

Dalam perjalanan dari Pontianak, rombongannya sempat menyinggahi Lamandau untuk melepas lelah. "Di mana rasa cape di situ kita tidur, apalagi ke Pontianak banyak lewat jalan milik kelapa sawit, jadi istirahat perlu juga," katanya.

Dia mengaku, tidak hanya hoby di motor tua, tetapi juga memiliki komunitas pecinta motor eropa. Bahkan mengenal suaminya yang setia menemani perjalanan touring itu berawal dari hoby di komunitas motor itu. "Rencana besok pagi sudah balik ke Pontianak, soalnya teman-teman senin kerja," katanya.

Ketua Macy (Motor Antik Comunity) Kotawaringin Timur (Kotim) Kalteng, Sandy, mengatakan silahturahmi pecinta motor antik ini untuk mempererat solidaritas tanpa memandang perbedaan. "Kita mengharapkan salah satu tujuan dari acara ini untuk saling mengenal antara komunitas pecinta motor jadul," kata Sandy.

Komunitas ini bukanlah geng motor yang menggangu ketertiban lalu lintas dan dikhawatirkan sejumlah pihak. Pihaknya menjujung tinggi keselamatan berkendara di jalan dan menghormati pengguna jalan lain.

"Tidak ada geng-gengan di komunitas ini, enggak zamannya lagi kaya gitu, kita di sini buktikan jika komunitas kita punya anggota dan santun," kata Sandy.

Kegiatan ini juga punya misi memperkenalkan Kotim sebagai tujuan Kota Wisata sehingga para komunitas itu ketika kembali ke kota masing-masing bisa mengelakan Kota Sampit. "Ini juga bagian dan upaya kita membantu Kotim, dan besok  mereka rencananya mau lanjut ke Pantai Ujung Pandaran, mereka ingin menikmati bagaimana Kotawaringin Timur ini sebenarnya," tukasnya.

(sumber:RadarSampit:http://sampit.prokal.co/read/news/1361-ratusan-pecinta-motor-antik-kump ul-di-sampit)

Norton Chooper Sirip Hiu Pontianak

Joko dan Norton Kesayangannya
JOKO atau kerap disapa Joe ini, tak bisa lepas dari motor tua dan antik. Baik produksi Jepang maupun eropa.

Boleh dikatakan hampir semua tunggangannya adalah motor dengan tahun produksi lawas. Untuk ketiga kalinya, ia memodifikasi motor antiknya.

Sebelumnya, mantan Ketua Black Jack Pontianak ini pernah merombak dua unit Binter Merzy (1980) miliknya dengan gaya Chooper.

Nah, kali ini Norton (1956) kesayangannya. Norton dengan kapasitas 350 cc ini, ia dapat hanya dalam bentuk mesin gelondongan.

Jadi, seluruh bagian, termasuk rangka, seluruhnya handmade. "Supaya mengentalkan konsep chooper yang saya usung, beberapa komponen motor saya amputasi. Namun ada beberapa yang saya pertahankan keasliannya seperti knalpotnya (yang berbentuk sirip hiu)," ujar Joe kepada Tribunpontianak.co.id, Kamis (26/7/2014).

Setiap modifikasi dilakukan menurutnya ada sisi kekurangan dan kelebihan. Meskipun setang motor ini panjangnya hingga 26 cm, namun tidak membuat capek jika dibawa bepergian jauh. "Justru dibawa touring, motor ini sangat nyaman. Setangnya yang tinggi tidak membuat capek tangan," tuturnya.

Hanya jika sudah berada di medan yang tidak mulus, motor ini menjadi tidak nyaman dikendarai. Sebab motor ini tidak dilengkapi shockbreaker di belakangnya. "Jadi kalau lewat jalan berbatu, hentakan joknya bisa sampai ke otak sakitnya. Tapi kalau lewat jalan mulus, nyaman saja memakainya," tambahnya.

Belum lagi jika terkena hujan atau air pasang, motor ini bisa mogok. Cepretan air dapat membuat platina basah. "Saya kalau hujan jarang mengeluarkan motor ini," ucap pria yang sehari-hari sebagai wiraswasta ini.

Sejauh ini, segala permasalahan motor yang sering dihadapi dapat diatasinya dengan baik. "Masalah yang sering saya hadapi paling hanya platina. Namun tidak susah mengatasinya. Biasa saya keringkan atau amplas. Tidak perlu repot bawa ke bengkel," pungkasnya.

(sumber:http://pontianak.tribunnews.com/2014/06/29/joko-modivikasi-motor-antik-jadi-norton-c hooper-sirip-hiu)

Kamis, 03 Maret 2016

* Seharian Menyusuri Kota Mataram (Bagian-3)

Gili Trawangan
Menjual Diri
ala Lombok

Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dianugerahi alam yang begitu mempesona oleh Tuhan.

Dari mulai Gunung Rinjani, Danau Segara Anak, Pulau Satunda, Pantai Seger, Turangga Under Water, Air Terjun Mata Jitu, hingga Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno.

Belum lagi kesenian dan kebudayaannya seperti Tiu Teja, Bedug Beleg, Main Jaran, Presean, dan masih banyak yang lainnya. Namun, kekayaan alam dan budaya itu, tidak lantas membuat para pemangku kebijakan tertidur nyenyak.

Sebaliknya, Pemprov NTB terus bekerja keras, mencari berbagai terobosan, untuk bisa menjual Lombok dan segala potensinya. Tujuannya, menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, sebanyak-banyaknya, sehingga mampu melahirkan efek domino bagi pertumbuhan dan perbaikan ekonomi masyarakat.

Tagline, You can see everything about Bali in Lombok, but you can not see Lombok in Bali, dipilih sebagai unsur pembeda. Sebab Pemprov Lombok menyadari, meski Islam menjadi agama mayoritas di Lombok, namun tidak sedikit warganya yang menganut agama Hindu.

Tidak mengherankan, meski dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid, kita bisa dengan mudah menemui berbagai pura di Lombok. Tagline tersebut diambil mengingat selama ini, wisatawan sudah sejak lama begitu lekat dan akrab dengan Bali.

"Dengan segala keterbatatasan yang ada, membangun sektor pariwisata perlu strategi mumpuni. Apalagi, alokasi untuk kami hanya Rp 6 miliar per tahun. Dari dana itu, kami harus mendatangkan 3 juta wisatawan setiap tahun. Kalau dikalkulasikan, berarti per wisatawan alokasinya hanya Rp 2 ribu. Bayangkan," kata Ketua Badan Promosi Wisata NTB, Taufan Rahmadi, di Hotel Golden Palace, Mataram, Selasa (9/2) malam.

Ia menuturkan bagaimana mungkin, Rp 2 ribu mampu mendatangkan wisatawan ke Lombok. "Kami putar otak. Mencari strategi. Akhirnya, kami temukan tiga strategi yang kami anggap pantas sebagai jembatan emas menuju kejayaan pariwisata Lombok," ujar Taufan.

Pertama, Change mindset of strategy from traditional to modern (Merubah pola pikir dari tradisional ke modern). Kedua, Find networking (Mencari jaringan). Ketiga, People energy (Energi masyarakat). "Kombinasi ketiga strategi itu, kini menjadi era baru pariwisata NTB," ucapnya.

Taufan mengungkapkan, ia bersama tim, sejak awal memelihara mimpi untuk membawa NTB ke pentas dunia. Mimpi yang pertama, video destinasi wisata NTB harus ada di Maskapai Garuda Indonesia. "Hasilnya, 17 Juni 2014, video destinasi wisata NTB diputar di maskapai Garuda Indonesia untuk jalur dalam dan luar negeri," imbuhnya.

Mimpi kedua, Lombok dan Sumbawa harus dilihat dunia. "Ini adalah konsep trourism untuk positioning NTB. NTB harus jadi buah bibir pelaku industri halal dunia. Hasilnya, April hingga Oktober 2015, kami jadi nominasi World Halal Travel Awards mewakili Indonesia," tegas Taufan.

NTB juga masuk nominasi World Honeymoon Destination. Sebulan kemudian, tepatnya pada 27 November, menurut Taufan, dirinya diundang Presiden Joko Widodo (Jokowi). Saat itu, presiden mengajak semua untuk datang ke NTB. "Kini kualitas destinasi wisata jadi pekerjaan besar buat kami. Kami masih terus berbenah. Untuk itu, kami kerahkan voulenteer," imbuhnya.

Media sosial juga tidak luput dari perhatian Taufan. Pihaknya telah membuat sejuta Fanpage for Wonderfull Lombok Sumbawa. "Di Fanpage ini, pengunjung tidak hanya sekadar nge-like. Tiap like adalah harapan baru dari banyaknya industri kecil yang tumbuh dari sektor pariwisata. Ada anak-anak kita yang menggantungkan hidup di sana. For life, for life, for care," papar Taufan.

Wakil Gubernur NTB, H Muhammad Amin, menambahkan sektor pariwisata di NTB membutuhkan kerja sama semua pihak, untuk terlibat di dalamnya agar bisa terus tumbuh dan berkembang.

"Kami berharap, mereka yang datang ke NTB, akan datang kembali. Mengunjungi kami. Mungkin awalnya untuk urusan kedinasan. Namun di lain kesempatan, kami berharap mereka benar-benar ke sini, untuk menikmati NTB," kata Amin.

Menurutnya Pemprov NTB akan melakukan berbagai perbaikan yang dibutuhkan untuk menopang sektor pariwisata daerah. "Kami akan terus membangun infrastruktur untuk menopang pariwisata daerah sesuai dengan potensinya. Tujuannya agar rakyat merasakan dampak positifnya," ujar Amin.

Lombok memang menjelma menjadi destinasi wisata unggulan di Indonesia. Bahkan kini tak kalah bersaing dengan Pulau Dewata, Bali. Biasanya, mereka yang mengunjungi Bali, juga mendatangi Lombok.

