Rabu, 28 Desember 2011

Motor Rongsokan Rp 710 Juta


Jika dilihat sekilas, motor ini seperti barang rongsokan. Tapi, siapa sangka motor yang sudah berkarat tersebut punya nilai 50 ribu pounds atau sekitar Rp 710 juta jika dilelang.

Motor baheula itu adalah Indian Camelback produksi 1906 atau salah satu motor mesin pertama yang pernah dibuatn. Tak heran motor ini menjadi buruan para kolektor kelas kakap.

Motor tersebut langka lantaran hanya diproduksi 1.698. Karena kondisinya yang masih asli, motor ini pun bisa dihargai 50 ribu pound.

Motor ini memiliki silinder tunggal dengan kecepatan maksimum 30 mph atau 50 kilometer per jam. Para kolektor mengincar motor tersebut bukan karena kecepatannya, melainkan lantaran karena antik.

Motor itu dimiliki keluarga du Pont yang membelinya dari Indian Motorcycle Manufacturing Company. Motor tersebut terakhir kali melintas di jalan raya pada 1970-an.

Siapa pun yang membeli mesin antik ini kemungkinan harus mengeluarkan sedikit upaya agar motor tersebut bisa menyala. Namun, upaya restorasi motor ini diperkirakan bisa mengurangi nilainya.

Indian Camelback merupakan seteru kental Harley Davidson. Akan tetapi, perusahaan yang membuat Indian Camelback, Indian Motorcycle Manufacturing Company, bangkrut pada 1953.

Motor ini memiliki sistem pengereman yang unik. Untuk menyetop motor tersebut, dibutuhkan sepatu dengan paku di bawahnya.

Motor tersebut bakal dilelang di Bonhams di Las Vegas, Amerika Serikat, pada 12 Januari 2012. "Motor ini banyak diminati karena kondisinya. Upaya untuk memoles motor ini justru akan menurunkan nilai jualnya," kaya Ben Walker dari Bonham. (disadur dari tempo.co)

Selasa, 13 Desember 2011

Durkopp Diana Bangkit dari Kubur


Sebelum pulang kerja, saya iseng-iseng searching tentang informasi motor antik. Saat tanya Mesin Paman Google, ternyata ketemulah blog milik rekan-rekan KISS Manado, http://kissmanado.blogspot.com.

Saya tertarik dengan informasi yang dibeberkan mengenai proses pencarian Durkopp Diana 1957 berkapasitas 200 Cc. Apalagi jenis motor Jerman yang satu ini, juga tergolong langka. Sulit sekali mencari referensinya di Tanah Air.

Sementara bagi pecinta scooter, keindahan dan keelokan Diana luar biasa. Untuk itulah, saya jadi ingin menyebarkan informasi tentang Durkopp Diana lewat Gilaontel.

Info adanya motor tua buatan jerman telah tercium oleh Bro Naryo sejak tahun 2000. Saat itu kondisinya 100 persen baik. Sayang, motor antik tersebut tidak akan dijual pemiliknya.

Bro Naryo, seperti juga para pemburu sepeda motor tua, punya sifat pantang menyerah. Ia pun kembali pada 9 desember 2008. Ia ditemani assistenya, Arthur. Mereka terkejut karena Durkopp Diana, sudah dalam kondisi sangat memprihatinkan.

Diana di letakkan di dekat sumur yang sudah berlumut. Hanya ditutupi selembar seng. Diana diapit oleh tumpukan batu bata merah yang juga dipenuhi lumut. Boks kiri dan kanan sudah terlepas. Bahkan, beberapa bagian boks sudah keropos dan berlubang.

Lampu yang yang bulat cantik juga terlepas. Begitu juga dengan setang. Jok juga hanya menyisakan plat saja sedangkan busanya habis di makan hujan dan panas. Namun, mesinnya masih terlihat utuh. Begitu juga dengan tebeng kiri dan kanannya yang masih terlihat gagah.

Ternyata sang pemilik belum menyadari untuk merawat motor berharganya itu. Hampir saja, Durkopp Diana jadi abrang kiloan karena kondisinya sudah karatan semua. Ada beberapa bagian yang sudah hilang karena telah diambil pengepul besi tua.

Misalnya, penutup klakson, jok depan, pelek depan dan belakang. Sedangkan stang stir sebelah kanan dibuat gagang pisau dapur. Sementara sekitar 90 persen onderdil dan penampilannya masih lengkap.

Menurut pemiliknya, Durkopp Diana ini hadiah dari seorang pastor kepada assistennya. Pastor itu memberinya dua sepeda motor Jerman. Masing-masing Durkopp Diana Tahun 1957 dan sepeda Solex 1963.

Kini, di tangan dingin dan kreatif Cak Naryo di Wonasa Kapleng, Manado, Si Seksi Durkopp Diana, sudah bangkit dari kubur. Kondisinya sangat layak lihat dan layak jalan. Siapa pun yang memandang, pasti tak menyangka jika Diana sudah nyaris hilang tinggal nama. (haysim ashari)

Sabtu, 10 Desember 2011

Berawal dari Rangka Gosong


* Lady Biker BSA 250

Di Pontianak, Kalimantan Barat, motor antik tidak hanya memikat kaum lelaki. Bahkan, seorang remaja putri, Uly (19), sudah kepincut dengan pesona produk-produk keluaran Inggris. Ia pun melirik Birmingham Small Arm (BSA) C15.

Mahasiswi Jurusan Komputerisasi Akutansi di Bina Sarana Informatika (BSI) Pontianak, ini mengaku bangga menjadi lady biker. Pasalnya, untuk cewek seusianya, jarang sekali yang punya motor antik.

"Awalnya saya tertarik motor antik karena tertular akan hobi Abang saya. Ia suka membangun dan mengkoleksi motor-motor antik," kata Uly kepada Tribun Pontianak, Selasa (6/12/2011).

Ia menceritakan butuh waktu setahun untuk membangun BSA 250 cc tersebut. Di awali dari sebuah rangka. Meski lengkap, namun rangka dalam keadaan gosong.

"Yang bangun motor ini dari rangka sampai menjelma utuh BSA, Abang saya. Ia jago dalam hal membangun motor antik. Saya sih hanya hunting sparepart-nya," ujarnya.

Menurut Uly, jika membangun motor dari rongsokan, kita akan lebih tahu karakter motor. Dengan demikian akan sangat sejiwa saat mengendarainya. Sebab butuh kesabaran menunggu sampai motor impian benar-benar terwujud.

Tidak hanya itu, karena tahu sejak awal, maka akan memudahkan jika dikemudian hari ditemukan kerusakan atau masalah seputar pengapian dan sebagainya. Berbeda jika membeli motor dalam keadaan siap pakai.

Soal rangka, Uly menjelaskan seluruhnya dalam keadaan gosong seperti habis terbakar.

"Mungkin motor itu yang punya rumahnya mendapat musibah kebakaran, yang di dalam garasinya terdapat motor itu," ujarnya.

