<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966</id><updated>2012-02-16T11:51:03.048-08:00</updated><title type='text'>engkol mania</title><subtitle type='html'>mensepedakan masyarakat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>88</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-715196746148400160</id><published>2011-12-28T08:22:00.001-08:00</published><updated>2011-12-28T08:24:11.945-08:00</updated><title type='text'>Motor Rongsokan Rp 710 Juta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-QL45WVmVq6c/TvtCppd7DOI/AAAAAAAAAY4/A9VjJnSgFCs/s1600/indian%2Bcamelback.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 182px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-QL45WVmVq6c/TvtCppd7DOI/AAAAAAAAAY4/A9VjJnSgFCs/s320/indian%2Bcamelback.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691215837386181858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat sekilas, motor ini seperti barang rongsokan. Tapi, siapa sangka motor yang sudah berkarat tersebut punya nilai 50 ribu pounds atau sekitar Rp 710 juta jika dilelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor baheula itu adalah Indian Camelback produksi 1906 atau salah satu motor mesin pertama yang pernah dibuatn. Tak heran motor ini menjadi buruan para kolektor kelas kakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor tersebut langka lantaran hanya diproduksi 1.698. Karena kondisinya yang masih asli, motor ini pun bisa dihargai 50 ribu pound.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Motor ini memiliki silinder tunggal dengan kecepatan maksimum 30 mph atau 50 kilometer per jam. Para kolektor mengincar motor tersebut bukan karena kecepatannya, melainkan lantaran karena antik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor itu dimiliki keluarga du Pont yang membelinya dari Indian Motorcycle Manufacturing Company. Motor tersebut terakhir kali melintas di jalan raya pada 1970-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun yang membeli mesin antik ini kemungkinan harus mengeluarkan sedikit upaya agar motor tersebut bisa menyala. Namun, upaya restorasi motor ini diperkirakan bisa mengurangi nilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indian Camelback merupakan seteru kental Harley Davidson. Akan tetapi, perusahaan yang membuat Indian Camelback, Indian Motorcycle Manufacturing Company, bangkrut pada 1953.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor ini memiliki sistem pengereman yang unik. Untuk menyetop motor tersebut, dibutuhkan sepatu dengan paku di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor tersebut bakal dilelang di Bonhams di Las Vegas, Amerika Serikat, pada 12 Januari 2012. "Motor ini banyak diminati karena kondisinya. Upaya untuk memoles motor ini justru akan menurunkan nilai jualnya," kaya Ben Walker dari Bonham. (disadur dari tempo.co)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-715196746148400160?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/715196746148400160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=715196746148400160' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/715196746148400160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/715196746148400160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/12/motor-rongsokan-rp-710-juta.html' title='Motor Rongsokan Rp 710 Juta'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-QL45WVmVq6c/TvtCppd7DOI/AAAAAAAAAY4/A9VjJnSgFCs/s72-c/indian%2Bcamelback.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-8209827062615698022</id><published>2011-12-13T23:32:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T23:36:50.486-08:00</updated><title type='text'>Durkopp Diana Bangkit dari Kubur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-duKeol09ifI/TuhSCoCXmfI/AAAAAAAAAYs/ZPowXUbj61k/s1600/durkopp%2Bok.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-duKeol09ifI/TuhSCoCXmfI/AAAAAAAAAYs/ZPowXUbj61k/s320/durkopp%2Bok.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685884734615820786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pulang kerja, saya iseng-iseng searching tentang informasi motor antik. Saat tanya Mesin Paman Google, ternyata ketemulah blog milik rekan-rekan KISS Manado, http://kissmanado.blogspot.com. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik dengan informasi yang dibeberkan mengenai proses pencarian Durkopp Diana 1957 berkapasitas 200 Cc. Apalagi jenis motor Jerman yang satu ini, juga tergolong langka. Sulit sekali mencari referensinya di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bagi pecinta scooter, keindahan dan keelokan Diana luar biasa. Untuk itulah, saya jadi ingin menyebarkan informasi tentang Durkopp Diana lewat Gilaontel.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Info adanya motor tua buatan jerman telah tercium oleh Bro Naryo sejak tahun 2000. Saat itu kondisinya 100 persen baik. Sayang, motor antik tersebut tidak akan dijual pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bro Naryo, seperti juga para pemburu sepeda motor tua, punya sifat pantang menyerah. Ia pun kembali pada 9 desember 2008. Ia ditemani assistenya, Arthur. Mereka terkejut karena Durkopp Diana, sudah dalam kondisi sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diana di letakkan di dekat sumur yang sudah berlumut. Hanya ditutupi selembar seng. Diana diapit oleh tumpukan batu bata merah yang juga dipenuhi lumut. Boks kiri dan kanan sudah terlepas. Bahkan, beberapa bagian boks sudah keropos dan berlubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu yang yang bulat cantik juga terlepas. Begitu juga dengan setang. Jok juga hanya menyisakan plat saja sedangkan busanya habis di makan hujan dan panas. Namun, mesinnya masih terlihat utuh. Begitu juga dengan tebeng kiri dan kanannya yang masih terlihat gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sang pemilik belum menyadari untuk merawat motor berharganya itu. Hampir saja, Durkopp Diana jadi abrang kiloan karena kondisinya sudah karatan semua. Ada beberapa bagian yang sudah hilang karena telah diambil pengepul besi tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, penutup klakson, jok depan, pelek depan dan belakang. Sedangkan stang stir sebelah kanan dibuat gagang pisau dapur. Sementara sekitar 90 persen onderdil dan penampilannya masih lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pemiliknya, Durkopp Diana ini hadiah dari seorang pastor kepada assistennya. Pastor itu memberinya dua sepeda motor Jerman. Masing-masing Durkopp Diana Tahun 1957 dan sepeda Solex 1963.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di tangan dingin dan kreatif Cak Naryo di Wonasa Kapleng, Manado, Si Seksi Durkopp Diana, sudah bangkit dari kubur. Kondisinya sangat layak lihat dan layak jalan. Siapa pun yang memandang, pasti tak menyangka jika Diana sudah nyaris hilang tinggal nama. (haysim ashari) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-8209827062615698022?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/8209827062615698022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=8209827062615698022' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8209827062615698022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8209827062615698022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/12/durkopp-diana-bangkit-dari-kubur.html' title='Durkopp Diana Bangkit dari Kubur'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-duKeol09ifI/TuhSCoCXmfI/AAAAAAAAAYs/ZPowXUbj61k/s72-c/durkopp%2Bok.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-6194993638702440778</id><published>2011-12-10T23:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T23:40:29.928-08:00</updated><title type='text'>Berawal dari Rangka Gosong</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-0y2PX24NJgs/TuReRpSbDGI/AAAAAAAAAYU/xuiZ1niOuk0/s1600/bsa%2Boke%2Bdeh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 215px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-0y2PX24NJgs/TuReRpSbDGI/AAAAAAAAAYU/xuiZ1niOuk0/s320/bsa%2Boke%2Bdeh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684772286882319458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Lady Biker BSA 250&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pontianak, Kalimantan Barat, motor antik tidak hanya memikat kaum lelaki. Bahkan, seorang remaja putri, Uly (19), sudah kepincut dengan pesona produk-produk keluaran Inggris. Ia pun melirik Birmingham Small Arm (BSA) C15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswi Jurusan Komputerisasi Akutansi di Bina Sarana Informatika (BSI) Pontianak, ini  mengaku bangga menjadi lady biker. Pasalnya, untuk cewek seusianya, jarang sekali yang punya motor antik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awalnya saya tertarik motor antik karena tertular akan hobi Abang saya. Ia suka membangun dan mengkoleksi motor-motor antik," kata Uly kepada Tribun Pontianak, Selasa (6/12/2011).