Jumat, 14 November 2008

Ikut HA-SIL Ontelis Nasional


Halal Bihalal & Silaturahmi (HA-SIL) Ontelis Nasional 2008 merupakan acara pertemuan penggemar sepeda tua seluruh Indonesia. Acara dilaksanakan di kota Jakarta dengan mengambil tempat di Kwarnas Pramuka dan juga di museum Bank Mandiri. Pada kesempatan tersebut, Sepeda Onte Kalbar (Sepok) mengirimkan dua orang utusannya.

Masing-masing Jayus Agus Tono dan Pak Toro. Jayus sempat memperkenalkan keberadaan Sepok di hadapan seluruh peserta HA-SIL dan mendapat sambutan hangat ditandai dengan riuhnya tepuk tangah.

Ternyata, dibanding komunitas pecinta sepeda lain di tanah air, Sepok bisa dibilang paling muda usianya. Belum genap setahun. Dalam kesempatan itu, Jayus sempat berfoto bersama dengan para pejabat Republik Mimpi. Di antaranya dengan Jarwo Kuwat dan Amien Jais (fotonya masuk di wordpress lho!).Sementara Pak Toro yang punya Gazelle ciamik, ikut lomba Hormat Bendera dan menyabet posisi 4 besar.

HA-SIL sendiri pada hari pertama 1 November 2008 di mulai dengan parade senja ontelis yang hadir dari berbagai daerah dan juga seorang tamu dari Malaysia yang biasa di sapa dengan Chegu Hopper. Ketika masuk waktu sholat magrib seluruh ontelis bersama-sama sholat berjamaah di mesjid Istiqlal, setelah itu melanjutkan perjalanan menuju museum bank Mandiri kawasan kota tua Jakarta.

Rangkaian panjang lima ratusan ontelis yang dikawal oleh 2 petugas kepolisian sangat menyita perhatian warga ibukota yang sedang bermalam mingguan.Bermacam gaya pakaian ontelis mulai dari bergaya sinyo/noni belanda, serdadu, perwira, petani, mandor, berpakaian daerah atau yang cuma bergaya casual…tumpah ruah jadi satu pemandangan unik…

Setelah menggenjot kurang lebih 10km dari istiqlal menuju museum, rombongan disambut oleh teman2 komunitas museum bank mandiri, istrihat sejenak selanjutnya melakukan tur keliling museum, setelah itu dilanjutkan dengan makan malam dan rangkaian acara lainnya. (hsm/sepeda wordpress)

Sepok Ajak Masyarakat Bersepeda

Berawal dari keinginan yang sama untuk melestarikan seni dan budaya tempo dulu, para pemilik sepeda tua mencoba membentuk sebuah komunitas. Meskipun masih asing di kalangan penggemar sepeda daerah ini, keberadaan komunitas sepeda ontel (Sepeda Onte, red) begitu menarik dan unik.

adalah Jayus Agustono salah satu penggagas berdirinya Sepeda Ontel Kalbar atau yang disingkat Sepok. Dari keanggotaan yang semula hanya delapan orang, saat ini menjadi 80 orang. “Tiga tahun lalu komunitas kami hanya berjumlah delapan orang. Sempat vakum dua tahun, sekarang komunitas Sepeda Ontel semakin diminati. Saat ini jumlah anggota Sepok ada 80 orang,” kata Jayus yang saat ini dipercaya memimpin komunitas tersebut.

Sepok, menurut Jayus, resmi berdiri pada 12 Januari 2008. Ini bermula saat komunitas sepeda tua yang berada di wilayah Pontianak Selatan, wilayah Parit Haji Husin (Paris) dan Sei Raya bertemu dengan penggemar sepeda tua di wilayah Pontianak Barat. Bertemunya dikarenakan para penggemar yang kebanyakan orang seni dan pengoleksi barang antik selalu hunting mendapatkan barang-barang orisinil untuk aksesoris sepeda.

“Saat bertemu sekitar akhir Tahun 2007, kami bersepakat untuk membentuk komunitas sepeda tua di Kota Pontianak. Kemudian diberi nama Sepok yang artinya Sepeda Ontel Kalbar. Kita berharap komunitas ini juga melebar ke seluruh wilayah Kalimantan Barat,” ungkapnya.

Jayus yang juga merupakan salah satu pelukis senior milik Kalbar tersebut, menganggap bahwa Sepeda Ontel, merupakan satu komunitas yang unik dan belum ada di daerah ini. Oleh karena itu, ia termotivasi untuk membentuknya. Keberadaan komunitas ini juga diharapkannya bisa memberi angin segar bagi kelestarian barang-barang kuno, antik dan tempo dulu.

Dikatakannya, keberadaan komunitas ini diharapkan mampu merubah imej remaja dan anak muda yang menganggap sepeda merupakan barang yang sudah tidak diperlukan dan tergantikan oleh kendaraan bermotor.
“Sebenarnya imej ini yang harus kita ubah. Saya ingin orang-orang kembali ke masa lalu dan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Alangkah bersih dan sehatnya kota ini, jika keinginan itu bisa terwujud,” harap dia.

Jayus lalu mencontohkan negara maju, seperti Amerika dan Eropa, yang sudah memasyarakatkan penggunaan sepeda kepada penduduknya. Bahkan Negara China sejak dahulu menjadikan sepeda sebagai alat transportasi warganya. “Di negara maju saja sosialisasi kearah tersebut sudah dilakukan, lantas kenapa kita tidak mencobanya,” ujar Jayus.

Krisis BBM beberapa waktu lalu, lanjut pria yang tinggal di Jalan Paris I ini, membuka mata dunia, bahwa alat transportasi sepeda menjadi sangat penting dan sebagai salah satu solusi dalam mengatasi problem BBM. Sepeda tak lagi menjadi bahan pajangan, tapi benar-benar difungsikan sebagai alat transportasi.

Lebih lanjut Jayus mengungkapkan, tujuan berdirinya komunitas Sepok, bukan semata-mata mencari kesenangan. Keberadaan komunitas ini juga berawal dari kesulitan dan keluhan teman-teman karena semakin hari harga BBM semakin tak terkendali. Sementara jumlah pemilik kendaraan semakin bertambah ramai. "Lalu kami putuskan untuk beramai-ramai menggunakan sepeda, tapi dengan konsep yang berbeda. Maka ditemukanlah Sepeda Onthel," katanya.

Menurut Jayus, pemicu semakin rendahnya minat masyarakat terhadap sepeda, selain karena perubahan zaman yang serba instan, harga jual kendaraan roda dua dan empat tanpa uang muka dan kredit ringan juga menjadi salah satu sebab pesatnya pertumbuhan pemakai kendaraan. Sementara BBM yang dihasilkan semakin hari semakin menipis. "Dunia semakin terjepit karena kebutuhan yang semakin drastis," tukas dia seraya mengajak masyarakat dan remaja ramai-ramai hijrah ke sepeda sebagai alat transportasi.

Dari sinilah, lanjut pria berambut plontos ini, keberadaan sepeda mulai tertinggal. Hanya pecinta dan pehobi olahraga sepeda saja yang masih menganggap barang ini berharga. Sementara bagi remaja dan generasi muda, sepeda tidak modern dan tidak layak lagi dipakai. Persepsi tersebut yang harus diubah. Menurut Jayus, sepeda juga masih menarik untuk tetap dilirik. Bagaimana menjadikan sepeda tersebut berkelas dan mendapat tempat di masyarakat. "Mungkin sepeda Onthel bisa menjadi jawabannya," tukas dia.(budianto/pontianakpost)

Sabtu, 27 September 2008

Sepeda Onte Kalbar


Sama seperti kota-kota lain di Tanah Air, di Pontianak muncul pecinta sepeda tua yang kemudian berhimpun dalam organisasi Sepeda Onte Kalimantan Barat (Sepok).

Ikhwal pembentukan Sepok, sebenarnya sudah lama. Hanya saja, aktivitasnya belum begitu intensif. Anggotanya pun hanya beberapa orang saja. Tepatnya, hanya Jayus Agustono, dan rekan-rekan dari Parit Haji Husein I.

Secara tidak sengaja, Jayus bertemu dengan pecinta sepeda tua dari Pontianak Barat, dalam hal ini ada Ateng dan Hasyim. Maka jadilah, kami gagas pertemuan untuk membulatkan tekad menghimpun semua pecinta sepeda tua di Kalbar. Pertemuan kami gelar di Bundaran Universitas Tanjungpura, pertengahan Januari 2008.

Saat itu yang berkumpul hanya sebelas orang dengan sepeda yang sangat terbatas. Kini, setelah nyaris setahun, Sepok sudah membetot perhatian warga Kota POntianak dan masyarakat Kalbar. Sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan swasta kerap menggandeng Sepok jika menggelar kegiatan.

Publikasi media massa juga sangat membantu. Kini, anggota Sepok sudah berjumlah 100 orang. Tentu saja dengan berbagai merk sepeda. Ada BSA, Mister, Hercules, Raleigh, Gazelle, Robinson, Fongers, Batavus, Opel, NSU, Burgers, dan masih banyak lagi.

Maka, jadilah sekarang merk-merk sepeda tersebut memiliki nilai jual tinggi. Dari yang tadinya barang rongsokan tidak terpakai, kini bernilai jutaan rupiah. Bahkan, ada anggota Sepokk yang membeli Gazelle seharga Rp 10 juta. Tidak percaya bukan?

Jangan tanya, kalau sudah merknya simplex atau frame x. Tapi, itulah kenyataannya. Itulah bukti sebuah hobi bisa mengalahkan akal sehat. Untuk sebuah besi tua tak bermesin harganya mengalahkan sebuah sepeda motor keluaran tahun 2002. Busyet....!

Itu belum mendengar rekan-rekan Ontelis lain di Nusantara. Bayangkan, sebuah lampu minyak dan karbit harganya antara Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta.

Pengantin Pesanan


Berikut adalah feature tentang Pengantin Pesanan yang berhasil menyabet The Best Feature di ajang Dahlan Iskan Award 2007-2008. Tulisan ini diselesaikan dalam waktu sepekan. Empat hari untuk menghimpun data, sisanya membuat laporan. Selamat menikmati semoga bermanfaat.

Menyusuri Pengantin Pesanan Amoy Singkawang dengan Pria Taiwan (1)
Berkorban Demi Orangtua,
Berpisah Dengan Kekasih Tercinta

Bagi banyak pasangan, butuh waktu tahunan untuk sampai ke jenjang pernikahan. Dimulai dari perkenalan, pacaran, tunangan hingga naik pelaminan. Namun di Singkawang, untuk jadi pengantin hanya memakan waktu dua pekan. Khususnya bagi perempuan Thionghoa yang menikah dengan pria Taiwan.

Namanya Tun Sui Lang (18). Gadis yang biasa disapa Alang ini, tinggal di Jalan Shau Hian, Singkawang. Saat ditemui, remaja yang tidak tamat Skolah Dasar itu, terlihat rapi. Mengenakan kaos berkerah warna hitam, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Beberapa helai rambutnya dicat warna Golden Chocolate. Malam itu, Alang terlihat memikat, modis dan dinamis. Tidak heran jika Lim Thien Sheng (37), yang kepalanya mulai botak, dibuat tidak bisa tidur nyenyak.

“Awalnya saya tidak mau. Tapi, mama bilang lihat saja dulu,” ujarnya.
Bukan tanpa alasan, Tung Sui Chin (45) merayu putri ketiganya itu. Suaminya, Jong Fo Kim (51), sudah empat tahun tak bekerja. Keterampilannya membuat keramik, dikalahkan oleh usianya yang mulai renta. Untuk menyambung hidup, Tung Sui Chin memilih bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Penghasilannya memang tidak seberapa. Tapi pekerjaan itu jauh lebih ringan, tinimbang harus tiap hari menyusun bata. Tapi tetap saja, semua itu belum cukup untuk menghidupi keenam anaknya. Satu persatu, mereka putus sekolah. Sampai suatu ketika, dia didatangi tetangganya, Ajung. Perempuan yang baru pindah dari Jakarta itu, membawa kabar gembira.