Dia menjelaskan, motor ini enak diajak lari, alias ngebut. Karena motor ini memiliki stroke atau langkah yang pendek, jadi untuk mencapai akselerasi lebih cepat, ketimbang varian BSA lainnya, yang memiliki stroke lebih panjang.

Namun, menurutnya kekurangan motor ini masih menggunakan sistem pengapian platina. "Dan platinanya berada di luar dengan tutup yang saya rasa belum sempurna. Bila hujan, si platina sering terkena air, jadi motor suka mogok," kenang Uly.

Uly menjatuhkan pilihan ke BSA C15 karena ukurannya yang lebih kecil. Cocok untuk dirinya ketimbang varian motor BSA lainnya seperti B31 atau M20. Itu alasan kenapa akhirnya ia membangun C15.

Ia menjelaskan setelah di restorasi pada 2005 sampai sekarang, belum ada kerusakan yang berarti.

"Rewel sih enggak. Perawatannya mesti rutin ganti oli supaya semua logam yang bekerja di dalam mesin terlumasi," ucapnya.

BSA C15 miliknya itu sudah sering dibawanya touring. "Motor itu udah saya pakai jalan-jalan ke Sintang, Tanah Itam, Sambas, dan kota-kota lainnya di Kalimantan Barat," ucapnya bangga. (mirna)

Spesifikasi

Merk: BSA (Birmingham Small Arm)
Produksi: Tahun 1959
Type/seri: C15
Kapasitas: 250cc
Tipe Mesin: Monoblok
Cylinder (satu): OHV
Velg: 17 inchi
Knalpot: Freeflow

Sabtu, 03 Desember 2011

Tak Sabar Geber AJS Chopper


Butuh lima bulan bagi Yuswardhi, motorist antik Pontianak, Kalbar ini, membangun motor idamannya. Adalah mesin Albert John Steven (AJS) berkapasitas 350 cc yang jadi pilihan. Namun, ia mengesampingkan tampilan classic yang biasa dipertahankan pecinta motor Inggris.

Yus, begitu ia disapa, ingin memuaskan hasratnya dengan membangun motor chopper. Maka mulailah dilakukan selain membenahi mesin biar sehat, juga membangun rangka yang diinginkan. Rupanya, tahapan itu membutuhkan kesabaran dan biaya yang lumayan besar.

Tidak kurang, sekitar Rp 20 juta ia gelontorkan agar AJS bisa menjajal aspal. "Ketika membangunnya, saya tidak sabar untuk segera menggebernya. Ingin cepat-cepat memakainya," kata Yus kepada Tribun Pontianak di kediamannya, di kawasan Tani Makmur, Kamis (01/12/2011).

Pengerjaan yang hati-hati dan teliti dilakukan agar motor tidak hanya sekadar bisa ditunggangi. Ia paham betul, kuda besi Eropanya kelak harus memberikan rasa nyaman dan kepuasan ketika mengendalikannya.

"Motor chopper ini punya nilai plus bagi saya. Membuat saya lebih percaya diri ketika mengendarainya. Kalau naik motor ini, benar-benar naik motor rasanya," ujar Yus.

Ia menambahkan motor tersebut sengaja diubah menjadi chopper agar tampilannya ekstrem. "Kiblat motor saya ke arah ekstrem. Saya suka dengan yang berbau ekstrem. Makanya, sayapun memilih mengubahnya menjadi chopper," ujar anggota Brotherhood Pontianak ini.

Ia pun memastikan rangka chopper yang dibangunnya bisa menopang performa kapasitas AJS yang besar. Sebab, AJS buatan 1952 ini, tidak nyaman dikendarai dengan kecepatan pelan. Biasanya, ia membawa AJS dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam.

"Motor ini sedikit berat. Kapasitas mesinnya cukup besar, 350 cc. Jika pelan-pelan akan terasa berat. Tapi jika dengan kecepatan lumayan tinggi, jadi enak dan nyaman dikendarai," imbuhnya.

Meski mengalami ubahan, namun Yus mempertahankan orisinalitas mesin AJS. Seperti layaknya motor Eropa, terutama Inggris, rem tetap di sebelah kanan dan gigi di sebelah kiri. Gerbox juga mempertahankan bawaan aslinya.

Hanya, sistem pengapian yang menjadi perhatian serius Yus. Sistem pengapian AJS bawaan, diubahnya dengan spul thunder magnet Mio. "Pengapiannya jauh lebih bagus, bandel," jelas Yus.

Sistem suspensi motor ini terletak pada jok. Ia tidak menggunakan shock belakang, sehingga sistem kerjanya mengandalkan per di bawah jok.


Motor ini hanya akan mampu menopang bobot seberat pemiliknya. Yaitu sekitar 85 kilogram. Jika lebih dari itu, menurut Yus, motornya tidak mampu berjalan atau tidak bisa dikendarai. Namun, AJS chopper itu sudah diajaknnya mengarungi hingga ke Riam Merasap.

Hobi memodifikasi motor antik, telah dilakukannya sejak Yus masih duduk di bangku SMA. Motor antik, menurutnya sangat unik dan berbeda dibandingkan motor lainnya.

Ia mengatakan lebih percaya diri naik motor antik ketimbang mengendarai kendaraan lainnya. Walaupun hobinya ini boleh dibilang lumayan menguras kocek, tapi istrinya tidak pernah protes.

Justru sang istri mendukung dengan hobinya yang satu ini. "Istri saya sudah mengerti akan hobi saya. Sejak pacaran sampai menjadi istri, dia sudah memaklumi hobi saya ini," ucapnya. (mirna)

Spesifikasi
Ban: Stronghold, 150/70-21 (depan) dan Trakmax , 150/70-17 (belakang)
Setang: Apehanger
Rangka: Custom
Shock depan: TS
Tangki depan: Custom
Tangki oil: Filter oil army
Spakbor belakang: Custom
Gir depan dan belakang: Custom
Mesin: 350 cc
Modifikator: Kiky, Bengkel Brotherhood, Jl Ayani Pontianak

Jumat, 02 Desember 2011

Vespa Klasik dan Pesona Pulau Dewata












Tanggal 25-27 November saya mengunjungi Bali. Saya diundang XL North Region untuk kegiatan Media Gathering. Ada sekitar 30 jurnalis yang diundang untuk melihat pencapaian XL dan pesona Pulau Dewata.

Selama di Bali, saya menginap di Hotel Spacio di Jl Dewi Sri, Kuta. Begitu tiba di halaman hotel, setelah dijemput di Bandara Ngurah Rai Bali, mata saya langsung tersedot oleh deretan motor butut di samping hotel.

Motor-motor butut itu di antaranya, Honda S 90, Vespa Spint, Honda GL 100, dan banyak lainnya. Karena penasaran, saya tidak lekas masuk hotel. Melainkan melihat dari dekat motor-motor era 70 an tersebut.


Ternyata tempat di mana motor-motor buruk rupa itu adalah sebuah bengkel. Namanya bengkel Island Vespa Classic Bali di Jl Dewi Sri Nomer 20 Kuta. Saya kaget begitu masuk ke show room bengkel yang digawangi Boman dan Rinto tersebut.