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia menceritakan butuh waktu setahun untuk membangun BSA 250 cc tersebut. Di awali dari sebuah rangka. Meski lengkap, namun rangka dalam keadaan gosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang bangun motor ini dari rangka sampai menjelma utuh BSA, Abang saya. Ia jago dalam hal membangun motor antik. Saya sih hanya hunting sparepart-nya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Uly, jika membangun motor dari rongsokan, kita akan lebih tahu karakter motor. Dengan demikian akan sangat sejiwa saat mengendarainya. Sebab butuh kesabaran menunggu sampai motor impian benar-benar terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, karena tahu sejak awal, maka akan memudahkan jika dikemudian hari ditemukan kerusakan atau masalah seputar pengapian dan sebagainya. Berbeda jika membeli motor dalam keadaan siap pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal rangka, Uly menjelaskan seluruhnya dalam keadaan gosong seperti habis terbakar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin motor itu yang punya rumahnya mendapat musibah kebakaran, yang di dalam garasinya terdapat motor itu," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan, motor ini enak diajak lari, alias ngebut. Karena motor ini memiliki stroke atau langkah yang pendek, jadi untuk mencapai akselerasi lebih cepat, ketimbang varian BSA lainnya, yang memiliki stroke lebih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, menurutnya kekurangan motor ini masih menggunakan sistem pengapian platina. "Dan platinanya berada di luar dengan tutup yang saya rasa belum sempurna. Bila hujan, si platina sering terkena air, jadi motor suka mogok," kenang Uly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uly menjatuhkan pilihan ke BSA C15 karena ukurannya yang lebih kecil. Cocok untuk dirinya ketimbang varian motor BSA lainnya seperti B31 atau M20. Itu alasan kenapa akhirnya ia membangun C15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan setelah di restorasi pada 2005 sampai sekarang, belum ada kerusakan yang berarti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rewel sih enggak. Perawatannya mesti rutin ganti oli supaya semua logam yang bekerja di dalam mesin terlumasi," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BSA C15 miliknya itu sudah sering dibawanya touring. "Motor itu udah saya pakai jalan-jalan ke Sintang, Tanah Itam, Sambas, dan kota-kota lainnya di Kalimantan Barat," ucapnya bangga. (mirna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merk: BSA (Birmingham Small Arm)&lt;br /&gt;Produksi: Tahun 1959&lt;br /&gt;Type/seri: C15&lt;br /&gt;Kapasitas: 250cc&lt;br /&gt;Tipe Mesin: Monoblok&lt;br /&gt;Cylinder (satu): OHV&lt;br /&gt;Velg: 17 inchi&lt;br /&gt;Knalpot: Freeflow &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-6194993638702440778?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/6194993638702440778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=6194993638702440778' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6194993638702440778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6194993638702440778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/12/berawal-dari-rangka-gosong.html' title='Berawal dari Rangka Gosong'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-0y2PX24NJgs/TuReRpSbDGI/AAAAAAAAAYU/xuiZ1niOuk0/s72-c/bsa%2Boke%2Bdeh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-1508820110264379328</id><published>2011-12-03T10:16:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T10:22:15.368-08:00</updated><title type='text'>Tak Sabar Geber AJS Chopper</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-RkGbK7FOe-A/Ttpo0EmcgQI/AAAAAAAAAYI/zqgc4liP0Zw/s1600/ajs%2Boke.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 236px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-RkGbK7FOe-A/Ttpo0EmcgQI/AAAAAAAAAYI/zqgc4liP0Zw/s320/ajs%2Boke.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681969123678781698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Butuh lima bulan  bagi Yuswardhi, motorist antik Pontianak, Kalbar ini, membangun motor idamannya. Adalah mesin Albert John Steven (AJS) berkapasitas 350 cc yang jadi pilihan. Namun, ia mengesampingkan tampilan classic yang biasa dipertahankan pecinta motor Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yus, begitu ia disapa, ingin memuaskan hasratnya dengan membangun motor chopper. Maka mulailah dilakukan selain membenahi mesin biar sehat, juga membangun rangka yang diinginkan. Rupanya, tahapan itu membutuhkan kesabaran dan biaya yang lumayan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kurang, sekitar Rp 20 juta ia gelontorkan agar AJS bisa menjajal aspal. "Ketika membangunnya, saya tidak sabar untuk segera menggebernya. Ingin cepat-cepat memakainya," kata Yus kepada Tribun Pontianak di kediamannya, di kawasan Tani Makmur, Kamis (01/12/2011).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengerjaan yang hati-hati dan teliti dilakukan agar motor tidak hanya sekadar bisa ditunggangi. Ia paham betul, kuda besi Eropanya kelak harus memberikan rasa nyaman dan kepuasan ketika mengendalikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Motor chopper ini punya nilai plus bagi saya. Membuat saya lebih percaya diri ketika mengendarainya. Kalau naik motor ini, benar-benar naik motor rasanya," ujar Yus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan motor tersebut sengaja diubah menjadi chopper agar tampilannya ekstrem. "Kiblat motor saya ke arah ekstrem. Saya suka dengan yang berbau ekstrem. Makanya, sayapun memilih mengubahnya menjadi chopper," ujar anggota Brotherhood Pontianak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun memastikan rangka chopper yang dibangunnya bisa menopang performa kapasitas AJS yang besar. Sebab, AJS buatan 1952 ini, tidak nyaman dikendarai dengan kecepatan pelan. Biasanya, ia membawa AJS dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Motor ini sedikit berat. Kapasitas mesinnya cukup besar, 350 cc. Jika pelan-pelan akan terasa berat. Tapi jika dengan kecepatan lumayan tinggi, jadi enak dan nyaman dikendarai," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mengalami ubahan, namun Yus mempertahankan orisinalitas mesin AJS. Seperti layaknya motor Eropa, terutama Inggris, rem tetap di sebelah kanan dan gigi di sebelah kiri. Gerbox juga mempertahankan bawaan aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, sistem pengapian yang menjadi perhatian serius Yus. Sistem pengapian AJS bawaan, diubahnya dengan spul thunder magnet Mio. "Pengapiannya jauh lebih bagus, bandel," jelas Yus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem suspensi motor ini terletak pada jok. Ia tidak menggunakan shock belakang, sehingga sistem kerjanya mengandalkan per di bawah jok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor ini hanya akan mampu menopang bobot seberat pemiliknya. Yaitu sekitar 85 kilogram. Jika lebih dari itu, menurut Yus, motornya tidak mampu berjalan atau tidak bisa dikendarai. Namun, AJS chopper itu sudah diajaknnya mengarungi hingga ke Riam Merasap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobi memodifikasi motor antik, telah dilakukannya sejak Yus masih duduk di bangku SMA. Motor antik, menurutnya sangat unik dan berbeda dibandingkan motor lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan lebih percaya diri naik motor antik ketimbang mengendarai kendaraan lainnya. Walaupun hobinya ini boleh dibilang lumayan menguras kocek, tapi istrinya tidak pernah protes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru sang istri mendukung dengan hobinya yang satu ini. "Istri saya sudah mengerti akan hobi saya. Sejak pacaran sampai menjadi istri, dia sudah memaklumi hobi saya ini," ucapnya. (mirna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesifikasi&lt;br /&gt;Ban: Stronghold, 150/70-21 (depan) dan Trakmax , 150/70-17 (belakang)&lt;br /&gt;Setang: Apehanger&lt;br /&gt;Rangka: Custom&lt;br /&gt;Shock depan: TS&lt;br /&gt;Tangki depan: Custom&lt;br /&gt;Tangki oil: Filter oil army&lt;br /&gt;Spakbor belakang: Custom&lt;br /&gt;Gir depan dan belakang: Custom&lt;br /&gt;Mesin: 350 cc&lt;br /&gt;Modifikator: Kiky, Bengkel Brotherhood, Jl Ayani Pontianak &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-1508820110264379328?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/1508820110264379328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=1508820110264379328' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1508820110264379328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1508820110264379328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/12/tak-sabar-geber-ajs-chopper.html' title='Tak Sabar Geber AJS Chopper'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-RkGbK7FOe-A/Ttpo0EmcgQI/AAAAAAAAAYI/zqgc4liP0Zw/s72-c/ajs%2Boke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-3056926169321533085</id><published>2011-12-02T11:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T11:10:52.164-08:00</updated><title type='text'>Vespa Klasik dan Pesona Pulau Dewata</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-XzOTGI_YGAc/TtkiVNjOyRI/AAAAAAAAAX8/ADCHg4JFT6I/s1600/vespa%2Bbali.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 198px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-XzOTGI_YGAc/TtkiVNjOyRI/AAAAAAAAAX8/ADCHg4JFT6I/s320/vespa%2Bbali.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681610152714619154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 25-27 November saya mengunjungi Bali. Saya diundang XL North Region untuk kegiatan Media Gathering. Ada sekitar 30 jurnalis yang diundang untuk melihat pencapaian XL dan pesona Pulau Dewata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Bali, saya menginap di Hotel Spacio di Jl Dewi Sri, Kuta. Begitu tiba di halaman hotel, setelah dijemput di Bandara Ngurah Rai Bali, mata saya langsung tersedot oleh deretan motor butut di samping hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor-motor butut itu di antaranya, Honda S 90, Vespa Spint, Honda GL 100, dan banyak lainnya. Karena penasaran, saya tidak lekas masuk hotel. Melainkan melihat dari dekat motor-motor era 70 an tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tempat di mana motor-motor buruk rupa itu adalah sebuah bengkel. Namanya bengkel Island Vespa Classic Bali di Jl Dewi Sri Nomer 20 Kuta. Saya kaget begitu masuk ke show room bengkel yang digawangi Boman dan Rinto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di show room berukuran sekitar 4 meter x 8 meter tersebut, berjejer rapi berbagai jenis Vespa klasik. Entah berapa jumlahnya saya tidak tahu persis karena tidak menghitungnya. Yang jelas, kiri kanan show room penuh dengan Vespa yang seksi dan montok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenglihatan saya, mayoritas didominasi Sprint berbagai type, Super, Bajaj, dan Kongo. Motor- motor buatan Italia itu, dicustom klasik. Mempertahankan bentuk orisinalitas dengan berbagai warna cerah yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, motor dipasangi berbagai aksesoris untuk mempercantik penampilan. Ada foot steep racing, spion bulat, guard spakboard depan belakang, juga guard bodi. Beberapa aksesoris itu, ada yang dibuat sendiri para mekanik, ada juga yang dibeli di agen-agen sparpat Vespa di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sekadar mempertahankan gaya klasik, sebuah Kongo warna hitam dop, dimodifikasi dengan dibuatkan zespan di sisi sebelah kiri. Zespan yang dikerjakan Boman itu, terlihat sangat rapi. Terutama bagian sambungan dan pengelasan. Cat juga sangat halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lampu cantik dimodifikasi Boman di bagian roda Zespan. Sepintas, mengingatkan saya akan Zespan BSA M20 atau BMW R25.