Si Engkong nyeng lagi makan malam menu nasgor di warung sebelah. Tapi gading ayam eh daging ayam suir-suir kaga diembat, cuman nemplok aje di pinggir piring. Nah, ntu di layar lebar lagi ada siaran bola. Tauk tuh bola pa'an! Wakakakaka.
»»»endi_the-djenggoet
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kamis, 24 Juni 2010
Jumat, 18 Juni 2010
Udah Sepok, Pamer Loe
Nih diye, dah lah sepok, eh suka pamer pula wak satu ni? Hehe, ntu ke namanye hape canggik belek beri, wak? Pinjam la kamek ni, biar bisa posting sambel nangkring beee, wakakakaka!
»»»endi_the-djenggoet
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
»»»endi_the-djenggoet
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Maksimalkan headshet
Gua diajarin teman memaksimalkan headset. Rupanya bisa juga untuk upload ke blog. Wah makin seneng karena bisa updating tiap saat. So banyak banget untungnya punya headshet canggih. Manstap...pertamax Gan!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Jumat, 02 April 2010
Mbah Lanang dan Sejarah Becak Siantar

Rambut dan kumisnya berwarna putih semua. Jalannya pun harus dibantu dengan tongkat. Namun, jika bicara semangat, dia tak kalah dengan biker mana pun. Namanya Kartiman, tetapi semua biker di Pematang Siantar mengenalnya sebagai Mbah Lanang.
Jika ingin mencari tahu sejarah becak siantar, becak bermesin sepeda motor BSA buatan Inggris tahun 1941-1956, Mbah Lanang adalah orang yang paling tepat untuk menceritakannya. Memang masih ada pionir becak Siantar yang masih hidup, seperti Muhammad Rohim (67). Ada juga Tikno dan Mbah Sari.
Mereka mengusai seluk-beluk mesin motor Birmingham Small Arms (BSA) produksi The Birmingham Small Arms Company. Merekalah orang pertama yang kreatif menjadikan sepeda motor tua peninggalan Perang Dunia II itu sebagai becak di Pematang Siantar, Sumatera Utara.
Akan tetapi, di tangan Mbah Lanang, catatan sejarah hingga foto-foto dokumentasi berbagai jenis serta modifikasi becak Siantar disimpan. Ia membuat catatan sederhana tentang perjalanan becak Siantar dari waktu ke waktu.
Dia juga mencatat beberapa bagian dari spare part atau suku cadang motor BSA yang sudah bisa buat sendiri oleh bengkel-bengkel dari industri rumahan di Pematang Siantar. Becak Siantar bisa sebanyak ini, sekarang tinggal sekitar 850 unit dan pernah mencapai 2.000 unit, dengan mayoritas BSA sebagai penariknya, adalah jasa orang-orang seperti Mbah Lanang.
Meski beberapa di antara motor BSA merupakan peninggalan pasukan sekutu, terutama dari Inggris saat mereka di Pematang Siantar, dan juga bekas milik pengusaha perkebunan dari Eropa, jumlahnya paling banyak hanya 200 unit.
Sebagian besar BSA justru didatangkan dari luar Kota Pematang Siantar oleh orang seperti Mbah Lanang. Kini, mengisi sisa hari-hari tuanya, Mbah Lanang didapuk sebagai sesepuh sekaligus Penasihat BSA Owner Motocycles Siantar (BOM'S), organisasi yang mewadahi ratusan pengemudi becak Siantar dan puluhan penggemar BSA di kota yang terletak 45 kilometer dari Danau Toba ini.
Setiap siang hingga sore menjelang senja, Mbah Lanang biasa berkumpul dengan bikers muda maupun pengemudi becak di Sekretariat BOM'S, Jalan Kartini, Pematang Siantar. Kakek 12 cucu ini dulunya hanya penjaga tempat penitipan sepeda di Pasar Horas, Pematang Siantar.
"Tahun 1962, saya kerja di tempat penitipan sepeda di Pajak Horas. Kerjanya menjaga agar jangan sampai ada sepeda yang masuk ke dalam pajak (pasar). Setiap pulang saya selalu naik becak dan minta ke penariknya agar saya yang bawa becaknya," kenang Mbah Lanang.
Dari kebiasaan itu, Mbah Lanang mulai belajar seluk-beluk motor BSA. Tak lama setelah menikahi Atom Saragih pada 1963, ia membeli sendiri becak Siantar. Saat itu, harga becak Siantar bermesin BSA tipe ZB31 (350 cc) hanya Rp 220 ribu. "Kalau disesuaikan dengan emas, harga sebesar itu sama dengan harga emas 12 mayam," ujarnya.
Baru satu tahun dibeli, becak tersebut kemudian dijualnya. Namun, Mbah Lanang tetap menarik becak. Hanya, kali ini dia menarik becak punya orang lain. "Dalam waktu dua tahun saya sudah bisa beli becak sendiri lagi," imbuhnya.
Pengalaman jual-beli becak kemudian membawa Mbah Lanang pada profesi baru sebagai penjual becak Siantar. Apalagi saat itu jual beli becak Siantar tengah booming. Pekerjaan sebagai pengemudi becak Siantar masih sangat menjanjikan.
Berbekal pengalamannya itu, dia berani mencari motor BSA hingga ke seluruh pelosok Sumut. "Mulainya di Pematang Siantar, setelah enggak ada lagi, saya mulai cari ke kota-kota lain di Sumatera Utara. Setelah di Sumatera Utara enggak ada lagi, saya cari hingga ke provinsi lain, tetapi masih di Sumatera. Baru setelah di Sumatera sudah kehabisan, saya mencari di Pulau Jawa," tutur kakaek kelahiran Pematang Siantar, 1 Februari 1941, ini.
Sejak 1980-an, Mbah Lanang mulai mencari motor BSA hingga ke pelosok kota-kota di Pulau Jawa dan Bali. "Saya datangi kota di Jawa, mulai dari Ngawi, Kediri, Surabaya, malah sampai ke Bali. Sekali berangkat paling banyak saya dapat tiga unit dan langsung dibawa ke Pematang Siantar," katanya.
Menurut Mbah Lanang, di kota-kota Pulau Jawa waktu itu dia sering menemukan kondisi motor BSA teronggok begitu saja tanpa perawatan. "Banyak yang diletakkan di kandang ayam dan tak terurus," ucapnya.
Dengan menggunakan transportasi darat naik bus Antarlintas Sumatera (ALS), motor BSA itu dipereteli sebelum dibawa ke Pematang Siantar. Selain jalur darat, terkadang Mbah Lanang mengangkutnya melalui jalur laut dengan KM Tampomas, yang telah tenggelam di perairan Masalembo pada 1981.
Kegiatan jual-beli sepeda motor BSA dilakukan Mbah Lanang hingga era 1990-an. Dia pun tetap setia menarik becak saat tak sedang mencari motor BSA untuk dibeli. Ketika jumlah motor BSA yang dijadikan becak di Pematang Siantar mencapai puncaknya, sampai ada 2.000 unit, terjadilah titik balik.
Belakangan ini justru banyak orang luar yang meminati sepeda motor BSA yang telah dijadikan becak di Pematang Siantar. "Kolektor sepeda motor tua membelinya dengan harga Rp 10 juta hingga Rp 17 juta. Saat jumlah BSA mulai berkurang, baru orang sadar kalau dibiarkan terus bisa tidak ada lagi yang tersisa di Pematang Siantar," ujar ayah empat anak ini.
Kini, bersama para pengemudi becak Siantar dan bikers yang tergabung dalam BOM'S, Mbah Lanang gigih mengampanyekan kelestarian becak Siantar. Dia pun berada paling depan saat Pemerintah Kota Pematang Siantar dan DPRD setempat merancang perda peremajaan becak motor pada 2006.
Dengan perda tersebut, memungkinkan sepeda motor baru buatan Jepang atau China menjadi penarik becak di Pematang Siantar. Sesuatu yang selama ini eksklusif untuk sepeda motor tua, seperti BSA. “Padahal, di dunia ini, sepeda motor merek BSA yang masih tegar menjelajah jalanan hanya ada di Siantar. Biarlah, kalaupun becak siantar ini harus mati, matilah dengan alami. Bukan punah karena perda," ujarnya.
Disadur dari http://www.boms-bikers.com
Kamis, 01 April 2010
Fauzi: Ini Surprise bagi Saya

* Tribun Kembalikan "Amplop" ke PLN Pontianak
Kepala Cabang PLN Pontianak, Fauzi Arubusman, terkejut ketika rombongan Tribun Pontianak, Selasa (30/3), mengembalikan amplop berisi uang Rp 1 juta. Amlop itu sebelumnya diberikan kepada seorang wartawan Tribun yang menghadiri kegiatan PLN, pekan lalu.
"INI menjadi surprise bagi saya. Sebelumnya di tempat lain tidak pernah ditolak. Kami memberikan dana tersebut sebagai bentuk profesionalitas kepada seorang pembicara yang membagikan ilmunya kepada kami. Tidak ada maksud lain," kata Fauzi saat ditemui rombongan Tribun di ruang kerjanya sekitar pukul 14.30 WIB.
Kisah amplop berisi uang Rp 1 juta tersebut berawal dari rapat kerja yang melibatkan beberapa pimpinan PLN ranting, Kamis (25/3).
Tribun diundang hadir dalam acara tersebut sebagai satu di antara pembicara, untuk membahas peran dan fungsi media massa sebagai jembatan antara rakyat dengan PLN. Saat itu, Tribun diwakili Manajer Produksi Hasyim Ashari.
Fauzi menuturkan, PLN sengaja mengundang Tribun dalam kegiatan tersebut untuk memberikan pandangan bagaimana sebaiknya menjalin hubungan dengan media massa.
"Terkadang yang muncul bad news (berita buruk), dan ketika wartawan datang pasti langsung terpikir kami akan menghadapi masalah," ujar Fauzi tersenyum.
Meski seusai acara rapat kerja tersebut Fauzi telah mendapat penjelasan tentang larangan menerima imbalan dalam bentuk apapun bagi wartawan Tribun, ia semula tak percara.
"Atas dasar prinsip penghargaan, kami tetap memberikan dana tersebut," lanjut Fauzi.
Pemimpin Redaksi Albert GJ Joko yang memimpin rombongan Tribun menjelaskan kepada Fauzi bahwa Tribun Pontianak harus melaksanakan amanat profesi, sebagai koran dari Kompas Gramedia, yang melarang wartawan menerima imbalan dalam berbagai bentuk.
"Mohon maaf sebelumnya. Kami sebagai jurnalis juga perlu uang tentunya. Tetapi, sudah menjadi komitmen Kompas Gramedia, untuk tidak menerima semua bentuk imbalan, selain yang diberikan perusahaan kepada karyawannya," ujar Albert.
Dalam aturan Kompas Gramedia, hanya dalam keadaan tertentu wartawan diperbolehkan menerima imbalan yang diberikan. Itu pun dengan pertimbangan kemanusiaan, misalnya menjaga perasaan sang sumber jika ditolak di hadapan banyak orang.
Jika itu terjadi, maka si wartawan harus melaporkan ke pimpinan di kantor pada kesempatan pertama mengenai apa yang terjadi, dan membuat berita acara mengenai penerimaan uang tersebut, serta melampirkan "barang bukti" yang ia terima.
Imbalan tersebut kemudian akan dikembalikan kepada si pemberi disertai surat berisi ucapan terimakasih atas penghargaan yang diberikan, namun sebaiknya pada kesempatan berikut tidak memberikan imbalan dalam bentuk apapun kepada wartawan Tribun.
Albert menceritakan, selain uang, ada juga sumber yang memberikan imbalan berupa barang. Awalnya, ada masyarakat menghubungi Tribun, dan menyampaikan keberatan terhadap kebijakan jalan satu arah di sekitar toko miliknya.