Ada warga Taiwan yang sedang mencari istri. Dia kemudian ingat, puluhan tetangganya menerima tawaran itu. Kini mereka hidup jauh lebih baik. Diapun menemani Alang ke hotel. Disanalah, Lim Thien Sheng menginap. Rupanya kedatangan mereka, sudah ditunggu. Ada Lina Moice makelar asal Jakarta, Ajung seorang cangkau dari Singkawang, Aching sebagai penterjemah serta Aliong yang bertugas sebagai sopir.

“Calon pengantinnya bukan hanya saya. Ada juga calon-calon lainnya,” kenang Alang.
Di atas meja, di kamar Lim, berjejer photo-photo berwarna. Ukurannya 3R. Jumlahnya 27 lembar. Alang ingat benar photo-photo itu. Mereka masih muda-muda. Satu diantaranya ia kenal sebagai sahabatnya. Mereka berasal dari daerah Lirang. Tidak jauh dari objek wisata Pasir Panjang.

“Diantara sekian banyak pilihan, dia memilih saya,” tutur Alang, yang mengkau sudah punya kekasih. Yang setia dan mencintai dirinya apa adanya. Dia saat ini sedang kuliah.
Pembicaraanpun terjadi diantara mereka. Dua hari berselang, kedua pasangan yang baru bertemu ini, masuk masa perkenalan. Mereka kemudian jalan-jalan. Diantar sopir, mereka mengunjungi banyak tempat.

Diantaranya, sembahyang di Klenteng Taiwan di Sei Jungkung, berwisata ke Taman Bougenville, hingga makan-makan disejumlah restoran.
Setelah dirasa cukup akrab, sepekan kemudian dilangsungkan resepsi pernikahan. Resepsi, bisa dilakukan dibanyak tempat. Bisa di rumah sendiri, di restoran, di rumah cangkau, hingga di hotel.

Keluarga Alang memilih proses resepsi di rumah. Yang diundang sebatas keluarga dekat. Acaranya, tidak terlalu meriah. Meja makanpun, hanya ada tiga buah. Satu meja diisi lima sampai enam orang. Baju pengantin dan perhiasan, semua sudah disiapkan oleh Lim. Ada kalanya juga, semua keperluan sudah dikelola para cangkau. Orang tua Alang mendapat Rp 5 juta sebagai angpau.

“Sebagai anak, saya punya kewajiban. Berbhakti kepada orang tua. Meringankan beban mereka, adalah sebuah tindakan mulia. Saya ingat, ada teman waktu kecil, sudah sepuluh tahun di Taiwan. Menikah, punya anak, dan bisa kirim uang,” bebernya.
Alangpun terpaksa menerima takdirnya. Menjadi istri pria berkacamata, yang lebih pantas menjadi bapaknya.

Sesaat setelah pesta pernikahan, Alang tidak bisa tenang. Ada keterpaksaan dan penyesalan datang. Bagaimana mungkin, sebuah rumah tangga bertahan bila dipaksakan. Apalagi dia masih muda, cantik dan menawan. Lebih dari itu, sebagai perempuan, dia yakin masih punya pilihan. Termasuk masa depan yang lebih menjanjikan. Tapi, semua proses itu konon tidak bisa dibatalkan.

Kemudian diuruslah semua keperluan Alang. Terutama, visa, passpor dan Akta Perkawinan Campuran. Sementara, Lim terbang pulang ke Taiwan. Sejak pertama kali datang, dia memang tidak punya beban. Apalagi kerepotan. Cukup menyerahkan sejumlah uang. Segala sesuatunya, sudah diurus makelar atau Mak Comblang. Dari menentukan calon pasangan hingga menerbangkannya ke Taiwan. Karena itulah, fenomena sosial ini dikenal dengan sebutan Pengantin Pesanan.

Warga Thionghoa Singkawang menyebut Pengantin Pesanan dengan Che Siauw. Ada juga yang menamainya Kawin Photo dan Kawin Campur. Dikenal pertama kali Tahun 1980. Bersamaan dengan kunjungan KADIN Taiwan ke Kalbar saat itu. Tidak hanya ke Pontianak, delegasi ini juga mengunjungi Kota Singkawang.

Masyarakat Singkawang percaya, mereka satu leluhur dengan masyarakat Taiwan. Sama-sama dari China Daratan. Persaudaraan itupun dilanggengkan oleh ritual suci bernama pernikahan. Sampai saat ini, pernikahan antara perempuan Thionghoa dengan pria Taiwan, terus terjadi.

Kantor Catatan Sipil Kota Singkawang, mencatat tahun 2005 ada delapan pernikahan yang didaftarkan. Tahun 2006, diterbitkan 13 lembar Akta Perkawinan Campuran. Hingga September tahun 2007, sudah ada 31 yang terdaftar. Sayang, tahun 2002 datanya tidak tersedia.
“Masih merujuk ke Bengkayang,” kata Benny, Staf Bagian Pelayanan Catatan Sipil Pemkot Singkawang.

Kepala Kantor Catatan Sipil Kabupaten Bengkayang, Drs Lorensius memaparkan, jumlah Perkawinan Campuran yang didaftarkan cukup banyak. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, tahun 2002 paling besar jumlahnya. Ada 312 lembar Akta Perkawinan Campuran yang diterbitkan. Tahun 2003 dikeluarkan 192 lembar. Tahun 2004 ada 165 lembar.
Tahun 2005 dan 2006 masing-masing 61 lembar dan 155 lembar. Hingga September 2007, telah diterbitkan 51 lembar akta. Baik Benny maupun Lorensius menegaskan, angkanya bisa jauh lebih besar.
“Ada warga Singkawang dan Bengkayang yang kawin di Pontianak dan Jakarta,” kata mereka.

Karena alasan itu pula, sampai saat ini, banyak versi tentang jumlah warga Singkawang di Taiwan. Prof Tangdililing meneliti, hingga tahun 1997 ada 3.410 warga Kabupaten Sambas (termasuk Singkawang-red) yang menikah dengan pria Taiwan. Asisten Kebijakan dan Pemerintahan Setda Kota Singkawang, Drs HM Nadjib MSi, mencatat ada 15.000 warga Singkawang yang menetap di Taiwan hingga Tahun 2006.

Data tersebut, diperolehnya dari Kunjungan Kadin Taiwan ke Singkawang beberapa waktu lalu. Sementara Lembaga Bantuan Hukum Perempuan dan Keluarga (LBH PEKA) Singkawang mencatat, antara tahun 1987-2006 terdapat 27.000 warga Sambas, Singkawang dan Bengkayang di Taiwan. Di Taiwan, menurut catatan Hairiah SH Anggota Komnas HAM

Perwakilan Kalbar, Divisi Perlindungan Kelompok Khusus, jumlah Pengantin Pesanan dari berbagai negara, tahun 2003 mencapai 240.837 orang.
Dari jumlah tersebut, pengantin dari Asia Tenggara saja, 42,2 persen. 57, 5 persen diantaranya berasal dari Vietnam, dari Indonesia 23,2 persen, Philipina 5,3 persen, dan 8,7 persen dari negara lain. Tahun 2005, jumlah Pengantin Pesanan meningkat menjadi 365.000 orang.

Tingginya angka Pengantin Pesanan ini, menurut Ketua Majelis Adat Budaya Thionghoa (MABT) Kota Singkawang, Wijaya Kurniawan SH disebabkan oleh sejumlah faktor. Faktor yang paling dominan adalah kemiskinan. Sedikitnya, ada sekitar 27.000 warga miskin pada tahun 2001, yang dicatat Kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Kependudukan Kota Singkawang. Dari jumlah penduduk 120.000 ditahun yang sama, kurang lebih 60 persen di antaranya adalah warga keturunan Tionghoa.
“Mayoritas mereka yang menjadi Pengantin Pesanan datang dari keluarga tidak mampu,” kata Wijaya.


Menikah dengan pria Taiwan, lanjutnya jadi jalan pintas untuk keluar dari lingkarang kemiskinan. Apalagi, tidak ada kesempatan untuk hidup lebih baik di Singkawang. Lapangan kerja tidak tersedia. Makin parah dengan interaksi miskin kaya, yang berlangsung kurang sehat. Disisi lain, orang Thionghoa punya keyakinan. Bahwa hidup harus diperjuangkan. Nasib harus berubah. Jika harus berkorban, itupun akan dilakukan.

“Daerah ini, sudah hutang budi. Putri-putri Singkawang itu, berkorban demi bhakti. Dengan perkawinan ini, sudah banyak keluarga yang terselamatkan. Mereka kirim uang untuk perbaikan tempat tinggal, peningkatan kesehatan, hingga biaya pendidikan,” kata Wijaya lagi.

Di Taiwan, mereka yang sudah menikah, juga bisa bekerja. Ada yang bekerja disektor industri, pertanian dan peternakan. Tidak sedikit pula yang ikut membantu menjalankan roda usaha suami. Memang bukan tanpa hambatan. Bahasa dan etos kerja kerap jadi kendala. Nah, mereka yang mampu beradaptasi, biasanya berhasil.

Maya Santrini, Ketua Bidang Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Imigran Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat (FKPSM) Nasional, menegaskan ada alasan mengapa pria Taiwan memilih perempuan Thionghoa, sebagai pasangan. Menurutnya, perempuan Thionghoa dikenal memiliki sifat hemat, rajin, ulet, setia dan hormat kepada suami.

“Selain berpendidikan rendah, menikahi mereka juga lebih murah biayanya. Apalagi bisa memilih, yang lebih muda. Kondisi ini bertolakbelakang dengan wanita Taiwan. Mereka berpendidikan tinggi, mandiri, mementingkan karir ketimbang berkeluarga,” ungkap aktivis yang sering keluar masuk pemukiman Thionghoa ini.

Karena itu tambahnya, pria Taiwan yang kurang mujur soal urusan pernikahan, banyak yang mencari istri dari negara-negara Asia Tenggara. Termasuk Indonesia. Biasanya mereka adalah pekerja kasar, juga pensiunan. Umurnya rata-rata 30 tahunan ke atas. Persamaan budaya seperti, pemujaan terhadap leluhur, konfusianisme dan buddisme juga turut memperlancar proses perkawinan tersebut.


Menyusuri Pengantin Pesanan Amoy Singkawang dengan Pria Taiwan (2)
Tetap Jadi Pilihan Keluar Dari Kemiskinan

Menemui keluarga Pengantin Pesanan, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Warga Thionghoa, memang dikenal ekslusif. Mereka sangat hati-hati dan cenderung tertutup. Sikap itu, memang tidak sendirinya terbentuk. Selama Orde Lama dan Orde Baru, mereka kerap mendapat perlakukan diskriminatif.

Dari sepuluh keluarga yang didatangi, hanya dua yang membuka diri. Mereka adalah keluarga Ng Khiuk Hiong (65), tinggal di RT 19/RW 04 Kelurahan Sedau dan keluarga Thong Gie Thiam (47) warga Gang Setuju, RT 22/RW 09, Pasiran.

Menuju rumah Ng Khiuk Hiong, hanya ada jalan setapak. Di kiri dan kanannya, banyak ditumbuhi semak. Meski berjarak 200 meter dari Jalan Raya Sedau, rumah itu berada jauh di dalam kebun. Ada pohon pisang dan pohon rambutan yang tumbuh rimbun. Dibanding rumah lainnya, rumah itu tampak sangat mencolok. Bukan semata baru dicat putih. Tetapi karena permanen, besar, bersih, dan rapih.

“Dulunya tidak begini. Bernafas saja susah,” kata Ng Khiuk tersenyum lebar. Bicaranya lancar dengan logat Khek yang kental. Dia memang tidak bisa Bahasa Indonesia. Untunglah, ada Rio Dharmawan, tokoh pemuda Thionghoa yang bersedia jadi penterjemah.