"Kami sudah dua pekan. Enam hari di Bali, sisanya di sini (Lombok). Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno jadi tujuan kami. Kami juga menikmati malam di Senggigi. Indah sekali," kata wisatawan asal Malaysia, Mohamed Safiq (37), yang datang bersama anak dan istrinya.

Ditemui di Bandara Praya, saat hendak terbang menggunakan Air Asia ke Kuala Lumpur, Safiq mengaku ingin segera kembali ke Bali dan Lombok. "Berharap bisa secepatnya berkunjung lagi ke sini," ujarnya. (hasyim ashari/selesai)

* Seharian Menyusuri Kota Mataram (Bagian-2)

Pantai Senggigi
Menyusuri Senggigi, Legiannya Lombok

KALAU mau mencari hiburan di Lombok, datanglah pada malam hari ke Senggigi. Semua jenis hiburan ada di sini. Bisa dibilang, Senggigi adalah Legian yang ada di Lombok. Sayang, Tribun menyambanginya saat siang.

Perjalanan menuju Senggigi dengan sepeda motor dari Kota Mataram memakan waktu sekitar 45 menit. Cukup melelahkan memang. Namun driver mengajak Tribun melewati jalan-jalan alternatif, keluar masuk kampung hingga kawasan pertanian, sehingga tidak membosankan.

Begitu memasuki kawasan Senggigi, semilir segarnya angin laut menerpa wajah. Sejauh mata memandang, hanya hamparan pasir putih kecokelatan dan laut yang membiru. Jalan aspal mulus berliku, naik turun di hijaunya dinding perbukitan, kian mengundang decak kagum.

Dari Jl Raya Senggigi, ada banyak pintu masuk menuju bibir pantai. Pengujung bisa masuk dari sisi mana saja dan tidak dipungut bayaran, kecuali tiket parkir seharga Rp 5 ribu. Meski menjadi tempat wisata terkenal di Lombok, ternyata Pantai Senggigi, terlihat biasa saja.

Dia tidak seindah dan sebesar Patai Kuta, Bali. Hanya ada beberapa perahu tradisional yang bersandar. Di sepanjang pantai terlihat warung-warung milik warga sekitar, termasuk warga Suku Sasak, yang menjual aneka makanan dan minuman.

Yang paling terkenal adalah Sate Bulayah. Harganya Rp 12 ribu per porsi untuk sate ayam dan sapi. Bulayah sendiri dalam bahasa setempat berarti lontong. "Sehari bisa dapat Rp 800 ribu kalau lagi ramai. Kalau sepi seperti sekarang paling besar Rp 300 ribu," ucap Patmawati (17).

Warga asli Suku Sasak ini mengaku berjualan bersama ibunya, yang mengais rezeki di Senggigi selama 25 tahun. Di sudut lain, terlihat sejumlah wisatawan mancanegara tengah asyik snorkeling. Sebagian lainnya duduk-duduk santai di steigher yang dibangun menjorok ke tengah pantai. Satu di antaranya Roy Hendersen (30), turis asal Kanada.

Roy datang bersama dua rekannya asal Yogyakarta yang juga dua bersaudara, Vivi (30) dan Ryan (24). Sepintas Roy lebih mirip turis asal Tiongkok atau Singapura karena matanya yang sipit. "Masih alami ya pantainya. Masih perlu sentuhan di sana- sini. Di luar itu, semuanya, ok," kata Roy dalam bahasa Inggris.

Roy mengaku baru tiba di Lombok dan langsung ke Senggigi. "Satu lagi. Di sini, saya kesulitan menemukan fasilitas air hangat di kamar kecil. Tidak seperti di Thailand dan Malaysia," ujar Roy memberi masukan.
Vivi menambahkan, harga di Senggigi lumayan mahal.

Terutama untuk jasa penyebarangan. "Kami dimintai Rp 150 ribu, hanya untuk menyeberang yang waktunya hanya sekitar 3 menitan. Itu terlalu mahal. Kami seperti dirampok," ucap Vivi.

Vivi yang kecewa, segera bergegas karena mereka sudah ditunggu jemputan untuk menuju Gili Trawangan. Wisatawan lainnya, Morgan (45), yang datang bersama istrinya, Michelle (43), mengaku telah mendengar pesona Senggigi pada malam hari.

Karena itulah, mereka menyempatkan diri mendatangi Senggigi. "Siang kami jalan-jalan, lihat pantainya. Sebenarnya, tujuan kami ingin mencari hiburan. Katanya, tempat nongkrong di sini bagus-bagus," kata Morgan, wisatawan asal Australia.

Morgan dan istrinya sudah memesan kamar di Graha Beach Senggigi. Seperti layaknya Kuta, Bali, ratusan hotel memang juga menjamur di Senggigi. "Sejak 90-an, Senggigi telah dikenal sebagai obyek wisata. Saat itu, baru ada satu hotel di sini, yaitu, Senggigi Beach Hotel. Sekarang, jumlahnya ratusan," kata Kepala Unit Pelaksana Dinas Teknis (UPDT) Pelabuhan Senggigi, Iskandar Zulkarnaen.

Ditemui di kantornya, Iskandar menjelaskan pada saat high seasson, pengunjung Pantai Senggigi bisa mencapai 2 ribu orang per hari. Tepatnya pada bulan Juli hingga September tiap tahunnya. Melihat kondisi Pantai Senggigi, Tribun sempat menyimpulkan jangan-jangan, wisatawan berkunjung bukan karena semata pantainya, namun karena hiburan malamnya. "Benar. Baru kali ini saya ketemu seseorang, yang bisa langsung menyimpulkan bahwa Senggigi bukan menjual pantai. Melainkan dunia malamnya," puji Iskandar.

Ia memaparkan, kehidupan di Senggigi menggeliat pada malam hari. Aneka bar, pub, karaoke, kafe, dan berbagai tempat nongkrong lainnya buka sejak senja meredup hingga fajar menjelang. "Khusus hiburan semua ada di sini. Pernah ke Legian, Bali? Nah, Sentral Senggigi ini seperti Legian," ujar Iskandar.

Meski menjadi pusat hiburan malam, sepengetahuannya tidak pernah terjadi keributan. Wisatawan yang datang, baik lokal maupun mancanegara, bisa menghibur diri sampai pagi, tanpa gangguan. "Alhamdulillah. Aman-aman saja selama ini. Keadaan dijamin kondusif," tegas lelaki berkacamata yang telah bertugas sejak empat tahun lalu ini.

Meski mayoritas menggeliat pada malam hari, namun sejumlah toko, kafe, dan mini market, buka juga pada sing hari. Satu di antaranya tempat penyewaan alat-alat menyelam, Blue Coral Diving. "Memang di sini banyak tempat party, dugem. Banyak klub malam. Yang terkenal itu Sahara dan Marina," kata Pengelola Blue Coral Diving, Neo (28).

Meski banyak turis datang untuk menikmati party, namun ada juga yang memilih diving. Lokasi favorit diving menurutnya adalah Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. "Untuk Introdite atau pemula Rp 1 juta per orang untuk dua kali diving karena didampingi mentor. Untuk yang punya lisensi, Rp 850 ribu per orang.
Namun, soal harga bisa dibicarakan. Apalagi jika dalam partai banyak," papar Neo.

Usai menikmati pesona Senggigi, Tribun memilih kembali ke Mataram. Selama perjalanan pulang, ada armada angkutan rakyat yang cukup menyita perhatian. Namanya, Cidomo. (hasyim ashari/bersambung)

* Seharian Menyusuri Kota Mataram (Bagian-1)

Taman Mayura
Menikmati Pesona Taman Mayura 

DI sela-sela menghadiri malam Penganugerahan Indonesia Print Media Awards (IPMA) 2016 di Hotel Grand Palace, wartawan Tribun Pontianak menyempatkan diri mengunjungi sejumlah tempat di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

TRIBUN mendarat di Bandara Internasional Lombok di Tanak Awu, Kabupaten Lombok Tengah, Lombok, Senin (8/2) pukul 18.30 WITA. Bandara ini terletak sebelah tenggara Kota Mataram, Ibu Kota NTB, dan 8 kilometer selatan dari kota kecil Praya, Ibu Kota Lombok Tengah.

Karenanya bandara yang dibangun di atas lahan seluas 550 hektare dan menelan biaya Rp 625 miliar ini kerap disebut Bandara Praya. Bandara yang melayani penerbangan domestik dan internasional ini dibangun dalam tiga tahap. Tahap pertama pada 2006-2009, kedua 2013-2015, dan ketiga 2028.

Untuk sampai di bandar udara pengganti Bandara Selaparang Mataram ini, butuh waktu 1 jam 40 menit penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Waktu selama itu, menjadi tidak terasa dengan pelayanan maksimal yang diberikan Batik Air.

Maskapai di bawah Lion Grup yang melayani rute Jakarta-Lombok ini menggunakan Airbus A320. Ini adalah satu di antara 12 pesawat baru dari total pembelian 44 pesawat Airbus A320 yang dibeli Lion tahun ini.

Pesawatnya sungguh nyaman. Selain menyediakan 174 kursi yang empuk, layar monitor 7 inci di tiap kursi,
juga menyajikan suguhan beragam informasi dan hiburan. Mulai deretan lagu-lagu cinta milik Afgan Syahreza, film Hollywood semisal Pacific Rim, game, hingga olahraga.

Tribun memilih laga klasik Liga Premier Inggris musim 2014/2015, antara Manchester United dan Manchester City. Asyiknya, hal itu bisa dinikmati sambil menyantap nasi putih plus menu ayam asam manis. Makin nyaman karena kualitas pendingin udara di kabin juga amat terjaga dan menyegarkan.

Dipandu Pramugari Senior, Suhartati, dan Pilot Kapten Dedy Sembada, Airbus A320 mendarat mulus di Praya setelah terbang di ketinggian 35 ribu kaki. Begitu tiba di Praya, para penumpang yang mendarat langsung dikejutkan dengan sambutan tidak biasa di pintu kedatangan.

