Senin, 23 Mei 2011

Semangat Kekeluargaan Black Jack


KOMUNITAS Black Jack Motoriders (BJM) Pontianak terbentuk tanpa disengaja. Berawal dari sekadar kumpul-kumpul karena memiliki kesamaan hobi dengan motor klasik. Semakin lama pertemuan dilakukan intens sejak 1996.

Pada 6 Juni 2006 tercetuslah nama klub. Daud Hariyanto, yang merupakan satu di antara pendiri, mengaku Black Jack sebagai wadah bagi para pencinta, pengguna, dan penggemar motor klasik chopper.

Aliran motor chopper dapat dilihat dari ciri-ciri yang ada, seperti model tangki yang dibikin lebih kecil dari aslinya dan juga pemotongan rangka yang dilakukan untuk membuat tampilan menjadi simpel.

"Awalnya kami hanya kumpul-kumpul beberapa orang, namun seiring berjalannya waktu kami merasa ada persamaan hobi maka kami bentuk Black Jack. Lagipula di sini kami seperti keluarga, punya hobi serta motor yang sama," ucapnya pada Tribun, Rabu (18/5).

Kini anggota Black Jack Pontianak mencapai 30 orang dan sudah ada dua chapter di Landak serta Sanggau yang masing-masing 20-an anggota.

"Kalau anggota kadang ada yang aktif, kadang juga tidak itupun tergantung. Tapi kami biasa tetap ketemu dan silaturahmi. Misalnya kalau mau mengadakan touring," tambahnya.

Ia menambahkan jika komunitasnya tidak menutup kemungkinan untuk orang yang tidak memiliki motor tersebut untuk kumpul bareng, selama orang tersebut nyaman.

"Siapapun boleh menjadi anggota kami, kami membuka untuk umum. Karena kami ingin menjalin persaudaraan dan menyalurkan hobi di dunia otomotif saja," tutur PNS Kota Pontianak ini.

Keberagaman profesi dan background malah membuat mereka semakin merasa adanya ikatan kekeluargaan yangs angat erat. Karena di komunitas ini bukan hanya mahasiswa tapi juga pegawai swasta maupun pegawai negeri.

"Kalau kumpul-kumpul biasanya ngobrol tentang motor, pakai aksesori apa dan curhat-curhatan. Tampang kami aja yang begini, tapi kami bukan geng motor yang berandal atau suka buat keributan. Malah kalau ngumpul kami suka bercanda," ungkap Bendahara Black Jack, Susi.

Setiap Sabtu dan Minggu malam, anggota Black Jack kumpul bareng di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jl Ahmad Yani Pontianak, Kalbar. Kumpul sesama penggemar motor adalah hal mengasyikkan.

Hal tersebut dirasakan Erwin dan Sean Black Jack. Seperti touring dan kumpul menggunakan motor chopper bersama anak-anak BJ lainnya, sudah menjadi bagian dari aktivitas yang menyenangkan.

"Di sini semua aliran ada, punk, rock, dan berbagai profesi. Tapi kami disatukan oleh hobi dan motor yang sama. Apalagi di sini mengutamakan nilai kekerabatan. Biasanya saling bantu kalau teman kita butuh sesuatu untuk motornya. Terlebih kalau sudah touring, ada kepuasan tersendiri bagi kami dan bisa terlena. Juga ngilangin stres," ujar Erwin.

Meski mereka klub motor dan mungkin ada sebagian masyarakat melihat tampang mereka akan merasa takut atau was-was. Tapi tidak sedikit juga yang menyukai gaya mereka, bahkan sampai mengacungkan jempol ketika parade iring-iringan chopper melintasi daerah mereka.

"Kalau kami touring ke daerah, banyak yang lihat tuh. sampai-sampai ada yang ngacungin jempol. Enggak tahu juga sih maksudnya. Tapi artinya bagus aja kan?" tambah Erwin.

Daud mengatakan, anggota komunitas BJ ini memang egois. Artinya karena bentuk motor yang hanya memiliki single jok, jadinya kalau mau masuk anggota harus punya motor. Karena bila tidak, motor chopper tidak ada boncengannya.

"Motor kita memang motor egois. Tapi kami tetaplah kami. Biasa saja, apa adanya. Bahkan waktu itu para sarjana dari Fakultas Teknik, minta kita yang mengarak mereka saat acara wisuda," kata Daud lalu dibenarkan rekan-rekan lainnya.

Dalam menjalankan kegiatan komunitas, para anggota BJ memang diikat dengan peraturan wajib yang harus dipatuhi olah anggota tanpa terkecuali. Di antaranya wajib bayar iuran Rp 10 ribu per bulan, dilihat keaktifan anggota, memakai baju kebesaran BJ saat berkumpul atau touring.