Sejak diberlakukan kebijakan jalan satu arah di kawasan tersebut, toko jadi sepi pengunjung. Setelah Tribun beritakan, jalan tersebut kembali mejadi jalur dua arah, dan toko kembali ramai pengunjung.
"Dikirimlah paket ke kantor kami, ditujukan kepada wartawan sebagai bentuk terima kasih atas pemberitaan tersebut. Barangnya berupa kacamata. Ya, harus dikembalikan, padahal kacamatanya mahal dan bagus," jelas Albert dilanjutkan tawa.
Godaan untuk menerima imbalan memang berat. Diakui, ada wartawan Tribun yang dikeluarkan karena terbukti menerima imbalan dari sumber. Imbalan Rp 1 juta atau Rp 10 ribu jika diterima memiliki konsekuensi yang sama.
"Saya berharap prinsip ini tidak menjadi masalah dalam hubungan antara PLN dan Tribun Pontianak. Tanggung jawab sebagai jurnalis, pertama kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemudian kepada masyarakat, dan negara," ujar Albert.
Dari penjelasan yang disampaikan, Fauzi menyatakan bisa memahami dan menghormati prinsip Tribun Pontianak. Tapi, karena sudah dianggarkan dan dikeluarkan dana, maka secara administrasi sudah tercatat sebagai pengeluaran.
"Apakah dana tersebut akan disumbangkan ke masjid?" tanyanya. Usul itu langsung disetujui Albert, supaya manfaatnya dirasakan orang banyak.
Selepas suara azan penanda waktu ashar dikumandangkan muazzin, staf Sekretariat Redaksi Tribun Pontianak, Dewi Handayani, menyerahkan kembali amplop berisi uang Rp 1 juta kepada Fauzi.
"Lain kali kalau kami mengundang, tidak dianggarkan lagi, ya," ucap Fauzi disambut tawa rombongan Tribun Pontianak. (dian lestari)
Pertemuan setelah 14 Tahun

Rabu (24/3), sekitar pukul 11.00 WIB, handphone-ku berbunyi, pertanda ada pesan singkat masuk. "Ass.wr.wb. Syim, ane udah di Pontianak. Robby," begitu isinya. Aku terperanjat. Bujug busyet, si Robby! ya siapa lagi kalo bukan Robby J Prihana, Ketua OSIS SMAN 2 Bekasi era 1992-1993.
Dia ke Pontianak karena ada urusan dinas menyiapkan kedatangan Wapres Boediono dan sekitar delapan menteri ke Kalbar. Rombongan berada di Pontianak, untuk meresmikan dan memberikan bantuan sejumlah proyek pembangunan pada 26-27 Maret.
Ketika Robby menjabat Ketua OSIS, aku adalah Sekretaris OSIS. Namun, ketika di Pramuka, Aku Pradana (Ketua), Robby adalah sekretarisku. Saat acara-acara OSIS, biasanya Robby minta aku membawakan map. Sebaliknya, giliran Robby yang kuminta membawakan map ketika ada kegiatan pramuka.
Dua tahun terakhir, aku baru tahu kalau Robby ternyata bekerja di Sekretariat Wakil Presiden. Urusan protokoler menjadi satu di antara tugas yang melekat dalam pekerjaannya. Termasuk ketika Wapres masih dijabat Sang Maestro Jusuf Kalla (JK).
Tahun 2008, ketika JK ke Pontianak, rupanya Robby juga mencariku di Universitas Tanjungpura. Dari seorang teman lama (Deddy Wibowo alias Komar alias Pablo), ia mendapat informasi kalau aku dosen di almamater ku itu. Ha ha ha ha....tampang begini jadi dosen, kagak dah! Saat itu, Robby kehilangan nomer kontak karena aku ganti nomor ponsel.
Maka, kami tidak bertemu. Padahal, satu di antara proyek yang diresmikan JK saat itu adalah Gedung Graha Pena, kantorku yang lama. Lebih lucu lagi, karena saat itu, aku juga menyantap hidangan Paspampres, setelah keliru mengambil jatah makan siang di Hotel Grand Mahkota. Kebetulan Kompas Gramedia, tempat kerjaku yang baru, sedang menggelar kegiatan Journey to Exellence di hotel yang sama.
Sampai akhirnya, facebook mempertemukan kami. Meski tidak terlalu intensif balas membalas status, namun kami tahu nomor masing-masing dari laman persahabatan tersebut.
Sebelumnya, aku tahu Wapres Boediono bakal ke Pontianak drai rekan-rekan redaksi Tribun Pontianak. Namun, tidak menyangka kalau Robby ikut juga. Jadi, Rabu itu, meski ingin sekali bertemu, aku tidak bisa segera bertemu Robby. Pekerjaan di kantor benar-benar tidak bisa ditinggalin. Sementara Robby juga sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Mulai protokoler acara, hingga survei lokasi yang akan didatangi Boediono.
Padahal, aku sudah tidak sabar ingin mendengar dan berbagai kisah dengannya. Mungkin lebih tepat melepas kangen. Kami berpisah setelah lulus pada 1996 dan tidak pernah bertemu lagi setelah itu. Aku harus merantau ke Pontianak karena lulus UMPTN di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura. Robby, aku tidak tahu ada di mana. Belakangan dia cerita, kuliah di FISIP Universitas Padjajaran.
Waktu yang kami sepakati akhirnya datang. Waktuku cukup luang, dan Robby punya kesempatan di sela-sela jadwal kunjungan yang padat. Aku menjemputnya di lobi Hotel Kapuas Dharma, karena memang ia dan rombongan menginap di sana. Setibanya di lobi, aku menelponnya untuk segera turun.
Di kepala ku muncul berbagai pertanyaan. Apakah Robby yang akan kutemui ini adalah Robby yang ku kenal dulu? atau dia sudah berubah. Sambil menunggunya, aku berbincang-bincang dengan beberapa relasi dari Kabupaten Kubu Raya. Mereka adalah sarjana pelopor untuk program PNPM Mandiri.
Tak berapa lama, sosok yang kutunggu muncul dengan senyum khasnya. "Wah tambah buncit neh," kata Robby melempar senyum. Aku membalasnya dengan ujaran serupa. "Eloe juga Bay (aku dan teman-teman di SMA memanggilnya Obay). Tambah gemuk,"
Aku mengajaknya ke sebuah sudut kota, tepatnya di Jl Gajahmada Pontianak. Di sana memang terkenal dengan jajanan pinggir jalan. Ada begitu banyak warung kopi tempat nongkrong. Dari mulai pelajar, pejabat, pengangguran hingga para pewarta. Kami memilih kursi tepat di depan Hotel Orchardz.
Sambil mencicipi kopi Pontianak, Robby bercerita tentang pahit, manis, dan getirnya perjalanan hidup yang ia lalui. Sebuah cerita yang ternyata tidak jauh berbeda dengan yang kualami. Jujur, aku terkejut dengan semua penuturannya. Robby juga begitu.
Kami bicara ngalor ngidul. Dari kisah di SMA, bagaimana susahnya kuliah, pekerjaan, hingga urusan keluarga. Aku dan Robby sama-sama terkejut karena perjalanan hidup selama 14 tahun, nyaris sama. Kami pun mengambil hikmah masing-masing untuk menjadikan kualitas hidup ini jadi lebih baik.
Aku mendapat energi baru dari sosok Robby yang baru saja kutemui. Ia jauh lebih dewasa, lebih bijak, lebih kebapakkan, lebih religius, dan pribadi yang begitu menikmati hidup. Di luar itu, ia tetap sosok Robby yang ku kenal 14 tahun lalu. Robby yang tidak kehilangan selera humor dan rendah hati. Robby yang idealis karena memang dibesarkan oleh kemapanan organisasi.
Robby kembali ke Jakarta, Sabtu (27/4). Sampai kami berpisah, kami masih tidak percaya bahwa bisa bertemu dan bertatap muka setelah sekian lama tidak bertemu. Dari sana, kami yakin kesempatan untuk bertemu teman-teman lainnya, pasti mimpi yang bisa jadi kenyataan. Terimakasih Tuhan!
Senin, 29 Maret 2010
Menggugat Mandat KOSTI

Oleh: Hasyim Ashari S.SOs
Wakil Ketua SEPOK
Pelantikan pengurus Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Kalbar, Sabtu (27/3), berjalan lancar. Namun, pelantikan tersebut masih menyisakan tandatanya. Terutama di kalangan pengurus dan naggota Sepeda Onte Kalimantan Barat (SEPOK).
Sejak awal, SEPOK lahir dengan dasar kecintaan anggotanya kepada sepeda tua. Kami juga sepakat meletakkan dasar organisasi ini jauh dari kepentingan apapun. Meski harus diakui, anggota dan pengurus SEPOK datang dari berbagai kalangan. Namun, semangatnya tetap satu, melestarikan sepeda tua dan menjadikannya bagian dari gaya hidup sehat.
Anggota dan pengurus SEPOK tidak pernah haus dari kekuasaan apapun. Apalagi organisasi ini merupakan organisasi nirlaba. Kerja keras membangun SEPOK saja, sudah cukup untuk membuktikan bahwa kami memang mencintai organisasi ini. Kecintaan itu, kami tuangkan dalam berbagai bentuk aktivitas nyata dan positif. Hingga pada sampailah pada titik, kami memang pioner.
Pasca KOSTI berdiri, SEPOK ikut menjadi saksi. Meski kami hanya bisa melihatnya dengan haru dari bawah Garis Equator. Saat itu, kami bertekad KOSTI Kalbar harus terbentuk. Namun, saat itu pula, organisasi sepeda tua di Kalbar, hanya ada dua. Pertama SEPOK yang ada di Pontianak, yang kedua adalah KESATRIA dari Kabupaten Kubu Raya.
Kami pun menunggu waktu yang tepat untuk mendirikan KOSTI Kalbar. Pertimbangannya adalah, KOSTI, kami anggap organisasi yang harus memiliki kewibawaan di mata anggotanya. Itu artinya, unsur keterwakilan menjadi harga mati. Semua pengurus sepeda tua di Kalbar, tidak boleh jadi penonton. Mereka harus jadi aktor yang membidani kelahiran KOSTI di tanah Borneo.
Tahun ini, rencananya pengurus SEPOK akan mencoba untuk mendirikan KOSTI Kalbar. Sebab belakangan sudah muncul organisasi serupa. Sebut saja, SEWOD yang hanya dalam lingkup satu gang, yaitu Gg Wonodadi di Kabupaten Kubu Raya, Lereng Sintang di Kabupaten Sintang, Sepeda Ontel Anak Galaherang di Kabupaten Pontianak, Pangsuma di Kabupaten Sanggau, Kropos di Singkawang, juga di Kabupaten Ketapang. Terakhir, muncul organisasi sepeda tua di Pontianak meski anggotanya hanya berada dalam satu kecamatan, bahkan hanya beranggotakan beberapa orang dalam satu gang saja. It's Ok!
Kami pun berpikir, mungkin sudah saatnya membentuk KOSTI Kalbar. Mengingat, pasca sepok berdiri, ternyata turut memotivasi organisasi serupa di berbagai kabupaten dan kota di Kalbar. Namun, pengurus SEPOK tetap berpegang pada keinginan semula. KOSTI Kalbar, harus lahir dan dibidani seluruh organisasi sepeda tua yang ada di Kalbar. Ideal? KOSTI memang harus ideal!
Hal itu memang butuh waktu. Sebab tidak mudah mengumpulkan mereka semua duduk dalam satu forum bersama. Namun, sejak tahun lalu, intensitas komunikasi dengan pengurus di berbagai daerah itu sudah terjalin baik. Tinggal menunggu waktu yang tepat. Bukan terjebak oleh kesempurnaan, namun kami menyakini mengumpulkan mereka bukan hal yang mustahil. Untuk itulah, SEPOK tidak ingin tergesa-gesa membentuk KOSTI Kalbar.
