Kamis, 03 Maret 2016

* Delapan Hari Menjelajah Negeri Ginseng (Bagian-1)

Kongkow di Pusat Kota Seoul
Sapa Hangat Annyeong Haseyo 

SELAMA delapan hari, 6-13 September 2014, Garuda Indonesia Pontianak mengajak mitra bisnis di Kalbar melakukan perjalanan ke Korea Selatan (Korsel). Di Negeri Ginseng itu, 28 pengusaha travel, dimanjakan dengan eksotika berbagai destinasi wisata pilihan. 

 Mereka yang ikut adalah Ateng Tour, Sembilan Sembilan, Hasta Kreasi, Putra Tourindo, Aria Wisata, Berjaya Tour, Desys Travel, dan Anugerah Madya. Ada juga Kencana Nusantara, Insan Tour, CK Jaya, Family Tour, Mentari, dan Bahana Putra. 

Garuda Indonesia juga mengajak DPD Asosiasi Tur dan Travel Indonesia (Asita) Kalbar dan Harian Tribun Pontianak sebagai satu-satunya media dari Kalbar. Berjaya Tour dipercaya Garuda Indonesia merencanakan paket perjalanan. 

Berjaya Tour adalah perwakilan Asia World Tour di Indonesia. Jadi, agen-agen yang ingin mendapatkan paket Korea, tidak perlu ke Korea, karena bisa berhubungan langsung dengan Berjaya. Rombongan berangkat dari Bandara Supadio Pontianak, Jumat (6/9), pukul 18.10 WIB, dengan penerbangan GA 511 dan tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, pukul 19.35.

Peserta fam trip harus menunggu sekitar lima jam di Cengkareng, sebelum terbang ke Bandara Internasional Incheon, Seoul, pada pukul 23.20. Namun, waktu selama itu, tidak terasa karena Garuda Indonesia menyediakan Executive Lounge di Terminal 2 Departure Hall.

 Beragam menu masakan dan minuman dengan citarasa tinggi disajikan tiada henti. Salad, nasi putih, mi goreng, roti, dan ayam rica-rica, begitu mengundang selera. Makin lengkap dengan aneka minuman seperti teh, kopi, jus jeruk, jus apel, dan cola.

 Tepat pukul 23.20, Garuda Indonesia dengan nomer penerbangan GA 878 membawa rombongan fam trip meninggalkan Cengkareng. Terbang di atas ketinggian 46 ribu kaki, pesawat melintas di atas Laut Jawa, Kinabalu Malaysia, Filipina, Kepulauan Formosa, dan Cina, sebelum tiba di Incheon. Waktu yang dibutuhkan dari Soekarno Hatta ke Incheon sekitar 6 jam 36 menit. 

Kendati cukup lama di udara, namun lagi-lagi Garuda Indonesia tahu benar memperlakukan penumpangnya. Tidak hanya menyajikan menu makan dan minum, layar monitor 7 inci memanjakan mata dan telinga. Fasilitas audio visual di pesawat A330-200 dengan pilot Kapten Teddy itu, terbilang lengkap untuk mengusir jenuh. Untuk film, ada Age Ice, Devil Wears Prada, Fast 6, dll. 

Sementara untuk game ada Arcade, mind dust, card challenge, Aqua Tic Tac Toe, dan Bouncy. Penumpang juga bisa memilih musik sesuai selera. Ada album Maudy Ayunda, Andra n The Backbone, Ungu, Anggun, Cherry Belle, Keris Patih, dll. Untuk selera jazz, juga bisa memilih Jamie Cullum, Sarah Mc Kenzie, atau The James Six Hunter. 

Untuk yang ingin beristirahat, bisa tidur dengan nyenyak berkat selimut hangat warna cokelat dan bantal empuk kecil berwarna hijau, sambil bersandar di kursi masing-masing. Dari 253 kursi penumpang untuk eksekutif dan ekonomi yang tersedia, terlihat penuh. Pada, Sabtu (7/9), pukul 08.30 waktu setempat, rombongan fam trip tiba di Incheon. 

Ada perbedaan waktu dua jam antara Indonesia dan Korsel. Bedanya, Korsel dua jam lebih cepat. Incheon adalah bandar udara terbesar di Korsel dan merupakan yang terbesar di Asia. Bandara ini menggantikan Bandara Internasional Gimpo, yang sekarang distatuskan sebagai bandara domestik, kecuali untuk penerbangan international ke Bandara Internasional Haneda di Tokyo, Jepang, dan Bandara Internasional Hongqiao di Shanghai, RRC. 

 Berdasarkan survei Global Traveller, Incheon merupakan satu di antara bandara terbaik di dunia selama 3 tahun berturut-turut, 2006, 2007, dan 2008. Berperan sebagai bandara penghubung untuk kawasan Asia Timur, terdapat lebih dari 70 maskapai penerbangan Internasional melayani Incheon. 

Maskapai penerbangan terbesar menurut jumlah penumpang adalah Korean Air diikuti Asiana Airlines, dua maskapai kelas premier. Master plan Incheon disetujui Februari 1992 dan selesai pembangunannya Juni 2008. 

Incheon memiliki kapasitas tahunan 410 ribu penerbangan, 44 juta penumpang, dan hampir 4,5 juta ton metrik kargo. Selain dilengkapi supermarket, ada juga kereta api antar jemput penumpang, Mitsubishi Kristal Mover APM, antara concourse dan terminal utama. Kereta api ini ada setiap dua menit sekali. 

Tiba di Incheon, rombongan fam trip disambut General Manajer (GM) Garuda Indonesia Korea, Dewa Rai. Lelaki yang pernah empat tahun bertugas di Kalbar ini, datang ditemani sang istri. Dewa langsung bercengkrama dengan GM Garuda Indonesia Pontianak, Donald Jerry. Managing Director Asia Wolrd Tour, Li Guang Xun, bersama staf juga menyambut hangat. "Annyeong haseyo," katanya dalam bahasa Korea. 

Annyeong haseyo biasa diungkapkan untuk ucapan selamat pagi, selamat siang, atau selamat malam. Sejak saat itu, sapa hangat Annyeong haseyo kerap diucapkan peserta fam trip selama di Korsel. Ketua DPD Asita Kalbar, Hefni Ahmad Said, mengaku seperti reuni kembali dengan Dewa. 

"Saya pernah bilang, suatu saat saya akan bertemu kembali dengan Beliau, saat menjadi GM. Rupanya jadi kenyataan. Sekarang, Beliau jadi GM Garuda Korea," ujar Hefni disambut gelak tawa. Hal yang sama juga diungkapkan Dewa. "Begitu teman-teman Garuda bilang fam trip ke Korea, saya sangat antusias. Sebab, saya akan bertemu dengan teman-teman lama," kata Dewa saat dinner di Sejong Center, Seoul. 

Setelah sempat berfoto bersama tak jauh dari pintu keluar bandara, rombongan dibawa Tour Guide Asia World Tour, Ken, melanjutkan perjalanan. Menggunakan bus wisata Hyundai, Ken membawa rombongan Garuda Indonesia ke Kimchi School atau Sekolah Kimchi di Myeongdong, Seoul. 