"Kalau mau gabung, calon anggota isi formulir dan bayar administrasi Rp 10 ribu serta dilihat dulu keaktifannya selama tiga bulan, dan pastinya punya motor chopper. Datang aja ke sekretariat kami di bengkel Black Jack Jl RE Martadinata nomor 3 Pontianak", ucap Susi, pemilik Thunder modif keluaran 2005. (pontiana banjaria)

Bukan Club Berbahaya

Berbekal mesin besar, knalpot freeflow dengan suara mesin knalpot menggelegar, suspensi rigid membuat sepeda motor chopper menarik perhatian di keramaian. Para pemilik chopper yang kumpul, sekilas mirip dengan pengendara Harley Davidson.

Gaya retro dengan dandanan simpel bahkan sampai tangki sepeda motor super kecil dengan setang super tinggi dan ban rendah menjadi keunikan anak-anak Black Jack.

"Kalau dilihat dari standar motor, memang kami tidak lengkap. Kalau ada razia, ya kita enggak lewat lokasi pemeriksaan. Lagipula motor ini tidak kita pakai sehari-hari. Hanya saat kumpul dan touring aja," Jelas Daud.

Anggapan kalau anak geng itu berbahaya sudah mereka sadari. Namun untuk membuang image atau persepsi tersebut, mereka banyak melakukan kegiatan sosial. "Setiap touring kita ada misi baksos. Kalau nongkrong pun kami tidak macam-macamlah. Kita juga patuhi aturan lalu lintas kalau di jalan," tambah Erwin, Susi dan Sean.

Dengan kegiatan-kegiatan ini, mungkin saja predikat negatif yang di kenal oleh masyarakat luas tentang geng akan berubah derastis menjadi positif. Lagipula tentu tidak ada ruginya melakukan aneka gerakan sosial.

Pada 6 Juni mendatang, BJ Pontianak akan berulang tahun ke-5. Mereka berencana mengadakan touring ke Sintang pada 25 Juni 2011. Dengan dua chapter di Landak dan Sanggau. "Selain touring, kita juga silaturahmi sama anak-anak di daerah karena mereka masih baru terbentuk. Sekalian baksos dan hiburanlah," ucap Daud. (pab)

Pak Ketua Kerap Ajak Anak Istri

Hobi mengoleksi dan mengendarai motor chopper sudah menjadi bagian hidup Daud Haryanto. Pria kelahiran 36 tahun silam ini memang tidak bisa dilepaskan dari tunggangan klasiknya itu.

"Sudah hobi dari dulu sih, jadi enggak bisa dihilangkan. Lagian asyik aja bisa ketemu teman- teman yang punya hobi sama," katanya pada Tribun, Rabu (18/5).

Terkadang saat kumpul atau nongkrong bareng di base camp mereka atau di sekitar Bundaran Untan (tugu Digulis), Daud juga membawa serta anak dan istrinya. Hal itu dilakukannya agar mereka mengetahui dirinya yang tampil apa adanya bersama teman klubnya.

"Biasa juga saya ajak anak dan istri. Tapi tidak satu motor, karena joknya untuk single. Mereka pakai motor lain. Inilah kekeluargaan yang kita bina, anggota juga bisa membawa keluarga atau pacar mereka saat kita kumpul," tambah pemilik Custom Rigid Chopper ini.

Sementara itu, mengenai klub, dirinya yang sudah menyatu dengan teman-temannya, menginginkan agar klub yang dibentuk bisa terus eksis dan tetap mengikat tali kekeluargaan yang baik.

"Pengennya Black jack tetap ada, eksis, dan besar. Bukan hanya di Pontianak tapi juga di daerah lain. Itu yang penting. Juga kami pengen kita bisa ngadain baksos dengan klub motor lain di sini," harapnya.

Namun disadarinya agar club tetap bisa eksis perlu keterlibatan dan rasa persaudaraan sesama anggota juga adanya dana untuk melakukan kegiatan, contohnya touring dan bakti sosial (baksos).

"Uang iuran itulah yang kita gunakan untuk kegiatan BJ. Memang kadang, kalau mau touring ke luar atau baksos, kita perlu dana cukup besar. Tapi, kalau sudah hobi dan rasa kebersamaan, masalah itu bisa kita atasi," pungkasnya. (pontiana banjaria)

Semangat Kekeluargaan Black Jack

Komunitas Black Jack Motoriders (BJM) Pontianak terbentuk tanpa disengaja. Berawal dari sekadar kumpul-kumpul karena memiliki kesamaan hobi dengan motor klasik. Semakin lama pertemuan dilakukan intens sejak 1996.

