Selasa, 29 Juli 2008

Jalan Panjang Sebelum Resign..!

Setelah delapan tahun berkarya dan bekerja di Pontianak Post Group, aku memutuskan resign atau mengundurkan diri. Ternyata, bukan perkara mudah untuk mengakhiri sebuah jalan panjang yang telah dirintis sejak awal. Berbagai pertimbangan jadi indikator penguatan argumentasi. Sampai setidaknya ada sesuatu yang reasonable untuk menyakinkan diri sendiri.

Yang paling menakutkan adalah di tempat yang baru belum tentu diterima. Sementara di tempat kerja lama telah mengundurkan diri. Ketakutan itu ahirnya luruh berbarengan dengan dukungan istri yang mengalir bak air bah. Belum lagi rekan-rekan dekat yang memberikan support bertubi-tubi menguatkan niat. Tanggal 15 April 2008, aku resmi meninggalkan Graha Pena, kantor mewah bertingkat enam di Jl Gajahmada nomor 2-4, Pontianak.

Ada banyak kenangan di kantor media milik Pontianak Post Group itu. Oktober 2000 saat aku menginjakkan kaki pertama kali, kantor tersebut hanya memiliki tiga lantai. Lantai dasar untuk percetakan, lantai II untuk bagiam umum, pemasaran dan iklan, dan lantai III untuk redaksi. Waktu itu, ada sebelas calon wartawan yang diterima, setelah melalui seleksi ketat, termasuk aku.

Lantai III, tepatnya di ruang perpustakaan adalah tempat pavoritku. Ruangan berukuran 2X3 meter itu menjadi satu dengan ruang rapat. Hanya ada sekat kaca hitan gelap yang membatasinya. Usai liputan, baik itu siang atau malam, kecuali Yanti, kami jarang pulang.

Hampir tiap malam tidur di ruangan tersebut. Pernah aku meliput kebakaran di Kuala Dua, Rasau Jaya, pukul 02.50 WIB. Selesai liputan nyaris subuh. Aku tidur di ruang perpustakaan. Karena kecapean, aku baru bangun pukul 10.00. Saat membuka mata, ternyata semua manajer sedang ada rapat.

Karena sering sampai larut di kantor, aku kerap dimintai mengoreksi hasil layout. Kalau-kalau ada yang salah ketik. Saat itu, Oktober 2000 aku masih berstatus mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura. Senang rasanya, bisa kuliah sambil bekerja.

Begini rupanya hidup mandiri. Punya penghasilan dan kita memiliki kendali atas diri sendiri. Gaji pertama yang kuterima saat itu, Rp 350 ribu per bulan. Tapi itu sudah membuatku bangga. Karena seumur hidup aku belum pernah menerima gaji. Saat itu handphone tidak seperti sekarang, masih mahal. Harganya tak terjangkau oleh karyawan kontrak sepertiku, seperti kami.

Aku ingat benar handphone yang dikapai oleh Pemred Nokia 3210. Beberapa redaktur pakai Sony Ercison T100. Kantor kemudian membekali kami dengan pager. Wah senang benar rasanya menerima alat komunikasi “canggih” tersebut. Kalau sudah berbunyi..titit..titit…titit, rasanya jadi seperti orang penting. Kami sering merekayasa pesan pada pager agar berbunyi di tengah keramaian. Biar gaya kelihatan punya pager.

Setahun kemudian, aku membeli Sony Ericson T100 seharga Rp 500 ribu. Tentu saja dengan kartu Perdana Simpati 08125729510 seharga Rp 350 ribu. Cukup lama aku memakai T100 sebelum kemudian beralih Nokia 3315, Siemen M35, Nokia 6210, Frend, dan saat ini Nokia 9500 Komunikator.

Awal-awal liputan, aku ditempatkan di desk kota. Kantor Wali Kota Pontianak, dinas dan kantor jadi tempat nongkrong. Di sana aku bertemu dengan Nur Iskandar, yang kini jadi Pemred Borneo Tribune. Aku juga bertemu dengan Safariah yang sekarang menjadi jurnalis Pantau, atau Nurul Hayat yang kini dipercaya sebagai Kepala Biro Antara Kalbar.

Belum apa-apa aku sudah dikenal Wali Kota Pontianak, Buchary A Rahman. Gara-garanya, aku mengutip pantun yang disampaikan dr spesialis kullit dan kelamin itu yang berbunyi “ Ikan Kakap, Ikan Bawal. Banyak Cakap, Banyak Bual.” Aku mengutip pantun itu saat Buchary menyampaikan amanat sekaligus sindiran terhadap kinerja beberapa stafnya yang hanya bisa ngomong tapi tidak ada bukti fisik pekerjaannya.