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil kenikmati semangkuk bakso di depan bengkel, saya kemudian meminta izin kepada Boman dan Rinto mengambil gambar. "Semua motot di sini sudah laku terjual. Itu punya orang semua. Harganya rata-rata Rp 12 juta," kata Rinto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kaget karena di Pontianak harganya tidak setinggi itu, kecuali untuk Kongo. Yang membuat saya tambah kaget, rupanya Boman, mekanik yang punya tubuh gempal ini, pernah merambah Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya bekerja di Malaysia. Saat liburan, saya bersama teman pergi ke Sambas, Pontianak, dan Desa Jawa Tengah di Sungai Ambawang," ucap Boman tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian memutuskan pergi ke Bali dan membuka bengkel Vespa bersama teman-temannya. Ia mengatakan, masih banyak Vespa klasik yang bisa dijumpai di Bali meski kondisinya kadang memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama teman-temannya yang lain, Boman menyulap Vespa yang sudah mulai ditinggalkan itu, layaknya baru keluar dari pabrikan di Italia. Bagus, mulus, terawat, tinggal geber. Wajar, karena di belakang show room, terdapat workshop cukup luas untuk mempermak Vespa karatan menjadi cantik nan menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo buat Boman, Rinto dan Island Vespa Classic Bali. Benar-benar scooterist sejati. Berharap bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Thanks atas keramahtamahan kalian. (hasyim ashari) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-3056926169321533085?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/3056926169321533085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=3056926169321533085' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3056926169321533085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3056926169321533085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/12/vespa-klasik-dan-pesona-pulau-dewata.html' title='Vespa Klasik dan Pesona Pulau Dewata'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-XzOTGI_YGAc/TtkiVNjOyRI/AAAAAAAAAX8/ADCHg4JFT6I/s72-c/vespa%2Bbali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-1070305979829066671</id><published>2011-10-03T10:05:00.000-07:00</published><updated>2011-10-03T10:08:24.295-07:00</updated><title type='text'>Komunitas Sepeda Santap Nagasari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-maJd-mcQJXc/TonsAGLo2NI/AAAAAAAAAXQ/XykITYd8NHY/s1600/sepeda1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 215px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-maJd-mcQJXc/TonsAGLo2NI/AAAAAAAAAXQ/XykITYd8NHY/s320/sepeda1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659313893171321042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 1.000 pecinta sepeda dari berbagai komunitas sepeda menggelar halalbihalal di Area Car Free Day Pontianak, Jl Ahmad Yani, Minggu (2/10) pagi. Acara tahunan yang digagas Sepeda Onte Kalbar (Sepok) ini, dibuka Wakil Wali Kota Pontianak, Paryadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan tersebut, mereka menyantap berbagai kue tradisional Pontianak. Mulai dari ketupat, nagasari, korket, apam, arem-arem, dan masih banyak lagi. Acara juga diisi tari-tarian dari mahasiswa FKIP Untan, serta hiburan musik dari Komunitas Fixie Pontianak. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Dari hari ke hari sudah semakin banyak masyarakat yang mengunakan sepeda engkol. Baik untuk berolahraga maupun untuk bekerja. Untuk itu, Pemkot sedang berusaha menyediakan tempat para pengguna sepeda berupa Car Free Day di tempat lain dan jalur pesepeda di jalan raya," kata Paryadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana tersebut disambut baik para pecinta sepeda. Sebab, bisa mengakomodir pesepeda. Sementara itu, Ketua 1 B2W Pontianak, Bahri, kembali mengingatkan bersepeda minimal sepekan sekali selain membuat badan sehat, menghemat BBM, juga bisa menambah teman. "Mari kampanyekan hidup sehat dengan bersepeda," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menuturkan ada beberapa komunitas yang tidak bisa bergabung karena ada kegiatan lain. Di antaranya Fun Bike TNI AL dalam rangka HUT ke-66 TNI. Bahri juga mengucapkan terimakasih atas dukungan Sound System dari PLN Area Pontianak, Jaya Khatulistiwa Bike, dan PT Indosat. (hasyim ashari/tribun pontianak)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-1070305979829066671?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/1070305979829066671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=1070305979829066671' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1070305979829066671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1070305979829066671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/10/komunitas-sepeda-santap-nagasari.html' title='Komunitas Sepeda Santap Nagasari'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-maJd-mcQJXc/TonsAGLo2NI/AAAAAAAAAXQ/XykITYd8NHY/s72-c/sepeda1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-3037292415524710142</id><published>2011-10-02T10:14:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T10:19:04.310-07:00</updated><title type='text'>Motorhead Buka Chapter Singkawang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ViBvhN0PJec/Toiczt4rW4I/AAAAAAAAAXI/TjnGFDh_tmg/s1600/motorhead.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ViBvhN0PJec/Toiczt4rW4I/AAAAAAAAAXI/TjnGFDh_tmg/s320/motorhead.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658945344095607682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh lima anggota Motorhead Chapter Singkawang berkumpul di SPBU AKR, Jl Ratu Sepundak, Singkawang, Sabtu (1/10) sore. Mereka sedang menunggu kedatangan rombongan Motorhead MC West Borneo datang dari Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat menunggu, akhirnya rombongan yang dipimpin Nadi Rusanto itu tiba. Mereka langsung disambut Pembina komunitas motor antik di Singkawang, H Suwisno, yang mendampingi Motorhead Chapter Singkawang saat itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Motorhead MC West Borneo sengaja datang ke Singkawang, untuk meresmikan Motorhead Chapter Singkawang. Peresmian ditandai dengan penyematan pin kepada Ketua dan Wakil Ketua Chapter Singkawang, Erit Suryadi dan Sumarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Harian Motorhead MC West Borneo, Nadi Rusanto, mengatakan Motorhead Chapter Singkawang adalah yang kedua di Kalbar. Sebelumnya, dia juga telah meresmikan Motorhead Chapter Peniti, Kabupaten Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, saat ini Motorhead MC West Borneo telah memiliki 150 penggemar sepeda motor antik, sebagai anggotanya. Dengan tujuan kemajuan dunia otomotif Kalbar, Nadi Rusanto mengatakan, Motorhead akan terus melakukan perekrutan anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Motorhead, Nadi Rusanto berharap bisa mempersatukan komunitas motor antik dan komunitas otomotif di Kalbar. Meski peminat motor unik varian Eropa dan Amerika masih sedikit sekali, dia optimistis Motorhead akan terus berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Motorhead Chapter Singkawang punya agenda rutin kongkow di sekretariatnya di SPBU AKR, Jl Ratu Sepundak, pada Rabu malam. Namun Nadi menegaskan, kegiatan Motorhead bukan hanya sekedar kongkow-kongkow atau touring. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kegiatan sosial juga menjadi agenda Motorhead. Termasuk juga mempromosikan potensi wisata yang ada di Kalbar. Peresmian Motorhead Chapter Singkawang sore itu, ditutup dengan ramah- tamah antaranggota dan konvoi keliling Singkawang. (arief purnomo/tribun pontianak)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-3037292415524710142?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/3037292415524710142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=3037292415524710142' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3037292415524710142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3037292415524710142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/10/motorhead-buka-chapter-singkawang.html' title='Motorhead Buka Chapter Singkawang'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ViBvhN0PJec/Toiczt4rW4I/AAAAAAAAAXI/TjnGFDh_tmg/s72-c/motorhead.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-9144571052553441900</id><published>2011-10-02T08:55:00.000-07:00</published><updated>2011-10-03T10:26:26.201-07:00</updated><title type='text'>Brotherhood West Borneo Diresmikan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-z-vyf0Ipc38/ToiKNwCVoEI/AAAAAAAAAXA/JWIg8HUw-ng/s1600/Brotherhood.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 210px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-z-vyf0Ipc38/ToiKNwCVoEI/AAAAAAAAAXA/JWIg8HUw-ng/s320/Brotherhood.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658924900628668482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertahanan terakhir negara kita adalah persaudaraan merupakan moto yang selalu dipegang Bikers Brotherhood Motor Club (MC). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, diresmikan Bikers Brotherhood MC Checkpoint Borneo di halaman Duck Cafe, Jl Ahmad Yani Pontianak, Sabtu (1/10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena kita tinggal dinegara yang sama, pastinya kita memiliki visi yang sama meski berbeda klub. Benteng yang paling kuat dan terakhir adalah persaudaraan. Rasa persaudaraan itu jangan dinilai dari materi, tapi komitmen saling mendukung," kata El Presidente Bikers Brotherhood MC, Budi Dalton, kepada Tribun.