Sekitar 6 sampai 10 orang duduk bersila di atas sebuah panggung minimalis. Mereka mengenakan pakaian serba hitam sambil menabuh gamelan. Gamelan yang belakangan diketahui sebagai Gamelan Belek itu, sepintas iramanya sama persis dengan gamelan yang ada di Pulau Dewata, Bali.

Tertarik dengan Gamelan Belek, sejumlah wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, memilih tak buru-buru meninggalkan bandara. Mereka menonton dari dekat pertunjukan gratis tersebut, sambil sesekali mengabadikannya dengan kamera.

Tidak lupa juga berfoto selfie. Apalagi, tak jauh dari para seniman memainkan Gamelan Belek, di sudut lain bandara, ada penenun tradisional yang tengah memintal kain tenun motif ikat. Alatnya masih tradisional.
Bagi yang berminat, bisa langsung membelinya.

Di luar, langit di atas Bandara Praya masih terang benderang. Padahal, sudah setengah tujuh malam. Lampu penerangan jalan umum, belum menyala. Begitu juga para pengguna mobil dan motor, belum menghidupkan lampu utama.

Sedangkan penduduk sekitar, juga tak kunjung menyalakan listrik di rumah-rumah mereka. "Ini cuaca musim hujan. Kalau kemarau, lebih terang lagi," kata seorang sopir taksi, Arief, kepada Tribun. Ia menjelaskan banyak yang terkejut dengan suasana di Lombok. Terutama yang berasal dari Indonesia Bagian Barat. Sebab, waktu di Lombok satu jam lebih cepat. Sejatinya, dalam WIB, Tribun mendarat di Praya pukul 17.30 WIB.

Dari Praya, untuk menuju Kota Mataram dibutuhkan waktu 45 menit perjalanan darat dengan taksi. Maklum, Praya dan Mataram berbeda kabupaten. Praya di Lombok Tengah, Mataram di Lombok Barat.
Jika menggunakan taksi argo seperti Blue Bird dengan armada Toyota Vios dan Limo, harganya sekitar Rp 120 ribu.

Namun jika menggunakan taksi gelap dengan armada Toyota Avanza atau Daihatsu Xenia, harganya Rp 150 ribu per orang. Harga tersebut, sudah termasuk jasa mengantar sampai ke hotel. Arief merekomendasikan Tribun untuk menginap di Hotel Mataram di Jl Pejanggik.

Pilihan Arief tidak keliru. Dengan biaya menginap Rp 275 ribu per malam, berbagai fasilitas bisa dinikmati tamu yang datang. Di antaranya Free WiFi, TV cable, Breakfast, Pool, hingga Airport. Lebih dari itu, letak hotel yang berada di jantung kota, membuat tamu yang datang bisa merasakan denyut Mataram selama 24 jam.

Termasuk menikmati aneka jajanan kaki lima. Seperti pecel lele, bebek, merpati, soto, dan lain sebagainya. Namun, untuk yang doyan fast food, ada Mc Donald dan Kentucky Fried Chicken (KFC) di Mataram Mall, yang jaraknya hanya 5 menit jalan kaki dari hotel.

Ada juga gerai Indomart dan Alfamart yang buka sehari semalam suntuk. Fasilitas lain seperti Klinik Prodia dan aneka counter Anjungan Tunai Mandiri (ATM), juga mudah dijumpai. Malam itu, Tribun menyempatkan diri mencicipi pecel Merpati seharga Rp 20 ribu per porsi sebelum beristirahat.

Setelah cukup beristirahat, Tribun mengunjungi obyek wisata terdekat dari hotel, Selasa (9/2) pukul 08.00. Atas saran seorang karyawan hotel, Tribun lantas menyewa jasa ojek sepeda motor yang disediakan warga setempat untuk wisatawan.

Motor-motor itu terparkir rapi di depan hotel. Jumlahnya sekitar 7 sepeda motor. Letaknya di seberang jalan, tepat di pusat penjualan sepatu dan sandal, Sukses. Per hari, harga sewanya Rp 150 ribu. Sudah termasuk driver.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Taman Mayura. Nama lengkapnya adalah Pura Jagatnatha Mayura Cakra Negara. Taman ini dibangun Raja Anak Agung Ngurah Karangasem pada 1744. Saat itu, kerajaan Bali masih berkuasa di Lombok.

Untuk masuk ke Mayura, tiketnya hanya Rp 10 ribu per orang. Menurut Pinandita RD Mangku Bong Budha Yasa, awalnya taman ini bernama Taman Kelepug. Artinya suara aliran air dari mata air yang jatuh ke kolam. "Dulu di sini banyak ular. Oleh Anak Agung, didatangkan burung Merak untuk mengusir ular-ular tersebut. Sejak saat itu disebutlah sebagai Mayura yang artinya Burung Merak," kata Mangku Bong Budha kepada Tribun.

Ada bagian paling menyita perhatian di Taman Mayura, yaitu Rat Kerte atau Gili. Letaknya tepat di tengah-tengah kolam. "Gili itu digunakan sebagai tempat sidang. Pengadilan zaman kerajaan. Semua yang bersalah diadili di situ," ujar Mangku Bong sambil menunjuk bangunan di tengah kolam.

Bangunan itu mirip pendopo dengan lebar sekitar 4 meter dan panjang 10 meter. Di tiap sudutnya ada patung singa. Untuk sampai ke Gili, pengunjung harus masuk melalui satu-satunya pintu gerbang yang tersedia.

Selain Gili, ada juga bagian lain dari Taman Mayura, yaitu 20 kepala naga untuk pemandian. Tiap naga akan mengeluarkan air, setiap perayaan Purnamaning Sasih Kapat, yang jatuh setahun sekali. Selain dihadiri para sesepuh dan pemuka agama Hindu, sebanyak 33 jempana atau linggih atau Stana Idha Bharata akan disucikan di sini.

Dari lokasi ini, juga terlihat empat pura utama, seperti Pura Ngelurah, Pura Gunung Rinjani, Pura Gedong, dan Pura Padmasana. Di Taman Mayura ini jugalah, Hari Raya Kuningan yang jatuh, Rabu (10/2) dipusatkan. Saat ditemui, Mangku Bong, tengah mempersiapkan segala sesuatunya untuk Kuningan.

Di antaranya membersihkan tempat untuk ngayah atau memimpin doa. "Kita sedang mempersiapkan untuk Kuningan. Besok ramai sekali di sini umat Hindu untuk berdoa," ucap Mangku Bong yang diwisuda sebagai pinandita pada 11 Oktober 2011 ini.

Menurutnya, Hari Raya Kuningan merupakan bagian dari rangkaian Hari Raya Galungan yang jatuh pada 10 hari setelah Galungan, yaitu pada Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan. Kata Kuningan memiliki makna kauningan yang artinya mencapai peningkatan spiritual dengan cara introspeksi agar terhindar dari mara bahaya. "Kita memanjatkan doa-doa agar diberikan keselamatan," ujarnya.

Ia menuturkan, tak jauh dari Taman Mayura, ada rumah raja. Namanya, Puri Pamotan Cakranegara. Keturunan Raja Anak Agung Ngurah Karangasem tinggal dari generasi ke generasi di rumah ini.
Seorang pengunjung, Angelina (27), mengaku datang ke Taman Mayura bersama teman- temannya yang lain asal Jakarta. "Suasananya asri. Sejuk. Tertata rapi," kata Angelina yang tengah beristirahat di kursi taman yang disediakan.

Namun, ia menyayangkan para penjual batu akik dan mutiara di pagar Taman Mayura dekat pintu masuk, yang terkesan tidak tertata. Sekitar pukul 10.00, Tribun meninggalkan Mayura dan menuju destinasi wisata selanjutnya, Pantai Senggigi. (hasyim ashari/bersambung)

* Delapan Hari Menjelajah Negeri Ginseng (Bagian-9)

KIMCI - Rombongan Pontianak belajar membuat Kimci
Mencicipi 
Citarasa 
Para Kaisar

FAM Trip Garuda Indonesia Pontianak selama delapan hari di Korsel ditutup dinner di Sejong Center, tepat di depan Alun Alun Kota Seoul, Kamis (12/9).

Menunya adalah hanjeongsik, citarasa bangsawan yang diwariskan kepada masyarakat umum setelah kejatuhan Dinasti Joseon pada awal abad ke-20.

Menu para kaisar ini, makin digemari setelah meledaknya popularitas drama epik, Daejanggeum.
Makanan tradisional dari istana, yang dahulu hanya dinikmati keluarga kerajaan Dinasti Joseon ini, memerlukan waktu berjam-jam untuk membuatnya.

Makanan istana harus memiliki harmonisasi yang memperlihatkan kontras dari karakter panas dan dingin, pedas dan tawar, keras dan lembut, padat dan cair, serta keseimbangan warna. hanjeongsik harganya bisa mencapai 265 dolar AS per orang!

Satu di antara menu yang disajikan adalah sup aneka sayuran, jamur, dan tahu yang disebut Gwen Jang jjigae. Dinner dimanfaatkan untuk malam ramah tamah, antara peserta fam trip dengan Garuda Indonesia, dan Asia World Tour.

Momen tersebut juga dimanfaatkan Garuda Indonesia Pontianak untuk menyerahkan penghargaan kepada agen dan sub agen. Untuk kategori Best Sales GATF Achievement 2013, Best One diraih Berjaya Tour, Best Two diraih PT Ateng Tour, dan Best Three diraih PT Anugerah Madya Travelindo.

Kategori Best Sales Agent Performance 2012 diraih PT Aria Wisata Jaya (Best One), PT Putra Tourindo Mandiri (Best Two), dan PT Ateng Tour (Best Three). Sementara untuk kategori Best Sales Sub Agent Performance 2012 diraih PT Berjaya Tour (Best One), PT CK Tour & Travel (Best Two), dan PT Bahana Putra (Best Three).