Saat itu acaranya digelar di SMP Negeri 1 Pontianak, Jl Jenderal Urip. Usai melontarkan pantun, aku meninggalkan acara. Karena, ada kebarakan hebat di Jalan Merdeka Timur.

Di koran aku menulis tentang pantun tersebut, untuk mengisi kolom sosok. Judulnya, Ikan Kakap, Ikan Bawal. Sejak saat itu, dimana-mana setiap ada kesempatan, Buchary selalu berpantun ria. Dia bilang, “Saya hanya bicara sedikit. Rupanya, pantun saya dipakai dimana-mana. Siapa itu wartawannnya,” kata dia. Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi dan dia tertawa begitu melihatku.

Enam bulan kemudian, aku diminta memperkuat desk kriminal. RSUD dr Soedarso, RS Antonius, dan Poltabes Pontianak Di liputan kriminal, aku bertemu dengan wartawan-wartawan dari harian Equator. Paling sengit liputan bareng Alexander Mering. Wartawan bertubuh kecil dan berambut gondrong itu, saingan terberatku di lapangan. Kami berlomba-lomba mendapatkan liputan kriminal ekslusif.

Kalau ada yang kebobolan, sudah dipastikan kami tidak akan saling menyapa meski berjumpa di RS Antonius. Meski “musuh abadi”, kami dipersatukan oleh kegemaran terhadap jenis band yang sama. Alex dan aku sama-sama menggilai Jamrud, rock band asal Surabaya.

Kami sering bernyanyi :
“Nana..Nana Uh Uh, Nana..Nana. Uh Uh… Apelku gak pernah romantis, tiap malam disuguhi keris. Mana Ortumu, Pakdemu, Bulemu, Embahmu, selalu ceramah…”
Ada dua liputan yang bikin aku geram. Saat itu, liputanku tentang Kebakaran di Jl
Pramuka, Sungai Rengas dan pencabulan di Polsek Sungai Raya, dicopy paste oleh dua wartawan Equator.
Tulisannya sama persis. Bedanya, dia tidak ada foto, aku punya dua-duanya. Tapi itu bukan kerjaan Alex, sebab kutahu dia lebih beradab dalam menggali berita.

Kini, Alex bergabung di Tribune Institute. Hampir setahun liputan, aku diminta kantor untuk membidani lahirnya Harian Kapuas Pos. Sebagai tahap pertama aku ditempatkan di Kabupaten Sanggau, jadi kepala biro di sana menggantikan wartawan senior Pontianak Post, Robert Iskandar, yang ditarik ke Pontianak.

Pertama datang, kerja berat langsung menanti. Kantor Imigrasi Sanggau terbakar hebat tengah malam. Sementara di Sungai Kapuas, ada perampokan sadis yang menewaskan Bujang. Sopir speedboat tersebut ditemukan membusuk. Tidak hanya itu, masyarakat Sosok mendatangi kantor dan menggelar upacara adat. Mereka menuntut rekanku di Pontianak Bowo, yang dituding salah menulis berita. Sementara mobil ekspedisi dicegat di Bodok. Koran diturunkan paksa oleh massa sebagai bentuk protes lain terhadap kesalahan berita terseut.

Hanya tiga bulan aku di Sanggau. Karena kantor memintaku kembali ke Pontianak untuk memperkuat liputan di desk porvinsi. Tapi aku tak lama di provinsi, karena rekanku yang lain Mursalin, kini Kepala Biro Sambas, tak betah lama-lama meliput Buchary A Rahman dan staf-stafnya.

Kami pun tukaran desk. Saat itulah sejumlah kasus berhasil kuungkap dan menarik perhatian publik. Liputan pertama tentang mesin “Dingdong” ketangkasan. Dengan liputan komprehensif, polisi akhirnya mengambil sikap dan menggulung semua mesin yang didatangkan dari Malaysia dan Singapura itu.

Liputan tersebut tak membuatku berpuas diri. Sebab aku yakin pasti masih ada persoalan lainnya. Benar saja, tak lama kemudian ada informasi sebuah yayasan yang meresahkan anggotanya. Yayasan itu bernama Amalillah. Dalam sekejap yayasan yang menjanjikan uang ratusan juta rupiah itu, jadi buah bibir. Tak lama kemudian, ada yayasan lain yang juga memiliki cara operasi yang nyaris sama.

Yayasan itu adalah Yamisa. Seperti liputan tentang Amalillah, Yamisa juga direspon publik. Di sana lah aku menyadari bahwa peran jurnalis sangat urgen dalam kontrol sosial. Aku semakin mencintai pekerjaan ini! Meski begitu, ternyata mencari informasi dan menyajikannya dalam bentuk berita juga bisa membosankan.

Terlebih setelah aku mellihat ada rekan-rekan wartawan lainnya yang menggadaikan profesi mulia tersebut. Dengan berbagai alasan mereka menerima berlembar-lembar amplop berisi rupiah. Belum lagi, ada berbagai titipan kepentingan yang mengekor di belakang berita yang diturunkan. Paling banter, ada beberapa proyek pembangunan yang nebeng di balik nama pemilik usaha penerbitan.