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peresmian Bikers Brotherhood MC Checkpoint Borneo dihadiri lebih dari 20 motor club se-Kalbar, di antaranya Yamaha Vixion Club, King Rattle Club, Byonic, Pontianak Tiger Club, Pontianak Moto Club dan Ninja Community.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski kita berbeda uniform, tapi kita bersaudara. Ini juga sebagai sindiran pada meraka yang menganggap para bikers begini dan begitu. Tapi kenyataannya, kalau kita sudah berada di dalam, maka yang ada rasa bersaudara sesama bikers dan itu sangat kuat. Anggota kita juga ada yang polisi, tentara, pejabat, pegawai, mahasiswa, pengusaha dan banyak lainnya," ujar Budi yang terbang langsung dari Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Bikers Brotherhood MC sudah 23 tahun berkiprah. Terdapat tujuh cabang atau mereka sebut chapter yakni Lombok, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bandung. Tidak hanya itu, juga terdapat sembilan checkpoint se-Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi mengatakan, club Brotherhood yang akan menjadi chapter harus melalui tahapan panjang dan ketat, dimulai dari checkpoint. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk jadi sebuah chapter, setidaknya harus memenuhi syarat seperti salah satunya memiliki enam orang yang tergabung dalam Mother Chapter di Bandung," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling utama, ditambahkannya yakni biker tidak lepas dari lalu lintas dan motor. Selain memiliki hukum adat sendiri, seorang bikers juga tidak lepas dari peraturan pemerintah mengenai lalu lintas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ketua Bikers Brotherhood MC Checkpoint Borneo, Kiky Prabawa, mengharapkan dengan acara yang baru pertama kali digelar in dapat menyatukan semua biker di Kalbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Klub motor hanya media saja dan titik beratnya adalah rasa persaudaraan dan sikap nasionalisme. Ini yang menjadi semboyan dari Bikers Brotherhood," ucapnya usai melakukan rolling city.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepung tawar, tarian Dayak memeriahkan peresmian Bikers Brotherhood MC Checkpoint Borneo. Perwakilan dari Ditlantas Polda Kalbar juga menghadiri peresmian itu. Puncak kegiatan dimeriahkan sexy dancer, band rock battle, fashion show, live music, parade band, dan games. (pontiana banjaria/tribun pontianak)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-9144571052553441900?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/9144571052553441900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=9144571052553441900' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/9144571052553441900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/9144571052553441900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/10/brotherhood-west-borneo-diresmikan.html' title='Brotherhood West Borneo Diresmikan'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-z-vyf0Ipc38/ToiKNwCVoEI/AAAAAAAAAXA/JWIg8HUw-ng/s72-c/Brotherhood.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-226145346541144611</id><published>2011-09-24T12:30:00.000-07:00</published><updated>2011-09-24T12:40:45.616-07:00</updated><title type='text'>Dua Honda XL 125 Favorit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-msKtb5F0GXY/Tn4yNmU10GI/AAAAAAAAAW4/7pRg-TqREWA/s1600/xl1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 167px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-msKtb5F0GXY/Tn4yNmU10GI/AAAAAAAAAW4/7pRg-TqREWA/s320/xl1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656013391231570018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menunggangi motor berbodi dan ber CC besar, itu sudah biasa. Karena bagi Dwi Sutiono dan Tri Prihantono, yang harus menjadi tunggangan itu harus beda dan istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah 2 bersaudara ini mengoleksi motor-motor antik alias tua-tua keladi makin tua makin jadi.  Seperti satu di antaranya yang menjadi favorit dua saudara ini adalah Honda XL 125 tahun 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya hobi mereka ini di dukung sang ayah, Margono, yang juga menyukai motor-motor sejenis. "Biar kita banyak duit, kalau enggak ada motornya juga susah. Tidak seperti motor sekarang, pasarannya jatuh. Kalau motor klasik makin mahal harganya," kata Margono.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Motor Honda XL 125 ini memiliki arti penting bagi mereka, karena mendapatkan ke duanya dengan ketidaksangajaan. Dan lebih istimewanya lagi, hanya ada 5 motor jenis tersebut di Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nemunya enggak disengaja. Waktu bapak ikut MTB ke Singkawang, dari ngobrol-ngobrol, ternyata masih ada yang nyimpan. Kita buru lah tempatnya dan ketemu. Dijualnya Rp 800 ribu," tutur Tri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditemukan, motor ini jauh dari kondisi sempurna. "Ya, kayak besi rongsokan lah. Kalau orang yang enggak tahu motor ini, pasti tak hirau. Saya lihat, benar dan original. Tinggal kita poles dan nambahin komponennya yang belum lengkap," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pemiliknya yang dahulu, motor tersebut digunakan sebagai motor pemadam kebakaran di lahan pertanian. Oleh pemiliknya ketika itu, motor tersebut digunakan untuk jual minyak. Jadi meski sudah seperti rongsokan dan tak berbentuk, mesinnya masih oke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi kembarannya Honda XL 125 putih. Motor yang sangat eksis di era Roma Irama dan Achmad Albar ini ditemukan di Sanggau. "Sama, enggak beda jauh. Sudah enggak ada model lagi. Karat di mana-mana," timpal Dwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dua saudara ini, memiliki bahkan mengoleksi jenis-jenis motor klasik membuat beda dari pengguna motor kebanyakan. "Nanti kita juga mau turing ke Kalteng. Sudah sering ikut turing pakai motor ini. Karena sesuai ya, jenis motor dengan medannya, motor trail," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau di hitung-hitung, harga motor ini tidak ternilai. Meski banyak yang mencari dan ingin membelinya, keduanya enggan melepaskan si tua-tua keladi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua motor yang dimilliki Tri Dan Dwi tersebut, hampir semuanya memakai komonen original. Hanya pada stang, si klasik merah yang custome. (tribunpontianak/pontiana banjaria)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesifikasi :&lt;br /&gt;Tipe : Honda XL 125&lt;br /&gt;Mesin : CG 125 E&lt;br /&gt;Ban : 275x21 (depan) dan 275x18 (belakang)&lt;br /&gt;Knalpot : Krizman spark arrester 305 US PAT&lt;br /&gt;Kapasitas mesin : 125 cc&lt;br /&gt;Komponen lain : Original Hondal XL 125 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-226145346541144611?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/226145346541144611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=226145346541144611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/226145346541144611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/226145346541144611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/09/dua-honda-xl-125-favorit.html' title='Dua Honda XL 125 Favorit'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-msKtb5F0GXY/Tn4yNmU10GI/AAAAAAAAAW4/7pRg-TqREWA/s72-c/xl1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-6447898099716928058</id><published>2011-09-16T08:54:00.000-07:00</published><updated>2011-09-16T09:01:15.259-07:00</updated><title type='text'>Jalan Hidup Empat Asasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-7OegOqJugIE/TnNyilJFhbI/AAAAAAAAAWo/NgLG_2glkOA/s1600/ajs.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 190px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-7OegOqJugIE/TnNyilJFhbI/AAAAAAAAAWo/NgLG_2glkOA/s320/ajs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652987895691445682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Brotherhood MC Borneo Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Komunitas Biker Brotherhood MC Borneo Indonesia adalah komunitas motor tua di Kalimantan Barat. Aktivitasnya tak sekadar doyan nyemplak motor tua, konvoi, dan nongkrong di berbagai tempat. Namun, banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di antaranya kita diajarkan bagaimana cara mengendarai motor dengan baik. Mereka yang memiliki keahlian sesuatu, kita satukan di sini untuk organisasi," kata Kiky Prabawa, Staatsman Biker Brotherhood MC Borneo Indonesia, kepada Tribun Pontianak, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan komunitas ini, menurutnya, bertujuan untuk menyatukan Indonesia dengan moto Benteng Pertahanan terakhir NKRI dengan persaudaraan.  Sudah setahun Biker Brotherhood MC Borneo Indonesia terbentuk. Kini anggotanya mencapai 21 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi anggota, syaratnya tentu harus memiliki motor antik. Baik itu buatan Eropa maupun Amerika. Di samping itu harus mematuhi peraturan yang berlaku di komunitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti induknya, Biker Brotherhood, Biker Brotherhood MC Borneo Indonesia, juga memiliki tingkatan kelas untuk anggotanya. Mulai dari Prospect, Virgin, dan Life member. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang baru masuk atau diistilahkan bayi baru lahir, dinobatkan sebagai Prospect. Lebih tinggi dari itu atau tingkatan keduanya adalah virgin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mereka yang sudah dinyatakan menjalankan empat asasi di lingkungannya, akan dinobatkan menyandang Life Member. Empat asasi itu adalah loyal, respect, pride, dan honor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiky menjelaskan untuk naik tingkatan, pada dasarnya ditentukan berdasarkan loyalitasnya terhadap komunitas dan keluarga atau lingkungan sekitar. Artinya akin loyal akan semakin tinggi tingkatan yang disandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang lama bergabung di komunitas, tidak menjamin untuk menyandang predikat hingga tingkatan tinggi. Predikat tersebut dinobatkan berdasarkan penilaian dan pengawasan dari vigillante atau pengawas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencannya pada 1 Oktober 2011 yang bertepetan dengan Hari Kesaktian Pancasila, mereka akan memperingatinya dengan melakukan upacara bendera di depan sekretariat mereka. "Kita akan melakukan deklarasi sekretariat," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hiburan turut menghibur dalam peringatan tersebut. Semua klub di Kalbar akan diundang pada acara itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaudaraan Kental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu, satu di antara anggota Brotherhood, mengungkapkan komunitas ini mengajarkan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sini persaudaraan dan kekeluargaannya sangat kental. Tidak ada yang membedakan satu sama lain, semuanya sama," kata Abu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasakan sangat enjoy atau menikmati ketika bergabung di komunitas ini. "Di sini adalah keluarga kedua bagi saya," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu menambahkan, komunitas juga dapat menjadi peluang usaha bagi anggota yang lain. Misalnya ada yang bisa buat pin atau sebagainya, kemudian dijual, dan dimanfaatkan untuk organisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada diungkapkan Ewin, anggota yang memiliki predikat virgin itu mengutarakan Brotherhood adalah tempatnya untuk menyalurkan hobinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirinya yang suka berkendara dengan motor antik, dan bertemu dengan teman-teman satu selera, membuatnya merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mereka naik motor, tak heran menjadi perhatian orang banyak. Karena selain tampilan motor yang antik, suara motor yang nyaring membuat orang sekitar mengalih perhatian kepada mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berkendara mereka diwajibkan untuk memakai rompi yang terdapat atribut Brotherhood. Rompi tersebut bukan sekedar rompi gaya-gayaan. Tapi rompi seragam mereka. Atribut yang dipasang pada rompi sebagai identitas mereka di komunitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenalkan 4 Asasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkendara dengan motor antik merupakan kegemaran Kiky. Baginya, sangat berbeda ketika naik motor antik dibandingkan motor lain. Ada kepuasaan tersendiri ketika menungganginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyalurkan hobinya tersebut, ia bersama teman-teman komunitasnya, menulusuri jalan hingga ke luar Kota Pontianak dengan Norton, motor antik miliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya suka ngumpul bareng teman-teman sehobi. Rasanya berada di keluarga sendiri," ungkap Kiky kepada Tribun di sektreatariat Biker Brotherhood MC Borneo Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di komunitas ini, ia dipercaya sebagai Staatsman. Baginya perananan yang diembannya tersebut tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak tantangan yang harus dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiky menjelaskan, dirinya harus bisa menerangkan kepada para anggota akan empat asasi yang berlaku di komunitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk membuat mereka paham pastinya tidak mudah. Empat asasi yang berlaku di lingkungan kami, harus mereka dapat, pahami, dan terapkan dalam kehidupan," paparnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, menurutnya, memperkenalkan komunitas ke aparat dan instansi pemerintah juga menjadi bagian peran yang harus dilakukannnya. "Kita ingin Brotherhood dapat mengembangkan sayapnya," ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sekretariat mereka baru dibangun, makanya ia mau tidak mau harus standby berada di tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi teman-teman biasnya sering juga ngumpul di sini. Saya tidak sendirian. Dari intern kita sih memang harus sering ngumpul," katanya. (mirna/tribun pontianak)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-6447898099716928058?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/6447898099716928058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=6447898099716928058' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6447898099716928058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6447898099716928058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/09/jalan-hidup-empat-asasi.html' title='Jalan Hidup Empat Asasi'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-7OegOqJugIE/TnNyilJFhbI/AAAAAAAAAWo/NgLG_2glkOA/s72-c/ajs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-4036880935398655866</id><published>2011-09-15T09:22:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T09:25:13.538-07:00</updated><title type='text'>Koleksi Om Is: Honda hingga Harley</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Zh6va4d9nKA/TnIm4Hg6FdI/AAAAAAAAAWQ/KHcnLbAMZ1A/s1600/koleksik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Zh6va4d9nKA/TnIm4Hg6FdI/AAAAAAAAAWQ/KHcnLbAMZ1A/s320/koleksik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652623227834996178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adalah Iskandar Kristanto yang hobi kumpulkan motor Harley Davidson tua seperti tipe WLA, WL, Sporter dengan tahun pembuatan 1940-1960. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, motor Jepang yang branch-nya kondang di Indonesia, seperti Kawasaki, Honda, Suzuki, Yamaha, berbagai tipe antara tahun 1960-1980-an juga dikumpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlahnya banyak sekali. Mungkin sekitar 100-an unit lebih. Motor-motor dikumpulkan sejak lama dan disimpan pada sebuah gudang belakang bengkel AC Leduwi di Jl MT Haryono 452 Semarang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di bengkel itulah Om Is begitu panggilannya, setiap hari terima order perbaiki AC mobil. Tidak sekadar banyak, kondisi motor juga serba komplit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan beberapa motor terlihat orisinal seperti di zamannya dulu. Baik cat maupun aksesorisnya. Sebut saja Suzuki GT 380 tahun 1974 yang tampak seperti baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah heran sampai terbungkus plastik yang tersuplay udara lewat fan. Istilahnya Bubble, tujuannya menghindari debu yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula Vespa lansiran 1962 yang masih baru gress alias belum dipakai. Konon motor berbodi gendut itu sudah diincar lama. Karena memang sudah jodoh, akhirnya motor itu berhasil dimiliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi unit Yamaha YL 1 lansiran 1966 dan 1968, yang konon pernah menang kontes Yamaha tertua dan akhirnya menghasilkan satu unit Yamaha Vixion baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelebihan Yamaha tipe itu, motornya kecil tapi mesinnya twin dengan 2 karburator," kata suami Yenny Ekawati Kuntjoro ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa memilih motor tua? alasannya lebih kepada cerita ketika memperoleh dan membangunnya. Ada kepuasan ketika motor itu akhirnya terlahir kembali seperti masa kejayaannya dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal bukan hal mudah. Apalagi Om Is termasuk anti-pakai peranti non-orisinal. Satu contoh ketika beroleh Harley Davidson WL  dan kemudian membangunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pistonnya disusupi piston Mazda B600 (kotak sabun). Performanya kurang, pasalnya pistonnya dibubut dan klip pen pistonnya sering lepas. Akibatnya mesin kurang sip. Di situlah tantangannya untuk mencari part orisinalnya dan kemudian merakitnya," papar Om Is berapi-api. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan jika berburu sparepart dan mengumpulkannya, masuk jadwal kegiatan Om Is. Ia pun menjadi rujukan mereka yang juga mencari sparepart kategori OEM Harley Davidson tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya doi sedia sparepart motor legendaris asal Amerika tersebut. Lantas bagaimana perawatan motor-motor itu?  "Cukup dibersihkan sajalah," tutupnya singkat. &lt;br /&gt;Sumber: MotoBike &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-4036880935398655866?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/4036880935398655866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=4036880935398655866' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/4036880935398655866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/4036880935398655866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/09/koleksi-om-is-honda-hingga-harley.html' title='Koleksi Om Is: Honda hingga Harley'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Zh6va4d9nKA/TnIm4Hg6FdI/AAAAAAAAAWQ/KHcnLbAMZ1A/s72-c/koleksik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-7319432695448969939</id><published>2011-09-12T11:32:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T09:26:37.750-07:00</updated><title type='text'>Wagub Christiandy Syukuri Kebersamaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-GUUVY51l2Zk/TnInNum2x3I/AAAAAAAAAWY/v4rH8jXsSYI/s1600/kue%2Bbulan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 208px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-GUUVY51l2Zk/TnInNum2x3I/AAAAAAAAAWY/v4rH8jXsSYI/s320/kue%2Bbulan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652623599106180978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Festival Kue Bulan di Kalbar&lt;br /&gt;MASYARAKAT Tionghoa, termasuk di Kalbar, merayakan perayaan Cung Chiu Ciek atau festival Kue Bulan, besok, Senin (12/9). Tradisi perayaan Cung Chiu Ciek diperingati setiap tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa mulai bersiap diri dan membeli berbagai jenis kue bulan yang tersedia di pasar. Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya, misalnya mengaku berburu Kue Bulan hingga ke Singkawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sudah membeli berbagai jenis kue di Pontianak. Kue itu untuk dinikmati bersama keluarga, saudara, maupun kerabat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Saya membeli Kue Bulan sampai ke Singkawang. Saat kemarin pulang memperingati 100 hari wafatnya Ibu saya di sana. Kue Bulan di Pontianak juga enak. Masing-masing tempat memiliki cita rasa yang berbeda," tutur Christiandy kepada Tribun, Sabtu (10/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wagub mengaku menyukai jenis Kue Bulan, Go Jin Pia. Ia menilai perayaan Cung Chiu Ciek merupakan tradisi turun temurun yang memiliki nilai positif sehingga harus dilestarikan. Melalui tradisi ini secara ekonomi dapat menghidupkan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), baik yang memproduksi maupun yang menjual kue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, perlu didukung dan dipertahankan karena sangat positif dan memberikan nilai tambah untuk pertumbuhan ekonomi. Christiandy menuturkan, hingga sekarang tradisi ini dirayakan bersama keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, saling membagikan kue bulan kepada yang lebih tua. "Kita tetap merayakan bersama keluarga, dengan cara kumpul dan makan bersama. Perayaan Kue Bulan merupakan hari spesial bagi masyarakat Tionghoa, kita patut bersyukur bisa berkumpul dan makan bersama dengan keluarga, serta kepada yang tua kita antarkan Kue Bulan," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentalnya hubungan antarsaudara juga dirasakan Ketua DPRD Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie. Menurutnya, zaman dulu (perang) kue bulan dijadikan alat komunikasi dengan menyisipkan kertas ke dalam kuenya untuk mengirimkan pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang, khususnya bulan ini, kita bisa mengirimkan Kue Bulan untuk saudara yang lebih tua dan kerabat. Sehingga mempererat hubungan saudara dan kerabat yang selama ini mempunyai kesibukan masing-masing," kata Chui Mie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali Kota Singkawang, Hasan Karman, berharap masyarakat Tionghoa tidak sekadar&lt;br /&gt;merayakan festival ini dengan makan bersama dan berkumpul. Namun, perlu juga mengetahui makna yang terkandung dari perayaan ini. Sehingga bisa meneladaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua DPRD Kota Pontianak, Hartono Azas, mengatakan hikmah penting yang bisa diteladani dari Festival Kue Bulan adalah semangat persatuan, kompak, jiwa kebersamaan bisa mewujudkan segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harapan saya agar bangsa kita selalu memperkokoh nilai nilai kebersamaan tanpa melihat asal usul latar belakang yang penting hasil karya nyata bagi kemajuan pembangunan daerah," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaladanan Suami Istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali Kota Singkawang, Hasan Karman, mengatakan ada dua peristiwa yang terjadi mewarnai perayaan Kue Bulan. Pertama, kala itu di antaranya terjadinya perampokan di rumah sepasang suami istri, How Ie dan Chang Er, yang menyimpan benda pusaka berupa pil panjang umur atau pil ke surga yang diberikan kaisar kepada How Ie yang berjasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi perampokan How Ie tidak berada di rumah dan Chang Er takut kehilangan pil itu sehingga ia meminumnya. Alhasih, setelah  meminum pil itu roh Chang Er dipercaya naik ke surga dan meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, setiap hari peristiwa itu, yakni tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek, How Ie membikin Kue Bulan untuk mengenang istrinya. Dari peristiwa itu menggambarkan suami istri yang luar biasa saling mencintai karena takdir buat mereka pisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari kejadian itu, dapat dipetik maknanya yaitu kesetiaan suami atau keteladanan suami istri yang perlu dicontohi oleh masyarakat sekarang ini. Apalagi saat ini, suami istri dikit-dikit mau cerai, sehingga cocok dijadikan keteladanan," imbaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa kedua adalah pemberontakan di zaman Dinasti Yuan (1271-1368) oleh suku Han terhadap suku Monggol. Pemberontakan terjadi karena suku Han dijajah oleh suku Monggol yang berkuasa kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga untuk menggerakan semua suku Han dibikinlah Kue Bulan yang disisipkan kertas berisi pesan agar melakukan perlawanan serentak pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan demikian, Kue Bulan dapat dijadikan media untuk mengirim pesan agar rasa solidaritas tumbuh untuk melawan penjajah. Untuk masa sekarang perayaan festival Kue Bulan dapat dijadikan semangat persatuan dan kesatuan bangsa untuk melawan korupsi," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, Hasan Karman berharap, setiap ada perayaan etnis Tionghoa dapat diceritakan kembali kepada generasi muda, apa saja asal usul  suatu perayaan itu. Karena setiap tradisi Tionghoa banyak mengandung filosofi atau penuh dengan makna dan bangsa akan jadi besar kalau bangsa itu berbudaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertahankan Tradisi Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARGA Tionghoa melakukan sembahyang bulan yang disebut Pai Guek Hua (dialek Tio Ciu), dan Pai Nyiat Fa (dialek Hakka). Pada tengah malam perayaan Festival Kue Bulan atau Cung Chiu Ciek, merupakan satu di antara kebudayaan yang mulai terkikis oleh zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, masih ada warga Thionghoa yang mempertahankannya. Seperti warga Jl Gajah Mada, Gg Gajah Mada III, The Siam Kheng (56). Ia masih mempertahankan ritual Pai Guek Hua atau Pat Nyiat Fa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, tradisi ini sudah dilakukan turun temurun dan merupakan tradisi keluarga atau orangtua. "Ritual ini setiap tahun kami laksanakan dan sudah berlangsung  60 sampai 70 tahun. Sejak orangtua kami masih hidup. Jadi ritual ini termasuk tradisi keluarga," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Siam Kheng beralasan kenapa tradisi ini dipertahankan, karena selama melakukan ritual sembahyang pada Dewi Bulan, sangat baik untuk kesehatan dan keselamatan. Sementara anak perempuannya, Lim Ai Cu (33), bertekad akan meneruskan ritual  Pai Guek Hua atau Pat Nyiat Fa, yang selama ini digelar oleh orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tradisi ini tidak dilanjutkan maka akan berhenti sehingga anak kita tidak akan tahu. Oleh sebab itu, kelak saya akan melanjutkan tradisi orangtua saya ini," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, dengan perkembangan zaman yang serba modern masyarakat mulai meninggalkan hal-hal seperti ini. Padahal ritual ini meruapakan tradisi yang unik sehingga memiliki nilai jual. Melestarikan ritual Pai Guek Hua atau Pat Nyiat Fa termasuk bagian melestarikan budaya Tionghoa, terlepas dari keyakinan akan diberi kesehatan dan keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya dari dulu turut melakukan sembahyang dan berdoa pada Dewi Bulan. Dulu saya berdoa minta jodoh dikabulkan, terus minta anak juga dikabulkan. Selama ini apa yang kita doakan selalu dikabulkan, dan terpenting kita minta kesehatan dan keselamatan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagang Raup Rezeki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FESTIVAL Kue Bulan mendatangkan berkah bagi para pedagang, setiap harinya mendekati hari H, mereka mampu menjual sekitar 300 kotak per harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kuenya bermacam-macam dan berbagai jenis. Ada yang menggunakan minyak hewani adapula yang menggunakan minyak sayur khusus untuk yang bervegetarian sehingga bisa dimakan siapa saja. Sedangkan jenisnya ada belasan jenis baik yang diproduksi di Pontianak maupun berasal dari luar seperti Singkawang dan Bengkayang," kata penjual kue bulan, Asua, kepada Tribun, Sabtu (10/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asua yang berjualan di Jl Gajah Mada, tepatnya di samping Pemadam Kebakaran Budi Pekerti ini, mengaku setiap tahun tidak pernah absen menjual kue bulan. Ia memiliki langganan tetap yang tidak hanya berasal dari Pontianak tetapi juga dari luar kota bahkan ada yang dari luar Kalbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Langganan saya sudah cukup banyak, harga satu kotak kue bulan dimulai dari harga Rp 30.000 sampai dengan harga Rp 90 ribu per kotak dan rasanya beragam. Ada yang berisi telur, kacang hijau, sayuran serta ada yang tanpa isi," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, Asua mengaku pembeli tahun ini tidak seramai dengan tahun lalu. Menurutnya, tahun ini dipengaruhi musim buah yang bertepatan dengan perayaan festival kue bulan sehingga banyak langganan memilih membeli buah daripada kue bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pewaris Toko Hong Hak, spesialis Kue Bulan di Jl Gajah Mada No 55 Pontianak, Tan Kim Hai, mengatakan Kue Bulan hasil produksinya tidak hanya dipasarkan di Pontianak dan sekitarnya tetapi hingga ke Pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Proses produksi Kue Bulan Hong Hak masih menggunakan cara tradisional sehingga mempunyai khas tersendiri. Hal ini yang membuat kue kita digemari oleh pelanggan selain kualitas yang selalu dijaga," tutur Tan Kim Hai, pewaris generasi ketiga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menceritakan, Kue Bulan yang terbuat dari tepung terigu dan dipanggang ini memiliki rasa dan bentuk yang beragam. Di antaranya La Pia atau Gwek Pia yang memiliki tiga rasa Tau Sha (kacang hijau), Cui Cia (buah kundur), dan Bu Tang Chai (sayuran). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada juga Kho dan Ma Kau Pia yang terdiri dari Go Jin dan Tau Sha, serta ada yang terbuat dari ketan putih dan hitam yang berisi kacang hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kue Bulan yang mempunyai berbagai bentuk dan ukuran ditawari dengan harga yang bervariasi. Satu di antaranya La Pia dijual dengan harga Rp 90 ribu per kotak yang berisi dua buah. (steven greatness/tribun pontianak)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-7319432695448969939?