Jumat, 13 Februari 2009

Jujur Saya Gamang


Pekerjaan jurnalis adalah menulis. Apa jadinya kalau seorang jurnalis “kehilangan” pekerjaan sementara dia masih aktif di penerbitan surat kabar. Situasi itu, kini saya hadapi. Jujur, sudah sekitar 5 tahun ini saya gamang. Ketika, posisi redaktur dipercayakan kepada saya.

Kini, sudah mulai terasa banyak keterampilan saya yang hilang perlahan. Sebut saja, saat mengetik saya tidak piawai lagi menggunakan sepuluh jari seperti dulu. Sebab saya hanya mengedit tulisan reporter. Itu artinya hanya dua atau beberapa huruf yang kerap saya tekan.

Ketajaman naluri dalam membaca persoalan di masyarakat dan menggiring problem solutif juga mulai tumpul. Semua terlihat biasa dan bukan berita. Sementara saya rindu bercengkrama dengan nara sumber yang pernah saya akrabi dulu.

Atau setidaknya bertemu dengan para nara sumber baru. Karena dari mereka saya mendapat segudang pelajaran berarti. Tentu saja tentang banyak hal seperti pekerjaan sebagai jurnalis yang menuntut tahu ini dan itu.

Saya pernah mengalihkan kerinduan menulis berita dengan menggarap beberapa cerita pendek. Awalnya sedikit terobati. Namun, kepuasannya tetap saja berbeda. Cerita pendek adalah ceita pendek. Menulis berita adalah menulis berita.

Saya mulai beripikir, apakah fase ini yang ditakuti rekan-rekan jurnalis senior yang pernah saya dengar. Bahwa penyakit wartawan adalah merasa mapan. Jangan cepat menjadi mapan kalau ingin menjadi wartawan berkualitas. Sebab penyakit mapan adalah kanker yang menempelkan rasa sakit di mana-mana.

Kalau menjalar di tubuh, penyakit malas sudah pasti. Kalau merambat ke otak, akan malas berpikir dan menganalisis. Bila lari ke hati, ia menjadi malas bertindak, beranjak, dan bekerja. Tiba-tiba, tubuh merasa berat meski sekadar membaca hal-hal ringan. Apalagi menghadapi layar komputer untuk menulis.

Saat ini, banyak jurnalis yang cepat merasa mapan. Mereka merasa sebagai penguasa di posisi tertentu dan merasa yang paling tahu segalanya. Akibatnya, ia kerap mengabaikan pendapat orang lain. Terutama rekan-rekan yang dipercaya menjabat sebagai redaktur, koordinator liputan, redaktur pelaksana, atau manajer produksi.

Jujur, jabatan-jabatan struktural itu benar-benar memabukkan. Apalagi jabatan itu dibarengi dengan segala hal fasilitas. Kemudian kita merasa cukup. Merasa hebat sudah jadi redaktur, jadi koordinator liputan, jadi ini dan itu.

Padahal, jabatan-jabatan itu membatasi ruang gerak penulisan. Kalau pun ada, hanya sekadar editing, entah kata atau kalimat kah. Pada judul, pada lead, atau pada tata wajah kah. Paling banter merencanakan liputan, mengevaluasi, sekaligus menyajikan dalam bentuk produk penulisan. Eksekusi, lagi-lagi itu urusan reporter!

Ketika masuk jabatan struktural, memang yang dibutuhkan lebih banyak kemampuan analisis ketimbang teknis. Lebih sering bergelut dengan konsep manajerial ketimbang operasional. Begitu kata teori manajemen yang pernah saya pelajari.

Sehingga, sejumlah rekan-rekan, termasuk saya, tidak menyadari kalau jabatan-jabatan tersebut bisa sangat mematikan. Bayangkan saja, sampai ada ungkapan “Untuk apa ke lapangan, kan sudah ada reporter.” Dan sepertinya, tugas sebagai seorang jurnalis selesai.

Padahal, sejatinya sikap tersebut, terutama sikap merasa mapan, dihindari. Sebab, dalam dunia jurnalistik tidak ada karya master piece. Semua karya adalah in the making. Artinya, apapun jabatannya, kalau memang ia merasa sebagai jurnalis, ia harus turun ke lapangan. Tidak sekadar merekam persitiwa, namun juga menciptakan berita-berita.

Buat rekan-rekan yang merasa puas, bersiaplah. Untuk mereka yang tidak resah karena tidak menulis, waspadalah. Sebab tidak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Bukankah kebanggaan seorang jurnalis adalah ketika orang lain mengakui kualitas karya tulisannya? Apa yang bisa dibanggakan la wong menulis saja tidak?

Kamis, 12 Februari 2009

Sepok Sempurnakan Kepengurusan


PONTIANAK, TRIBUN - Komunitas Sepeda Onte Kalbar (Sepok) menyempurnakan kepengurusan periode 2008-2011 dalam Rapat Tahunan yang digelar di gedung pertemuan SD Negeri 59 Pontianak, Minggu (8/2) pagi. Sekitar 115 anggota sepok, termasuk penasehat hadir dalam kegiatan tersebut.

"Rapat Tahunan merupakan amanat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Jadi, sifatnya wajib dilaksanakan," kata Ketua Sepok, Jayus Agus Tono, kepada Tribun.
Dia menuturkan, Rapat Tahunan digelar untuk memaparkan laporan dan evaluasi program kerja pada 2008, reorganisasi dan menyempurnakan kepengurusan, serta penyusunan rencana program kerja untuk 2009-2010.

"Kami mengedepankan transparansi. Karena itu, semua harus dilaporkan kepada anggota, termasuk aliran dana dan kegiatan. Sementara penyempurnaan kepengurusan mutlak diperlukan karena tuntutan organisasi bertambah besar. Karena itu, dari empat divisi kita tambah menjadi 9 divisi, termasuk pembentukan koordinator wilayah untuk mempermudah koordinasi," papar Jayus.

Dia menambahkan, penetapan program kerja akan membantu arah kegiatan Sepok sepanjang setahun ini. Satu di antara program kerja itu adalah Sepok Masuk Sekolah yang bertujuan menumbuhkan kecintaan bersepeda kepada pelajar.

Dalam kesempatan itu, penasehat Sepok, Margono, meminta semua anggota untuk tetap solid dan menghargai satu sama lain. "Sepok bertambah besar. Tugas kita bersama untuk menjaga keutuhan organisasi agar kiprah Sepok semakin dirasakan masyarakat banyak," pinta lelaki yang menjadi penasehat sejumlah organisasi otomotif itu.

Susunan Pengurus Sepok 2008-2011

Penasehat : Margono, Jumanadi, Kemis, Maruki Matsum, H Eka Kurniawan, Yatna
Ketua : Jayus Agustono
Wakil Ketua : Hasyim Ashari
Sekretaris : Ardi
Bendahara : Rudi Agus Hariyanto

Divisi
PSDM : Suro, Mei Irmoko
Kesekretariatan : Jaya, Arie
Humas : Rully
Usaha Dana : Bahri, Sadimo, Stefanus Paiman
Advokasi : Stefanus Paiman, Ragito, Agus Handi, Joko Sulistio
Transportasi : Hafidz, Ibrahim
Teknik : Kasman, Igun
Perlengkapan : Eko, Ali, Tomo, Nanda, Junian, Surdiati, Joko Sulistio
Dokumentasi : Atel, Faisal
Koordinator Wilayah : Pontianak Barat (Topan, Tampoi), Pontianak Selatan (Giwan, Madi), Pontianak Timur (Isnaeni, Toro), Pontianak Tenggara (Wawa), Pontianak Kota (Yani, Mat Solar), Kabupaten Kubu Raya (Abu, Oki, Agus, Dodi)


Rencana Program Kerja 2009

1. Menghadiri Munas Kosti
2. Gerakan cinta bersepeda ke pelajar SLTP
3. Penerbitan Kartu Anggota dan Kartu Iuran (Maret)
4. Silaturahmi Bulanan
5. Touring ke Anjungan (7 Juni), Sungai Kakap (2 Agustus), Mempawah (29 Maret), Sungai Ambawang (1 November)
6. Outbond Sepok n Familly ke Pantai Kijing (19-20 Juli)
7.Persiapan HUT ke-2 SEPOK Januari 2010
8. Fun Bike (Tematik)
9. Kunjungan ke Markas Veteran (17 Agustus)
10. Kegiatan Ramadhan (Pawai Taaruf, Takjil, Selikuran, dan Halal bi Halal)
11. Pembuatan Akte Notaris
12. Pembuatan Buku Rekening SEPOK
13. Berpartifipasi dalam berbagai kegiatan jika diperlukan
14. Menghadiri undangan rekan-rekan ontelis nusantara jika memungkinkan
15. Rally Wisata (sounding ke Wali Kota)

Program kerja 2008 yang Terlaksana

Internal :
1. Penyusunan pengurus Inti
2. Pembuatan lambang, bendera, pin, dan kaus Sepok
3. Penentuan besar iuran anggota Rp 2.000 per bulan
4. Pengadaan sekretariat
5. HUT ke-1 Sepok (fun bike, pameran sepeda tua di mal matahari)
6. Konvoi tiap sabtu sore di Jl Gajahmada dan minggu pagi di GOR Pangsuma
7. Penyusunan AD/ART Sepok
8. Pembuatan stempel
9. Pembuatan kop surat
10. Pendataan anggota

Eksternal :
11. Penyelengara Fun Bike Hemat energi PLN Kalbar
12. Penyelenggara Fun Bike Stop Global Warming Bapedalda Kalbar
13. Pameran Sepeda Tua Hari Kebangkitan Nasional
14. Sosialisasi ke media massa
15. Koordinasi dengan KOSTI
16. Menghadiri Halan bi halal KOSTI
17. Menghadiri Peringatan Titik Kulminasi Matahari di Tugu Khatulistiwa
18. Berpartisipasi dalam Pesta Rakyat BRI
19. Promosi Kart "luna maya" XL
20. Touring ke sejumlah kota di Kalbar (Jungkat dan Singkawang)
21. Berpartisipasi dalam HUT Bank Kalbar
22. Menghadiri sejumlah undangan (Wisuda STIEP, Teknik UNTAN, EGP SMAN 1 Pontianak)

Sekretariat Sepeda Onte Kalimantan Barat
Jl Sumatera Nomor 6-7 Pontianak-Kalbar
Tlp : 08164987621 - 05617008558

Sabtu, 07 Februari 2009

Searching Berita Pertama

Sambil menunggu waktu deadline di Tribun Pontianak, saya iseng mencoba searching berita yang pernah saya tulis di Pontianak Post, tempat saya bekerja dulu. Dikit demi sedikit, berita itu saya kumpulkan melalui bantuan paman Google. Dapatlah beberapa di antaranya.

Saat membacanya kembali, saya kadang tertawa sendiri. Tidak percaya pernah membuat berita-berita tersebut. Pertama nulis berita pada Oktober 2000. Saya bermaksud mencari berita pertama saya yang dipublikasikan, soal perceraian tapi tidak ketemu. Meski begitu saya berharap berita yang ada ini bermanfaat. Selamat membaca!

Minggu, 7 Januari 2001
DR (HC) Drs Ikot Rinding, Sosok Dan Kiprahnya

Karena prestasinya di bidang pendidikan, putra daerah asal Landak ini mendapat gelar Doktor honoris causa (HC) dari Senior University Of Canada. Rika pangilannya saat masih anak-anak, adalah seorang putra daerah, anak petani yang berhasil menginjakkan kakinya di gedung DPR-MPR RI di Jakarta, Kamis dua pekan lalu Rika menerima Hasyim Ashari dari AP Post, banyak hal yang diungkapkan politisi yang juga tokoh pendidikan ini, dia juga secara khusus menyoroti kondisi pendidikan di Kalbar. Berikut petikan wawancaranya.

Sering disebut-sebut, sumber daya manusia di Kalbar masih tertinggal, menurut anda bagaimana?

Secara umum SDM yang kita miliki masih tertinggal. Dimungkinkan disebabkan oleh tingkat pendidikan kita yang masih rendah dan belum merata diseluruh wilayah Kalbar. Sebab Pemda belum memiliki perhatian yang serius terhadap sektor ini.

Terkait erat dengan SDM, bagaiamana dengan sosok pendidikan di Kalbar?

Setelah terjadi kerusuhan dibeberapa wilayah di tanah air, sesungguhnya bukan hanya di Kalbar saja, namun penurunan kuantitas dan kualitas pendidikan hampir merata semua daerah. Terutama diluar Jawa. Secara umum, pendidikan di Kalbar jauh tertingal dari daerah lainnya.

Indikasinya, untuk Nilai Ebtanas Murni saja kita masih kecil. Hal itu terjadi karena, masih banyak kendala yang dihadapi sektor pendidikan di daerah ini.

Bisa Anda uraikan biang dari semua itu?

Yang pasti pemda tidak memiliki konsep yang jelas akan dikemanakan dunia pendidikan Kalbar. Hingga hari ini saja tidak ada konsep pendidikan khusus yang mengarah pada pengembangan potensi daerah masing-masing.

Dengan kata lain, pemda belum mejadikan sektor ini sebagai sektor pembangunan yang harus diprioriotaskan. Indikasinya cukup jelas. Dari tahun ke tahun anggaran yang diperuntukkan bagi sektor pendidikan sangat kecil.

Sehingga tidak mengherankan jika tidak terjadi pemerataan pendidikan di wilayah Kalbar. Baik dari segi sarana dan prasarana fisik maupun materinya. Bahkan pemda juga enggan untuk memanfaatkan dan mengembangkan peneliti daerahnya sendiri.

Bisa Anda contohkan?

