Jumat, 01 April 2016

Menghidupkan Kembali BSA B34 1951

BSA B34 Scrambler
MOTOR tua, yang biasa disebut dengan motor jadul, saat ini kebanyakan orang memanfaatkannya sebagai kebutuhan hobi saja untuk dikoleksi. Karena, komponen motor tua  sudah tidak bekerja maksimal.

Kemampuannya untuk menerabas jalanan juga terbatas. Meskipun begitu, tetap saja ada orang yang sangat optimistis pandangan ini masih dapat diubah. Sebut saja Nate Hudson, seorang pecinta motor tua BSA B34.

Dirinya terinspirasi dari sang ayah yang menggunakan motor produksi tahun 1951 itu di era 50-an untuk kegiatan sehari-hari. Nate ingin menggunakan motor BSA B34 itu sebagai tunggangan idaman saat melibas jalanan.

Awalnya, saat memiliki minat dan inspirasi itu muncul, Nate berburu motor tua BSA B34 melalui situs jual beli eBay berhubung cukup sulit untuk mendapatkan motor tua di jam serba modern ini.

Penawaran Iklan Mandiri

BAGI pembaca yang ingin menampilkan banner iklan di blog gilaontel, saya memberikan kesempatan slot iklan mandiri dengan ukuran dan harga terjangkau. Untuk banner iklan berukuran 125x125 di sidebar atas, harganya Rp 500 ribu setahun.

Untuk banner 125x125 di sidebar bawah, Rp 250 ribu setahun. Pembaca yang berminat menjadi advertiser hanya perlu mengirim gambar banner beserta URL link halaman yang akan dituju. Untuk keperluan lebih lanjut, silakan hubungi saya di simblong@yahoo.com

Senin, 28 Maret 2016

Super Sang Vespa Pertamaku

Foto Gua lagi culun-culunnya
PERTENGAHAN Maret 2016 kemarin, aku dan istriku tercinta, Mina, sibuk mencari STNK Revo Fit yang entah ke mana. Saat mencari dokumen itulah, terselip sebuah foto. Foto aku sedang berpose di atas Vespa Super 1966.

Mengenakan kemeja biru lengan panjang, menyandang tas hitam merah, mengenakan helmet custom hijau, selaras dengan kelier sang Super. Pose itu di ambil di halaman parkir belakang Graha Pena Pontianak Post, Jl Gajahmada Pontianak, pada akhir 2000.

Saat itu, aku baru saja diterima sebagai wartawan di koran milik Jawa Pos Grup itu. Foto diambil
Mas Timbul, Fotograper Senior di Pontianak Post, sesaat sebelum aku menjalankan tugas-tugas sebagai jurnalis.

Kebetulan tugas pertama liputan aku bertanggungjawab di desk liputan Kota Pontianak. Meliputi Pemkot dan DPRD Kota Pontianak. Wali Kotanya saat itu adalah Buchary A Rachman. Vespa Super ini kubeli dari seorang teman kuliah asal Mempawah, Kalbar, Isnaini.

Sabtu, 19 Maret 2016

Korek Api dan Triumph TWN Tora Sudiro

Tora dan Triumph TWN
SEPEDA motor Triumph menghadirkan citra yang berbeda dengan kekhasan gaya Inggris. Gaya khasnya pun membuat pemain film Tora Sudiro tertarik sehingga akhirnya ia memiliki sebuah Triumph-Werke Nürnberg AG (TWN) buatan 1947.

Tora menebusnya dari seorang kolektor di Jogjakarta dengan harga Rp 40 juta Bagaimana Tora akhirnya bisa memiliki sebuah Triumph, itu ternyata ditengahi oleh kisah simpel yang lucunya ia jadikan nama untuk motor kesayangannya itu.

"Motor saya namanya Ganarko, Triumph TWN tahun 1947. Saya kasih nama Ganarko karena itu ada singkatannya, 'gara-gara naro korek'. Saya lagi ngobrol, naro korek, saya lihat motor. Buset, apaan nih? Wah Triumph, keren juga nih," celoteh Tora.

Panitera Penyemplak Motor BSA

Bayu bersama BSA 350 Cc miliknya
MEMILIKI banyak motor antik rupanya menjadi kepuasan tersendiri bagi Hendra Bayu Broto Kuncoro. Kolektor motor antik yang akrab disapa Bayu ini tak disangka adalah Panitera Muda Hukum Pidana Pengadilan Negeri (PN) Solo.

Bayu juga menjadi Ketua Motor Antik Community Indonesia (MACI) Chapter Solo. Saat ditemui di ruang kerjanya di PN Solo, pria berkumis ini terlihat nyentrik dengan memakai seragam khas bikers.