Tahun 1992, suaminya, Phang Hon Siu jatuh sakit. Tidak ada uang untuk berobat. Tidak lama berselang Asiu, biasa dia dipanggil, akhirnya meninggal. Ditinggal tulang punggung keluarga, sebuah pukulan telak. Dirinya sendirian banting tulang, menghidupi enam orang anak. Dia bekerja apa saja hanya sekedar bertahan hidup. Sampai akhirnya, tidak mampu lagi menyekolahkan anak-anaknya. Dia mulai berpikir keras, bagaimana bisa menyelamatkan keluarganya.

Dan jalan keluar itupun, akhirnya terbuka di depan mata.
“Ada seseorang yang datang ke rumah. Dia mengatakan, ada orang Taiwan yang mencari istri,” paparnya.
Dia lantas membicarakan hal itu kepada, Phang Miao Sung (32) yang saat itu berumur 19 tahun. Ternyata orang Taiwan tersebut suka. Perkenalan itu berjalan mulus. Singkat cerita, upacara perkawinan dilangsungkan. Mengundang kerabat dekat di rumah.

Setelah Phang Miao Sung diboyong suaminya ke Taiwan, selang beberapa bulan, giliran Phang Miao Ha (28) yang masih berumur 15 tahun, mengikuti jejak kakaknya.
“Saya tidak memaksa mereka. Saya bilang, kalau tidak cocok, tidak perlu dipaksakan. Rupanya mereka sama-sama suka,” kata Ng Khiuk yang masih ingat, dia menerima uang susu Rp 3 juta untuk masing-masing anaknya.

Dua tahun berlalu. Anaknya yang lain, Phang Yuk Fui (35), yang berusia 23 tahun, dipinang pria asal Hongkong. Yuk Fui, lalu pamit dan ikut dengan suaminya. Setelah itu, sedikit demi sedikit, mulai ada perubahan. Secara ekonomi, ketiga anak-anaknya itu, sangat membantunya.

“Perorang, mereka kirimi saya 5000 NT$. Sekitar Rp 1,5 juta, dua bulan sekali. Selain untuk keperluan sehari-hari, ditabung untuk bangun rumah,” kata Ng Khiuk yang sudah dikaruniai lima orang cucu dari ketiga anak perempuannya itu.

Sebelum ketiga anaknya menikah, rumahnya Ng Khiuk lebih mirip barak. Penerangan mengunakan pelita minyak jarak. Ukurannya hanya 4x6 meter. Dinding dan lantainya, dari papan. Atapnya dari daun nipah. Kini, semuanya berubah. Rumah dibangun permanen. Ada empat kamar tidur. Ukurannya memang lebih luas, 6x14 meter. Dinding dan lantainya dilapisi mamer. Warnanya abu-abu dan hijau muda.

Dalam waktu dekat, rencananya akan dilengkapi dengan Antena Parabola sebagai receiver. Rumah itu juga menjadi tempat berlindung bagi menantu dan cucu-cucunya, dari anaknya yang lain.

Potret Pengantin Pesanan, memang tidak selamanya menampilkan sisi manis. Ada juga sisi yang membuat kita miris. Misalnya, seperti yang menimpa keluarga Gow Sie Lan. Sejak menikah tahun 1982, keluarganya tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Sebab dirinya, tidak pernah memberi kabar. Mereka yang gagal, biasanya memang malu untuk kembali.

Kalaupun kembali, sebagian memilih jalan cerai.
Perkara gugatan cerai, biasanya didaftarkan di Pengadilan Negeri Singkawang.
“Dua tahun terakhir, tidak ada gugatan cerai Kawin Campur, “ kata Humas Pengadilan Negeri Singkawang, Nyoman Wiguna SH.

Meski begitu, hakim yang sebelumnya bertugas di Bali ini menaparkan, dari tahun 1997 hingga tahun 2003, sedikitnya ada 170 kasus gugat cerai kawin campur. Tahun 2005, hanya ada empat kasus. Tahun 2006 sampai September 2007, belum ada gugatan yang masuk.

Nyoman menjelaskan, gugatan bisa didaftarkan ke Pengadilan Negeri Singkawang. Karena biasanya, pihak penggugat, dalam hal ini istri, berdomisili di Singkawang dan sekitarnya. “Tetap akan kita proses. Kalau pihak tergugat Warga Negara Asing, maka konsulatnya yang kita hubungi,” paparnya.

Biasanya, lanjut Nyoman, pihak tergugat tidak datang ke persidangan dari awal sampai akhir. Untuk itu, nanti putusannya verstek. Amar putusannya, akan diserahkan ke pihak tergugat. Jika pihak tergugat keberatan, yang bersangkutan bisa melakukan upaya perlawanan. “Jika begitu, kasus kita buka kembali,” kata Nyoman lagi.

Memang tidak semua menempuh gugatan cerai di pengadilan. Ada juga yang berpisah begitu saja. Seperti yang ditempuh oleh Tjew Sin Fung (17). Dia kini kini ditampung di Shelter LBH PEKA Singkawang. Gadis yang bersahaja itu, biasa disapa Afung. Meski baru pertama bertemu, dia tidak terlihat canggung.

“Ingin membantu ibu. Tapi itu dulu. Sekarang jera,” kata pemilik tubuh semampai ini.
Sama seperti anak lainnya, Afung sangat ingin membantu orang tua. Syukur-syukur bisa membebaskan orang-orang yang dicintainya dari kemiskinan. Tahun 2005, ayahnya Amat (53), meninggal terserang paru-paru basah. Setelah itu, praktis hanya ibunya, Tjew Miao Ngo (55) yang bekerja. Ikut bantu-bantu orang.

Penghasilannya pas-pasan, bahkan lebih sering kurang. Afung dan kedua saudaranya, tidak punya banyak pilihan. Sekolah, mereka harus putus di tengah jalan. Setahun setelah kepergian Amat, Kimoi, bibinya datang ke rumah.
“Dia tanya apakah saya mau menikah dengan pria Taiwan. Umurnya 30 tahunan,” kenangnya.

Saat itu, usia Afung masih 16 tahun. Oleh cangkau, umurnya dikatrol jadi 19 tahun. Afung menerima tawaran itu, karena terdorong oleh niat berbhakti kepada orang tua. Apalagi, sepuluh orang tetangganya sudah berangkat duluan. Mereka hidup enak di Taiwan. Ekonomi keluarga juga meningkat perlahan-lahan. Bulan Mei 2006, digelar pesta pernikahan.

Acaranya digelar di hotel. Dari prosesi itu, Tjiew Miao Ngo mendapat angpao Rp 6 juta. Afung menerima uang Rp 1 juta. Uang itu untuk membeli pakaian. Sebab perhiasan seperti anting, cincin dan gelang sudah disiapkan suaminya. Saat ditanya, siapa nama suaminya, Afung mengaku lupa. Yang diingatnya, hanya punya suami pengangguran. Pergi seharian, baru pulang malam. Bangun tidur jam 12 siang.

Padahal, saat bertemu dia mengaku sebagai mekanik. Meski begitu, dia tipe suami yang tahu bagaimana membuat istri tidak berkutik. Afung disekap di kamar berukuran 4x4 meter. Tidak bisa kemana-mana selama dua bulan. Setiap hari makan bubur, nasi bungkus dan daun Singkong.
“Kami tidak pernah masak. Untuk makan, dia minta uang kepada ibunya. Sementara, saya tidak kunjung bisa bekerja. Itu yang memuat saya tidak tahan,” kenangnya.

Gadis yang sekolahnya hanya sampai kelas 3 SMP ini, lalu minta berpisah. Suaminya setuju. Dengan catatan, ada uang pengganti. Jumlahnya Rp 30 juta. Sebab, sebesar itulah uang yang sudah diserahkan kepada Afuk, makelar di Taiwan untuk menyuntingnya. Afuk pun mencarikan jalan keluar. Afung harus menikah lagi dengan pria Taiwan lainnya.

Dengan asumsi, uang dari suami keduanya itu, akan dipakai untuk mengganti uang suami pertamanya. Selama menunggu mendapat suami baru, Afuk menyediakan berbagai fasilitas. Makan, penginapan hingga sebuah sedan mewah untuk bepergian.
“Saya ditawarkan dari rumah ke rumah. Tiap rumah kami ketuk, untuk mengetahui apakah saya cukup diminati untuk dijadikan istri. Dari rumah pertama hingga kesembilan, rupanya tidak ada yang mau. Kalaupun ada, saya yang tidak mau. Baru di rumah kesepuluh, pria bernama Lai Chin Fin (32) tertarik dengan saya. Saya juga sudah kelelahan, jadi langsung mengaku cocok kepada Afuk,” bebernya.

Afung yang ingin cepat pulang, tentu senang mendapat suami baru. Karena hanya dengan cara itulah, dia bisa kembali. Iapun beralasan, ingin menjenguk orang tuanya lebih dulu, sebelum menjadi Pengantin Pesanan untuk yang kali kedua. Afung kemudian menjalani masa perkenalan dengan Lai Chin Fin. Mereka jalan-jalan dan makan-makan di Taiwan.
“Kami menikah Agustus 2006,” kata Afung lagi.

Afuk kemudian membiayai kepulangan Afung ke Bengkayang. Termasuk meminta kaki tangannya di Singkawang dan Pontianak untuk membereskan administrasi yang diperlukan. Identitas Afung dipalsukan. Fo Sin yang mengurus semuanya. Di passpor yang kedua ini, namanya berubah jadi Tjiew Mei Ling. Umurnya juga menjadi 22 tahun. Untuk pernikahan kali ini, ibunya hanya mendapat Rp 2,6 juta.

Sementara dirinya tidak dapat apa-apa. Saat akan kembali ke Taiwan, Afung menolak berangkat. Kegagalan pernikahannya dengan suami pertama, masih membekas. Ia kemudian melaporkan hal lini kepada sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Seorang cangkau asal Singkawang, Ly yang datang menjemputnya, berhasil diringkus. Afung tidak sendirian.

Seorang korban Pengantin Pesanan lainnya, Alang juga melawan. Dia menyeret seorang makelar dan tiga orang cangkau. Satu diantaranya diketahui sebagai Pegawai Honorer Kantor Catatan Sipil Kabupaten Bengkayang. Apa yang dilakukan dua gadis desa itu, memang hal langka. Selama 27 tahun, banyak korban yang enggan bersuara. Pengantin Pesanan yang jadi korban kekerasan, hingga eksploitasi seksual, biasanya memilih bungkam. Keluarga menganggap itu sebagai aib dan tidak pantas diungkap.


Menyusuri Pengantin Pesanan Amoy Singkawang dengan Pria Taiwan (3)
Sisi Lain Perdagangan Manusia, Haruskah Diberangus ?

Pro kontra kini mencuat seputar Pengantin Pesanan. Bahkan perkawinan ini dituding sebagai wajah lain dari perdagangan manusia. Perdapun dihadirkan untuk mengatasi dampak negatifnya. Akankah aturan ini efektif? Bagaimana nasib perkawinan ini kelak?
Bisnis Pengantin Pesanan antara amoy Singkawang dengan pri Taiwan, cukup menggiurkan.

Pria Taiwan, mengeluarkan Rp 20 – 40 juta untuk mendapatkan istri. Bahkan ditahun 90-an, angkanya bisa menyentuh Rp 60 juta. Uang tersebut diserahkan masih dalam bentuk Taiwan Dollar kepada makelar. Oleh makelar, Taiwan Dollar ditukar dan dirupiahkan. Bisa di Jakarta, bisa juga di Pontianak.

Dari penelusuran di Bank Indonesia Cabang Pontianak, perputaran jual beli valas Taiwan Dollar adalah yang tertinggi ketiga di Pontianak. Setelah Ringgit Malaysia dan US Dollar. Tahun ini saja, dari Januari hingga Juli, nilai transaksinya rata-rata Rp 1,5 miliar perbulan. Nilai tersebut, sedikit lebih besar dari Hongkong Dollar yang transaksinya rata-rata Rp 1,4 miliar perbulan.