Anda bisa lihat, sudah berapa kali pemda lebih memilih dan percaya terhadap para peneliti dari pulau Jawa untuk melakukan studi kelayakan dan penelitian akan program dan proyek pembangunan Kalbar. Padahal dari segi kualitas dan latar belakang edukatif peneliti yang kita miliki tidak kalah. Ini menandakan pemda kurang cooperating. Bukan hanya itu, biaya untuk beasiswa bagi mahasiswa dan dosen baik untuk pendidikan dan penelitian juga disediakan sangat kecil. Itu artinya sama saja dengan mematikan potensi yang ada.

Bisa Anda uraikan relevansi sektor pendidikan dengan potensi yang dimiliki daerah?

Genderang otonomi daerah oleh pusat telah dibunyikan. Mau tidak mau daerah harus menyambutnya dengan persiapan dipelbagai sektor. Terutama sektor yang potensial untuk bisa menghasilkan Pendapatan Asli Daerah.

Untuk mengolah sektor tersebut diperlukan berbagai perangkat. Disamping peraturan, juga sumber daya manusianya harus menunjang. Mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan itu. Menurut hemat saya, sudah seharusnya pemda mengembangkan sektor pendidikan yang mampu menunjang pengembangan potensi daerah.

Misalnya, Kapuas Hulu dan Putussibau yang kaya akan aset pariwisata, dibanguan sebuah sekolah lanjutan kusus untuk keperluan pariwisata itu. Ketapang dan Sintang, dengan potensi hutannya juga harus dilengkapi dengan sekolah kehutanan. Landak dengan potensi perkebunan dan pertanian, juga harus dilengkapi dengan pendidikan disektor tersebut. Pontianak yang potensial untuk sektor perdagangan dan industri juga demikian.

Apakah harus sekaku itu?

Secara ideologis harus. Karena itu pilihan yang mau tidak mau harus diambil. Pasalnya sejauh ini pendidikan yang kita bangun secara keseluruhan masih umum. Dan sama sekali lemah akan muatan lokalnya. Hal inipun dilakukan untuk menghindari adanya overlapping sektor pendidikan.
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Tokoh&id=2394


Senin, 13 November 2000
Hari Ini, STKIP Wisuda Lulusan

Pontianak- Hari ini Senin (13/11), Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pontianak, akan menglangsungkan wisuda lulusannya, Sebelumya Sabtu (11/11), diadakan Yudisum dari Ketua Jurusan masing-masing ke Ketua STKIP Pontianak. Menurut Ketua Panitia, Drs Siswayo MPd , Kalau tidak ada halangan, Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi PGRI Pusat akan menghadiri acara wisuda ini.

Wisuda akan dilangsungkan di gedung Kartini jalan Ahmad Yani pukul 08.30, dalam rapat senat terbuka yang dipimpin Ketua STKIP Ketua STKIP Prof DR Uray Husna Asmara MPd. Dijelaskannya dari 67 wisudawan, untuk Strata I sebanyak 65 orang dan 2 orang untuk Strata 2. Menurut Ketua panitia, Drs Siswoyo, MPd, Srata II (S-2), berasal dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), jurusan Matematika, dan Universitas Negeri Malang (UM), jurusan Konseling.Para mahasiswa S-2 ini dibiayai oleh STKIP Pontianak. Dari 65 wisudawan, masing masing 3 orang jurusan Matematika, 7 orang jurusan Administrasi Pendidikan, 37 Jurusan Pendidikan Pembinaan Kewarganegaraan (PPKN), serta 20 jurusan Bimbingan Konseling.

Dalam wisuda kali ini STKIP, Jumrah tercatat sebagai lulusan tertinggi dengan IPK 3,16 jurusan Bimbingan Konseling, sedangkan Tonisi Marsoit (40), lulusan terlama 17 tahun. Tonisi Marsoit sekarang bertugas di Kodim 1205 Sintang. Ditanya soal keterlambatanya dalam meyelesaikan kuliahnya, Tonisi menjawab bahwa ia selama ini sering tugas negara." Tugas negara labih penting," ujarnya kepada AP Post di ruang Aula STKIP dengan bahasa Batak yang kental.(hsm)

Kamis, 1 November 2001
Abdurrahman Terkapar Ditusuk Sahabat Sendiri

Pontianak-Hanya karena saling ejek, Abdurrahman alias Cendol (22) terkapar ditusuk sahabatnya sendiri Rn, di Terminal Kapuas Indah, Rabu (31/10) pukul 14.30 WIB. Akibatnya, Cendol yang tinggal di Komplek Acisa Permai ini mengalami luka tusuk cukup dalam pada rusuk kanan dan kepala bagian atas.

Keterangan yang berhasil diperoleh AP Post di TKP, sejak tengah hari cendol minum disebuah kedai yang terletak di Komplek Terminal Kapuas Indah. Tidak lama berselang, ia dihampiri Rn. Lalu terjadilah perang mulut diantara keduanya.

Cendol yang terlalu banyak menenggak alkohol, tidak lagi bisa mengendalikan diri. lalu terjadilah perkelahian diantara keduanya, yang lantas mengalihkan perhatian warga sekitar. Ketika itulah, Rn tiba-tiba mencabut sebilah pisau dari balik pinggangnya. Dalam sekejap ia menyarangkan mata pisaunya tepat di rusuk sebelah kanan Cendol.

Dalam keadaan sempoyongan dan terus memegangi luka yang menganga, Rn kembali melayangkan bogem mentah, hingga Cendol roboh. Saat itulah, kembali ia menusukkan pisau yang masih berlumuran darah itu tepat di kepada lawannya. Warga yang menyaksikan peristiwa tersebut, tidak bisa berbuat banyak.

Setelah puas telah merobohkan Cendol, Rn melarikan diri. berkat laporan warga, tidak berapa lama kemudian, petugas datang ke lokasi dan melarikan Cendol ke Disdokkes Polda Kalbar. Sementara, hingga kini Rn masih buron.

"Mereka itu bersahabat dan sudah biasa minum-minum di tempat itu," ujar seorang petugas parkir di Pasar Kapuas Indah menjawab pada AP Post. Sementara itu, tim medis Disdokkes Polda Kalbar, berusaha memberikan pertolongan kepada Cendol.

Luka-lukanya pun dijahit dan diobati. Namun tidak berapa lama setelah ia diobati, tiba-tiba ia bangkit bergegas meloncat pagar dan berusaha melarikan diri. Cendol dengan sekuat tenaga berlari ke arah Jalan Achmad Yani. Petugas segara memburu korban yang diduga kabur lantaran terlibat tindak kriminal lainnya itu. Dengan mudah petugas berhasil meringkus Cendol. Namun ia terus meronta dan berusaha sekuat tenaga untuk kabur.

Dengan pengawalan ketat, ia kemudian dirujuk ke RSUD dr Soedasro. Sebelum berusaha kabur dari Disdokkes Cendol meminta tim medis agar bersedia mengantarnya ke rumah orangtuanya di Acissa Permai. Namun karena masih dalam penyidikan petugas, tim medis tidak bersedia memenuhi permintaan korban.(hsm)
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Metropolis&id=10752


Senin, 18 Desember 2000
Belanja Terganggu Air Pasang

Pontianak- Sejumlah kawasan kota kembali tergenang air akibat pasang yang kembali melanda pada pagi hari. Genangan umumnya terjadi pada daerah yang berada dekat dengan bibir sungai, seperti kawasan Jeruju, Jalan Pak Kasih dan daerah pinggiran Sungai lainnya.

Akibat pasang ini, kompleks Kapuas Indah yang padat dengan pungunjung ini cukup tergaggu, apalagi pada Minggu kemarin terjadi peningkatan arus orang berbelanja, sehubungan semakin dekatkan Natal dan Lebaran.

Kecuali itu, Kompleks Yuka, yang terletak di jalan Komyos Sudarso, Jeruju, Pontianak, sudah empat hari yang lalu tergenang air. Bahkan, ketinggian air hingga mencapai lutut. Sehingga warga yang hendak keluar masuk komplek, yang hanya beberapa puluh meter dari sungai kapuas itu, terpaksa menggulung celananya, ada mengangkat roknya tinggi-tinggi, belum lagi sepatu yang juga terpaksa di tenteng. Sebab jika tidak, warga akan basah kunyup dibuatnya.

Pada Jumat (15/12) ada beberapa rumah warga yang tergenang air. Masjid Al-Muqiminpun tidak jauh berbeda. Bagian dalamnya dimasuki air itu. Menurut penuturan Yuli, kejadian seperti ini, sudah sering kali terjadi. Bahkan katanya, hampir setiap tahun. Maka tidak heran, jika beberapa rumah warga sengaja dibangun agak tinggi dari permukaan tanah.

"Setiap bulan desember, komplek Yuka sudah langganan banjir," tutur Yuli, menjawab AP Post, Minggu (17/12). Ia juga menceritakan, pada tahun yang lalu, warga yang sedang sholat Idul Fitri, sempat terusik karena halaman dan bagian dalam masjid yang tepat berada di sebelah rumahnya itu, tergenang air.

"Terus terang, saya merasa cemas juga mas, takut-takut pasangnya bertambah besar dan hujan terus turun, wah bisa banjir nanti," ungkap Muhammad Sulaiman, yang ketika ditemui AP Post, sedang membersihkan teas rumahnya yang tergenang air.

Jika sebagian warga merasa kuatir, lain halnya dengan anak-anak. Mereka terlihat sangat gembira. Bercanda dan "berkubang" setiap harinya. "Nyaman Bang, sejuk," seloroh Andi yang tengah bermain air di parit dekat rumahnya bersama lima orang rekannya.

Jika dilihat dari topografinya, komplek Yuka memang tergolong lebih rendah dibandingkan daerah lain disekitarnya. Belum lagi, posisinya yang sangat berdekatan dengan sungai Kapuas. Namun walaupun "banjir" itu kerap kali terjadi, warga komplek tetap bertahan untuk tinggal. "Semoga saja, tahun ini pasangnya tidak sampai besar, apalagi banjir," ujar Yuli.

Ternyata genangan airpun tidak hanya terjadi di kopmplek Yuka, halaman Universitas Pancabhaktipun ikut tergenang. Belum lagi halaman SMK 2 Pontianak yang setiap kali pasang juga tidak kalah banjirnya.

Disamping ruas jalan sepanjang jeruju, genangan air diatas mata kakipun terjadi di pasar Kapuas Indah, tepatnya disekitar terminal oplet, dibawah jembatan penyeberangan. Sudah beberapa hari ini, mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB air sungai Kapuas perlahan menggenangi terminal yang cukup ramai itu.

Tentu saja hal ini sangat menggangu para pengguna jalan dan para sopir angkutan. Belum lagi air yang tergenang itu, keruh. Karena bercampur dengan sampah-sampah pasar dan air bah.(hsm)
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Kota&id=1512

Jumat, 28 Februari 2003
Penipuan Berkedok Barang Antik Merajalela

Sungai Pinyuh,- Penipuan berkedok penjualan barang-barang antik, masih saja merajalela di Terminal Sungai Pinyuh dan sekitarnya. Tidak sedikit korban yang berjatuhan. Karena itulah warga meminta kepada aparat keamanan untuk menyikapi persoalan tersebut. Jika tidak, warga dan penumpang di terminal akan terus menjadi sasaran empuk sindikat tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun Pontianak Post, para penipu itu sangat rapai mengorganisir diri. Di kawasan Terminal Sungai Pinyuh sendiri, jumlahnya mencapai 20 orang. Mereka tersebar di sejumlah lokasi. Tidak saja di dalam terminal namun juga disejumlah tempat pemberhentian bus antar kota lainnya.

Terutama yang berada di Jalan Jurusan Seliung. Kerja mereka dibagi dalam tiga waktu yaitu pagi, siang dan sore. Setiap waktu dilakoni oleh kelompok yang berbeda, namun masih dalam satu sindikat. Dalam menjalankan aksinya, mereka tidak bekerja sendirian. Namun dengan cara berkelompok antara dua sampai lima orang.

Pertama, mereka mendekati korbannya dengan pura-pura menjual barang-barang antik. Misalnya keris sakti, cincin kebal dan sebagainya. Setelah calon korbannya ditawari, kemudian berdatangan anggota sindikat lainnya.

Mereka bersikap sebagaimana mestinya, sehingga calon korbannya bertambah yakin. Setelah korbannya tertarik dengan barang dan harga yang disepakati serta membayarnya, anggota sindikat tersebut pergi menjauh.

Mereka kembali lagi ke lokasi semula, setelah korbannya melanjutkan perjalanannya kembali. Banyak yang mengakui kehebatan anggota sindikat ini dalam menjual barang. Sehingga, banyak warga yang akhirnya memilih untuk membelinya.

Meski dengan harga ratusan ribu rupiah. Tidak hanya itu, seperti dihipnotis para korbannya, juga enggan untuk melaporkan penipuan yang telah menimpanya kepada petugas. Keadaan tersebut, yang selanjutnya menyulitkan polisi untuk melakukan penyelidikan dan penangkapan. Sebab, bukti awal berupa laporan dari warga, tidak ada. Selain itu, disebut-sebut ada oknum petugas yang "melindungi" aktivitas mereka.

Meski begitu, beberapa waktu silam, jajaran Kepolisian Sektor Sungai Pinyuh, berhasil menangkap Ag, setelah ketahuan melakukan penipuan serupa.
"Saya memang belum pernah kena tipu kawanan itu. Tetapi seorang rekan saya pernah ditipu sekali. Saat itu, dia tidak sadar telah membeli sebuah keris kecil berwarna kuning keemasan yang katanya berkhasiat untuk membuat rezeki lancar dan tubuh tidak mempan senjata tajam," kata Herman (32) penumpang asal Sanggau ketika ditemui Pontianak Post di pemberhentian bus ABM, Sungai Pinyuh kemarin.