Di show room berukuran sekitar 4 meter x 8 meter tersebut, berjejer rapi berbagai jenis Vespa klasik. Entah berapa jumlahnya saya tidak tahu persis karena tidak menghitungnya. Yang jelas, kiri kanan show room penuh dengan Vespa yang seksi dan montok.

Sepenglihatan saya, mayoritas didominasi Sprint berbagai type, Super, Bajaj, dan Kongo. Motor- motor buatan Italia itu, dicustom klasik. Mempertahankan bentuk orisinalitas dengan berbagai warna cerah yang menarik.

Selebihnya, motor dipasangi berbagai aksesoris untuk mempercantik penampilan. Ada foot steep racing, spion bulat, guard spakboard depan belakang, juga guard bodi. Beberapa aksesoris itu, ada yang dibuat sendiri para mekanik, ada juga yang dibeli di agen-agen sparpat Vespa di Bali.

Tidak sekadar mempertahankan gaya klasik, sebuah Kongo warna hitam dop, dimodifikasi dengan dibuatkan zespan di sisi sebelah kiri. Zespan yang dikerjakan Boman itu, terlihat sangat rapi. Terutama bagian sambungan dan pengelasan. Cat juga sangat halus.

Sebuah lampu cantik dimodifikasi Boman di bagian roda Zespan. Sepintas, mengingatkan saya akan Zespan BSA M20 atau BMW R25.

Sambil kenikmati semangkuk bakso di depan bengkel, saya kemudian meminta izin kepada Boman dan Rinto mengambil gambar. "Semua motot di sini sudah laku terjual. Itu punya orang semua. Harganya rata-rata Rp 12 juta," kata Rinto.

Saya kaget karena di Pontianak harganya tidak setinggi itu, kecuali untuk Kongo. Yang membuat saya tambah kaget, rupanya Boman, mekanik yang punya tubuh gempal ini, pernah merambah Kalimantan Barat.

"Saya bekerja di Malaysia. Saat liburan, saya bersama teman pergi ke Sambas, Pontianak, dan Desa Jawa Tengah di Sungai Ambawang," ucap Boman tersenyum.

Ia kemudian memutuskan pergi ke Bali dan membuka bengkel Vespa bersama teman-temannya. Ia mengatakan, masih banyak Vespa klasik yang bisa dijumpai di Bali meski kondisinya kadang memprihatinkan.

Bersama teman-temannya yang lain, Boman menyulap Vespa yang sudah mulai ditinggalkan itu, layaknya baru keluar dari pabrikan di Italia. Bagus, mulus, terawat, tinggal geber. Wajar, karena di belakang show room, terdapat workshop cukup luas untuk mempermak Vespa karatan menjadi cantik nan menawan.

Bravo buat Boman, Rinto dan Island Vespa Classic Bali. Benar-benar scooterist sejati. Berharap bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Thanks atas keramahtamahan kalian. (hasyim ashari)

Senin, 03 Oktober 2011

Komunitas Sepeda Santap Nagasari


Sekitar 1.000 pecinta sepeda dari berbagai komunitas sepeda menggelar halalbihalal di Area Car Free Day Pontianak, Jl Ahmad Yani, Minggu (2/10) pagi. Acara tahunan yang digagas Sepeda Onte Kalbar (Sepok) ini, dibuka Wakil Wali Kota Pontianak, Paryadi.

Dalam kesempatan tersebut, mereka menyantap berbagai kue tradisional Pontianak. Mulai dari ketupat, nagasari, korket, apam, arem-arem, dan masih banyak lagi. Acara juga diisi tari-tarian dari mahasiswa FKIP Untan, serta hiburan musik dari Komunitas Fixie Pontianak.

"Dari hari ke hari sudah semakin banyak masyarakat yang mengunakan sepeda engkol. Baik untuk berolahraga maupun untuk bekerja. Untuk itu, Pemkot sedang berusaha menyediakan tempat para pengguna sepeda berupa Car Free Day di tempat lain dan jalur pesepeda di jalan raya," kata Paryadi.

Wacana tersebut disambut baik para pecinta sepeda. Sebab, bisa mengakomodir pesepeda. Sementara itu, Ketua 1 B2W Pontianak, Bahri, kembali mengingatkan bersepeda minimal sepekan sekali selain membuat badan sehat, menghemat BBM, juga bisa menambah teman. "Mari kampanyekan hidup sehat dengan bersepeda," ujarnya.

Ia menuturkan ada beberapa komunitas yang tidak bisa bergabung karena ada kegiatan lain. Di antaranya Fun Bike TNI AL dalam rangka HUT ke-66 TNI. Bahri juga mengucapkan terimakasih atas dukungan Sound System dari PLN Area Pontianak, Jaya Khatulistiwa Bike, dan PT Indosat. (hasyim ashari/tribun pontianak)

Minggu, 02 Oktober 2011

Motorhead Buka Chapter Singkawang


Dua puluh lima anggota Motorhead Chapter Singkawang berkumpul di SPBU AKR, Jl Ratu Sepundak, Singkawang, Sabtu (1/10) sore. Mereka sedang menunggu kedatangan rombongan Motorhead MC West Borneo datang dari Pontianak.

Beberapa saat menunggu, akhirnya rombongan yang dipimpin Nadi Rusanto itu tiba. Mereka langsung disambut Pembina komunitas motor antik di Singkawang, H Suwisno, yang mendampingi Motorhead Chapter Singkawang saat itu.

Motorhead MC West Borneo sengaja datang ke Singkawang, untuk meresmikan Motorhead Chapter Singkawang. Peresmian ditandai dengan penyematan pin kepada Ketua dan Wakil Ketua Chapter Singkawang, Erit Suryadi dan Sumarno.

Ketua Harian Motorhead MC West Borneo, Nadi Rusanto, mengatakan Motorhead Chapter Singkawang adalah yang kedua di Kalbar. Sebelumnya, dia juga telah meresmikan Motorhead Chapter Peniti, Kabupaten Pontianak.

Secara keseluruhan, saat ini Motorhead MC West Borneo telah memiliki 150 penggemar sepeda motor antik, sebagai anggotanya. Dengan tujuan kemajuan dunia otomotif Kalbar, Nadi Rusanto mengatakan, Motorhead akan terus melakukan perekrutan anggota.

Melalui Motorhead, Nadi Rusanto berharap bisa mempersatukan komunitas motor antik dan komunitas otomotif di Kalbar. Meski peminat motor unik varian Eropa dan Amerika masih sedikit sekali, dia optimistis Motorhead akan terus berkembang.

Anggota Motorhead Chapter Singkawang punya agenda rutin kongkow di sekretariatnya di SPBU AKR, Jl Ratu Sepundak, pada Rabu malam. Namun Nadi menegaskan, kegiatan Motorhead bukan hanya sekedar kongkow-kongkow atau touring.

Beberapa kegiatan sosial juga menjadi agenda Motorhead. Termasuk juga mempromosikan potensi wisata yang ada di Kalbar. Peresmian Motorhead Chapter Singkawang sore itu, ditutup dengan ramah- tamah antaranggota dan konvoi keliling Singkawang. (arief purnomo/tribun pontianak)

Brotherhood West Borneo Diresmikan













Pertahanan terakhir negara kita adalah persaudaraan merupakan moto yang selalu dipegang Bikers Brotherhood Motor Club (MC).

Bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, diresmikan Bikers Brotherhood MC Checkpoint Borneo di halaman Duck Cafe, Jl Ahmad Yani Pontianak, Sabtu (1/10).

"Karena kita tinggal dinegara yang sama, pastinya kita memiliki visi yang sama meski berbeda klub. Benteng yang paling kuat dan terakhir adalah persaudaraan. Rasa persaudaraan itu jangan dinilai dari materi, tapi komitmen saling mendukung," kata El Presidente Bikers Brotherhood MC, Budi Dalton, kepada Tribun.

Peresmian Bikers Brotherhood MC Checkpoint Borneo dihadiri lebih dari 20 motor club se-Kalbar, di antaranya Yamaha Vixion Club, King Rattle Club, Byonic, Pontianak Tiger Club, Pontianak Moto Club dan Ninja Community.

"Meski kita berbeda uniform, tapi kita bersaudara. Ini juga sebagai sindiran pada meraka yang menganggap para bikers begini dan begitu. Tapi kenyataannya, kalau kita sudah berada di dalam, maka yang ada rasa bersaudara sesama bikers dan itu sangat kuat. Anggota kita juga ada yang polisi, tentara, pejabat, pegawai, mahasiswa, pengusaha dan banyak lainnya," ujar Budi yang terbang langsung dari Bandung.

Saat ini, Bikers Brotherhood MC sudah 23 tahun berkiprah. Terdapat tujuh cabang atau mereka sebut chapter yakni Lombok, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bandung. Tidak hanya itu, juga terdapat sembilan checkpoint se-Indonesia.

Budi mengatakan, club Brotherhood yang akan menjadi chapter harus melalui tahapan panjang dan ketat, dimulai dari checkpoint.

"Untuk jadi sebuah chapter, setidaknya harus memenuhi syarat seperti salah satunya memiliki enam orang yang tergabung dalam Mother Chapter di Bandung," terangnya.

Yang paling utama, ditambahkannya yakni biker tidak lepas dari lalu lintas dan motor. Selain memiliki hukum adat sendiri, seorang bikers juga tidak lepas dari peraturan pemerintah mengenai lalu lintas.

Sementara itu, Ketua Bikers Brotherhood MC Checkpoint Borneo, Kiky Prabawa, mengharapkan dengan acara yang baru pertama kali digelar in dapat menyatukan semua biker di Kalbar.

"Klub motor hanya media saja dan titik beratnya adalah rasa persaudaraan dan sikap nasionalisme. Ini yang menjadi semboyan dari Bikers Brotherhood," ucapnya usai melakukan rolling city.

Tepung tawar, tarian Dayak memeriahkan peresmian Bikers Brotherhood MC Checkpoint Borneo. Perwakilan dari Ditlantas Polda Kalbar juga menghadiri peresmian itu. Puncak kegiatan dimeriahkan sexy dancer, band rock battle, fashion show, live music, parade band, dan games. (pontiana banjaria/tribun pontianak)

Sabtu, 24 September 2011

Dua Honda XL 125 Favorit


Menunggangi motor berbodi dan ber CC besar, itu sudah biasa. Karena bagi Dwi Sutiono dan Tri Prihantono, yang harus menjadi tunggangan itu harus beda dan istimewa.

Jadilah 2 bersaudara ini mengoleksi motor-motor antik alias tua-tua keladi makin tua makin jadi. Seperti satu di antaranya yang menjadi favorit dua saudara ini adalah Honda XL 125 tahun 1975.

Untungnya hobi mereka ini di dukung sang ayah, Margono, yang juga menyukai motor-motor sejenis. "Biar kita banyak duit, kalau enggak ada motornya juga susah. Tidak seperti motor sekarang, pasarannya jatuh. Kalau motor klasik makin mahal harganya," kata Margono.

Motor Honda XL 125 ini memiliki arti penting bagi mereka, karena mendapatkan ke duanya dengan ketidaksangajaan. Dan lebih istimewanya lagi, hanya ada 5 motor jenis tersebut di Pontianak.

"Nemunya enggak disengaja. Waktu bapak ikut MTB ke Singkawang, dari ngobrol-ngobrol, ternyata masih ada yang nyimpan. Kita buru lah tempatnya dan ketemu. Dijualnya Rp 800 ribu," tutur Tri.

Saat ditemukan, motor ini jauh dari kondisi sempurna. "Ya, kayak besi rongsokan lah. Kalau orang yang enggak tahu motor ini, pasti tak hirau. Saya lihat, benar dan original. Tinggal kita poles dan nambahin komponennya yang belum lengkap," tambahnya.

Menurut pemiliknya yang dahulu, motor tersebut digunakan sebagai motor pemadam kebakaran di lahan pertanian. Oleh pemiliknya ketika itu, motor tersebut digunakan untuk jual minyak. Jadi meski sudah seperti rongsokan dan tak berbentuk, mesinnya masih oke.

Lain lagi kembarannya Honda XL 125 putih. Motor yang sangat eksis di era Roma Irama dan Achmad Albar ini ditemukan di Sanggau. "Sama, enggak beda jauh. Sudah enggak ada model lagi. Karat di mana-mana," timpal Dwi.

Bagi dua saudara ini, memiliki bahkan mengoleksi jenis-jenis motor klasik membuat beda dari pengguna motor kebanyakan. "Nanti kita juga mau turing ke Kalteng. Sudah sering ikut turing pakai motor ini. Karena sesuai ya, jenis motor dengan medannya, motor trail," katanya.

Kalau mau di hitung-hitung, harga motor ini tidak ternilai. Meski banyak yang mencari dan ingin membelinya, keduanya enggan melepaskan si tua-tua keladi ini.

Kedua motor yang dimilliki Tri Dan Dwi tersebut, hampir semuanya memakai komonen original. Hanya pada stang, si klasik merah yang custome. (tribunpontianak/pontiana banjaria)

Spesifikasi :
Tipe : Honda XL 125
Mesin : CG 125 E
Ban : 275x21 (depan) dan 275x18 (belakang)
Knalpot : Krizman spark arrester 305 US PAT
Kapasitas mesin : 125 cc
Komponen lain : Original Hondal XL 125

Jumat, 16 September 2011

Jalan Hidup Empat Asasi



* Brotherhood MC Borneo Indonesia

Komunitas Biker Brotherhood MC Borneo Indonesia adalah komunitas motor tua di Kalimantan Barat. Aktivitasnya tak sekadar doyan nyemplak motor tua, konvoi, dan nongkrong di berbagai tempat. Namun, banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan.

"Di antaranya kita diajarkan bagaimana cara mengendarai motor dengan baik. Mereka yang memiliki keahlian sesuatu, kita satukan di sini untuk organisasi," kata Kiky Prabawa, Staatsman Biker Brotherhood MC Borneo Indonesia, kepada Tribun Pontianak, belum lama ini.