Jaraknya hanya 10 menit dari Bandara Incheon. Bangunan dua lantai ini adalah tempat terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar banyak tentang Kimchi. Kimchi adalah makanan tradisional Korea. Asinan sayur, biasanya sawi putih dan lobak, hasil permentasi. 

Chim-chae atau sayuran yang direndam ini, selalu dihidangkan di waktu makan sebagai satu di antara jenis banchan yang paling umum. Seorang pegawai Kimchi School, Lia Chan (24), dengan telaten mengajari peserta fam trip bagaimana membuat Kimchi.

Ada lima ruangan yang disediakan untuk belajar meracik Kimchi. Setiap ruangan mampu menampung 30 orang. Hanya ada meja panjang berhadapan tanpa kursi. Hampir semua ruangan penuh dengan turis lokal dan manca negara.

"Saya sudah lima tahun bekerja di sini. Mengajari mereka yang datang membuat Kimchi. Banyak juga yang dari luar Korea. Saya senang sekali. Bisa membagi menu khas Korea ini dan menyebarkannya kepada dunia," kata Lia Chan kepada Tribun dengan bahasa Inggris terbata- bata. Dari Kimchi School, peserta fam trip, makan siang, untuk menyiapkan diri terbang ke destinasi wisata terbaik Korsel, Pulau Jeju. (hasyim ashari/bersambung)

Selasa, 01 Januari 2013

Akhirnya Dapat Juga BSA B40

Dana yang belum cukup untuk membeli motor-motor Eropa yang terkenal bernilai jual tinggi itu memaksa Muhammad Najib (38) bersabar.

Kala dana sudah terkumpul, lagi-lagi Najib, sapaannya, harus bersabar lantaran tak banyak atau sulit menemukan orang-orang yang hendak menjual motor-motor antik Eropa.

Penantian panjang Najib akhirnya terjawab. Pada 2012, Najib berhasil menemukan orang yang hendak menjual motor Birmingham Small Army (BSA) buatan Inggris. Kebetulan pula, motor Eropa yang sedang dicarinya yakni motor BSA B40 1960 kapasitas 350cc. 

Maka kesempatan itu tak disia-siakannya. Alhasil, dengan merogoh uang Rp 30 juta-an, ia memiliki motor tersebut. "Yang membuat saya berani merogoh kocek agak dalam lantaran kondisi mesin motor hidup dan onderdil motor masih original," ujarnya. 

Najib yang sudah 'gila' dengan motor eropa sejak 1997 itu tak serta-merta menggeber motor yang baru dibelinya tersebut. Beberapa onderdil motor masih harus dilengkapinya untuk mempertahankan originalitas motor BSA. 

Ia pun memesan onderdil-onderdil motor yang diperlukan seperti mblem BSA, karet tangki, tutup tangki, kampas kopling, sok belakang dan beberapa onderdil lain. "Saya memesan onderdil motor di Bandung, Surabaya dan Yogyakarta. Setelah onderdilnya lengkap, saya mulai membangun motor dan memakan waktu sekitar dua bulan," ungkapnya. 

Kepuasan seketika meliputi perasaan Najib kala motor BSA miliknya yang dicat kuning krim itu sudah 
siap menjajal jalanan Kota. Sempat terpikir, rasa-rasanya tak mungkin bisa memiliki motor Eropa lantaran harga jualnya yang tinggi. 

Namun, berbekal keinginan kuat dan kerja keras yang tak kenal lelah, Najib akhirnya dapat 'meringkus' BSA ke garasi rumahnya yang terletak di Jl Karet, No 45. "Bila ada rezeki, saya mau membeli motor Eropa ber-cc lebih tinggi dari motor eropa yang saya miliki kini," harap pria beranak dua yang bekerja sebagai Mekanik Freelance itu. 

Kegemaran Najib pada motor Eropa juga dilandasi niat untuk merawat sejarah motor BSA yang sudah berumur tua dan tidak diproduksi lagi. Motor Eropa seperti BSA dan motor-motor eropa tua lainnya, tidak pernah surut harganya kendati zaman kian maju. 

"Misal, orang mempunyai uang Rp 25 juta. Kemudian dibelikannya motor-motor keluaran sekarang. Boleh jadi, dua atau tiga tahun mendatang, harga jualnya akan turun. Namun, 'bermain' dengan motor Eropa, nilai jualnya tidak akan susut," jelasnya.(sumber:tribun pontianak/ful)

Selasa, 20 November 2012

Pelihara Sembilan Motor Klasik

NAMA Sapta Adjie, sudah santer seantero Kalbar. Ketua Motorhead West Borneo ini memang dikenal identik dengan motor-motor klasik Eropa.

Di garasi rumahnya, terkumpul sembilan motor antik berbagai jenis. Di antaranya, BSA C11 250cc tahun 1955 yang dibeli pada 2007, Raleigh 250cc tahun 1922 dibeli 2008, BSA M21 600cc, Norton ES2 350cc.

Motor-motor legendaris itu masing-masing buatan Inggris. Selain mengoleksi motor buatan Inggris, Adjie juga memiliki motor antik buatan Jerman. Ada Zundaap 50cc, BMW R25/3 250cc tahun 1955 yang dibeli pada 2009, dan EMW 350cc. 

Satu lagi, motor klasik Vespa Super 1964 buatan Italy yang dibeli 2009. "Masih ada dua frame yang sedang dibangun yaitu BMW R26 tahun 1956 buatan Jerman dan Matchless G12 tahun 1960 buatan Inggris," katanya. 

 Adjie mengakui, butuh jalan berliku untuk memiliki motor-motor incaran para kolektor tersebut. Namun, saat motor impian sudah di tangan, ada kepuasan yang sulit digambarkan lewat kata. "Setengah gila rasanya ketika berhasil memperoleh motor Eropa klasik," ujarnya. 

Adjie, tak mengetahui benar penyebab yang membuatnya gandrung pada motor Eropa. Hobinya yang tak lazim itu, begitu sulit dinalar. Ia mulai jatuh cinta pada 2008. Saat itu, ia membeli BSA seri C 11, 250 cc tahun 1955. 

BSA dibelinya dalam kondisi utuh dan surat-suratnya lengkap. Tak lama Adjie kembali membeli BMW R25/3 250cc tahun 1955 yang masih berbentuk bahan atau tidak lengkap seharga Rp 4 Juta. 

"Perlu waktu dua tahun untuk membangun dan menghidupkannya lantaran faktor spare part. Setelah menghabiskan biaya sekitar Rp 30 juta, motor baru bisa hidup serta dapat dikendarai," kata pria yang tinggal di Jl Komyos Sudarso, Perum II, Gg Goa VI itu. 

Kegilaan pada motor Eropa yang "frontal" serta nyali yang tak pernah ciut menjadi modal utama Adjie membeli serta mengoleksi motor-motor eropa original. Bagaimana tidak gila, kondisi mesin motor yang tak hidup dan spare part yang susah dibeli, sanggup Adjie hadapi. 

"Tak semua orang memiliki motor Eropa original. Kendati mampu, namun bila tidak berani dan bernyali jongkok, motor Eropa tak akan terbeli," ujarnya. 