"Terimakasih teman-teman travel. Fam Trip ini adalah apresiasi bussines parthner Garuda Indonesia Pontianak yang punya konstribusi luar biasa. Pada GA Travell Fair 29 Juli-1 Juni lalu, support teman-teman sangat besar. Hanya dalam tiga hari, transaksi mencapai Rp 7,6 miliar. Sebanyak 12 persen di antaranya terjual ke Korea," kata General Manajer Garuda Indonesia Pontianak, Donald Jerry, disambut tepuk tangan meriah.

Itu juga mengapa Garuda Indonesia akhirnya memilih Korea untuk fam trip tahun ini. "Atas nama manajemen Garuda Indonesia, thanks a lot buat teman-teman yang banyak support. Thanks buat tim supporting Asia World Tour in Korea," ujar Jerry.

GM Garuda Indonesia Korea, Dewa Rai, mengaku bangga dengan pencapaian target Garuda Indonesia pada semester pertama. "Saya berharap, untuk sisa tahun ini, konstribusinya lebih besar lagi," kata Dewa.

Pemilik CK Tour & Travel, Suryanto Gunawan, menjelaskan minta masyarakat Kalbar yang ke Korea Selatan (Korsel) cukup tinggi. "Per tahun rata-rata 300 orang. Pada musim semi hingga dingin sekitar 100 orang. Pada musim ini, kunjungan meningkat karena mereka ingin menyaksikan bunga sakura. Berbeda dengan musim panas, yang hanya sekadar liburan," kata Suryanto Gunawan.

Lelaki yang biasa disapa Suryo ini mengaku sudah delapan tahun melayani perjalanan ke Korsel. Awalnya belum ada paket Pulau Jejo. Paling hanya tiba di kota-kota lain seperti Seoul dan Daegoo.

"Paket paling mahal adalah ke ski resort saat musim salju karena bisa bermain ski juga. Untuk paket promi 1.200 Dolar AS untuk winter 1.700 Dolar AS. Orang berminat ke Korea karena faktor film dan drama Korea seperti Winter Sonata, K-Pop, dan Gangnam Style. Sebelumnya, warga Pontianak lebih berminat ke Cina," papar Suryo.

Pemilik Aria Tour, Irwan Tanjaya Tan, mengucap syukur atas pencapaiannya meraih Best One Best Sales Agent Performance 2012. "Tahun depan kita akan fam tri ke negara lain. Kita akan terus promosikan Garuda Indonesia," imbuhnya.

Ketua DPD Asita Kalbar, Hefni Ahmad Said, mengajak seluruh peserta fam trip untuk memberikan masukan ke pemerintah daerah tentang pengelolaan pariwisata begitu pulang ke Pontianak. "Pelaku sektor kepariwisataan dituntut kerjasama saling menguntungkan. Saya berharap, Asia Wolrd Tour juga membawa wisatawan ke Indonesia. Khususnya ke Kalbar," kata Hefni.

Managing Director Asia Wolrd Tour, Li Guang Xun, juga sangat berterimakasih kepada Garuda Indonesia, khususnya Garuda Indonesia Pontianak yang sudah memilih Korsel untuk fam trip tahun ini. "Terimakasih Garuda. Saya dua kali ke Indonesia. Saya cinta Indonesia. Kita memang jauh, tetapi kita satu keluarga. Kita akan terus bekerjasama dan berharap banyak tamu yang akan datang ke Korea," ujar Li.

Perwakilan Asia World Tour di Indonesia, Rico Rickiyanto Gou, mengucap syukur karena selama perjalanan tidak menemui kendala berarti. "Terimakasih kepada semua teman-teman. Jika ada pelayanan yang kurang berkenan selama perjalanan ini, kami mohon maaf dan akan kami jadikan bahan evaluasi untuk lebih baik lagi," ujar Rico yang juga Managing Director Berjaya Tour.

Usai dinner, rombongan kembali ke Hotel Lexington untuk beristirahat. Alun Alun Seoul basah diguyur hujan. Sepanjang hari hingga malam, Alun Alun Seoul, tidak pernah sepi. Bahkan sekitar pukul 19.00, tepat di samping pintu masuk Sejong Centre, ada pentas musik dengan puluhan audiens.

Pada siang hari, Alun Alun Seoul, menjadi lokasi ideal untuk polisi-polisi Korsel menggelar latihan. Sementara pada sisi lainnya, menjadi lokasi untuk berunjukrasa, syuting, dan berjualan. Alun Alun Seoul terpadu dengan museum, Istana Gyeongbok, Rumah Dinas Presiden Korsel, dan Gedung Parlemen.

Di sekitarnya berdiri kokoh gedung-gedung pencakar langit seperti Seoul Finance Center, The Palza, Lotte Castle, Post Tower, City Hall, Bank Of South Korea, dan The Westin Chosun. Dua hari terakhir di Seoul, rombongan fam trip diajak keliling Kota Seoul.

Terutama untuk keperluan membeli oleh-oleh. Di antaranya ke Korean Health Food Shop, Korean Cosmetic Shop, naik ke Seoul Tower, Duty Free Shop di Hanwa, dan pasar Dongdaemun. Puas berbelanja, rombongan diajak menyusuri Sungai Han pada malam hari dengan menggunakan kapal Cruise.

"Kita berharap pemerintah kita belajar dari negara lain mengelola pariwisata. Kita infrastruktur sangat kurang. Publikasi juga. Sudah begitu, masyarakat kita kurang wellcome terhadap orang asing. Padahal, pariwisata memiliki efek domino luar biasa," kata Pemilik Insan Tour & Travel, Sri Rezeki Zulfika. (hasyim ashari/selesai)

* Delapan Hari Menjelajah Negeri Ginseng (Bagian-8)

Nanta Show
Pertunjukan Spektakuler Nanta Show

Selama empat malam, rombongan Fam Trip Garuda Indonesia menginap di Lexington Hotel, di
Yeouido, Seoul.

Hotel bintang empat bernuansa klasik Amerika ini sangat terkenal. Restoran Steaknya, Newyork Newyork, menjadi lokasi syuting lebih dari 200 drama Korea.

Yeouido adalah kawasan paling berdenyut di Korsel. Ia menjadi pusat bisnis dan ekonomi, kebudayaan, hingga media massa. Tepat di seberang jalan di depan Hotel Lexington, berdiri megah Gereja Full Gospel Yeouido.

Sebelum melepas lelah di Lexington, pasca menempuh perjalanan tiga jam dari Taman Nasional Gunung Seorak, rombongan disuguhi tontotan sangat menghibur, Nanta Show atau Pertunjukan Nanta, di Nanta Teater, Selasa (10/9), pukul 19.22 waktu setempat.

Nanta Teater diapit gedung-gedung bertingkat seperti Golden Brigde dan Siemen. Nanta Show ada di Lantai II, sementara di lantai dasar, bisa dijumpai Dunkin Donnuts dan Starbucks. Ada dua gedung teater yang menampilkan Nanta Show.

Tribun yang duduk di kursi C6, awalnya skeptis tentang seni performa non verbal ini. Namun, setelah menontonnya, harus mengakui bahwa Nanta Show adalah pertunjukan paling pantas yang harus disaksikan di Korea! Jika ada kata yang tepat untuk merepresentasikannya, kata itu adalah wah, ngakak, keren, dan spektakuler.

Pertunjukan ini menggabungkan komedi, atraksi akrobatik, trik sulap, pantomim, dan partisipasi penonton. Cerita Nanta Show dimulai dengan teks interaktif dalam berbagai bahasa, satu di antaranya Bahasa Inggris, pada layar lebar yang menutup panggung pertunjukkan.

Di antaranya meminta audiens memperkenalkan diri kepada penonton lainnya yang duduk di sebelah kiri.
Lalu audiens diminta juga memperkenalkan diri kepada orang yang duduk di sebelah kanannya. Selanjutnya, instruksi bertepuk tangan, berteriak khusus laki-laki, khusus perempuan, hingga sinopsis tentang Nanta Show.

Nanta Show dibuka dengan kehadiran tiga orang koki, dua laki-laki dan satu perempuan. Koki laki-laki berperan sebagai Head Chef dan Sexy Guy, sementara yang wanita berjuluk Hot Sauce. Dua aktor lainnya adalah Manager Restoran, dan seorang keponakan manajer yang dijuluki Nephew.

Mereka adalah koki di Mr Song Restaurant. Head Chef, Sexy Guy, dan Hot Sauce, mengawali show dengan mencuci aneka sayuran. Siapa yang menyangka, suara gemericik air, sumpit nikel yang beradu, dan suara mangkuk yang dipukul, melahirkan bunyi-bunyian penuh irama.

Di sinilah awal mula perkusi. Menyadari aktivitas memasak di dapur begitu menghibur, Head Chef, Sexy Guy, dan Hot Sauce, mencoba perkakas dapur lainnya. Mereka mulai mukul dandang, wajan, galon kosong, pisau, sendok, ember, hingga menggebuk sapu di lantai.

Kombinasi bebunyian itu memunculkan seni pertunjukan perkusi kelas wahid layaknya konser musik. Seluruh panggung menjadi hingar bingar, ditambah tehnik pencahayaan yang spektakuler.  Sedang asyik bermain perkakas dapur, Manajer Restoran, datang dengan gaya parlentenya. Adegan ini menjadi satu di antara sederet adegan komedi Nanta Show.

Mengenakan setelah jas hitam ketat, rambutnya disisir ke belakang sangat sapi. Mirip Alpacino. "Aaaa.." katanya dengan mata genit menggoda, sambil merapikan rambut, dengan sedikit membusungkan dada. Gayanya yang kocak, langsung mengundang tawa.

Kepada Head Chef, Sexy Guy, dan Hot Sauce, ia mengabari bahwa restoran Mr Song mendapat pesananan menu makanan dan kue pernikahan. Semua harus siap dalam 60 menit. Ketiganya pun terbelalak tidak percaya.

Adegan kocak selanjutnya adalah saat mencatat resep. Daftar menu yang diminta sang manajer, membutuhkan kertas sangat panjang agar bisa tercatat seluruhnya. Saat itulah, Nephew, keponakan pemilik restoran, yang tidak tahu menahu tentang memasak, datang.