Keberadaan komunitas ini, menurutnya, bertujuan untuk menyatukan Indonesia dengan moto Benteng Pertahanan terakhir NKRI dengan persaudaraan. Sudah setahun Biker Brotherhood MC Borneo Indonesia terbentuk. Kini anggotanya mencapai 21 orang.

Untuk menjadi anggota, syaratnya tentu harus memiliki motor antik. Baik itu buatan Eropa maupun Amerika. Di samping itu harus mematuhi peraturan yang berlaku di komunitas.

Seperti induknya, Biker Brotherhood, Biker Brotherhood MC Borneo Indonesia, juga memiliki tingkatan kelas untuk anggotanya. Mulai dari Prospect, Virgin, dan Life member.

Mereka yang baru masuk atau diistilahkan bayi baru lahir, dinobatkan sebagai Prospect. Lebih tinggi dari itu atau tingkatan keduanya adalah virgin.

Sedangkan mereka yang sudah dinyatakan menjalankan empat asasi di lingkungannya, akan dinobatkan menyandang Life Member. Empat asasi itu adalah loyal, respect, pride, dan honor.

Kiky menjelaskan untuk naik tingkatan, pada dasarnya ditentukan berdasarkan loyalitasnya terhadap komunitas dan keluarga atau lingkungan sekitar. Artinya akin loyal akan semakin tinggi tingkatan yang disandang.

Mereka yang lama bergabung di komunitas, tidak menjamin untuk menyandang predikat hingga tingkatan tinggi. Predikat tersebut dinobatkan berdasarkan penilaian dan pengawasan dari vigillante atau pengawas.

Rencannya pada 1 Oktober 2011 yang bertepetan dengan Hari Kesaktian Pancasila, mereka akan memperingatinya dengan melakukan upacara bendera di depan sekretariat mereka. "Kita akan melakukan deklarasi sekretariat," ujarnya.

Beberapa hiburan turut menghibur dalam peringatan tersebut. Semua klub di Kalbar akan diundang pada acara itu.

Persaudaraan Kental

Abu, satu di antara anggota Brotherhood, mengungkapkan komunitas ini mengajarkan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya.

"Di sini persaudaraan dan kekeluargaannya sangat kental. Tidak ada yang membedakan satu sama lain, semuanya sama," kata Abu.

Ia merasakan sangat enjoy atau menikmati ketika bergabung di komunitas ini. "Di sini adalah keluarga kedua bagi saya," ujarnya.

Abu menambahkan, komunitas juga dapat menjadi peluang usaha bagi anggota yang lain. Misalnya ada yang bisa buat pin atau sebagainya, kemudian dijual, dan dimanfaatkan untuk organisasi.

Hal senada diungkapkan Ewin, anggota yang memiliki predikat virgin itu mengutarakan Brotherhood adalah tempatnya untuk menyalurkan hobinya.

Dirinya yang suka berkendara dengan motor antik, dan bertemu dengan teman-teman satu selera, membuatnya merasa nyaman.

Jika mereka naik motor, tak heran menjadi perhatian orang banyak. Karena selain tampilan motor yang antik, suara motor yang nyaring membuat orang sekitar mengalih perhatian kepada mereka.

Saat berkendara mereka diwajibkan untuk memakai rompi yang terdapat atribut Brotherhood. Rompi tersebut bukan sekedar rompi gaya-gayaan. Tapi rompi seragam mereka. Atribut yang dipasang pada rompi sebagai identitas mereka di komunitas.

Kenalkan 4 Asasi

Berkendara dengan motor antik merupakan kegemaran Kiky. Baginya, sangat berbeda ketika naik motor antik dibandingkan motor lain. Ada kepuasaan tersendiri ketika menungganginya.

Untuk menyalurkan hobinya tersebut, ia bersama teman-teman komunitasnya, menulusuri jalan hingga ke luar Kota Pontianak dengan Norton, motor antik miliknya.

"Saya suka ngumpul bareng teman-teman sehobi. Rasanya berada di keluarga sendiri," ungkap Kiky kepada Tribun di sektreatariat Biker Brotherhood MC Borneo Indonesia.

Di komunitas ini, ia dipercaya sebagai Staatsman. Baginya perananan yang diembannya tersebut tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak tantangan yang harus dihadapinya.

Kiky menjelaskan, dirinya harus bisa menerangkan kepada para anggota akan empat asasi yang berlaku di komunitas.

"Untuk membuat mereka paham pastinya tidak mudah. Empat asasi yang berlaku di lingkungan kami, harus mereka dapat, pahami, dan terapkan dalam kehidupan," paparnya.

Selain itu, menurutnya, memperkenalkan komunitas ke aparat dan instansi pemerintah juga menjadi bagian peran yang harus dilakukannnya. "Kita ingin Brotherhood dapat mengembangkan sayapnya," ucapnya.

Karena sekretariat mereka baru dibangun, makanya ia mau tidak mau harus standby berada di tempat.

"Tapi teman-teman biasnya sering juga ngumpul di sini. Saya tidak sendirian. Dari intern kita sih memang harus sering ngumpul," katanya. (mirna/tribun pontianak)

Kamis, 15 September 2011

Koleksi Om Is: Honda hingga Harley


Adalah Iskandar Kristanto yang hobi kumpulkan motor Harley Davidson tua seperti tipe WLA, WL, Sporter dengan tahun pembuatan 1940-1960.

Tak hanya itu, motor Jepang yang branch-nya kondang di Indonesia, seperti Kawasaki, Honda, Suzuki, Yamaha, berbagai tipe antara tahun 1960-1980-an juga dikumpulkan.

Jumlahnya banyak sekali. Mungkin sekitar 100-an unit lebih. Motor-motor dikumpulkan sejak lama dan disimpan pada sebuah gudang belakang bengkel AC Leduwi di Jl MT Haryono 452 Semarang.

Di bengkel itulah Om Is begitu panggilannya, setiap hari terima order perbaiki AC mobil. Tidak sekadar banyak, kondisi motor juga serba komplit.

Bahkan beberapa motor terlihat orisinal seperti di zamannya dulu. Baik cat maupun aksesorisnya. Sebut saja Suzuki GT 380 tahun 1974 yang tampak seperti baru.

Tidak usah heran sampai terbungkus plastik yang tersuplay udara lewat fan. Istilahnya Bubble, tujuannya menghindari debu yang masuk.

Ada pula Vespa lansiran 1962 yang masih baru gress alias belum dipakai. Konon motor berbodi gendut itu sudah diincar lama. Karena memang sudah jodoh, akhirnya motor itu berhasil dimiliki.

Ada lagi unit Yamaha YL 1 lansiran 1966 dan 1968, yang konon pernah menang kontes Yamaha tertua dan akhirnya menghasilkan satu unit Yamaha Vixion baru.

"Kelebihan Yamaha tipe itu, motornya kecil tapi mesinnya twin dengan 2 karburator," kata suami Yenny Ekawati Kuntjoro ini.

Kenapa memilih motor tua? alasannya lebih kepada cerita ketika memperoleh dan membangunnya. Ada kepuasan ketika motor itu akhirnya terlahir kembali seperti masa kejayaannya dulu.

