Sabtu, 04 Juni 2011

Dandani AJS Rp 52 Juta

MEMILIKI motor antik adalah kebanggan tersendiri bagi Heri. Pemuda yang baru saja lulus dari SMA Negeri 7 Pontianak, Kalimantan Barat ini, lebih memilih mengendarai motor antik Inggris ketimbang motor gede (moge).

"Kalau naik motor antik, saya lebih pede. Karena bentuknya unik dan klasik. Sangat jarang dikendarai anak muda, di Kalbar khususnya," ungkap Heri kepada Tribun, Selasa (31/5).

Sudah setahun ia memiliki motor Albert John Stevens (AJS) keluaran 1956. Banyak keunikan dari motor kesayangannya itu. Di antaranya jika dibawa bepergian jarak jauh, lebih nyaman. Kecepatannya pun masih lumayan.

Untuk memiliki motor antik AJS, Heri harus rela menjual dua sepeda motor Jepang miliknya. Guna melengkapinya, ia pun harus berburu sparepart di Bandung, Jawa Barat, selama sebulan.

"Mau ndak mau harus menjual 2 motor Jepang milik saya. Saat membeli harganya Rp 29 juta, kondisi masih belum sempurna alias bentuknya masih berantakan," katanya.

Tadinya kedua orangtuanya tidak setuju ia membeli motor AJS. Ia diprotes karena kondisi motor AJS yang belum sempurna. Namun, setelah diperbaiki, orangtua yang tadinya marah malah berbalik mendukung Heri.

Selama 5 bulan, Heri memperbaiki motor tersebut. Ia memasang spareparts yang dibutuhkan, sehingga sesuai dengan bodi asli motor AJS lansiran 1956. "Lumayan juga untuk membangun bodi habis sekitar Rp 23,5 juta," ujarnya.

Heri mengungkapkan, untuk menjaga kondisi sepeda motornya agar tetap prima, ia harus intens melakukan perawatan.

"Kalau motor ini paling rewel pada pengapiannya. Platinanya dan karburator harus rajin dicek dan dibersihkan. Jika kotor, akan sangat merepotkan. Begitu juga pada businya. Misalnya mengendarainya sudah enggak enak atau nyendat-nyendat maka businya harus diganti," kata Heri.

Selain itu, ia juga harus sering-sering mengganti oli. Seandainya motor dibawa bepergian jauh, ia harus mengganti oli setelahnya. "Biasanya sih sebulan sekali lah, saya ganti oli," ujarnya.

Ia juga punya perhatian khusus untuk tangki. Tangki yang sengajanya dikrom warna perak, mengharuskannya untuk selalu rajin membersihkan.

"Setiap hari saya selalu melapnya dengan biar selalu kinclong. Kalau habis hujan, saya selalu langsung bersihkan seluruh bodi motor. Saya sangat sayang dengan motor ini jadi rajin dibersihkan," ucapnya.

Suaranya yang nyaring merupakan satu di antara khas dari motor antik yang satu ini. Jika motor dihidupkan, suara dari knalpot akan mengeluarkan bunyi yang membuat bising orang sekitar.

Headlamp atau lampu depannya yang berbentuk lonjong dan pelek jarinya mengentalkan klasik motor tersebut. Motor ini berkapasitaskan 350 cc. Model silinder tunggal. Motor ini menggunakan keran di sisi kanan mesin dan sisi lain bertindak sebagai suplai cadangan.

Nyaris Dikeluarkan

Gara-gara membawa motor AJS ke sekolahnya, Heri hampir saja diberhentikan dari sekolahnya. "Waktu itu saya masih kelas 3 SMA. Saya bawa motor itu ke sekolah, tiba-tiba saja guru saya memanggil dan membawa saya ke kantor," kenang Heri.

Karena membawa motor antik AJS tersebut, ia langsung diberi surat peringatan (SP) 3 dan orangtuanya disuruh menghadap ke kepala sekolah. "Itulah hampir saja dikeluarkan dari sekolah," ujarnya.

Namun kecintaannya terhadap motor tersebut membuatnya tidak kapok untuk membawanya ke sekolah. Diam-diam ia bawa motor itu ke sekolah. Ketika di area sekolah, ia matikan mesin AJS tersebut. "Suaranya memang nyaring. Kalau sudah sampai depan gerbang sekolah saya matikan mesinnya," ungkapnya.

Heri menceritakan jika saat istirahat, ia selalu memperhatikan motornya itu di tempat parkir dan memandanginya dari kejauhan. "Kalau dibawa ke sekolah, jarang pula motor ini dipinjam teman. Mereka takut mau memakainya. Karena mereka tahu harganya mahal," ungkapnya.

Dalam kesehariannya, Heri selalu menggunakan motor kesayangannya itu. Setiap ia jalan kemanapun, AJS 1956 ini selalu setia menemani. "Saya sudah bawa motor ini sampai ke Sanggau Ledo," jelasnya.

Dengan style pakaian jaket rompi, celana jeans dan baju T Shirt serta tidak lupa memakai sepatu boot. "Begitulah style saya kalau naik motor," ujarnya sambil tersenyum.

Ia mengutarakan banyak teman ceweknya yang sering minta dibonceng dengan motor antiknya itu. "Kalau naik motor ini, selalu menjadi perhatian orang," katanya. (mirna/tribun pontianak)

Spesifikasi

Ban: Swallow, 350 x 19 (depan) dan 300 x 19 (belakang)
Pelek: Original AJS
Karburator: Ninja RR
Shockbreaker: Original (depan dan belakang)
Tromol: Orginal (depan dan belakang)
Lampu depan: Original (depan dan belakang)
Setang: Original
Knalpot: Original
Handgrip: Amal
Frame: Original
Kapasitas : 350 cc
Mesin: AJS 1956

Kamis, 02 Juni 2011

Motor Antik Terbaik vs Termahal


Tubuh telanjang dan cungkring yang dimiliki motor ini ternyata bukanlah sebuah kekurangan. Bahkan bisa dibilang inilah yang membuat tubuh motor Amerika ini tampak eksotik. Motor ini pun jadi motor lawas terbaik.

Motor bernama American Pierce Four ini sendiri merupakan sebuah motor yang dibuat mengambil inspirasi dari FN yang diproduksi pada tahun 1910.

Tubuh cungkring American Pierce Four ini didorong oleh sebuah mesin 4 silinder yang memiliki kekuatan 4 horse power (hp) tapi mampu berlari hingga kecepatan puncak mencapai 97 km perjam.

Dengan mesin yang digendongnya itu, American Pierce Four pun menjadi sebuah motor Amerika pertama yang mengaplikasi mesin empat silinder di dapur pacunya.

Pada awalnya, motor yang diproduksi hingga tahun 1913 ini tidak memiliki transmisi atau gearbox. Namun kemudian ditambahkan dengan transmisi dua percepatan.

Dengan tubuh eksotisnya tersebut, American Pierce Four pun berhasil merebut predikat sebagai motor lawas terbaik di ajang bergengsi Concorso d'Eleganza Villa d'Este yang dihelat akhir pekan lalu.

American Pierce Four berhasil memenang ajang tersebut setelah menyingkirkan 40 lebih motor lawas lain dengan penilaian meliputi desain, wilayah, hingga orisinalitas kendaraan. Demikian dilansir autoevolution, Minggu (29/5/02011).

Sementara untuk motor antik termahal jatuh ke tangan Brough Superior 1929. Untuk penggemar motor antik Eropa, namanya tentu tidak asing lagi. Memang ia tidak sekondang Norton, BSA, Jawa, Triumph, atau Harley Davidson.

Namun, kuda besi ini baru saja menggetarkan jagat raya seperti yang diwartakan autoevolution, di mana Brough mencatatkan dirinya sebagai motor antik termahal di dunia.

Bayangkan, di balai lelang Eropa H&H, Brough ditawar dengan harga tertinggi 286 ribu poundsterling atau setara Rp 4,05 miliar oleh seorang kolektor. Lelang berlangsung di museum industri sepeda motor dunia, Haynes International Motor Museum, Sparkford, Inggris, belum lama ini.

Pembuat Brough Superior ini adalah George Brough asal Inggris. Ia memproduksinya pada 1919 sampai 1940 di markasnya di Haydn Road, Nottingham, Inggris.

Semua motor bikinannya mempunyai ciri beperforma tinggi dan memiliki kualitas paling bagus. Adapun Brough merupakan mantan pebalap, perancang, dan showman.

Motor garapannya termasuk Brough Superior termahal ini. Motor tersebut dibekali mesin SS100 berkapasitas 1.000 cc V-twin. Kecepatan maksimum yang bisa dicapai adalah 161 kilometer per jam (100 mph).

KECEPATAN yang sangat hebat untuk saat itu sehingga kendaraan tersebut (termasuk karya Brough lainnya) dijuluki "Rolls Royce"-nya sepeda motor.

"Pada 1929, hanya 29 motor yang diproduksi di Pendine (Wales) dan Grand Alpine (Swiss) dengan dua opsi rangka tipe B dan D. Brough juga dilengkapi dengan sistem transmisi 3-percepatan dijuluki super-heavyweight," ujar penyelenggara lelang H&H.

Sepeda motor langka ini sudah mengalami restorasi pada tahun 2000-2001 dan berfungsi normal seperti saat diluncurkan. Bahkan, moge ini berhasil digunakan untuk menjelajah sejumlah negara di Spanyol, Prancis, Austria, dan Italia.

Sepeda motor ini juga dilengkapi dengan sejumlah sertifikat asli kendaraan. Nilai jual sepeda motor ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah setelah rekor sebelumnya dipegang oleh Cyclone produksi 1915 seharga 278.400 poundsterling atau Rp 3,9 miliar. (*)

Minggu, 29 Mei 2011

Menggantang Film Indie Kalbar


* Film Maker Damba Dukungan

MASIH ingat perhelatan Festival Film Indonesia (FFI) 2009 silam? Ajang bergengsi insan film nasional itu, menobatkan Aria Kusumadewa dan Djenar Maesa Ayu masing-masing sebagai Sutradara Terbaik dan Sutradara Baru Terbaik.

Padahal, film keduanya adalah karya film independen atau indie. Aria melalui Identitas dan Djenar Maesa lewat Mereka Bilang Saya Monyet. Masuknya dua karya indie ini pun kemudian banyak diperbincangkan insan film.

Harapan bahwa film indie bisa diapresiasi dan mendapat tempat di tingkat nasional, juga adalah harapan cineas Pontianak. Satu di antaranya adalah Akilbudi Patriawan yang membesut film Amie.

Pemuda yang hanya tamatan SMA Mujahidin Pontianak ini adalah satu dari sedikit pegiat film indie di Kalbar. Memang ada sederet nama lainnya. Sebut saja Pawadi Jihad (penulis naskah), Buhari (sutradara dan artis talent), Raditya (kameramen), Anca Apriansyah (lighting), dan Ahmad Afid (musik director).

"Awalnya hanya hobi. Namun, ternyata peluang menjadi cineas sangat terbuka karena di Kalbar jarang yang menggarap film indie. Kalau pun ada, seperti yang dilakukan teman-teman di sejumlah SMA di Pontianak, film indie hanya bagian dari tugas sekolah. Belum digarap profesional," kata Akilbudi kepada Tribun, Sabtu (28/5).

Hingga 2011, sudah sekitar 23 judul film yang dihasilkan pemuda kelahiran Pontianak, 5 Juli 1988 ini. Di antaranya, Gangs Over (2009), Hantu Oneng (2009), Detektif Agatha (2010), Jebakan X (2011), dan terakhir adalah Amie (2011).

Amie sendiri diputar di Taman Budaya Kalbar, 22-23 Mei lalu. Sebelumnya, juga sempat diputar di Singkawang.

"Konsekuensi film indie adalah tidak dibayar. Sebab biaya produksi hanya didapat dari donatur. Kita sudah berupaya untuk menembus sejumlah perusahaan swasta, namun masih belum direspon. Dan ini, jadi tantangan kami para pegiat film indie, untuk memproduksi film-film indie sebaik mungkin," ujar Akilbudi.

Selain karena hambatan pendanaan tadi, ia juga mengakui sulitnya mencari pemain atau artis. Mereka kurang bisa akting. Kondisi ini membuat penggarapan film indie biasanya menjadi lama karena harus latihan sebulan sebelum syuting.