Cara Adjie membeli motor Eropa yakni ada dua cara. Pertama membeli secara cash atau tunai. Sebagai contoh, ia pernah membeli Norton pada 2012 sebesar Rp 45 Juta. Cara kedua yakni secara tukar tambah. Pada 2011, ia menukar 1 unit BMW R25/3 250cc tahun 1955 buatan ditambah uang tunai Rp 15 Juta untuk Norton.

"Sebetulnya sangat sulit untuk menentukan harga motor tua. Kadang tergantung dari keutuhan atau originalnya serta kondisi sebuah motor, jumlah unit yang diproduksi pabriknya dan jumlah yang masih bertahan sampai saat ini, sejarah atau legenda dari motor tua tersebut dan selera dari si penghobi," jelasnya. 

Namun, tambahnya, saat ini harga sebuah motor tua Eropa atau Amerika dengan kondisi full original dan sehat atau hidup jalan, mulai dari Rp 15 juta sampai dengan miliaran rupiah. Sensasi dan kepuasan yang luar biasa adalah gejolak emosionalitas yang dirasakan Adjie ketika mengendarai motor-motor Eropa miliknya. 

Rasa senang, bebas, bangga melebur menjadi satu. "Bangga karena saya memiliki alat transportasi yang memiliki nilai sejarah serta turut serta melestarikan barang bersejarah," tukasnya. 

Adjie berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menjual kembali motor-motor Eropa miliknya, kecuali barter atau tukar tambah dengan motor antik juga. "Karena keinginan saya adalah bisa menambah terus peliharaan motor antik," ungkapnya. (sumber:ful/tribunpontianak.com)

Senin, 19 November 2012

Berburu M21 hingga Mancanegara

MEREK motor yang satu ini pasti sudah tak asing lagi di telinga para kolektor motor klasik. BSA sendiri merupakan kepanjangan dari Birmingham Small Arms.

Birmingham Small Arms Company berdiri pada tahun 1863 di Kota Birmingham, Inggris. Saat ini, motor-motor BSA sesekali masih bisa kita jumpai di beberapa daerah di Indonesia seperti di Yogyakarta, Surabaya bahkan di jantung Ibu Kota Jakarta.  

Keberadaannya yang kini terbilang langka menjadi buronan para kolektor untuk direstorasi dan dijadikan koleksi vintage mereka. Satu di antara kolektornya adalah Nandiwardhana yang juga memiliki motor tua Honda C102. 

Pemuda asal Jakarta ini mengaku menemukan bangkai motor melalui sebuah iklan di media cetak kala itu. "Saya mendapatkan motor ini pada tahun 2008 dari seseorang yang beralamat di Bandung, Jawa Barat. Waktu itu saya membelinya seharga Rp 7,5 juta," tegas Nandi. 

BSA M21 produksi tahun 1941 ini merupakan motor tipe militer yang dirancang oleh BSA sebagai penyuplai kendaraan militer. Produksinya hanya dilakukan sekitar tahun 1939-1945.

"Hampir semua yang ada pada motor ini masih orisinil. Semua pengapian dan kelistrikan saya kondisikan sesuai aslinya," jelas Nandi. 

Sebagai pengganti beberapa part yang sudah usam, pemuda yang menetap di daerah Tebet ini tak segan-segan untuk memesannya hingga luar negeri. Namun memang ada beberapa part yang sengaja dibiarkan sesuai aslinya. Seperti terlihat pada jok yang dibiarkan sobek dan terlihat kuno. 

"Untuk sparepart yang saya gunakan sengaja saya datangkan dari luar negeri. Seperti dari Belanda, Australia namun kebanyakan memang saya datangkan dari negara asalnya, Inggris," ujarnya.

Melihat kondisi BSA M21 produksi tahun 1941 saat ini yang sudah mengalami banyak ubahan tentu saja menjadikan harga motor tersebut melambung tinggi. Bahkan Nandi juga menyebutkan jika harga motor yang ia miliki sekarang ini setara dengan satu unit mobil. 

"Saya pernah membawa motor ini dengan perjalanan paling jauh hingga Bandung," sanggah Nandi. (sumber:http://motor.sportku.com/berita/profil-modifikasi/modifikasi/15496-berburu-motor-lang ka-hingga-mancanegara)
 

Ariel Bangkit Dari Kubur

Di kalangan pecinta motor antik, nama Ariel NH 350cc lansiran 1937 ini bukan lagi mahluk asing.

Tapi, mengingat kisah dan sejarah motor yang bangkit dari kubur menjadi sesuatu yang luar biasa.

Lebih dari 50 tahun, motor ini terpendam di dalam pasir dan derasnya aliran sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa, Sungai Brantas.

Dan di tahun 2006 bangkai motor ini ditemukan oleh seorang penggali pasir Sungai Brantas. Tak ubahnya sebuah Mumi yang hidup kembali, setelah dua tahun ditemukan motor ini hidup kembali dan bahkan sudah menjelajah jalan Jogjakarta-Bali-Lombok dan kembali ke Jogjakarta. 

Konon, diceritakan warga Bojonegoro yang tinggal di bantaran Sungai Brantas, motor tersebut adalah milik seorang bule yang dibunuh warga pribumi waktu zaman penjajahan Belanda dan mayatnya dilempar ke Sungai Brantas bersama motornya. 

Sulistyo Budi yang kini menjadi empu motor tersebut menjelaskan, meski keadaan motor tersebut sudah jauh dari kondisi normal, namun bagi pecinta motor antik ada alasan tersendiri yang membuat sebuah motor menjadi sangat bernilai. 

"Seninya jadi seorang pecinta motor antik, ya masing-masing punya alasan yang berbeda. Bahkan terkadang ada hal yang dianggap orang lain tak masuk akal," kata warga asli Klaten yang tinggal di daerah Jl Prambanan-Klaten Kilometer 3 ini. 

Menurut lelaki berambut gondrong ini, pada tahun 2006 silam seorang penggali pasir menemukan motor ini dengan kondisi terdapat tali Jadung (tali yang terbuat dari kulit bambu-red) yang mengikat sebuah tengkorak manusia. 

"Menurut masyarakat sekitar Sungai Brantas, saat masa penjajahan sebelum RI merdeka, memang ada kejadian pembunuhan terhadap seorang bule yang sedang naik motor oleh warga pribumi, mayat dan motornya kemudian dimasukan ke Sungai Brantas," beber lelaki yang akrab disapa Sulis ini. 

Nah, tengkorak yang terikat di motor Ariel tipe NH bermesin 350 cc itu diperkirakan sebagai pemilik motor pertama dengan rentang kejadian pembunuhan sebelum tahun 1945. Saat pertama diangkat oleh si penggali pasir dari lumpur dan pasir sungai Brantas, rangka nya dipotong jadi tiga bagian dan dijual ke pemulung rongsokan seharga Rp 350 ribu. 