Pada 6 Juni 2006 tercetuslah nama klub. Daud Hariyanto, yang merupakan satu di antara pendiri, mengaku Black Jack sebagai wadah bagi para pencinta, pengguna, dan penggemar motor klasik chopper.

Aliran motor chopper dapat dilihat dari ciri-ciri yang ada, seperti model tangki yang dibikin lebih kecil dari aslinya dan juga pemotongan rangka yang dilakukan untuk membuat tampilan menjadi simpel.

"Awalnya kami hanya kumpul-kumpul beberapa orang, namun seiring berjalannya waktu kami merasa ada persamaan hobi maka kami bentuk Black Jack. Lagipula di sini kami seperti keluarga, punya hobi serta motor yang sama," ucapnya pada Tribun, Rabu (18/5).

Kini anggota Black Jack Pontianak mencapai 30 orang dan sudah ada dua chapter di Landak serta Sanggau yang masing-masing 20-an anggota.

"Kalau anggota kadang ada yang aktif, kadang juga tidak itupun tergantung. Tapi kami biasa tetap ketemu dan silaturahmi. Misalnya kalau mau mengadakan touring," tambahnya.

Ia menambahkan jika komunitasnya tidak menutup kemungkinan untuk orang yang tidak memiliki motor tersebut untuk kumpul bareng, selama orang tersebut nyaman.

"Siapapun boleh menjadi anggota kami, kami membuka untuk umum. Karena kami ingin menjalin persaudaraan dan menyalurkan hobi di dunia otomotif saja," tutur PNS Kota Pontianak ini.

Keberagaman profesi dan background malah membuat mereka semakin merasa adanya ikatan kekeluargaan yangs angat erat. Karena di komunitas ini bukan hanya mahasiswa tapi juga pegawai swasta maupun pegawai negeri.

"Kalau kumpul-kumpul biasanya ngobrol tentang motor, pakai aksesori apa dan curhat-curhatan. Tampang kami aja yang begini, tapi kami bukan geng motor yang berandal atau suka buat keributan. Malah kalau ngumpul kami suka bercanda," ungkap Bendahara Black Jack, Susi.

Setiap Sabtu dan Minggu malam, anggota Black Jack kumpul bareng di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jl Ahmad Yani Pontianak, Kalbar. Kumpul sesama penggemar motor adalah hal mengasyikkan.

Hal tersebut dirasakan Erwin dan Sean Black Jack. Seperti touring dan kumpul menggunakan motor chopper bersama anak-anak BJ lainnya, sudah menjadi bagian dari aktivitas yang menyenangkan.

"Di sini semua aliran ada, punk, rock, dan berbagai profesi. Tapi kami disatukan oleh hobi dan motor yang sama. Apalagi di sini mengutamakan nilai kekerabatan. Biasanya saling bantu kalau teman kita butuh sesuatu untuk motornya. Terlebih kalau sudah touring, ada kepuasan tersendiri bagi kami dan bisa terlena. Juga ngilangin stres," ujar Erwin.

Meski mereka klub motor dan mungkin ada sebagian masyarakat melihat tampang mereka akan merasa takut atau was-was. Tapi tidak sedikit juga yang menyukai gaya mereka, bahkan sampai mengacungkan jempol ketika parade iring-iringan chopper melintasi daerah mereka.

"Kalau kami touring ke daerah, banyak yang lihat tuh. sampai-sampai ada yang ngacungin jempol. Enggak tahu juga sih maksudnya. Tapi artinya bagus aja kan?" tambah Erwin.

Daud mengatakan, anggota komunitas BJ ini memang egois. Artinya karena bentuk motor yang hanya memiliki single jok, jadinya kalau mau masuk anggota harus punya motor. Karena bila tidak, motor chopper tidak ada boncengannya.

"Motor kita memang motor egois. Tapi kami tetaplah kami. Biasa saja, apa adanya. Bahkan waktu itu para sarjana dari Fakultas Teknik, minta kita yang mengarak mereka saat acara wisuda," kata Daud lalu dibenarkan rekan-rekan lainnya.

Dalam menjalankan kegiatan komunitas, para anggota BJ memang diikat dengan peraturan wajib yang harus dipatuhi olah anggota tanpa terkecuali. Di antaranya wajib bayar iuran Rp 10 ribu per bulan, dilihat keaktifan anggota, memakai baju kebesaran BJ saat berkumpul atau touring.