Menurutnya, penipuan sejenis tidak hanya terjadi di Terminal Sungai Pinyuh dan sekitarnya. Melainkan juga di terminal-terminal lain, tidak terkecuali pasar. Di Terminal Batulayang dan Siantan, aksi penipuan tersebut sudah berlangsung lama. Dia, seperti juga penumpang lainnya berharap berharap, pihak kepolisian semakin gencar memerangi mereka. Mengingat sepekterjangnya sudah sudah sangat meresahkan.(hsm)
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&id=21852

Minggu, 2 Februari 2003
Aktivitas Ekonomian Sungai Pinyuh Lumpuh

Sungai Pinyuh,- Diperkirakan aktivitas ekonomi Sungai Pinyuh lumpuh total, selama perayaan tahun baru imlek 2554. Para pedagang dari etnis Thionghoa memutuskan untuk menutup toko-toko mereka. Mereka baru akan buka kembali pada Rabu (4/2) mendatang.

Berdasarkan pengamatan Pontianak Post, warga etnis Thionghoa memilih untuk merayakan imlek bersama sanak keluarga. Ada juga yang berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya. Dari yang hanya sekedar mengucapkan selamat hingga saling bertukar bingkisan.

Bingkisan juga diberikan kepada para tetangga mereka yang bukan dari golongan etnis Thionghoa. Mereka membagikan kue dodol yang lebih dikenal dengan Kue Keranjang. Mereka nampak begitu gembira dan bahagia. Hal itu ditunjukkan dengan pakain mereka yang serba baru. Keceriaan juga terlihat diraut wajah anak-anak kecil.

Bagi merka imlek berarti angpau dan baju baru. Mereka terlihat hilir mudik di sekitar Pasar Sungai Pinyuh. Ada yang jalan kaki, ada juga yang mengayuh sepeda pancal. Warna merah, putih, kuning dan biru terlihat mendominasi corak pakaian yang mereka kenakan.

Sementara malam tahun baru imlek, diwarnai dengan hujan lebat. Hujan yang turun sejak pukul 18.00 Wib itu, baru berhanti sekitar pukul 02.00 Wib dini hari. Namun begitu, hujan tidak menghalangi warga Thionghoa untuk menyiapkan pergantian tahun. Ada yang membakar lilin di pekong-pekong, ada juga yang membeli pernak-pernik imlek, semisal buah Jeruk Bali segar berwarna kuning.

"Jeruk ini disimpan di loteng untuk keberuntungan. Setelah selesai imlek lalu di makan. Makanya, harus jeruk yang bagus biar keberuntungan di tahun ini juga bagus," kata Aphin, warga Pasar Baru yang ditemui Pontianak Post. Seperti pemilik toko lainnya, Aphin juga demikian.

Perayaan imlek di Sungai Pinyuh kali ini, memang sedikit lebih sederhana, jika tidak dibilang sepi. Tidak ada lagi pertunjukkan barongsai dan aksi naga seperti tahun sebelumnya. Kemeriahan berupa pesta petasan dan kembang api juga tidak terlihat. Meskipun ada, jumlahnya tidak semeriah tahun lalu. Secara turun temurun, pesta kembang api dan naga selalu meramainkan pergantian tahun di Sungai Pinyuh.(hsm)
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&id=19272

Kamis, 17 April 2003
Posisikan Sungai Pinyuh
Sebagai Poros Pontianak-Kuching

Sungai Pinyuh,- Sejumlah kalangan berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pontianak dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar memposisikan kawasan Sungai Pinyuh sebagai poros Pontianak-Kuching. Demikian salah satu point yang terungkap dalam seminar Kebijakan Strategi Pengembangan Kota Sungai Pinyuh yang dilangsungkan di Gedung Liong Sin, Sungai Pinyuh, Rabu (16/4).

Hadir dalam seminar tersebut, Ir H Said Djafar mantan Kepala Kimpraswil Kalbar yang memaparkan konsep dasar pengembangan kota, Ir Matsum dari Bappeda Kabupaten Pontianak memaparkan tata ruang Sui Pinyuh dan implementasinya, Drs Marsono dari Dinas Kimtakot Kabupaten Pontianak yang menguraikan kendala pelaksanaan Perda 03 Tahun 2000 tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) serta Drs Samsir Ismail, MM dari Ikatan Cendikiawan Musim Indonesia (ICMI) Kabupaten Pontianak yang membawa materi peran swasta dalam pertumbuhan kota.

Dalam seminar terungkap, Kota Sungai Pinyuh cocok dikembangkan sebagai jalur lintas poros Kuching-Pontianak. Tidak bisa dipungkiri bahwa Sungai Pinyuh menjadi kawasan transit bagi warga yang pulang dan pergi dari dan ke Kuching.

Untuk itu, pemerintah hanya tinggal melengkapi diri untuk membangun inprastruktur memadai yang diperlukan. Misalnya, tempat kerja, tempat transportasi, tempat tinggal, rekreasi, transportasi, dengan memperhatikan aspek keamanan, kebersihan, dan keselarasan serta nilai-nilai budaya setempat.

Untuk merealisasikan kondisi itu, diperlukan dukungan dari segenap masyarakat, pengusaha dan pemerintah sendiri. Sejauh ini, jika melihat kondisi riil Sungai Pinyuh saat ini, memang akan banyak kendala dan perubahan besar. Mengingat Kota Sungai Pinyuh yang semrawut.

"Seminar digelar untuk mencari format pengembangan Sungai Pinyuh ke depan. Sehingga bisa diberikan masukan kepada Pemkab Pontianak dalam rangka penyusunan Rencana Umum Tataruang Kota (RUTRK)," kata Susanto, ketua penyelenggara.(hsm)
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&id=25681

Catatan Perjalanan Karir
SUNGAI AMBAWANG-Akhirnya, Kecamatan Sungai Raya keluar sebagai juara umum MTQ ke-23 Kabupaten Pontianak yang dilaksanakan di Sungai Ambawang, Jumat (29/3) lalu.

Kecamatan Sungai Raya menyisihkan 14 kecamatan lainnya-termasuk juara umum MTQ ke-22 Kecamatan Mempawah Hilir-dengan mendominasi hampir diseluruh cabang yang dipertandingkan. Atas prestasi tersebut, kontingen Sungai Raya berhak membawa pulang hadiah piala bergilir Bupati Pontianak.

Bedasaran hasil keputusan dewan juri, yang diketuai oleh Drs M Yusuf Was Syarif, cabang tilawah, golongan dewasa putra Sujai (Sei Raya) keluar sebagai juara pertama. Diikuti Dedi afriadi (Sei Kakap) dan Mustafa Tuwuh (Mempawah Hilir) sebagai juara kedua dan ketiga.

Sedangkan golongan putri, Asnawati A Kadir (Sei Kakap), Rosnani Hanafi (Sei Raya) dan Siti Munirah (Sei Raya) masing-masing sebagai juara pertama, kedua dan ketiga.

Golongan remaja putra, juara pertama Achmad Dahlan (Sei Raya), juara kedua Anwar deraman (Siantan) dan juara ketiga Hendra Pradana (Sei Kakap). Sementara dibagian putri, keluar sebagai peserta terbaik pertama Rabiah Alias (Siantan), terbaik kedua Lilis Suryani (Sei Kakap) dan Hamidah (Sei Raya) sebagai terbaik ketiga.

Dibagian anak-anak, golongan putra juara pertama Ahmad Syuaibi (Sei Raya), kedua Abdul Muthalib (Kubu) dan ketiga Taufik Akbar (Sei Ambawang).
Dibagian putri, Syamsiah M Sood (Sei Kakap) juara pertama, Jumirah (Teluk Pakedai) jura kedua dan Novianti (Batu Ampar) juara ketiga.

Golongan cacat netra dibagian putri, Marwati Sarijan (sei Kakap) sebagai juara ketiga (hanya satu peserta), dibagian putra, Mursalin (Siantan) dan Isya Munadi (Sei kakap) sebagai juara kedua dan ketiga (hanya dua peserta). Dicabang Hifzil quran golongan 1 juzz dan tilawah, Marlinda (Sei Kakap) sebagai juara pertama, Sumiyati Arifin (Sei Pinyuh) juara kedua dan Khairul Ahwal (Sei Ambawang) keluar sebagai juara ketiga.

Dibagian putra, Anas hafiludin (Sei Ambawang) sebagai terbaik pertama, M Indra (SEI Pinyuh) Terbaik kedua dan Yusran Sunadi (Sei Kakap) terbaik ketiga. sementara golongan 5 juzz dan tilawah, Ahmadi (Sei Kakap) membuktikan dirinya sebagai peserta putra terbaik, diikuti Subairi (Sei Ambawang) dan Mursalin (Sei Raya).

Cabang Fahmil qur,an terbaik pertama diraih regu C (Sei Raya), terbaik kedua grop A (Mempawah Hilir) dan terbaik ketiga grop B (Sei Kakap). Dicabang syrhil quran, predikat juara pertama diraih Mempawah Hilir, kedua Siantan dan ketiga Sei Raya.

Cabang Khotil, golongan hiasan mushaf, bagian putri juara pertama diraih Nurhamni (Mempawah Hilir), juara kedua Rubiyanti (Sei Kunyit) dan ketiga Maryana (Sei Raya). Dibagian putra, juara pertama Jumadi (Sei Kunyit), kedua Irwanto (Sei Kakap), ketiga Mahrus (Sei Raya). Golongan naskah, dibagian putri juara pertama diraih Deti Darmawati (Sei Pinyuh), juara kedua Luluk (Sei Raya) dan Supriyati (Rasau Jaya). Dibagian putra, terbaik pertama diraih Khairani (Sei Kunyit), kedua Sesep (Mempawah Hilir) dan ketiga Tri Kuncoro (Sei Pinyuh).(hsm/pk)

Selasa, 11 Maret 2003
Digelar, Pekan Pengenalan Internet Pelajar

Sungai Pinyuh,- Kantor Biro Pontianak Post Sungai Pinyuh, menggelar pekan pengenalan internet bagi pelajar, 24 Februari-01 Maret kemarin. Kegiatan yang tidak dipungut biaya tersebut, diikuti oleh pelajar SLTP dan SMU yang ada di Mempawah dan sekitarnya.

Antara lain, SLTP Negeri 1 Mempawah, SLTP Negeri 1 Sungai Pinyuh (Anjungan-red), SMU Negeri 1 dan 2 Mempawah, SMU Negeri I Sungai Pinyuh, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah AL-Fallah Mempawah. Masing-masing sekolah mengirimkan tiga orang pelajar. Sehingga jumlahnya menjadi 21 orang.

Pekan pengenalan internet tersebut, menandai telah beroperasinya Warung Internet (warnet) InfoNet Biro Sungai Pinyuh. Selain itu juga sebagai bentuk nyata partisipasi Pontianak Post grup untuk ikut memasyarakatkan teknologi informasi dan komunikasi internet. Khususnya kepada pelajar di daerah agar mereka tidak Gatek alias gagap teknologi.

Minimal tidak tertinggal jauh dengan pelajar-pelajar lainnya, di kota lain seperti Pontianak dan Singkawang. Sejauh ini, sebagian pelajar di Mempawah dan sekitarnya, masih belum mengenal dan menggunakan kemudahan yang ditawarkan teknologi informasi berbasis sistem komputerisasi itu.

Karena itulah, ketika program tersebut ditawarkan kepada sekolah-sekolah, mereka menyambutnya dengan baik. Begitupun, para pelajar yang mengikuti program itu, merasa sangat beruntung.
"Kami mendapatkan sesuatu yang baru. Meski sebenarnya kami mengetahui teknologi informasi seperti ini, sudah berkembang sejak beberapa tahun silam. Akan tetapi, baru sekarang inilah, kami berkesempatan mengenal, menikmati dan menggunakan internet. Kalau bisa Pontianak Post memberikan kesempatan kepada pelajar-pelajar lainnya," kata Rio salah satu pelajar yang ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Bagi pelajar seperti Rio, yang baru berhadapan dengan komputer dan internet, mengaku awalnya cukup sulit untuk belajar.
Tetapi, setelah mendapat bimbingan dari instruktur selama dua jam, diapun bisa memahaminya dengan baik. Sementara itu, menurut Ilam, operator InfoNet yang sekaligus dipercaya sebagai instruktur dalam pekan pengenalan internet tersebut menceritakan, dari 21 pelajar itu, ada sebagian yang sudah mengenal dan akrab dengan internet. Namun sebagian lainnya, belum.

"Bagi mereka yang minimal sudah mengenal komputer, hampir tidak ada kesulitan mengajarkan internet. Namun bagi yang belum mengenal komputer sama sekali, memang ada hambatan berarti tapi kebanyakan mereka mau belajar dan bisa juga mengikuti seluruh materi yang diajarkan," kata Ilam.

Menurutnya, materi yang diajarkan kepada pelajar tersebut antara lain membuat elektronik mail (e-mail), webs searching, chating dan sebagian pengenalan dasar-dasar komputer bagi mereka yang belum mengenal komputer sama sekali. Waktu sebanyak dua jam digunakan cukup efektif. Satu jam pertama untuk pengenalan dan satu jam lainnya memberikan kesempatan kepada mereka untuk mempraktekkan sendiri materi yang sudah diberikan.(hsm)
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&id=22731

Kamis, 23 November 2000
Pertanian, Pemda Kota Kurang Berbuat

Pontianak- Kepala Balai Imformasi dan Penyuluh Pertanian Kalimantan Barat, Ir Muchtiar mengatakan, bahwa sektor pertanian cukup potensial untuk dikembangkan di Kota Pontianak. Sayangnya, menurut Muchtiar, sektor ini luput dari perhatian pemerintah Kota.