"Di luar itu, rata-rata artis di sini kurang memahami apa itu film indie. Merekrut mereka untuk bisa main dengan konsekuensi tidak dibayar, itu jadi masalah tersendiri. Kendala lainnya adalah Kalbar sering mati lampu dan daya listrik di lokasi syuting tidak memadai," papar layouter Harian Kapuas Post ini.


Pasokan listrik menurut warga Jl Tabrani Ahmad, Gg Setara Nomor 1 Pontianak ini, sangat penting. Terutama untuk menopang semua peralatan syuting. Kamera, lighting, komputer recording, rel, rata-rata butuh daya 3.000 watt.

Dengan segala keterbatasan itu, Akilbudi dan teman-teman cineas Pontianak tetap bertekad mengembangkan film indie di Kalbar.

"Film indie itu representasi dari idealisme cineas. Meski belum menguntungkan, kita tetap akan produksi film-film indie. Ada kepuasan batin ketika menggarap dan menyaksikan antusiasme penonton menyaksikan film yang kita garap. Rasanya ingin buat yang lebih baik lagi. Kepuasan serupa juga dirasakan teman-teman lainnya," tegas Akilbudi.

Apalagi katanya, mereka yang terlibat di film-film indie Pontianak, baik kru maupun artis, bisa lebih dikenal luas oleh masyarakat. Harapannya, mereka juga bisa berkiprah di pentas perfilman nasional.

Bagaimana dengan kualitas film indie? Penulis nasakah Kalbar, Pawadi Jihad, mengatakan Kalbar boleh minim soal sumberdaya manusia dan sarana serta prasarana yang mendukung perfilman di daerah.

Namun, untuk kreativitas cineas Pontianak tidak kalah. "Untuk kreativitas, saya rasa kita sudah bisa disejajarkan dengan film maker yang ada di Bandung atau Jakarta," tegas penulis yang sudah menciptakan 20 naskah film ini yakin.

Untuk itu, di Kalbar perlu diagendakan kompetisi film-film indie. Karena dari film indie yang dinilai bukan hanya filmnya, tapi juga sutradara, skenario, editornya, desainnya, para pemainnya bahkan sisi artistiknya.

"Saya yakin, jika kita bisa mengangkat film-film indie hingga kepermukaan bukan saja jago kandang, tapi bisa ikut kompetisi nasional. Peluang untuk memajukan dunia film di Kalbar secara keseluruhan bisa tercapai," ujarnya.

Untuk kompetisi berarti butuh dukungan semua pihak. "Yang namanya indie ya independence. Meski demikian, perlu jugalah dukungan yang lain. Contohnya sarana prasarana. Kita pernah buat film indie dan minta bantuan pemerintah, tapi tidak ada respon. Ya, jadi karena indie, ya memang harus berdiri sendiri," paparnya.

Berkaca dari film-film yang sudah dibuat, Akilbudi Patriawan, yakin bisa memproduksi film layar lebar. Menurutnya, alat-alat yang dibutuhkan untuk pembuatan film layar lebar, pada dasarnya mereka sudah punya. Begitu juga soal teknik penggarapan dan sebagainya. (hasyim ashari/pontiana banjaria)

Mugiono, Pemerhati dan Pegiat Film Indie

Ruang Berekspresi

Tampaknya sudah mulai ada tanda-tanda, dunia perfilman di Kalbar tumbuh dan berkembang. Hal ini dapat dilihat dari mulai munculnya sineas-sineas muda ataupun film maker lokal untuk membuat film-film indie.

Mereka punya kualitas dan kreativitas. Banyak di antara mereka yang lulusan sinematografi, desain, fotografi, dan lainnya dari universitas maupun akademi di Jawa. Kondisi itu, ditopang lagi oleh sejumlah sekolah yang ekstrakurikulernya adalah sinematografi.

Tidak jarang muncul film maker-film maker muda kreatif dari sekolah-sekolah itu. Film indie yang dihasilkan siswa-siswa itu juga sangat bagus. Nah, inikan suatu bukti, bahwa sumber daya kita ada dan sangat kreatif. Ini juga bukti perfilman Kalbar walau lewat film indie sudah sangat maju.

Tapi, kemauan tanpa dukungan yang berarti dari pihak-pihak yang diharapkan bisa membantu, juga kiranya tidak akan jalan. Sayangnya, sampai saat ini, kemauan dan kreatifitas sineas ini belum didukung pemerintah, pihak swasta, ataupun media elektronik lokal.

Seperti Dewan Kesenian atau Dinas Pariwisata tidak ada yang membidangi perfilman. Kita sudah beberapa kali minta dukungan ke pemerintah. Tapi, tidak juga ada respon. Sama halnya dengan televisi lokal.

Cobalah beri peluang untuk program film-film indie lokal agar bisa ditayangkan. Bukan merugikan, rapi malah sebaliknya bisa mengangkat rating televisi lokal itu sendiri. Imbas lainnya adalah perkembangan dunia film indie di Kalbar semakin maju.

Banyaknya sutradara film dan artis nasional yang melirik potensi perfilman Kalbar, ternyata belum mampu menggugah para pemangku kepentingan untuk membantu mengembangkan dunia sinematografi Kalbar.

Meski masih banyak kurang di sana-sini, untuk memajukan perfilman di Kalbar jangan berhenti. Para sineas atau film maker Kalbar harus terus berkarya. Kalau film-film indie kita bisa berbicara di tingkat nasional, dampaknya bukan hanya pada penggiat film itu sendiri. Imbasnya juga akan dirasakan sektor lain.

Misalnya sektor pariwisata. Lihat saja sekarang sudah banyak sutradara berkelas nasional maupun artis buat film dan menggunakan masyarakat lokal. Jika kita bisa pemerintah bisa melihat peluang besar ini, berilah dukungan pada film-film indie di sini. (pontiana banjaria)

Apriansyah, Pemeran Utama Film Amie

Coba Layar Lebar

Sudah dua kali bermain film indie di Kalbar, tidak membuat Apriansyah (21) berpuas diri dalam menekuni dunia perfilman Tanah Air.

"Saya pikir banyak juga pemain film besar, awalnya menapaki karier di sinema lewat indie dulu. Malah dengan jalur indie, saya rasa pengalaman dan kualitas akting kita bisa lebih terasah," kata anak pasangan Saparudin dan Yopita ini kepada Tribun, Sabtu (28/5).

Pemeran utama pria dalam film Amie sebagai Alex ini, mengakui sebenarnya sudah mengandrungi berpola akting sejak di bangku sekolah menengah atas. Dari sanalah, kiprahnya dikembangkan dengan bermain teater dan mendirikan Sanggar XQ.

"Cita-cita saya memang pada akhirnya bisa bermain di layar lebar. Saya harap, mengasah akting di tetaer dulu dan bermain di film indie bisa membawa saya menuju layar lebar. Yang jelas jangan sampai patah semangatlah. Kalau dihati kita sudah tertanam seni peran, ya fokuskan itu saja," tutur penggemar Vino G Bastian ini.

Pemain film indie Gengs Over ini menambahkan main film indie cukup memberi pengalaman berharga. Terutama bagaimana menjadi aktor sesungguhnya. Karena menjadi aktor secara instant juga, dipikirnya bukanlah hal bagus.

"Banyak sih suka duka yang saya dapat main film. Waktu syuting film Amie saja kondisi saya hampir drop. Karena harus bangun subuh, syuting di panas terik matahari, kehujanan dan lainnya. Tapi dari semuanya, saya bisa nambah pengalaman, banyak teman baru, dan adanya kebersamaan," papar Apriansyah.

Menurutnya, meski dirinya belum ada tanda-tanda bisa main film nasional tapi harapan untuk peluang menuju ke sana selalu ada. Dengan melihat filmnya sudah mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat Singkawang maupun Pontianak, itu sudha cukup membuatnya bangga.

"Setelah syuting saya merasa lega, apalagi melihat antusias dan apresiasi masyarakat Singkawang. Buat saya bangga. Kalau dipikir, apa yang saya impikan untuk jadi terkenal, walau baru tingkat daerah, itu sudah sangat menyenangkan. Tapi, masih ada impian saya yang belum tercapai, makanya saya harus terus berusaha dan lebih tekun," ujarnya. (pontiana banjaria)

Kamis, 26 Mei 2011

Jaga Orisinalitas BSA C15

EKO, Dwi, dan Tri punya hobi yang sama. Tiga bersaudara ini selain menggilai sepeda berbagai jenis juga punya darah rider motor-motor tua.

Lihat saja, berbagai jenis sepeda terparkir di garasi dan di ruang tengah. Mulai dari low rider, sepeda ontel, sepeda balap, hingga sepeda Vixie. Adalah, sang ayah, Margono, yang memang dikenal di Kalbar sebagai pecinta sepeda.

Sementara di garasi rumahnya yang terletak di kawasan Jl Perdana Pontianak, Kalimantan Barat, terparkir berbagai jenis motor tua. Mulai dari produk Jepang hingga eropa. Yang jepang sebut saja ada Honda XL.

Motor trail yang diperuntukkan bagi pegawai lapangan Dinas Pertanian itu, terawat dengan sangat baik. Jumlahnya ada dua unit dan tetap dipertahankan orisinil. Sementara untuk produk Eropa, lebih banyak lagi.

Mulai dari Birmingham Small Arms (BSA), Norton, hingga Albert John Stevens (AJS). Semuanya juga dalam kondisi siap pakai. Bahkan kerap digunakan touring. Mulai dari Singkawang, Sambas, hingga Kapuas Hulu.

Saat didatangi, BSA C 15 Tahun 1959 tampak sangat mencolok. Motor berbaju warna merah Ferari ini, menggunakan mesin C11G. Mesin 249 cc OHV.

Dua unit kaki depan belakang, juga dibaluk pelek orisinil. "Hanya sekarang diwarnai dengan cat karena jika tidak, karat akan merusak besinya," kata Eko.

Warna merah mendominasi sepeda motor BSA milik Eko. "Orisinal sepeda motor ini tetap terjaga dari speedometer hingga klanpot," katanya.

BSA jenis ini terlihat lebih ramping dan ringan. Kendaraan tersebut hanya diproduksi dari tahun 1959-1960.

Untuk transmisi sepeda motor ini memiliki empat percepatan, memiliki silinder tunggal dengan sisitem pengapian mengunakan platina.

Mesin berbentuk mono blok, mesin dan transmisi telah menyatu. Untuk rotasi oli terpisah dengan mesin.

"Oli yang ada di sepeda motor ini hanya lewat dari box menuju mesin," jelas Eko dengan menunjukan rotasi oli tersebut menuju mesin. (Tribun Pontianak)

AJS 350 cc Bikin Bangga

SEPEDA motor Albert John Stevens (AJS) model 16 milik Eko ini didominasi warna merah ferari, bentuk tangkinya besar terlihat kokoh. Eko mempertahankan keaslian bentuk motor tersebut.

"Bisa dikatakan motor AJS ini hampir 90 persen masih orisinal," kata Eko yang tinggal di Jl Perdana, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Sepeda motor ini memiliki ukuran ban dan pelek berukuran ring 18 dengan jumlah jeruji sebanyak 40 buah.

"Untuk motor tua Eropa hampir selurunya menggunakan jeruji sebanyak 40 buah sedangkan sepeda motor daru jepang menggunakan jeruji kurang itu," Jelas Eko

Sistem transmisi motor tersebut menggunakan empat kecepatan gearbox dan lansung ke rantai. Ada yang unik pada sistem transmisi sepeda motor tesebut. Transmisi berada di sebelah kiri pengendara sedangkan rem berada di sebelah kanan.

"Jika orang tidak terbiasa mengendarai sepeda motor ini pasti akan kebingungan," Ungkap Dwi adik Eko yang juga pecinta motor klasik.

Jenis mesin sepeda motor tersebut adalah 348 cc OH dengan pendingin udara tunggal. mesin tersebut dapat menghasilkan kekuatan hingga 16 bph ( 12 KW) atau setara dengan 5600 rpm.

Kecepatan maksimun sepeda motor ini dapat mencapai 126 km per jam. "Jadi sepeda motor ini jika untuk touring akan terasa nyaman," jelas Eko.

Suspensi bagian depan kendaraan ini menggunakan teledrrolic fork dan bagian belakang menggunakan (lengan ayun) swinging arm. sistem pengereman depan dan belakan menggunakan tromol.

