Selasa, 20 Juli 2010

Rudge Juragan Beras


Tiga hari lalu, saya sedang menikmati secangkir kopi di sebuah kedai kopi di Jl Martadinata, Pontianak. Sambil menunggu siang, saya menyimak orang dan kendaraan lalu lalang dengan aktivitasnya masing-masing.

Tanpa sengaja, mata saya menyapu sosok sepeda di seberang jalan. Sepeda itu teronggok tidak berdaya, bahkan terkesan tidak diurus, di sebuah toko beras. Saya sudah sering ngopi di tempat saya ngopi saat ini. Termasuk kadang-kadang mencuri pandang ke arah orang yang keluar masuk toko tersebut.

Namun, baru kali ini mata saya menangkap ada sepeda di sana. Penasaran, saya pun mendekati toko tersebut. Setelah minta izin, saya masuk ke dalam gudang yang berada di sisi kiri toko itu. Selama ini, gudang itu memang cenderung tertutup rapat oleh rolling door.

Ada tiga unit sepeda di sana saling tindih. Dua sepeda dewas, satunya lagi sepeda anak-anak. Kondisinya sangat memprihatinkan. Semua batangnya sudah tetutup debu. Namun, dari jauh saya sudah menebak bahwa satu di antara sepeda itu adalah Rudge, sepeda buatan Inggris.

Saya tahu dari leher dan jepit udangnya. Ya...itu pasti Rudge! sebab saya sudah pernah melihat Rudge serupa meski yang dames. Anak-anak Sepeda Onte Kalimantan Barat (Sepok) juga ada dua orang yang punya Rudge type dames.

Di Pontianak, di kalangan generasi tua, mereka menyebut Rudge dengan sebutan sepeda Cap Tangan. Sebutan itu merujuk pada emblem Rudge yang berlogo telapak tangan.

Tapi, ini Ruge type Gent, saya belum pernah melihatnya. Saya makin terpana, karena meski tertutup debu namun catnya masih orisinil. Hanya butuh sedikit minyak dan lap basah, usap dengan lembut, pasti mengkilat lagi.

Yang bikin saya tambah kagum adalah detail aksesorisnya lumayan lengkap. Pelek, ketengkas, perseneling, lampu depan, bel, gir depan, emblem, lampu, setang, boncengan dan standar, hingga peneng masih orisinilan. Kalau pun ada yang tidak orinisil adalah sadel.

Satu unit sepeda lainnya, saya tidak bisa mengenalinya. Tidak ada tanda-tanda yang bisa saya jadikan acuan untuk menilainya. Saya sudah memeriksanya tiap bagian. Saya menduga, itu sepeda buatan China. Karena itu, saya tidak terlalu menghiraukannya.

Saya kemudian berbincang-bincang dengan penjaga toko yang ternyata adalah istri dari pemilik sepeda. "Maaf, sepeda Bapak tidak dijual. Ini sepeda bapak sejak masih jualan beras keliling sampai sekarang sudah punya toko sendiri," kata perempuan itu menyurutkan semangat saya untuk membelinya.

Saya hanya bisa mengurut dada. Ada barang indah nan menawan di depan mata namun tidak bisa memiliki. Hanya bisa memandang, mengenang, lewat gambar yang saya abadikan ini. Saya ambil foto ini menggunakan Nokia E63. Selamat menikmati dan selamat megurut dada juga...ha ha ha ha ha...kampreeeeet!

2 komentar:

Nona Maniez mengatakan...

sabaaarrr... :)

Anonim mengatakan...

saya punya sepeda rudge BR 0646, Minat Hub : 087844085939