Hal ini terlihat dari tidak dimasukkannya area pertanian di dalam rencana tata ruang kota. Padahal masyarakat tani jumlahnya relatif besar, apalagi pontianak berkedudukan sebagai basis kegiatan perdagangan dan jasa. Walau demikian jajaran pertanian akan tetap eksis.

Sementara itu, menurut sejumlah pedagang di Pasar Mawar, Pasar Dahlia dan Pasar Flamboyan, hingga saat ini banyak sayur-mayur yang dijual di pasaran itu, berasal dari Jawa, sebagian lagi didatangkan dari luar daerah. Bahkan cabe yang dapat tumbuh baik juga didatangkan dari luar.

Sementara, itu Muchtiar mengungkapkan banyak lahan tidur di Kota Pontianak yang seharusnya bisa dimanfaatkan. Dulu, ketika krisis mulai mendera Pemda Kota pernah melancarkan program pemanfaatan lahan tidur, namun hanya sebentar namun tidak ada ada lagi gemanya. "Kami bertekad, setiap jengkal tanah Kota harus ditanami," menjawab AP Post Rabu (22/11), disela-sela kegiatan Pelatihan Teknis Penyuluh Pertanian Kota Pontianak, di Ruang Rapat Paripurna Bappeda Kota.

Adapun daerah yang potensial menjadi sentra pertanian, menurutnya, adalah kecamatan Pontianak Utara. Karena kondisi tanah di daerah tersebut sangat cocok untuk budidaya pepaya, lidah buaya dan sayur-sayuran serta tanaman holtikultura lainnya.

Idealnya, menurut Muchtiar, keinginan wali kota untuk menjadikan kota pontinak sebagai proyek percontohan pengembangan agribisnis harus mendapatkan dukungan semua pihak. Dengan demikian ekonomi kerakyatan akan terbangun, sehingga kesejahteraan masyarakat petani dapat diperbaiki.(hsm)
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Kota&id=1303





Jumat, 6 April 2001
*Dari Kunjungan Komisi V DPR-RI
Pelindo Belum Siap Hadapi AFTA

KETUA Tim Komisi V DPR-RI, DR HM Azwir Dainy Tara menilai, Pelabuhan Indonesia Cabang Pontianak (Dwikora) untuk saat ini masih belum bisa mendukung penuh lajunya pengembangan dan pertumbuhan ekonomi Kalbar yang kian pesat dari hari kehari. Apalagi dalam menyongsong AFTA nanti.

Karenanya, jika tidak dilakukan langkah-langkah antisipasi, bukan tidak mungkin, pelabuhan ini akan tidak mampu memberikan pelayan maksimal kepada para investor dan masyarakat. Menurutnya, kurangnya dukungan itu itu dapat dilihat dari terbatasnya kawasan pelabuhan yang hanya 4 hektar.

Padahal idealnya, sebuah pelabuhan memiliki luas minimal 20-30 hektar. Selain itu, letaknya yang ditepi sungai juga menjadi kendala. Sebab, daerah aliran sungai mudah terjadi pendangkalan akibat dari erosi di daerah hulu.

Selain itu, kapasitas jalan juga tidak memadai untuk dilintasi mobil-mobil kontainer. "Tim akan merekomendasikan kekurangan Pelabuhan Pontianak ini ke Pusat, selanjutnya dalam waktu dekat akan dicarikan jalan keluar untuk pemecahan masalah-masalah tadi," kata Azwir kepada AP Post, usai pertemuannya dengan jajaran departemen perhubungan dan PT Pelindo II Cabang Pontianak, Rabu (4/4).

Hal dibenarkan oleh General Manager PT Pelindo II Cabang Pontianak, Drs Edy Purwanto. Menurutnya, untuk accesroad, memang kurang memadai. Kapasitas jalan yang hanya 8 ton harus dilewati oleh kontainer berkapasitas 12-15 ton.

Sehingga jalan-jalan cepat mengalami kerusakan. Selain itu, pengelola pelabuhan setiap tahunnya harus mengeluarkan Rp 9,78 milyar untuk pengerukkan. Jika tidak dilakukan pengerukkan akan sangat menghambat kecepatan dan ukuran kapal yang akan masuk pelabuhan.

Hal tersebut diperparah oleh banyaknya kapal-kapal yang berlabuh dan tidak melakukan aktivitas. Disamping itu, lokasi dan peralatan untuk aktivitas bongkar muat barang juga terbatas. "Kami minta kerjasama dengan pemerintah kota dan provinsi untuk membangun prasarana jalan dan perluasan dermaga," tutur Edy.

Ia juga bertutur, Pelindo baru saja melakukan perluasan 100 meter ke arah Barat serta penambahan truck, empat unit forklip. Ditambahkan Azwir, untuk meningkatkan kinerja Pelabuhan Pontianak, Pemerintah Pusat akan segera mengusahakan keuangannya dan kontraktornya.

Namun ia mengaku belum dapat memastikan kapan realisasinya, siapa pihak-pihak tersebut dan berapa besar bantuannya. Namun yang jelas kata dia, pelabuhan Pontianak harus dikembangkan, sebab kedepan fungsinya akan sangat vital dan urgent, baik untuk cargo, penumpang, terutama bagi perdagangan antarpulau dan negara. " Perkembagan dan pertumbuhan sebuah kawasan sangat tergantung dari sarana dan prasarana perghubungan. Salah satunya pelabuhan. Jika tidak, potensi yang dimiliki daerah tidak akan bisa dimanfaatkan secara maksimal," papar wakil ketua fraksi Golkar ini.

Dari hasil pertemuannya dengan pihak PT Pelindo II Cabang Pontianak dan Departemen Perhubungan, tercetus wacana untuk membangun sebuah pelabuhan yang lebih besar di sebuah lokasi yang lebih memadai. Misalnya di tepi laut. Atau dengan membangun sebuah pelabuhan khusus.

Misalnya PTPN XIII dengan investor Malaysia bekerjasama membangun sebuah pelabuhan untuk mengangkut CPO. Dari hasil pengamatan tim, Kalbar lebih beruntung dari daerah lainnya. Sebab sudah terlihat kepastian investor masuk, sementara daerah lainnya masih meragukan.

Diakui, investor pada umumnya memang sangat tertarik pada sektor agrobisnis. Sehingga karet, sawit dan produk perkebunan lainnya selalu jadi incaran mereka. Praktis untuk menunjang percepatan distribusi sumber-sumber itu diperlukan pelabuhan yang representatif. " Namun membangun sebuah pelabuhan baru itu tidak semudah memindahkan rumah. Banyak faktor yang harus diperhatikan," ucap Edy.(hsm)
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&id=2463

Jumat, 24 Januari 2003
2003, KTNA Usung Program Prioritas

Mempawah,- Memasuki tahun 2003, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pontianak telah menyiapkan sejumlah program prioritas yang ditengarai mampu memberikan konstribusi langsung bagi upaya peningkatan kesejahteraan nelayan dan petani di Kabupaten Pontianak. Demikian diutarakan Ketua KTNA Kabupaten Pontianak H Daeng Rusli kepada Pontianak Post, Rabu (22/1) siang.

"Kita sudah membicarakan penyusunan program prioritas tersebut. Tidak saja dengan pengurus namun juga melibatkan pihak eksekutif dalam hal ini instansi terkait," kata Daeng.

Dia memaparkan, program-program prioritas tersebut, digolongkan kedalam tiga bidang. Yaitu bidang perikanan, peternakan dan pertanian.

Untuk bidang perikanan, pihaknya akan memperjuangkan Kantor Perikanan dan Kelautan menjadi Dinas Perikanan dan Kelautan, optimalisasi pemanfaatan sumberdaya laut bagi kepentingan Pendapatan Asli Daerah dan mendesak pemerintah bertindak tegas terhadap sepakterjang kapal-kapal nelayan asing yang kerap beroperasi di perairan nelayan Kabupaten Pontianak dan sekitarnya.

Madu Organis Siap Ekspor


*Omzet per Musim Capai Rp 4 Miliar
PONTIANAK, TRIBUN - Pendamping Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) Kapuas Hulu, Thomas Irawan Sihombing, mengatakan pihaknya sedang menyiapkan ekspor madu hutan organis asal Danau Sentarum ke Sarawak, Malaysia Timur dan Brunei Darussalam.
Langkah itu diambil mengingat harga jual di sana lebih menggiurkan di samping jarak tempuh yang lebih dekat ketimbang ke Jakarta.

"Secara geografis, Kapuas Hulu memiliki keuntungan karena berbatasan langsung dengan Sarawak. Jaraknya hanya sekitar 80 kilometer lewat jalur darat. Bandingkan dengan jarak tempuh ke Jakarta," kata Thomas kepada Tribun di Sekretariat Bersama Karimata 43, Sabtu (7/2).

Dia berharap pemerintah segera membuka Pos Lintas Batas (PLB) Badau-Aruk pada Maret 2009 seperti yang direncanakan. Dengan begitu, akan semakin cepat kemungkinan ekspor madu hutan ke Sarawak. Sebab, petani akan lebih diuntungkan karena harga jual yang lebih tinggi.

"Untuk madu hutan ukuran 600 mililiter harganya Rp 60 ribu. Bandingkan dengan harga di Pontianak yang Rp 70 ribu per kilogram atau ke Jakarta yang dihargai Rp 45 ribu per kilogramnya," papar Thomas.

Ditanya tentang standar mutu, lelaki berkacamata ini menegaskan sejak 2005, produsen kelompok kecil usaha madu hutan sudah melakukan Sistem Pengawasan Mutu Internal (SPMI) untuk memperoleh Sertifikat Organis.

"Sistem ini menjamin tiap periau secara internal melakukan pengawasan terhadap dirinya. Kegiatan- kegiatan terdokumentasi secara tertulis dan dapat diperiksa pihak lain secara obyektif. Hasilnya, pada 2007 APDS berhasil menerapkan SPMI dan memastikan 4,3 ton madu hutan yang diproduksi organis," tegas Thomas.

Pada tahun itu juga, Board of Indonesian Organic Certifications (BIOCert) memberikan Sertifikat Organis kepada APDS. Sertifikat itu diserahkan langsung oleh Menteri Kehutanan, MS Kaban, di Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Dia menjelaskan anggota APDS saat ini berjumlah 8 periau dari 33 periau yang ada di kawasan Danau Sentarum. Dari jumlah tersebut kapasitas produksi pada musim 2008-2009 mencapai 16,5 ton. Sebanyak 10 ton dijual ke Dian Niaga, Jakarta. Sisanya sekitar 1,5 ton dipasarkan ke Riak Bumi. Total omzet penjualan sebesar Rp 517,5 juta.

"Kalau seluruh periau yang ada berhimpun, omzet kita bisa menyentuh angka Rp 4 miliar. Dengan asumsi kapasitas produksi bisa 30 ton per musim," katanya.

Periau adalah organisasi tradisional pengelolaan madu hutan di Danau Sentarum. Tiap periau beranggotakan 10-30 orang. APDS terbentuk untuk memaksimalkan dan memberdayakan lembaga tersebut dengan pendampingan dari Aliansi Organis Indonesia (AOI).

Pada 2004-2007, hanya 5 periau yang bergabung di APDS dengan kapasitas produksi madu hutan organis 4,3 ton. Pada 2008-2009, jumlahnya meningkat jadi 8 periau dengan produksi mencapai 10 ton. Sayang, pada musim 2007-2008, hampir semua periau gagal panen karena banjir menerjang kawasan ekosistem lebah Apis Dorsata yang selama ini menghasilkan madu hutan.

"Melihat periau-periau yang ada, sekitar 500 kepala keluarga menggantungkan hidupnya dari madu organis ini. Potensi ekonomi ini sangat besar untuk dikembangkan. Apalagi, baru sekitar 12 ribu hektare yang dikelola dari sekitar 132 ribu hektare lahan yang tersedia," tegas Thomas lagi.

Kendala

Sejauh ini, lanjut Thomas, APDS masih menemukan sejumlah kendala dalam memproduksi madu hutan organis. Pertama, masa panen alami madu yang terbatas yaitu setahun sekali antara bulan November- Februari.

Belakangan para petani menemukan panen sistem baru. Di mana, tidak semua sarang diambil. Melainkan menyisakan anakan dan hanya mengambil madunya saja. Dengan cara ini, panen bisa sampai 3 kali setahun.

Kedua, madu yang dijual adalah madu asli. Belum ada diversifikasi produk lainnya. Apalagi, selama ini, Pemkab Kapuas Hulu belum pernah melakukan pendampingan terkait peningkatan kualitas produk. Untuk packing saja misalnya baru dilakukan saat tiba di Dian Niaga, dengan merek Dorsata.

Persoalan ketiga adalah kadar air yang masih tinggi dalam madu yang dihasilkan. Saat ini, rata-rata terdapat 27 persen kandungan air. Sementara standar idealnya 21 persen.
"Untuk menurunkan kadar air dan kelembaban kita menggunakan dehumidifier. Namun, harus didatangkan dari Jakarta dan harganya relatif mahal. Untuk yang fortabel misalnya harus merogoh kocek Rp 7,8 juta per unit," papar Thomas.

Persoalan lainnya adalah ancaman banjir dan kekeringan di Danau Sentarum. Lebah Apis Dorsata menggantungkan hidup dari alam. Karena itu, disebut madu hutan organis karena memang tidak menggunakan bahan-bahan kimia dalam produksinya.

Apis Dorsata hanya memakan sari pati delapan bunga di Danau Sentarum. Di antaranya adalah bunga putat, kawi, dan masung. "Untuk menjaga ketersediaan pakan lebah Apis Dorsata, Periau Semalah misalnya sudah membudidayakan bunga-bunga tersebut di areal seluas 8 hektare," ujar Thomas seraya mengatakan untuk pemasaran produk di dalam negeri tidak mengalami kendala berarti karena sudah bekerjasama dengan mitra Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI). Dalam waktu dekat APDS bersama AOI akan mengadakan lawatan bisnis ke Serawak.