Bobot asli sepeda motor tersebut kungang lebih 173 Kg. "Bobot sepeda motor AJS bisa membuat seluruh badan pegal jika hanya didorong," jelas Dwi.

Sistem mesin yang digunakan terdapat pemisahan antara transmisi dan mesin dan silinder tunggal. pengapian sepeda motor tersebut menggunakan platina.

Pipa pushroad tertutupi oleh liner blok piston. "Suara yang keras dan nyaring yang membuat sepeda motor ini terlihat semakin 'gahar'," kata Eko.

AJS adalah nama merk dari motor asal Inggris yang lahir pada tahun 1909 (sumber lain ada yang mengatakan 1910). AJS dibuat oleh empat dari lima bersaudara Stevens (anak dari Blacksmith).

Awalnya mereka hanya membuat mesin untuk motor pada tahun 1897. Untuk mematenkan nama mesin tersebut, mereka memperkenalkan nama baru untuk motor tersebut.

Setelah dengan berbagai pertimbangan, akhirnya memakai nama inisial dari Saudara pertama yaitu Jack yang mempunyai nama Cristian Albert John. Alhasil lahirlah sebuah nama AJS yang merupakan singkatan dari Albert John Stevens.

AJS sangat legenderis kala itu karena mampu memecahkan 117 rekor dunia dalam balapan. Namun pada tahun 1931 AJS terlilit permasalahan finansial dan akhrinya pada tahun 1938 tergabung dalam AMC (Associated Motorcycles) bersama Matchless, Norton, Francis Barnett dan James.(Tribun Pontianak)

Menjajal Motor AA Gym

PADA 2002 silam, saya berkesempatan mendatangi langsung Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, yang diasuh KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym). Saya datang bersama rombongan dari Pontianak, Kalimantan Barat.

Adalah biro perjalanan Manajemen Qolbu (MQ) Pontianak di bawah pimpinan drg Heru Zarkasi yang mengajak saya melihat langsung Ponpes Daarut Tauhid. Ada sekitar 20 orang rombongan yang ikut serta.

Mereka terdiri dari sejumlah pejabat, pengusaha, dan masyarakat dari berbagai profesi lainnya. Hanya saya yang jurnalis. Tujuan kami dua hari ke sana sebenarnya ingin bersilaturahmi dengan AA Gym, melihat dari dekat bisnis yang dibangunnya, sekaligus ingin menimba pengetahun tentang Islam.

Saat itu, rumah tangga AA Gym masih jauh dari prahara seperti sekarang. The Ninih, bahkan kerap mendampingi AA Gym ketika memberikan ceramah, terutama usai Salat Ashar. Tausiah dilakukan di halaman MQ TV.

Jemaah pengajian dari berbagai daerah duduk bersila. Dari mulai tua sampai yang muda. Selain menyirami rohani jemaah, AA Gym kerap bertutur tentang hobinya terbang dan berkuda. Ada juga slide yang di putar dan ditembakkan ke sebuah layar lebar.

Di luar tausiah, rombongan dari Pontianak disuguhkan program cuci mata ke berbagai tempat wisata di Bandung. Mulai dari Taman Bunga di Lembang hingga Saung Angklung Mang Udjo. Ketimbang memilih ke sana, saya sendiri lebih memilih menikmati Kota Bandung sendirian.

Berjalan kaki di sekitar Hotel Topaz Galeria, Bandung, tempat kami menginap. Saya senang menyusuri Jl Dr Djunjunan, Bandung, karena bisa langsung akses ke Bandung Trade Center (BTC).

Di sana saya sempat membeli Hanphone Sonny Ericsson R310S, Sirip Hiu. Menggantikan Siemen M35 yang sudah setahun saya pakai.

Saya juga bisa menikmati berbagai jajanan, seperti Bala-bala yang sudah lama tidak saya rasakan karena memang tidak ada di Kota Pontianak.

Di tempat AA Gym, saya berkesempatan berdialog dengan AA meski tidak banyak. Apalagi kalau bukan tentang koleksi sepeda motornya. Awalnya saya penasaran ada berbagai jenis motor di depan rumah AA Gym, yang sepintas dindingnya terbuat dari bilik bambu.

Sepengamatan saya, ada satu unit Honda Phantom, dua unit Kawasaki Eliminator, satu unit Honda CB Gelatik, dan satu unit Kawasaki KZ 200 atau yang biasa disapa Binter Merzy platina.

Saya pun penasaran bagaimana motor sebanyak itu, bisa ada di teras rumah AA Gym. "Honda CB Gelatik itu peninggalan orangtua saya yang TNI," kata AA Gym.

Ia menuturkan, sepeda motor itu belum semuanya. Sebab masih ada satu unit Honda Phantom yang ia simpan di Jakarta. Motor itu, untuk keperluan dakwah di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

"Awalnya, saya diundang ke Astra Honda Motor Jakarta. Karena macet, saya pilih naik ojek. Rupanya, orang Astra tidak tega melihat saya naik ojek. Mereka kirim motor ke Jakarta dan Bandung. Ya, Honda Phantom itu," ujar AA Gym tersenyum.

Dengan sepeda motor itu jugalah, AA Gym mengaku menghabiskan sejumlah waktu senggangnya. Termasuk menelusuri sudut Kota Bandung untuk memberikan tausiah. Ia juga dikenal dekat dengan sejumlah klub motor di Bandung.

AA Gym menambahkan sebenarnya, Honda Phantom dan Kawasaki Eliminator itu bukan motor besar. "Hanya karena ukuran badan saya yang kecil, motornya jadi kelihatan besar," ujar AA terkekeh.

Usai bertemu AA Gym, saya minta izin nyemplak Honda Phantom. Tidak ada ubahan berarti. Semua masih orisinil. Kecuali ada tambahan engine guard yang dipasangi penerang tambahan.

Selain motor, ada yang membuat saya terkesan dengan AA Gym soal urusan roda dua. Ia kerap menggunakan sepeda untuk meninjau satu unit usaha ke unit usaha lainnya. Semua terletak di kawasan Ponpes Daarut Tauhid.

Ia naik sepeda masih mengenakan sorban dan kain sarung. Sambil membunyikan bel kring...kring..kring, AA Gym kerap memecah kerumunan jamaah dari berbagai daerah yang memenuhi ponpesnya.

Ulahnya yang kocak itu, sering membuat jamaah yang melihatnya tertawa dan geleng-geleng kepala. (hasyim ashari)

Senin, 23 Mei 2011

Norton Road Holder Kesayangan


* Kiky: Berapapun Tidak Saya Jual


YAKIN mengikuti kata hati sebagai biker, Koordinator Borneo Check Point Club Brotherhood, Kiky Prabawa (41), sudah menjelajahi berbagai daerah di Indonesia. Seperti Putussibau, Kuching, Yogyakarta, Bromo, Bali, Semarang, Bandung, dan Jakarta menggunakan motor tuanya.

Kiky memulai debutnya di sepeda motor klasik karena ketularan pergaulan dengan komunitas motor klasik di Bandung. Saat itulah juga, dirinya memutuskan berpetualang ke Pontianak, Kalimantan Barat.

Awalnya ia menunggangi sepeda motor dengan mesin keluaran tahun 1952, Ducati 40cc. Kemudian berpindah pada BSA B40 dan Machtless lansiran era 60-an. Namun, hatinya kemudian tertambat di Norton 1956 bermesin 500cc.

Ia bahkan memburu sparepart orisinilan si Road Holder, di baik dalam dan luar negeri. "Si Norton itu sudah sering dimodif. Karena kalau ada sparepart yang baru dan ori lagi, saya pasang. Tiap tahun, ganti baru. Entah berapa kali dan tidak terhitung lagi biayanya," kata Kiky.

Ia memperkirakan sudah menghabiskan lebih dari Rp 100 juta untuk modifikasi si Road Holder bernomor 13 tersebut. Selain karena bentuk yang klasik dan unik, Kiky sangat tergila-gila dengan Nortonnya karena memiliki nilai historis dalam perjalanan hidupnya.

"Saya tinggalkan kerjaan kantoran, hijrah, dan berjuang hidup dari kecintaan saya dengan motor klasik. Ya, bisa dikatakan nilai historis perjuangan hidup saya semua ada di motor ini," ucap Kiky yang enggan menjual motornya berapapun harganya.

Nilai kebebasan dari aturan dan adanya kepuasan yang sangat istimewa dirasakan Kiky, dengan memiliki tunggangan klasik seperti si Norton. Dengan cat berwarna merah dan krem dan diberi sentuhan air brush lidah menjulur simbol group legendaris Rolling Stone, kiranya Norton sebagai teman sejati selain istrinya.

"Dulu saya sering bawa istri jalan-jalan atau touring. Sekarang sudah jarang demi kesehatannya. Makanya joknya saat ini saya buat single," ujar pria asal Bandung ini disambut tawa sang istri.

Motor buatan Inggris ini, dimodifikasinya dengan membuat sendiri (handmade). Mulai dari jok, knalpot, tangki oli, maupun bensin. "Karena barang ini ori dan kebanyakan dari luar, jadi kita terpaksa nunggu barang datang. Kalau ada baru kita pasang yang ori. Bukan handmade lagi. Makanya saya masih kurang puas, sama seperti shockbreaker belakang yang belum ada," papar
Kiky sembari menunjukkan sparepart penunjang kenyamanan berkendara.

Norton milik Kiky tampil unik dan klasik. Dengan jok kulit single dan posisi knalpot yang sangat dekat berada dengan jok. Ini patut diwaspadai jika, ketika turun dari motor sebaiknya mengambil sebelah kiri supaya terhindar dari letupan besi panasnya.
"Dulu waktu muda, nyantai aja suara knalpotnya berisik sampai ganggu orang lain. Tapi sekarang, saya ubah jadi halus, biar enggak mengganggu," ucapnya ditemui di kediamannya Jl Irian Nomor 22 Pontianak, Kalimantan Barat.

Perjuangannya hijrah ke Bumi Khatulistiwa tidak sia-sia. Ternyata hobi bisa membuatnya survive dalam hidup. "Siapa bilang hobi tidak bisa menunjang kehidupan. Saya rasakan dan alami, hobi bisa bikin kita hidup, lahir dan batin. Kepuasan jiwa dan batin. Buktinya, saya bisa memiliki usaha dan saya juga puas bisa melakukan hobi dengan motor klasik ini," ujarnya.

Dengan motornya ini pula, ia sudah menjelajahi beberapa daerah di Kalbar dan indonesia, untuk kepuasan, jalin persaudaraan serta refreshing bersama keluarga dan bikers di komunitasnya.

"Kemerdekaan dan kebebasan diri. Inilah jiwa biker. Kadang saya refreshing dengan touring bersama teman-teman dan istri. Biasanya kita juga ke suasana alam seperti berpetualang. Kita juga rindu suasana itu sekaligus bersosialisasi, bahwa bikers bukan komunitas brutal atau anggapan miring lainnya," pungkas Kiky. (pontiana banjaria/tribun pontianak)

Spesifikasi
Motor : Classic Bike Norton 1956
Model : Cafe Racer
Rangka : Norton Feather Bed (wide line)
Shock depan : Original Norton Road Holder

Roda depan
Teromol : Triumph T 110
Pelek : Allumunium "Horex-Willman"

Roda belakang
Teromol : Triumph Boneville
Pelek : Allumunium 19" Horex-Willman
Gear box : Norton Comando
Kopling : Dry Clotch Norton Comando
Clipon : Triton
Tangki bensin : Poikin (handmade) 25 liter
Tangki oli : Handmade
Sepatbor : Alloy Handmade
Jok : Handmade (single jok)
Knalpot : Handmade
Modifikator : Bengkel AA Kiky Prabawa
Jl Sungai Raya Dalam Komplek Villa Permata Indah
Hp 0813 2233 1202

Semangat Kekeluargaan Black Jack


KOMUNITAS Black Jack Motoriders (BJM) Pontianak terbentuk tanpa disengaja. Berawal dari sekadar kumpul-kumpul karena memiliki kesamaan hobi dengan motor klasik. Semakin lama pertemuan dilakukan intens sejak 1996.

Pada 6 Juni 2006 tercetuslah nama klub. Daud Hariyanto, yang merupakan satu di antara pendiri, mengaku Black Jack sebagai wadah bagi para pencinta, pengguna, dan penggemar motor klasik chopper.