Namun, apa daya. Rencana tinggal rencana. Di tengah upaya mematangkan pembentukan KOSTI Kalbar itu, muncul keinginan beberapa orang, yang ingin menggesa pembentukan KOSTI Kalbar. Tentu kami menyambut baik, siapapun mereka. Toh, mereka juga masih aktif tercatat sebagai anggota SEPOK. Sebab keinginan kita memang sama, membentuk KOSTI Kalbar. Dan sudah tentu juga, sejatinya keinginan itu tetap berada dalam koridor yang benar. Bukan grasak-grusuk, sebab ada aturan yang mengikat.
Pengurus SEPOK sudah mengingatkan untuk menunda pembentukan KOSTI Kalbar, kepada beberapa orang yang ingin segera mewujudkan KOSTI Kalbar. Namun, keberatan yang diajukan dinilai hanya sebagai sentimen pribadi. Padahal, Ketua SEPOK, Jayus Agustono, melayangkan surat keberatan dalam kapasitasnya sebagai ketua organisasi dengan anggota sekitar 200 orang ini.
Keberatan juga datang dari Kabupaten Ketapang dan Sanggau. Namun, sekali lagi apa daya. Mimpi untuk menjadikan KOSTI Kalbar sebagai organisasi ideal, tinggal cerita. Komunikasi yang terjalin antara Pengurus Pusat KOSTI, dalam hal ini Sekjen Kosti Fahmi Saimima, bukan lagi dalam ranah organisasi dengan organisasi. Sebab, kalau itu yang terjadi tentu komunikasinya adalah dengan Ketua SEPOK, Jayus Agustono.
Maka, sudah bisa ditebak, Pengurus Pusat KOSTI tetap menerbitkan surat mandat. Mandat yang tertuang dalam SK Nomor 011/PP-KOSTI/1/01/01/2010 itu menunjuk Laisah Maranatha, yang juga anggota SEPOK, sebagai pelaksana mandat. Pengurus SEPOK sekali lagi, tidak pernah memperkarakan siapapun yang menerima mandat, sepanjang memang prosedural.
Okelah, PP KOSTI menyebut secara administrasi permohonan yang diajukan Laisah dkk sudah cukup. Namun pernahkan PP KOSTI mengkonfontir langsung bagaimana lahirnya persyaratan administrasi yang dinilai cukup itu? Di sinilah kepekaan PP KOSTI turut digugat.
Oke, katakan saja pengurus SEPOK kalah cepat satu langkah hanya karena menunggu moment terbaik membentuk KOSTI Kalbar. Mari masuk ke SK mandat. Dalam SK mandat itu, pelaksana mandat diminta secepatnya untuk menggelar pra-musyawarah daerah (Musda). Asumsinya, merekalah yang menjadi tim formatur untuk musyawarah daerah.
Namun, yang terjadi adalah musda tidak pernah digelar. Organisasi-organisasi sepeda tua di Kalbar juga tidak pernah diajak bertemu. Pengurus SEPOK yang diundang, sudah menyatakan keberatan dan meminta agar lebih bersabar agar KOSTI Kalbar tidak lahir prematur.
Permintaan itu kemudian dijawab dengan terbentuknya pengurus KOSTI Kalbar 2010-2013. Luar biasa, KOSTI Pusat yang kami nilai muncul ke dunia karena perjuangan, keringat, dan darah melalui kongres, tapi sebaliknya di daerah. Tidak perlu keringat dan darah. Tidak perlu mengakomodir aspirasi dari bawah. Hanya perlu pendapat beberapa orang saja. Cukup!
Buktinya, KOSTI Kalbar hanya terbentuk dalam tempo empat hari. Disusun hanya berdasarkan rapat biasa, bukan lahir melalui musda, yang selama ini, digadang-gadang sebagai wadah tumbunya demokratisasi di tubuh KOSTI.
Lalu, apa gunanya perintah SK PP KOSTI kepada penerima mandat untuk segera menggelar musyawarah daerah? Toh, tidak menggelar musda pun KOSTI Kalbar tetap bisa terbentuk. Atau pengurus SEPOK yang memang salah mengartikan surat mandat PP KOSTI kepada penerima mandat?
Dan, selamat! itulah senjata paling efektif mematikan demokratisasi di negeri ini. Ketika aspirasi tidak didengar, ketika petinggi mencekoki akar rumput dengan produk keputusan yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana keputusan itu dilahirkan. Inilah, penjajahan paling nyata!
Inikah, nilai-nilai luhur yang ingin ditumbuhkembangkan dalam tubuh KOSTI? Inikah konsekuensi yang harus kami tanggung setelah sekian lama mengagungkan KOSTI sebagai organisasi tertinggi sepeda tua di negeri ini? atau memang inikah pelajaran yang kami harus teladani di daerah?
Lalu untuk apa juga AD/ART KOSTI dibuat dan disebarkan ke organisasi sepeda tua lainnya di tanah air. Apakah hanya untuk sekadar disimpan di ruang sekretariat, bahkan mungkin menjelma sampah yang tidak berarti apa-apa. Sementara AD/ART harusnya menjadi sumber hukum dalam setiap gerak organisasi.
Atau, sekali lagi, setelah gagal mengartikan SK mandat PP KOSTI, kini giliran pengurus SEPOK yang gagal menterjemahkan isi BAB VI Aturan Peralihan pasal 19 Anggaran Dasar KOSTI. Bahwa, untuk pertama kalinya pengurus pusat dibentuk oleh deklarator, pengurus provinsi dibentuk oleh koordinator wilayah, dan koordinator wilayah dibentuk oleh klub/komunitas dalam satu daerah kabupaten/kota.
Mari, jadikan moment terbentuknya KOSTI Kalbar untuk instrospeksi organisasi di tingkat klub dan KOSTI sendiri! Buat pengurus SEPOK yang hendak melayangkan Mosi Tidak Percaya, berdoa sajalah agar PP KOSTI masih punya mata, hati, dan telinga. Atau, bersiap-siap sejak dini sebelum kembali menelan pil pahit. Wassalam!!
Kamis, 11 Februari 2010
Akhirnya Pontianak Punya Car Free Day
PONTIANAK, TRIBUN - Suasana lain dari biasanya terlihat di ruas Jl MT Haryono, Kota Pontianak, Minggu (7/2). Di tempat itu, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, meluncurkan kegiatan Car Free Day atau hari bebas kendaraan bermotor.
Ketua Komunitas Pekerja Bersepeda atau Bike to Work (B2W) Kalbar, Chairil Effendi, menyambut baik event tersebut. Itu sebabnya, kebiasaan bersepeda akan digalakkan kembali, karena selain membuat sehat juga menjadikan lingkungan bersih.
"Bersepeda mengedepankan naturalitas, udara lebih bersih dan nyaman. Badan jadi sehat. Selain itu, mengajarkan masyarakat untuk berbagi tempat di jalan bagi pengguna sepeda," ujar Chairil yang juga Rektor Unibersitas Tanjungpura.
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, mengatakan, event ini tak sekadar berhenti di peluncurannya saja. Ia bertekad setiap pekan selalu digelar momen serupa.
"Insya Allah, ini akan diadakan tiap Minggu. Acara yang lebih besar minimal sebulan sekali, dengan menggandeng BUMN dan perusahaan swasta," ujar Sutarmidji.
Bagi dia, Car Free Day tak hanya bebas dari asap kendaraan, tapi juga bebas asap rokok. Karena itu, pengukuhan area bebas asap rokok akan dikuatkan dengan Peraturan Daerah.
"Area Water Front City dari Alun-alun Kapuas sampai kawasan Pasar Kapuas akan ditata supaya enak untuk olahraga jalan kaki. Mudah-mudahan dalam dua tahun ke depan, sudah terwujud," katanya.
Sedianya, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alifian Mallarangeng akan hadir pada kegiatan itu. Namun, karena harus mendampingi Presiden SBY ke Lampung, Andi urung hadir.
Andi "mengutus" istrinya, Vitri Cahyaningsih Mallarangeng, untuk ke Pontianak. Tak hanya itu, ibunda Andi pun, Andi Asni Mallarangeng, turut serta.
Dari lingkungan Kementerian Olahraga, hadir Sekretaris Menteri Wahid Muharram. Wahid mengatakan, Menpora tetap berusaha berangkat ke Pontianak usai acara di Lampung.
Vitri Cahyaningsih mengatakan, Kota Pontianak merupakan tempat pertama di luar Jawa yang menggelar peluncuran Free Car Day. Di lingkungan kantor suaminya, ia dilibatkan menghidupkan kembali senam tiap Jumat.
"Suami saya, kalau tak ada rapat pagi, juga bersepeda ke kantor. Jarak rumah kami ke kantor sekitar 40 kilometer," ujar penggemar sop kepiting ini.
Sementara ibunda Menpora, Andi Asni, mengaku tak asing dengan Kota Pontianak. Anaknya yang merupakan adik Menpora, Andi Nina Mallarangeng, pernah bekerja sebagai Kepala Puskesmas di Mempawah.
"Saya sering ke sini, besan saya juga orang sini. Wah, Pontianak memang panas, ya," ujar wanita yang masih tampak bugar di usia 74 tahun.
Andi Mallarangeng sendiri tiba di Kota Pontianak menjelang pukul 15.00 WIB. Ia melantik pengurus B2W di Pendopo Gubernur.
Tak sekadar sepeda sebagai olahraga rekreasi, Andi menegaskan perlunya Kalbar mengembalikan kejayaan olahraga prestasi yang dulu pernah begitu bersinar.
"Saya ingin kita punya momentum kebangkitan olahraga nasional. Saya ingat sejak dulu, Kalbar menjadi gudangnya atlet balap sepeda. Kalbar mestinya kembali jadi gudang pebalap sepeda lagi," tegas Andi.
Kementerian yang dipimpinnya kini tengah membuat pemetaan olahraga unggulan di masing-masing daerah. Ia meminta virus bersepeda kembali menjalar di mana-mana, terutama kalangan anak-anak.
Andi menuturkan, olahraga bersepeda tak sebatas terkait sarana ke tempat kerja, atau pun rekreasi, tapi juga prestasi. Sambil juga memperjuangkan lingkungan yang bersih dan sehat karena bebas dari asap kendaraan.
Andi berbincang dengan pembalap sepeda Kalbar. Di antaranya Maruki Madsun yang pernah menyabet dua emas Asia, maupun pembalap wanita Secelia S Harly. Selain pembalap sepeda, ia juga berbincang dengan petinju Kalbar Daud Yordan, Yohanes Yordan, Damianus Yordan, dan beberapa petinju cilik.
Penyerapan Kalsium
Spesialis tulang RSUD Soedarso, dr Harry Fadjar SpOT, mengatakan, aktivitas bersepeda memiliki nilai aerobik yang cukup tinggi sekaligus low impact. Usia muda sampai tua sekalipun cocok menjalankan aktivitas ini.
"Bersepeda bisa menguatkan otot-otot dan dengan sendirinya keseimbangan badan lebih bagus. Tarikan otot setiap mengayuh pedal, mampu merangsang penyerapan kalsium lebih kuat," ujar Harry kepada Tribun, Minggu, di arena Free Car Day.
Harry tergabung dalam komunitas Teman Nunggu Teman (TNT), yakni sebuah kelompok lintas profesi dengan pilihan sepeda jenis mountain bike.
Penyerapan kalsium yang kuat, sangat baik untuk kesehatan tulang. Bagi kalangan orangtua, kegiatan bersepeda mampu membantu mencegah pengeroposan tulang.