Sempat berpindah tangan ke orang lain dan terakhir dimiliki oleh Mbah Warjo asal Kediri. Di bengkel milik Mbah Warjo inilah ketiga bagian rangka itu disatukan kembali. "Sebenarnya, yang pertama ditemukan bukanlah motor, tapi rangka mobil Fiat "Konde" rakitan tahun 40-an yang udah tak bermesin, selang beberapa saat setelah rangka mobil diangkat dari dasar Sungai Brantas ditemukanlah motor Ariel NH 350 ini," terang Sulis.

"Tahun 2008 saya nekat nebus motor ini meski kondisi mesin belum hidup bahkan banyak banget bagian motor sudah terkikis oleh derasnya aliran sungai Brantas. Jadi banyak teman berkata saya gila dan sinting ha ha ha," ujar lelaki gondrong yang nekat ngerogoh duit 22 juta untuk bisa meminang motor tua buatan tahun 1937. 

Meski secara fisik motor ini sudah seperti rongsokan tak bernilai karena banyak karat dan terkikis aliran air Sungai Brantas, tapi bagian mesin ternyata masih bagus dan berfungsi baik. Sisa oli yang terdapat di dalam mesinnya membuat jantung pacu Ariel NH 350 ini terlindungi dari korosi. 

Restorasi jeroan mesin yang dilakukan Sulis hanya mengganti piston dan ring bawaan dengan piston kepunyaan Mazda dan pengapian aslinya diganti CDI milik Honda Grand. 

"Bagian yang paling susah adalah ngusir 3 mahluk halus yang dari dulu bersarang dan menjaga motor ini. Sampai-sampai istri saya dan karyawan bengkel sering melihat penampakan hantu di motor itu. Tapi setelah dilakukan "upacara selamatan" akhirnya si hantu tersebut mau damai dan motor pun bisa hidup dan jalan lagi," beber pemilik Zundapp 50 Cc dan BSA Side Klep tahun 1941. 

Saat acara ulang tahun Himpunan Motor Tua di Bali tahun 2009 lalu, jadi langkah awal Ariel NH 350 menapak kembali aspal Indonesia setelah bangkit dari tidur panjangnya di dasar Sungai Brantas. Motor racikan duet maut James Starley dan William Hillman asal Inggris di tahun 1870 silam ini pun seperti hidup kembali. 

"Anehnya, meskipun sudah tiga kali motor ini dijual ke orang lain, motor ini tetap kembali lagi ke saya seolah enggak mau pindah dari tangan saya," tutup pria yang kini menjabat sebagai President Bajak Laut MC sambil berbisik "terakhir ada yang nawar sampai 37 jeti."
 
Sumber:http://gilamotor.com/2012/03/ariel-1937-bangkit-setelah-50-tahun-di-dasar-sungai)

Jumat, 16 November 2012

Rp 25 Juta untuk Mesin Norton

ANTIK, sangar dan bertenaga. Tiga kata ini begitu melekat pada tunggangan para penggila motor antik di Pontianak. Para kolektor ini tak sungkan merogoh kocek untuk kepuasan batin.

Een, mekanik motor tua pemilik Bengkel Chika Motor di Jl Martadinata, adalah satu di antara pemilik motor antik. Een sudah terbiasa dengan aliran modifikasi motor khas untuk motornya. Misalnya chooper, jet style, brat style, bobber dan aliran lainnya.

Bagi Een, di balik tampilan garang motor antik, ternyata tersimpan nilai sejarah yang memukau. Ia rela mengeluarkan uang Rp 25 juta untuk membeli seunit mesin Norton Commando 750 Cc keluaran 1972 asal Inggris. Ia juga merogoh kocek Rp 9 juta untuk gearbox orisinil dari Inggris. 

"Hati saya seperti diciptakan untuk mengagumi motor-motor antik. Saya tak bisa berpaling. Dimensi ekstrimitas dan eksotisme motor antik menyandera imaji saya," ujar Een di bengkelnya. 

Tak tanggung-tanggung, setelah dirinci, Een mengeluarkan uang sekita Rp 60 juta untuk memodifikasi motornya. Een mengatakan, pecinta motor tua senantiasa mempertahankan keaslian mesin yang tergolong tua. Sebab, bagi pecinta sejati motor tua, mesin motor merupakan kunci dari seunit motor. 

"Melihat dan menemukan onderdil motor antik, seketika saya tak berpikir harganya. Ada kesenangan yang tak terdefinisikan," tuturnya. Anggota komunitas motor antik seperti Black Jack, Motor Head dan beberapa komunitas lainnya akrab dengan pria ini. Een juga berhasil memburu mesin motor Birmingham Small Arm (BSA) 350 Cc asal Inggris keluaran 1973 seharga Rp 27 Juta. 

Begitu pula motor Matchless asal Inggris. Albert John Steven (AJS) berkapasitas 350 Cc asal Inggris keluaran tahun 50-an juga bersarang di bengkelnya. "Nyaris tak mungkin menemukan motor BSA, AJS dan Matchless, lantaran pabrikan motor itu sudah lama pailit. 

Namun, berangkat dari cinta akhirnya membawa saya menemukan motor itu," katanya. Kegilaan terhadap Motik juga dirasakan Joko Black Jack (37). Joko berhasil mendapatkan motor Binter Merzy 200 CC 1980-an buatan Japan. 

Motor ini ia modivikasi dengan aliran choppers. Usut punya usut, rupanya ia terinspirasi film yang sempat membumi Renegade. "Walau bukan Harley sungguhan, namun kita bisa desain dengan jenis choppers. Kami di Black Jack berkiblat pada model motor choppers," kata Joko. 

Sejak 2004 hingga sekarang, ia sudah mengoleksi empat unit Motik, diantaranya dua unit Binter Merzy 200 CC 1980, Yamaha XS 400 Cc tahun 1970-an buatan Jepang. Kini, Norton 350 Cc idamannya juga sudah menggelinding di aspal. 

Untuk spare part, ia biasa memesannya di Kuching dan Australia. Biasanya, sistem kanibal juga dilakukan jika tak lagi tersedia spare part asli. Ketua Black Jack Very M (33) juga rela menghabiskan duit puluhan juta untuk memiliki dan mengkoleksi beberapa jenis motor. 

Binter Merzy 200 CC buatan Jepang, Yamaha XS 400 CC buatan Jepang, dan BSA 250 Cc buatan Ingris menjadi motor yang pernah dia miliki. Saat ini, hanya BSA yang masih ia pertahankan. (sumber:Tribun Pontianak)

Empu Motor Antik Bekasi

MANG Jajang. Itulah nama lelaki yang biasa menghidupkan mesin motor tua menjadi layak jalan. Karena keahliannya itulah, ia disejajarkan dengan Empu Gandring. He he he hee...

Jajang mengawali karier pebengkel karena didorong oleh kegemaran terhadap motor antik. Motor pertamanya, pada 1985 adalah BMW R25 keluaran tahun 1955 .

"Pada masa itu, motor antik masih mudah didapat. Namun jadi kendala karena sulit mencari orang yang mengerti seluk beluk mesin motor Eropa. Mungkin waktu itu komunitas-komunitas motor antik belum banyak terbentuk," kata Jajang.  