Padahal bukan hal mudah. Apalagi Om Is termasuk anti-pakai peranti non-orisinal. Satu contoh ketika beroleh Harley Davidson WL dan kemudian membangunnya.

"Pistonnya disusupi piston Mazda B600 (kotak sabun). Performanya kurang, pasalnya pistonnya dibubut dan klip pen pistonnya sering lepas. Akibatnya mesin kurang sip. Di situlah tantangannya untuk mencari part orisinalnya dan kemudian merakitnya," papar Om Is berapi-api.

Tidak mengherankan jika berburu sparepart dan mengumpulkannya, masuk jadwal kegiatan Om Is. Ia pun menjadi rujukan mereka yang juga mencari sparepart kategori OEM Harley Davidson tua.

Maksudnya doi sedia sparepart motor legendaris asal Amerika tersebut. Lantas bagaimana perawatan motor-motor itu? "Cukup dibersihkan sajalah," tutupnya singkat.
Sumber: MotoBike

Senin, 12 September 2011

Wagub Christiandy Syukuri Kebersamaan


* Festival Kue Bulan di Kalbar
MASYARAKAT Tionghoa, termasuk di Kalbar, merayakan perayaan Cung Chiu Ciek atau festival Kue Bulan, besok, Senin (12/9). Tradisi perayaan Cung Chiu Ciek diperingati setiap tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek.

Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa mulai bersiap diri dan membeli berbagai jenis kue bulan yang tersedia di pasar. Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya, misalnya mengaku berburu Kue Bulan hingga ke Singkawang.

Padahal, sudah membeli berbagai jenis kue di Pontianak. Kue itu untuk dinikmati bersama keluarga, saudara, maupun kerabat.

"Saya membeli Kue Bulan sampai ke Singkawang. Saat kemarin pulang memperingati 100 hari wafatnya Ibu saya di sana. Kue Bulan di Pontianak juga enak. Masing-masing tempat memiliki cita rasa yang berbeda," tutur Christiandy kepada Tribun, Sabtu (10/9).

Wagub mengaku menyukai jenis Kue Bulan, Go Jin Pia. Ia menilai perayaan Cung Chiu Ciek merupakan tradisi turun temurun yang memiliki nilai positif sehingga harus dilestarikan. Melalui tradisi ini secara ekonomi dapat menghidupkan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), baik yang memproduksi maupun yang menjual kue.

Oleh karena itu, perlu didukung dan dipertahankan karena sangat positif dan memberikan nilai tambah untuk pertumbuhan ekonomi. Christiandy menuturkan, hingga sekarang tradisi ini dirayakan bersama keluarganya.

Dalam hal ini, saling membagikan kue bulan kepada yang lebih tua. "Kita tetap merayakan bersama keluarga, dengan cara kumpul dan makan bersama. Perayaan Kue Bulan merupakan hari spesial bagi masyarakat Tionghoa, kita patut bersyukur bisa berkumpul dan makan bersama dengan keluarga, serta kepada yang tua kita antarkan Kue Bulan," paparnya.

Kentalnya hubungan antarsaudara juga dirasakan Ketua DPRD Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie. Menurutnya, zaman dulu (perang) kue bulan dijadikan alat komunikasi dengan menyisipkan kertas ke dalam kuenya untuk mengirimkan pesan.

"Sekarang, khususnya bulan ini, kita bisa mengirimkan Kue Bulan untuk saudara yang lebih tua dan kerabat. Sehingga mempererat hubungan saudara dan kerabat yang selama ini mempunyai kesibukan masing-masing," kata Chui Mie.

Wali Kota Singkawang, Hasan Karman, berharap masyarakat Tionghoa tidak sekadar
merayakan festival ini dengan makan bersama dan berkumpul. Namun, perlu juga mengetahui makna yang terkandung dari perayaan ini. Sehingga bisa meneladaninya.

Ketua DPRD Kota Pontianak, Hartono Azas, mengatakan hikmah penting yang bisa diteladani dari Festival Kue Bulan adalah semangat persatuan, kompak, jiwa kebersamaan bisa mewujudkan segala sesuatu.

"Harapan saya agar bangsa kita selalu memperkokoh nilai nilai kebersamaan tanpa melihat asal usul latar belakang yang penting hasil karya nyata bagi kemajuan pembangunan daerah," ujarnya.

Ketaladanan Suami Istri

Wali Kota Singkawang, Hasan Karman, mengatakan ada dua peristiwa yang terjadi mewarnai perayaan Kue Bulan. Pertama, kala itu di antaranya terjadinya perampokan di rumah sepasang suami istri, How Ie dan Chang Er, yang menyimpan benda pusaka berupa pil panjang umur atau pil ke surga yang diberikan kaisar kepada How Ie yang berjasa.

Ketika terjadi perampokan How Ie tidak berada di rumah dan Chang Er takut kehilangan pil itu sehingga ia meminumnya. Alhasih, setelah meminum pil itu roh Chang Er dipercaya naik ke surga dan meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.

Oleh karena itu, setiap hari peristiwa itu, yakni tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek, How Ie membikin Kue Bulan untuk mengenang istrinya. Dari peristiwa itu menggambarkan suami istri yang luar biasa saling mencintai karena takdir buat mereka pisah.

"Dari kejadian itu, dapat dipetik maknanya yaitu kesetiaan suami atau keteladanan suami istri yang perlu dicontohi oleh masyarakat sekarang ini. Apalagi saat ini, suami istri dikit-dikit mau cerai, sehingga cocok dijadikan keteladanan," imbaunya.

Peristiwa kedua adalah pemberontakan di zaman Dinasti Yuan (1271-1368) oleh suku Han terhadap suku Monggol. Pemberontakan terjadi karena suku Han dijajah oleh suku Monggol yang berkuasa kala itu.

Sehingga untuk menggerakan semua suku Han dibikinlah Kue Bulan yang disisipkan kertas berisi pesan agar melakukan perlawanan serentak pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek.

"Dengan demikian, Kue Bulan dapat dijadikan media untuk mengirim pesan agar rasa solidaritas tumbuh untuk melawan penjajah. Untuk masa sekarang perayaan festival Kue Bulan dapat dijadikan semangat persatuan dan kesatuan bangsa untuk melawan korupsi," ujarnya.

Oleh sebab itu, Hasan Karman berharap, setiap ada perayaan etnis Tionghoa dapat diceritakan kembali kepada generasi muda, apa saja asal usul suatu perayaan itu. Karena setiap tradisi Tionghoa banyak mengandung filosofi atau penuh dengan makna dan bangsa akan jadi besar kalau bangsa itu berbudaya.

Pertahankan Tradisi Keluarga

WARGA Tionghoa melakukan sembahyang bulan yang disebut Pai Guek Hua (dialek Tio Ciu), dan Pai Nyiat Fa (dialek Hakka). Pada tengah malam perayaan Festival Kue Bulan atau Cung Chiu Ciek, merupakan satu di antara kebudayaan yang mulai terkikis oleh zaman.