"Kalau mau gabung, calon anggota isi formulir dan bayar administrasi Rp 10 ribu serta dilihat dulu keaktifannya selama tiga bulan, dan pastinya punya motor chopper. Datang aja ke sekretariat kami di bengkel Black Jack Jl RE Martadinata nomor 3 Pontianak", ucap Susi, pemilik Thunder modif keluaran 2005. (pontiana banjaria)

Bukan Club Berbahaya

Berbekal mesin besar, knalpot freeflow dengan suara mesin knalpot menggelegar, suspensi rigid membuat sepeda motor chopper menarik perhatian di keramaian. Para pemilik chopper yang kumpul, sekilas mirip dengan pengendara Harley Davidson.

Gaya retro dengan dandanan simpel bahkan sampai tangki sepeda motor super kecil dengan setang super tinggi dan ban rendah menjadi keunikan anak-anak Black Jack.

"Kalau dilihat dari standar motor, memang kami tidak lengkap. Kalau ada razia, ya kita enggak lewat lokasi pemeriksaan. Lagipula motor ini tidak kita pakai sehari-hari. Hanya saat kumpul dan touring aja," Jelas Daud.

Anggapan kalau anak geng itu berbahaya sudah mereka sadari. Namun untuk membuang image atau persepsi tersebut, mereka banyak melakukan kegiatan sosial. "Setiap touring kita ada misi baksos. Kalau nongkrong pun kami tidak macam-macamlah. Kita juga patuhi aturan lalu lintas kalau di jalan," tambah Erwin, Susi dan Sean.

Dengan kegiatan-kegiatan ini, mungkin saja predikat negatif yang di kenal oleh masyarakat luas tentang geng akan berubah derastis menjadi positif. Lagipula tentu tidak ada ruginya melakukan aneka gerakan sosial.

Pada 6 Juni mendatang, BJ Pontianak akan berulang tahun ke-5. Mereka berencana mengadakan touring ke Sintang pada 25 Juni 2011. Dengan dua chapter di Landak dan Sanggau. "Selain touring, kita juga silaturahmi sama anak-anak di daerah karena mereka masih baru terbentuk. Sekalian baksos dan hiburanlah," ucap Daud. (pab)

Pak Ketua Kerap Ajak Anak Istri

Hobi mengoleksi dan mengendarai motor chopper sudah menjadi bagian hidup Daud Haryanto. Pria kelahiran 36 tahun silam ini memang tidak bisa dilepaskan dari tunggangan klasiknya itu.

"Sudah hobi dari dulu sih, jadi enggak bisa dihilangkan. Lagian asyik aja bisa ketemu teman- teman yang punya hobi sama," katanya pada Tribun, Rabu (18/5).

Terkadang saat kumpul atau nongkrong bareng di base camp mereka atau di sekitar Bundaran Untan (tugu Digulis), Daud juga membawa serta anak dan istrinya. Hal itu dilakukannya agar mereka mengetahui dirinya yang tampil apa adanya bersama teman klubnya.

"Biasa juga saya ajak anak dan istri. Tapi tidak satu motor, karena joknya untuk single. Mereka pakai motor lain. Inilah kekeluargaan yang kita bina, anggota juga bisa membawa keluarga atau pacar mereka saat kita kumpul," tambah pemilik Custom Rigid Chopper ini.

Sementara itu, mengenai klub, dirinya yang sudah menyatu dengan teman-temannya, menginginkan agar klub yang dibentuk bisa terus eksis dan tetap mengikat tali kekeluargaan yang baik.

"Pengennya Black jack tetap ada, eksis, dan besar. Bukan hanya di Pontianak tapi juga di daerah lain. Itu yang penting. Juga kami pengen kita bisa ngadain baksos dengan klub motor lain di sini," harapnya.

Namun disadarinya agar club tetap bisa eksis perlu keterlibatan dan rasa persaudaraan sesama anggota juga adanya dana untuk melakukan kegiatan, contohnya touring dan bakti sosial (baksos).

"Uang iuran itulah yang kita gunakan untuk kegiatan BJ. Memang kadang, kalau mau touring ke luar atau baksos, kita perlu dana cukup besar. Tapi, kalau sudah hobi dan rasa kebersamaan, masalah itu bisa kita atasi," pungkasnya. (pontiana banjaria)

4 komentar:

chairul fachrozi mengatakan...

wah respect deh untuk black jack.salut..halaman facebook ada gak bang?

gila^ontel mengatakan...

ada bro..tinggal ketik aja black jack...mudah-mudhan ketemu hehehe...main mainlah ke Jl Marta DInata...ada temen temen di sana. Bnegkel Chika Motor

Aan Doank mengatakan...

Bengkel copper juga ya bos

tandra julius mengatakan...

Bang saye dari sma pengen gabung same blackjack tapi ape bise cuman dengan chopper ubahan dari gl100?