Aliran motor chopper dapat dilihat dari ciri-ciri yang ada, seperti model tangki yang dibikin lebih kecil dari aslinya dan juga pemotongan rangka yang dilakukan untuk membuat tampilan menjadi simpel.

"Awalnya kami hanya kumpul-kumpul beberapa orang, namun seiring berjalannya waktu kami merasa ada persamaan hobi maka kami bentuk Black Jack. Lagipula di sini kami seperti keluarga, punya hobi serta motor yang sama," ucapnya pada Tribun, Rabu (18/5).

Kini anggota Black Jack Pontianak mencapai 30 orang dan sudah ada dua chapter di Landak serta Sanggau yang masing-masing 20-an anggota.

"Kalau anggota kadang ada yang aktif, kadang juga tidak itupun tergantung. Tapi kami biasa tetap ketemu dan silaturahmi. Misalnya kalau mau mengadakan touring," tambahnya.

Ia menambahkan jika komunitasnya tidak menutup kemungkinan untuk orang yang tidak memiliki motor tersebut untuk kumpul bareng, selama orang tersebut nyaman.

"Siapapun boleh menjadi anggota kami, kami membuka untuk umum. Karena kami ingin menjalin persaudaraan dan menyalurkan hobi di dunia otomotif saja," tutur PNS Kota Pontianak ini.

Keberagaman profesi dan background malah membuat mereka semakin merasa adanya ikatan kekeluargaan yangs angat erat. Karena di komunitas ini bukan hanya mahasiswa tapi juga pegawai swasta maupun pegawai negeri.

"Kalau kumpul-kumpul biasanya ngobrol tentang motor, pakai aksesori apa dan curhat-curhatan. Tampang kami aja yang begini, tapi kami bukan geng motor yang berandal atau suka buat keributan. Malah kalau ngumpul kami suka bercanda," ungkap Bendahara Black Jack, Susi.

Setiap Sabtu dan Minggu malam, anggota Black Jack kumpul bareng di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jl Ahmad Yani Pontianak, Kalbar. Kumpul sesama penggemar motor adalah hal mengasyikkan.

Hal tersebut dirasakan Erwin dan Sean Black Jack. Seperti touring dan kumpul menggunakan motor chopper bersama anak-anak BJ lainnya, sudah menjadi bagian dari aktivitas yang menyenangkan.

"Di sini semua aliran ada, punk, rock, dan berbagai profesi. Tapi kami disatukan oleh hobi dan motor yang sama. Apalagi di sini mengutamakan nilai kekerabatan. Biasanya saling bantu kalau teman kita butuh sesuatu untuk motornya. Terlebih kalau sudah touring, ada kepuasan tersendiri bagi kami dan bisa terlena. Juga ngilangin stres," ujar Erwin.

Meski mereka klub motor dan mungkin ada sebagian masyarakat melihat tampang mereka akan merasa takut atau was-was. Tapi tidak sedikit juga yang menyukai gaya mereka, bahkan sampai mengacungkan jempol ketika parade iring-iringan chopper melintasi daerah mereka.

"Kalau kami touring ke daerah, banyak yang lihat tuh. sampai-sampai ada yang ngacungin jempol. Enggak tahu juga sih maksudnya. Tapi artinya bagus aja kan?" tambah Erwin.

Daud mengatakan, anggota komunitas BJ ini memang egois. Artinya karena bentuk motor yang hanya memiliki single jok, jadinya kalau mau masuk anggota harus punya motor. Karena bila tidak, motor chopper tidak ada boncengannya.

"Motor kita memang motor egois. Tapi kami tetaplah kami. Biasa saja, apa adanya. Bahkan waktu itu para sarjana dari Fakultas Teknik, minta kita yang mengarak mereka saat acara wisuda," kata Daud lalu dibenarkan rekan-rekan lainnya.

Dalam menjalankan kegiatan komunitas, para anggota BJ memang diikat dengan peraturan wajib yang harus dipatuhi olah anggota tanpa terkecuali. Di antaranya wajib bayar iuran Rp 10 ribu per bulan, dilihat keaktifan anggota, memakai baju kebesaran BJ saat berkumpul atau touring.

"Kalau mau gabung, calon anggota isi formulir dan bayar administrasi Rp 10 ribu serta dilihat dulu keaktifannya selama tiga bulan, dan pastinya punya motor chopper. Datang aja ke sekretariat kami di bengkel Black Jack Jl RE Martadinata nomor 3 Pontianak", ucap Susi, pemilik Thunder modif keluaran 2005. (pontiana banjaria)

Bukan Club Berbahaya

Berbekal mesin besar, knalpot freeflow dengan suara mesin knalpot menggelegar, suspensi rigid membuat sepeda motor chopper menarik perhatian di keramaian. Para pemilik chopper yang kumpul, sekilas mirip dengan pengendara Harley Davidson.

Gaya retro dengan dandanan simpel bahkan sampai tangki sepeda motor super kecil dengan setang super tinggi dan ban rendah menjadi keunikan anak-anak Black Jack.

"Kalau dilihat dari standar motor, memang kami tidak lengkap. Kalau ada razia, ya kita enggak lewat lokasi pemeriksaan. Lagipula motor ini tidak kita pakai sehari-hari. Hanya saat kumpul dan touring aja," Jelas Daud.

Anggapan kalau anak geng itu berbahaya sudah mereka sadari. Namun untuk membuang image atau persepsi tersebut, mereka banyak melakukan kegiatan sosial. "Setiap touring kita ada misi baksos. Kalau nongkrong pun kami tidak macam-macamlah. Kita juga patuhi aturan lalu lintas kalau di jalan," tambah Erwin, Susi dan Sean.

Dengan kegiatan-kegiatan ini, mungkin saja predikat negatif yang di kenal oleh masyarakat luas tentang geng akan berubah derastis menjadi positif. Lagipula tentu tidak ada ruginya melakukan aneka gerakan sosial.

Pada 6 Juni mendatang, BJ Pontianak akan berulang tahun ke-5. Mereka berencana mengadakan touring ke Sintang pada 25 Juni 2011. Dengan dua chapter di Landak dan Sanggau. "Selain touring, kita juga silaturahmi sama anak-anak di daerah karena mereka masih baru terbentuk. Sekalian baksos dan hiburanlah," ucap Daud. (pab)

Pak Ketua Kerap Ajak Anak Istri

Hobi mengoleksi dan mengendarai motor chopper sudah menjadi bagian hidup Daud Haryanto. Pria kelahiran 36 tahun silam ini memang tidak bisa dilepaskan dari tunggangan klasiknya itu.

"Sudah hobi dari dulu sih, jadi enggak bisa dihilangkan. Lagian asyik aja bisa ketemu teman- teman yang punya hobi sama," katanya pada Tribun, Rabu (18/5).

Terkadang saat kumpul atau nongkrong bareng di base camp mereka atau di sekitar Bundaran Untan (tugu Digulis), Daud juga membawa serta anak dan istrinya. Hal itu dilakukannya agar mereka mengetahui dirinya yang tampil apa adanya bersama teman klubnya.

"Biasa juga saya ajak anak dan istri. Tapi tidak satu motor, karena joknya untuk single. Mereka pakai motor lain. Inilah kekeluargaan yang kita bina, anggota juga bisa membawa keluarga atau pacar mereka saat kita kumpul," tambah pemilik Custom Rigid Chopper ini.

Sementara itu, mengenai klub, dirinya yang sudah menyatu dengan teman-temannya, menginginkan agar klub yang dibentuk bisa terus eksis dan tetap mengikat tali kekeluargaan yang baik.

"Pengennya Black jack tetap ada, eksis, dan besar. Bukan hanya di Pontianak tapi juga di daerah lain. Itu yang penting. Juga kami pengen kita bisa ngadain baksos dengan klub motor lain di sini," harapnya.

Namun disadarinya agar club tetap bisa eksis perlu keterlibatan dan rasa persaudaraan sesama anggota juga adanya dana untuk melakukan kegiatan, contohnya touring dan bakti sosial (baksos).

"Uang iuran itulah yang kita gunakan untuk kegiatan BJ. Memang kadang, kalau mau touring ke luar atau baksos, kita perlu dana cukup besar. Tapi, kalau sudah hobi dan rasa kebersamaan, masalah itu bisa kita atasi," pungkasnya. (pontiana banjaria)

Semangat Kekeluargaan Black Jack

Komunitas Black Jack Motoriders (BJM) Pontianak terbentuk tanpa disengaja. Berawal dari sekadar kumpul-kumpul karena memiliki kesamaan hobi dengan motor klasik. Semakin lama pertemuan dilakukan intens sejak 1996.

Pada 6 Juni 2006 tercetuslah nama klub. Daud Hariyanto, yang merupakan satu di antara pendiri, mengaku Black Jack sebagai wadah bagi para pencinta, pengguna, dan penggemar motor klasik chopper.

Aliran motor chopper dapat dilihat dari ciri-ciri yang ada, seperti model tangki yang dibikin lebih kecil dari aslinya dan juga pemotongan rangka yang dilakukan untuk membuat tampilan menjadi simpel.

"Awalnya kami hanya kumpul-kumpul beberapa orang, namun seiring berjalannya waktu kami merasa ada persamaan hobi maka kami bentuk Black Jack. Lagipula di sini kami seperti keluarga, punya hobi serta motor yang sama," ucapnya pada Tribun, Rabu (18/5).

Kini anggota Black Jack Pontianak mencapai 30 orang dan sudah ada dua chapter di Landak serta Sanggau yang masing-masing 20-an anggota.

"Kalau anggota kadang ada yang aktif, kadang juga tidak itupun tergantung. Tapi kami biasa tetap ketemu dan silaturahmi. Misalnya kalau mau mengadakan touring," tambahnya.

Ia menambahkan jika komunitasnya tidak menutup kemungkinan untuk orang yang tidak memiliki motor tersebut untuk kumpul bareng, selama orang tersebut nyaman.

"Siapapun boleh menjadi anggota kami, kami membuka untuk umum. Karena kami ingin menjalin persaudaraan dan menyalurkan hobi di dunia otomotif saja," tutur PNS Kota Pontianak ini.

Keberagaman profesi dan background malah membuat mereka semakin merasa adanya ikatan kekeluargaan yangs angat erat. Karena di komunitas ini bukan hanya mahasiswa tapi juga pegawai swasta maupun pegawai negeri.

"Kalau kumpul-kumpul biasanya ngobrol tentang motor, pakai aksesori apa dan curhat-curhatan. Tampang kami aja yang begini, tapi kami bukan geng motor yang berandal atau suka buat keributan. Malah kalau ngumpul kami suka bercanda," ungkap Bendahara Black Jack, Susi.

Setiap Sabtu dan Minggu malam, anggota Black Jack kumpul bareng di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jl Ahmad Yani Pontianak, Kalbar. Kumpul sesama penggemar motor adalah hal mengasyikkan.

Hal tersebut dirasakan Erwin dan Sean Black Jack. Seperti touring dan kumpul menggunakan motor chopper bersama anak-anak BJ lainnya, sudah menjadi bagian dari aktivitas yang menyenangkan.

"Di sini semua aliran ada, punk, rock, dan berbagai profesi. Tapi kami disatukan oleh hobi dan motor yang sama. Apalagi di sini mengutamakan nilai kekerabatan. Biasanya saling bantu kalau teman kita butuh sesuatu untuk motornya. Terlebih kalau sudah touring, ada kepuasan tersendiri bagi kami dan bisa terlena. Juga ngilangin stres," ujar Erwin.

Meski mereka klub motor dan mungkin ada sebagian masyarakat melihat tampang mereka akan merasa takut atau was-was. Tapi tidak sedikit juga yang menyukai gaya mereka, bahkan sampai mengacungkan jempol ketika parade iring-iringan chopper melintasi daerah mereka.

"Kalau kami touring ke daerah, banyak yang lihat tuh. sampai-sampai ada yang ngacungin jempol. Enggak tahu juga sih maksudnya. Tapi artinya bagus aja kan?" tambah Erwin.

Daud mengatakan, anggota komunitas BJ ini memang egois. Artinya karena bentuk motor yang hanya memiliki single jok, jadinya kalau mau masuk anggota harus punya motor. Karena bila tidak, motor chopper tidak ada boncengannya.