Namun, masih ada warga Thionghoa yang mempertahankannya. Seperti warga Jl Gajah Mada, Gg Gajah Mada III, The Siam Kheng (56). Ia masih mempertahankan ritual Pai Guek Hua atau Pat Nyiat Fa.

Ia mengatakan, tradisi ini sudah dilakukan turun temurun dan merupakan tradisi keluarga atau orangtua. "Ritual ini setiap tahun kami laksanakan dan sudah berlangsung 60 sampai 70 tahun. Sejak orangtua kami masih hidup. Jadi ritual ini termasuk tradisi keluarga," ungkapnya.

The Siam Kheng beralasan kenapa tradisi ini dipertahankan, karena selama melakukan ritual sembahyang pada Dewi Bulan, sangat baik untuk kesehatan dan keselamatan. Sementara anak perempuannya, Lim Ai Cu (33), bertekad akan meneruskan ritual Pai Guek Hua atau Pat Nyiat Fa, yang selama ini digelar oleh orangtuanya.

"Kalau tradisi ini tidak dilanjutkan maka akan berhenti sehingga anak kita tidak akan tahu. Oleh sebab itu, kelak saya akan melanjutkan tradisi orangtua saya ini," ungkapnya.

Ia menambahkan, dengan perkembangan zaman yang serba modern masyarakat mulai meninggalkan hal-hal seperti ini. Padahal ritual ini meruapakan tradisi yang unik sehingga memiliki nilai jual. Melestarikan ritual Pai Guek Hua atau Pat Nyiat Fa termasuk bagian melestarikan budaya Tionghoa, terlepas dari keyakinan akan diberi kesehatan dan keselamatan.

"Saya dari dulu turut melakukan sembahyang dan berdoa pada Dewi Bulan. Dulu saya berdoa minta jodoh dikabulkan, terus minta anak juga dikabulkan. Selama ini apa yang kita doakan selalu dikabulkan, dan terpenting kita minta kesehatan dan keselamatan," ujarnya.

Pedagang Raup Rezeki

FESTIVAL Kue Bulan mendatangkan berkah bagi para pedagang, setiap harinya mendekati hari H, mereka mampu menjual sekitar 300 kotak per harinya.

"Kuenya bermacam-macam dan berbagai jenis. Ada yang menggunakan minyak hewani adapula yang menggunakan minyak sayur khusus untuk yang bervegetarian sehingga bisa dimakan siapa saja. Sedangkan jenisnya ada belasan jenis baik yang diproduksi di Pontianak maupun berasal dari luar seperti Singkawang dan Bengkayang," kata penjual kue bulan, Asua, kepada Tribun, Sabtu (10/9).

Asua yang berjualan di Jl Gajah Mada, tepatnya di samping Pemadam Kebakaran Budi Pekerti ini, mengaku setiap tahun tidak pernah absen menjual kue bulan. Ia memiliki langganan tetap yang tidak hanya berasal dari Pontianak tetapi juga dari luar kota bahkan ada yang dari luar Kalbar.

"Langganan saya sudah cukup banyak, harga satu kotak kue bulan dimulai dari harga Rp 30.000 sampai dengan harga Rp 90 ribu per kotak dan rasanya beragam. Ada yang berisi telur, kacang hijau, sayuran serta ada yang tanpa isi," ujarnya.

Kendati demikian, Asua mengaku pembeli tahun ini tidak seramai dengan tahun lalu. Menurutnya, tahun ini dipengaruhi musim buah yang bertepatan dengan perayaan festival kue bulan sehingga banyak langganan memilih membeli buah daripada kue bulan.

Sementara pewaris Toko Hong Hak, spesialis Kue Bulan di Jl Gajah Mada No 55 Pontianak, Tan Kim Hai, mengatakan Kue Bulan hasil produksinya tidak hanya dipasarkan di Pontianak dan sekitarnya tetapi hingga ke Pulau Jawa.

"Proses produksi Kue Bulan Hong Hak masih menggunakan cara tradisional sehingga mempunyai khas tersendiri. Hal ini yang membuat kue kita digemari oleh pelanggan selain kualitas yang selalu dijaga," tutur Tan Kim Hai, pewaris generasi ketiga ini.

Ia menceritakan, Kue Bulan yang terbuat dari tepung terigu dan dipanggang ini memiliki rasa dan bentuk yang beragam. Di antaranya La Pia atau Gwek Pia yang memiliki tiga rasa Tau Sha (kacang hijau), Cui Cia (buah kundur), dan Bu Tang Chai (sayuran).

Selain itu, ada juga Kho dan Ma Kau Pia yang terdiri dari Go Jin dan Tau Sha, serta ada yang terbuat dari ketan putih dan hitam yang berisi kacang hijau.

Kue Bulan yang mempunyai berbagai bentuk dan ukuran ditawari dengan harga yang bervariasi. Satu di antaranya La Pia dijual dengan harga Rp 90 ribu per kotak yang berisi dua buah. (steven greatness/tribun pontianak)

Jumat, 09 September 2011

Rakit Sendiri Norton 56


Eko Norton. Begitulah kira-kira, biker Kalbar memanggilnya. Bukan kebetulan disapa denan embel- embel Norton. Sebab Eko memang punya motor lawas keluaran Inggris tersebut. Di garasi rumahnya di Jl Perdana, tersimpan motor-motor Eropa lainnya.

Kesukaan mengkoleksi dan merakit motor antik, sudah dilakukan pria penggila motor antik ini, sejak 2002. Hunting motor antik dari satu daerah ke daerah lain, merupakan hobi Eko hingga saat ini.

"Kalau ada informasi dari kawan-kawan ada motor antik, saya segera untuk hunting ke lokasi," ungkap Eko kepada Tribun di kediamannya, baru-baru ini.

Norton 1956, motor antik buatan Inggris ini, adalah satu di antara koleksi motornya. Ia mengatakan, awalnya motor tersebut kondisinya tidak seutuh seperti sekarang.

"Waktu itu keadaannya masih berantakan. Hanya mesin dan rangka saja. Masih belum bias dikendarai," paparnya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, ia pun merakitnya menjadi sama seperti aslinya motor itu. Kebanyakan semua koleksi motor antiknya adalah hasil rakitannya sendiri. "Ada kepuasan sendiri bagi saya ketika merakit sebuah motor," ujarnya.

Dengan merakit sendiri, menurutnya, lebih mudah mengetahui masalah yang terjadi pada motor. "Kita bisa tahu di mana letak rusaknya atau masalahnya. Sehingga bisa memperbaiki sendiri," terangnya.

Dia mengenang, selesainya pembangunan bagian-bagian motor tersebut, bertepatan dengan malam takbiran saat lebaran tahun lalu.

"Pengerjaannya awal puasa dan jadi pas malam takbiran. Senang rasanya. Jadi motor serasa ikut lebaran juga," tuturnya sambil tertawa kecil.

Ia menjelaskan, kelebihan Norton 1956 miliknya terletak pada posisi rem di sebelah kiri. Transmisi terletak di sebelah kanan. Setangnya lebar, sekitar 50 sentimeter.

Lampu depannya sebesar lampu mobil tua. Selain itu bentuk tangkinya juga unik berbentuk bulat.
Jika mengendarai motor tua itu, Eko mengaku sangat enjoy.