Ia juga mengingatkan, mengayuh sepeda jangan secara tiba-tiba. Diperlukan pemanasan ringan, agar otot kaki yang melekat pada tulang tidak mengalami trauma. Apabila cara mengengkol benar, disesuaikan dengan geometri sepeda, cidera otot tak bakal terjadi. end/tribun pontianak)
Ketua Komunitas Pekerja Bersepeda atau Bike to Work (B2W) Kalbar, Chairil Effendi, menyambut baik event tersebut. Itu sebabnya, kebiasaan bersepeda akan digalakkan kembali, karena selain membuat sehat juga menjadikan lingkungan bersih.
"Bersepeda mengedepankan naturalitas, udara lebih bersih dan nyaman. Badan jadi sehat. Selain itu, mengajarkan masyarakat untuk berbagi tempat di jalan bagi pengguna sepeda," ujar Chairil yang juga Rektor Unibersitas Tanjungpura.
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, mengatakan, event ini tak sekadar berhenti di peluncurannya saja. Ia bertekad setiap pekan selalu digelar momen serupa.
"Insya Allah, ini akan diadakan tiap Minggu. Acara yang lebih besar minimal sebulan sekali, dengan menggandeng BUMN dan perusahaan swasta," ujar Sutarmidji.
Bagi dia, Car Free Day tak hanya bebas dari asap kendaraan, tapi juga bebas asap rokok. Karena itu, pengukuhan area bebas asap rokok akan dikuatkan dengan Peraturan Daerah.
"Area Water Front City dari Alun-alun Kapuas sampai kawasan Pasar Kapuas akan ditata supaya enak untuk olahraga jalan kaki. Mudah-mudahan dalam dua tahun ke depan, sudah terwujud," katanya.
Sedianya, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alifian Mallarangeng akan hadir pada kegiatan itu. Namun, karena harus mendampingi Presiden SBY ke Lampung, Andi urung hadir.
Andi "mengutus" istrinya, Vitri Cahyaningsih Mallarangeng, untuk ke Pontianak. Tak hanya itu, ibunda Andi pun, Andi Asni Mallarangeng, turut serta.
Dari lingkungan Kementerian Olahraga, hadir Sekretaris Menteri Wahid Muharram. Wahid mengatakan, Menpora tetap berusaha berangkat ke Pontianak usai acara di Lampung.
Vitri Cahyaningsih mengatakan, Kota Pontianak merupakan tempat pertama di luar Jawa yang menggelar peluncuran Free Car Day. Di lingkungan kantor suaminya, ia dilibatkan menghidupkan kembali senam tiap Jumat.
"Suami saya, kalau tak ada rapat pagi, juga bersepeda ke kantor. Jarak rumah kami ke kantor sekitar 40 kilometer," ujar penggemar sop kepiting ini.
Sementara ibunda Menpora, Andi Asni, mengaku tak asing dengan Kota Pontianak. Anaknya yang merupakan adik Menpora, Andi Nina Mallarangeng, pernah bekerja sebagai Kepala Puskesmas di Mempawah.
"Saya sering ke sini, besan saya juga orang sini. Wah, Pontianak memang panas, ya," ujar wanita yang masih tampak bugar di usia 74 tahun.
Andi Mallarangeng sendiri tiba di Kota Pontianak menjelang pukul 15.00 WIB. Ia melantik pengurus B2W di Pendopo Gubernur.
Tak sekadar sepeda sebagai olahraga rekreasi, Andi menegaskan perlunya Kalbar mengembalikan kejayaan olahraga prestasi yang dulu pernah begitu bersinar.
"Saya ingin kita punya momentum kebangkitan olahraga nasional. Saya ingat sejak dulu, Kalbar menjadi gudangnya atlet balap sepeda. Kalbar mestinya kembali jadi gudang pebalap sepeda lagi," tegas Andi.
Kementerian yang dipimpinnya kini tengah membuat pemetaan olahraga unggulan di masing-masing daerah. Ia meminta virus bersepeda kembali menjalar di mana-mana, terutama kalangan anak-anak.
Andi menuturkan, olahraga bersepeda tak sebatas terkait sarana ke tempat kerja, atau pun rekreasi, tapi juga prestasi. Sambil juga memperjuangkan lingkungan yang bersih dan sehat karena bebas dari asap kendaraan.
Andi berbincang dengan pembalap sepeda Kalbar. Di antaranya Maruki Madsun yang pernah menyabet dua emas Asia, maupun pembalap wanita Secelia S Harly. Selain pembalap sepeda, ia juga berbincang dengan petinju Kalbar Daud Yordan, Yohanes Yordan, Damianus Yordan, dan beberapa petinju cilik.
Penyerapan Kalsium
Spesialis tulang RSUD Soedarso, dr Harry Fadjar SpOT, mengatakan, aktivitas bersepeda memiliki nilai aerobik yang cukup tinggi sekaligus low impact. Usia muda sampai tua sekalipun cocok menjalankan aktivitas ini.
"Bersepeda bisa menguatkan otot-otot dan dengan sendirinya keseimbangan badan lebih bagus. Tarikan otot setiap mengayuh pedal, mampu merangsang penyerapan kalsium lebih kuat," ujar Harry kepada Tribun, Minggu, di arena Free Car Day.
Harry tergabung dalam komunitas Teman Nunggu Teman (TNT), yakni sebuah kelompok lintas profesi dengan pilihan sepeda jenis mountain bike.
Penyerapan kalsium yang kuat, sangat baik untuk kesehatan tulang. Bagi kalangan orangtua, kegiatan bersepeda mampu membantu mencegah pengeroposan tulang.
Ia juga mengingatkan, mengayuh sepeda jangan secara tiba-tiba. Diperlukan pemanasan ringan, agar otot kaki yang melekat pada tulang tidak mengalami trauma. Apabila cara mengengkol benar, disesuaikan dengan geometri sepeda, cidera otot tak bakal terjadi. end/tribun pontianak)
Minggu, 10 Januari 2010
Cino Putar Video De Leon

* Jelang Perebutan Juara Dunia WBA
PONTIANAK, TRIBUN - Petinju kebanggan Kalbar, Daud "Cino" Yordan, optimistis mengalahkan mantan juara dunia kelas bantam super versi WBO asal Meksiko, Daniel Ponce De Leon.
Keduanya akan berlaga dalam pertarungan 12 ronde memperebutkan gelar juara dunia interim kelas bulu versi WBA di Mandalay Bay Resort, Nevada, Amerika Serikat, 30 Januari.
"Saya tidak menjanjikan KO. Tapi, kalau ada kesempatan, saya pasti melayangkan pukulan mematikan," kata Cino kepada Tribun, Minggu (3/1). Saat dihubungi melalui telepon, ia mengaku masih berada di Kabupaten Kayong Utara.
Optimisme Cino yang belum terkalahkan dalam 25 kali naik ring itu, bukan tanpa alasan. Cino mengungkapkan De Leon hanya menang reputasi karena pernah juara dunia. Namun, juara dunia yang diraihnya itu pun terkesan dipaksakan.
Soal skill, De Leon masih berada di bawah dua lawan yang pernah dihadapi Cino, Jose Antonio Meza (Meksiko) dan Robert Guerero (Amerika Serikat).
Cino yang menyandang titel Juara Tinju WBO Asia Pasifik Indonesia, menang angka mayoritas dari Antonio Mezza yang memegang gelar juara WBO wilayah Amerika Utara.
Pertarungan non-gelar 10 ronde yang digelar di Las Vegas, 13 September 2008, itu berakhir dengan skor 78-74, 78-74, dan 76-76.
Sementara melawan Robert Guerero, 8 Maret 2009, di The Tank Hall San Jose, California, pertandingan berakhir no contest karena terjadi benturan kepala (head butt). Ambisi Cino merebut gelar North American Boxing Organization (NABO) pun harus dilepas.
"Mengantisipasi benturan terulang, saya akan terapkan kick 'n run. Strategi ini juga untuk menghindari De Leon yang sangat senang bertarung jarak dekat dan terbuka," kata Cino.
Petinju kelahiran Simpang Hulu, 10 Juli 1987, itu menjelaskan, karakter petinju Meksiko adalah tahan pukul, bertarung jarak dekat, dan pantang menyerah.
"Untuk menghadapi petinju berkarakter demikian, saya akui masih kesulitan. Tapi, saya sudah belajar bagaimana mengatasinya," ujarnya.
Untuk menutup kekurangannya itu, Cino mengaku latihan di Kayong Utara diarahkan untuk membentuk fisik dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Di antaranya dengan berlari setiap hari antara 30-40 menit, hall back, pukul sansak, hingga bertarung puluhan ronde. "Tidak ada persiapan yang terlalu khusus. Biasa saja," tegasnya.
Mengetahui kemampuan De Leon menjadi keharusan. Untuk itu, Cino sudah sudah menyaksikan berulang-ulang empat video pertarungan De Leon. Hasilnya, ia mengaku tidak kaget dengan apa yang ditunjukkan lawannya tersebut.
"De Leon punya kelamahan. Dia tidak pintar mengantisipasi counter attack atau pukulan balasan. Sementara untuk counter attack, saya sangat ahli. Ini yang akan saya kembangkan," papar Cino yang dijuluki Raja KO ini.
Namun, meski sudah mengetahui kekuatan dan kelemahan De Leon, Cino menilai kalau setiap menghadapai lawan tetap dibutuhkan kesabaran, kerja keras, dan doa.
Karena itulah, ia mengharapkan doa dari masyarakat Kalbar agar ia bisa memberikan yang terbaik. "Doakan juga semoga jadwal pertandingannya tidak berubah. Ini belum fix 100 persen. Biasalah, dalam dunia tinju semua bisa berubah. Bersiap boleh, pasti belum tentu," ujarnya.
Ia mengaku baru menerima jadwal awal, belum ada konfirmasi terakhir dari Golden Boy Promotion. Tapi, kemungkinan besar dalam pekan ini. Termasuk soal dokumen pertandingan, visa, dan lain sebagainya. "Kalau sudah mengantongi jadwal awal, biasanya jadi," katanya.
Disinggung soal target berikutnya jika memenangi pertarungan melawan De Leon, Cino menegaskan ada satu orang yang sangat ingin ia hadapi.
"Ada satu nama. Tapi, off the record dulu yach," tegasnya. Dimintai bocoran soal petinju itu dari negara dan di kelas apa, Chino hanya berseloroh. "Ada aja." (hsm)
Rabu, 23 Desember 2009
Komunitas Sepeda Tua, Iklan Motor, dan Momentum Hari Ibu

Oleh: Fahmi Saimima, Sekjen KOSTI
Jakarta - Semakin hari kesadaran orang akan seriusnya ancaman perubahan iklim yang dipicu oleh pemanasan global semakin besar. Dalam situasi ini tanggung jawab harus ada pada setiap negara, setiap pihak, bahkan setiap orang. Semua harus berjuang keras secara simultan untuk mengurangi dampaknya yang semakin nyata.
Kita memang tidak mungkin menghindari teknologi. Tetapi, teknologi yang lebih kontekstual dengan situasi terkini harus dicari. Teknologi tidak boleh membutakan diri dari kenyataan bumi kita yang makin menua. Pabrik dan produk-produk bermesin termasuk mobil dan sepeda motor harus berjuang mengurangi emisi karbon, menggunakan bahan bakar sehemat dan seaman mungkin, sambil terus mencari bahan bakar alternatif.
Seiring dengan itu berbagai komunitas dengan gerakan cinta lingkungan pun terus menyerukan untuk merevisi gaya hidup agar lebih hemat energi, mencegah polusi, dan sebagainya. Salah satunya adalah Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) yang kehadirannya segera mendapat sambutan sangat baik di seantero Nusantara.