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/7319432695448969939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=7319432695448969939' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7319432695448969939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7319432695448969939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/09/wagub-syukuri-kebersamaan.html' title='Wagub Christiandy Syukuri Kebersamaan'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-GUUVY51l2Zk/TnInNum2x3I/AAAAAAAAAWY/v4rH8jXsSYI/s72-c/kue%2Bbulan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-1467670160781704889</id><published>2011-09-09T07:04:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T09:29:14.692-07:00</updated><title type='text'>Rakit Sendiri Norton 56</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-z1wSdXuN-nw/TnIn1NtSfpI/AAAAAAAAAWg/e2BTrG002sA/s1600/eko%2Bjuga.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 228px; height: 304px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-z1wSdXuN-nw/TnIn1NtSfpI/AAAAAAAAAWg/e2BTrG002sA/s320/eko%2Bjuga.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652624277469560466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Eko Norton. Begitulah kira-kira, biker Kalbar memanggilnya. Bukan kebetulan disapa denan embel- embel Norton. Sebab Eko memang punya motor lawas keluaran Inggris tersebut. Di garasi rumahnya di Jl Perdana, tersimpan motor-motor Eropa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesukaan mengkoleksi dan merakit motor antik, sudah dilakukan pria penggila motor antik ini, sejak 2002. Hunting  motor antik dari satu daerah ke daerah lain, merupakan hobi Eko hingga saat ini. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ada informasi dari kawan-kawan ada motor antik, saya segera untuk hunting ke lokasi," ungkap Eko kepada Tribun di kediamannya, baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norton 1956, motor antik buatan Inggris ini, adalah satu di antara koleksi motornya. Ia mengatakan, awalnya motor tersebut kondisinya tidak seutuh seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Waktu itu keadaannya masih berantakan. Hanya mesin dan rangka saja. Masih belum bias dikendarai," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak membutuhkan waktu yang lama, ia pun merakitnya menjadi sama seperti aslinya motor itu. Kebanyakan semua koleksi motor antiknya adalah hasil rakitannya sendiri. "Ada kepuasan sendiri bagi saya ketika merakit sebuah motor," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merakit sendiri, menurutnya, lebih mudah mengetahui masalah yang terjadi pada motor. "Kita bisa tahu di mana letak rusaknya atau masalahnya. Sehingga bisa memperbaiki sendiri," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengenang, selesainya pembangunan bagian-bagian motor tersebut, bertepatan dengan malam takbiran saat lebaran tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengerjaannya awal puasa dan jadi pas malam takbiran. Senang rasanya. Jadi motor serasa ikut lebaran juga," tuturnya sambil tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, kelebihan Norton 1956 miliknya terletak pada posisi rem di sebelah kiri. Transmisi terletak di sebelah kanan. Setangnya lebar, sekitar 50 sentimeter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu depannya sebesar lampu mobil tua. Selain itu bentuk tangkinya juga unik berbentuk bulat.&lt;br /&gt;Jika mengendarai motor tua itu, Eko mengaku sangat enjoy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau touring pakai motor ini enak sekali. Akselerasi dan kecepatannya enak banget. Walaupun motor tua dan antik, tapi tetap enak dikendarai pada jarak jauh," ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski buatan tahun 1956, Eko mengaku, Norton miliknya tidak pernah rewel atau rusak. Ia rajin mengganti oli motor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tergantung pemakaian, kalau sering memakainya, tentu saja saya harus sering mengganti olinya," katanya. (mirna/tribun pontianak)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-1467670160781704889?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/1467670160781704889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=1467670160781704889' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1467670160781704889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1467670160781704889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/09/rakit-sendiri-norton-56.html' title='Rakit Sendiri Norton 56'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-z1wSdXuN-nw/TnIn1NtSfpI/AAAAAAAAAWg/e2BTrG002sA/s72-c/eko%2Bjuga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-5518821590142284783</id><published>2011-08-01T08:59:00.000-07:00</published><updated>2011-08-01T09:01:31.462-07:00</updated><title type='text'>Wagub Kalbar: Ini Luar Biasa!</title><content type='html'>Tribun Family Fun Bike&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PONTIANAK, TRIBUN - Sekitar 6.000 orang dengan sepeda masing-masing memadati area area Car Free Day, Jl Ahmad Yani, Pontianak, Minggu (24/7) sekitar pukul 06.00 WIB, untuk mengikuti Tribun Family Fun Bike. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari anak-anak hingga orangtua, semua menjadi satu untuk meramaikan kegiatan dalam menyambut Hari Ulang Tahun ke-3 Tribun Pontianak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini luar biasa ramainya. Ini capaian luar biasa dan positif. Saya harap, bukan hanya di Kota Pontianak saja yang ramainya seperti ini, tapi juga kegiatan bersepeda di daerah Kalbar lainnya bisa ramai seperti fun bike Tribun," ungkap Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sandjaya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wagub menjadi pembuka start acara Tribun Family Fun Bike, yang kemudian diikuti ribuan peserta lain di belakangnya yang memanjang hingga satu kilometer dengan kerapatan yang sangat padat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kegiatan seperti ini sangat bagus. Kami, pemerintah dan saya pribadi, sangat mengapresiasi kegiatan ini karena melibatkan masyarakat," ujar Christiandy seusai bersepeda bersama peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ini terus dilakukan Tribun ataupun lembaga lainnya, berarti akan lebih banyak lagi pengguna sepeda. Saya harap nantinya di Kota Pontianak ini, bisa lebih banyak yang pakai sepeda dari pada jenis kendaraan lainnya. Sehinga konsumsi BBM kita berkurang, dan lingkungan udara kota menjadi bersih," tambah Wagub yang sekarang menambah kegiatan olahraganya dengan bersepeda, selain renang dan badminton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menganggap keberadaan Tribun Pontianak sebagai media terbesar di kalbar, ke depan bisa tampil sebagai media yang lebih mendekatkan diri pada masyarakat, berkualitas, kreatif, berimbang, dan memuat pesan-pesan pembangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada juga diutarakan Area Representative PT Dispoly Indonesia (Polygon), Jono, yang turut mensponsori kegiatan Tribun Family Fun Bike. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepanjang Polygon mensponsori berbagai event olahraga seperti fun bike, kegiatan hari inilah yang terbesar. Ini sangat ramai dibanding event-event sebelumnya di Kalbar. Kami sangat gembira melihat ini dan ke depan kegiatan seperti inilah, meski ramai tapi tetap tertib," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feedback itupun di dapat mereka sebagai ajang promosi. Sehingga, masyarakat lebih mengenal produk-produk Polygon. "Tentunya ada feedback-nya bagi kami, ini sebagai promosi. Yang belum tahu Polygon, akhirnya bisa tahu. Nanti kalau ada event seperti ini lagi dari Tribun, sebaiknya memakai kaos seragam, biar lebih wah," saran Jono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan Tribun Family Fun Bike, puluhan hadiah jatuh ketangan para peserta. Seperti motor, kulkas, sepeda, TV, HP, tiket pesawat PP Pontianak-Jakarta, voucher menginap di hotel berbintang, voucher pulsa, buku note, serta masih banyak lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berkat sponsor PT Astra International Tbk-Honda, Polygon, Bank Kalbar, Tb Gramedia, Garuda Indonesia, Hotel Mercure Pontianak, Sriwijaya Air, Indosat, Telkom Flexi, Hotel Santika, Radio Sonora, Duta Promosi, Khatulistiwa TV, dan Fit Active.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak, Albert G Djoko, mengatakan, Tribun Pontianak ada sebagai media untuk mendekatkan diri pada masyarakat Kalbar.  Melalui kegiatan fun bike itu pula, Tribun hadir untuk menyemarakkan kegiatan bersepada, yang tentunya selain bermanfaat untuk kesehatan, juga bermanfaat untuk lingkungan. (pab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus Terjalin&lt;br /&gt;Bodhi Limas&lt;br /&gt;Kabag Retail PT PT Astra International Tbk-Honda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRIBUN Family Fun Bike merupakan kegiatan yang di-support Honda sebagai mitra Tribun Pontianak. Kerjasama ini saling menguntungkan, dan kita harapkan ke depan kerjasama ini tetap terjalin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti support kegiatan yang akan dilakukan Tribun Pontianak. Karena kita juga ada kegiatan CSR, dan mungkin nanti kita ada kegiatan bersama Tribun di bulan ramadan.