Mengenali Madu Asli
Ambil madu sedikit. Teteskan ke dalam gelas berisi air putih. Kalau tetesan madu bisa bertahan hingga ke dasar gelas, maka madu itu masih murni. Namun, kalau madu yang diteteskan terurai bersama air putih, maka madunya sudah tidak asli lagi.

Tidak benar kalau madu alsi tidak dikerumuni semut. Malah sebaliknya pasti disenangi semut. Kalau semut tidak mengerumuni madu, artinya madu sudah terpermentasi dan sudah tidak asli lagi. (hasyim ashari)

Jumat, 09 Januari 2009

Pameran Sepeda Tua


Sepeda Onte Kalimantan Barat (SEPOK) akan menggelar berbagai kegiatan dalam rangka Hari Uang Tahun (HUT) ke-1SEPOK. Kegiatan dipusatkan di Mal Matahari, Jl Jenderal Urip Pontianak, Kalimantan Barat, pada 18 Januari 2009 sejak pukul 06.00 WIB sampai 21.30 WIB.
Berbagai acara digelar untuk memeriahkan kegiatan bertema Bangga Bersepeda itu.

Pameran Sepeda Tua
Pameran menampilkan sepeda-sepeda tua koleksi anggota SEPOK. Berbagai merek dari Jerman, Belanda, Jepang, Inggris, dan China akan dipajang. Sebut saja, Gazelle, BSA, Mister, Hercules, Fongers, Batavus, Raleigh, New Hudson, The Speed, Robinson, NSU, Philips, Humber, dan masih banyak lagi yang lain.

Sasaran kegiatan ini untuk memperkenalkan kembali sejarah sepeda tua yang ternyata juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah Kalbar. Sebab, sepeda-sepeda yang tergolong langka dan diburu rekan-rekan kolektor juga ada di Pontianak dan sekitarnya.

Fun Bike
Kegiatan Fun Bike akan diikuti sekitar 600 peserta. Selain dari SEPOK juga dari klub sepeda lain seperti Pontianak Low Roder dan TNT. Masyarakat umum juga boleh ikut serta. Apapun jenis sepedanya. Apalagi, kegiatan ini bertujuan menggiatkan kembali aktivitas bersepeda yang menyehatkan. Selain itu, panitia juga menyediakan berbagai doorprize menarik.

Lomba Lukis
Lomba melukis diperuntukkan bagi siswa-siswi Taman Kanak-kanan. Tema lukisan tentang sepeda. Panitia menyediakan hadiah menarik.

Hiburan
Selain itu, para pengunjung juga akan dihibur berbagai tarian tradisional khas Kalbar. Dan tentu saja aksi anak-anak SEPOK yang sebagian adalah musisi. Lagu Sepeda Tua, yang agak ngerock dan menjadi mars SEPOK juga akan disuguhkan. Pokonya dijamin seru abis.

Karena itu, kami mengundang semua masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Semua kegiatan gratis alias tidak bayar. Tinggal datang, dapatkan kesenangan sekaligus hadiahnya. Kami tunggu di Mal Matahari.....!!!!

Kamis, 25 Desember 2008

Rumah Tanpa Huruf R

Saat kecil dulu, kalau berkelahi dengan teman sepermainan saya sering diolok. Bahan olok-olokan itu pula yang memancing perkelahian semakin menjadi-jadi. Tidak jarang yang berakhir dengan baju robek, atau wajah membiru. Atau setidaknya menangis tersedu.

Bocah yang paling suka mengolok saya adalah Kubil. Nama aslinya adalah Hardi. Rumah kami hanya dibatasi kebun langsat dan rambutan. Disebut Kubil karena meski orang Betawi asli, matanya sipit. Persis tokoh kartun Kubil di Harian Pos Kota.

Hampir setiap hari, apalagi kalau dia kalah main sepakbola, Jaban, atau Tojo. Senjata pamungkasnya pasti keluar. "Cadel, cadel, cadel!!" begitu dia menghardik saya.
Saya kemudian membalasnya dengan mengatakan "Congek woii congek!"
Seperti halnya saya, Kubil juga punya kekurangan. Dari telinganya mengeluarkan cairan berwarna putih kekuningan yang beraroma tidak sedap. Kalau sudah saling ejek begitu, selanjutnya pasti baku hantam.

Begitulah. Jujur saya merasa minder karena lidah saya pendek. Jadi, tidak bisa mengucapkan huruf R. Perasaan itu masih tumbuh saat saya di SMP dan SMA. Apalagi, setiap Senin atau Sabtu, saya kerap diminta jadi Pemimpin Upacara Bendera. Atau minimal membaca UUD 1945.
"Kepada pembina upacala, holmat glakk!" begitu kira-kira.

Saya sedikit terhibur karena di kampung saya ada anak Jakarta yang baru pindah. Satu keluarga, mereka tidak bisa menyebut huruf R. Bahkan, kalau berbicara yang mereka sebut huruf L bukan R. Ternyata, ada yang lebih parah. Dari sana saya mulai kritis. Karena, Babeh, Enyak, dan ketiga adik saya bisa melafalkan R dengan baik. Artinya, cadel bukanlah keturunan.

Dari sejumlah referensi, cadel adalah ketidakmampuan mengucapkan satu huruf unik. Umumnya huruf R. Meski ada juga sebagian orang yang justru bisa menyebut huruf R namun cadel untuk huruf lainnya. Orang Jepang misalnya, kebanyakan cadel pada huruf L.

Cadel sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu cadel karena faktor psikologis dan cadel karena faktor neurologis. Cadel yang disebabkan faktor neurologis berarti disebabkan adanya gangguan di pusat bicara.

Untuk mengatasinya, mereka (umumnya anak) dengan gangguan ini harus segera dibawa ke neurolog. Pada prinsipnya, gangguan ini masih bisa ditangani. Namun bila kerusakannya termasuk parah, bukan tidak mungkin akan terbawa sampai dewasa.

Cadel yang kedua adalah cadel yang disebabkan faktor psikologis. Karena kehadiran adik, contohnya, maka untuk menarik perhatian orang tua, anak akan menunjukkan kemunduran kemampuan bicara dengan menirukan gaya bicara adik bayinya.

Untuk mengatasinya, orang tua harus menunjukkan bahwa perhatian padanya tidak akan berkurang karena kehadiran adik. Selain itu, orang tua juga harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar, jangan malah menirukan pelafalan yang tidak tepat. Pada kasus yang parah, dianjurkan membawa anak ke ahlinya agar bisa tergali apa masalah yang melatarbelakanginya.

Singkat cerita, saya terkena cadel neurologis dan terbawa hingga dewasa. Layaknya orang dewasa, saya membutuhkan pendamping hidup. Sungguh tak dinyana, perempuan yang saya nikahi, Mina, juga tidak fasih melapal huruf R. Bahkan, kadarnya lebih parah dari saya. Kalau lagi iseng saya sering menggodanya, juga sebaliknya.

Setahun setelah menikah, kami dianugerahi bocah mungil Bagas Kusuma Wardhana. Saat lahir, selain nama, apalagi yang dipikirkan kalau bukan jangan-jangan Bagas juga tidak bisa bisa menyebut huruf R. Kekhawatiran itu makin memuncak saat Bagas belajar bicara, huruf S, ,N, dan huruf R-nya tidak karuan. Huruf lainnya, vokal kah atau konsonan bisa ia serap dengan baik dan mengucapkannya dengan baik pula.

Sebelum kehadiran Bagas, saya dan istri kalau tidak terpaksa, sangat jarang menyebut kata yang ada huruf R-nya. Begitu Bagas mbrojol ke muka bumi, kami tambah jarang menyebutnya. Khawatir kalau Bagas ikut-ikutan.

Jadilah, nyaris selama empat tahun ini, di rumah kami jarang sekali terdengar ada huruf R diucapkan. Kami terus merangsang Bagas agar bisa menyebut huruf R, S, dan N. Saat umurnya, 2 tahun tujuh bulan, dia mengalahkan huruf S dan N. Tapi, tidak untuk huruf yang kami takuti, R. Dia masih saja cadel. Jangan-jangan....jangan-jangan...kami sudah berpikiran buruk saja. Karena memang hampir menyerah.

Saya kemudian coba berimprovisasi, tanpa konsultasi ke psikolog, bagaimana agar bagas sukses menaklukan huruf R. Di antaranya dengan membelikan VCD lagu-lagu pop dewasa dan sebuah lap top mainan yang mengajarkan mengeja huruf dan angka.

Di luar itu, kami memberikan keleluasaan Bagas untuk bermain sesukanya. Termasuk dengan anak- anak yang usianya lebih tua. Jujur, dia lebih banyak belejar mengenal sendiri, terutama huruf R.


Hasilnya, sungguh di luar dugaan. Dua pekan lalu, Bagas sudah bisa menyebut hurur R dengan baik. Saking senangnya, kadang kami membuatnya jengkel. Misalnya, ketika menyebut kata kamar. Kami kerap melontarkan pertanyaan terbuka dan berulang-ulang.

Misalnya, Bagas tadi sembunyi di mana?
Dia menjawab, "Di kamar,"
"Dimana? " tanya saya lagi.
"Di kamar," katanya.
"Maaf Gas, Ayah tidak dengar,"
"Di kamar Ayah. Makanya perhatiin kalau Bagas lagi ngomong," ujarnya geram.

Aku dan istriku tersenyum lebar.
Alhamdulillah..Bagas tidak cadel. Tidak seperti Ayah dan Bundanya. Kini, setelah hampir empat tahun, akhirnya ada huruf R di rumah kami. Duh...Senangnya bukan main! Padahal, kami hanya dikasih huruf R.

Kamis, 18 Desember 2008

Muda-Andreas Cetak Sejarah


*Kemenangan Ketiga Calon Independen

Saya masih ingat betul, pengamat politik Fachry Ali, sempat berujar saat mengomentari kemenangan Irwandi Yusuf yang menangi Pemilu Gubernur Nanggroe Aceh Darussalaam (NAD), pada 11 Desember 2006.

Irwandi dan Muhammad Nazar adalah pasangan calon independen. Mereka mengantongi 38,20% suara sekaligus mengalahkan pasangan Golkar malik Raden-Sayed Fuad Zakaria dan kandidat dari PPP Ahmad Humam Hamid-Hasbi Abdullah.

"Kasus Irwandi Yusuf itu langka. Belum pernah ada kejadian sebelumnya calon independen menang. Di negara-negara yang mengakomodir calon independen dalam undang-undangnya, mungkin kemenangan calon independen NAD ini adalah baru pertama kali di dunia," kata Fachry Ali.

Tampaknya, pengamat dari LIPI itu harus segera meralat ucapannya. Sebab, Oktober 2008, sejarah kemenangan calon independen terulang untuk kedua kalinya. Kali ini, giliran pasangan OK Arya Zulkarnain-Gong Matua Siregar yang memenangi Pemilu Bupati Batubara, Sumatera Utara.

Keduanya mengantongi 34,67 persen suara. Unggul atas pesaing terdekat psangan Yahdi Khoir Harahap-Surya yang diusung PAN dan Golkar.

15 Desember 2008, pencapaian cemerlang calon nonpartai politik juga mewarnai Pemilu Bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat. Pasangan independen Muda Mahendrawan-Andreas Muhrotien tidak tergoyahkan meski pemilihan harus dua putaran.

Keduanya mengalahkan Pasangan Sujiwo-Sapta Oktohari yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) dengan perbandingan suara 123.448 dan 91.539. Dengan begitu, berarti sudah tiga pasangan calon Independen yang memenangi pemilihan kepala daerah di Indonesia sejauh ini.

Terlepas dari berbagai faktor, saya hanya ingin mencermati bagaimana Irwandy Yusuf, OK Arya Zulkarnain, dan Muda Mahendrawan membetot perhatian masyarakat.

Irwandi Yusuf adalah cerdik pandai dibalik upaya perdamaian di Aceh. Selain ditunjuk sebagai senior Representative GAM (TNA) untuk Misi Pemantau Aceh (AMM), ia juga dipercaya petinggi GAM di Swedia sebagai Koordinator Juru Runding GAM. Saat rapat pertama di Aceh Monitoring Mission, dia tampil sebagai koordinator Juru Runding GAM di Aceh (2001-2002).

sementara Oka Arya dan Muda Mahendrawan, gigih berupaya memekarkan wilayah masing-masing. Oka memperjuangkan Kabupaten Batubara lepas dari Kabupaten Induknya, Asahan. Sementara Muda Mahendrawan begitu mengakar karena kukuh mengusung pemekaran Kabupaten Pontianak menjadi Kabupaten Kubu Raya.

Kemenangan calon independen sebenarnya bukan barang baru dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Pada 1955, Indonesia pernah mengakui M Hasan yang duduk sebagai anggota legislatif dari luar partai politik. Untuk partai, Indonesia juga sempat terhenyak saat Partai Dayak menang di Kalimantan.

Bukti sejarah itu pula yang menegaskan sesungguhnya calon independen memiliki akar dalam sejarah ketatanegaraan negara kita.

Tapi, tetap saja kemenangan ketiga pasangan calon independen di atas menimbulkan perbincangan hangat di masyarakat. Teman-teman ngopi saya sempat mempertanyakan apa yang sesungguhnya terjadi dengan mesin-mesin partai politik?

Kurang besar apa PDI P dan Golkar di Kubu Raya? Kurang kuat bagaimana PAN, Golkar, dan PPP di Aceh?

Mustahil mereka tidak bergerak. Apalagi, tiap partai memiliki hierarki kepengurusan dan basisi massa yang jelas. Dan, paling mungkin digerakkan menjadi mesin penghimpun suara terefektif. Karena, umumnya mereka loyal terhadap pengurus partai yang lebih tinggi.