Besarnya animo masyarakat untuk kembali bersepeda pada perjalanan jarak dekat (dalam kota) ini telah direspon oleh beberapa Pemerintah Daerah dengan disediakannya jalur khusus sepeda. Kesungguhan ini semestinya mendapatkan support sehingga menjadi salah satu langkah efektif mengantisipasi dampak global warming tersebut.
Sehubungan dengan masalah ini kami atas nama KOSTI tidak merasakan adanya support positif dari sebuah perusahaan sepeda motor atas gerakan cinta lingkungan yang kami perjuangkan. Terutama saat menyaksikan tayangan iklan produk dalam rangka menyambut Hari Ibu.
Di sana digambarkan sosok Ibu yang begitu menderita --dengan ukuran sangat subyektif, karena masih menggunakan sepeda onthel. Lalu, "langkah mulia" yang dilakukan Sang Anak untuk membebaskan Sang Ibu dari penderitaan. Sekaligus sebagai tanda baktinya adalah membelikan Si Ibu sebuah sepeda motor baru.
Dalam pandangan kami iklan ini hanya melakukan pendekatan sepihak dan menafikan sisi positif bersepeda serta sisi negatif bersepeda motor. Terutama dalam kaitan perjuangan mengantisipasi dampak global warming yang semestinya menjadi tanggung jawab kita bersama.
Kasih sayang yang menjadi tema sentral pada momentum Hari Ibu lebih membutuhkan ekspresi kualitatif. Sebuah agency yang baik semestinya mampu mengekspresikan semangat perusahaan sepeda motor itu dengan pola ungkap yang tepat tanpa harus terjebak kepada perbandingan 'head to head' antara sepeda motor yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang begitu bernilai dengan sepeda yang dipersepsikan sebagai simbol penderitaan.
Atas penayangan iklan tersebut dengan ini kami menyatakan keberatan sekaligus menyampaikan himbauan untuk menghentikan penayangannya. Karena, akan sangat kontraproduktif bagi perjuangan kami menyelamatkan lingkungan hidup dengan kembali bersepeda.
Sebagai sesama penghuni bumi ini marilah kita bekerja sama, bahu-membahu, demi menjaga lingkungan agar tetap kondusif sebagai tempat kita tinggal hingga generasi anak-cucu kelak. (Tulisan Dari Noereska - Yogya) Keberatan bersama disampaikan pula dari Komunitas B2W Indonesia dan Bikepackers Indonesia. Terima kasih.
Link terkait: http://sepeda.wordpress.com/2009/12/16/bagaimana-komentar-ontelis/
http://www.sepedaku.com/forum/showtread.php?t=24676
Iklan di: http://www.youtube.com/watch?v=_pFznRBIbvU
Diambil dari detik.com
Fahmi Saimima
Vila Tomang Baru Blok F11 No 15 Tangerang
kosti@asia.com
08567262750
Kamis, 17 Desember 2009
Harley Davidson WLC, Kagak Jodoh
Dapat si Villiers dalam keadaan mengenaskan. Tidak disangka-sangka. Saya pernah keliling pedalaman Kalbar hanya untuk mencari motor antik. Ada informasi sedikit saja saya pasti berangkat. Termasuk bela-belain izin dari kantor yang lama.
Daerah Bengkayang, Sanggau, Sintang, Singkawang, dan Ngabang pernah saya telusuri. Ada sih motor tua tapi, kebanyakan Jepang. Itupun tidak tua-tua amat. Paling banter Suzuki GT 125, GT 380, CB 125, dan Binter "KZ 200" Mercy.
Untuk Binter Mercy, saya sempat menemukan beberapa motor untuk anak-anak Black Jack, yang notabene pegila motor Chopper di Pontianak. Bahkan di Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, saya menemukan Mercy 250 cc. Seumur-umur saya baru pertama itu melihat jeroan mesin Mercy dan tertulis 250 Cc.
Sangat sulit menemukan motor-motor tua buatan Eropa di Kalbar. Informasi yang saya terima dari beberapa rekan yang sampai saat ini belum membuahkan hasil di antaranya adalah ada motor tua teronggok ditumpuk bersama sabuk kelapa (Batu Buil, Sintang), BSA M21 (Sompak, Ngabang), Norton zespan (Sanggau, keuskupan), HD WLC (Entikong, keuskupan), BSA Twin (Sanggau Permai, Sanggau), BSA C11 250 cc (Sintang), BSA 250 cc (Jeruju, Pontianak), dan terakhir HD WLC serta NSU Quicky (Pontianak).
Dicari kesana-ke sini, rupanya hanya HD WLC, NSU Quicky (Pontianak) dan BSA C11 250 cc Sintang yang infonya valid. Sayang untuk BSA C11, harganya tidak cocok. Sementara untuk HD WLC dan NSU Quicky Pontianak, sudah beberapa kali saya tawar tidak mau dilepas.
Cukup lama saya bersabar menunggu agar HD WLC bisa saya tebus. Hampir tiga tahunan saya tunggu. Selama itu, beberapa kali saya ke rumah yang punya. Namun, tetap tidak di jual. Motor dalam kondisi lengkap dan orisinil, malah masih ada bensin di tangkinya.
Di simpan di sebuah garasi yang terbuat dari kayu di depan rumah. Saking beratnya si HD, garasi itu miring tidak mampu menahan beban. Saya sendiri heran, ternyata ada WLC 750 CC di Kalbar. Kabarnya ada dua WLC, yang satu punya Pak Mal anggota Motorhead. Namun, saat motor sudah sehat dan dibawa jalan-jalan, ada PM yang menahannya. Motor buatan Amerika itu pun hingga kini tidak ada kabar beritanya. Konon kini WLC itu sudah dimiliki seorang anak jenderal di Jakarta.
Sekilas pasti tidak ada yang menyangka, rumah tua yang seluruhnya terbuat dari kayu itu, dan ada di pemukiman nyaris kumuh, ada harta karun tidak terhingga. Ya..warisan otomotof dunia yang banyak diincar pegila motor tua. Apalagi motor dalam kondisi yang orisinil pula. Bahkan, katanya motor yang sudah ditinggal pergi pemiliknya itu, sempat hidup dan dipakai keliling kampung.
Sambil menunggu pemiliknya ikhlas ditebus rupiah, saya tidak menyangka bertemu Villiers 200 Cc. Belakangan, setelah Villiers hidup, saya terpaksa menjualnya karena butuh uang untuk tambah-tambah membeli rumah. Sedih sih sedih, tapi hanya itu pilihannya. Apalagi masih ada harapan bisa memiliki HD WLC yang saya impikan siang malam.
Belakangan saya baru merasakan betapa tidak enaknya hidup tidak mengelus, melihat, dan menaiki motor antik. Hampa, tak bersemangat, seperti sebagian dari jati diri saya hilang entah kemana. Apalagi melihat rekan-rekan lainnya konvoi dan touring, plus kumpul bareng waktu ada acara temu bikers.
Sejak bekerja saya memang sudah akrab dengan motor tua. Diawali dengan Vesva Super 1966, kemudian Sprint 1978, Binter Mercy 1981, Binter Mercy Cobra 1984, dan Suzuki GT 125 Cc. Disusul Villiers 200 Cc. Saya hanya berdoa sambil sedikit-sedikit berupaya bisa memiliki motor Eropa lagi. Motor yang saya impikan adalah BMW R25 dan BSA B31 350 Cc. Buat brother yang baca tulisan ini, doain yah he he he he..biar cepat terkabul! Amin.
Di tengah asa memiliki WLC 750 Cc, saya kembali menelan kekecewaan. Sebulan lalu, saya mampir lagi ke rumah tersebut. Tentu saja untuk kembali menanyakan apakah motor itu akan dijual atau tidak. Saya kaget karena di garasi hanya ada Honda Supra 125.
WLC sudah tidak ada lagi! Yang punya rumah menuturkan motor itu sudah dijual. Ia enggan menyebut harganya. Hanya, ia bilang disamping uang tunai, Supra 125 itu juga untuk alat tukar si Tujuh Setengah. Sampai sekarang saya tidak tahu siapa yang akhirnya menjadi orang paling beruntung di dunia itu. Yang saya tahu, perasaan saya mirip lagunya Olga Syahputra...hancur hancur haaatiku!
Sabtu, 24 Oktober 2009
Menjemput Maut
Oleh: Hasyim Ashari
Pada parak pagi, Aku terbangun. Terperanjat mendapati api sudah berkobar di mana-mana. Sebentar melompat ke dinding, sejurus kemudian menerjang lemari pakaian. Meninggalkan baramerah di daun pintu. Sisanya mengapit langit-langit. Kemudian jatuh melelehkan lantai.
Sedang kasurku yang usang, entah kenapa lidah api enggan menjilatnya. Kecuali kepekatan asap yang mulai menusuk tulang iga. Sangit yang menggigit, menuntunku menembus bara yang menggetarkan raga.
Mendatangkan tanya yang berkecamuk. Apa gerangan yang sedang terjadi. Mengapa semuanya sekian berubah. Padahal, semalam masih kulihat sebaris harapan. Berpendar bersama gemintang di keluasaan cakrawala. Sejenak setelah ayah menyanjungku.
"Ayah mengeluarkan dua juta sperma ketika ereksi. Dari jumlah itu, hanya seratus ribu yang selamat. Dan kau satu-satunya yang berhasil bertemu indung telur di rahim ibumu. Sebelum lahir, kau sudah memenangkan pertarungan besar. Jadi jangan sia-siakan hidupmu. Hasilkanlah sebanyak mungkin uang, karena dengan uang kau bisa membeli segalanya. Untuk itu, melanggar prinsip sesekali, tidak apa. Dan jika seseorang mempercayaimu, terimalah dengan jiwa besar. Karena tanpa itu, kau bukan siapa-siapa," kata-kata ayah seperti wasiat.
Dan iapun menutup ceritanya dengan menegaskan dirinya tidak tidur saat aku dilahirkan.
"Ayah manapun akan melakukan hal serupa. Sebuah keajaiban, menemanimu melihat dunia untuk pertama kali. Kau adalah pelipur perih ayah setelah kehilangan pekerjaan," ujarnya.
Kemudian, aku lelap dalam dekapan malam. Dengan angan mengembang, asa yang menyala-nyala dan cita-cita yang mengangkasa. Tapi pagi ini, hanya aroma kematian yang menyeruak. Bergerak di puncak ilalang yang mulai tegak.
Pada api yang tidak lagi jinak. Aku beringsut, mencoba duduk. "Kau sudah bangun, Anakku. Sini dekat ayah," suaranya bergetar datar.
Aku segera meruap meraih sisi lengannya yang perkasa. Kupenuhi gerak dengan gurat isyarat. Bahwa bayang ketakutan datang entah darimana. Meracun nafasku, hingga tarik alirnya tersengal-engah.
Ayah menghela nafas. Berat, dalam dan tersendat. Bukan karena asap yang mulai pekat. Tapi seperti dihimpit beban dahsyat. Dan dibiarkannya tetap begitu. Sesaat, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Berhenti menumbuk mataku.
Tapi keteduhan di wajahnya itu, seolah luluh runtuh. Ada semacam senyuman yang tidak jadi. Yang isinya cukilan misteri yang sukar kupahami. Entah bagaimana, aku merasa maut sedang bertengger di matanya. Memburu nadinya. Mengoyak belulangnya. Menohok jantungku sendiri.
Dalam sekejap kematian yang tertutup rapat, kini ikhwal yang terbentang gamblang. Sedang aku berubah ciut. Seperti guratan fajar yang membentuk bayang kehitaman cecabang pohon-pohon perdu di halaman belakang.
Aku tahu pasti akan mati. Yang tetap tidak kuketahui adalah, akan kemanakah kematian membawa ayah, membawa jiwaku serta. Adakah menjelma sebentuk burung Srigunting, di kehidupan selanjutnya. Yang menukik menyambar perjalanan hidupku yang singkat.