Untuk memperlancar usahanya, para makelar membangun jaringan. Di Singkawang, kaki tangan ini disebut Cangkau. Jika makelar,bisa mendapat Rp 5-10 juta dari pria Taiwan, cangkau dibayar Rp 1-2 juta per pengantin oleh makelar. Kebanyakan makelar, berasal dari Jakarta. Sedang cangkau, tersebar dari Pontianak hingga Singkawang. Mengendus keberadaan mereka, dibutuhkan lebih dari sekedar kerja keras. Sebab, mereka bergerak sangat hati-hati. Diam-diam agar tidak terpantau polisi.

Beruntung, Pontianak Post bisa menemui, Lina Moice (53), makelar asal Pademangan, Jakarta Utara.
“Pria Taiwan biasanya terima beres. Kita yang urus, mereka hanya serahkan sejumlah uang,” kata nenek dua orang cucu ini.

Wanita asal Sungai Jaga, ini menuturkan, mustahil bekerja sendirian. Untuk mendapat informasi ada pria Taiwan yang mencari istri, dia kerap dibantu rekannya di Taiwan. Untuk mencarikan istri dan mengurus adminitrasinya, dia butuh peran para cangkau. Seorang cangkau, bertugas melakukan rekruitmen. Mencari gadis-gadis Thionghoa yang siap untuk dinikahkan.

Perburuan ini, bisa kepelosok pedesaan. Karena, biasanya yang ditawarkan lebih dari satu orang. Sementara seorang cangkau lainnya, mengurus semua administrasi yang diperlukan. Dari mulai, Surat Catatan Perkawinan dari Pemuka Agama, Kartu Tanda Penduduk (KTP), passpor hingga Akta Perkawinan Campuran. Kecuali Visa yang diurusnya sendiri di Jakarta.

Selain cangkau, dia juga membutuhkan sopir dan penterjemah. Sopir untuk mobilitas selama di Pontianak dan Singkawang. Sementara penterjemah, diperlukan untuk menjembatani perbedaan bahasa. Biasanya, pria Taiwan menggunakan Bahasa Mandarin. Sedang calon pengantin dan keluarganya berbahasa Khek. Penterjemah ini, kerap diambil dari mereka yang sudah tahunan menetap di Taiwan.

Ditemui di Ruang Pembinaan Narapidana, Moice membantah kalau dirinya sudah melakukan tindak perdagangan orang. Dia juga tidak mengerti kalau perbuatannya itu, berbenturan dengan Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang Tindak Pemberantasan Perdagangan Orang.

Bagaimana nasib amoy-amoy Singkawang ini di perantauan? “Di Taiwan Pengantin Pesanan menjadi persoalan serius,” kata Hairiah SH, Anggota Komnas HAM Perwakilan Kalbar Divisi Kelompok Khusus.

Dua tahun terakhir, sambungnya, Pemerintah Kota Taipei sedang berupaya agar Taiwan bisa benar-benar menjadi rumah kedua bagi para imigran. Diantaranya dengan mendirikan Wisma Imigran Baru. Letaknya di Distrik Nan-gang dan Distrik Wanhua. Gunanya untuk membantu imigran baru melebur dengan masyarakat setempat. Bahkan sebisa mungkin terasa di kampung halaman sendiri.

Berbagai fasilitas disediakan. Komputer dan majalah berbahasa Inggris, Vietnam, Thailand dan Indonesia disediakan. Disini, para imigran juga bisa belajar memasak, kerajinan tangan, komunikasi dalam rumah tangga, mendidik anak, kesehatan dan memperkenalkan budaya masing-masing. Pemerintah Taiwan juga memfasilitasi terbentuknya TASAT (TransAsia Sisters Association Taiwan). Organisasi ini, memberikan peluang bagi perempuan Warga Negara Asing yang menikah dengan pria Taiwan, berkumpul dan berorganisasi.

“Kalau ada yang mengatakan, Pengantin Pesanan bukan masalah, lihat dulu. Apa karena hanya satu dua orang yang bermasalah, terus kita semua diam,” papar mantan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH-APIK) Kalbar ini.

Di Taiwan, Pengantin Pesanan, dalam kondisi rentan jika terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Mereka tidak mendapatkan kepastian hukum sebelum menetap selama 4 tahun. Selama itu mereka masih dianggap warga negara kelas rendah. Belum lagi, wellfare system yang hanya dimiliki oleh suami. Status kewarganegaraan anak, juga kerap jadi persoalan sendiri.

Sementara dari awal, praktek Pengantin Pesanan dibarengi dengan berbagai tindak pelanggaran. Pelanggaran itu, lanjutnya bisa berupa pemalsuan identitas, kepemilikan passpor ganda, pemaksaan kehendak, mempekerjakan anak di bawah umur, tipu daya hingga jeratan hutang. Dia bahkan menyebut, Pengantin Pesanan merupakan wajah lain dari trafficking.

Bahwa pernikahan bukan bertujuan untuk mencari pasangan hidup dan kemandirian, melainkan dieksploitasi pihak-pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan. Belum lagi pihak perempuan yang menjadi subordinat.
“Ini kejahatan transnasional yang terorganisir,” tegasnya seraya menyebut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Perdagangan Orang sebagai acuan.

Ditemui terpisah, Ketua Komisi D DRPD Kalbar, Anwar S Pd MH menjelaskan, legislatif dan eksekutif, tidak menutup mata dengan persoalan trafiking. Apalagi, Kalbar menjadi basis perdagangan perempuan. Merujuk pada hasil studi IOM (International Organization for Migration) Kalbar, dari sekitar 80,89 persen kasus trafiking di tanah air, terjadi di Kalbar.

Dia menyebut, ada tujuh daerah rawan trafiking di Kalbar. Yaitu, Kabupaten Sambas, Sanggau (Entikong), Bengkayang, Landak, Kapuas Hulu, Kota Pontianak, dan Kota Singkawang.

“Payung hukumnya sudah ada. Perda Nomor 7 tahun 2007 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perdagangan Orang Terutama Perempuan dan Anak,” ujar Anwar yang ditemui dalam sebuah seminar Forum Parlemen.

Perda yang lahir berkat Hak Inisiasi dewan tersebut, juga mengatur tentang Pengantin Pesanan. Perda itu, lanjut Anwar akan memperketat kedatangan Warga Negara Asing (WNA) ke Kalbar. Juga persyaratan Perkawinan Campuran yang lebih ketat. Dus dimungkinkannya alokasi yang lebih besar untuk lembaga-lembaga teknis. Seperti Badan Pemuda dan Olahraga Pemberdayaan Perempuan dan Biro Hukum. Dari mulai sosialisasi hingga advokasi kepada korban-korban trafficking.

Dalam waktu dekat, perda tersebut akan dibuat peraturan turunannya. Baik itu Peraturan Gubernur (pergub) maupun Peraturan Bupati/Walikota. Sosialisasi berjenjang juga akan dilakukan kepada seluruh lapisan masyarakat melalui jejaring yang ada. Dari mulai pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga kelurahan.

Direktur LBH PEKA Singkawang, Rosita Nengsih SH tidak yakin dengan implementasi perda yang sudah menghabiskan budget Rp 50 juta tersebut. Dia berkaca kepada Implementasi Pergub Nomor 86 tahun 2006 tentang Pemberantasan Perdagangan Orang yang dinilainya mandul.
“Buktinya, lihat sendiri, apa tindakan pemerintah untuk korban-korban seperti Alang dan Afung?” tanya dia.

Karena itu, pengamat sosial Prof Dr AB Tangdililing MA menekankan, agar penerapan Perda Nomor 7 tahun 2007, benar-benar menjadi perhatian semua pihak.
“Mereka yang terlibat dalam pelaksanan perda, harus menguasai dan komit dengan tugas dan fungsinya masing-masing,” kata Dekan FISIP Universitas Tanjungpura ini

Dia mengingatkan, pemerintah tidak punya hak untuk mengatur dengan siapa warganya menikah. Yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pengawasan terhadap perkawinan itu. Misalnya untuk kasus Perkawinan Campuran, tidak ada lagi pemalsuan identitas.
Hairiah, Rosita dan Tangdililing sepakat bahwa akar persoalan Pengantin Pesanan adalah kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan.

Karena itu, pemerintah diminta berupaya lebih keras untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas. Sehingga, bisa menekan angka pengangguran. Juga menelurkan kebijakan yang mempermudah akses warga negaranya untuk memperoleh pendidikan minimal hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Dengan begitu, mereka bisa berinisiatif dalam mencari maupun menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Serta tidak mudah tergiur dan tertipu oleh pihak-pihak yang berupaya memanfaatkan mereka. Sejauh ini, tambah mereka, memang sudah ada upaya untuk melawan pelaku tindak perdagangan orang. Namun baru dilakukan parsial. Belum menjadi sebuah gerakan bersama. Karena itu, sinergi semua pihak mutlak diperlukan.

Fungsi-fungsi organisasi kemasyarakatan, tokoh-tokoh adat dan agama serta pemerintah punya peran penting untuk mengantisipasi jatuhnya korban-korban Pengantin Pesanan berikutnya.(*)

Karya Tulis Feature sudah dimuat di Harian Pontianak Post, Edisi Terbitan Tanggal 17-19 Oktober 2007. Bisa dilihat di www.pontianakpost.com

Hasyim Ashari
Nomor Telephon :
Sekred Pontianak Post (0561) 735071
Pribadi (Handphone) (0561) 7543862, 08115707159
Kepada Yth.
Panitia Lomba Dahlan Iskan Award
Redaksi Jawa Pos, Graha Pena Lantai IV
Jl Ahmad Yani Nomor 88 Surabaya.


Pengirim :
Sekred Pontianak Post
Graha Pontianak Post, Lantai V
Jl. Gajahmada Nomor 2-4 Pontianak


Karya Tulis Feature

Kamis, 21 Agustus 2008

Sepeda NSU


Percaya atau tidak sebuah bahan olok-olokan ternyata menjadi kenyataan. Aku punya teman , namanya Ateng sesama pegila sepeda tua. Kalau kami sedang berjalan bersama naik sepeda, begitu melihat sepeda melengkung aku teriaki NSU, NSU. Rabu (20/8) aku benar-benar menemukan sepeda Neklersummer (NSU).

Sepeda buatan Jerman itu teronggok di sebuah rumah tua di Jl Kemakmuran, Pontianak. Pemiliknya, Brawijaya (76) yang semasa muda dikenal sebagai penjual kelapa muda. Sebagai bukti, dia masih menyimpan foto di sebuah surat kabar lokal yang memuat fotonya sedang mendorong sepeda penuh kelapa di Jl Jenderal Urip, sekarang SMP Negeri 1 Pontianak, 30 tahun silam.

Sekitar pukul 15.00 WIB, aku pulang dari Kantor Komisi Penyiaran dan Informasi Daerah (KPID) Kalbar di Jl Sutan Syahrir, Kotabaru. Karena waktu masih senggang aku tidak memakai motor, melainkan menggunakan sepeda BSA kesayangan. Begitu melintas di Jl Kemakmuran, mataku secara tidak sengaja menatap sepeda warna biru muda, bersandar di sebuah pohon Jambu Air. Awalnya aku menduga sepeda itu sepeda sport biasa. Tapi, lengkungannya sepeda berukuran 28 itu aneh.

Terdorong penasaran, aku memberanikan diri ke rumah yang terbuat dari papan kayu itu. Aku tidak bisa langsung masuk karena pagarnya terkunci rapat. Aku mengucapkan salam dan seorang lelaki tua datang menghampiri. Kepalanya botak, keriput bergelayut di kuit wajahnya yang kecoklatan. Dia hanya mengenakan celana pendek warna merah. Dari pinggang hingga dada tanpa penutup sehelai benangpun.

"Cari siapa," tanyanya.
"Permisi Mbah. Mau lihat sepeda. Boleh kah," jawabku sambil menunjuk sepeda di samping rumah.
"Apa,"
Aku mengulangi lagi perkataanku. Tapi dia tetap tidak mendengar.
"Apa," tanyanya lagi.