Kesulitan memaksanya belajar otodidak tentang mesin-mesin eropa. Belakangan ia pun kerap diandalkan para penggemar motor antik di daerah Bekasi ini. Bengkel ini, sambung Jajang, berdiri sejak 1990. Berbeda dengan bengkel sepeda motor tua lainnya. 

Sebab di bengkel ini, mempunyai ciri khas unik, yaitu memperbaiki dan memghidupkan kembali motor tua buatan Eropa-Amerika, walaupun tidak menutup juga untuk motor Jepang lansiran terbaru. Bengkelnya terletak di Jl Pengasinan, Rawalumbu, Kota Bekasi. 

Walaupun bengkelnya terlihat kecil dan sederhana, terpampang harta karun beberapa motor antik. Sebut saja Panonnia 500cc, BSA Golden Flash, Matchless 1954, Triumph 200 Cc, dan motor antik lainnya. Seperti diketahui penggemar motor antik Eropa-Amerika berasal dari berbagai latar belakang profesi. Pada umumnya sudah berusia di atas 30 tahun. 

Bagi mereka kecepatan bukan hal utama. Namun suatu kebanggaan dapat menjaga kelestarian sejarah dan budaya bangsa ini tetap bertahan. Selama menekuni usaha bengkel, yang jadi kendala adalah spare part atau suku cadang. Sebab untuk motor Eropa, adalan orisinalitasnya yang yang dicari. Bukan kanibal menggunakan spare part lain. 

Untuk mendapatkanya kadang ia hunting ke teman-teman sesama penggemar motor antik di luar daerah. "Butuh waktu lama menghidupkannya karena spare part susah. Perlu keahlian khusus karena mesinnya berbeda dengan motor keluaran Jepang," kata pemilik BSA Salur ini 

Meski susah mencari spare part dan butuh keahlian khusus, namun ia tidak meatok harga untuk perbaikan motor antik. "Persahabatan merupakan prinsip dalam menjalankan usaha ini. Soal rezeki sudah ada yang mengatur," ujarnya yakin. 

 Ia pun mengaku ada kepuasan tersendiri jika motor yang ditanganinya hidup dan bisa digunakan harian tanpa masalah. Tentu saja, selain sebagai ajang silaturahmi dan persaudaraan.

"Kepuasan itu, yang tidak diungkapkan dengan kata-kata. Bagi yang memiliki motor antik sekadar tukar pikiran, ataupun informasi terkait motor silakan telp 08159312273," katanya. (Sumber:http://bekasikota.go.id)

Kamis, 15 November 2012

Pride With Delapan Norton

KECINTAAN Mochammed Ballazam, asal Jawa Timur, kepada motor Inggris tak bisa dibilang main-main. Hal itu tercermin dari fanatiknya

Bella, demikian ia disapa, menjatuhkan pilihan kepada produk motor Inggris. Ya, Bella hanya memilih Norton. Motor legendaris dunia ini, diburu Bella, sampai ke luar negeri.

Ia rela menjelajah beberapa negara Eropa demi mendapat spare part orisinilnya. Baginya, motor antik lebih artistik. Tak ayal, dia pun berusaha mencari ke beberapa daerah di Indonesia. 

Hasilnya, Bella memperoleh delapan motor Norton dari tahun 1940 hingga 1960. "Saya suka motor antik sejak kecil karena motor antik lebih artistik," ujar Mochammed Ballazam atau biasa disapa Bella. 

Bella mengenal motor antik dari sang ayah. Ayahnya, mengetahui motor dari orangtuanya. Maklum, kakek Bella adalah seorang Polisi dengan jabatan Komisaris Besar Polisi (Kombes) di Jawa Timur. Sang kakek memiliki tunggangan Harley Davidson UL. 

Berhubung ayah Bella menyukai sepeda motor, sang kakek memberikan motor Norton Dominator kepadanya. Koleksi motor Bella orisinil dan sangat artistikKoleksi motor Bella orisinil dan sangat artistikLambat laun Bella pun mulai diperkenalkan dengan motor tersebut oleh sang ayah. 

Sayang, saat Bella sudah mulai tertarik, ayahnya menjual motor ketika Bella duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP). Meski sudah dijual, Bella berharap suatu saat bisa punya Norton sendiri. Impiannya terkabul setelah dewasa. 

Dia mulai mencari-cari sepeda motor Norton ke berbagai wilayah Nusantara. Usaha pria kelahiran 30 September ini tak sia-sia, karena ia berhasil mengumpulkan satu demi satu. 

Kini Bella memiliki Norton International 1941 596cc, Norton ES 2 1949 500cc, Norton ES2 1956 500cc, Norton ES2 1956 350cc, Norton Dominator 1957 500cc, Norton Dominator 1962 500cc, Norton Jubilee 1964 400cc dan Norton Commando 1969 750cc. 

Seluruh motor tersebut dia dapat di Indonesia berkat hunting dan informasi dari teman-temannya. Sementara bahan untuk part dia beli dari luar negeri semisal Amerika, Inggris, New Zealand, Australia, Kanada hingga India. 

Dia membeli ke luar negeri bukan untuk gaya-gayaan. Melainkan memang sulit mencari part sepeda motor tersebut di Indonesia. Norton miliknya diproduksi antara tahun '40 hingga '60-an. Norton miliknya diproduksi antara tahun '40 hingga '60-an"Bisa dikatakan banyaknya barang tidak sebanding dengan banyaknya penggemar. Oleh karena itu, saya belanja ke luar negeri," jelas Bella. 

Empat motor Bella sendiri belum lengkap part dan aksesorisnya. Sementara, empat lainnya sudah cukup lengkap. Motor-motor tersebut ia parkir di garasi rumahnya. Walaupun begitu, kedelapan motor jarang Bella gunakan. 

Ia baru memakai jika ada waktu kosong. Maklum, Bella berprofesi sebagai Marine Engineer yang lebih banyak menghabiskan waktu di laut. Lantaran profesinya pula, Bella memutuskan tidak aktif lagi dalam sebuah komunitas motor. 

Namun, sebagai bentuk kerinduan mengendarai motor, seminggu sekali lulusan STIP ini menunggangi motor antik bersama teman-temannya di sekitar Rawamangun. Untuk perawatan motor, ia mengakui mengalami kesulitan. 

Terlebih saat part motor rusak. Jika seperti itu, Bella segera mencari part dengan cara searching atau tanya-tanya ke teman. Menurut Bella, masalah utama di motor tua adalah pengapian dan persneling. Bila mengalami masalah, terutama untuk maintenance dan overhaul dia mengerjakan sendiri dibantu satu orang sepupu dan tetangga. 

Dia menggunakan garasi sebagai lokasi restorasi motor-motornya. Meski sudah memiliki delapan buah motor Norton, Bella tidak ingin disebut sebagai kolektor. Dengan tegas dia menyatakan, sekedar hobi saja lantaran menyukai fashion untuk keorisinalan motor. 