Inilah, meminjam istilah mantan Ketua MPR, Amien Rais, sebuah pelajaran berharga bagi partai politik. Betapa kehadiran calon independen membuat oase di tengah hujatan dan kurang berwibawanya partai politik akhir-akhir ini.

Partai-partai lebih sering sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka sepertinya membicarakan kepentingan publik, tapi hanya di awal, untuk kemudian rakyat hanya menjadi bahan tawar-menawar kekuasaan. Mereka sepertinya sibuk memperhatikan konstituen, tapi hanya saat-saat pemilihan umum untuk akhirnya mereka lupakan.

Lihat saja, bagaimana partai politik berkecenderunan untuk menjadi oligarki karena seringkali kurang mengkonsultasikan pencalonan seseorang melalui partai dengan konstituennya. Partai sekadar menjadi
juri untuk meloloskan seseorang menjadi calon kepala daerah.

Kehadiran calon independen sebetulnya merupakan mekanisme kontrol terhadap partai-partai politik.
Namun demikian, partai-partai politik tidak perlu takut menyikapai fenomena ini, selama memiliki manajemen yang baik dan bertanggung jawab kepada konstituennya. Dan mereka mengembalikan fungsi sebagai organisasi yang mengartikulasikan kepentingan publik.

Memang calon independen ini lebih pas dipakai dalam pemilihan kepala daerah dibandingkan dalam pemilihan presiden. Tetapi, siapa yang bisa menyangka. Gubernur Aceh sudah, Bupati Batu-bara sudah. Bupati Kubu Raya sudah. Presiden Indonesia, mungkinkah?

Pengalaman di Amerika Serikat memperlihatkan sulitnya calon independen menang dalam pemilihan presiden. Sepanjang sejarah negeri Paman Sam itu, hanya George Washington yang bisa menjadi presiden tanpa lewat partai. Apalagi ada mekanisme pemilihan pendahuluan guna menentukan calon partai dalam pemilihan presiden untuk menjamin aspirasi rakyat.

Tak pelak, calon independen seperti Ross Perot atau Ralph Nader, hanya menjadi semacam penggembira. Walaupun mereka punya banyak uang. Di tataran politik lokal, calon independen memang bisa menang meski sepanjang sejarah, baru tiga gubernur nonpartai yang terpilih.

Terakomodirnya calon Independen tidak terlepas keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), yang mengabulkan yudicial review pasal 59 UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pilkada. Isinya calon perseorangan dibolehkan ikut berlaga dalam pemilihan kepala daerah dengan memerhatikan ketentuan pasal 58 UU Pemda melalui mekanisme yang demokratis dan transparan.

Di luar itu, hakikat demokrasi adalah kesetaraan semua warga untuk mendapatkan hak mereka. Tak ada yang diistimewakan, tak ada pula yang dikekang, termasuk soal hak dipilih. Inilah makna yang pantas digarisbawahi dari keputusan Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan beberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan keputusan itu, kini kandidat kepala daerah tak perlu mendapat dukungan partai untuk berlaga di ajang pemilihan kepala daerah.

Itulah fakta demokrasi kita. Publik tidak bodoh. Mereka punya mekanisme sendiri untuk menolak hegemoni partai. Ketika partai tidak lagi merepresentasikan konstituennya, mereka memilih untuk tidak memilih atau mencoblos calon independen, seperti yang terjadi di Aceh, Batubara, dan Kubu raya. Fenomena maraknya golongan putih dan populernya calon independen seharusnya menjadi pelajaran bagi partai-partai.

Hadirnya calon independen tidaklah berarti menyingkirkan peran partai. Demokrasi yang sehat tetap membutuhkan partai, karena di sinilah mekanisme rekrutmen calon pemimpin yang lebih teratur bisa berjalan. Partai juga diperlukan untuk menyederhanakan konflik politik dalam masyarakat.

Tugas partai-partai politik sekarang adalah bagaimana agar mereka mampu memperkecil kesenjangan antara harapan publik dan peran yang dijalankan partai. Bila kesenjangan itu teratasi, calon independen dengan sendirinya tak akan banyak mendapat pendukung.

Minggu, 14 Desember 2008

Wajah Sastra Kalimantan Barat

Diambil dari http://dedyariasfar.blogspot.com
Posting: Jumat, 15 Agustus 2008, pukul 07:12

Perkembangan sastra di Kalimantan Barat satu tahun terakhir ini menunjukkan gairah yang menggembirakan. Surat kabar lokal mulai giat memberi ruang kepada peminat sastra untuk mengapresiasikan naluri seni sastra mereka.

Bahkan surat kabar lokal dapat dikatakan telah menjadi barometer sejarah sastra di Kalimantan Barat. Hal ini tentu akan sangat baik jika itu terus terjadi, artinya surat kabar lokal secara konsisten menyediakan kolom tersendiri untuk para peminat sastra dan sebaliknya para peminat sastra pun dapat memanfaatkan peluang yang disediakan dengan bersungguh-sungguh.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa periodesasi sastra di Kalimantan Barat, salah satunya dapat dilihat melalui surat kabar lokal. Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini akan mengungkapkan bagaimana sejarah awal perkembangan sastra di Kalimantan Barat dan situasi sastra berdasarkan terbitan surat kabar lokal Pontianak dan implikasinya bagi perkembangan sastra di Kalimantan Barat.

Pengantar
Kalimantan Barat merupakan merupakan satu daerah di wilayah Nusantara yang menyimpan kesan menarik mengenai tradisi sastra. Tercatat, pada Abad ke-19, tercipta syair-syair sejarah yang sangat berkesan dengan untaian kata-kata indah, yang bercerita tentang Kalimantan Barat dan masyarakatnya, misal Syair Pangeran Syarif dan Syair Perang Cina Monterado.

Syair Pangeran Syarif berlatarkan waktu 27 Muharam 1313 Hijrah, bertepatan dengan 7 Juli 1895 Masehi. Sultan Matan dari Ketapang menulis sebuah syair yang mengungkapkan pengalaman, pikiran, dan perasaannya setelah sembilan minggu berada di Pontianak; dari bulan pertama bulan Zulkaedah 1312 Hijrah hingga 13 Muharam 1313 Hijrah, dan tiba kembali ke Matan pada 18 Muharam 1313 Hijrah.

Syair ini menceritakan tentang Pontianak dan sultannya serta peran kolonial dalam pemerintahan kesultanan Pontianak (Arena Wati 1989). Sedangkan syair Perang Cina Monterado membicarakan kehidupan sosial, sejarah kedatangan, dan penempatan orang-orang Cina di Monterado serta pertempuran hebat yang terjadi pada tahun 1853 s.d. 1854 Masehi di Monterado.

Sebab-sebab pemicu perang dan prilaku ekonomi masyarakat Dayak dan Melayu dalam interaksinya dengan orang-orang Cina di Monterado pun tergambarkan dengan cukup baik melalui bait-bait syair ini (Arena Wati 1989:39).

Gambaran mengenai kehidupan masyarakat Kalimantan Barat di atas jelas terungkap dengan memanfaatkan sastra sebagai wujud apresiasi dan pemberitaan. Sastra dijadikan sebagai “surat kabar atau majalah” untuk menginformasikan segala macam peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat pemilik tradisi sastra tersebut. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan, sekarang ini—koran atau surat kabar menjadi sarana aktualisasi diri pengarang dalam memperkenalkan karya tulis mereka agar dapat diapresiasi oleh khalayak atau penikmat sastra.

Peran strategis surat kabar dalam mempopulerkan sastra, sudah lama dimanfaatkan oleh para pelaku seni sastra di Nusantara. Bahkan di Kalimantan Barat, periodesasi sejarah sastra dapat dinilai dan dilihat melalui karya-karya yang pernah terbit dalam surat kabar dan majalah, misal Yusakh Ananda dan Munawar Kalahan yang memanfaatkan media massa cetak untuk mengapresiasikan kemampuan dan kepiawaian mereka dalam berkarya dan menghasilkan karya sastra di awal-awal tahun 1950-an.
Oleh karena itu, perbincangan dalam tulisan ringkas ini membahas karya sastra yang muncul di harian Ap.Post dan Equator sebagai representasi wajah sastra Kalimantan Barat di Pontianak.

Sejarah Kepengarangan di Kalimantan Barat
Perkembangan kesusastraan Indonesia, secara resmi telah dimulai pada saat Komisi Bacaan Rakyat (Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur) didirikan pada tahun 1908. Bahkan A Teeuw menunjuk angka tahun 1920 sebagai lahirnya kesusastraan Indonesia modern.

Gagasan ini mulai digugat ramai sarjana, diantaranya adalah Ibnu Wahyudi, yang berpendapat bahwa sastra Indonesia modern dimulai pada 1870-an, yang ditandai dengan terbitnya puisi Sair Kedatangan Sri Maharaja Siam di Betawi.[1] Sarjana lain yang juga tidak setuju dengan angka tahun 1908 dan 1920 sebagai tonggak awal sastra Indonesia modern adalah Maman S.

Mahayana, walaupun beliau tidak menyebutkan angka tahun yang pasti, kapan lahirnya sastra modern di Indonesia. Namun, Maman S. Mahayana berpendapat bahwa banyak karya sastra yang bertebaran di media massa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang tidak dianggap atau diperhitungkan dalam menandakan lahirnya sastra Indonesia modern (Mahayana 2005:411).

Para pakar sastra mengabaikan karya-karya penting yang muncul dalam surat kabar dan majalah. Kalau kita menyimak pendapat Teeuw dan Ajip Rosidi kelahiran kesusastraan Indonesia modern hanya berdasarkan karya-karya yang dipublikasikan sebagai buku. Karya yang terbit dalam majalah dan surat kabar tidak dianggap dan cenderung ditenggelamkan (Mahayana 2005:392).

Kesusastraan modern di Kalimantan Barat dimulai perkembangannya oleh penyair dan penulis cerpen di majalah-majalah. Perkembangan awalnya dapat dilihat melalui karya-karya Yusakh Ananda dan Munawar Kalahan sekitar tahun 1950-an di majalah Siasat dan Kisah. Munawar Kalahan pada tahun 1950 telah menerbitkan puisinya di majalah Siasat dengan judul “Riwayat Sedih”, kemudian Yusakh Ananda menerbitkan cerpennya di majalah Kisah pada tahun 1953 dengan judul “Kampungku yang Sunyi”.

Dua pengarang dari Kalimantan Barat ini kemudian semakin menyemarakkan panggung sastra nasional—maraknya karya-karya mereka terbit di sejumlah media nasional lainnya di era 1950-an, seperti Mimbar Indonesia, Seni, Zenit, Indonesia, Fantasi, Aneka, dan Duta Suasana membuat mereka semakin dikenal.[2]

Kepengarangan Munawar Kalahan dan Yusakh Ananda di media-media nasional selanjutnya diikuti oleh pengarang Kalimantan Barat lainnya dengan berkiprah melalui siaran sastra dengan nama “Gelanggang” di Radio Republik Indonesia Cabang Pontianak, seperti Slamet Muslana, M.Nazirin Ar, Abdul Madjid Ar, Asfia Mahyus, A. Muin Ikram, Soesani A. Is, M. Siri R, Maria Manggala, Ibrahim Abdurrahman, H. Bustani HA, Gusti Mohamad Mulia, Alydrus, Bey Acoub, Zainal Abidin, H.A, Heri Hanwari, MS Efendi, dan Delly Ananda.

Selanjutnya beberapa dari mereka ini mendirikan kelompok pengarang Taratak Lima. Kelompok Taratak Lima selanjutnya menjadi Yayasan Taratak Lima dengan maksud menghimpun dan mempersatukan seniman dan budayawan Kalimantan Barat.[3]

Selanjutnya pada era tahun 1980 s.d. 1999 kesastraan Kalimantan Barat diramaikan lagi dengan pengarang baru seperti Khairani, Hartisani, Sulaiman Pirawan, Satarudin Ramli, Harun Das Putra, Efendi Asmara Zola, A.S Fan Ananda, Mizar Bazarvio, Odhy’s, dan Yudhiswara.

Dalam perkembangan selanjutnya muncul juga beberapa pengarang muda, seperti Meyzar Syailendra, Pradono, Aspan Ananda, Mulyadi, Abdullah, Syaza Kayong, Chandra Argadinata, Uray Kastarani HAs, Cipto Gunardi, Ibnu Hs, Nuriskandar.[4]

Sekitar tahun 1983, periodesasi sastra di Kalimantan Barat dimarakkan dengan hasil karya M. Yanis. Pada tahun 1983 beliau memulai kiprahnya dalam dunia penulisan di Kalimantan Barat dengan menerbitkan sebuah novel sejarah perjuangan di Kalimantan Barat dengan judul Kapal Terbang sembilan. Novel ini pernah diterbitkan secara bersambung oleh surat kabar Akcaya pada akhir tahun 1979 s.d. awal tahun 1980. Selanjutnya, pada tahun 1998 M.

Yanis menerbitkan lagi sebuah novel sejarah dengan judul Djampea. Beliau juga masih menyimpan sebuah novel sejarah yang belum sempat diterbitkan yang ia beri judul Bukit Kelam di Hulu Melawi. Karya-karya M. Yanis sangat menggembirakan para peminat sastra dan sejarah di Kalimantan Barat. Bahkan sampai saat ini, belum ada satu pun pengarang Kalimantan Barat yang berhasil menjadi penulis produktif—yang menghasilkan beberapa novel dalam periode 1980 s.d.1990-an selain M. Yanis (Dedy Ari Asfar 2006).