Berbeda dengan Head Chef dan Sexy Guy yang bertubuh tinggi, atletis, dan macho, Nephew berperawakan pendek dan berwajah jenaka. Manajer menyapanya dengan hangat, karena tahu, Nephew adalah keluarga bosnya. Ia pun mengambil topi Sexy Guy, dan memakaikannya kepada Nephew.

Usai memesan menu, sang Manajer meninggalkan dapur. Sebelum pergi, ia menghadap penonton, bergaya seperti saat ia memasuki panggung sambil berkata, "Aaaa..." Begitu, manajer keluar dapur, Sexy Guy yang tidak terima topinya berpindah ke kepala Nephew, merampasnya kembali.

Berikutnya, konflik antara Nephew dengan Sexy Guy di dapur terus berkepanjangan. Adegan yang bikin penonton tergelak adalah saat mereka berdansa di dapur. Nephew berdansa dengan Head Chef, sementara Sexy Guy berdansa dengan pacarnya, Hot Sauce

Hot Sauce memang sepadan dengan Sexy Guy. Ia berperawakan ramping, semampai, cantik, dengan rambut panjang sebahu. Saat adegan dansa, ketika waktunya merangkul dan berciuman, mereka bertukar pasangan.

Sexy Guy malah mencium Head Chef, sementara Nephew kebagian mencium Hot Sauce. Wajah Nephew sontak berbinar-binar, sementara Sexy Guy meludah jijik. Adegan akrobatik tersaji saat Nephew yang ingin jadi koki, malah disuruh mengumpulkan sampah dari sisa sayuran oleh Head Chef.

Ia sangat cekatan menangkap sisa-sisa kol, wortel, dan timun yang dipotong. Puncaknya, semua penonton menahan nafas, saat Head Chef, melontarkan 20 piring dengan cepat kepada Nephew dari jarak sepuluh meter.

Nephew menangkap tiap empat piring dengan satu tangan, hingga tak satu pun dari 20 piring itu jatuh ke lantai. Usai menaklukkan 20 piring, Nephew keluar dengan aksi akrobatik lainnya. Kali ini, ia memutar bersamaan empat piring di tangan kanan dan empat lainnya di kiri, menggunakan tongkat kecil sepanjang satu meter.

Penonton bertepuk tangan. Namun, tepuk tangan kekaguman itu berganti gelak tawa, karena ternyata piring-piring itu adalah piring kertas yang dilekatkan pada tongkat-tongkat kecil tersebut. Sosok Hot Sauce menjadi pusat perhatian, khususnya audiens laki-laki saat ia menambuh gentong plastik tempat bumbu dapur, dengan dua stik besar.

Ternyata penutup gentong itu berisi air. Saat Hot Sauce menambuhnya sepanjang 10 menit tanpa henti, air itu berpendar membasahi wajahnya yang tirus dan bersih, rambutnya yang terurai, dan tank top hitam ketat yang dikenakannya dengan bagian perut terbuka.

Kualitas dan tata pencahayaan panggung kian memantik sisi erotisnya. Itulah sedikit adegan Nanta Show yang disajikan selama 100 menit. Itu belum termasuk adegan interaktif dengan penonton untuk jadi pasangan pengantin, membuat kue pernikahan, dll.

Sayang, sepanjang pertunjukkan audiens dilarang mengambil foto. Di Seoul, terdapat 4 gedung Teater Nanta, masing-masing di Myeong Dong, Gangbuk Jeong Dong, Hongdea, dan Jeju. Harga tiket mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu. Nanta Show telah mengelilingi 41 negara dan 250 kota di seluruh dunia sejak 1997. Termasuk Indonesia. (hasyim ashari/bersambung)

* Delapan Hari Menjejalah Negeri Ginseng (Bagian-7)

Gunung Seorak
Pengalaman Unik 
Naik Cable Car 
Seorak San

Penerbangan dari Pulau Jeju, lanjut ke Seoul, Nami Island, dan Pegunungan Seorak, membuat rombongan Fam Trip Garuda Indonesia Pontianak, memanfaatkan waktu beristirahat di Hanwa Resort, sebuah resort megah berkonsep Eropa.

Selasa (10/9) pukul 08.30 pagi usai sarapan, rombongan sudah kumpul di lobi dari resort dengan delapan gedung tersebut. Di halaman resort, berjejer mobil-mobil sedan dan SUV mewah produksi Hyundai, KIA, Mercedes Benz, dan BMW.

Tentu saja, minus mobil-mobil lansiran Jepang. Kini, rombongan yang terdiri dari 28 orang ini akan menuju Taman Nasional Gunung Seorak di wilayah Kangwondo. Kangwondo adalah satu dari sembilan provinsi di Korsel yang letaknya di timur laut berbatasan langsung dengan Korea Utara.

Objek wisata yang dikunjungi adalah Hutan Gwongeumseong, Shinheungsa Temple, dan Bronze Budha. Termasuk pengalaman unik melihat Seorak dari ketinggian menggunakan cable car atau kereta gantung.
Rombongan tiba pukul 09.16 waktu setempat.

Udara cukup hangat karena memang baru dua pekan lagi, akan turun salju. Saat musim dingin, hijaunya kawasan Gunung Seorak ini, akan berubah putih.  Di gunung inilah, salju akan terlihat untuk pertama kalinya di Korea Selatan (Korsel).

Karena itulah gunung ini dinamai Seorak atau Gunung Salju. Di sini, cuaca bisa minus hingga 10 derajat celcius. Pengunjung harus membayar 1.200  won atau sekitar 120 ribu untuk tanda masuk. Sebesar 9 ribu won untuk naik cable car dan sisanya untuk tiket masuk.

"Setiap hari, sekitar seribu orang datang ke Gunung Seorak. Pada akhir pekan, jumlahnya naik menjadi 4 ribu pengunjung," ujar Petugas Tiket Taman Nasional Gunung Seorak, Han YK, kepada Tribun.

Perempuan berusia 27 tahun itu kemudian memberikan Tribun sejumlah brosur, terutama peta lokasi objek-objek wisata Gunung Seorak.Hanya berjarak 40 meter dari loket masuk, pengunjung bisa menjumpai bangunan dua lantai, lengkap dengan restoran dan cable car.

Cable car dengan rute ketinggian sekitar 700 meter ini, mengantarkan wisatawan ke puncak hanya dalam waktu 10 menit. Setiap kereta gantung, mengangkut 50 penumpang. Ada dua kereta gantung yang tersedia.
Gunung Seorak memiliki ketinggian 1.708 meter di atas permukaan laut.

Selain menggunakan cable car, ada juga jalur pendakian dengan berjalan setapak. Pemandangan dari atas cable car sungguh mengesankan. Kita bisa melihat gugusan puncak-puncak pegunungan Seorak lainnya. Ada sekitar 33 gunung di kawasan ini.

Tiba di pemberhentian cable car, untuk ke puncak Gunung Seorak di tempuh dengan berjalan kaki.
Ada anak tangga, dibuat dari kayu yang dilapisi karet ban luar mobil bekas, sehingga tidak licin saat didaki. Alur pendakian ini, tidak pernah sepi dari wisatawan. Bahkan, banyak orangtua yang membawa serta anak-anak mereka.

Tidak sampai 15 menit, wisatawan sudah tiba di puncak. Di puncak, sejauh mata memandang, hanya ada gugusan hutan hijau dan bebatuan kecokelatan di puncak. Bebatuan itu, tertutup salju di musim dingin.

"Setelah tiba di puncak, kita makin yakin dengan keagungan Tuhan. Sebagai manusia, kita sangat kecil. Tidak ada apa-apanya. Kita banyak ambil hikmah untuk menambah keyakinan dan keimanan kita," kata wisatawan asal Jakarta, Surkrisno, kepada Tribun.

Sukrisno datang bersama 24 orang jemaat Gereja GKI Taman Aris Jakarta. Sebelum ke Gunung Seorak, mereka juga menikmati pesona dan keindahan Pulau Jeju. Jemaat Gereja GKI Taman Aris lainnya, Poltak (49), menambahkan sebenarnya Indonesia punya objek wisata yang lebih bagus dari Seorak.

Sebut saja Toba di Sumatera Utara. Namun, semua potensi itu tidak dikemas dengan baik. "Mereka mampu menjual seluruh potensi wisata. Tidak saja wisata alam, namun juga sejarah, dan kreativitas para senimannya sepreti Nanta Show yang terkenal itu," ujarnya.

Poltak mengatakan Indonesia harus belajar banyak kepada Korsel untuk urusan pariwisata. "Mereka mengemas story dengan sangat baik. Ada Dragon Head Rock yang menurut saya, tidak juga mirip-mirip amat dengan Kepala Naga. Tapi, story yang dibangun mampu memantik penasaran wisatawan. Termasuk kita," paparnya.

Tidak hanya itu, setiap destinasi wisata di Korsel, semua terpadu dan terintegrasi dengan sektor lain. Terutama hotel dan restoran. "Infrastruktur jalan kita bisa lihat sendiri. Di Korsel jalan begitu lebar dan mulus," imbuh Poltak.

Puas naik cable car, rombongan bergegas turun menuju Shinheungsa Temple dan Bronze Budha. Tepat pukul 11.50, rombongan meninggalkan Gunung Seorak, menuju Seoul untuk City Tour. Untuk tiba di Seoul butuh waktu sekitar tiga jam perjalanan darat menggunakan bus.

Hanya sepuluh menit dari Gunung Seorak, rombongan Fam Trip Garuda Indonesia Pontianak singgah untuk makan siang di Good Restauran. Restoran ini menyajikan makanan sayuran dan jamur organik. "Seorak sangat terkenal dengan tahu organik. Santap siang kita, juga menyajikan tahu organik," kata Ken, Tour Guide Asia World Tour di dalam bus.