Aku jadi jumud dan gamang. Profesi yang awal kehadirannya dihargai dan dihormati ini, ternyata dikotori oleh sikap mementingkan diri sendiri. Jujur aku frustasi, jadi pernah tidak produktif menulis. Berita-berita yang kuhasilkan relatif sedikit dan tidak berbobot. Gelagatku itu kemudian dibaca Pemred Pontianak Post saat itu, Yasmin Umar. Yasmin yang kini aktif di Komisi Penyiaran dan Informasi Daerah (KPID) Kalbar, memintaku jadi Kepala Biro Singkawang.

Aku menyetujuinya dan bergegas menggantikan Arman yang sudah enam bulan bertugas di Kota Amoy tersebut. Arman adalah rekan se-kampusku. Kami sama-sama merantau ke Pontianak pada 1996. Dia dari Jakarta, aku dari Bekasi. Begitu sampai di Singkawang, tugas berat sudah diwarisi Arman. Ada gembong narkoba yang ditangkap Polres Sambas. Saat itu, Kasat Reskrimnya IPTU Setyadi Sulaksono.

Meski tidak dilengkapi barang bukti saat penangkapan, polisi ngotot yang bersangkutan bersalah. Akupun memuat beritanya, termasuk meminta keterangan dari tersangka. Aku baru bangun tidur ketika Bang Setyadi menelponku, kalau tersangka terpaksa dibebaskan karena tak cukup bukti. Malam selanjutnya, tepatnya menjelang subuh Jl Pai Bakir Singkawang, alamat Biro Singkawang ramai. Agen dan pengasong kelimpungan. Semua koran Pontianak Post untuk Singkawang dan sekitarnya dibakar, hangus jadi abu.

Di Singkawang, aku berteman baik dengan wartawan Equator, Nanang. Juga tidak menjauhkan diri dari wartawan lain yang disebut-sebut wartawan tanpa suratkabar (WTS). Ternyata, semua tergantung kita. Kalau kita bisa membawa diri, mereka juga respek. Buktinya, sejumlah informasi vital justru datang dari teman-temanku itu. Tujuh penambang emas yang terkubur di Selakau, ku dapat dari mereka. Sebelas warga Afganistan yang tersesat di Paloh, Sambas, juga begitu. Belum lagi, mereka bersedia mengetikkan berita juga… he he he.

Kurang dari empat bulan, aku ditarik untuk memperkuat Kabupaten Pontianak dan sekitarnya yang selama bertahun-tahun digawangi Hamdan Abubakar Ada dua liputan yang tidak mungkin kuluppakan. Pertama tentang penyelewengan dana reboisasi di Mempawah, kedua tentang bapak memperkosa anak sendiri di Mentonyek, Karangan.

Dengan sejumlah fakta dan data, aku mampu menjungkalkan Pimpinan Proyek (Pimpro) Reboisasi. Yang bersangkutan dicopot dari jabatannya sekaligus dipenjara karena terbukti menyelewengkan uang negara. Sekali lagi aku melihat dengan kepala sendiri, betapa dahsyatnya media massa.

Sementara tentang kasus perkosaan, aku dituntut Rp 2 miliar oleh masyarakat yang mengatasnamakan warga Dayak Mentoyek. Mereka datang ke kantor di Pontianak dengan empat truk. Setelah aku usut, rupanya mereka bukan warga Mentonyek, tapi preman yang ada di Pontianak dan sekitarnya.

Karena yakin akan kebenaran proses penggalian dan penyajian berita, aku memutuskan menghadapi tuntutan itu. Sebab aku sadar benar tidak ada yang keliru dengan berita yang dimuat. Lepas dari itu, aku mencari cara agar persoalan ini lekas selesai. Caranya, warga Mentonyek dalam hal ini keluarga korban aku adudomba dengan massa yang melayangkan tuntutan.

Bahwa masa yang datang ke Pontianak telah mencemarkan nama baik warga Mentonyek, dan mencari keuntungan dari penderitaan korban. Warga Mentonyek tergerak dan bergerak menghadapi langsung para demonstran. Aku selamat, kantorpun selamat. Para demonstran itu pergi dengan wajah tertunduk seperti baru kalah dari medan pertempuran.

Sebelum mengakhiri tugas di Kabupaten Pontianak pada 2004, aku berkesempatan mengikuti lokakarya Peace Jurnalism di Surabaya yang digagas British Council. Sebenarnya aku betah di Mempawah, tapi aku harus menyelesaikan kuliahku yang tertunda hingga empat tahun. Aku memang sempat terbuai dengan uang dan pekerjaan, sehingga kuliah nyaris kulupakan.