Era 2000-an, kepengarangan Kalimantan Barat semakin dimarakkan dengan pendatang-pendatang baru yang masih muda. Mereka menerbitkan hasil karyanya di beberapa media lokal, seperti Pontianak Post dan Equator. Para pengarang muda pendatang baru ini diantaranya adalah Diah Ekawati, Andini Yulina P, Eko Akbar Setiawan, Naszahwatie, Mr. Toem, Heronimus Ragen, Budiman Rahman, Tan Tjian Siong, Wina Kuspriantie, Rosa Feliana Tanaya, A.Muin.D.Achmadi, Aris Kurniawan, Hasyim Ashari, Andrian Nova, Rahmayanti Husna, Afifi Titasahara, Kartika P, Mufidah, Irin Sintriana, Andi Nuradi, Elisa Chandra, Yosaria Elza, Wisnu Pamungkas, Hamdy Salad, Nur Iskandar, Yovita, Ahmad Asma dZ, Saifun Salakim, Laut, Pay Jarot Sujarwo,[5] Phazt Alexandra, Anastasia Nuri Indah, Amrin Z.R, Eko Amriyono, Yusuf Arifin, dan lain-lain. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang menerbitkan antologi cerpen dengan judul Titik Nol yang ditulis oleh Pay Jarot Sujarwo, Yovita, dan Amrin Z.R. Bahkan ada pengarang pemula lainnya yang telah menerbitkan novel, yaitu Anthony Ventura dengan judul Crazy Campus.[6]

Dari Lisan Menuju ke Surat Kabar
Tradisi sastra di Kalimantan Barat lebih dominan dalam bentuk sastra lisan. Keberlisanan menjadi ciri yang umum dalam tradisi sastra di kawasan ini (lihat Dedy Ari Asfar 2005a,b,c,d; Chairil Effendi 2005). Tidak ada media massa yang khusus memuat sastra lisan atau mentransformasi sastra lisan ke dalam media cetak.

Surat kabar lokal di Kalimantan Barat seperti Ap.Post dan Equator hanya menyediakan kolom khusus untuk para peminat sastra modern seperti puisi dan cerpen. Selain itu, sesekali ada juga bentuk sastra lisan yang ditransformasikan dalam sastra tulis dengan memuatnya ke dalam media massa cetak lokal di Kalbar. Sastra lisan yang biasa muncul di surat kabar lokal wujud dalam bentuk pantun. Perhatikan sebuah bait pantun berikut.

Dari Siantar ke Berastagi
Dari padang ke Bukit Tinggi
Pegawai kecik sampai pejabat tinggi
Korupsi dah dijadikan ideologi

Bait pantun di atas pernah beberapa kali muncul dalam surat kabar lokal di Kalimantan Barat seperti Ap.Post dan Equator. Bait pantun ini memang tidak dimuat secara khusus dalam kolom apresiasi sastra tetapi ia merupakan sebuah iklan dari radio Kenari untuk berpromosi.

Walaupun demikian, ada sedikit gambaran menarik bahwa sastra lisan juga merambah media cetak untuk dapat dibaca dan dinikmati oleh khalayak dan digunakan sebagai sebuah sarana untuk menyampaikan pemikiran. Fenomena serupa juga tampak dalam kolom Mat Belatong yang muncul tiap-tiap hari minggu di Equator; biasanya ada saja pantun dan syair yang digunakan dalam wacana-wacana yang dilontarkan oleh penulis Mat Belatong tersebut (lihat diantaranya A. Halim R, 30 April 2006 dan 16 Juli 2006:15).

Fenomena ini sekiranya yang penulis sebut sebagai transformasi lisan ke tulisan atau dengan istilah lain dari keberlisanan menuju keberaksaraan dalam sastra di Kalimantan Barat. Perhatikan Contoh pantun dimaksud berikut ini.

Pantun Mat Belatong[7]
Ikan Kepetek ikan buin
Ikan betutu ikan gelama
Kalau Ente jadi pemimpin
Dengarlah pantun khazanah lama

Ikan buin ikan bawal
Jadi pemimpin jangan bual
Ikan semah ikan silauari
Mikol amanah jangan mencuri

Arti Penting Kolom Sastra dalam Surat Kabar lokal
Surat kabar lokal seperti harian Ap.Post dan harian Equator memainkan kiprah yang penting dan sangat berjasa dalam mengantarkan pengarang dan karyanya kepada para penikmat atau pembaca dalam memahami fenomena karya sastra lokal yang ada di Kalimantan Barat. Kedua harian ini menjadi “foto” yang memotret situasi kesastraan yang dimiliki Kalimantan Barat.

Karya sastra yang dimuat dalam surat kabar lokal ini memainkan peran yang sangat penting. Pertama, surat kabar menjadi sarana atau wadah bagi para penulis untuk terus berkarya dan mengenalkan karyanya kepada para penikmat sastra secara berterusan.

Kedua, surat kabar juga berfungsi sebagai “rumah produksi” yang menerbitkan dan mengenalkan penulis karya sastra, dengan kata lain surat kabar mendistribusikan pemikiran seorang penulis dan menjadi penyambung lidah antara pengarang dan pembaca.

Ketiga, surat kabar menajdi batu loncatan bagi pengarang sebelum menerbitkannya menjadi sebuah buku. Artinya, adanya kecenderungan untuk menerbitkan kembali karya-karya sastra terbitan surat kabar menjadi buku—hal demikian sudah dilakukan oleh ramai pengarang dan penerbit sejak dahulu hingga sekarang. Ini dapat dilihat seperti yang dilakukan oleh M. Yanis dengan novel Kapal Terbang Sembilan; sebelum menjadi buku, novel ini pernah diterbitkan secara bersambung di harian Akcaya. Bahkan surat kabar nasional seperti Kompas malah menerbitkan cerpen-cerpen yang pernah mereka muat di harian tersebut menjadi suatu kumpulan buku (antologi).

Seputar Tema Sastra di Ap.Post dan Equator
Tema yang umum muncul dalam cerpen dan puisi di harian Ap.Post adalah seputar cinta remaja, Tuhan, dan kemanusiaan. Di harian Equator tema yang muncul lebih cenderung tema-tema ketuhanan, kemanusiaan, sosial, dan budaya yang bersifat lokal. Diantara sekian banyak penulis, berikut ini penulis paparkan tema yang pernah ditulis dalam bentuk cerpen dan puisi oleh beberapa penulis sebagai contoh.

Cerpen berjudul “Melayu Laut” karya Yosaria Elza dan cerpen “Notongk” yang ditulis oleh Laut merupakan cerpen-cerpen yang membicarakan tema sosial dan budaya yang benar-benar terjadi di Kalimantan Barat. Cerpen yang ditulis oleh Yosaria Elza mengangkat isu identitas etnis penduduk Kalimantan Barat.

Penulis cerpen ini membicarakan isu itu dalam jalinan watak cerita dengan berusaha mengutarakan pemikirannya melalui watak Puasa dan Pak Pung. Perhatikan kutipan berikut.
...“Bapak suku apa, orang apa?”
“Laut pak,” jawab puasa Pendek.
Puasa memang selalu menjawab demikian setiap kali ditanya suku atau bangsa apa. Tapi kali ini, di depan banyak orang, kepala kampung itu, menyalahkannya.

Menurut Pak Pung jawaban yang benar adalah Melayu, bukannya Laut! Laut itu sebutan untuk orang Melayu dahulu dan sudah tak layak lagi dipergunakan. Tak ada “Laut”, seperti juga tidak ada lagi sebutan “Darat” kata Pak Pung. Puasa kian keki karena kata-kata Pak Pung membuat orang yang hadir di pertemuan itu mentertawakannya.

Cerpen Notongk yang ditulis oleh Laut juga menawarkan perspektif sosial dan budaya Kalimantan Barat. Melalui cerpen ini, kita dapat mengetahui sebuah tradisi dalam masyarakat Dayak. Sebuah tradisi yang disebut notongk, yaitu sebuah tradisi ritual untuk menghormati tengkorak (abak) yang pernah menjadi korban tradisi mengayau (Equator Minggu, 8 Januari 2006). Demikianlah tema cerpen yang muncul dalam harian Equator dan masih banyak lagi tema-tema lain yang membicarakan tentang Tuhan, manusia, budaya, dan aspek-aspek lain yang lebih bersifat lokal.

Bahkan Asriyadi Alexander, editor yang menangani kolom seni dan sastra berkomitmen untuk menerbitkan cerpen-cerpen yang bernuansa lokal dengan pelbagai perspektif tetapi tidak menerima karya yang bertemakan cinta dan remaja (KP, 20/3/2006).

Cerpen-cerpen yang dimuat harian Ap.Post sepertinya agak longgar dalam menerbitkan karya-karya sastra penulis pemula lokal. Artinya, sang editor tidak memberikan kriteria khusus karya-karya yang handak diterbitkan, “asal” ada tulisan yang oleh penulisnya disebut cerpen dan dikirimkan ke Pontianak Post, mungkin akan diterbitkan dalam kolom “Apresiasi”, yaitu kolom sastra yang ada di harian Ap.Post.

Hal ini mungkin disebabkan keinginan Ap.Post untuk mewadahi sesiapa saja yang menaruh minat dalam dunia penulisan dan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada individu dalam berkarya. Tema yang muncul cenderung membicarakan tentang cinta dan remaja, ada juga tema-tema ketuhanan, kamanusiaan, dan sosial.

Kelonggaran yang penulis maksudkan di sini ialah, sepertinya tidak ada proses seleksi yang selektif dalam menerbitkan tulisan di kolom sastra harian Ap.Post sebab tulisan yang tidak begitu menarik dan tidak bernilai sastra pun dapat terbit dengan mudah.

Hal ini dapat dilihat dalam cerpen “Tulisan untuk Pay” oleh Diah Ekawati (Ap.Post, Minggu 31 Oktober 2004), yang menurut penulis hanya semacam surat cinta seorang gadis kepada lelaki yang dipujanya.

Cerpen ini tidak memperlihatkan konflik dan klimaks dalam alur peristiwa cerpen. Padahal inti sebuah cerpen adalah konflik. Cerpen-cerpen yang bertema demikian berdasarkan catatan yang ada pada penulis dapat dilihat juga dalam cerpen “Messages” oleh Kartika P, “Andai” oleh Andini Yulini P, “Bisu” oleh Mr.Toem, “Hati Yang Tersembunyi” oleh Wina Kuspriantie, dan lain-lain.

Namun, ada juga penulis pemula yang menggarap tema-tema sosial yang lagi up to date, seperti kemiskinan, kelangkaan bahan bakar minyak, dan korban pelecehan seksual yang dialami oleh TKW di negeri jiran.


Penutup
Peran penting surat kabar lokal dalam memberdayakan dan mengenalkan penulis sastra tidak dapat dinafikan. Surat kabar lokal menjadi pencatat atau dokumen yang mengesahkan eksistensi penulis sastra lokal di Kalimantan Barat. Bahkan surat kabar lokal di Kalimantan Barat menjadi barometer untuk melihat wajah sastra yang berkembang di Kalimantan Barat.


BIBLIOGRAFI
A. Halim R. 2006. Kolom Mat Belatong. Dalam Equator, Minggu 30 April 2006 dan 16 Juli 2006.
Dedy Ari Asfar 2005a. Kengkarangan: Tradisi Syair Melayu di Pedalaman Ketapang. Makalah yang disampaikan dalam seminar bulanan di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat pada bulan Maret 2005.

Dedy Ari Asfar. 2005b. Identitas Lokal dan “Ilmu Kolonial” di Kalimantan Barat. Dalam Yusriadi, Hermansyah, dan Dedy Ari Asfar. Etnisitas di Kalimantan Barat. STAIN: Pontianak Press.
Dedy Ari Asfar. 2005c. Etnopuitika: Ilmu Linguistik dan Sastra Lisan di Pulau Kalimantan. Makalah yang disampaikan dalam Kongres Linguistik Nasional di Padang, pada 18--21 Juli 2005.

Dedy Ari Asfar. 2005d. Islamic and Pre-Islamic Culture: The Data of Malay Oral Tradition in Cupang Gading, West Kalimantan. Makalah yang disampaikan dalam konferensi Internasional di Imperial Mae Ping Hotel, Chiang Mai, Thailand pada 7—8 Desember 2005.

Dedy Ari Asfar. 2006. Citra Manusia dalam Novel Perjuangan Rakyat Kalimantan Barat Karya M. Yanis. Laporan penelitian. Pontianak: Balai Bahasa Kalimantan Barat.
Ong, Walter J. 1982. Orality and literacy: The Technologizing of the World. New York: Methuen & Co.Ltd.

Mahayana, Maman S. 2005. 9 Jawaban Sastra Indonesia, Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta: Bening.
[1] Ibnu Wahyudi mengatakan, awal keberadaan Sastra Indonesia modern dimulai pada 1870-an, yang ditandai dengan terbitnya puisi Sair Kedatangan Sri Maharaja Siam di Betawi (anonim), yang sekarang diterbitkan kembali dalam Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (KPG, 2000). (Lihat Asep Sambodja Republika Minggu, 21 November 2004).

[2] Musfeptial, 2003, Biografi Pengarang Kalimantan Barat, Pontianak: Balai Bahasa Kalimantan Barat, halaman 12.

[3] Pendiri dan anggota Taratak Lima adalah H. Bustani HA, Gusti Mohamad Mulia, Alydrus, Bey Acoub, Zainal Abidin, H.A, M. Siri, Soesani A. Is, Heri Anwari, MS Efendi, dan Delly Ananda. Penamaan Taratak Lima pertama kali dianjurkan oleh Gusti Mohamad Mulya. Kata Taratak bermakna pondok atau dangau sedangkan Lima bermakna bahwa anggota kelompok ini selalu berkumpul di depan korem, tempat berkumpulnya para pedagang kaki lima. Kelompok ini juga membentuk grup musik dengan nama Kumbang Cari (Musfeptial 2003:13).