"Motor kita memang motor egois. Tapi kami tetaplah kami. Biasa saja, apa adanya. Bahkan waktu itu para sarjana dari Fakultas Teknik, minta kita yang mengarak mereka saat acara wisuda," kata Daud lalu dibenarkan rekan-rekan lainnya.

Dalam menjalankan kegiatan komunitas, para anggota BJ memang diikat dengan peraturan wajib yang harus dipatuhi olah anggota tanpa terkecuali. Di antaranya wajib bayar iuran Rp 10 ribu per bulan, dilihat keaktifan anggota, memakai baju kebesaran BJ saat berkumpul atau touring.

"Kalau mau gabung, calon anggota isi formulir dan bayar administrasi Rp 10 ribu serta dilihat dulu keaktifannya selama tiga bulan, dan pastinya punya motor chopper. Datang aja ke sekretariat kami di bengkel Black Jack Jl RE Martadinata nomor 3 Pontianak", ucap Susi, pemilik Thunder modif keluaran 2005. (pontiana banjaria)

Bukan Club Berbahaya

Berbekal mesin besar, knalpot freeflow dengan suara mesin knalpot menggelegar, suspensi rigid membuat sepeda motor chopper menarik perhatian di keramaian. Para pemilik chopper yang kumpul, sekilas mirip dengan pengendara Harley Davidson.

Gaya retro dengan dandanan simpel bahkan sampai tangki sepeda motor super kecil dengan setang super tinggi dan ban rendah menjadi keunikan anak-anak Black Jack.

"Kalau dilihat dari standar motor, memang kami tidak lengkap. Kalau ada razia, ya kita enggak lewat lokasi pemeriksaan. Lagipula motor ini tidak kita pakai sehari-hari. Hanya saat kumpul dan touring aja," Jelas Daud.

Anggapan kalau anak geng itu berbahaya sudah mereka sadari. Namun untuk membuang image atau persepsi tersebut, mereka banyak melakukan kegiatan sosial. "Setiap touring kita ada misi baksos. Kalau nongkrong pun kami tidak macam-macamlah. Kita juga patuhi aturan lalu lintas kalau di jalan," tambah Erwin, Susi dan Sean.

Dengan kegiatan-kegiatan ini, mungkin saja predikat negatif yang di kenal oleh masyarakat luas tentang geng akan berubah derastis menjadi positif. Lagipula tentu tidak ada ruginya melakukan aneka gerakan sosial.

Pada 6 Juni mendatang, BJ Pontianak akan berulang tahun ke-5. Mereka berencana mengadakan touring ke Sintang pada 25 Juni 2011. Dengan dua chapter di Landak dan Sanggau. "Selain touring, kita juga silaturahmi sama anak-anak di daerah karena mereka masih baru terbentuk. Sekalian baksos dan hiburanlah," ucap Daud. (pab)

Pak Ketua Kerap Ajak Anak Istri

Hobi mengoleksi dan mengendarai motor chopper sudah menjadi bagian hidup Daud Haryanto. Pria kelahiran 36 tahun silam ini memang tidak bisa dilepaskan dari tunggangan klasiknya itu.

"Sudah hobi dari dulu sih, jadi enggak bisa dihilangkan. Lagian asyik aja bisa ketemu teman- teman yang punya hobi sama," katanya pada Tribun, Rabu (18/5).

Terkadang saat kumpul atau nongkrong bareng di base camp mereka atau di sekitar Bundaran Untan (tugu Digulis), Daud juga membawa serta anak dan istrinya. Hal itu dilakukannya agar mereka mengetahui dirinya yang tampil apa adanya bersama teman klubnya.

"Biasa juga saya ajak anak dan istri. Tapi tidak satu motor, karena joknya untuk single. Mereka pakai motor lain. Inilah kekeluargaan yang kita bina, anggota juga bisa membawa keluarga atau pacar mereka saat kita kumpul," tambah pemilik Custom Rigid Chopper ini.

Sementara itu, mengenai klub, dirinya yang sudah menyatu dengan teman-temannya, menginginkan agar klub yang dibentuk bisa terus eksis dan tetap mengikat tali kekeluargaan yang baik.

"Pengennya Black jack tetap ada, eksis, dan besar. Bukan hanya di Pontianak tapi juga di daerah lain. Itu yang penting. Juga kami pengen kita bisa ngadain baksos dengan klub motor lain di sini," harapnya.

Namun disadarinya agar club tetap bisa eksis perlu keterlibatan dan rasa persaudaraan sesama anggota juga adanya dana untuk melakukan kegiatan, contohnya touring dan bakti sosial (baksos).

"Uang iuran itulah yang kita gunakan untuk kegiatan BJ. Memang kadang, kalau mau touring ke luar atau baksos, kita perlu dana cukup besar. Tapi, kalau sudah hobi dan rasa kebersamaan, masalah itu bisa kita atasi," pungkasnya. (pontiana banjaria)

Jumat, 20 Mei 2011

Kamus Dayak Kanayatn Satu Dekade















Pala' : Botak. Kepala tanpa rambut, atau dengan rambut tapi tidak menutup seluruh kepala.
Baga : Bodoh. Tidak pintar.
Baga' : Mabuk asmara. Jatuh cinta.

Itulah contoh tiga kata yang ada di Kamus Bahasa Dayak Kanaytn yang dihimpun Mantan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Landak, Silverius Mulyadi.

Dengan susah payah dan perjuangan tidak kenal lelah, pensiunan PNS ini, akhirnya berhasil menyelesaikan kamus bahasa Dayak Kanaytn.

Rabu, 6 April 2011 lalu, menjadi hari paling bersejarah. Tidak saja bagi Silverius sendiri, namun juga bagi masyarakat Kalbar, khususnya etnis Dayak. Diiringi gerimis, kamus bahasa Dayak Kanayatn, akhirnya berhasil di-launching di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak.

Hadir dalam momen bersejarah itu, Bupati Landak Adrianus Asia Sidot, Ketua DPRD Landak Heri Saman, sejumlah Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Landak, jajaran Muspika Menjalin, pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Landak, Camat Menjalin, para Timanggong, Pasirah, Pangaraga, para pejabat adat, dan para undangan.

"Saya sangat senang. Dari sekitar 60-an buku yang saya sediakan. Semuanya bagai kacang goreng, ludes. Ini apresiasi yang luar biasa. Secara khusus saya persembahkan kamus ini untuk generasi muda Dayak Kanaytn, agar tidak melupakan ragam kosa kata Kanaytn," kata Mulyadi kepada Tribun Pontianak, Kamis (7/4) lalu.

Dewan Pakar DAD Landak ini menyebut, ada sekitar 20.000 kosa kata bahasa Dayak Kanayatn di dalam kamusnya. Kamus yang menurutnya masih jauh dari sempurna ini, ia godok selama 11 tahun, sejak 2000.

Meski membutuhkan satu dekade, namun Mulyadi tak putus semangat demi melestarikan warisan bahasa Kanayatn. Ia menjelaskan, dalam kamus, tak hanya berisi kosakata Kanayatn dalam percakapan, namun juga terdapat banyak penjelasan mengenai istilah ritual adat.

Rangkuman bahasa Kanayatn dalam kamus tersebut, ia rangkum dari berbagai daerah sebaran subsuku Dayak Kanayatn, seperti di Kabupaten Landak, Kabupaten Pontianak, dan Kabupaten Kubu Raya (KKR).

Suami Margaretha ini mengatakan sebelum memutuskan untuk menulis kamus bahasa Dayak Kanayatn, ia mempelajari dulu tentang bahasa Dayak di Pulau Kalimantan. Menurutnya, bahasa Dayak di Kalimantan ada 400-an dari sekitar 400-an sub suku Dayak.

Di Kalbar sendiri terdapat 151 subu suku Dayak dengan 100 sub suku dengan 168 bahasa. "Kemajemukan bahasa ini adalah tumpukan harta karun budaya bangsa. Sekaligus menunjukkan aneka ragam keindahan, kearifan, keunikan tradisi, pengetahuan, dan teknologi. Ini adalah benteng pertahanan terakhir budaya masyarakat adat sendiri," papar Mulyadi.

Alumnus Seminari Nyarungkop ini menambahkan bahasa Dayak di Kalbar, relatif lebih baik dibandingkan bahasa daerah di dunia. Mulyadi menyebut bahasa Aborigin di Australia yang kini, tergerus bahasa Inggris dan nyaris tidak digunakan lagi.

"Namun demikian, bukan berarti bahasa Dayak luput dari tekanan, himpitan, tantangan, dari penggunaan bahasa Indonesia yang notabene jadi bahasa persatuan. Ia menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah, mulai SD hingga perguruan tinggi," bebernya.

Dominasi Bahasa Indonesia itu, menurut Mulyadi berimplikasi memarjinalkan bahasa daerah yang ada. Secara psikologis, anak-anak di daerah menilai Bahasa Indonesia adalah bahasa orang pintar, dan tidak jika menggunakan bahasa daerah.

"Mereka jadi imperior jika menggunakan Bahasa Dayak. Bahasa daerah ini kerap dianggap bahasa kampung, bahasa orang-orang tidak berpendidikan," ujar Mulyadi.

Himpitan keberadaan bahasa Dayak juga datang dari akulturasi kebudayaan dengan mekanisme kawin campur. Misalnya, warga Dayak menikah dengan warga dari sub suku Dayak lainnya. Dengan bahasa yang berbeda, maka pasangan ini cenderung tidak menggunakan bahasa daerah.

Bahasa daerah tidak dituturkan lagi kepada anak-anak mereka karena orangtua memilih menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar sehari-hari. Ditanya kenapa harus Kanayatn, Mulyadi menegaskan dibanding bahasa Dayak lain, bahasa Dayak Kanayatn sangat dominan.

Misalnya terdapat dan aktif digunakan di Kabupaten Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Landak, kawasan pesisir, hingga daerah perkotaan.

"Bahasa Dayak Kanayatn juga mudah dimengerti karena ada serapan Bahasa Indonesia, Bahasa Asing, dan ilmiah. Karena itu, bahasa Kanayatn cukup dominan digunakan dalam percakapan maupun bahasa komunikasi di antara masyarakat Dayak," tutur Mulyadi.

Dia mengakui, kamus yang ditulisnya tersebut belumlah sempurna. Saat ini merupakan peluncuran edisi pertama, sambil terus melakukan revisi dan pengayaan materi. Rencananya, kata Mulyadi, kamus tersebut akan diterbitkan sampai tiga edisi.

"Harapan saya, kamus ini bisa mendokumentasikan agar khasanah Kanayatn jangan sampai punah di makan waktu," tegas Mulyadi. (hasyim ashari/dasanovi gultom)

Buah Cinta Istri dan Cucu

Silverius Mulyadi menuturkan membutuhkan waktu 11 tahun menyusun kamus, karena ia memiliki berbagai keterbatasan. Namun, keterbatasan itu mampu ia patahkan dengan semangat, kecintaan, dari sahabat dan orang-orang dekat yang mengerti apa yang sedang ia kerjakan.

"Saya mengerjakannya di waktu senggang. Semua berdikari. Tanpa dana dari mana-mana. Niat dan kecintaan kepada budayalah yang menuntun saya mengumpulkan kata demi kata," kata Mulyadi.

Kadang, untuk menambah kosakatanya, ia mendatangi narasumber satu persatu, door to door. Terutama mereka yang selama ini diyakini sebagai penuturnya. Mereka tersebar di Kabupaten Pontianak, Kubu Raya, dan Landak. Dari merekalah, lama-lama kata yang dihimpun bertambah banyak.

"Tidak hanya itu, kadang saya mendengar perakapan di atas opelet atau di warung-warung kecil. Lalu, kata-kata yang terlontar saya salin di kertas pembungkus rokok atau pinggiran koran agar saya tidak lupa. Itu kalau saya lupa bawa buku catatan. Sampai di rumah, baru saya salin ke buku catatan," ujarnya.

Meski jaman sudah canggih dan komputer sudah merambah ke desa-desa, namun ternyata Mulyadi tidak bisa menggunakan fasilitas tersebut karena tidak memilikinya. Di rumah ia hanya punya satu unit mesin tik merk Royal.

"Mesin tik punya sendiri. Sudah bonto (Tua.Red). Bersyukur, masih berfungsi meski tidak lagi 100 persen," kenangnya.