Ternyata lelaki tua yang kemudian kuketahui bernama Brawijaya itu, sudah kehilangan sebagian pendengarannya. Setelah menjelaskan dengan suara agak keras, dengan ramah dia mempersilakanku masuk. Aku bergegas karena tidak sabar mellihat jenis sepeda apakah itu. Beberapa bagian batangnya sudah dilas karena keropos. Tapi masih jelas kalau itu sepeda
NSU. Yes!! teriaku dalam hati.

Pertanyaannya, bagaimana sepeda buatan Jerman itu, bisa sampai ke rumah Mbah Brawijaya. Dengan kalimat terbata-bata, Mbah Bra, begitu aku memanggilnya mengajakku masuk ke dapur. Kondisi dapurnya jauh dari bayanganku. Dinding dan lantainya banyak yang rusak karena kayunya sudah rapuh.

Di dapur, istri Mbah Bra, Marsitah, sedang duduk di pinggir tungku. Dia menunggu nasi yang dinanak dengan cara liwet (tidak menggunakan langseng). Sementara itu, dia sibuk menyiapkan ikan asin untuk makan sore mereka hari itu. Sajian yang mereka makan sehari-hari.

"Beginilah. Sehari-hari kami hanya tinggal berdua. Anak sudah berkeluarga semua," kata Mbah Bra lirih.
"Jangan hiraukan dia," ujar Mbah Bra sambil melirik wanita yang sudah memberinya empat orang anak.

Marsitah memang terlihat sehat. Tapi nenek yang hanya mengenakan kemban itu, kerap berbicara sendirian. Dia sering melamun di tepi jendela. Rupanya, sudah dua puluh tahun ingatannya terganggu. Warga sekitar bahkan menyebutnya sudah gila.
"Kalau sedang marah, semua barang dibantingnya sampai pecah. Sudah tak terhitung lagi berapa piring dan gelas yang hancur," papar Mbah Bra menyembunyikan gundah di hatinya.

Mataku menyapu seluruh sudut dapur. Di dindingnya puluhan kantong plasti tergantung berjejer. Entah apa isinya. Ada tumpukan kayu bakar, seng yang diikat, topi polisi kusam, dan bangkai sepeda Rambler Dames yang hanya tinggal batang dan setang. Ada juga kursi kayu tempat Mbah Bra melepas lelah.

Sebuah pelita minyak tanah dari botol Kratingdaeng, jatuh. Lenganku menyenggolnya. Aroma minyak tanah bercampur dengan bau comberan menyengat dari belakang rumah.
Nenek Marsitah bangkit dari duduknya. Dia ternyata masih mampu memasak. Dia tahu kalau nasi dalam panci sudah matang. Aku menatap dua suami istri yang terlihat lelah menghadapi beban hidup itu.

Serta merta, aku teringat Abah dan Emak di Bekasi. Entah bagaimana keadaannya saat ini. Sudah lama aku tidak bertemu mereka, termasuk menelponnya. Saat itu juga, aku mengambil handphone dan menekan nomor telepon adikku Zidun. Aku mendadak kangen dengan Abah dan Emak. Lebih dari itu, aku jadi membayangkan, bagaimana hari tuaku kelak, kalau anak-anak meninggalkan aku dan istriku. Duhh...Gusti,..tidakkah sepi rasanya..

"Mbah sudah biasa begini," ujar lelaki itu.
Kemballi ke sepeda, Mbah Bra mendapatkan sepeda itu tahun 1960-an. Saat itu, dia yang sering melintas di depan Gereja Katedral, Pontianak di dekat Lapangan Bola Keboen Sajoek (kini-PSP) dipanggil seorang suster (Biarawati). Rupanya suster tersebut kerap melihat Brawijaya muda, memikul kelapa muda keliling kota.

"Dia bilang ke saya, mau sepeda apa tidak. Kalau mau ada sepuluh sepeda yang akan dilelang. Sepeda-sepeda itu tidak dipakai lagi karena dri Jerman sudah datang motor Dark Klein Wunder (DKW). Saya bilang mau," paparnya.
Mbah Bra kemudian melihat sepeda-sepeda yang masih bagus itu. Dari 10 unit, dia hanya mengambil dua saja. Delapan lainnya diambil orang lain. Harganya Rp 30 ribu per unit.

Selasa, 05 Agustus 2008

Trend Setter


Kemunculan Tribun Pontianak yang tampil beda, menjadikannya sebagai rujukan bagi koran-koran lain di Kalbar. Lihat saja, ketika edisi perdama muncul dengan grafis memikat, hari beikutnya semua koran menampilkan grafis di halaman muka. Ini bukti nyata, kalau Tribun Pontianak menjadi trend setter

Bukan saja soal grafis, tata wajah juga diikuti. Lihat saja halaman soccer Pontianak Post. Saat ini layout meniru habis-habisan SuperBall Tribun POntianak. Misalnya dengan memakai gambar posteral. Sebelumnya, tatwajah begini tidak pernah dipakai.

penjualan langsung di persimpangan jalan dan lampu merah juga diikuti koran lain. Pontianak Post misalnya terus menempel SPG-SPG yang menjajakan Tribun. Bedanya, kalau Tribun dijual oleh gadis-gadis cantik, koran milik Jawa Pos itu dijual oleh pengecer yang notabene laki-laki semuanya.

Seperti ada kekuatiran di kalangan koran lain, keberadaan Tribun mengancam kelangsungan hidup mereka. Padahal, sejak awal pelajaran yang kami terima adalah Tribun Pontianak punya konsep sendiri. Punya sasaran dan pangsa pasar sendiri. Di sejumlah daerah dimana Tribun dan koran lain berdampingan, tidak secara drastis mengurangi oplah mereka. Malah, sama-sama memiliki oplah yang besar.

Artinya, Tribun hadir dan mampu menjadi bacaan kelompok-kelompok yang selama ini tidak terwakili kepentingannya. Karena kami memang berbeda dan lebih baik. Terlepas dari itu sejatinya tidak perlu ada ketakutan kalau kue bisnis koran akan terkikis. Apalagi menjaganya dengan cara-cara yang tidak elegan dan simpatik. Misalnya dengan saling menghujat produk. Toh pada akhirnya pilihan ada di tangan pembaca.

Senin, 04 Agustus 2008

Fongers, andai..!

Sebelum berangkat ke kantor aku jalan-jalan ke Pasar Tengah, Senin (4/8). Tujuannya mencari spare part atau sepeda tuanya sekalian. Sebab, sepeda BSA ku belum lengkap. Fork atau jepit udang masih menggunakan milik Phoenix. Tiba di kios jual beli sepeda bekas, aku terpana melihat sepeda type gent. Merknya Fongers. Tapi...

Sayang kondisinya sudah tidak orisinil lagi. Banyak bagiannya yang sudah diganti. Yang asli hanya, setang, fork, sepatbor, mata kucing, dan batang. Emblem Fonger sudah lepas, sepakbor depan sudah copot.

Begitu kutanya harganya Rp 400 ribu tidak bisa nego. Ya sudahlah aku memberanikan diri untuk tukar tambah. Aku memang mencari fork depan dan lampu belakang. Pak Haji yang memiliki sepeda itu, ternyata sepakat setelah kami diskusi soal harga. Aku bayar Rp 125 ribu.

Aku tidak sendirian. Ada Ateng, kawanku yang di Kantor Arsip Daerah Kota, ikut nimbrung. Kami bertemu di Pasar Tengah. Singkat cerita, fork dan mata kucing Fongers kini sudah melekat di BSA. Sekaran, tinggal cari lampu bosh dan felk dunlop. Kapan yah dapetnya?

Pasar Tengah Pontianak di Jl Serayu, dikenal luas sebagai surganya barang-barang bekas pakai. Dari mulai baju, onderdil motor, mobil, perkakas rumah tangga, elektronik, hingga sepeda. Semua bisa dijumpai di sana dan asal cocok harga saja.

Pasar itu konon sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Pernah beberapa kali terbakar. Namun pedagang di sana tidak pernah kapok. Mereka tetap membuka kios dan berjualan. Pengunjungnyapun tidak pernah sepi. Sebab harga barang memang bersahabat. Beberapa pedagangnya juga ramah dan bersahabat soal harga. Kalau tidak percaya silahkan datang sendiri.

Sabtu, 02 Agustus 2008

Dia Menitikkan Air Mata


Kamis (31/7), kami menggelar rapat budgeting berita. Tidak biasanya, rapat kali ini sangat emosional. Maklumlah, kami akan menerbitkan Tribun Pontianak, Jumat (1/8). Moment itu akan menjadi pertaruhan produk kami apakah akan merebut hati warga Kalbar atau malah sebaliknya. Lebih dari itu, karena di kota yang kecil ini, sudah berdiri kokoh koran-koran milik Jawa Pos Group. Ada Pontianak Post, ada Equator, ada Metro Pontaianak.

Sejatinya, bukan mereka yang membuat kami gentar. Tapi, kami khawatir membuat kesalahan fatal saat lahir. Wajar kalau kemudian kami sangat hati-hati. Mungkin fameo yang mengatakan kesan pertam abegitu menggoda, jadi satu di antara sekian banyak acuan.

Kembali ke ruang rapat. Sebelum memulai budgeting berita, project manajer, Febby Mahendra Putra, meminta kami memanjatkan doa kepada Tuhan, agar menjadi lebih baik. Sejurus kemudian, Doni yang menjadi koordinator layout melafalkan doa-doa. Begitu selesai, kami mengusap wajah masing-masing.

Tapi, Pak Febby masih menegadahkan kedua telapak tangannya. Kedua sikunya bertumpu pada meja kayu. Matanya masih juga terpejam khidmat. Aku yang duduk di kursi paling pojok bisa memandangnya dengan leluasa. Dari pelupuk matanya yang kelelahan ada air mata meleleh. Dia buru-buru menyekanya agar tak kelihatan kami semua. Tapi terlambat, karena pipinya keburu basah. Matanya juga memerah. Dia tak bisa berkata-kata.

Aku hanya menebak apa yang ada dibenak sosok yang banyak dikagumi teman-teman itu. Mungkin Pemred Tribun Batam ini tidak percaya telah membidani lahirnya satu Tribun lagi. Sebelumnya, dia juga yang menjadi Project Manager di Tribun Kaltim, Tribun Timur, Tribun Pekanbaru, Tribun Jabar, dan beberapa koran di bawah Persda Kompas Gramedia.

Saat bertanya-tanya ada apa gerangan, perkataan emosional meluncur deras dari mulutnya. “Ini bukti kalau Tuhan masih sayang dengan kita. Begitu mau terbit, ada berita jatuh dari langit. Harus disyukuri. Sekarang tinggal bagaimana kita mengemasnya,” kata Pak Febby.

Sebelum terbit kami memang sudah menyiapkan Head Line (HL). Mendadak, Kamis (31/7) pukul 08.00 WIB, ada perampok beraksi di dekat rumah Wakil Gubernur Cristiyandi Sanjaya. Perampok tersebut tewas ditembus timah panas yang dilepaskan Pengawal Pak Cris.

Melihat Pak Febby begitu semangat, kami terbawa suasana. Apalagi setelah dia mengajak kami menyatukan tangan kanan sebagai bentuk kesatuan tekad untuk menyajikan berita terbaik di terbitan perdana. Sebelum meninggalkan ruangan kami berteriak lantang…Hei!

Empat hari setelah kami terbit, aku baru tahu mengapa Pak febby menangis saat itu. Saat kutanya, sosok humoris itu mengaku stres berat. Dia merasa sendirian saat melahirkan Tribun POntianak. "Teman tempat saya berbagi, tumbang seminggu sebelum koran ini terbit. Tinggal saya sendirian dan beban ini sungguh berat," ujarnya.

Rupanya, yang dimaksud adalah Pak Herman Dharmo. Direktur Utama Persda itu jatuh sakit selepas melihat langsung persiapan terakhir penerbitan Tribun Pontianak. Dia sempat memberikan pembekalan kepada karyawan baru PT Kapuas Media Grafika. Dalam amanahnya, beliau menyampaikan selamat kepada kami yang telah terpilih.