Atau aku akan berserak serupa debu. Melayang di semesta purba. Untuk kemudian tersesat dan menetap entah di tubuh siapa. Atau, aku tidak akan terlahir kembali. Hanya Mati saja. Dan siklus transendensi, berhenti. Titik. Dengan begitu tugas laki-laki sejati tidak pernah tuntas. Aku gagal membangun dinasti untuk orang-orang yang kucintai.
Tujuh belas hari yang lalu. Usai menerima surat merah jambu yang lusuh dan berdebu. Ayah seperti mayat di keranda. Diam dan dingin. Yang tersisa dari seluruh waktunya hanya kemarahan yang dipendam. Kesedihan dan kegamangan yang menjurang. Keputusasaan yang menenggelamkan keajaibannya sebagai suami, sebagai ayah dan sebagai dirinya sendiri. Ohh dimanakah cinta. Bukankah cinta adalah naluri manusia yang paling hakiki. Tanpanya, bagaimana melintasi senja.
Meski udara mulai menipis. Bahkan panas kian mengganas. Aku tidak berani bertanya. Sampai ayah memutuskan berbicara. Dengan cerita tanpa kata. Sebab putus oleh derita. Dalam kamar yang semakin membara. Penuturannya lara.
"Jika waktunya tiba, kejarlah gadis-gadis yang menarik. Jaga dan perlakukan mereka seperti putri raja. Karena memang begitulah adanya mereka. Jangan ulangi kesalahan ayah," Ayah menutup bibirnya dengan gigi bergeretak.
Di matanya terlihat mendung dan petir yang siap mengubahnya menjadi hujan. Wajahnya berpaling ke arah bantal berwarna biru, yang dibelinya untuk melamar ibu. Sepuluh tahun yang lalu.
Ayah benar-benar menangis. Tanpa air mata. Sebab kering terseka tebaran bara.
Ibu. Sosoknya seperti sebuah masa lalu. Bagai kilatan gambaran di kepala. Muncul begitu saja, lalu meruap entah kemana.
Tapi begitu nyata. Sebab kurasa emosi. Seperti ketika aku ingin menikam ayah, karena hanya diam. Diam dalam api yang sekam. Diam membiarkan ibu menghilang. Dari hari-hariku yang masih panjang. Dulu, dulu sekali. Ketika sebuah bisikan lembutnya, mengabarkan kalau usiaku menginjak 3 tahun. Tepat ketika ayam berkokok, ibu mengecup bibirku, mengusap rambutku.
"Jagoan ibu, jangan nakal yah."
Sosok elok itu dengan langkah sedikit berpaling, pergi menjinjing tas besar berwarna hitam. Lalu sirna bersama bus antar negara. Meninggalkan aku yang meronta di pelukan ayah. Aku kehilangan kecantikannya.
Ibuku memang cantik. Ayu sekali. Seperti penjelmaan dewi dan bidadari. Hatinya seperti peri. Rahangnya indah. Wajahnya dipenuhi taman bunga. Matanya embun cemara. Kalau tertidur, ia seperti berbicara banyak hal.
Entah bagaimana kalau ia bangun. Ibu memang hanya bangun kalau hendak menyusuiku. Selebihnya ia tidur dengan senyuman senja musim hujan. Begitulah, tidak ada yang menandingi naturalnya cinta.
Sangit sudah di mana-mana. Api semakin cepat saja merambat. Di luar, terdengar hiruk pikuk para tetangga. Kuyakin mereka kalang kabut. Sebab pagi ini bukan dipenuhi kabut, tapi api yang melaut. Aku dan ayah masih berdekapan. Duduk di atas tempat tidur. Bersandar pada dinding yang tidak lagi dingin.
"Baruna. Ini surat yang dikirim ibumu. Bacalah, agar kau tidak lagi bertanya, mengapa pagi ini semuanya bara,"
Belum sempat aku menjamahnya, atap rumah tiba-tiba runtuh. Jatuh tepat di sampingku. Baramerah berpencar seperti kembang api. Arang dan asap pekat. Aku tergagap. Dekapan ayah terlepas.
Surat di genggamanku terlontar dan terbakar. Sejurus kemudian, sepraiku yang dekil, berkobar. Lidah-lidah api mengejar dan menjalar dengan sangar. Aku masih melihat ayah menggelepar. Selain nyawanya yang meregang, seluruh tubuhnya adalah api. Tapi keperkasaannya bangkit dan berontak.
"Tuhan. Sudah kuputuskan, kalau kematian menjadi jalanku. Tempat dimana aku bisa berkehendak untuk berkuasa. Kematian akan menjadi kuasaku. Bukan kuasa-MU lagi. Kini akulah Sang Dalang. Akan kubuat Kau tergamam, mungkin juga sekian sedih. Bukankah begitu kau permainkan kami. Kau buat kami menangis, lain waktu Kau buat kami tertawa. Kini, lihatlah baik-baik. Aku, hamba-Mu yang taat, hamba-Mu yang dibalut taubat, akan tersayat. Lumat oleh hasrat. Hasrat untuk membunuh-Mu. Karena Kau sudah membiarkan, kehormatan istriku dikoyak majikan murtad. Karena Kau tidak berbuat apa-apa ketika kepala istriku pecah, terjun dari apartemen berlantai tujuh. Bangsaat! Keluarlah Kau Tuhan. Hadapi kuasaku,"
Dalam asap yang menggulung, ayah terhuyung. Terjerembab di tepi tempat tidur. Aku beringsut. Tapi ayah berhasil menggapai dan mendekapku. Dalam sekejap, api meraih rambut, wajah dan kulitku. Tapi aku malah menggigil kedinginan.
Kurasa maut segera menjelang. Datang bersama ibu yang kurindu. Dan kematian jadi begitu membahagiakan. Bersahaja dan baka. Seperti kehidupan, aku menanti kematian kembali setiap fajar. Juga ketika senja kala. Sebab kematian adalah selapis emas yang sedih.
Atau mungkin enigma tak bertepi. Aku tidak pernah sampai menyentuh dasar maknanya. Kecuali aku hanya bocah dengan keterbelakangan mental seumur hidup. Yang dibesarkan oleh kecewa. Yang kehadirannya ditolak oleh cinta.
Sungai Jawi, April 2005
Pada parak pagi, Aku terbangun. Terperanjat mendapati api sudah berkobar di mana-mana. Sebentar melompat ke dinding, sejurus kemudian menerjang lemari pakaian. Meninggalkan baramerah di daun pintu. Sisanya mengapit langit-langit. Kemudian jatuh melelehkan lantai.
Sedang kasurku yang usang, entah kenapa lidah api enggan menjilatnya. Kecuali kepekatan asap yang mulai menusuk tulang iga. Sangit yang menggigit, menuntunku menembus bara yang menggetarkan raga.
Mendatangkan tanya yang berkecamuk. Apa gerangan yang sedang terjadi. Mengapa semuanya sekian berubah. Padahal, semalam masih kulihat sebaris harapan. Berpendar bersama gemintang di keluasaan cakrawala. Sejenak setelah ayah menyanjungku.
"Ayah mengeluarkan dua juta sperma ketika ereksi. Dari jumlah itu, hanya seratus ribu yang selamat. Dan kau satu-satunya yang berhasil bertemu indung telur di rahim ibumu. Sebelum lahir, kau sudah memenangkan pertarungan besar. Jadi jangan sia-siakan hidupmu. Hasilkanlah sebanyak mungkin uang, karena dengan uang kau bisa membeli segalanya. Untuk itu, melanggar prinsip sesekali, tidak apa. Dan jika seseorang mempercayaimu, terimalah dengan jiwa besar. Karena tanpa itu, kau bukan siapa-siapa," kata-kata ayah seperti wasiat.
Dan iapun menutup ceritanya dengan menegaskan dirinya tidak tidur saat aku dilahirkan.
"Ayah manapun akan melakukan hal serupa. Sebuah keajaiban, menemanimu melihat dunia untuk pertama kali. Kau adalah pelipur perih ayah setelah kehilangan pekerjaan," ujarnya.
Kemudian, aku lelap dalam dekapan malam. Dengan angan mengembang, asa yang menyala-nyala dan cita-cita yang mengangkasa. Tapi pagi ini, hanya aroma kematian yang menyeruak. Bergerak di puncak ilalang yang mulai tegak.
Pada api yang tidak lagi jinak. Aku beringsut, mencoba duduk. "Kau sudah bangun, Anakku. Sini dekat ayah," suaranya bergetar datar.
Aku segera meruap meraih sisi lengannya yang perkasa. Kupenuhi gerak dengan gurat isyarat. Bahwa bayang ketakutan datang entah darimana. Meracun nafasku, hingga tarik alirnya tersengal-engah.
Ayah menghela nafas. Berat, dalam dan tersendat. Bukan karena asap yang mulai pekat. Tapi seperti dihimpit beban dahsyat. Dan dibiarkannya tetap begitu. Sesaat, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Berhenti menumbuk mataku.
Tapi keteduhan di wajahnya itu, seolah luluh runtuh. Ada semacam senyuman yang tidak jadi. Yang isinya cukilan misteri yang sukar kupahami. Entah bagaimana, aku merasa maut sedang bertengger di matanya. Memburu nadinya. Mengoyak belulangnya. Menohok jantungku sendiri.
Dalam sekejap kematian yang tertutup rapat, kini ikhwal yang terbentang gamblang. Sedang aku berubah ciut. Seperti guratan fajar yang membentuk bayang kehitaman cecabang pohon-pohon perdu di halaman belakang.
Aku tahu pasti akan mati. Yang tetap tidak kuketahui adalah, akan kemanakah kematian membawa ayah, membawa jiwaku serta. Adakah menjelma sebentuk burung Srigunting, di kehidupan selanjutnya. Yang menukik menyambar perjalanan hidupku yang singkat.
Atau aku akan berserak serupa debu. Melayang di semesta purba. Untuk kemudian tersesat dan menetap entah di tubuh siapa. Atau, aku tidak akan terlahir kembali. Hanya Mati saja. Dan siklus transendensi, berhenti. Titik. Dengan begitu tugas laki-laki sejati tidak pernah tuntas. Aku gagal membangun dinasti untuk orang-orang yang kucintai.
Tujuh belas hari yang lalu. Usai menerima surat merah jambu yang lusuh dan berdebu. Ayah seperti mayat di keranda. Diam dan dingin. Yang tersisa dari seluruh waktunya hanya kemarahan yang dipendam. Kesedihan dan kegamangan yang menjurang. Keputusasaan yang menenggelamkan keajaibannya sebagai suami, sebagai ayah dan sebagai dirinya sendiri. Ohh dimanakah cinta. Bukankah cinta adalah naluri manusia yang paling hakiki. Tanpanya, bagaimana melintasi senja.
Meski udara mulai menipis. Bahkan panas kian mengganas. Aku tidak berani bertanya. Sampai ayah memutuskan berbicara. Dengan cerita tanpa kata. Sebab putus oleh derita. Dalam kamar yang semakin membara. Penuturannya lara.
"Jika waktunya tiba, kejarlah gadis-gadis yang menarik. Jaga dan perlakukan mereka seperti putri raja. Karena memang begitulah adanya mereka. Jangan ulangi kesalahan ayah," Ayah menutup bibirnya dengan gigi bergeretak.
Di matanya terlihat mendung dan petir yang siap mengubahnya menjadi hujan. Wajahnya berpaling ke arah bantal berwarna biru, yang dibelinya untuk melamar ibu. Sepuluh tahun yang lalu.
Ayah benar-benar menangis. Tanpa air mata. Sebab kering terseka tebaran bara.
Ibu. Sosoknya seperti sebuah masa lalu. Bagai kilatan gambaran di kepala. Muncul begitu saja, lalu meruap entah kemana.