Beruntung, sahabat dan sanak keluarga kadang datang membantu. Terutama cucunya yang bekerja di Bank Central Asia (BCA) di Pontianak.

"Yang paling membantu, cucu saya, Anggrelia SE. Dia yang membantu mengurus pengetikan, mengedit, sampai menyusunnya. Ia juga yang membantu untuk biaya pengetikan sampai bisa menerbitkan kamus ini," ucap Mulyadi penuh syukur.

Selain, cucunya, istrinya Margaretha juga sangat membantu. Selama mengerjakan kamus, dan efektif mengetik sejak 2008, Margaretha tidak pernah mengeluh macam-macam atas apa yang ia lakukan.

"Istri tahu kesibukan saya menyiapkan kamus ini. Jadi, ia tidak banyak ini dan itu. Dia paham betul saya sedang menyusun kamus bahasa Dayak Kanayatn. Inilah bentuk bantuan istri saya," ujarnya tertawa kecil.

Yang membuatnya makin mantap menyelesaikan kamus, karena dukungan juga datang dari berbagai pihak. Ada tanggapan bagus dari Bupati Landak, semua tokoh adat, Pemkab, pemuda, dan masyarakat ilmiah. Jadi, kerja keras selama 11 tahun, terbayar sudah," imbuhnya.

Ia mengakui kalau kamus yang diterbitkan sendiri ini, masih prematur. Masih akan disempurnakan terus. Suatu saat, ia berencana akan mendaftarkan kamusnya sebagai Hak Astas Kekayaan Intelektual (HAKI) di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi pihak-pihak yang melakukan plagiat. (hasyim ashari)

Warisan Monumental

Bupati Landak, Adrianus Asia Sidot, menyatakan keberadaan kamus bahasa Dayak Kanayatn merupakan upaya pelestarian bahasa maupun kearifan lokal untuk menghadapi era globalisasi yang telah memasuki setiap sendi kehidupan masyarakat Dayak.

Menurutnya, bahasa daerah atau bahasa ibu merupakan bagian dari jatidiri. Bila tak dilestarikan, niscaya budaya dan adat nenek moyang akan ikut luntur tanpa adanya pengetahuan tentang bahasa daerah.

"Adanya kamus bahasa dayak kanayatn, diperlukan dalam menghadapi globalisasi. Sekarang tak sedikit remaja dayak yang tak bisa bertutur bahasa dayak secara fasih," kata Bupati Adrianus Asia Sidot kepada Tribun, belum lama ini.

Terkikisnya kemampuan untuk menggunakan bahasa daerah, lanjutnya, karena pergaulan yang saat ini tanpa batas mengikuti perkembangan teknologi. Kamus bahasa dayak Kanayatn, sambung Adrianus, yang ditulis tersebut merupayakan karya monumental.

Ia mengharapkan peluncuran kamus, kelak tak hanya berfungsi secara harfiah untuk mencari kosakata Dayak Kanayatn, namun menggugah semua generasi Dayak Kanayatn untuk menghargai bahasa, budaya, adat, maupun kearifan yang telah diturunkan ratusan tahun.

"Karenanya, kamus bahasa kanayatn ini, saya lihat merupakan karya monumental. Apalagi sang penulis merupakan tokoh tua Dayak Kanayatn," tegas Bupati.

Pada saat peluncuran kamus, Bupati Landak juga menegaskan kamus ini merupakan sejarah berharga warga Dayak.

"Sejarah ini bukan berupa candi, tapi berupa buku yang akan digunakan sampai ke anak cucu kita. Apalagi kamus bahasa Dayak Kanayatn ini mempunyai nilai yang teramat tinggi. Harus diingat juga bahwa tidak semua orang bisa menulis buku, apalagi ini kamus Bahasa Dayak Kanayatn," ujar Adrianus dengan logat bahasa Dayak Kanayatn.

Menurutnya, dalam menyusun kamus ini, bukan hanya kecerdasan yang diperlukan. Namun juga keberanian, ketekunan, ketelatenan, dan kesabaran.

"Jadi kita harus sabar menghimpun kata demi kata untuk membuat kamus ini. Apalagi satu kata yang ada di kamus tersebut, dibongkar sampai ke dalam-dalamnya," paparnya.

Bupati menegaskan, Silverius Mulyadi sudah memulainya. Selanjutnya menjadi tugas bersama untuk mewariskan kamus Bahasa Dayak Kanayatn ini kepada anak cucu. Kepada lembaga- lembaga Dayak di Kalbar, silakan mengembangkan kamus Dayak yang sudah disusun ini.
Memang akan membutuhkan keahlian, pendanaan, peralatan, penelitian dan sebagainya.(dasanovi gultom)

Memperkaya Khasanah

Dekan FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak, DR Aswandi, menilai bahasa ibu, dalam hal ini, bahasa Dayak Kanayatn, termasuk juga bahasa daerah lainnya, memang harus dipelihara. Jika tidak, ia bisa hilang. Maka, ia harus dipelajari, diteliti, dan digunakan.

"Kalau ada yang membuat kamus, ini bentuk uapaya agar bahasa ibu ini tidak mati. Dalam aktivitas sehari-hari, bahasa ibu menjadi bahasa pengantar dan penyampai pesan paling efektif di rumah," kata Aswandi kepada Tribun Pontianak.

Karena itu, ia menjadi alat komunikasi, transformasi pemikiran, sekaligus budaya turun temurun. Secara psikologis, penggunaannya akan sangat mempengaruhi perkembangan anak.

Pada kelas-kelas rendah, seperti taman kanak-kanak, atau maksimal hingga kelas 3 SD, saya pikir, penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar akan sangat disenangi anak-anak.

Sebaliknya, jika ternyata di sekolah saat ini lebih banyak memanfaatkan Bahasa Indonesia, sebagai bahasa pengantar pendidikan, jangan dimaknai akan menggerus keberadaan bahasa ibu. Malah sebaliknya, ia akan semakin memperkaya khasanah bahasa daerah.

Seperti diketahui, bahasa Indonesia juga merupakan bahasa serapan. Baik, dari bahasa Asing maupun bahasa daerah.

Saat ini, memang sangat dianjurkan untuk membuat berbagai kamus bahasa daerah. Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas memiliki sejumlah kamus bahasa daerah.

"Saya sendiri punya tiga kamus Bahasa Melayu. Karena itu, keberadaan kamus Bahasa Dayak Kanayatn yang diluncurkan April lalu ini, diharapkan makin memperkaya kahasanah budaya.
Apalagi FKIP saat ini sangat sedang mengembangkan sastra daerah," tegasnya.

Aswandi mengaku FKIP Untan sangat terbuka untuk menjalin kerjasama, termasuk dengan penyusun Kamus Bahasa Dayak Kanayatn. FKIP siap mendukung dan bekerjasama. (hasyim ashari)

Biofile

Nama : Silverius Mulyadi
TTL : Karangan, 12 Juli 1940
Pendidikan : SLTA Seminari Menengah Nyarungkop
Pekerjaan : Pensiunan PNS
Istri : Margaretha
Anak : Cristina Rismiwati Spd
Martalinda SE
Vicensius B
Heri Mulyadi SH
Alamat : Jl Raya Menjalin Hulu Nomor 04, RT01/RW01, Dusun Menjalin Hulu, Kabupaten Landak
Jabatan : Mantan Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak
Mantan Wakil Ketua DPRD Landak
Kontak : 081256297560

Minggu, 24 Oktober 2010

Touring Pontianak-Mempawah


*Melelahkan Sekaligus Menyenangkan

Nurbaiti (55), terus menebar senyum. Sambil bergurau, ibu dua anak ini, memeriksa kondisi sepeda dames miliknya di depan Makorem Pontianak, Sabtu (23/10), pukul 06.30 WIB. Suaminya, Sukardi (69), ikut mengecek kelengkapan perjalanan di boncengan belakang.

Sepasang suami istri itu, sedang mempersiapkan diri mengikuti turing Pontianak-Mempawah bersama sekitar 40 pecinta sepeda tua yang tergabung dalam Sepeda Onte Kalbar (Sepok).

Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Mahasiswa, pengusaha, pelajar, dosen, jurnalis, seniman, dan lain sebagainya. Sepeda yang ditunggangi juga macam-macam. Ada Simplex, Gazelle, Fongers, Batavus, Raleigh, NSU, Philips, Rugde, BSA, dan lain-lain.


"Kebetulan di rumah tinggal kami berdua. Anak-anak sudah besar semua. Jadi, kami memutuskan ikut," kata Nurbaiti kepada Tribun.

Ia mengaku tidak ada persiapan khusus untuk turing kali ini. Sebab, hampir setiap akhir pekan mengayuh sepeda. Aktivitas itu ia lakukan setelah aerobik dan senam jantung sehat di Stadion Sutan Syarif Abdurahman.

"Hanya sarapan pagi. Itu yang paling penting untuk energi menempuh perjalanan jauh. Ini yang terjauh saya pake sepeda tua," ujar warga Jl Martadinata, Gg Bersama 1C ini.

Sukardi terlihat begitu perhatian. Ia pun terus mengiringi istri yang sudah memberinya dua anak itu. Setelah mengutarakan izin, ia tidak kuasa menolak. "Saya tidak sampai ke Mempawah. Hanya sampai Jungkat saja. Ada tugas di sana," ujarnya.

Peserta lainnya, Margono AM (67) juga tidak kalah semangatnya. "Senang kumpul bareng, jadi banyak teman. Menghilangkah pikiran penat sekaligus tukar pendapat," ujar warga Jl Perdana ini.

Penuturan serupa juga diungkapkan Dadan Kusnandar. Dosen FMIPA Universitas Tanjungpura ini, mengaku turing ini penuh keakraban sesama ontelis. "Baru pertama kali ngengkol sampai Mempawah. Cape dan lelah. Namun, sekaligus menyenangkan," katanya.

Ketua Panitia Turing, Mat Solar, menuturkan banyak anggota Sepok yang ingin ikut, namun tidak bisa karena berbagai kesibukan.

"Alamdulillah lancar. Semua sudah dipersiapkan. Mulai dari mobil pengiring, sampai dengan obat-obatan. Ada satu yang sempat keram. Tapi, sudah bisa normal kembali setelah diberi obat semprot. Penginapan oke, pengamanan ok. Ini berkat dukungan semua pihak, termasuk rekan- rekan PLN Mempawah," ujar Mat Solar.

Ketua Sepok, Jayus Agustono, mengatakan turing Pontianak-Mempawah merupakan satu dari tiga kota yang menjadi agenda turing tahunan di 2010. "Agendanya, kampanye bersepeda. Karena itu kita rolling di Kota Mempawah. Alhamdulillah, di sepanjang perjalanan, masyarakat sangat antusias. Banyak yang menyapa. Anak-anak sekolah juga melambaikan tangan setiap kita lewati. Berarti pesan kita memasyarakatkan sepeda sudah sampai ke masyarakat," papar Jayus.

Agenda lainnya, ini bentuk nyata Sepok untuk memeriahkan HUT ke-239 Kota Pontianak.
Sementara di Kabupaten Pontianak, kita juga ingin memperkenalkan potensi wisata Pantai penibung.

"Jam empat sore kita ke Penibung. Biar teman-teman bisa refreshing dari aktivitas sehari-hari. Sebagai bentuk penghargaa, peserta turing akan mempreoleh pin khusus," ujarnya. (hasyim ashari)

Jumat, 22 Oktober 2010

Gelar Juara untuk Kalbar


* Yohanes Dua Kali Pukul Jatuh Speed

Petinju kebanggaan Kalbar, Yohanes Yordan, berhasil keluar sebagai juara kelas ringan yunior dalam pertandingan 12 ronde Kejuaraan Tinju Profesional Indonesia (KTPI) di TVRI Senayan, Jakarta, Jumat (22/10) malam.

Yohanes dua kali memukul jatuh lawannya, Michael "Speed" Sigarlaki, masing-masing pada ronde ke-6 dan ronde 12. Pada ronde keenam, Sigalarki terjengkang ketika Yohanes dengan cerdik melepaskan kombinasi pukulan one-two.

Sigalarki pun mendapat hitungan wasit. Namun, ia segera bangkit kembali dan terus memaksa Yohanes bertarung dalam jarak dekat.

