Jumat, 29 Mei 2009

Bangkai Simplex Cycloid


Kalau rezeki emang gak kemana. Kagak bakal tertukar. Tapi, kali ini saya yang kurang beruntung. Saya yang berharap bisa menemukan Simplex, eh..rupanya rekan saya, Atel, yang ketiban durian runtuh. Tapi tak mengapa, saya ikut merasa senang. Sebab tuh Simplex gak jatuh ke tangan yang keliru.

Atel menelpon saya sekitar pukul 23.00 WIB, belum lama ini. Waktu itu, saya sedang nongkrong di sebuah kafe di bilangan Jl Gajahmada Pontianak. Sepulang kerja, saya dan beberapa teman memang ngumpul di sana. Bicara tentang ini itu, termasuk tentang sepeda.

"Bang, saya baru dapat Simplex nih. Cuman, bentuk setangnya agak aneh. Bener apa enggak?" tanya Atel di ujung telepon.

Saya kemudian memintanya menjelaskan, anehnya di mana. Rupanya, posisi handle rem yang konstruksinya masuk ke batang setang. Tidak seperti sepeda tua biasa yang posisi handlenya ada di luar. Saya langsung teringat referensi yang pernah saya baca di Simplex Forum.

"Itu Simplex Cycloid. Tapi, tidak tahu apakah Neo atau model lainnya,"
Setelah membaca komentarnya Andyt, ternyata sepeda tersebut dekat ke Simplex Cycloid Elite. Satu di antaranya adalah konstruksi setangnya yang masuk. Andyt mengatakan, banyak Simplex yang menggunakan setir (Setang) Simplex model biasa, misalnya Cycloide Standaart, Cycloide Radium, dan Cycloide Model Extra. Di Surabaya saja, pasaran setir yang model masuk sekitar Rp 400-500 ribu perunit dan tergantung kondisi.

"Kalau ente gak mau, biar gua yang bayar Tel,"
Atel tertawa di ujung teleponnya."Ha ha ha ha,"
Saya langsung menyarankan Atel, untuk segera membayar si Simplex. Bukan apa-apa, kalau kelamaan, takut pemiliknya keburu menyadari kalau sepeda yang tidak dipakainya lagi itu tergolong varian langka. Saya ingat betul komentar Bang Lai di Simplex Forum.

Cycloide sekarang banyak dicari. Entah karena konstruksi yang enak, ataukah lagi ikut-ikutan demam memburu Cycloide. "Barangnya langka banget. Jadi makin sulit nemunya. Lima tahun lalu saja, ketika belum banyak orang tahu cycloide sudah sulit nyarinya. Apalagi sekarang," kata Bang Lai.
Rekan Bang Lai, mendapat Cycloide seri 2 cuman dihargai Rp 1,2 juta! "Itu harta karun kata saya," tegas Bang Lai.

Ia mengaku heran banget haree genee dapet Cycloide bagus, cuman segitu. Ia bahkan bersloroh, jangankan Rp 1,2 juta, keluar Rp 5,1juta pun banyak orang berani demi si Cycloid.
Andyt menambahkan, Simplex Cycloide adalah buruan utama penggemar sepeda kuno di Indonesia dua tahun terakhir. Sehingga jenis ini menjadi sangat..sangat..langka.

Kebanyakan yang muncul sudah gado-gado (onderdil tidak semua asli dan dicampur dengan opsi merek sepeda lain), dan ada pula yang palsu (dari frame Hima, atau Valuas atau merek kurang terkenal lainnya) dan celakanya dijual dengan harga mahal sebagai Cycloide asli. Pembeli yang kurang jeli hanya menyesal dikemudian hari. Jadi sebaiknya hati-hati. Satu tromol Cycloide-nya saja dengan kondisi 80 persen laku Rp 1 juta lebih. Busyet dah!.

Atel kembali menuturkan, beberapa ciri yang menjadi ciri khas Cycloid Elite, sudah gak pada kelihatan kecuali setangnya. Tidak hanya itu, nomer serinya juga diawali dengan angka 7, bukan 1 atau 2. Namun, ternyata ada juga Simplex Cycloid yang seri 7. Tapi, saya tidak tahu kapan tanggal pembuatannya.

Sejumlah komentar menyebut tahun pembuatan Simplex Cycloid, cenderung tahun tua kira-kira 1935 ke bawah. Namun ada juga yang mulai dibuat tahun 1950-1955. Untuk lebih jelas tentang Simplex bisa kunjungi http://www.rijwiel.net/artsim_n.htm, tentang penomoran produksi Simplex. Hmm..ternyata banyak harta karun di Kalbar. Setelah si cantik frame "S" Neckarsulm Stickmachen Union (NSU), kini ada Simplex Cycloid Elite yang bangkit dari kubur.

12 komentar:

adi mengatakan...

He eh, stirnya di Jogja 1,5 jt. tromolnya 2,5 jt. Jgn dijual, itu harta karun.

gila^ontel mengatakan...

iya bro...nih asli nemu di Sanggau, Kalbar.
Kebanyakan sepeda langka yang ada saat ini didatangkan dari Jawa...

adi mengatakan...

Aku dpt simplex cycloide garpu+batangan/rangka, ukrn 22inci/55cm di Solo,1 rangka ke-1 24/60 di Salatiga, 1 rangka ke-2 24/60 di Muntilan...

gila^ontel mengatakan...

busyet..pemburu cycloid sejati...luar biasa..bro minta alamat blog ente dong..gak bisa akses neh..biar tambah banyak berbagi info..thanks sebelumnya...

adi mengatakan...

m.shadi78@yahoo.com atau msh110578@gmail.com

Lianto mengatakan...

ikutan koment dong...aku baru dpt raleigh nyonya. Gak tau elementnya ori gak...no serinya RD17620. Kira2 taon berapa ya diproduksi itu ontel..?

adi mengatakan...

Bro Hasim Ashari, alamat emailna dong, ntar kukirim poto cycloideku

gila^ontel mengatakan...

Bro adi...email: Simblong@yahoo.com
or gilaontel@mail.com...posting ke fesbuk aja kalo ga bro..penasaran neh..thanks!

gila^ontel mengatakan...

Bang Lianto..salam kenal juga sebelumnya..thanks sudah mampir ke blog saya...di google bisa dicari tahun berapaan sepeda abang...kata kunci raleigh serial number...
kalau diawali dari R, saya kira tahun 1958 ke atas...

gila^ontel mengatakan...

bro adi..gambar sepeda saya udah dikirim lewat imel...simplex cycloid bro adi emang yahud...

yusnan arif s mengatakan...

Saya punya simplex cycloid, bulan lalu saya beli 9jt, memang rasanya bawa cycloid sangat terasa nyaman, sangat beda bawaannya dg simplex neo. malah simplex cycloid teman saya mau dibeli orang 20 juta ngga dikasih.. emang kenyamanan kayuhannya luar biasa.. kalo mobil serasa bawa mercy saja. sebenarnya modelnya lebih simple dibandingkan dengan yg neo. a

gila^ontel mengatakan...

Om Yusnan...itulah, saya masih mimpi punya Cycloid, belum kesampean. Yg ada baru NSU