[4] Ibid., halaman 16--19.

[5] Beliau ini termasuk penulis yang aktif, karyanya antara lain adalah Antologi Puisi di West Borneo, Kembara Cinta ini Kuceritakan, diterbitkan di Pontianak pada tahun 2005 oleh Pijar Creativity.

[6] Novel ini bertemakan remaja. Anthony Ventura adalah seorang pengarang pemula yang berasal dari
etnik Cina Pontianak. Beliau lahir di Pontianak, 10 Agustus 1980. Pendidikan terakhir, Sekolah Tinggi Manajemen Ilmu Komputer (STMIK) Pontianak tahun 2002. Novelnya Crazy Campus diterbitkan di Depok, Jakarta oleh penerbit Kata Kita tahun 2005.

[7] Pantun ini penulis kutip melalui kolom Mat Belatong oleh A. Halim R dalam harian Equator, Minggu 30 April 2006.

Sabtu, 13 Desember 2008

Surat Cinta Pembaca Cerdas

Sepekan terakhir, perasaan saya berkecamuk. Itu setelah seorang Pembaca Cerdas berinisial Bis, mampir ke blog saya. Kebetulan selain berkenalan, dia juga mengkritisi tulisan pendek saya tentang Tribun Pontianak yang jadi Trend Setter di Kalbar.

Kritik membangun itu dilontarkan di chatbox, yang noatebene hanya untuk pesan singkat. Jadi, kalau dibaca kurang efektif plus cape. Untuk memudahkan membacanya, sekaligus menjadi bahan diskusi agar lebih mengalir, saya berinisiatif menampilkan surat dari Pembaca Cerdas itu ke dalam naskah yang enak dibaca.


Saya sempat meminta Bis untuk menunjukkan alamat blognya, namun sepertinya, ia keberatan kalau jati dirinya ketahuan. He he he...Sebab, terus terang saya tergelitik juga untuk mencermati dan menanggapinya kritiknya tersebut.

Kalau kemudian, surat tersebut saya tanggapi, itu bukan untuk memojokkan koran tetangga. Hanya mungkin ini gerak replek jika dicolek. Dengan itikad baik dan berharap lahir diskusi cerdas, saya bersabar memindahkan pesan Bis ke dalam naskah yang Enak Dibaca dan Perlu (Lha kok kayak tagline majalah TEMPO?)

Agar mengalir, saya langsung menjawab kritik Bis, yang kemarin belum selesai sepenuhnya. Jika pesan Bis si Pembaca Cerdas dicetak miring, tanggapan saya ditulis biasa. Semoga bermanfaat.

Mas ini dari pembaca Pontianak Post. Kritikan saya tentang tribun jadi trend setter.
Gak juga. Justru Pontianak Post sebagai media pertama dan terutama di Kalbar punya ciri khas berbeda dengan Tribun Pontianak. Pertama dari desain grafis. Grafisnya yang visual communication memudahkan masyarakat untuk cepat menangkap pesan yang diberikan.

- Anda memang Pembaca Cerdas. Saya salut. Bisa menganalisis sampai ke grafis. Saya saja baru tahu ada istilah kaya begituan. Tapi, selama 35 tahun baca Pontianak Post, pernahkah Bis melihat di halaman I Pontianak Post, membuat dan membuat grafis hanya untuk berita orang tertimpa pohon akasia.

Selain itu layoutnya juga rapi dan tepat. Maaf ni, kalo Tribun masih acak-acakan. Kriminal disatuin dengan berita lainnya. Habis itu ya, kita kan di Pontianak harusnya Tribun mencotoh koran lokal yang lebih banyak nunjukin berita lokal.

- Hmmm..soal usulnya mencontoh Pontianak Post atau koran lainnya, pikir-pikir dulu dah. Lagi pula, kalau semua koran segeram eh seragam, apa jadinya?

Kalo berita nasional atau internasional mah udah banyak Mas. Di internet juga banyak yang kayak gituan. Selain itu, kalo di Pontianak Post punya halaman metropolis yang melingkupi kota pontianak.

- Suka buka internet juga yach. Punya blog kagak? minta dong! he he he...kalau semua pembaca seperti Anda, malah gak perlu lagi baca koran. Kan udah ada di internet semua. Persoalannya, berapa banyak sih yang bisa akses internet. Ada kok pembaca yang jangankan internet, komputer aja mereka gak punya..kan tanggungjawab kita mencerdaskan kehidupan bangsa.. he he he. Soal halaman, relatif bos..!

Saran saya sih, kolomnya itu loh yang banyak berpihak ke keturunan non pribumi. Ya aneh juga. Coba dijelaskan, mengapa tidak memakai kolom khusus yang memuat semua kalangan seperti Metropolisnya di Ptk Post. Saya rasa lebih tepat. Tidak memicu konflik sara. Emang semacam membedaka-bedakan. Emang dibayar berapa tu buat halaman itu.

- Bis..coba lebih teliti deh. di Tribun Pontianak cuman ada satu halaman, eh bukan deh, setengah halaman, sisanya iklan. Namanya halaman Seng Hie Life. Pontianak Post Group malah punya, bukan lagi satu halaman, tapi satu koran utuh. Inget gak...nama korannya, Kun Dian Ri Bao! Ayo..bandingin bayarannya? Itupun kalau dibayar he he he.

Apalagi, perkara pengecer Pontianak Post yang nempel dengan pengecer Tribun di awal-awal semua cewek. Ya pastilah wong orang tua juga demen. Apalagi ama yang muda. Apalagi, pengecer Pontianak selalu wellcome dengan kedatangan teman baru.

- Faktanya memang begitukan. Adakah pengecer koran di lampu-lampu merah dan persimpangan jalan sebelum kedatangan Tribun. Kagak ada Bos..soal cewek, itu dia persoalannya. Cewek emang kerap jadi persoalan. Sampai-sampai ada yang istrinya dua atau malah gebet temen sekantor or karyawan sendiri. Busyet...!!

Soal soccernya kembali lagi Pontianak Post lebih menonjolkan olah raga lokal. Ketimbang Tribun lagi-lagi dari luar.

- Usul diterima.

Ada lagi saya dengar2 oplah Tribun sudah sampai 30 ribu eks. Rasanya aneh, Pontianak Post aja yang udah bertahun, saat ini 35 ribu eks. Mana mungkin Tribu dalam jangka waktu sekejap bisa meraup begitu banyak. Apalagi untuk ukuran Kalbar. Bayangkan aja, meskipun harga Pontianak Post Rp 2.500, namun pembeli tetap setia. Karena yang penting kualitasnya. Dan strategi Pontianak Post sangat tepat dengan menurunkan harga Metro yang merupakan salah satu grup Pontianak Post. Jadi, Pontianak Post sebagai leader menurunkan Metro untuk menghadapi Tribun.

- Soal oplah, tanya deh ke Pontianak Post, jangan-jangan oplahnya nggak segitu. Sama seperti anda meragukan oplah Tribun Pontianak, jangan-jangan oplahnya juga gak segitu. Soal strategi penurunan harga Metro Pontianak, yang bener Bis..Metro emang harganya turun, tapi halamannya juga ikut menyusut. Sesuai lah. Sekadar mengingatkan, saya tiga tahun jadi Redaktur Metro, setahun jadi Redaktur Pelaksana. Sejak Oktober 2000, saya sudah jadi reporter di Pontianak Post dan Kapuas Post. Sempet jadi Kepala Biro Sanggau, Singkawang, dan Kabupaten Pontianak.

Dan masih banyak lagi. Sori ya mas. Masih banyak yang perlu dibenahi di Tribun.

- Usul bagus tuh. Sebab, dunia terus berubah. Masyarakat terus berkembang. Bisnis semakin ketat. Bunuh diri kalau gak berbenah. Tentu saja berbenah dengan perubahan yang untuk menjadi yang Berbeda dan Lebih Baik. Doain yang Bis, semoga Tribun Pontianak juga punya pembaca setia seperti Bis yang 35 tahun setia ama Pontianak Post.

Sy bukan wartawan Mas. Sy hnya org biasa aja. tp, maaf ni saya lihat Tribun Pontianak tidak menunjukkan ciri sebagai grupnya Kompas.

- Awalnya, Bis saya kira teman saya di kantor yang lama. Saya kenal betul pikiran-pikiran seperti itu lahir dari kepala siapa. Soal pencerminan...coba Bis bercermin di rumah. Apakah wajah, perilaku, dan fostur tubuh Bis mencerminkan wajah, perilaku, dan fostur tubuh dari ayah atau ibu Bis?

Singkat amat penjelasannya. Ya sudah gak perlu dijawab. saya sudah tau jawabannya.

- Itu kenapa Bis saya analogikan dengan Pembaca Cerdas. Hanya dengan penjelasan singkat, Bis sudah tahu jawabannya. Luar biasa..!Tapi, benarkan bukan teman saya di kantor yang lama.. he he he..?

Jumat, 12 Desember 2008

Robo-robo, Media Unifikasi Etnis

SEPERTI tahun lalu, pusat perayaan robo-robo kali ini dipusatkan didua lokasi. Masing-masing di Mempawah Hilir dan Kuala Sungai Kakap. Secara ritual memang tidak ada yang berubah, namun prestisenya telah mengalami pergeseran.

Dulu, upacara yang dimaksudkan untuk memperingati kedatangan Ompu Daeng Manambon di Kuala Mempawah untuk pertama kalinya ini, eksklusif bagi etnis Melayu dan Bugis.

Kini, selaras dengan perubahan tata nilai yang tak terbendung demarkasi SARA, robo-robo menjelma jadi kebanggaan etnis-etnis yang ada di daerah ini. Setidaknya deskripsi seperti itulah yang terlihat dari perayaan robo-robo di Kuala Sungai Kakap, Rabu (23/5). Sepuluh ribu lebih pengunjung dari berbagai etnis, berbaur menanggalkan baju pluralitas larut dalam estetis dan eksotika robo-robo.

"Kami tidak melihat lagi, tradisi ini mutlak milik etnis Bugis dan Melayu. Tetapi muncul kesepakatan, robo-robo milik semua etnis, khususnya yang ada di Sungai Kakap," kata ketua panitia robo-robo, Bachtiar S Sos menjawab AP Post, kemarin. Dijelaskannya, masyarakat Sungai Kakap ingin menunjukkan kepada semua pihak kalau mereka mampu hidup berdampingan dengan baik.

Masyarakat Sungai Kakap akan tetap bersatu dalam keadaan apapun. Karenanya tidak mengherankan jika dalam perayaan robo-robo kali ini, semua etnis dengan pakaian tradisionalnya masing-masing ikut meramaikan perhelatan ini.

Diceritakannya juga, robo-robo kali ini, sedikit berbeda dari perayaan sebelumnya. Jika tahun lalu robo-robo dilaksanakan di darat, kini dilaksanakan di laut. Tidak hanya itu, kali ini robo-robo dijadikan satu paket dengan upacara Sedekah Laut."Paket ini kami kemas dengan harapan, bisa lebih memberikan daya tarik. Sehingga kedepan robo-robo akan jadi aset wisata yang berharga," ujar Sekretaris Camat Sungai Kakap ini.

Langkah ini terbukti efektif. Walaupun belum banyak investor yang tertarik, namun setidaknya pada perayaan kali ini, ada beberapa agen perjalanan wisata yang telah melihat dari dekat potensi robo-robo. Langkah ini juga sejalan dengan keinginan Kabupaten Pontianak, yang akan menjadikan Kecamatan Sungai Kakap sebagai pusat wisata daerah. kini telah tersedia satu kawasan Agrowisata di Pal IX.

"Melihat antusiasme warga, nampaknya obsesi itu bukan tanpa alasan. Tanpa diundangpun warga spontan datang ke Sungai Kakap," tambah Camat Sungai Kakap, Drs Syafrudin. Namun ia juga menyayangkan, sebab selama ini pemerintah kurang bisa melihat potensi wisata ini. Buktinya pendanaan sebesar Rp 9 juta, dalam pelaksanaan robo-robo kali ini, semuanya murni hasil swadaya masyarakat.

Mestinya kata dia, dinas Pariwisata memiliki strategi untuk memperkenalkan tradisi ini kepada masyarakat. Baik lokal maupun mancanegara. Sebab kemampuan masyarakat sebagai pelaksana sangat terbatas. Jika robo-robo berhasil menarik perhatian turis, diharapkan masyarakat sekitarnya akan mendapatkan keuntungan. Terutama yang berkaitan dengan pendapatan dan perekonomiannya. Sebab dalam ajang tersebut masyarakat bisa menawarkan jasa. Baik untuk penginapan maupun dengan menjual aneka kerajinan tangan.

Sementara itu, robo-robo dilaksanakan setiap hari Rabu akhir bulan Sapar. Perayaannya spontanitas dilakukan oleh masyarakat. Prosesi robo-robo itu sendiri dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga 16.00, untuk memanjatkan doa selamat dan tolakbala. Tujuannya agar masyarakat diberikan keselamatan dan dijauhkan dari malapetaka.

Sedekah laut ditandai dengan melarung empat buah Ancak (sesajian) kelautan. Pelepasan itu dilakukan langsung oleh Pawang Laut. Konon, ancak dilarung ke laut lepas, sekitar tiga mil jauhnya dari pantai. Ancak tersebut sebagai tanda ucapan terimakasih atas karunia Tuhan YME kepada warga Sungai Kakap. pelarungan itu sendiri dikawal oleh beberapa buah sampan yang dihiasi dengan indahnya.(hasyim ashari).

Ketika tulisan ini saya buat, saya belum genap setahun sebagai reporter Pontianak Post. Masih belajar nulis...Dimuat tanggal 24 Mei 2001.
Melihat naskah aslinya klik:http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Kota&id=2867