Jumat, 13 Februari 2009

Jujur Saya Gamang


Pekerjaan jurnalis adalah menulis. Apa jadinya kalau seorang jurnalis “kehilangan” pekerjaan sementara dia masih aktif di penerbitan surat kabar. Situasi itu, kini saya hadapi. Jujur, sudah sekitar 5 tahun ini saya gamang. Ketika, posisi redaktur dipercayakan kepada saya.

Kini, sudah mulai terasa banyak keterampilan saya yang hilang perlahan. Sebut saja, saat mengetik saya tidak piawai lagi menggunakan sepuluh jari seperti dulu. Sebab saya hanya mengedit tulisan reporter. Itu artinya hanya dua atau beberapa huruf yang kerap saya tekan.

Ketajaman naluri dalam membaca persoalan di masyarakat dan menggiring problem solutif juga mulai tumpul. Semua terlihat biasa dan bukan berita. Sementara saya rindu bercengkrama dengan nara sumber yang pernah saya akrabi dulu.

Atau setidaknya bertemu dengan para nara sumber baru. Karena dari mereka saya mendapat segudang pelajaran berarti. Tentu saja tentang banyak hal seperti pekerjaan sebagai jurnalis yang menuntut tahu ini dan itu.

Saya pernah mengalihkan kerinduan menulis berita dengan menggarap beberapa cerita pendek. Awalnya sedikit terobati. Namun, kepuasannya tetap saja berbeda. Cerita pendek adalah ceita pendek. Menulis berita adalah menulis berita.

Saya mulai beripikir, apakah fase ini yang ditakuti rekan-rekan jurnalis senior yang pernah saya dengar. Bahwa penyakit wartawan adalah merasa mapan. Jangan cepat menjadi mapan kalau ingin menjadi wartawan berkualitas. Sebab penyakit mapan adalah kanker yang menempelkan rasa sakit di mana-mana.

Kalau menjalar di tubuh, penyakit malas sudah pasti. Kalau merambat ke otak, akan malas berpikir dan menganalisis. Bila lari ke hati, ia menjadi malas bertindak, beranjak, dan bekerja. Tiba-tiba, tubuh merasa berat meski sekadar membaca hal-hal ringan. Apalagi menghadapi layar komputer untuk menulis.

Saat ini, banyak jurnalis yang cepat merasa mapan. Mereka merasa sebagai penguasa di posisi tertentu dan merasa yang paling tahu segalanya. Akibatnya, ia kerap mengabaikan pendapat orang lain. Terutama rekan-rekan yang dipercaya menjabat sebagai redaktur, koordinator liputan, redaktur pelaksana, atau manajer produksi.

Jujur, jabatan-jabatan struktural itu benar-benar memabukkan. Apalagi jabatan itu dibarengi dengan segala hal fasilitas. Kemudian kita merasa cukup. Merasa hebat sudah jadi redaktur, jadi koordinator liputan, jadi ini dan itu.

Padahal, jabatan-jabatan itu membatasi ruang gerak penulisan. Kalau pun ada, hanya sekadar editing, entah kata atau kalimat kah. Pada judul, pada lead, atau pada tata wajah kah. Paling banter merencanakan liputan, mengevaluasi, sekaligus menyajikan dalam bentuk produk penulisan. Eksekusi, lagi-lagi itu urusan reporter!

Ketika masuk jabatan struktural, memang yang dibutuhkan lebih banyak kemampuan analisis ketimbang teknis. Lebih sering bergelut dengan konsep manajerial ketimbang operasional. Begitu kata teori manajemen yang pernah saya pelajari.

Sehingga, sejumlah rekan-rekan, termasuk saya, tidak menyadari kalau jabatan-jabatan tersebut bisa sangat mematikan. Bayangkan saja, sampai ada ungkapan “Untuk apa ke lapangan, kan sudah ada reporter.” Dan sepertinya, tugas sebagai seorang jurnalis selesai.

Padahal, sejatinya sikap tersebut, terutama sikap merasa mapan, dihindari. Sebab, dalam dunia jurnalistik tidak ada karya master piece. Semua karya adalah in the making. Artinya, apapun jabatannya, kalau memang ia merasa sebagai jurnalis, ia harus turun ke lapangan. Tidak sekadar merekam persitiwa, namun juga menciptakan berita-berita.

Buat rekan-rekan yang merasa puas, bersiaplah. Untuk mereka yang tidak resah karena tidak menulis, waspadalah. Sebab tidak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Bukankah kebanggaan seorang jurnalis adalah ketika orang lain mengakui kualitas karya tulisannya? Apa yang bisa dibanggakan la wong menulis saja tidak?

4 komentar:

Pujangga78 mengatakan...