Untuk itu, dia tidak pindah ke lain hati. Dia tetap menjatuhkan pilihan kepada Norton. "Keburu jatuh cinta sama Norton, jadi ya Norton sajalah," ucapnya seraya tersenyum. Di mata Bella, motor original asal Inggris rata-rata elegant, pride dan handsome sehingga menjadi sebuah kebanggaan tersendiri mempunyai tunggangan motor tua yang terjaga keasliannya. (sumber:http://www.tnol.co.id) 
 

Gaya Bad Boy Beckham

PESEPAK bola asal Inggris, David Beckham, dikenal sebagai selebriti yang memilik minat tinggi terhadap otomotif. Beckham dikenal sebagai kolektor mobil mewah sejak lama dan kini hobi terbarunya adalah menunggangi sepeda motor berkapasitas mesin besar.


Bahkan untuk menyalurkan hobinya, Beckham bersama Tom Cruise membentuk komunitas sepeda motor The Midnight Boys Club. Mainan terbaru Beckham adalah Super Cintage 93 Knuckle.

Sementara Victoria Bechkam dan anak-anaknya belanja di pusat belanja mewah, David Beckham punya cara untuk menghibur dirinya. Pemain Los Angeles Galaxy itu terlihat berkeliling Kota Los Angeles dengan mengendarai sepeda motor antiknya.

Hal tersebut sepertinya menjadi penghilang rasa lelah usai tampil membela LA Galaxy melawan Real Madrid, dan tampil dalam pembukaan Olimpiade 2012 di London. Ia mengendarai motor customnya beberapa waktu lalu, di West Hollywood. Beckham terlihat sangat modis kala menunggangi motor Super Vintage 93 Knuckle.

Ia mengenakan helm kuno tanpa kaca penutup muka, ia menutupi matanya dengan kacamata. Selain itu ia menggunakan celana panjang putih, kaus berwarna hitam, dan jaket kulit berwarna hitam. Pemain berusia 37 tahun itu pergi mengitari jalanan di LA. Kemudian mantan pemain Manchester United itu menyinggahi restoran Gelina in Venice, California, untuk makan siang di restoran itu bersama seorang temannya.

Usai makan siang, suami Victoria Adams itu melanjutkan perjalanannya dengan Super Vintage 93 Knuckle-nya. Sepertinya Beckham sudah jenuh dengan koleksi mobil mewahnya. Bapak 4 anak ini, terlihat sangat bahagia. Bahkan, sempat mengendarai sepeda motornya di samping sebuah bis pariwisata Hollywood Tours.

Sayangnya, para penumpang di dalam bis tidak menyadari ada seorang bintang sepakbola berada di samping mereka. Sebelum memiliki sepeda motornya ini, Beckham sempat memamerkan sebuah foto sepeda motor custom yang dia sukai di account Facebook-nya.

Siapakah yang membuatkan motor bercitarasa vintage ini? Adalah modifikator Yoshi Kosaka dari The Garage Company yang membangun motor pesanan Beckham dengan memakai basis mesin S&S Knucklehead 93 dan transmisi lima percepatan serta elektrik starter.

Sasisnya memakai konsep klasik bergaya 1940-an dengan sentuhan modifikasi dan part lawas seperti peredam kejut dapan asli milik Harley-Davidson lansiran 1934. Semua komponen dibuat khusus agar terlihat tua. Oleh karena itu dibutuhkan waktu satu tahun untuk membangunnya.

Andy Downes, seorang wartawan senior dari Motor Cycle News, mengatakan Beckham diperkirakan merogoh kocek sekitar Rp 306 juta - Rp 315 juta. Sebelum memiliki Knucklehead 93, Beckham sudah memiliki sejumlah motor gede di garasinya.

Di antaranya Confederate F13. Motor ini memiliki desain unik dengan kompresi tingkat tinggi yang membuatnya mampu menyemburkan tenaga hingga 149 tenaga kuda dengan torsi max 203 Nm. Ada juga Ducati Monster 1100. Sepeda motor yang bergaya telanjang ini menggunakan Desmodromin L-Twin dengan dua-silinder yang bertenaga 100 daya kuda.

Tampilan nya berotot dengan menggunakan swing-arm satu sisi. Fitur keamananya cukup canggih karena menganut system ABS dan teknologi Ducati Traction Control. Motor lainnya adalah Ducati 1198 SP. Varian ini diperkuat mesin berkapasitas 1.198 cc yang memuntahkan tenaga hingga 170 hp.

Beckham terlihat menunggangi 1198 Sp saat makan malam di sebuah restoran italia Di LA. Koleksi David Beckham memang hebat dan bukan sembarang sepeda motor. Semuanya memiliki desain unik dan bertenaga besar. (berbagai sumber)

Rabu, 28 Desember 2011

Motor Rongsokan Rp 710 Juta


Jika dilihat sekilas, motor ini seperti barang rongsokan. Tapi, siapa sangka motor yang sudah berkarat tersebut punya nilai 50 ribu pounds atau sekitar Rp 710 juta jika dilelang.

Motor baheula itu adalah Indian Camelback produksi 1906 atau salah satu motor mesin pertama yang pernah dibuatn. Tak heran motor ini menjadi buruan para kolektor kelas kakap.

Motor tersebut langka lantaran hanya diproduksi 1.698. Karena kondisinya yang masih asli, motor ini pun bisa dihargai 50 ribu pound.

Motor ini memiliki silinder tunggal dengan kecepatan maksimum 30 mph atau 50 kilometer per jam. Para kolektor mengincar motor tersebut bukan karena kecepatannya, melainkan lantaran karena antik.

Motor itu dimiliki keluarga du Pont yang membelinya dari Indian Motorcycle Manufacturing Company. Motor tersebut terakhir kali melintas di jalan raya pada 1970-an.

Siapa pun yang membeli mesin antik ini kemungkinan harus mengeluarkan sedikit upaya agar motor tersebut bisa menyala. Namun, upaya restorasi motor ini diperkirakan bisa mengurangi nilainya.

Indian Camelback merupakan seteru kental Harley Davidson. Akan tetapi, perusahaan yang membuat Indian Camelback, Indian Motorcycle Manufacturing Company, bangkrut pada 1953.

Motor ini memiliki sistem pengereman yang unik. Untuk menyetop motor tersebut, dibutuhkan sepatu dengan paku di bawahnya.

Motor tersebut bakal dilelang di Bonhams di Las Vegas, Amerika Serikat, pada 12 Januari 2012. "Motor ini banyak diminati karena kondisinya. Upaya untuk memoles motor ini justru akan menurunkan nilai jualnya," kaya Ben Walker dari Bonham. (disadur dari tempo.co)

Selasa, 13 Desember 2011

Durkopp Diana Bangkit dari Kubur


Sebelum pulang kerja, saya iseng-iseng searching tentang informasi motor antik. Saat tanya Mesin Paman Google, ternyata ketemulah blog milik rekan-rekan KISS Manado, http://kissmanado.blogspot.com.

Saya tertarik dengan informasi yang dibeberkan mengenai proses pencarian Durkopp Diana 1957 berkapasitas 200 Cc. Apalagi jenis motor Jerman yang satu ini, juga tergolong langka. Sulit sekali mencari referensinya di Tanah Air.

Sementara bagi pecinta scooter, keindahan dan keelokan Diana luar biasa. Untuk itulah, saya jadi ingin menyebarkan informasi tentang Durkopp Diana lewat Gilaontel.