Rombongan memilih beristirahat di bus selama perjalanan. Hampir semua terlelap, tidur di kursi masing-masing. Tidak terkecuali General Manajer Garuda Indonesia Pontianak, Donald Jerry, yang duduk di samping Tribun di kursi belakang.

Bus yang membawa rombongan Garuda tiba di Seol menjelang matahari terbenam. Kota Seoul terlihat amat megah dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Lampu warna-warni berebut tempat di kaki langit.
Ini adalah jam paling padat di Korsel.

Sebab, semua orang pulang dari bekerja. Tidak heran jika di sepanjang jalan di kiri dan kanan Sungai Han, mobil berjejer merayap. Padahal, Sungai Han, sudah dilengkapi dengan 20 jembatan. Bandingkan dengan Sungai Kapuas, di mana jembatan hanya ada dua, Jembatan Kapuas I dan II. Itu belum termasuk MRT di bawah tanah yang berjumlah 18 unit.

Korsel memang pantas memikirkan solusi macet di dalam kota. Sebab, dengan penduduk sebanyak 48 juta orang, sebanyak 35 juta penduduknya, menggunakan mobil pribadi untuk aktivitas sehari-hari. Jangan bermimpi melihat sepeda motor dalam jumlah banyak, sepreti di Kalbar misalnya.

Harga satu unit city car di Korsel hanya sekitar 30 juta. Tidak heran, jika Tribun tidak menemukan satu pun mobil dalam kondisi berkarat, penyok, apalagi mogok di tengah jalan. Mobil-mobil yang berseliweran di jalanan Korsel, hingga ke Pulau Jeju, adalah mobil-mobil mengkilap seperti baru saja keluar dari show room.

Mobil-mobil futuristik dengan bentuk aerodinamis itu, mayoritas sedan, begitu modis dan modern. Setiap mobil dilengkapi fasilitas global position system (GPS) tiga dimensi pada dashboard.  Tidak saja menyajikan fitur setiap jalan, namun juga lengkap dengan posisi gedung-gedung di sekitarnya.

Itu kenapa begitu bus yang membawa rombongan Garuda Indonesia berhenti di Yeoeuido-dong, Yeongdeungpo-gu, Seoul, terlihat jelas bangunan Hotel Lexington. Lexington, sebuah hotel bergaya klasik Amerika Serikat ini, menjadi tempat menginap selama di Seoul. (hasyim ashari/bersambung)

* Delapan Hari Menjelajah Negeri Ginseng (Bagian-6)

PULAU NAMI 
Merengkuh Romantisme Winter Sonata 

WINTER Sonata begitu fenomenal. Drama Korea yang diproduksi KBS, Maret 2002 ini, menjadi penanda dimulainya gelombang Korea di Jepang dan Seluruh Asia. Tak hanya alur cerita yang membius penonton, panorama lokasi syuting saat summer dan winter, juga sangat menakjubkan.

Satu di antara lokasi syuting itu adalah Nami Island. Sebuah pulau kecil di area Bendungan Cheongpyeong, Chuncheon-si, Gangwon-do, Korsel. Pulau mungil berdiameter 6 kilometer dengan luas 430 ribu meter persegi ini, berbentuk setengah lingkaran, seperti mangkuk.

Pulau ini adalah milik keluarga Jendral Nami. Itu kenapa kemudian disebut juga Namimara Republic. Layaknya sebuah negara, Namimara Republik, punya bank sendiri. Pada pintu masuk juga turis asing harus membuat visa.

"Pulau Nami menjadi lokasi favorit bagi anak-anak muda Korea untuk menghabiskan akhir pekan. Biasanya mereka pacaran, membawa pasangan masing-masing. Sebab, mereka bosan di dalam kota," kata Tour Guide Asia Wolr Tour, Ken, kepada Tribun, Senin (9/9).

Perjalanan dari Seoul ke Pulau Nami ditempuh dengan bus selama 1,5 jam. Rombongan Fam Trip Garuda Indonesia, tiba Senin siang di Dermaga Gapyeong. Cuaca cukup hangat. Hanya dalam tempo dua pekan berikutnya, seluruh Nami Island akan tertutup salju.

Dari dermaga, wisatawan harus naik Feri selama 10 menit, menyusuri Sungai Han, sebelum tiba di steigher Nami Island. Feri ini dipasangi bendera dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Di steigher, wisatawan lain yang sudah selesai mengelilingi Nami Island, antre bersiap pulang.

Tiba di gapura, telinga wisatawan langsung disuguhi musik intrumental, theme song Winter Sonata, My Memory, milik Ryu. Lagu ini, terdengar di tiap sudut Nami Island. Baru melangkah sepuluh meter, wisatawan sudah sampai di lokasi saat Bae Yong-jun dan Choi Ji-woo, berpegangan tangan, berpelukan, hingga
bermain sepeda.

Berjalan lurus ada Jl Metasequoiq, Jl Ginko, dan ke kanan ada Jl Sakura. Pada musim Semi, Nami Island, didominasi pohon dengan dedaunan berwarna hijau. Musim Semi yang mempesona ini akan menghiasi Jl Sakura dengan sisa sedikit salju dan sinar matahari.

Di musim panas, pohon dan dedaunan di sekitar Jl Metasequoiq akan berwarna merah kekuningan. Daun-daun ini akan gugur pada musim gugur. Jl Ginko yang dapat dinikmati sepanjang musim gugur, merupakan momen yang juga direkam di drama Winter Sonata.

Puncak keindahan Nami Island ada saat musim dingin. Pepohonan akan didominasi warna putih dari salju yang menambah atmosfir romantis. Lokasi-lokasi ini menjadi sudut paling banyak dimanfaatkan untuk berfoto.

Di Jl Metasequoiq wisatawan disambut ucapan salam dari berbagai negara. Satu di antaranya, Selamat Datang, dari Indonesia. Di jalan ini juga untuk pertama kalinya dalam empat hari di Korsel, bisa dijumpai musala untuk salat.

Hanya beberapa meter dari musala ada patung perunggu Bae Young Joon dan aktris Choi Ji Woo.
"Kami penasaran dengan Nami Island karena Winter Sonata. Karena itulah, sejak tahun lalu, kami merencanakan perjalanan ini. Alhamdulilah, kami ada di Nami Island sekarang," kata Nurul Ain (27), kepada Tribun.

Wisatawan asal Kuala Lumpur, Malaysia ini, datang bersama tiga teman karibnya yang lain. Mereka adalah Nur Alwani (27), Zurina (27), dan Azrin (27). Mereka adalah mahasiswi Mara Technology University, Malaysia. "Pulaunya indah. Habis ini langsung mau sharing foto. Upload facebook, twitter, dan Instagram," imbuh Zurina.

Nurul Ain dan Zurina kemudian balik bertanya, Tribun sudah kemana saja selama di Korsel. Saat menjawab baru saja dari Pulau Jeju, tak hanya Ain dan Zurina yang histeris. Nur Alwani dan Azrin juga. "Jeju is the best. Mauuu..." ujar Azrin.

Mereka mengaku memang tidak sampai ke Jeju. Sebab, Rabu (11/9), mereka sudah kembali lagi ke Kuala Lumpur dengan pesawat Air Asia. Panorama dan romantisme Nami Island, dimanfaatkan rombongan Fam Trip Indonesia Pontianak untuk foto-foto.

Seperti yang dilakukan Pemilik Insan Tour dan Travel (ITT), Sri Rezeki Zulfika. Berkali-kali berfoto di Jl Metasequoiq dengan berbagai pose. Hal yang sama juga dilakukan Angga dari Garuda Indonesia dan Rico Rickiyanto Gou dari Berjaya Tour. Keduanya silih berganti mengambil gambar.

Menjelang matahari terbenam, rombongan meninggalkan Nami Island. Namun, tidak bagi wisatawan lain. Mereka memilih bertahan, bahkan wisatawan lainnya terus berdatangan kendati langit sudah gelap.
Dari Nami Island, Ken, Guide Asia Wolrd Tour, membawa rombongan ke melanjutkan perjalanan. Kali ini menuju lokasi penginapan, sebuah resort golf mewah ternama, Seorak Waterpia Hanwa Resort, di Jl Misiyeong, Seorak.

Namun, perjalanan menggunakan bus kali ini, begitu terasa berbeda. Sepanjang perjalanan ke Hanwa Resort, para peserta fam trip, larut dalam keceriaan dan kegembiraan. Dimotori Pimpinan Ateng Tour, Alex "Ateng" Toersanto, peserta silih berganti karaoke.

Tembang-tembang lawas seperti Sepanjang Jalan Kenangan, Tak Kusangka, Terlambat Sudah, dan Selayang Pandang, mengalun memecah kesunyian malam di pegunungan Seorak. Setelah
bermalam di Hanwa Resort, rombongan akan ke Gunung Seorak, di Taman Nasional Gunung Seorak, pada pagi harinya. (hasyim ashari/bersambung)

* Delapan Hari Menjelajah Negeri Ginseng (Bagian-5)

Pusat Ginseng Korsel
Terkejut Harga Ginseng 
Rp 29 Juta

BEGITU menyebut Korsel, di benak siapa pun pasti yang terlintas adalah Ginseng. Tumbuhan yang akarnya menyerupai tubuh manusia ini begitu terkenal di dunia. Khasiatnya dipercaya bisa menambah vitalitas hingga menyembuhkan berbagai penyakit.

Rombongan Fam Trip Garuda Indonesia Pontianak meninggalkan Pulau Jeju, Senin (9/9), pukul 08.45 waktu setempat. Menumpang Jin Air rombongan terbang satu jam dari Bandara Internasional Jeju ke Bandara Gimpo, Seoul.

Begitu tiba, bus pariwisata Asia Wolrd Tour, langsung membawa rombongan menikmati destinasi wisata unggulan lainnya. Pagi itu, Kota Seoul sangat ramai. Lalu lintas juga padat kendati tidak sampai macet. Tepat di Jl Song San, bus masuk jalur bus way, seperti jalu bus Trans Jakarta di Jakarta.