Padahal, sejak awal 2000 aku sudah menyusun skripsi. Hanya perlu waktu sebulan untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Kemampuan Aparat Pelaksana dan Komunikasi Pembangunan terhadap Efektivitas Implementasi Kebijakan Jaring Pengaman Sosial bidang Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (JPS PDM-DKE). Skripsi setebal 167 halaman itu, adalah satu dari tiga skripsi di FISIP yang berani menggunakan pendekatan deduktif verifikatif dengan tiga variabel.
Aku diwisuda Februari 2004.

Tiga bulan kemudian, tepatnya 11 April, aku memutuskan mengakhiri masa lajang dengan menyunting Mina, perempuan yang kukenal sebagai penjaga tiket di Bioskop 21. Kami bertemu karena aku doyan nonton. Kami dikarunia bocah lelaki yang tampan dan cerdas, Bagas Kusuma wardhana. Belahan jiwa itu lahir 15 Januari 2005. Saat ini umurnya 3,5 tahun.

Tak lama, Pontianak Post Group mendirikan Metro Pontianak. Aku ikut dimintai membidani lahirnya koran kriminal tersebut. Statusku naik tingkat dari wartawan jadi redaktur. Kurang dari tiga tahun aku sudah duduk di kursi Redaktur Pelaksana (Redpel). Dari sebelas teman seangkatan, kini tersisa empat, hanya aku yang sudah menyentuh level Redpel.

Yang lain, Zulfi Asmadi baru jadi koordinator liputan (Korlip), Zulkanaen Fauzi dipercaya sebagai Kepala Biro Singkawang, dan Mursalin yang masih betah sebagai Kepala Biro Sambas.

Untuk memperkaya wawasan tentang fungsi-fungsi Redpel aku dikirim ke Batam untuk mengikuti Pelatihan Redpel di lingkungan Jawa Pos Group, September 2007. Meski lebih sering menjalankan fungsi manajerial redaksi, aku masih menyempatkan diri menulis. Dua di antara tulisan tersebut berbuah manis.

Tulisan pertama berupa cerpen, judulnya Sisi Lain. Cerpen tersebut terpilih sebagai satu dari 14 cerpen terbaik Ajang Lomba Penulisan Cerpen Escaeva-Bukukita.com, Agustus 2007. Cerpen-cerpen itu kemudian diterbitkan dalam buku “Tembang Bukit Kapur”. Ini adalah buku keduaku, tapi jadi buku pertama diterbitkan oleh penerbit nasional. Buku pertama berjudul Pada Tanah Dikandung Bersama diterbitkan oleh penerbit lokal, Pontianak.

Tulisan kedua berbentuk feature. Isinya tentang Pengantin Pesanan antara Amoi Singkawang dengan Pria Taiwan. Tulisan itu berhasil menyabet predikat The Best Feature di Dahlan Iskan Awards 2007. Aku menyisihkan puluhan finalis dari seluruh Indonesia. Bangga juga rasanya punya prestasi begitu. Tulisan-tulisan lainnya masih berserakan. Ada novel yang baru selesau 60 halaman, ada juga cerpen-cerpen lainnya.

Di tengah kebanggaan itu, ada sebuah iklan menarik di Pontianak Post. Divisi Pers Daerah (Persda) milik Kompas Gramedia, membuka formasi untuk redaktur. Mereka akan membuka koran daerah di Pontianak. Hampir seminggu aku berpikir sebelum memutuskan melayangkan surat lamaran kerja pada minggu berikutnya. Aku mencoba mencari tahu bagaimana dan apa sebenarnya Persda.

Hanya sedikit informasi yang bisa koperoleh dari surving di internet. Meski begitu, cukuplah untuk bekal menambah sedikit keyakinan. Sadar aku tak sendiri, aku berdiskusi dengan istriku, Mina. Bagas juga. Keduanya merasa siap dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Bahkan menimpa kehidupan kami bertiga. Selain keyakinan diri sendiri, sebenarnya aku hanya butuh restu mereka. Aku memutuskan mengirimkan lamaran ke Persda.

Sebulan kemudian, aku dipanggil mengikuti pesikotes. Singkat cerita, setelah melewati berbagai tes, Persda dengan label Tribun Pontianak menjadi rumah masa depanku yang baru.

3 komentar:

ade mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
galeri_ganjar mengatakan...

Salam kenal Mas, saya ganjar dari harian pagi TRibun Batam

gila^ontel mengatakan...

@ Ade: Bro Ade. Ane mohon maaf sebelumnya. Mohon untuk komentarnya, meskipun itu benar, tidak dituangkan di sini. Untuk urusan pribadi, silakan diselesaikan dengan yang bersangkutan.

@Bro Ganjar: Salam kenal juga...salam untuk Bung Mairi Nandarson yah....