Banyak ornamen-ornamen dan foto antik yang dipajang di meja dan dinding tempat kerjanya.
"Foto-foto itu hanya untuk memberikan suasana berbeda di PN. Sehingga bisa mengubah kesan seram kepada pengunjung saat melihat foto yang terpajang di pengadilan," terang pria kelahiran Pacitan 49 tahun silam itu.

Selasa, 15 Maret 2016

Istimewa, Indian 1916 Koleksi David Handoko


Indian 1916 (kanan) Foto: Sulistyanto)

* Yogyakarta Simpan Harta Karun Dunia

SELAIN sebagai seorang pengusaha bidang otomotif, David Sunar Handoko, juga dikenal sebagai kolektor sepeda motor, maupun sepeda onthel tua.

Saat ini di tempat tinggalnya, kawasan Jl KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta, ada kisaran 400 unit sepeda motor dan 400 unit sepeda onthel tua.

Tak jarang para pehobi otomotif, khususnya roda dua, baik dari dalam maupun luar negeri datang ke tempat Handoko dan saling tukar wawasan.

Seperti halnya, Rabu (6/1/2016), Frannata Suryanto sebagai Presiden Vespa Club Indonesia yang juga penggemar Vespa maupun sepeda motor tua asal DKI Jakarta berkunjung ke rumah Handoko.

Honda 90Z, Yamaha XS650, hingga Norton

Derby di atas Triumph koleksinya
* Derby Romero Koleksi 15 Motor

DERBY Romero, artis ini kini sudah remaja. Aktivitas dan hobinya pun sangat laki-laki sekali. Doi punya hobi seperti ayah yang hobi didunia otomotif roda dua dan empat. Pemilik nama asli Martua Rumero Derby Nainggolan ini mengaku sudah sejak kecil suka dengan dunia otomotif.

Semua lantaran sang ayah pehobi motor dan mobil tua. Hobi sang ayah mengalir di kehidupan artis yang pernah membintangi film anak-anak Petualangan Sherina. Selain berkarier di dunia acting, doi sekarang juga terjun di dunia modifikasi motor dengan membuka rumah modifikasi  berlebel Flash Rabit Custom.

BMW R27 Koleksi Teja Wijaya

Teja Wijaya. Foto Motor Sportku.com
PUNYA hobi koleksi motor jadul memang miliki risiko tersendiri. Salah satu hal yang paling sulit adalah menjaga originalitas dari barangnya itu sendiri. Hal ini pula yang dialami Teja Wijaya.

Pentolan Imagineering Customs itu punya motor BMW R27 keluaran tahun 1966 di garasi rumahnya. "Waktu itu, lagi iseng-iseng nongkrong sama teman yang punya motor ini. Motor ini sebenarnya warisan orangtua tua teman saya itu. Tapi saya beli, kondisinya saat itu seperti barang rongsokan. Tidak menjadi barang berharga, hanya diletakkan di belakang rumah," kenang Teja.

Teja membeli motor BMW R27 ini seharga Rp 60 juta. Setelah 11 bulan hunting untuk mencari sparepart aslinya kini kondisi motor tersebut sangat layak pakai. Dan menjadi salah satu idaman Teja diantara motor-motor Harley-Davidson miliknya.

Pesona Nevia dan DKW RT 125

Nevia Senja. Foto Dapur Pacu.com 
HOBI tidak mengenal jenis gender. Itulah yang terjadi pada gadis belia bernama Nevia Senja. Nevia begitu mencintai sepeda motor tua. Tak hanya motor tunggangannya, wajah cantiknya juga mampu menyedot perhatian banyak orang.

Berpenampilan layaknya seorang biker, gadis berkulit kuning langsat dan berambut panjang ini mulai mengendarai motor sejak usia 15 tahun. Saat itu Senja masih berstatus sebagai pelajar SMP. "Aku diajarin temanku naik motor," kata Nevia.

Sejak itu wanita kelahiran Jakarta 21 tahun lalu mulai menyukai sepeda motor. Ke mana pun ia pergi, selalu ditemani sepeda motor yang dipinjam dari temannya. Namun kecintaannya dengan sepeda motor tua berawal saat dia duduk di bangku SMA.

Saat itu, sang pacar adalah anggota Motor Antique Club Indonesia (MACI) Bogor, yang selalu membonceng Nevia saat jalan dengan sepeda motor tuanya.

Jumat, 04 Maret 2016

Berburu Motor Klasik Sampai Dasar Sungai

Ariel 350 Cc ditemukan di Kali Brantas
SEPERTI pehobi pada umumnya, pecinta sepeda motor klasik terkadang berjuang keras demi incarannya.