Tapi begitu nyata. Sebab kurasa emosi. Seperti ketika aku ingin menikam ayah, karena hanya diam. Diam dalam api yang sekam. Diam membiarkan ibu menghilang. Dari hari-hariku yang masih panjang. Dulu, dulu sekali. Ketika sebuah bisikan lembutnya, mengabarkan kalau usiaku menginjak 3 tahun. Tepat ketika ayam berkokok, ibu mengecup bibirku, mengusap rambutku.
"Jagoan ibu, jangan nakal yah."
Sosok elok itu dengan langkah sedikit berpaling, pergi menjinjing tas besar berwarna hitam. Lalu sirna bersama bus antar negara. Meninggalkan aku yang meronta di pelukan ayah. Aku kehilangan kecantikannya.
Ibuku memang cantik. Ayu sekali. Seperti penjelmaan dewi dan bidadari. Hatinya seperti peri. Rahangnya indah. Wajahnya dipenuhi taman bunga. Matanya embun cemara. Kalau tertidur, ia seperti berbicara banyak hal.
Entah bagaimana kalau ia bangun. Ibu memang hanya bangun kalau hendak menyusuiku. Selebihnya ia tidur dengan senyuman senja musim hujan. Begitulah, tidak ada yang menandingi naturalnya cinta.
Sangit sudah di mana-mana. Api semakin cepat saja merambat. Di luar, terdengar hiruk pikuk para tetangga. Kuyakin mereka kalang kabut. Sebab pagi ini bukan dipenuhi kabut, tapi api yang melaut. Aku dan ayah masih berdekapan. Duduk di atas tempat tidur. Bersandar pada dinding yang tidak lagi dingin.
"Baruna. Ini surat yang dikirim ibumu. Bacalah, agar kau tidak lagi bertanya, mengapa pagi ini semuanya bara,"
Belum sempat aku menjamahnya, atap rumah tiba-tiba runtuh. Jatuh tepat di sampingku. Baramerah berpencar seperti kembang api. Arang dan asap pekat. Aku tergagap. Dekapan ayah terlepas.
Surat di genggamanku terlontar dan terbakar. Sejurus kemudian, sepraiku yang dekil, berkobar. Lidah-lidah api mengejar dan menjalar dengan sangar. Aku masih melihat ayah menggelepar. Selain nyawanya yang meregang, seluruh tubuhnya adalah api. Tapi keperkasaannya bangkit dan berontak.
"Tuhan. Sudah kuputuskan, kalau kematian menjadi jalanku. Tempat dimana aku bisa berkehendak untuk berkuasa. Kematian akan menjadi kuasaku. Bukan kuasa-MU lagi. Kini akulah Sang Dalang. Akan kubuat Kau tergamam, mungkin juga sekian sedih. Bukankah begitu kau permainkan kami. Kau buat kami menangis, lain waktu Kau buat kami tertawa. Kini, lihatlah baik-baik. Aku, hamba-Mu yang taat, hamba-Mu yang dibalut taubat, akan tersayat. Lumat oleh hasrat. Hasrat untuk membunuh-Mu. Karena Kau sudah membiarkan, kehormatan istriku dikoyak majikan murtad. Karena Kau tidak berbuat apa-apa ketika kepala istriku pecah, terjun dari apartemen berlantai tujuh. Bangsaat! Keluarlah Kau Tuhan. Hadapi kuasaku,"
Dalam asap yang menggulung, ayah terhuyung. Terjerembab di tepi tempat tidur. Aku beringsut. Tapi ayah berhasil menggapai dan mendekapku. Dalam sekejap, api meraih rambut, wajah dan kulitku. Tapi aku malah menggigil kedinginan.
Kurasa maut segera menjelang. Datang bersama ibu yang kurindu. Dan kematian jadi begitu membahagiakan. Bersahaja dan baka. Seperti kehidupan, aku menanti kematian kembali setiap fajar. Juga ketika senja kala. Sebab kematian adalah selapis emas yang sedih.
Atau mungkin enigma tak bertepi. Aku tidak pernah sampai menyentuh dasar maknanya. Kecuali aku hanya bocah dengan keterbelakangan mental seumur hidup. Yang dibesarkan oleh kecewa. Yang kehadirannya ditolak oleh cinta.
Sungai Jawi, April 2005
Jumat, 09 Oktober 2009
Mananggar

Oleh: Hasyim Ashari
Dia satu-satunya lelaki yang tahu, bagaimana menyentuh hatiku dengan benar. Kharismanya berpendar, bersama tutur sapanya yang mutiara. Mengobati dahagaku dari reguk cinta yang sempurna.
Ia pernah memberiku setangkai mawar. Hanya karena hari itu adalah hari kamis. Romantis, manis. Menerima hadiah bukan karena kita sedang merayakan sesuatu. Sementara hasratnya, bisa membakar gairah yang sudah lama mati sekalipun. Tanpa diminta, ia sudah mengerti apa yang diinginkan seorang istri.
Sebelum kami saling mendekap dengan peluh yang melaut, langit-langit runtuh, kasur dan guling jebol, diterjang gelombang kasmaran. Oooh….!! Begitu dasyat. Selalu dasyat. Kelembutan, keindahan dan kasih sayang. Semua kudapatkan. Sebelum kemudian ajal mengakhiri segalanya.
Aku sedang mengiris mangga muda. Tiba-tiba ambulance meraung mengabarkan kematian. Auranya menebar kengerian. Membangkitkan bulu roma. Senja yang gerimis menjadi miris. Aku terperanjat.
Di luar orang mengetuk pintu. Suaranya terdengar seperti malaikat maut. Darahku berdesir, menyambar-nyambar seperti petir. Kecuali putih yang kulihat, kemudian semuanya menjadi gelap.
Aku pingsan. Tak kuasa memandang wajahnya pasi, bibirnya terkatup dan jemarinya tanpa geming. Entrapment berupa air deras yang datang tiba-tiba di buritan, gagal ditaklukannya. Perahu karetnya terhempas. Arus hole menggulungnya. Suamiku kehabisan nafas. Suamiku tewas.
Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Tapi kenyataan ini, sungguh tak terbantahkan. Aku tenggelam dalam linangan air mata yang melaut. Membayangkan harus menghabiskan separuh usia tanpa dirinya.
Kesedihan mengurungku. Hujan do'a sekalipun tidak mampu menyejukkan. Kehilangan menjadi kewajiban yang amat menyakitkan. Waktu telah mengubah segala-galanya. Meski hati kurebahkan pada tabah, tapi tetap terasa berat. Berat, karena aku harus belajar hidup lagi.
Sementara gerbang kematian menawarkan ruang maha lega. Jika bukan karena kandunganku, pasti sudah kuturut suamiku. Dengan mata pisau tertancap di ulu hati. Tentu saja.
"Sarah..adakah kau rindu pada bebatuan yang bertebaran, arus yang mendebarkan, deretan pohon-pohon Tengkawang, kicau Burung Tingkil dan angin yang mendesir tenang. Sungguh, layaknya harmoni mahakarya. Sebuah kedamaian yang memberi semua pengertian. Sayang, izinkan aku ke Mananggar. Lusa aku kembali. Aku menyayangimu. Jika bukan karenamu, aku tidak akan bisa berdiri tegar sampai hari ini. Tapi aku juga membutuhkan Mananggar," itulah kalimat terakhir yang kudengar, dari bibirnya yang mengobati lara. Ia kemudian menyambar perahu karet, pelampung, padle, helm dan sandal gunung.
Mananggar dan suamiku. Keduanya seperti lahir dan ditakdirkan untuk tidak terpisahkan. Suamiku telah jatuh cinta kepada panorama air terjun bertingkat tujuh itu. Bahkan sebelum keduanya dipertemukan oleh pandangan pertama.
Wajar. Sebab di tubuh Mas Doni mengalir darah petualang. Sedang Mananggar menanti ditaklukkan. Alurnya yang menganak sungai, memiliki arus bolak-balik yang unik. Karena itu, suamiku rela menempuh perjalanan 200 kilometer.
Sebulan dua kali ia rela bergegas meninggalkan Pontianak menuju Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak. Katanya, Mananggar telah banyak mengajarkan kebijaksanaan. Alam memiliki philosofi sendiri tentang hidup dan kematian.
"Bayangkan. Ukuran kita dibanding perbukitan itu, sungai-sungai itu, hamparan sabana itu, ribuan pepohonan itu. Kita hanya partikel terkecil dari cakrawala. Bahkan jika kita matipun, tak mempengaruhi semesta. Waktu tetap berputar. Melahirkan jiwa-jiwa yang lapar. Berkaca dari itu, bukankah tidak ada masalah besar dalam kehidupan manusia. Yang ada hanya masalah kecil yang belum ditemukan solusinya," kata suamiku ketika aku dibawanya serta, suatu ketika. Menutupi galau di hatinya.
Sebenarnya aku kuatir. Tapi tak kuasa menolak inginnya. Aku mencoba memahami perasaannya. Sebelas tahun menunggu momongan, tentu membuatnya lelah. Penantian tak berujung mengantarnya ke puncak putus asa. Sudah habis rasanya seluruh upaya.
Dari konsultasi ke dokter spesialis kandungan, berobat ke paranormal, hingga mencoba berbagai obat tradisional. Hasilnya, kami belum juga memiliki keturunan. Aku berharap, rafting membawanya ke dunia yang lain. Dunia dimana hanya ada keindahan dan ketakjuban. Sehingga pikiran tentang buah hati, tidak terlalu menyiksanya.
Benar. Setiap kembali ke rumah, selalu saja cinta yang dibawanya pulang. Berbinar dan terang benderang.
Sebelum kepergiannya ke Mananggar, sebenarnya aku sudah hamil satu bulan. Tapi sengaja kubungkus kabar ini rapat-rapat, sebagai kado ulang tahunnya yang ke-37. Kubayangkan wajahnya keharuan, penuh sukacita. Dia menjadi bapak dan tugasku lengkap sebagai wanita. Rumah kami sesak oleh tangis dan tawa si kecil kelak.
Sebuah keluarga bahagia seperti yang selalu kubaca di majalah-majalah wanita. Tapi ternyata kematian datang lebih cepat. Membuyarkan mimpi-mimpi indah, yang belum selesai itu. Bahwa kematian mengekalkan cinta, aku tidak tahu. Yang kutahu, kematian hanya akan menjadi debu dalam ruang-ruang hampa milik kita. Jadi lupakan kematian. Lebih cepat lebih baik.
Sudah seratus hari Mas Doni meninggalkan kami. Aku dan bayi dalam perutku. Kami jadi terbiasa. Tadi malam, aku seperti mendengar suaranya lagi. Layap-layap. Jauh, sangat jauh. Tapi begitu jelas. Suaranya datang membawa dingin yang sangat. Seolah ingin menyerap seluruh energi panas yang ada di dalam kamar. Tubuhku sampai menggigil.
"Temui aku di Mananggar..temui aku di Mananggar. Sebelum purnama sempurna," kata-katanya kemudian hilang ditelan fajar.
Meski terlalu nyata untuk sebuah mimpi, Aku tidak perduli. Sampai malam berikutnya, suara itu terdengar lagi. Dengan pesan serupa. Bahkan ketika aku sedang terjaga.
Aku masih memegang kemudi Daihatsu Feroza. Menyusuri jalan berbatu. Tidak terasa, aku sudah merambati Mananggar. Geli rasanya, datang ke sini hanya karena sebuah alasan. Mimpi.
Tapi kupikir, mimpi juga sebuah dunia. Dunia dengan logikanya sendiri. Dengan banyak alasan yang pantas dipertimbangkan. Lebih dari itu, aku memang ingin memaguti potongan kenangan suamiku yang masih tertinggal, meskipun terlalu menyakitkan untuk disimpan.