Info adanya motor tua buatan jerman telah tercium oleh Bro Naryo sejak tahun 2000. Saat itu kondisinya 100 persen baik. Sayang, motor antik tersebut tidak akan dijual pemiliknya.

Bro Naryo, seperti juga para pemburu sepeda motor tua, punya sifat pantang menyerah. Ia pun kembali pada 9 desember 2008. Ia ditemani assistenya, Arthur. Mereka terkejut karena Durkopp Diana, sudah dalam kondisi sangat memprihatinkan.

Diana di letakkan di dekat sumur yang sudah berlumut. Hanya ditutupi selembar seng. Diana diapit oleh tumpukan batu bata merah yang juga dipenuhi lumut. Boks kiri dan kanan sudah terlepas. Bahkan, beberapa bagian boks sudah keropos dan berlubang.

Lampu yang yang bulat cantik juga terlepas. Begitu juga dengan setang. Jok juga hanya menyisakan plat saja sedangkan busanya habis di makan hujan dan panas. Namun, mesinnya masih terlihat utuh. Begitu juga dengan tebeng kiri dan kanannya yang masih terlihat gagah.

Ternyata sang pemilik belum menyadari untuk merawat motor berharganya itu. Hampir saja, Durkopp Diana jadi abrang kiloan karena kondisinya sudah karatan semua. Ada beberapa bagian yang sudah hilang karena telah diambil pengepul besi tua.

Misalnya, penutup klakson, jok depan, pelek depan dan belakang. Sedangkan stang stir sebelah kanan dibuat gagang pisau dapur. Sementara sekitar 90 persen onderdil dan penampilannya masih lengkap.

Menurut pemiliknya, Durkopp Diana ini hadiah dari seorang pastor kepada assistennya. Pastor itu memberinya dua sepeda motor Jerman. Masing-masing Durkopp Diana Tahun 1957 dan sepeda Solex 1963.

Kini, di tangan dingin dan kreatif Cak Naryo di Wonasa Kapleng, Manado, Si Seksi Durkopp Diana, sudah bangkit dari kubur. Kondisinya sangat layak lihat dan layak jalan. Siapa pun yang memandang, pasti tak menyangka jika Diana sudah nyaris hilang tinggal nama. (haysim ashari)

Sabtu, 10 Desember 2011

Berawal dari Rangka Gosong


* Lady Biker BSA 250

Di Pontianak, Kalimantan Barat, motor antik tidak hanya memikat kaum lelaki. Bahkan, seorang remaja putri, Uly (19), sudah kepincut dengan pesona produk-produk keluaran Inggris. Ia pun melirik Birmingham Small Arm (BSA) C15.

Mahasiswi Jurusan Komputerisasi Akutansi di Bina Sarana Informatika (BSI) Pontianak, ini mengaku bangga menjadi lady biker. Pasalnya, untuk cewek seusianya, jarang sekali yang punya motor antik.

"Awalnya saya tertarik motor antik karena tertular akan hobi Abang saya. Ia suka membangun dan mengkoleksi motor-motor antik," kata Uly kepada Tribun Pontianak, Selasa (6/12/2011).

Ia menceritakan butuh waktu setahun untuk membangun BSA 250 cc tersebut. Di awali dari sebuah rangka. Meski lengkap, namun rangka dalam keadaan gosong.

"Yang bangun motor ini dari rangka sampai menjelma utuh BSA, Abang saya. Ia jago dalam hal membangun motor antik. Saya sih hanya hunting sparepart-nya," ujarnya.

Menurut Uly, jika membangun motor dari rongsokan, kita akan lebih tahu karakter motor. Dengan demikian akan sangat sejiwa saat mengendarainya. Sebab butuh kesabaran menunggu sampai motor impian benar-benar terwujud.

Tidak hanya itu, karena tahu sejak awal, maka akan memudahkan jika dikemudian hari ditemukan kerusakan atau masalah seputar pengapian dan sebagainya. Berbeda jika membeli motor dalam keadaan siap pakai.

Soal rangka, Uly menjelaskan seluruhnya dalam keadaan gosong seperti habis terbakar.

"Mungkin motor itu yang punya rumahnya mendapat musibah kebakaran, yang di dalam garasinya terdapat motor itu," ujarnya.

Dia menjelaskan, motor ini enak diajak lari, alias ngebut. Karena motor ini memiliki stroke atau langkah yang pendek, jadi untuk mencapai akselerasi lebih cepat, ketimbang varian BSA lainnya, yang memiliki stroke lebih panjang.

Namun, menurutnya kekurangan motor ini masih menggunakan sistem pengapian platina. "Dan platinanya berada di luar dengan tutup yang saya rasa belum sempurna. Bila hujan, si platina sering terkena air, jadi motor suka mogok," kenang Uly.

Uly menjatuhkan pilihan ke BSA C15 karena ukurannya yang lebih kecil. Cocok untuk dirinya ketimbang varian motor BSA lainnya seperti B31 atau M20. Itu alasan kenapa akhirnya ia membangun C15.

Ia menjelaskan setelah di restorasi pada 2005 sampai sekarang, belum ada kerusakan yang berarti.

"Rewel sih enggak. Perawatannya mesti rutin ganti oli supaya semua logam yang bekerja di dalam mesin terlumasi," ucapnya.

BSA C15 miliknya itu sudah sering dibawanya touring. "Motor itu udah saya pakai jalan-jalan ke Sintang, Tanah Itam, Sambas, dan kota-kota lainnya di Kalimantan Barat," ucapnya bangga. (mirna)

Spesifikasi

Merk: BSA (Birmingham Small Arm)
Produksi: Tahun 1959
Type/seri: C15
Kapasitas: 250cc
Tipe Mesin: Monoblok
Cylinder (satu): OHV
Velg: 17 inchi
Knalpot: Freeflow

Sabtu, 03 Desember 2011

Tak Sabar Geber AJS Chopper


Butuh lima bulan bagi Yuswardhi, motorist antik Pontianak, Kalbar ini, membangun motor idamannya. Adalah mesin Albert John Steven (AJS) berkapasitas 350 cc yang jadi pilihan. Namun, ia mengesampingkan tampilan classic yang biasa dipertahankan pecinta motor Inggris.

Yus, begitu ia disapa, ingin memuaskan hasratnya dengan membangun motor chopper. Maka mulailah dilakukan selain membenahi mesin biar sehat, juga membangun rangka yang diinginkan. Rupanya, tahapan itu membutuhkan kesabaran dan biaya yang lumayan besar.

Tidak kurang, sekitar Rp 20 juta ia gelontorkan agar AJS bisa menjajal aspal. "Ketika membangunnya, saya tidak sabar untuk segera menggebernya. Ingin cepat-cepat memakainya," kata Yus kepada Tribun Pontianak di kediamannya, di kawasan Tani Makmur, Kamis (01/12/2011).

Pengerjaan yang hati-hati dan teliti dilakukan agar motor tidak hanya sekadar bisa ditunggangi. Ia paham betul, kuda besi Eropanya kelak harus memberikan rasa nyaman dan kepuasan ketika mengendalikannya.