Pada ronde 12, Yohanes yang sejak ronde pertama menyimpan stamina, melepaskan straight tajam dengan tangan kiri dan mendarat telak di wajah Sigalarki.

Tanpa ampun, petinju asal Minahasa itu pun dipaksa kembali mencium kanvas. Wasit lagi-lagi menghitung Sigalarki. Di saat bersamaan, ronde terakhir pun selesai.

Tiga hakim pertandingan pun memberikan kemenangan mutlak untuk Yohanes. Masing-masing, 1116-110, 117-110, dan 116- 110.

"Puji Tuhan, akhirnya saya berhasil memenangi pertarungan ini," kata Yohanes kepada Tribun sesaat setelah turun dari ring.

Ia pun mempersembahkan gelar juara yang kini disandangnya untuk seluruh warga Kalbar dan juga untuk institusinya, Brimob Polda Kalbar.

Ia menuturkan, pertandingan melawan Sigalarki bukan pertandingan mudah. Pukulannya jauh lebih telak dan kuat karena bobotnya lebih berat sekitar 5 kilogram.

"Saat timbang badan, berat badan saya hanya 58,9 kilogram. Berat badan Sigalarki 63,5 kilogram. Jadi, pukulannya sangat berbahaya dan saya merasakannya sendiri di atas ring," ujar Yohanes.

Karena itulah, pelatih Damianus Yordan memintanya untuk menjaga jarak selama pertarungan. Sebab, bertanding jarak pendek sangat tidak menguntungkan.

"Meladeninya jual beli pukulan dalam jarak dekat sangat konyol. Saya ikuti terus intruksi pelatih untuk menjaga jarak, sambil melihat kesempatan melayangkan pukulan," katanya.

Strategi itupun sangat efektif. Kesabaran Yohanes, dalam hal ini dengan tidak meladeni Sigalarki yang terus memancing emosinya sejak ronde pertama, membuahkan hasil.

"Saya memang diminta jangan terpancing dan harus bisa menahan emosi," ujar Yohanes.

Yohanes pun mengucapkan terimakasih kepada warga Kalbar, termasuk institusi kepolisian, Brimob Polda Kalbar, dan keluarga yang tidak henti-hentinya memberikan dukungan.

"Kemenangan ini hasil kerja keras kita bersama," ujar petinju kelahiran Kayong Utara ini merendah.

Kemenangan ini juga memperbaiki rekor bertanding Yohanes menjadi 18 kali bermain, 17 kali menang, satu kali kalah, dan belum pernah seri.

Sementara Sigalarki menjadi 24 kali main, 15 kali menang, 8 kali kalah dan sekali seri. "Saya siap bertanding di kejuaraan internasional. Saya tidak akan puas dan berhenti sampai di sini," tegas Yohanes.

Manajer Yohanes, AKP Bedjo Rahardjo, sempat kesal karena anak asuhnya dipaksa bertanding dengan lawan yang lebih berat bobot badannya.

"Ini pemaksaan. Yohanes dipaksa bermain di kelas 64 kilogram. Manajer Sigalarki tidak disiplin. Masa' berat badannya hanya susut setengah kilogram. Karena itu, sebelum pertandingan saya sudah minta beberapa syarat," kata Bedjo.

Syarat tersebut imbuh Kepala Denma Brimob Polda Kalbar ini, antara lain Yohanes harus pakai sarung tangan 10 dan jika menang, Yohanes harus diakui sebagai juara nasional. (hasyim ashari)

Kamis, 14 Oktober 2010

Sudah Seperti Istri Pertama


Perkenalan saya dengan Kawasaki Binter Merzy atau biasa disebut KZ 200, terjadi pada 2002. Saat itu, saya melihat, Deri, teman sekantor saya di Pontianak Post, bagian ekspedisi, setiap kerja sesekali membawa motor ini. Ia punya dua motor. Dua-duanya Kawasaki. Yang pertama untuk harian Kawasaki Kaze yang satunya lagi motor ini.

Saat itu, saya masih penggemar Vespa. Saya pakai Sprint 1979 yang sudah dimodifikasi sport. Baik setang, jok, maupun knalpotnya sudah racing style. Tergiur mendengar suara mesinnya yang ngebas, saya pun menjual si Sprint untuk beli KZ 200.

Harga saat itu, deal Rp 1,8 juta. Sementara Sprint terjual Rp 2,7 juta. Sisa penjualan Sprint saya alokasikan untuk perbaikan kecil-kecilan si Merzy. Pertama tentu saja pengisi batere atau aki dan platina. Di selembar STNK yang sudah lusuh, tertulis buatan 1981.

Selanjutnya, bersama Merzy ada begitu banyak kenangan. Selama dua tahun, hingga 2004. Motor ini menemani tugas-tugas saya sebagai junalis. Mulai dari Singkawang, Mempawah, Pontianak, hingga ke daerah Landak.

Bahkan, rute Mempawah, Anjungan, sampai ke Karangan Kabupaten Landak, nyaris dijelajahi setiap akhir pekan. Beberapa kali saya menempuh perjalanan di malam hari menuju Singkawang dan Pontianak. Biasanya, pada perayaan tahun baru, libur panjang, dan hari libur nasional.

Foto ini diambil oleh Bang Jhony, PNS di Humas Pemkab Kabupaten Pontianak di Mempawah. Saat itu, hujan rintik-rintik dan saya baru turun dari bertemu H Abang Rusni Usha, Wakil Bupati Kabupaten Pontianak saat itu. Ia mendampingi Bupati Cornelius Kimha.

Sesaat setelah Bang Jhony mengabadikan gambar ini, saya meluncur ke Dinas Perhubungan Kabupaten Pontianak yang berjarak hanya sekitar sepuluh meter di depan Kantor Bupati. Saat itu, ada puluhan sopir opelet dari Siantan yang mendesak pencabuan trayek. Masalah trayek ini, menyebabkan kedua kubu yang berseteru, bentrok di Terminal Jungkat.

Untuk tenaga, Mercy lumayan nendang. Hanya memang, ada sejumlah kelemahan. Kelehaman paling kentara adalah koil yang sering jebol. Bahkan, koil Kijang pun yang saya pakai tidak mampu menampung cadangan setrum.

Hal itu, karena kiprok yang saya pakai sudah tidak orinisil lagi. Akibatnya, aki sering tekor. Ini sangat menyulitkan ketika harus menempuh perjalanan malam. Beberapa teman kemudian mengakalinya dengan punya Suzuki Shogun. Termasuk yang pakai Merzy CDI 1982-1984, mereka pakai CDI Shogun.

Di luar itu, yang sering bermasalah adalah cylinder head. Karena terlalu panas, pakin di cylinder head kerap bocor. Akibatnya, kompresi menjadi tidak maksimal. Oli menetes ke mana-mana. bagi yang tidak hati-hati, pada saat memasang kembali empat tongkat cylinder head, dratnya bisa aus dan ada juga yang sampai pecah.
Hal serupa juga kerap terjadi ketika menyetel kopling. Rumah stut kompling kerap gompal dan pecah karena salah menyetingnya. Tidak hanya itu, batu kick starter juga gampang sekali aus. Meski sudah berkali-kali spul digulung, batu kick starter kerap tidak berfungsi maksimal.

Namun, sejauh ini, saya sangat menikmati memakai Merzy. Terbukti karena saya juga akhirnya membeli Merzy Kobra 1984, CDI. Tulisan ini, didedikasikan untuk rider-rider Binter Merzy di manapun berada.

Bersama rekan-rekan di Pontianak, kami kemudian berhimpun di Black Jack, para pegila motor choopper di Kalbar. We Are Born to Ride..........!!

Senin, 04 Oktober 2010

Bersama Santap Jagung Rebus


*Sepok Gelar Halal Bihalal

Suasana Kota Pontianak kemarin pagi mendung, sesekali gerimis turun. Meski begitu, sejumlah orang tampak semangat mengayuh sepeda di Jl MT Haryono. Hari ini terasa istimewa, sebab banyak komunitas sepeda yang hadir untuk silaturahmi.

BERBEDA dari acara halal bihalal organisasi, lembaga, instansi, ataupun kelompok lainnya. Tempat yang mereka pilih sangat spesial, Area Car Free Day Jl MT Haryono Pontianak, tepat di depan Halte SMU Mujahiddin.

Usai para bikers bersepeda keliling di kawasan tersebut, satu persatu maupun bersama keluarga dan rombongan lainnya, mulai berdatangan ke lokasi yang dipilih untuk menggelar acara Halal Bihalal Komunitas Sepeda Kota Pontianak itu.

Di sana telah hadir beberapa komunitas ataupun perwakilannya seperti komunitas sepeda ontel di antaranya Sepok, Semar, Satria, dan lainnya. Juga ada komunitas sepeda TNT, BMX, dari PLN, PDAM, Telkomsel, Kepolisian, Lanal, AU dan masih banyak lainnya.

Halal Bihalal ini memang sangat unik dan istimewa, dari yang tidak mengenal satu sama lain, akhirnya bisa berekanalan. Dari anak-anak hingga orang dewasa. Juga mereka semua berbeda latar belakang, suku, agama dan pekerjaan.

"Kami di sini semuanya berbeda latar belakang maupun profesi. Tapi tujuan dan hobi kami sama yakni bersepeda. Ya, mengengkol kita bersatu dan jika ketemu di jalan bisa saling ucapkan salam," ujar Ketua Panitia Halal Bihalal tersebut, Dodi Yanto.

Tidak hanya itu, makanan yang disuguhkan juga istimewa dan sangat berbeda dari acara halal bihalal biasanya. Jagung rebus, pisang rebus, dan kacang rebus. Itulah pilihan menu santap di acara yang digelar di jalan raya dengan alas tikar dan koran.

"Kami memilih jagung, kacang dan pisang ini juga, karena Sepok itu kan kuno. Jadi karena kita yang membuat ide ini, makanya kita suguhkan makanan tempo dulu, yang mungkin tidak dibayangkan orang. Tapi, lihat saja, semua pada menyukainya," tambahnya lagi.

Ini jugalah yang dikatakan Wakil Wali Kota Paryadi yang turut hadir dalam acara tersebut. "Kebersamaan dalam komunitas sepeda di Pontianak semakin baik dan inilah bukti olahraga seperti sepeda juga bisa membentuk satu tali jalinan kebersamaan. Makanannya juga ada jagung, pisang dan kacang ini bisa sekaligus membantu para petani kita dan memanfaatkan sesuatu yang mudah didapat," ujarnya saat memberi kata sambutan yang memang sebelumnya ia terlihat
sangat senang makan kacang rebus yang tersedia di bakiak.

Tidak memandang perbedaan itu, para bikers dikumpulkan di satu tempat dengan tujuan olahraga, hobi, dan kesenangan sekaligus kesehatan. "Mengengkol kita bersatu, karena dengan mengengkol kita bersama. Pemerintah juga sudah sangat mendukung dengan menyediakan fasilitas area Car Free Day ini," ungkap Dodi yang menyatakan ada 20 komunitas sepeda di Kota Pontianak.

Ke depannya, diharapkan halal bihalal serupa bisa dilaksanakan dan dihadiri lebih banyak lagi komunitas sepeda lainnya. Acarapun terus berlanjut dengan beragam merek, jenis, bentuk sepeda berderet di jalan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan komunitas sepeda menyatakan sikap atas pengeboman Kalimalang.

"Kami menyatakan sikap ini untuk memotong opini yang berkembang di masyarakat dan media, bahwa pengeboman yang terjadi di Kalimalang itu bom sepeda. Kami dari komunitas sepeda Kota Pontianak mengutuk segala bentuk terorisme apapun dan siapapun. Kami meminta media massa untuk menghentikan opini yang berkembang tentang bom sepeda tersebut. Karena akan mengakibatkan teman-teman enggan bersepeda lagi," tegas Pembina Sepeda Lipat sekaligus Wakil Ketua Bike to Work, Bahri.

Ia yang juga pengurus Sepok menambahkan banyak sekali keuntungan dengan bersepeda. Selain sehat jasmani, juga tentunya mengurangi polusi.

"Kami harapkan sepeda tidak hanya menjadi sarana untuk menjadi sehat tapi juga bisa menjadi sarana untuk bekerja. Sebab dengan menggunakan sepeda, berapa banyak pemakaian BBM yang bisa dikurangi dan meminimalkan polusi," pungkasnya.