Jujur, saya juga gamang membaca tulisan ini. Ada keresahan, tapi sebagai pemanisnya, foto saya yang memang ganteng dipasang. Kayaknya, rada-rada "jaka sembung bawa golok deh" antara tulisan dan ilustrasinya, hehe. Oh ya soal kemapanan, jujur kacang ijo saja, kami para jurnalis di lapangan kerap "sengsara" dengan ulah redaktur. Kata itu mungkin terlalu mombastis, tapi tak apalah. Contoh kasus, ketika redaktur "menggoreng" berita yang kami buat, tak jarang maknanya jadi melenceng. Ndi lalah, para narasumber dan pembaca yang memang awam dunia jurnalistik, serta merka mendakwa bahwa kesalahan di pihak jurnalis. Sedih kan? Solusi, jelas ada. Di antaranya, jangan memaksakan suatu berita dijadikan sebagai bom, kalau kenyataannya hanya berupa granat, apalagi sekadar mercon. Selain itu, redaktur jangan "sotoy", agar beritanya tidak berubah jadi "panggang yang jauh dari api", atau "jaka sembung bawa golog". Tau sotoy, kan? Itu lho, sotoy ayam, sotoy sapi, hehe. Pendek kata, kita harus jujur. Ya, jujur kacang ijo, jujur pedas, jujur bengkuang, dan jujur-jujur yang lain.

Salam,
jurnalis ganteng

gila^ontel mengatakan...

he he he..karena itu saya pilih ente tuk jadi ilustrasi...MS Kaban gitu loh!
bukan cuman sedih...saya akan merasa sangat bersalah kalau kemudian berita yang di tulis wartawan dikomplain orang karena tidak sesuai informasi yang di peroleh di lapangan. Baik itu dari sumber primer maupun sekunder.
Rasa bersalah itu, ternyata belum sebanding dengan rasa malu wartawan, yang sangat mungkin berujung pada ketidakpercayaan nara sumbernya. Padahal, kesalahan itu, sekali lagi karena kekhilafan sang redaktur sebagai editor...
pada titik itu, sejatinya sang editor meminta maaf dan meluruskan kesalahannya...
Jangan malu mengaku bersalah kepada siapapun, termasuk kepada wartawan sendiri...
semoga!

Ririn.Syaefuddin mengatakan...

Hallo, abang cadel...memang benar adanya profesi kejurnalistikan yang tidak lepas dari pencarian informasi yang diolah menjadi sebuah berita menjadi hal yang dirindukan...setidaknya begitulah kesan saya setelah sekian lama meninggalkan dunia ini...walaupun mas Ahmad Dhani rada-rada kesel ama kesengsaraannya menghadapi redaktur...tapi kok kenapa yah, saya sangat mengangenkan 'kesengsaraan itu'...kangen ama suasana penggorengan yang panas akibat berita yang kadang terkesan dipaksakan...kenapa saya jadi kangen suasana ketika berita yang ditulis di baca oleh masyarakat dan menjadi informasi berarti bagi mereka...
hehehhehe...btw, yang di tujukan foto ditulisan bang hasyim Pujangganya ataukah MS Kabannya???

Muhlis Suhaeri mengatakan...

Salam,

Saya rasa kita tidak perlu gamang. Karena memang, kerja jurnalistik bukan kerjaan struktural, apalagi kerja karir. Kalaupun ada struktur, itu hanyalah sebuah mekanisme untuk memperlancar, kerja-kerja teknis dan perencanaan.

Jurnalis sejati selalu berada di lapangan. Bahkan, ketika dia sudah menjadi seorang Redaktur, Redpel, atau Pemred sekalipun. Sebab, di lapangan itulah, segala informasi, observasi, dan analisis bisa didapatkan, dari sebuah peristiwa yang terjadi.

Sayangnya, tradisi kerja di bidang jurnalistik memang belum sepenuhnya mengarah ke sana. Sehingga kerja jurnalistik hanya dianggap sebagai kerja kantoran. Karenanya, ketika posisinya naik, ada karir yang didapat, lengkaplah sudah pencapaian yang dilakukan. Untuk kegiatan menulis atau lainnya, bukan urusan lagi.

Ketika mencari lapangan kerja dianggap sulit, dan yang ada peluang di bidang jurnalistik, maka kecenderungan seperti itu, akan muncul. Tapi, bila orang itu memang mencintai sepenuhnya bidang jurnalistik, kapanpun dia akan selalu turun ke lapangan dan menghasilkan sebuah tulisan. Apapun jabatan yang dia miliki.

Karena, ini adalah wilayah "pengabdian" bagi orang-orang yang selalu ingin berbagi pada sesama, dan berani menentang berbagai macam ketidakadilan dan kezaliman.

Aluta Continua. Hasta la Victoria Siempre.....

Muhlis Suhaeri
www.muhlissuhaeri.blogspot.com