Sebab menurutnya, ada begitu orang banyak melamar. Namun tidak terpilih. "Karena itu jangan disia-siakan kesempatan ini. Teruslah berkarya untuk kemajuan kita bersama," pesannya. Setelah memberikan pembekalan, Pak Herman yang biasa memanggil saya dengan sebutan Anen (tokoh betawi) itu, pulang ke Jakarta.

Besoknya, kami menerima kabar lewat Pak Febby, Pak Herman masuk rumah sakit. Dia dirawat di sebuah rumah sakit di Singapur. Katanya, ada sesuatu di tulang sumsumnya. Sesuatu itu berasal dari obat pengendali kolesterol yang dikonsumsi.

"Bayangkan, tanpa beliau saya harus memencet tombol. Meski begitu, kepada semua pimpinan saya mengatakan, kalau kami (redaksi) yang paling siap," kata Pak Febby. Kalau tidak begitu, Tribun POntianak tidak akan pernah terbit.

Jumat, 01 Agustus 2008

Cerpen "Sisi Lain" Escaeva


Cerpenku, Sisi Lain, terpilih satu dari 14 cerpen terbaik di Ajang Kreasi Lomba Cerpen Escaeva-Bukukita.com pada 2007. Cerpen tersebut menyisihkan 1.116 naskah cerpen yang masuk dari seluruh Indonesia. Cerpen-cerpen terbaik itu dibukukan dalam Tembang Bukit Kapur. Berikut disajikan secara utuh Sisi Lain yang diilhami kasus kekerasan seks dalam rumah tangga. Selamat membaca!

Sisi Lain

Di sini. Di ruang yang dipinjamkan semesta, kutapaki tiap jengkal tanah sepi. Di bawah temaram lampu jalanan. Berselimut pekat bernama malam. Bersolek ke lorong-lorong kota. Menawarkan kehangatan kepada kelamin-kelamin yang berjalan kelaparan. Kemudian berlalu meninggalkan jejak, serupa erangan tertahan.

Entah sudah berapa banyak laki-laki. Aku tidak pernah menghitungnya. Kecuali imbalan dan bongkahan keringat yang mereka pertaruhkan.
Entah sejak kapan, kuakrabi malam. Aku tidak pernah bisa mengingatnya. Kecuali diriku yang terus menua.

Padahal waktu kutahu tidak pernah dewasa. Laki-laki dan malam. Kuabdikan seluruh usia tidurku untuk keduanya. Laki-laki menjadikan selongsong jiwaku berarti dan dibutuhkan. Meski hanya selintas pintas.

Tidak mengapa, mungkin disanalah harga diriku diletakkan. Sementara malam, gelapnya menutupi cela. Menenggelamkannya di perut bumi. Atau bahkan menerbangkannya ke angkasa sekalipun. Bersama angin yang basah karena dosa-dosa. Yang jelas, malam selalu punya cara untuk menyimpan rahasia anak manusia. Sementara siang, penuh sesak dengan sterotif. Caci maki pribadi munafik atau nasehat orang-orang sok suci.

Tidak ada ruang longgar, kecuali dipadati bibir-bibir yang mencibir. Tawa mengejek dan mata yang merendahkan. Seolah mereka hidup berdampingan dengan bangkai. Maka jadilah, bergumul dengan malam dan laki-laki, terlalu kuat untuk bisa kotolak.

Disebuah malam laknat. Aku bersama laki-laki. Tubuhnya pualam. Kokoh, dingin. Kecuali kelembutan, tiap geraknya adalah simpatik. Kulepas kancing kemejanya. Nafasnya menderu, onani. Keringatnya mengalir, tembaga. Sebelum kemudian sisa-sisa kehormatan muncrat, membasahi perut bumi yang kami tiduri. Simpan saja uangmu, kataku. Aku tidak memungut bayaran dari lelaki yang kusukai. Datanglah lagi besok malam. Akan kubuat kau merangkak. Akan kubuat matamu terbelalak. Seperti anak kecil yang mencari tetek ibunya. Hatiku berbinar. Bangga, punya kuasa atas laki-laki. Maka matilah kesendirian serta kesepian di jiwaku. Selepas dia pergi, aku mual dan muntah-muntah.

Di malam laknat yang lain, aku bersama laki-laki lain. Ia merajam tubuhku. Susuku disulut baramerah puntung rokok. Kemaluanku disayat mata belati mengkilat. Kaki dan tangaku diikat. Punggungku yang putih dan padat, dicambuk dengan sabuk. Darah mengalir anyir. Sementara mereka terbahak. Meraung buas. Bertengger di perutku, dengan darah yang menggelegak. Tapi tiba-tiba polisi mendobrak pintu hotel. Aku tergeregap. Sial, padahal aku sedang di puncak orgasme. Laki-laki itupun berlalu. Tanpa membayar pula. Kuasaku atas laki-laki tercampak.

Bagiku di dunia yang kenikmatan menjadi kewajiban, tidak ada yang abadi. Tidak kuasa. Apalagi cinta. Kecuali nafsu yang menjadi budak setia. Sebab cinta dan kuasa diciptakan bagi orang-orang suci. Yang menjunjung tingi harga diri. Itupun, bukan untuk dijual. Tapi untuk dibagi. Sebagai tanda mata, telah saling mengasihi. Barangkali.

Aku masih berselimut, ketika pagi jatuh di lantai empat. Sinarnya menembus jendela dan mencetak garis keemasan di dinding hotel yang dingin. Di saat seperti inilah, ketika kehidupan seolah baru dilahirkan kembali, kesadaranku tumbuh. Kurasa, pintu taubat tinggal setapak lagi. Namun aku tak pernah benar-benar bisa memeluk-Nya. Bahwa hidupku untuk laki-laki dan malam, tidak ada keraguan tersisa.

Aku pernah mencoba berontak. Mencari celah sekedar keluar untuk hidup normal. Meski hidup normal saja tidak cukup untuk mengarungi kehidupan. Tapi minimal, aku bersuami. Yang namanya kusayangi seperti namaku sendiri. Alangkah bahagia melayani laki-laki yang telah meminangku dengan mas kawin dari hati yang ikhlas. Kemudian melahirkan anak-anak yang nafasnya puisi. Tentu menyenangkan menyiapkan sarapan dan membacakan dongeng sebelum mereka tidur.

Air mataku yang kering, luruh kembali. Mengenang berjuta sperma bersarang di mulut dan di perutku. Seharusnya aku sudah melahirkan ratusan bayi-bayi. Yang tawanya mengobati keluh kesah. Yang tangisnya mempererat tali nikah. Tapi demi ongkos tidak seberapa, benih itu kucampakkan. Menjadikannya sia-sia. Seperti usiaku yang terbang percuma, palsu dan mati muda. Sperma-sperma itu, kering kerontang bahkan sebelum sempat menggauli belahan jiwanya.

Terpikir olehku, mereka menungguku di pintu kubur. Berbaris seperti para penziarah. Dengan tarian selamat datang yang syairnya sumpah serapah.
Atau entahlah. Kesadaran itu serentak berhamburan, seiring senja yang menua di kaki langit. Tuhan kembali membenamkanku ke lembah noda. Mengirimkan ratusan, bahkan ribuan iblis berkepaksayap ke pangkuanku. Membisikan bahwa hidup adalah penderitaan. Nafsu dan dosa itu ibadah. Mari hidup berpisah. Jangan melahirkan. Lalu Iblis-iblis itu memakaikan lipstik lagi. Membedaki wajahku lagi. Memakaikan gaun seronok lagi. Membimbingku berjalan ke lorong-lorong kota lagi. Lorong-lorong yang sepi. Lorong relung hatiku sendiri.

Melacur adalah kenyataan yang menyakitkan. Tapi inilah satu-satunya kenyataan hidup yang kumiliki. Tuhan memberiku kesadaran ketika pagi, dan mengaburkannya di sore hari. Aku seperti melakoni peran tentang epik tak berkesudahan. Peran yang membuatku berhenti berkehendak untuk berkuasa. Meski itu kupertaruhkan atas nama, hidupku sendiri. Atau, memang inilah takdirku. Sebagai batu ujian. Bagimu, bagi kalian. Pengusaha, pejabat, birokrat, politikus, gembel, atau guru dan agamawan sekalipun. Lewat takdirku, mereka melesat menuju puncak iman. Dengan takdirku, mereka bergelimang lumpur dosa-dosa.

Ibu. Tiba-tiba kecantikannya menggangguku. Hatiku jadi rindu. Entah bagaimana keadaannya setelah hari itu. Pagi masih buta ketika kemarahan bapak meledak-ledak. Tepat di hari ulang tahunku yang ke-17. Hari terakhir, dimana kuputuskan menanggalkan seluruh beban di bawah selimut.
“Ini salah mu,”
“Mengapa salahku,”
“Sebab kau melahirkannya,”
“Kau yang ingin punya anak lagi,”
“Tapi bukan seperti dia,”
“Dia anak kita juga,”
“Memang. Anak yang buat malu. Bawa sial,”
“Karena itu kita harus membimbingnya,”
“Kau saja yang bimbing. Aku sudah kehilangan muka,”
“Apa harus kehilangan dia juga, pak,”
“Itu lebih baik,”
“Pak..nanti dia dengar,”
“Itu lebih baik lagi,”

Bapak berlalu. Pintu dibantingnya. Keras. Sekeras hatinya. Kusaksikan semua dibalik daun pintu. Bukan barang satu dua kali. Tapi setiap ada kesempatan. Pernah di tengah hari, diujung pertengkaran ayah menampar wajah ibu. Hingga ibu tersungkur menumbuk sofa biru kesayangannya. Tentu saja dengan darah segar merembesi bibirnya.

Sadar sumber keributan, aku memilih jalan menikung. Kemudian hilang. Dari mereka. Dari hidupku sendiri. Ibu terisak. Air matanya tidak tumpah. Mungkin kering setelah membelaku habis-habisan. Sejauh usia kesabarannya. Aku tidak berani bersirobok dengan matanya. Takut kalau ia bisa membaca kebohongan yang kupendam dalam-dalam. Tiga tahun yang lalu. Ketika tubuhku yang laki-laki, ditindih berkali-kali. Dengan tatapan amarah, juga dendam. Dari sepasang mata nanar, milik bapak.

Singkawang, April 2004

Ngasong Terbitan Perdana


Jumat (1/8) harian Tribun Pontianak terbit untuk pertama kalinya di Kalbar. Aku tidak ingin menyia-nyiakan moment bersejarah itu. Meski mata mengantuk berat, aku memutuskan ikut memasarkan koran ke-11 Persda milik Kompas Gramedia itu. Untuk pertama kalinya pula sepanjang delapan tahun berkarir di surat kabar, aku menjadi pengasong.

Sekitar 30 eksemplar koran yang kubawa habis terjual dalam waktu 20 menit. Perasaan senang, haru, dan bangga menyeruak masuk di dada. Bahkan aku nyaris menitikkan air mata begitu seorang pembeli membayar lembaran koran pertama yang kupegang. Teriknya matahari tidak lagi kuhiraukan. Aku kian bersemangat. Setiap lampu merah menyala, kusapa tiap pengendara motor dan mobil. Tentu saja sambil menenteng Tribun Pontianak sambil berteriak "Pengawal Wakil Gubernur Tembak Mati Perampok. Seribu rupiah 24 halaman" berkali-kali. Tidak terasa koran yang kujinjing habis tak bersisa.


Selasa, 29 Juli 2008

Jalan Panjang Sebelum Resign..!

Setelah delapan tahun berkarya dan bekerja di Pontianak Post Group, aku memutuskan resign atau mengundurkan diri. Ternyata, bukan perkara mudah untuk mengakhiri sebuah jalan panjang yang telah dirintis sejak awal. Berbagai pertimbangan jadi indikator penguatan argumentasi. Sampai setidaknya ada sesuatu yang reasonable untuk menyakinkan diri sendiri.