Sependapat dengannya, Rajali dari perwakilan komunitas sepeda PLN turut mengatakan dengan bersepeda tubuh menjadi bugar dan banyak mendapat teman baru.

"Lewat ini kita bisa saling kenal dan salam. Juga sehat serta bisa berkembang ke arah lain, misalnya share bisnis, dan lainnya. Harapnya ke depan bisa lebih meriah lagi," ujar dia.

"Ini rangkaian kegiatan kita selama Ramdhan dan Idul Fitri," ujar Ketua Sepok, Jayus Agustono.

Menurutnya, kegitan tersebut untuk mempererat tali silaturahmi antara sesama pecinta sepeda. "Kita tak mau suatu komunitas hanya berkumpul dengan komunitas itu saja. Siapapun boleh bergabung dalam kegiatan ini. Syaratnya harus pakai sepeda," katanya.

"Konsepnya jadul. Makanan yang akan kita suguhkan juga tradisional. Tema yang kita angkat 'Mengengkol kite besatu'," kata Jayus.

Jayus berharap, dengan kegiatan tersebut akan terjalin kerjasama dan persaudaraan antar sesama pencinta sepeda. Melalui kegiatan tersebut, ia berharap kecintaan masyarakat untuk hidup sehat dengan bersepeda akan lebih meningkat.

"Sebelum car free day ada, kita sudah kampanyekan bersepeda. Kita sambut baik adanya dukungan pemerintah melalui kebijakan car free day. Setidaknya ada perhatian dari pemerintah," katanya. (pontianak banajaria/iin solihin)

Minggu, 05 September 2010

Jepin di Ambang Kepunahan


* Jepin di Ambang Kepunahan
Pegiat dan mantan penari Jepin Kalbar, Juhermi Thahir (51), mengaku prihatin dengan perkembangan tari Jepin di Kalimantan Barat. Ia melihat, beberapa jenis tari Jepin di antaranya sudah di ambang kepunahan.

"Ada beberapa alasan mengapa Jepin yang menjadi ciri khas Melayu terancam punah. Di antaranya karena terjadi pergeseran pegiat seni tari yang cenderung ke arah tari kreasi dan kontemporer bukan khas nuansa Jepin. Sementara di sisi lain, banyak para pembina yang meninggal. Perhatian pemerintah daerah terhadap Jepin juga kurang," kata Juhermi kepada Tribun, Sabtu (5/6) sore.

Ditemui di sebuh warung kopi di Jl Tanjungraya 1, fotograper Harian Berkat ini menuturkan mereka yang memiliki pengetahuan cukup tentang akar Jepin, banyak yang sudah meninggal. Di antaranya adalah Almarhum Yanes Chaniago, Inang Suparni, Hj Nuraini Zamil, Yusuf Daemar. Mereka adalah angkatan 1960-1980.

"Saya melihat antusiasme generasi muda terhadap seni tari tradisional, terutama Jepin, cukup besar. Yang hilang adalah para pengembang (seniman pencipta) Jepin. Mereka tidak tahu harus belajar ke mana, dengan siapa. Ini yang membuat seni tari tradisional tersingkir," ujarnya.

Belum lagi, sebagian seniman yang sudah berbuat kebingungan harus menyalurkan kreasi tarinya ke mana. Tidak ada pagelaran dan ajang festival sebagai tolok ukur keberhasilan pengembangan tari Jepin.

Kalau pun ada, Jepin hanya disajikan dalam bentuk parsial. Sekadar hiburan, habis ditonton selesai. Padahal, Jepin tidak hanya tarian, ia punya makna dan deskripsi, nilai historis, serta akar budaya di masyarakat.

"Ini yang kita sayangkan. Pemerintah, dalam hal ini Taman Budaya dan Dinas Pariwisata harus cepat masuk. Semua terjadi akibat pembinaan yang tidak tepat. Jepin tidak digarap, tidak digali, tidak terdokumentasikan langsung di akar-akarnya di masyarakat," tegasnya.

Lelaki bersahaja ini menambahkan, sebenarnya Jepin tetap ada di tengah-tengah masyarakat Melayu. Namun, tetap saja dibutuhkan pembinaan dan perhatian pemerintah. Butuh sinergi antara seniman pencipta, sanggar, dan pemerintah. "Di Samarinda, di Bali, juga di Riau ada perkampungan seni. Mengapa kita tidak," tanyanya.

Juhermi bersyukur, karena beberapa orang masih konsekuen melestarikan Jepin. Di antaranya, di Sambas ada Nazamudin, Muin Ikram, dan Muslimah. Di Mempawah ada Bambang, di Pontianak lestari di sejumlah sanggar seperti, Kijang Berantai, Andari, dan Bougenville.

Ia berharap, seperti era 1980, tari tradisional terutama Jepin bisa diperkenalkan ke sekolah- sekolah. Jika tidak dalam bentuk ekstrakurikuler, sejatinya muatan lokal (Mulok).

Pimpinan Sanggar Andari, Kusmindari (41), mengatakan tidak semua Jepin di ambang kepunahan. "Memang ada beberapa. Di antaranya adalah Jepin Tali dan Jepin Langkah Sanggar Remaja 80. Itu yang kita dorong dan hidupkan kembali. Hati saya terpanggil untuk melestarikan Jepin saat melihat pentas seni siswa SD. Mereka mengaku membawakan Jepin, tapi sebenarnya tidak. Dari musiknya saja bukan khas Jepin," kata Kusmendari.

Ditemui di sanggarnya di Jl Halmahera I nomor 85, Kusmendari punya obsesi untuk menulis dan mendokumentasikan secara lengkap tari Jepin Kalbar. Termasuk meminta pemerintah untuk memasukan Jepin ke dalam materi mulok di sekolah-sekolah.

"Saya berpikir untuk 10 tahun mendatang, jika Jepin tidak dilestarikan, Kalbar akan kehilangan identitas Melayunya," tegasnya.

Berkembang di Keraton

Jepin masuk pertama kali ke Kalbar dari Arab sekitar abad ke-15, tepatnya di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas pada 1928. Jepin yang berfungsi sebagai alat penyebarluas agama Islam kemudian menyebar ke Sambas dan daerah lain.

Sebut saja, Kerajaan Tanjungpura, Sukadana, Simpang, Mempawah, Landak, Tayan, Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang, Kubu, dan Kesultanan Pontianak.

"Ada beberapa versi Jepin. Di Sambas dikenal dengan Jepin Lembut. Di Pontianak ada Jepin Bui, daerah lainnya Jepin Langkah," kata mantan penata Teknis Taman Budaya, Juhermi Thahir.

Ia memaparkan Jepin Lembut hanya dimainkan dua penari laki-laki. Gerakannya mengutamakan olah tubuh yang gemulai, indah, lembut dan mengarah pada gerakan salat dan berdoa. Lagu- lagunya juga berisi tentang pujian kepada nabi dan asma Allah.

Pengiringnya musik tradisional Gambus Lodang dengan alat ketipung tiga buah dan gendang panjang. Sementara Jepin yang berkembang di Pontianak lebih banyak menggunakan properti. Alat apa yang dibawa saat menari, itulah nama tariannya.

Misalnya bawa kipas, namanya Jepin Kipas, pakai tali jadi Jepin Tali. Properti itu untuk memeprkaya agar tidak tertinggal. Penarinya pun disesuaikan, bisa dua orang laki-laki, berpasangan, bisa juga ramai-ramai karena tuntutan keindahan.

Alat musik yang digunakan pun lebih kaya. Misalnya, ada ketipung bawas, tanpa gendang panjang, ditambah akordeon dan biola. Namun, lagunya tetap islami.

"Meski ada perbedaan, namun pola langkahnya sama karena baku. Yaitu, langkah biasa, gantung, gencat, dan serong. Keunikan Jepin Lembut Sambas, penarinya juga harus ikut menyanyi. Sementara Pontianak, yang bernyanyi hanya dimainkan penggambusnya," ujar Juhermi.

Pimpinan Sanggar Andari, Kusmendari, menambahkan Jepin sangat khas. Gerakan dan musiknya sudah baku.

"Dibuka dengan laram, lampas, salam pembuka, ragam jepin, satu lagu perpindahan ditentukan lampas, dan ditutup dengan ya salam tahtim. Suara gendangnya juga spesifik. Tung.. tak..tung.. tung..tak..tung," imbuh Kusmendari yang kita membina 75 anggota aktif di Sanggar Andari.

Budi (24), Penari
Irama Syahdu

Tujuan utama terjun ke dunia tari, untuk melestarikan seni budaya. Sekalian, karena sibuk di luar menari jadi olahraga dan membentuk badan. Saya suka tari Jepin karena iramanya yang lebih syahdu.

Apalagi kalau di awal dimulai dengan musik gambus. Setiap tari memiliki kesulitan tersendiri. Nah, di Jepin kesulitannya ada di langkah. Harus lebih fokus. Sebab salah hitungan sekali saja, semua langkah akan salah.

Yuniantini (32), Penari
Langkah Susah

Saya sudah menekuni tari, termasuk Jepin sejak umur 3 tahun. Mungkin karena ada darah seni mengalir di tubuh saya dari orangtua, Utin Srri Bunian yang juga penari dan Agus Ahmad Kamandi.

Kalau bisa dibilang, saya mengusai hampir semua jenis Jepin. Dibandingkan tarian lain, Jepin memang sangat susah di langkah. (hsm)

Nasib Pegiat Jepin

Juhermi, mengenal seni tari tradisional sejak mengenyam pendidikan di SDN 3 Tarempak dan SMP Swasta Siantan, Tanjungpinang, Riau Kepulauan, 1969. Ia membawa kecintaannya terhadap seni ke Pontianak bersama kepindahan kakaknya, Ruzhan Thahir, yang tugas di Bulog Kalbar pada 1977.

"Saya masuk kelas 3 di SMP Muhammadiyah Pontianak. Di sini saya memberanikan diri untuk mengajar tari. Saya rekrut 11 pasang atau 22 orang siswa-siswi untuk mengikuti Festival Tari Nasional se-Kota Pontianak. Hasilnya, kami Juara II," kenang suami dari Maniah M Noor ini.

Atas bakatnya itu, ia diminta melatih di Bidang Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sejak 1978-1980 sebelum akhirnya ditarik ke Taman Budaya Kalbar dan bertemu Fadil A Bakar.

"Dari beliaulah, saya belajar Jepin untuk pertama kali. Sejak saat itu, saya terus berburu guru- guru Jepin terbaik di penjuru Kalbar. Saya datangi langsung Nazamuddin di Sambas dan Hepsi di Singkawang untuk mengenal pola dasar Jepin Kalbar," papar Juhermi.

Juhermi pun banyak beradaptasi dengan narasumber di akar-akar dan pusat Jepin di masyarakat. Ada Pak Kuyung (Teluk Pakedai), Ce Mahmud dan Wanto (Sungai Jawi), dan Pak Usman (Batulayang).

Belajar langsung dari para ahli Jepin itu, membuat Juhermi mampu menggarap beberapa tari. Di antaranya Lenggang Kapuas (1982), Jepin Tempurung untuk peresmian GOR Pangsuma, Jepin Kembang Manggar tampil di Istiqlal (1991), Canggah Tiga di Mempawah, dan Tari Bumarang. Puncaknya adalah saat MTQ XIV tingkat nasional 1985.

Kalbar sebagai tuan rumah diminta mengisi malam ta'aruf dengan tarian kolosal. "Semua pelatih tari menolak karena waktu hanya sebulan. Saya yang sat itu sedang sakit, merasa terpanggil untuk menyelamatkan wajah Kalbar. Hasilnya, kami memukau pengunjung dengan Jepin Jala yang dibawakan 400 penari. Bagi saya, itu adalah master piece," kenang ayah dari Sarmia Wardani (20), Syahrani (17), dan Rizki Fahrisi (10) ini.

Namun, pagelaran itu pula yang membuatnya patah semangat. Bahkan, ia berhenti menekuni Jepin nyaris 5 tahun setelahnya.

"Saya trauma, terluka, dan sedih menusuk hati. Meski berhasil malam itu, tak satupun pangakuan datang dari pemerintah daerah. Padahal, cukuplah dengan selembar sertifikat penghargaan. Di tempat lain, saya mendapatkannya. Tapi tidak di rumah sendiri," ujarnya. (hasyim ashari)