"Motor chopper ini punya nilai plus bagi saya. Membuat saya lebih percaya diri ketika mengendarainya. Kalau naik motor ini, benar-benar naik motor rasanya," ujar Yus.

Ia menambahkan motor tersebut sengaja diubah menjadi chopper agar tampilannya ekstrem. "Kiblat motor saya ke arah ekstrem. Saya suka dengan yang berbau ekstrem. Makanya, sayapun memilih mengubahnya menjadi chopper," ujar anggota Brotherhood Pontianak ini.

Ia pun memastikan rangka chopper yang dibangunnya bisa menopang performa kapasitas AJS yang besar. Sebab, AJS buatan 1952 ini, tidak nyaman dikendarai dengan kecepatan pelan. Biasanya, ia membawa AJS dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam.

"Motor ini sedikit berat. Kapasitas mesinnya cukup besar, 350 cc. Jika pelan-pelan akan terasa berat. Tapi jika dengan kecepatan lumayan tinggi, jadi enak dan nyaman dikendarai," imbuhnya.

Meski mengalami ubahan, namun Yus mempertahankan orisinalitas mesin AJS. Seperti layaknya motor Eropa, terutama Inggris, rem tetap di sebelah kanan dan gigi di sebelah kiri. Gerbox juga mempertahankan bawaan aslinya.

Hanya, sistem pengapian yang menjadi perhatian serius Yus. Sistem pengapian AJS bawaan, diubahnya dengan spul thunder magnet Mio. "Pengapiannya jauh lebih bagus, bandel," jelas Yus.

Sistem suspensi motor ini terletak pada jok. Ia tidak menggunakan shock belakang, sehingga sistem kerjanya mengandalkan per di bawah jok.


Motor ini hanya akan mampu menopang bobot seberat pemiliknya. Yaitu sekitar 85 kilogram. Jika lebih dari itu, menurut Yus, motornya tidak mampu berjalan atau tidak bisa dikendarai. Namun, AJS chopper itu sudah diajaknnya mengarungi hingga ke Riam Merasap.

Hobi memodifikasi motor antik, telah dilakukannya sejak Yus masih duduk di bangku SMA. Motor antik, menurutnya sangat unik dan berbeda dibandingkan motor lainnya.

Ia mengatakan lebih percaya diri naik motor antik ketimbang mengendarai kendaraan lainnya. Walaupun hobinya ini boleh dibilang lumayan menguras kocek, tapi istrinya tidak pernah protes.

Justru sang istri mendukung dengan hobinya yang satu ini. "Istri saya sudah mengerti akan hobi saya. Sejak pacaran sampai menjadi istri, dia sudah memaklumi hobi saya ini," ucapnya. (mirna)

Spesifikasi
Ban: Stronghold, 150/70-21 (depan) dan Trakmax , 150/70-17 (belakang)
Setang: Apehanger
Rangka: Custom
Shock depan: TS
Tangki depan: Custom
Tangki oil: Filter oil army
Spakbor belakang: Custom
Gir depan dan belakang: Custom
Mesin: 350 cc
Modifikator: Kiky, Bengkel Brotherhood, Jl Ayani Pontianak

Jumat, 02 Desember 2011

Vespa Klasik dan Pesona Pulau Dewata












Tanggal 25-27 November saya mengunjungi Bali. Saya diundang XL North Region untuk kegiatan Media Gathering. Ada sekitar 30 jurnalis yang diundang untuk melihat pencapaian XL dan pesona Pulau Dewata.

Selama di Bali, saya menginap di Hotel Spacio di Jl Dewi Sri, Kuta. Begitu tiba di halaman hotel, setelah dijemput di Bandara Ngurah Rai Bali, mata saya langsung tersedot oleh deretan motor butut di samping hotel.

Motor-motor butut itu di antaranya, Honda S 90, Vespa Spint, Honda GL 100, dan banyak lainnya. Karena penasaran, saya tidak lekas masuk hotel. Melainkan melihat dari dekat motor-motor era 70 an tersebut.


Ternyata tempat di mana motor-motor buruk rupa itu adalah sebuah bengkel. Namanya bengkel Island Vespa Classic Bali di Jl Dewi Sri Nomer 20 Kuta. Saya kaget begitu masuk ke show room bengkel yang digawangi Boman dan Rinto tersebut.

Di show room berukuran sekitar 4 meter x 8 meter tersebut, berjejer rapi berbagai jenis Vespa klasik. Entah berapa jumlahnya saya tidak tahu persis karena tidak menghitungnya. Yang jelas, kiri kanan show room penuh dengan Vespa yang seksi dan montok.

Sepenglihatan saya, mayoritas didominasi Sprint berbagai type, Super, Bajaj, dan Kongo. Motor- motor buatan Italia itu, dicustom klasik. Mempertahankan bentuk orisinalitas dengan berbagai warna cerah yang menarik.

Selebihnya, motor dipasangi berbagai aksesoris untuk mempercantik penampilan. Ada foot steep racing, spion bulat, guard spakboard depan belakang, juga guard bodi. Beberapa aksesoris itu, ada yang dibuat sendiri para mekanik, ada juga yang dibeli di agen-agen sparpat Vespa di Bali.

Tidak sekadar mempertahankan gaya klasik, sebuah Kongo warna hitam dop, dimodifikasi dengan dibuatkan zespan di sisi sebelah kiri. Zespan yang dikerjakan Boman itu, terlihat sangat rapi. Terutama bagian sambungan dan pengelasan. Cat juga sangat halus.

Sebuah lampu cantik dimodifikasi Boman di bagian roda Zespan. Sepintas, mengingatkan saya akan Zespan BSA M20 atau BMW R25.

Sambil kenikmati semangkuk bakso di depan bengkel, saya kemudian meminta izin kepada Boman dan Rinto mengambil gambar. "Semua motot di sini sudah laku terjual. Itu punya orang semua. Harganya rata-rata Rp 12 juta," kata Rinto.

Saya kaget karena di Pontianak harganya tidak setinggi itu, kecuali untuk Kongo. Yang membuat saya tambah kaget, rupanya Boman, mekanik yang punya tubuh gempal ini, pernah merambah Kalimantan Barat.

"Saya bekerja di Malaysia. Saat liburan, saya bersama teman pergi ke Sambas, Pontianak, dan Desa Jawa Tengah di Sungai Ambawang," ucap Boman tersenyum.

Ia kemudian memutuskan pergi ke Bali dan membuka bengkel Vespa bersama teman-temannya. Ia mengatakan, masih banyak Vespa klasik yang bisa dijumpai di Bali meski kondisinya kadang memprihatinkan.

Bersama teman-temannya yang lain, Boman menyulap Vespa yang sudah mulai ditinggalkan itu, layaknya baru keluar dari pabrikan di Italia. Bagus, mulus, terawat, tinggal geber. Wajar, karena di belakang show room, terdapat workshop cukup luas untuk mempermak Vespa karatan menjadi cantik nan menawan.

Bravo buat Boman, Rinto dan Island Vespa Classic Bali. Benar-benar scooterist sejati. Berharap bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Thanks atas keramahtamahan kalian. (hasyim ashari)