Bedanya, jalur bus way di Seoul hanya di batasi garis warna biru pada aspal. Setelah melewati Universitas Kedokteran Yongsei rombongan tiba di Korea Ginseng Center di Jl Jandari, Seogyo-dong, Mapo-gu, Seoul, pukul 11.19.

Sama seperti destinasi-destinasi wisata lainnya di Korsel, wisatawan harus antre. Sebab, banyak sekali wisatawan yang datang ke sini. Di depan Gedung Korea Ginseng Center, bus-bus pariwisata parkir.
Wisawatan harus naik ke Lantai III menggunakan lift.

Suasana di Pusat Ginseng Korea ini sedikit berbeda. Selama empat hari di Korsel, akhirnya bertemu juga dengan orang Indonesia untuk pertama kalinya. Namanya Nita (25) asal Medan dan Andi (30) dari Jakarta. Nita empat tahun dan Andi tiga tahun bekerja di Pusat Ginseng Korea.

Nita juga lah yang menyambut rombongan dan menjelaskan seluk beluk Ginseng Korea. "Ginseng Korea hanya bisa dipanen setelah enam tahun. Sudah begitu, lahan di mana Ginseng ditanam, tidak bisa dipakai selama 15 tahun karena semua nutrisi di dalam tanah terserap habis," ujar Nita.

Karena itulah, Ginseng Korea adalah yang terbaik di dunia. Lebih berkualitas dari Ginseng Amerika, Cina, dan Jepang. Ginseng berfungsi untuk anti kanker, darah tinggi, diabetes, liver, dan anti aging. "Ginseng terbaik adalah Taeguk Ginseng yang berumur enam tahun. Untuk mengenalinya, ada logo enam tahun pada produk kemasan dan jaminan dari Samsung dan LG, dua perusahaan asuransi terbesar di Korea. Produk terbaik Doctor Ginseng," papar Nita.

Rombongan Fam Trip Garuda berkesempatan mencicipi Ginseng saat demo produk. Namun, banyak yang berpikir ulang untuk membelinya. Tribun terkejut karena Ginseng terbaik dijual dengan harga 2.900 Dolar AS atau sekitar Rp 29 juta per kemasan. "Paling murah harganya 400 dolar AS (sekitar Rp 4 juta)," ujar Andi.

Kendati begitu beberapa peserta Fam Trip Garuda Indonesia Pontianak, tetap membelinya dengan alasan kesehatan. "Saya beli soalnya, saya belum punya anak. Ginseng bagus untuk rahim," kata Yulianti (30) dari Mentari Tour & Travel kepada Tribun.

Istri dari Suwandi ini mengatakan ia membeli satu kotak produk Ginseng. Harganya 426 Dolar
AS. Pemilik Ateng Tour, Alex "Ateng" Toersanto, juga tak ketinggalan ikut membeli. "Saya pikir dengan usia saya sekarang (69 tahun. Red), saya dan istri butuh suplemen untuk menjaga kondisi kesehatan," kata Ateng.

Sebenarnya tidak hanya Ginseng, Korsel terutama di Pulau Jeju, juga terkenal dengan tanaman berkhasiat lainnya. Namanya Teh Omija (Omijacha) atau teh lima rasa. Manis, asam, pahit, hangat, asin, mentol. "Sangat bagus untuk penderita insomnia, batuk, dan perokok," kata Ko Il Seon (52), warga Desa Seongup, Jeju.

Il Seon menuturkan Teh Umija terbuat dari Buah Omija (Schisandra Chinensis) yang bisa diperoleh di kawasan Pegunungan Halla. Buah Omija dibersihan dan dicampur dengan madu. Campuran tersebut disimpan selama tiga tahun di dalam gentong dari tanah.

Sama seperti Ginseng, harga untuk Teh Omija juga bikin geleng-geleng kepala. Per kemasannya rata-rata dijual Rp 4 juta. Selain Ginseng dan Teh Omija, serbuk dan pil tulang kuda Pulau Jeju juga dipercaya menjadi obat mujarab. "Tulang Kuda ini produk terbaik Pulau Jeju. Berkhasiat untuk mengobati rematik dan sakit pinggang," ujar Il Seon.

Produk kesehatan lainnya yang ditawarkan kepada wisatawan adalah No Hearmful Ingredients Healthy Leaver di Center for Healthy Care di Lantai II Topen Building. Rombongan fam trip mengunjungi toko yang berada tepat di belakang Stanford Hotel, Jl Wolrdcupbuk, Seoul ini, Rabu (11/9).

Menggandeng 21 universitas dan akademi di Korsel, No Hearmful Ingredients Healthy Leaver, dipercaya menjadi obat ampuh untuk para penderita penyakit liver (hati). Usai mencicipi Ginseng di Pusat Ginseng Korea, rombongan Fam Trip Garuda Indonesia Pontianak, melanjutkan perjalanan ke tempat yang memantik penasaran banyak orang, Nami Island, lokasi syuting drama Korea fenomenal, Winter Sonata. (hasyim ashari/bersambung)

* Delapan Hari Menjelajah Negeri Ginseng (Bagian-4)

Halaman Istana Gyeongbok
Melihat dari Dekat Istana Gyeongbok

KORSEL punya rumah tradisional nan eksotik. Mulai hunian rakyat jelata di Seongup, Jeju, kediaman bangsawan Namsan di Gunung Nam, hingga istana para kaisar di Gyeongbok Palace, Seoul.

Rombongan Fam Trip Garuda Indonesia Pontianak tiba di 3D Trick Eye Museum, Minggu (8/9) pukul 17.45 WIB. Ken, Tour Guide Asia Wolrd Tour, langsung memberikan arahan untuk segera naik ke Lantai 2 gedung berlantai empat di Beong Yeon-ro, Soewigpo, Pulau Jeju itu.

Di gedung yang di sekitarnya dikelilingi pepohonan pinus ini, juga terdapat Museum Es, Restoran, dan toko souvenir, dan mini market. Terlihat jelas guratan kuas tangan-tangan senimal terampil di seluruh dinding di Lantai 2.

Tak hanya mengandalkan kombinasi warna, penempatan lampu dan sudut pandang kamera, melahirkan efek tiga dimensi. Seolah, pengunjung menjadi bagian tak terpisahkan dari lukisan-lukisan tersebut. Lukisan- lukisan itu, dikategorikan sesuai tema.

Bertema film ada Spiderman, Superman, Transformer, lengkap dengan penganugerahan Piala Oscar kepada Brad Pit dan Angelina Jolie. Ada juga lukisan Tsunami, Rio Karnaval, Mike Tyson, Cliff Hanger, dll. Pemilik Ateng Tour, Alex "Ateng" Toersanto bersama istri, Lim Sok Hia, langsung mencari lukisan untuk berfoto. Lim Hok Sia, tampak berfoto di sebuah toko tas ternama.

Ia seolah membawa lari tas mahal merek Channel. Sementara Ateng memilih berfoto di lukisan dengan tema mengajar di depan kelas. Dua di antara muridnya adalah ilmuwan hebat Albert Einstein dan Stephen Hawking.

Sementara pemilik travel Sembilan Sembilan, Indrayadi Abdullah Yusuf, bergelantungan pada helikopter dan Pemilik Aria Wisata, Irwan Tanjaya Tan, asyik meniti jembatan menyeberangi kedalaman jurang. Selesai berfoto dan makan malam di Lantai 1, rombongan menuju Dragon Head Rock atau Batu Kepala Naga.

Warga Korsel menyebutnya Yongduam. Letaknya di pantai sebelah timur Kota Jeju. Di sebut Yongduam karena bentuknya mirip Kepala Naga yang muncul dari dasar laut. Batu itu terbentuk dari lava gunung berapi beku.

Rombongan Fam Trip Garuda Indonesia Pontianak, meninggalkan Yongduam Pukul 19.20, dan kembali menginap di Ocean Suite Jeju Hotel. Ini adalah malam terakhir di Jeju. Sebab, Senin (9/9), pagi, fam trip akan bergeser ke city tour di Seoul. Itu artinya, rombongan akan terbang kembali via Bandara Internasional Jeju menuju Bandara Gimpo di Seol.

Sebelum memejamkan mata, masih teringat satu lagi destinasi wisata di Jeju saat siang. Objek wisata itu adalah rumah tradisional masyarakat Korea di Seongup. Rumah ini terletak di atas tahan dengan tofograpi gunung api.

Penduduk setempat, Ko Il Seon (52), menjelaskan jika tanahnya diinjak, maka akan ada lubang- lubang. Karena itulah, warga di Seongup, tidak bisa menanam padi. "Angin di sini sangat kencang, karena itulah atap dari ilalang ini, harus dilapis dan diikat," ujarnya dalam bahasa Korea.

Penjelasan Ko Il Seon diterjemahkan oleh Ken. Il Seon mengatakan rumah di Seongup bisa dengan mudah dikenali pemiliknya. Jika ada tiga bangunan rumah, masing-masing rumah utama, dapur, dan gudang, maka rumah itu punya bangsawan.

Namun, jika hanya ada satu rumah saja, maka itu milik rakyat biasa. "Dapur di sini tidak pakai cerobong asap, sejak dulu. Sebab jika pakai cerobong asap tentara Mongol akan tahu, bahwa di rumah ada penghuningnya. Kami sangat benci orang Mongolia dan Jepang. Mongol seratus tahun menjajah kami. Jepang 30 tahun," ujarnya.

Pada rumah tradisional Korea Seongup itu, dilengkapi dengan palang pintu, patung kakek atau harebang alias haraboji dalam bahasa Jeju. Patung ini dipercaya membawa perlindungan, kepandaian, dan kemakmuran bagi yang menyimpannya.

Selain itu ada juga peralatan membajak, alat penggiling yang ditarik kuda, tempat tidur dan ayunan bayi, tempayan air, serta tempayan untuk permentasi Teh Umija atau teh lima rasa. Dinding rumah warga Seongup terbuat dari tumpukan bebatuan vulkanik.