"Kalau touring pakai motor ini enak sekali. Akselerasi dan kecepatannya enak banget. Walaupun motor tua dan antik, tapi tetap enak dikendarai pada jarak jauh," ucapnya.

Meski buatan tahun 1956, Eko mengaku, Norton miliknya tidak pernah rewel atau rusak. Ia rajin mengganti oli motor.

"Tergantung pemakaian, kalau sering memakainya, tentu saja saya harus sering mengganti olinya," katanya. (mirna/tribun pontianak)

Senin, 01 Agustus 2011

Wagub Kalbar: Ini Luar Biasa!

Tribun Family Fun Bike

PONTIANAK, TRIBUN - Sekitar 6.000 orang dengan sepeda masing-masing memadati area area Car Free Day, Jl Ahmad Yani, Pontianak, Minggu (24/7) sekitar pukul 06.00 WIB, untuk mengikuti Tribun Family Fun Bike.

Mulai dari anak-anak hingga orangtua, semua menjadi satu untuk meramaikan kegiatan dalam menyambut Hari Ulang Tahun ke-3 Tribun Pontianak tersebut.

"Ini luar biasa ramainya. Ini capaian luar biasa dan positif. Saya harap, bukan hanya di Kota Pontianak saja yang ramainya seperti ini, tapi juga kegiatan bersepeda di daerah Kalbar lainnya bisa ramai seperti fun bike Tribun," ungkap Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sandjaya.

Wagub menjadi pembuka start acara Tribun Family Fun Bike, yang kemudian diikuti ribuan peserta lain di belakangnya yang memanjang hingga satu kilometer dengan kerapatan yang sangat padat.

"Kegiatan seperti ini sangat bagus. Kami, pemerintah dan saya pribadi, sangat mengapresiasi kegiatan ini karena melibatkan masyarakat," ujar Christiandy seusai bersepeda bersama peserta.

"Kalau ini terus dilakukan Tribun ataupun lembaga lainnya, berarti akan lebih banyak lagi pengguna sepeda. Saya harap nantinya di Kota Pontianak ini, bisa lebih banyak yang pakai sepeda dari pada jenis kendaraan lainnya. Sehinga konsumsi BBM kita berkurang, dan lingkungan udara kota menjadi bersih," tambah Wagub yang sekarang menambah kegiatan olahraganya dengan bersepeda, selain renang dan badminton.

Ia juga menganggap keberadaan Tribun Pontianak sebagai media terbesar di kalbar, ke depan bisa tampil sebagai media yang lebih mendekatkan diri pada masyarakat, berkualitas, kreatif, berimbang, dan memuat pesan-pesan pembangunan.

Hal senada juga diutarakan Area Representative PT Dispoly Indonesia (Polygon), Jono, yang turut mensponsori kegiatan Tribun Family Fun Bike.

"Sepanjang Polygon mensponsori berbagai event olahraga seperti fun bike, kegiatan hari inilah yang terbesar. Ini sangat ramai dibanding event-event sebelumnya di Kalbar. Kami sangat gembira melihat ini dan ke depan kegiatan seperti inilah, meski ramai tapi tetap tertib," ujarnya.

Feedback itupun di dapat mereka sebagai ajang promosi. Sehingga, masyarakat lebih mengenal produk-produk Polygon. "Tentunya ada feedback-nya bagi kami, ini sebagai promosi. Yang belum tahu Polygon, akhirnya bisa tahu. Nanti kalau ada event seperti ini lagi dari Tribun, sebaiknya memakai kaos seragam, biar lebih wah," saran Jono.

Dalam kegiatan Tribun Family Fun Bike, puluhan hadiah jatuh ketangan para peserta. Seperti motor, kulkas, sepeda, TV, HP, tiket pesawat PP Pontianak-Jakarta, voucher menginap di hotel berbintang, voucher pulsa, buku note, serta masih banyak lainnya.

Ini berkat sponsor PT Astra International Tbk-Honda, Polygon, Bank Kalbar, Tb Gramedia, Garuda Indonesia, Hotel Mercure Pontianak, Sriwijaya Air, Indosat, Telkom Flexi, Hotel Santika, Radio Sonora, Duta Promosi, Khatulistiwa TV, dan Fit Active.

Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak, Albert G Djoko, mengatakan, Tribun Pontianak ada sebagai media untuk mendekatkan diri pada masyarakat Kalbar. Melalui kegiatan fun bike itu pula, Tribun hadir untuk menyemarakkan kegiatan bersepada, yang tentunya selain bermanfaat untuk kesehatan, juga bermanfaat untuk lingkungan. (pab)

Terus Terjalin
Bodhi Limas
Kabag Retail PT PT Astra International Tbk-Honda

TRIBUN Family Fun Bike merupakan kegiatan yang di-support Honda sebagai mitra Tribun Pontianak. Kerjasama ini saling menguntungkan, dan kita harapkan ke depan kerjasama ini tetap terjalin.

Kita pasti support kegiatan yang akan dilakukan Tribun Pontianak. Karena kita juga ada kegiatan CSR, dan mungkin nanti kita ada kegiatan bersama Tribun di bulan ramadan.
Jalinan kerjasama ini juga akan membantu sektor promosi dan meningkatkan image brand

Honda, sehingga diharapkan Honda semakin eksis di Kalbar.
Kegiatan seperti ini sebagai media promosi untuk produk baru kami. Kami berharap Tribun Pontianak juga bisa semakin maju dan besar. (pab)

Setiap Bulan
Setiawan
Store Manager Toko Buku Gramedia Pontianak

KEGIATAN Tribun Family Fun Bike yang digelar Tribun Pontianak dalam rangka menyambut HUT ke-3 sangat diapresiasi masyarakat. Buktinya, ribuan orang menjadi peserta dalam acara ini.

Pesertanya banyak sekali. Hadiah-hadiahnya juga banyak dan menarik. Saya pikir memang Tribun Pontianak menjadi media nomor 1 di Kalbar. Dan kita selalu mengharapkan penyajian beritanya semakin memenuhi kebutuhan masyarakat.

Malah kami berharap Tribun Pontianak selalu mengagendakan kegiatan fun bike setiap bulan, supaya Tribun menjadi lebih dekat dengan masyrakat. (pab)

Agenda Tahunan
Redi Zusanto
Asisten Manager PLN Cabang Pontianak

KAMI menyambut gembira acara Tribun Family Fun Bike ini. Kami seluruh pegawai instansi PLN diundang dan kami menurunkan 100 orang. Sebenarnya mau 300 orang, tapi kita berbagi dengan kegiatan yang sama di Singkawang.

Selain mendekatkan dengan mayarakat, kegiatan seperti ini bisa membangun silaturahmi, baik sesama pegawai PLN maupun dengan masyarakat dan sektor-sektor lainnya.

Harapan kami, Tribun Pontianak bisa melaksanakan event serupa setiap ada momen dan dijadikan agenda tahunan. Karena selain untuk kesehatan, fun bike ini juga sebagai sarana hiburan. (pab)