Salah satunya adalah pengalaman Djoko Marseno, yang berburu sepeda motor klasik ke berbagai kota bahkan sampai di dasar sungai. Djoko mulai serius menggeluti hobi ini pada 1970-an.

"Sejak dulu saya memang sudah senang sepeda motor tua. Lebih simpel, tongkrongannya gede-gede," ujarnya. Dulu koleksinya cukup banyak, tetapi berkurang satu per satu seiring berjalannya waktu.

"Buat keperluan sekolah segala macam, ada yang saya jual. Namun saya menjual juga ke sesama kolektor, jadi barangnya masih bisa saya lihat," kata Djoko mengenang. Kini koleksi Djoko ada 4 unit, diantaranya adalah Indian keluaran 1948 dan BSA produksi 1953.

Probolinggo Pesan Motor Pertama Dunia

Hildebrand & Wolfmuller 1893. Foto: wikipedia
SEBAGAI alat transportasi, sepeda motor makin mendominasi sektor otomotif Indonesia. Penjualannya mengatasi moda transportasi lainnya. Pada 2013, penjualan sepeda motor mencapai 7,7 juta unit, naik dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 7.1 juta unit.

Padahal di negara-negara maju, sepeda motor adalah barang mewah yang menunjukkan status sosial seseorang. Tidak heran kalau populasi sepeda motor di dunia masih kalah jauh dibandingkan dengan mobil.

Saat ini sekitar 200 juta sepeda motor beredar di seluruh dunia, atau 33 unit per 1.000 orang. Sementara jumlah mobil adalah sekitar 590 juta atau 91 unit per 1.000 orang. Sepeda motor diperkenalkan pada era 1880-an di Inggris dan Jerman.

Tiga Motor Tua Berbanderol Selangit

Indian 8-Valve Board 1915
SUDAH menjadi rahasia umum jika sepeda motor antik dijual dengan harga yang cukup mahal. Bahkan, beberapa diantaranya dipasarkan dengan harga selangit.

Tingginya harga sepeda motor klasik ini tak lain karena nilai sejarah dan juga unitnya yang langka sehingga menjadi buruan para kolektor.

Seperti diketahui, motor-motor tua membutuhkan perawatan yang telaten dan kecintaan yang sangat tinggi terhadap kendaraan tersebut. Tak hanya itu, harga suku cadang dari motor tua pun biasanya sangat mahal karena amat langka di pasaran.

Demi perawatan rutin tunggangannya, para pemilik sepeda motor tua dapat menghabiskan dana mencapai puluhan juta rupiah. Berikut ini uraian singkat motor-motor yang dibanderol dengan harga selangit seperti dilansir dari Myinfopie, Senin (16/3/2015).

Harley Davidson Tua-Tua Keladi

Agus (kanan). Foto: ENRICO LAURENT
 
MENJADI ikon maskulinitas, Harley-Davidson (HD) merupakan bagian tradisi Amerika. Bahkan, menurut beberapa orang, perkembangan mesin produsen moge ini cenderung lamban.

Pasalnya, merek ini tak mementingkan tren, melainkan mempertahankan tradisi sejak 1903. Menurut Akbar, salah seorang mekanik Mabua SOS, HD sebenarnya sudah mengikuti zaman.

Sepeda motor keluaran 2000 hingga kini sudah menggunakan mesin injeksi. Namun, justru para penggila sepeda motor ini mencari HD bermesin karburator. "Tak dimungkiri, suara hasil karburator HD jadi ciri khas," kata Akbar.

Menurutnya, suara motor saat tak digas seperti suara tapak kuda beradu dengan tanah. Suara tersebut berkat mesin V orisinal HD. Suara itu yang tak bisa diikuti motor merek lain. Akbar menerangkan, hingga kini produsen lain tak bisa menghasilkan suara khas HD.

Mudik Semplak BMW R25 1955

Rafiq dengan BMW R25/3 miliknya
DALAM perjalanan memantau kondisi arus mudik lebaran di jalur selatan, tim otomotif Liputan6.com, menemui salah satu pemudik yang cukup unik. Pasalnya, ia menggunakan motor antik sebagai tunggangan mudik.

Pria paro baya tersebut bermama Eka atau yang memiliki nama panggilan Rafiq. Pemudik asal Tangerang ini menggunakan motor BMW R25/3 lansiran 1955 untuk menuju Cianjur, Jawa Barat.

Eka yang juga anggota komunitas Motor Antik Club Indonesia (MACI) Jakarta ini mengaku ada kebanggaan sendiri menggunakan motor antik.