Untuk menutup celah di antara susunan bebatuan itu, agar angin tidak masuk, warga menggunakan lumpur untuk melapisinya. "Dulu semua orang tinggal di sini. Sekarang tidak lagi. Semua ada di kota. Di sini aman. Tidak ada pengemis dan pencuri," kata Il Seon.

Pemandangan serupa tentang eksotika rumah tradisional Korea juga bisa dilihat di Seoul. Namanya, Namsan Hanok Village atau dalam Kampung Hanok Gunung Nam. Kampung ini awalnya ada di kaki Gunung Nam. Namun, kemudian dipindahkan pada 1998 ke tengah Kota Seoul.

Tepat pada ulang tahun Kota Seol ke 600 tahun. Kampung ini memiliki luas 8.000 meter persegi. Perkampungan Namsan berdiri eksotik di tengah gedung-gedung pencakar langit di Kota Seoul. Tidak kalah eksotiknya dengan Istana Gyeongbok, yang terletak beberapa blok saja ke arah Alun Alun Kota Seoul.

Rombongan Fam Trip Garuda Indonesia Pontianak berkunjung ke Istana Gyeongbok, Kamis (12/9). Istana ini menjadi lokasi syuting drama Korea, Jewel In The Palace, yang bercerita tentang kisah nyata gadis legendaris, Dae Jang Geum (Geum yang Agung).

Ia menjadi wanita pertama yang menjadi dokter pada Dinasti Joseon/Chosun, 500 tahun yang lalu. Tidak mengherankan, jika foto cuplikan Jewel In The Palace, terpampang di pintu samping istana: foto Jang Geum tengah meracik obat.

Siang itu, Istana Gyeongbok begitu ramai dikunjungi wisatawan. Baik dari dalam maupun luar negeri. Anak-anak sekolah, terutama dari taman kanak-kanak juga. "Istana ini tempat uang indah. Sungguh indah," puji wisatawan asal Belgia, Fatima.

Fatima mengaku sudah dua kali berkunjung ke Korsel. Tahun lalu, ia datang mengantar anak pertamanya, Kamila, kuliah enginering material di Seoul. Kali ini, ia datang bersama anak keduanya, Carolina.

"Banyak cerita tentang Istana Gyeongbok. Kita bisa mengambil manfaat, bahwa situs ini tetap leastari sampai sekarang, di tengah kemajuan Seoul yang sangat pesat," tambah Carolina, yang akan menetap selama 26 hari. (hasyim ashari/bersambung)

* Delapan Hari Menjelajah Negeri Ginseng (Bagian-3)

Eksotika Panorama Sunrise Peak 

Pulau Jeju, dengan luas 1.825 kilometer persegi, terbentuk sekitar 2 juta tahun lalu oleh aktivitas vulkanis Pegunungan Halla. Halla yang dikelilingi 368 anak gunung (Oreum) memiliki ekologi sangat kaya.

Dengan ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut, Halla memiliki 1.565 jenis flora dan 1.179 spesies fauna. Karena itulah UNESCO memberikan tiga mahkota untuk Jeju: World Biosphere Reserve pada 16

Desember 2002, World Natural Heritage pada 27 Juni 2007, dan World Geopark pada 4 Oktober 2010.
Wajar jika Pegunungan Halla, seakan menjadi magnet dan pusat perhatian di Jeju. Rombongan Fam Trip Garuda Indonesia Pontianak berkesempatan melihat dari dekat panorama kekayaan alam tersebut, Minggu (8/9).

Masing-masing Seongsan Ilchulbong (Sunrise Peak), Cheonjiyeon Waterfall, dan Dragon Head Rock. Ada juga skekayaan peradaban kultur Jeju dengan mengunjungi Seongup Folkfore Village dan perkebunan jeruk yang terbentang di kiri dan kanan jalanan Jeju.

Sunrise Peak adalah tempat paling indah untuk melihat pesona matahari terbit. Karena itulah, warga Jeju dan wisatawan lainnya datang ke sini dini hari untuk melihat terbitnya matahari pertama di tahun baru.
Ada 550 anak tangga dari kaki hingga ke puncak bukit setinggi 182 meter di atas permukaan laut itu. Sunrise Peak begitu mencolok karena satu-satunya daratan tinggi di bibir pantai. Di sekelilingnya, rumput hijau membentang sejauh mata memandang.

Sunrise Peak terbentuk sekitar 5 ribu tahun lalu, sebagai akibat erupsi bawah laut yang menyebabkan naiknya dasar laut ke permukaan. Sama persis seperti terjadinya Pulau Samosir di Danau Toba, Sumatra Utara. Puncak Sunrise Peak berbentuk seperti mangkok atau trapesium. Posisinya langsung menghadap laut Cina Selatan.

Pengelola juga menyediakan kuda untuk disewakan bagi mereka yang ingin berkeliling. "Setiap hari, 10 ribu pengunjung datang ke sini. Kebanyakan dari Korea. Ada juga Cina dan Eropa," kata penjaga pintu masuk Seongsan Sunrise Peak, Kim (29), kepada Tribun.

Tidak heran jika areal parkir penuh dengan puluhan bus pariwisata dan mobil-mobil pribadi. Di kaki Sunrise Peak berjejer rumah, pertokoan, pusat jajan dan belanja yang tertata sangat rapi. Jauh dari kesan kumuh seperti pada objek-objek wisata di Tanah Air.

Apiknya penataan objek wisata dan keberhasilan Korsel mengusung Sunrise Peak diakui UNESCO, menarik perhatian Pemprov Jambi. "Kita ingin belajar banyak, makanya kita datang ke sini untuk studi banding," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Jambi, Syahrasaddin.

Ia mengatakan stake holder bertemu di Jeju untuk membahas usulan Geopark Merangin (Jambi), Rinjani (Lombok), dan Semeru (Jawa Timur) menjadi Wolrd Heritage. Tim berjumlah 20 orang terdiri dari Pemprov Jambi, Lombok, Jatim, Kementerian Pariwisata, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Syahrasaddin menjelaskan Geopark Merangin mencakup empat kabupaten, Kerinci, Merangin, Tanjak Barat, dan Selangun. "Persiapannya sejak 2009 dan targetnya selesai akhir 2014 ini," tambah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jambi, Budi Daya.

Geopark adalah sebuah program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan para penduduk dengan cara menjaga dan mengolah situs-situs geologi, yang juga bagian dari warisan budaya. Budi memaparkan ada sekitar 700 orang yang berkunjung ke Geopark Merangin.

Namun, infrastruktur belum layak, fasilitas penginapan juga belum ada hotel. Hanya mengandalkan home stay. "Kalau kita lihat Jeju, infrastruktur jalan luar biasa bagusnya. Selain lebar, tidak ada jalan yang rusak. Akses juga dekat," ujarnya.

Baiknya infrastruktur itu juga diungkapkan Hendri (31) dari Family Tour Pontianak. "Infrastruktur mereka sangat baik. Pemandangannya luar biasa. Mereka juga pandai mengemas paket wisata," puji Hendri.
Hendri memilih menunggu di bawah bersama istrinya, Yuli (27), ketimbang meniti anak tangga. "Pengalaman luar biasa. Teman-teman rombongan juga asyik. Kita belum ke Seoul ya, tapi Jeju sangat berkesan," ujar Yuli yang terus berlindung di bawah payung kecil.

Maklum, saat tiba, udara di Sunrise Peak cukup terik. Suhu di Jeju memang dapat bervariasi mulai dari tropis sampai subtriopis. Pada musim panas bisa menyentuh 40 derajat celcius.
Suhu rata-rata per tahunnya adalah 14,6 derajat C dan 4,7 derajat celcius pada musim dingin.
Jeju berada di kawasan iklim empat musim. Namun suhu pulau ini tidak pernah sampai minus, salju pun sangat jarang turun.

Hanya di Gunung Halla, titik tertinggi di Korea Selatan, ada salju. Puas menikmati Sunrise Peak, Tour Guide Asia Wolrd Tour, Ken, membawa rombongan bergegas menuju Cheonjiyeon Waterfall di daerah Seogwipo.

Rombongan tiba pukul 15.07 waktu setempat. Air terjun Cheonjiyeon dipercaya sebagai air terjun yang menghubungkan bumi dengan langit. Mitos masyarakat mengatakan ada peri wanita cantik pernah datang untuk mandi di air terjun tiga tingkat ini pada musim gugur.

Air terjun ini memiliki tinggi 22 meter, sedikit lebih rendah dari air terjun Jeongbang yang mencapai 23 meter. Setengah jam kemudian, rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini untuk menyaksikan fenomena alam lainnya, Jusangjeolidae Park di Jungmun Daepo Coast.

Dari atas anak tangga di bibir tebing, pengunjung bisa menyaksikan keindahan formasi batu basalt hitam yang terbentuk dari lava gunung berapi. Batu basalt hitam itu tersebar di beberapa titik Pantai Jungmun.
Sesekali batu berbentuk hexagonal itu dihempas ombak. Pada saat-saat tertentu, ombak di sini bisa mencapai dua meter lebih.

"Bentuk bebatuan itu seperti hasil pahatan manusia. Sangat rapi dengan ukuran nyaris serupa. Padahal, semua ditempa alam tanpa sentuhan manusia," kata pegawai Jusangjeolidae Park, Ko Su Kyung, dengan bahasa Inggris terbata-bata, kepada Tribun.

Perempuan berumur 31 tahun ini menjelaskan Jusangjeolidae menjadi daya tarik sekitar 4-5 ribu pengunjung setiap harinya. "Jumlahnya jauh lebih banyak saat hari libur dan akhir pekan. Tiket masuk 2 ribu won (sekitar Rp 20 ribu)," ujar Su Kyung.

Tepat pukul 17.06 waktu setempat, rombongan Fam Trip Garuda Indoneia menuju museum tiga dimensi, 3D Trick Eye Museum untuk selanjutnya ke Dragon Head Rock. (hasyim ashari/bersambung)