Yang paling menakutkan adalah di tempat yang baru belum tentu diterima. Sementara di tempat kerja lama telah mengundurkan diri. Ketakutan itu ahirnya luruh berbarengan dengan dukungan istri yang mengalir bak air bah. Belum lagi rekan-rekan dekat yang memberikan support bertubi-tubi menguatkan niat. Tanggal 15 April 2008, aku resmi meninggalkan Graha Pena, kantor mewah bertingkat enam di Jl Gajahmada nomor 2-4, Pontianak.

Ada banyak kenangan di kantor media milik Pontianak Post Group itu. Oktober 2000 saat aku menginjakkan kaki pertama kali, kantor tersebut hanya memiliki tiga lantai. Lantai dasar untuk percetakan, lantai II untuk bagiam umum, pemasaran dan iklan, dan lantai III untuk redaksi. Waktu itu, ada sebelas calon wartawan yang diterima, setelah melalui seleksi ketat, termasuk aku.

Lantai III, tepatnya di ruang perpustakaan adalah tempat pavoritku. Ruangan berukuran 2X3 meter itu menjadi satu dengan ruang rapat. Hanya ada sekat kaca hitan gelap yang membatasinya. Usai liputan, baik itu siang atau malam, kecuali Yanti, kami jarang pulang.

Hampir tiap malam tidur di ruangan tersebut. Pernah aku meliput kebakaran di Kuala Dua, Rasau Jaya, pukul 02.50 WIB. Selesai liputan nyaris subuh. Aku tidur di ruang perpustakaan. Karena kecapean, aku baru bangun pukul 10.00. Saat membuka mata, ternyata semua manajer sedang ada rapat.

Karena sering sampai larut di kantor, aku kerap dimintai mengoreksi hasil layout. Kalau-kalau ada yang salah ketik. Saat itu, Oktober 2000 aku masih berstatus mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura. Senang rasanya, bisa kuliah sambil bekerja.

Begini rupanya hidup mandiri. Punya penghasilan dan kita memiliki kendali atas diri sendiri. Gaji pertama yang kuterima saat itu, Rp 350 ribu per bulan. Tapi itu sudah membuatku bangga. Karena seumur hidup aku belum pernah menerima gaji. Saat itu handphone tidak seperti sekarang, masih mahal. Harganya tak terjangkau oleh karyawan kontrak sepertiku, seperti kami.

Aku ingat benar handphone yang dikapai oleh Pemred Nokia 3210. Beberapa redaktur pakai Sony Ercison T100. Kantor kemudian membekali kami dengan pager. Wah senang benar rasanya menerima alat komunikasi “canggih” tersebut. Kalau sudah berbunyi..titit..titit…titit, rasanya jadi seperti orang penting. Kami sering merekayasa pesan pada pager agar berbunyi di tengah keramaian. Biar gaya kelihatan punya pager.

Setahun kemudian, aku membeli Sony Ericson T100 seharga Rp 500 ribu. Tentu saja dengan kartu Perdana Simpati 08125729510 seharga Rp 350 ribu. Cukup lama aku memakai T100 sebelum kemudian beralih Nokia 3315, Siemen M35, Nokia 6210, Frend, dan saat ini Nokia 9500 Komunikator.

Awal-awal liputan, aku ditempatkan di desk kota. Kantor Wali Kota Pontianak, dinas dan kantor jadi tempat nongkrong. Di sana aku bertemu dengan Nur Iskandar, yang kini jadi Pemred Borneo Tribune. Aku juga bertemu dengan Safariah yang sekarang menjadi jurnalis Pantau, atau Nurul Hayat yang kini dipercaya sebagai Kepala Biro Antara Kalbar.

Belum apa-apa aku sudah dikenal Wali Kota Pontianak, Buchary A Rahman. Gara-garanya, aku mengutip pantun yang disampaikan dr spesialis kullit dan kelamin itu yang berbunyi “ Ikan Kakap, Ikan Bawal. Banyak Cakap, Banyak Bual.” Aku mengutip pantun itu saat Buchary menyampaikan amanat sekaligus sindiran terhadap kinerja beberapa stafnya yang hanya bisa ngomong tapi tidak ada bukti fisik pekerjaannya.

Saat itu acaranya digelar di SMP Negeri 1 Pontianak, Jl Jenderal Urip. Usai melontarkan pantun, aku meninggalkan acara. Karena, ada kebarakan hebat di Jalan Merdeka Timur.

Di koran aku menulis tentang pantun tersebut, untuk mengisi kolom sosok. Judulnya, Ikan Kakap, Ikan Bawal. Sejak saat itu, dimana-mana setiap ada kesempatan, Buchary selalu berpantun ria. Dia bilang, “Saya hanya bicara sedikit. Rupanya, pantun saya dipakai dimana-mana. Siapa itu wartawannnya,” kata dia. Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi dan dia tertawa begitu melihatku.

Enam bulan kemudian, aku diminta memperkuat desk kriminal. RSUD dr Soedarso, RS Antonius, dan Poltabes Pontianak Di liputan kriminal, aku bertemu dengan wartawan-wartawan dari harian Equator. Paling sengit liputan bareng Alexander Mering. Wartawan bertubuh kecil dan berambut gondrong itu, saingan terberatku di lapangan. Kami berlomba-lomba mendapatkan liputan kriminal ekslusif.

Kalau ada yang kebobolan, sudah dipastikan kami tidak akan saling menyapa meski berjumpa di RS Antonius. Meski “musuh abadi”, kami dipersatukan oleh kegemaran terhadap jenis band yang sama. Alex dan aku sama-sama menggilai Jamrud, rock band asal Surabaya.

Kami sering bernyanyi :
“Nana..Nana Uh Uh, Nana..Nana. Uh Uh… Apelku gak pernah romantis, tiap malam disuguhi keris. Mana Ortumu, Pakdemu, Bulemu, Embahmu, selalu ceramah…”
Ada dua liputan yang bikin aku geram. Saat itu, liputanku tentang Kebakaran di Jl
Pramuka, Sungai Rengas dan pencabulan di Polsek Sungai Raya, dicopy paste oleh dua wartawan Equator.
Tulisannya sama persis. Bedanya, dia tidak ada foto, aku punya dua-duanya. Tapi itu bukan kerjaan Alex, sebab kutahu dia lebih beradab dalam menggali berita.

Kini, Alex bergabung di Tribune Institute. Hampir setahun liputan, aku diminta kantor untuk membidani lahirnya Harian Kapuas Pos. Sebagai tahap pertama aku ditempatkan di Kabupaten Sanggau, jadi kepala biro di sana menggantikan wartawan senior Pontianak Post, Robert Iskandar, yang ditarik ke Pontianak.

Pertama datang, kerja berat langsung menanti. Kantor Imigrasi Sanggau terbakar hebat tengah malam. Sementara di Sungai Kapuas, ada perampokan sadis yang menewaskan Bujang. Sopir speedboat tersebut ditemukan membusuk. Tidak hanya itu, masyarakat Sosok mendatangi kantor dan menggelar upacara adat. Mereka menuntut rekanku di Pontianak Bowo, yang dituding salah menulis berita. Sementara mobil ekspedisi dicegat di Bodok. Koran diturunkan paksa oleh massa sebagai bentuk protes lain terhadap kesalahan berita terseut.

Hanya tiga bulan aku di Sanggau. Karena kantor memintaku kembali ke Pontianak untuk memperkuat liputan di desk porvinsi. Tapi aku tak lama di provinsi, karena rekanku yang lain Mursalin, kini Kepala Biro Sambas, tak betah lama-lama meliput Buchary A Rahman dan staf-stafnya.

Kami pun tukaran desk. Saat itulah sejumlah kasus berhasil kuungkap dan menarik perhatian publik. Liputan pertama tentang mesin “Dingdong” ketangkasan. Dengan liputan komprehensif, polisi akhirnya mengambil sikap dan menggulung semua mesin yang didatangkan dari Malaysia dan Singapura itu.

Liputan tersebut tak membuatku berpuas diri. Sebab aku yakin pasti masih ada persoalan lainnya. Benar saja, tak lama kemudian ada informasi sebuah yayasan yang meresahkan anggotanya. Yayasan itu bernama Amalillah. Dalam sekejap yayasan yang menjanjikan uang ratusan juta rupiah itu, jadi buah bibir. Tak lama kemudian, ada yayasan lain yang juga memiliki cara operasi yang nyaris sama.

Yayasan itu adalah Yamisa. Seperti liputan tentang Amalillah, Yamisa juga direspon publik. Di sana lah aku menyadari bahwa peran jurnalis sangat urgen dalam kontrol sosial. Aku semakin mencintai pekerjaan ini! Meski begitu, ternyata mencari informasi dan menyajikannya dalam bentuk berita juga bisa membosankan.

Terlebih setelah aku mellihat ada rekan-rekan wartawan lainnya yang menggadaikan profesi mulia tersebut. Dengan berbagai alasan mereka menerima berlembar-lembar amplop berisi rupiah. Belum lagi, ada berbagai titipan kepentingan yang mengekor di belakang berita yang diturunkan. Paling banter, ada beberapa proyek pembangunan yang nebeng di balik nama pemilik usaha penerbitan.

Aku jadi jumud dan gamang. Profesi yang awal kehadirannya dihargai dan dihormati ini, ternyata dikotori oleh sikap mementingkan diri sendiri. Jujur aku frustasi, jadi pernah tidak produktif menulis. Berita-berita yang kuhasilkan relatif sedikit dan tidak berbobot. Gelagatku itu kemudian dibaca Pemred Pontianak Post saat itu, Yasmin Umar. Yasmin yang kini aktif di Komisi Penyiaran dan Informasi Daerah (KPID) Kalbar, memintaku jadi Kepala Biro Singkawang.

Aku menyetujuinya dan bergegas menggantikan Arman yang sudah enam bulan bertugas di Kota Amoy tersebut. Arman adalah rekan se-kampusku. Kami sama-sama merantau ke Pontianak pada 1996. Dia dari Jakarta, aku dari Bekasi. Begitu sampai di Singkawang, tugas berat sudah diwarisi Arman. Ada gembong narkoba yang ditangkap Polres Sambas. Saat itu, Kasat Reskrimnya IPTU Setyadi Sulaksono.

Meski tidak dilengkapi barang bukti saat penangkapan, polisi ngotot yang bersangkutan bersalah. Akupun memuat beritanya, termasuk meminta keterangan dari tersangka. Aku baru bangun tidur ketika Bang Setyadi menelponku, kalau tersangka terpaksa dibebaskan karena tak cukup bukti. Malam selanjutnya, tepatnya menjelang subuh Jl Pai Bakir Singkawang, alamat Biro Singkawang ramai. Agen dan pengasong kelimpungan. Semua koran Pontianak Post untuk Singkawang dan sekitarnya dibakar, hangus jadi abu.

Di Singkawang, aku berteman baik dengan wartawan Equator, Nanang. Juga tidak menjauhkan diri dari wartawan lain yang disebut-sebut wartawan tanpa suratkabar (WTS). Ternyata, semua tergantung kita. Kalau kita bisa membawa diri, mereka juga respek. Buktinya, sejumlah informasi vital justru datang dari teman-temanku itu. Tujuh penambang emas yang terkubur di Selakau, ku dapat dari mereka. Sebelas warga Afganistan yang tersesat di Paloh, Sambas, juga begitu. Belum lagi, mereka bersedia mengetikkan berita juga… he he he.

Kurang dari empat bulan, aku ditarik untuk memperkuat Kabupaten Pontianak dan sekitarnya yang selama bertahun-tahun digawangi Hamdan Abubakar Ada dua liputan yang tidak mungkin kuluppakan. Pertama tentang penyelewengan dana reboisasi di Mempawah, kedua tentang bapak memperkosa anak sendiri di Mentonyek, Karangan.