Di bawah senja yang pucat, kuseret kaki dengan rantai-rantai dari sisa rindu yang kemarin. Rindu pada suamiku. Sampai Mananggar menumbuk mataku dengan pesonanya.
Begitu banyak air tumpah. Putih. Jernih. Sambung menyambung seperti selendang bidadari. Dentumnya mengetuk perut bumi. Di kanan dan kirinya, semua rumput penuh warna. Marun, hijau, biru, merah dan kuning. Ujung-ujungnya mendongak ke langit. Seperti hendak berteriak.
Kupu-kupu hitam putih terbang disekitarku. Anak-anak penoreh getah, telanjang dada. Tubuhnya sangit dibakar matahari. Gigi kekuning-kuningan dan sorot mata memendam kekaguman sekaligus harapan.
Mendengar mereka bercengkrama dalam Bahasa Dayak, seperti dendang dari sebuah negeri ujung langit. Merdu. Murni. Apalagi memperhatikan telapak-telapak tangan kecil mereka yang lincah, melempar getah ke dalam tangkin. Kemudian beringsut pulang dijemput kabut. Desau angin pada wajahku, mengabarkan sebuah tanah kelahiran yang ditinggalkan jaman.
Telingaku menangkap ada langkah mendekat. Aku menoleh ke belakang untuk memastikan. Disampingku, ternyata sudah berdiri dengan anggun seorang wanita. Kutaksir umurnya tidak lebih dari 26 tahun.
Melihat parasnya, dia pasti dari desa sekitar. Meski demikian, ia terlihat terpelajar. Pada tangannya, anak laki-laki berayun manja. Usianya sekitar 5 tahun. Wajahnya menggemaskan. Tatapan matanya, seperti pernah kuakrabi siang malam. Tapi entah dimana. Aku jadi berkhayal. Seperti apa bayiku kelak.
"Maaf. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya," tanyaku memberanikan diri.
"Baru kali ini. Mbak seperti menunggu seseorang?"
"Iya..suamiku,"
"Suami mbak ada di sini,"
"Sulit untuk dijelaskan,"
"Maaf mbak. Saya tidak bermaksud lancang. Tapi, bukankah untuk beberapa hal, kita memiliki keterbatasan untuk menjelaskan. Dan pada titik itu yang kita butuhkan hanya kemauan untuk mengerti,"
"Mungkin begitu. Ngomong-ngomong apakah adik menunggu seseorang juga," aku balik bertanya.
"Aku menunggunya setiap senja. Di sini, di tempat yang amat dicintainya,"
"Suamiku juga mencintai tempat ini,"
Wanita itu kemudian menatapku. Penuh selidik tapi dalam batas kesopanan.
"Namaku Asti. Mbak pasti, Sarah..."
"Darimana adik tahu namaku,"
"Bang Doni menceritakan segalanya,"
"Asti mengenal suamiku?" tanyaku lagi.
Dia memalingkan wajahnya. Tatapannya menumbuk air yang tumpah itu, dalam-dalam. Ia seperti mencari sisa-sisa keberanian untuk berkata-kata. Kulihat, kelopak matanya mulai tergenang. Ada setetes air, jatuh dari sudut mata kanannya yang teduh.
"Lebih dari sekedar yang Mbak duga. Enam tahun lalu, kami menikah di sini. Dan ini Nikodemus. Dia darah daging kami. Bang Doni, memintaku menyampaikan maafnya, maaf kami. Telah merahasiakan semuanya."
Dadaku seperti hendak meledak. Ingin kuteriak. Namun suaraku tersekat. Lututku bergetar. Seluruh sendiku terasa rontok. Aku nyaris tersungkur. Tiba-tiba langit tak lagi menyimpan bintang. Sepotong purnama yang baru setengah, sirna. Seluruhnya menjadi bisu. Semua kembali kepada ketiadaan.
Ngabang, 22 Januari 2004
Minggu, 13 September 2009
Sejarah Sepeda Gazelle

Tahun 1892
Willem Kolling, yang bekerja sebagai agen kantor pos disebuah desa di Belanda yang bernama Dieren, mengundurkan diri dan memulai usaha dagang sepeda dengan memesan sebuah sepeda di Inggris. Usaha dagangnya berkembang dengan sangat bagus. Kolling kemudian memulai kerja sama dengan pengecer perangkat dari besi dan kompor Rudolf Arentzen dari Dieren.
Tahun 1902
Arentzen dan Kolling membeli tanah dan bangunan baru ditempat berdirinya pabrik sekarang, dan memulai produksi sepeda. Dalam tahun yang sama, sepeda pertama kali yang bermerk Gazelle mulai dijual.
Tahun 1903
Kemudian Gazelle memperkenalkan produksi sepeda motornya yang pertama, namun tidak dibuat oleh Gazelle sendiri.
Tahun 1905
Meskipun perkembangannya berkembang bagus Arentzen mengundurkan diri dari perusahaan itu. Posisinya digantikan oleh Hendrik Kolling, Saudara Willem Kolling.
Tahun 1912
Dengan perluasan besar-besaran terhadap tanah dan bangunan awal mereka, dan dengan alat permesinan yang modern dan spesialis, rencana produksi sendiri bisa direalisasikan sepenuhnya. Mereka memiliki spesialisasi dalam pembuatan sepeda lengkap. Sementara itu aktivitas perdagangan borongan Gazelle menjadi semakin penting.
Tahun 1915
Keluarga Kolling dan kemenakan mereka Jan Breuking mengganti nama perusahaan menjadi " N.V. GAZELLE Rijwielfabriek v/h Arentzen en Kolling ". Dalam dua puluh lima tahun berikutnya perusahaan ini mengalami pertumbuhan yang mantap.
Permintaan dari Outlet domestik serta permintaan international meningkat secara signifikan. Hal ini juga karena pasar yang berkembang bagi sepeda Gazelle di Indonesia, yang pada saat itu menjadi Koloni Belanda. Disamping sepeda-sepeda standar, beberapa sepeda bermotor, Delivery Bicycles dan Carrier tricycle ( sepeda muatan tiga roda ) diproduksi untuk berbagai sektor industri.
Tahun 1930-1931
Gazelle memperkenalkan model kerangka silang 9X dan 8V
Tahun 1931
Berbagai variasi merk Invicta muncul dalam katalog Gazelle, sementara itu merk Gelria juga diperkenalkan.
Tahun 1935
Gazelle memperkenalkan tandem pertama yang sangat populer dalam tahun-tahun sebelum perang dunia kedua. Pada tahun perkenalannya, 600 unit tandem segera terjual.
Tahun 1937
Sepeda listrik yang digerakkan oleh akumulator 12 V dan didesain oleh Philips diproduksi oleh lima pembuat sepeda yang terkenal di Belanda. Diantara mereka, Gazelle adalah yang paling penting dan mereka memproduksi 117 sepeda jenis ini.
Tetapi sepeda jenis ini tidak pernah sangat populer. Seperti bagi banyak perusahaan belanda lainnya, perang merupakan masa yang sulit bagi Gazelle, sebagian mesin pabrik dibongkar oleh tentara jerman yang menduduki dan diangkut ke Jerman. Mesin yang masih tersisa diledakkan persis sebelum kedatangan sekutu.
Selain itu , Pabrik Willem Kolling menderita kerusakan hebat akibat perang. Dalam bulan Agustus 1946 sepeda Gazelle pasca perang yang pertama tersedia dan pada tahun 1950 tersedia sepeda Gazelle dengan Clip-on Motor. Produksi Carrier Bicycle dan Carrier tricycles diteruskan.
Tahun 1954
Perusahaan Gazelle yang sebelumnya merupakan perusahaan pribadi diubah menjadi In-corporation. Pada tahun yang sama, Gazelle membuat 1.000.000 sepeda.
Tahun 1963
Diawal tahun 1963, Gazelle melakukan merger dengan Batavus dari Heerenveen. Kerja sama ini tidak bisa memenuhi harapan yang mendasari dan putus sesudah dua tahun.
Tahun 1964
Gazelle merupakan perusahaan pembuat sepeda belanda pertama yang memperkenalkan sepeda lipat ( folding bike ) yang dinami "kwikstep". Berbeda dengan sepeda lipat umum lainnya, kwikstep dilipat pada sumbu horizontal dibawah siku-siku bawah (botoom bracket) tidak pada sumbu vertikal.
Tahun 1966
Gazelle memperkenalkan kembali model tandem, kali ini jenis modern yang tidak begitu berat. pada tahun yang sama 2.000.000 sepeda Gazelle dibuat.
Tahun 1968
Gazelle mengambil alih merk Juncker, Simplex dan Locomotive serta merk moped terkenal Berini. Selain hub (poros) depan dengan rem tromol (drum-brake front hub) bermerek Gazelle, yang masih diproduksi sampai sekarang.
Gazelle juga memproduksi three-speed rear hub (poros belakang dengan tiga kecepatan) dan dengan rem teromol pada tahun enam puluhan. sesudah membuat sekitar 45.000-50.000 unit, produksi dihentikan diakhir tahun enam puluhan karena biaya yang tinggi.
Tahun 1971
Gazelle diambil alih oleh Tube Investment (TI). Nama perusahaan ini sekarang adalah " Gazelle Rijwielfabriek B.V " sebuah perseroan terbatas swasta (private limited company).
Tahun 1987 :
TI menjual divisi sepedanya kepada Derby Cycles Corp. Perusahaan multinasional dengan kantor pusat di New York ini sekarang juga memiliki perusahaan pembuat sepeda Raleigh, produsen sepeda Sturmey-Archer serta merk-merk sepeda Jerman yang terkenal Kalkhoff, Rixe, Winora dan Staiger.
Tahun 1992
Gazelle merayakan ulang tahun yang ke-100. Pada tahun yang sama,produksi total komulatifnya mencapai 8 juta unit.
Tahun 1999
Dibulan April, Gazelle mencapai tonggak sejarah baru : 10 juta sepeda telah dikeluarkan oleh pabrik. Gazelle sekarang mempekerjakan 550 karyawan dan menghasilkan lebih dari 300.000 sepeda dalam setahun.
Gazelle merupakan salah satu dari sedikit perusahaan pembuat sepeda besar yang masih membuat sendiri sebagian besar rangkanya. 20% dari total produksi diekspor ke Belgia dan wilayah-wilayah Jerman yang berdekatan.
Tahun 2001
Derby Cycles Corporation menjual Gazelle kepada dana Investasi Belanda " Gilde Buy Out Fund ". Gazelle berkembang bagus,tetapi Derby mengalami masalah finansial yang serius. Produksi tahunannya adalah sekitar 380.000 unit, sementara pangsa pasar Gazelle mencapai sekitar tiga puluh persen.
Sekarang ini, Gazelle masih menjadi pemimpin industri sepeda belanda. Sepeda Gazelle diproduksi dalam jumlah besar dan dikenal sebagai sepeda yang sangat nyaman dan tangguh Mercedes Benz-nya merk-merk sepeda Belanda.
( Sepeda muatan Gazelle yang bisa dilipat (Diproduksi pertama kali tahun 1930), kotak muatannya bisa dilipat dan chasisnya juga bisa diubah. Sepeda Gazelle bisa dilacak tahun pembuatannya dengan sangat mudah. ada daftar nomor kerangka untuk periode 1916-1950, yang berasal dari arsip-arsip Gazelle.
Gazelle menggunakan nomor kerangka langsung sampai tahun 1974. Angka pertama mengacu kepada angka terakhir tahun pembuatan. Semenjak 1981, Gazelle menggunakan nomor kerangka dengan tujuh angka. (Sumber : Theo Matthijs and Herbert Kuner, 1999-2006)
Langganan:
Postingan (Atom)