Dengan sejumlah fakta dan data, aku mampu menjungkalkan Pimpinan Proyek (Pimpro) Reboisasi. Yang bersangkutan dicopot dari jabatannya sekaligus dipenjara karena terbukti menyelewengkan uang negara. Sekali lagi aku melihat dengan kepala sendiri, betapa dahsyatnya media massa.

Sementara tentang kasus perkosaan, aku dituntut Rp 2 miliar oleh masyarakat yang mengatasnamakan warga Dayak Mentoyek. Mereka datang ke kantor di Pontianak dengan empat truk. Setelah aku usut, rupanya mereka bukan warga Mentonyek, tapi preman yang ada di Pontianak dan sekitarnya.

Karena yakin akan kebenaran proses penggalian dan penyajian berita, aku memutuskan menghadapi tuntutan itu. Sebab aku sadar benar tidak ada yang keliru dengan berita yang dimuat. Lepas dari itu, aku mencari cara agar persoalan ini lekas selesai. Caranya, warga Mentonyek dalam hal ini keluarga korban aku adudomba dengan massa yang melayangkan tuntutan.

Bahwa masa yang datang ke Pontianak telah mencemarkan nama baik warga Mentonyek, dan mencari keuntungan dari penderitaan korban. Warga Mentonyek tergerak dan bergerak menghadapi langsung para demonstran. Aku selamat, kantorpun selamat. Para demonstran itu pergi dengan wajah tertunduk seperti baru kalah dari medan pertempuran.

Sebelum mengakhiri tugas di Kabupaten Pontianak pada 2004, aku berkesempatan mengikuti lokakarya Peace Jurnalism di Surabaya yang digagas British Council. Sebenarnya aku betah di Mempawah, tapi aku harus menyelesaikan kuliahku yang tertunda hingga empat tahun. Aku memang sempat terbuai dengan uang dan pekerjaan, sehingga kuliah nyaris kulupakan.

Padahal, sejak awal 2000 aku sudah menyusun skripsi. Hanya perlu waktu sebulan untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Kemampuan Aparat Pelaksana dan Komunikasi Pembangunan terhadap Efektivitas Implementasi Kebijakan Jaring Pengaman Sosial bidang Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi (JPS PDM-DKE). Skripsi setebal 167 halaman itu, adalah satu dari tiga skripsi di FISIP yang berani menggunakan pendekatan deduktif verifikatif dengan tiga variabel.
Aku diwisuda Februari 2004.

Tiga bulan kemudian, tepatnya 11 April, aku memutuskan mengakhiri masa lajang dengan menyunting Mina, perempuan yang kukenal sebagai penjaga tiket di Bioskop 21. Kami bertemu karena aku doyan nonton. Kami dikarunia bocah lelaki yang tampan dan cerdas, Bagas Kusuma wardhana. Belahan jiwa itu lahir 15 Januari 2005. Saat ini umurnya 3,5 tahun.

Tak lama, Pontianak Post Group mendirikan Metro Pontianak. Aku ikut dimintai membidani lahirnya koran kriminal tersebut. Statusku naik tingkat dari wartawan jadi redaktur. Kurang dari tiga tahun aku sudah duduk di kursi Redaktur Pelaksana (Redpel). Dari sebelas teman seangkatan, kini tersisa empat, hanya aku yang sudah menyentuh level Redpel.

Yang lain, Zulfi Asmadi baru jadi koordinator liputan (Korlip), Zulkanaen Fauzi dipercaya sebagai Kepala Biro Singkawang, dan Mursalin yang masih betah sebagai Kepala Biro Sambas.

Untuk memperkaya wawasan tentang fungsi-fungsi Redpel aku dikirim ke Batam untuk mengikuti Pelatihan Redpel di lingkungan Jawa Pos Group, September 2007. Meski lebih sering menjalankan fungsi manajerial redaksi, aku masih menyempatkan diri menulis. Dua di antara tulisan tersebut berbuah manis.

Tulisan pertama berupa cerpen, judulnya Sisi Lain. Cerpen tersebut terpilih sebagai satu dari 14 cerpen terbaik Ajang Lomba Penulisan Cerpen Escaeva-Bukukita.com, Agustus 2007. Cerpen-cerpen itu kemudian diterbitkan dalam buku “Tembang Bukit Kapur”. Ini adalah buku keduaku, tapi jadi buku pertama diterbitkan oleh penerbit nasional. Buku pertama berjudul Pada Tanah Dikandung Bersama diterbitkan oleh penerbit lokal, Pontianak.

Tulisan kedua berbentuk feature. Isinya tentang Pengantin Pesanan antara Amoi Singkawang dengan Pria Taiwan. Tulisan itu berhasil menyabet predikat The Best Feature di Dahlan Iskan Awards 2007. Aku menyisihkan puluhan finalis dari seluruh Indonesia. Bangga juga rasanya punya prestasi begitu. Tulisan-tulisan lainnya masih berserakan. Ada novel yang baru selesau 60 halaman, ada juga cerpen-cerpen lainnya.

Di tengah kebanggaan itu, ada sebuah iklan menarik di Pontianak Post. Divisi Pers Daerah (Persda) milik Kompas Gramedia, membuka formasi untuk redaktur. Mereka akan membuka koran daerah di Pontianak. Hampir seminggu aku berpikir sebelum memutuskan melayangkan surat lamaran kerja pada minggu berikutnya. Aku mencoba mencari tahu bagaimana dan apa sebenarnya Persda.

Hanya sedikit informasi yang bisa koperoleh dari surving di internet. Meski begitu, cukuplah untuk bekal menambah sedikit keyakinan. Sadar aku tak sendiri, aku berdiskusi dengan istriku, Mina. Bagas juga. Keduanya merasa siap dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Bahkan menimpa kehidupan kami bertiga. Selain keyakinan diri sendiri, sebenarnya aku hanya butuh restu mereka. Aku memutuskan mengirimkan lamaran ke Persda.

Sebulan kemudian, aku dipanggil mengikuti pesikotes. Singkat cerita, setelah melewati berbagai tes, Persda dengan label Tribun Pontianak menjadi rumah masa depanku yang baru.

Minggu, 27 Juli 2008

My Soul, Bagas


Aku tak tidur saat menantikan kehadirannya. Aku bangga melihatnya berjalan untuk pertama kali. Aku tak percaya ketika bibirnya bergetar memanggilku "Ayah."
Dia sering mengajakku berdiskusi meski belum menjelma lelaki sejati. Dia memberiku begitu banyak inspirasi bahkan ketika dia terlelap sekalipun.

Lahir di Pontianak, 15 Januari 2005. Sebelum lahir, aku sudah menyiapkan nama-nama indah untuknya, Faiz Abdillah dan Gandalf (Si Penyihir putih di Lord of The Ring) Diaulhaq.

Tapi, rupanya nama muncul bersamaan dengan kehadiran pemilknya. Beberapa menit setelah dia lahir sekitar pukul 01.45 WIB, muncul nama baru, Bagas Kusuma Wardhana. Akupun menamainya begitu dan memanggilnya dengan segenap rindu, Bagas!

Cepatlah besar. Rengkuhlah dunia dalam genggaman. Bangunlah dinasti untuk orang-orang yang kau cintai. Jangan lupa berbagi dengan orang lain. Jika ada yang mempercayaimu, peganglah dengan teguh, karena tanpa itu kau bukan apa-apa.Perlakukanlah perempuan seperti bidadari karena memang begitulah mereka.

Motor Antik Pertamaku


Si Villiers saat pertama kali kutemukan. Begitu melihat dan dia kunaiki, jiwa kami langsung bersatu dan mengatakan setuju negluarin doku dari saku...hu hu hu...angkut!!!!

Senang luar biasa. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Awalnya aku hanya iseng saat berjumpa seorang penjaga kios bensin di Jl HM Suwignyo. Saat itu, Kawasaki Binter Mercy 200cc milikku kehabisan bahan bakar. Saat mengisi bensin itulah, si penjaga kios bercerita kalau rekannya punya motor antik dan ingin dijual.

Aku bertanya siapa namanya dan dimana alamatnya. Setelah dilacak, rupanya informasi itu benar. Sebelum tiba di rumah pemilik motor, aku bertanya kepada seorang anak kecil yang ada di sana apakah pernah melihat motor aneh. Bocah lelaki kecil itu kemudian bercerita pernah melihatnya. Katanya knalpotnya lucu dan motornya aneh.

Aku semakin bersemangat minta diantar dimana dia melihat motor tersebut. Aku dituntun masuk ke dalam gang sempit menyusuri pepohonan di sekelilingnya. Di sebuah rumah sederhana yang belum selesai dibangun, mataku terpana. Motor apakah itu? Aku baru pertama ini melihatnya. Bentuknya mirip dengan DKW RT 125.

Setelah kudekati ternyata bukan. Di mesin tertulis Villiers, begitupun ditangkinya yang mungil. Kata pemiliknya, sudah lima tahun motor itu tidak jalan. Semua sparepartnya sulit diperoleh. Pistonnya jebol, jok hancur, velg dan ban 21 incinya juga tidak cantik lagi. Tapi penampilan anggunnya masih terlihat meski kondisinya memprihatinkan.

Setelah negoisasi akhirnya, aku menebus motor tersebut Rp 1,6 juta. Motor butut itu kubawa dengan mobil pickup, ongkos sewanya Rp 50 ribu. Ternyata menurut cerita, motor itu asalnya dari Bandung. Nomor Polisinya D 5588 NP. Mirip dengan tanggal lahir ku, 0016 NoPember.

Buku Gue Neh..

Tembang Bukit Kapur

Rabu, 19 Desember 2007
Akan segera terbit , buku antologi cerpen bersama TEMBANG BUKIT KAPUR. Cerpen-cerpen yang dimuat di dalam buku ini adalah cerpen-cerpen terbaik yang dipilih dari ajang lomba yang telah diadakan selama dua tahun berturut-turut.

Pertama kali lomba ini diadakan pada tahun 2006, dengan nama Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen, yang diikuti oleh 160 naskah cerpen. Awalnya ajang ini dimaksudkan hanya sebagai ajang sharing dan mengevaluasi kemampuan menulis anggota milis EscaevaBookClub (escaevabookclub@yahoogroups.com. Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya).

Pada tahun berikutnya (2007), ajang ini diadakan kembali dalam format lomba yang lebih serius. Kali ini diselenggarakan oleh Penerbit Escaeva, dengan menggandeng Bukukita.com sebagai pendukung, dengan nama Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen Escaeva - Bukukita.com. Ajang ini mengalami peningkatan pesat di dalam jumlah naskah yang masuk, yaitu mencapai 1.119 naskah.

Inilah cerpen-cerpen terbaik itu:
Taman Kanak-Kanak - Setiyo Bardono
Surat dari Rantau - Diah Pramudiastuti
Buku Harian Mimin - Titon Rahmawan
Kota Lalu, Ibu - Pinto Anugrah
Kalibakar - Azizah Hefni
Rumah-Rumah yang Bersetubuh - Iggoy el Fitra
Aku Seorang Junkie Kasih Sayang - Bunga Mega
Menunggu Kabar - M. Raudah Jambak
Tembang Bukit Kapur - M Badri
Lelaki Berwajah Ramah dan Lelaki Yang Tak Ingin Kusebut Namanya - Wetry Febrina
Panggil Aku Joe - Nursalam AR
Sisi Lain - Hasyim Ashari
Gadis Pemimpi - Fenty Febriyanti
Mata Pisau - Indarpati
Kota Seribu Pohon - Harry Wahyudhy Utama
Buku Bersampul Coklat - Fenty Febriyanti
Yang Tak Pernah Tertidur - Ary Wibowo
Boneka Gajah yang Bisa Bertelur - Rama Safra’I Rachmat
Membunuh Ayah - Alimuddin
Megatruh - Titon Rahmawan

Harga buku Rp 36.000,-
Diskon 20% menjadi Rp 28.800,-
Cara pesan SMS ke 0818-890848 dan dapatkan diskon 20%. Jabotabek bebas biaya kirim.
Atau datang sendiri ke Toko Buku Gramedia di kota anda!