&lt;br /&gt;Jalinan kerjasama ini juga akan membantu sektor promosi dan meningkatkan image brand &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Honda, sehingga diharapkan Honda semakin eksis di Kalbar. &lt;br /&gt;Kegiatan seperti ini sebagai media promosi untuk produk baru kami. Kami berharap Tribun Pontianak juga bisa semakin maju dan besar. (pab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Bulan&lt;br /&gt;Setiawan&lt;br /&gt;Store Manager Toko Buku Gramedia Pontianak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEGIATAN Tribun Family Fun Bike yang digelar Tribun Pontianak dalam rangka menyambut HUT ke-3 sangat diapresiasi masyarakat. Buktinya, ribuan orang menjadi peserta dalam acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesertanya banyak sekali. Hadiah-hadiahnya juga banyak dan menarik. Saya pikir memang Tribun Pontianak menjadi media nomor 1 di Kalbar. Dan kita selalu mengharapkan penyajian beritanya semakin memenuhi kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah kami berharap Tribun Pontianak selalu mengagendakan kegiatan fun bike setiap bulan, supaya Tribun menjadi lebih dekat dengan masyrakat. (pab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda Tahunan&lt;br /&gt;Redi Zusanto&lt;br /&gt;Asisten Manager PLN Cabang Pontianak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMI menyambut gembira acara Tribun Family Fun Bike ini. Kami seluruh pegawai instansi PLN diundang dan kami menurunkan 100 orang. Sebenarnya mau 300 orang, tapi kita berbagi dengan kegiatan yang sama di Singkawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mendekatkan dengan mayarakat, kegiatan seperti ini bisa membangun silaturahmi, baik sesama pegawai PLN maupun dengan masyarakat dan sektor-sektor lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan kami, Tribun Pontianak bisa melaksanakan event serupa setiap ada momen dan dijadikan agenda tahunan. Karena selain untuk kesehatan, fun bike ini juga sebagai sarana hiburan. (pab)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-5518821590142284783?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/5518821590142284783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=5518821590142284783' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/5518821590142284783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/5518821590142284783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/08/wagub-kalbar-ini-luar-biasa.html' title='Wagub Kalbar: Ini Luar Biasa!'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-3480321332133643721</id><published>2011-06-04T12:27:00.001-07:00</published><updated>2011-06-04T12:29:59.254-07:00</updated><title type='text'>Dandani AJS Rp 52 Juta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-9Wm9tg9PO7w/TeqHobcFm3I/AAAAAAAAAV4/j-saNHeC_4s/s1600/ajs%2Bok.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 194px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-9Wm9tg9PO7w/TeqHobcFm3I/AAAAAAAAAV4/j-saNHeC_4s/s320/ajs%2Bok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614449014100826994" /&gt;&lt;/a&gt;MEMILIKI motor antik adalah kebanggan tersendiri bagi Heri. Pemuda yang baru saja lulus dari SMA Negeri 7 Pontianak, Kalimantan Barat ini, lebih memilih mengendarai motor antik Inggris ketimbang motor gede (moge).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau naik motor antik, saya lebih pede. Karena bentuknya unik dan klasik. Sangat jarang dikendarai anak muda, di Kalbar khususnya," ungkap Heri kepada Tribun, Selasa (31/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah setahun ia memiliki motor Albert John Stevens (AJS) keluaran 1956. Banyak keunikan dari motor kesayangannya itu. Di antaranya jika dibawa bepergian jarak jauh, lebih nyaman. Kecepatannya pun masih lumayan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk memiliki motor antik AJS, Heri harus rela menjual dua sepeda motor Jepang miliknya. Guna melengkapinya, ia pun harus berburu sparepart di Bandung, Jawa Barat, selama sebulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau ndak mau harus menjual 2 motor Jepang milik saya. Saat membeli harganya Rp 29 juta, kondisi masih belum sempurna alias bentuknya masih berantakan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya kedua orangtuanya tidak setuju ia membeli motor AJS. Ia diprotes karena kondisi motor AJS yang belum sempurna. Namun, setelah diperbaiki, orangtua yang tadinya marah malah berbalik mendukung Heri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 5 bulan, Heri memperbaiki motor tersebut. Ia memasang spareparts yang dibutuhkan, sehingga sesuai dengan bodi asli motor AJS lansiran 1956. "Lumayan juga untuk membangun bodi habis sekitar Rp 23,5 juta," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heri mengungkapkan, untuk menjaga kondisi sepeda motornya agar tetap prima, ia harus intens melakukan perawatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau motor ini paling rewel pada pengapiannya. Platinanya dan karburator harus rajin dicek dan dibersihkan. Jika kotor, akan sangat merepotkan. Begitu juga pada businya. Misalnya mengendarainya sudah enggak enak atau nyendat-nyendat maka businya harus diganti," kata Heri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia juga harus sering-sering mengganti oli. Seandainya motor dibawa bepergian jauh, ia harus mengganti oli setelahnya. "Biasanya sih sebulan sekali lah, saya ganti oli," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga punya perhatian khusus untuk tangki. Tangki yang sengajanya dikrom warna perak, mengharuskannya untuk selalu rajin membersihkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap hari saya selalu melapnya dengan biar selalu kinclong. Kalau habis hujan, saya selalu langsung bersihkan seluruh bodi motor. Saya sangat sayang dengan motor ini jadi rajin dibersihkan," ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya yang nyaring merupakan satu di antara khas dari motor antik yang satu ini. Jika motor dihidupkan, suara dari knalpot akan mengeluarkan bunyi yang membuat bising orang sekitar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Headlamp atau lampu depannya yang berbentuk lonjong dan pelek jarinya mengentalkan klasik motor tersebut. Motor ini berkapasitaskan 350 cc. Model silinder tunggal. Motor ini menggunakan keran di sisi kanan mesin dan sisi lain bertindak sebagai suplai cadangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris Dikeluarkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara membawa motor AJS ke sekolahnya, Heri hampir saja diberhentikan dari sekolahnya. "Waktu itu saya masih kelas 3 SMA. Saya bawa motor itu ke sekolah, tiba-tiba saja guru saya memanggil dan membawa saya ke kantor," kenang Heri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena membawa motor antik AJS tersebut, ia langsung diberi surat peringatan (SP) 3 dan orangtuanya disuruh menghadap ke kepala sekolah. "Itulah hampir saja dikeluarkan dari sekolah," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kecintaannya terhadap motor tersebut membuatnya tidak kapok untuk membawanya ke sekolah. Diam-diam ia bawa motor itu ke sekolah. Ketika di area sekolah, ia matikan mesin AJS tersebut. "Suaranya memang nyaring. Kalau sudah sampai depan gerbang sekolah saya matikan mesinnya," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heri menceritakan jika saat istirahat, ia selalu memperhatikan motornya itu di tempat parkir dan memandanginya dari kejauhan. "Kalau dibawa ke sekolah, jarang pula motor ini dipinjam teman. Mereka takut mau memakainya. Karena mereka tahu harganya mahal," ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesehariannya, Heri selalu menggunakan motor kesayangannya itu. Setiap ia jalan kemanapun, AJS 1956 ini selalu setia menemani. "Saya sudah bawa motor ini sampai ke Sanggau Ledo," jelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan style pakaian jaket rompi, celana jeans dan baju T Shirt serta tidak lupa memakai sepatu boot. "Begitulah style saya kalau naik motor," ujarnya sambil tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengutarakan banyak teman ceweknya yang sering minta dibonceng dengan motor antiknya itu. "Kalau naik motor ini, selalu menjadi perhatian orang," katanya. (mirna/tribun pontianak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ban: Swallow, 350 x 19 (depan) dan 300 x 19 (belakang)&lt;br /&gt;Pelek: Original AJS&lt;br /&gt;Karburator: Ninja RR&lt;br /&gt;Shockbreaker: Original (depan dan belakang)&lt;br /&gt;Tromol: Orginal (depan dan belakang)&lt;br /&gt;Lampu depan: Original (depan dan belakang)&lt;br /&gt;Setang: Original &lt;br /&gt;Knalpot: Original&lt;br /&gt;Handgrip: Amal&lt;br /&gt;Frame: Original&lt;br /&gt;Kapasitas : 350 cc&lt;br /&gt;Mesin: AJS 1956&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-3480321332133643721?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/3480321332133643721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=3480321332133643721' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3480321332133643721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3480321332133643721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/06/dandani-ajs-rp-52-juta.html' title='Dandani AJS Rp 52 Juta'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-9Wm9tg9PO7w/TeqHobcFm3I/AAAAAAAAAV4/j-saNHeC_4s/s72-c/ajs%2Bok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-1074173442942496817</id><published>2011-06-02T11:01:00.000-07:00</published><updated>2011-06-02T11:10:35.369-07:00</updated><title type='text'>Motor Antik Terbaik vs Termahal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-SuiesF7qO5A/TefR_KnQvMI/AAAAAAAAAVs/vhmqs9uHYTI/s1600/terbaik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 178px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-SuiesF7qO5A/TefR_KnQvMI/AAAAAAAAAVs/vhmqs9uHYTI/s320/terbaik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613686343651605698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tubuh telanjang dan cungkring yang dimiliki motor ini ternyata bukanlah sebuah kekurangan. Bahkan bisa dibilang inilah yang membuat tubuh motor Amerika ini tampak eksotik. Motor ini pun jadi motor lawas terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor bernama American Pierce Four ini sendiri merupakan sebuah motor yang dibuat mengambil inspirasi dari FN yang diproduksi pada tahun 1910.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh cungkring American Pierce Four ini didorong oleh sebuah mesin 4 silinder yang memiliki kekuatan 4 horse power (hp) tapi mampu berlari hingga kecepatan puncak mencapai 97 km perjam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan mesin yang digendongnya itu, American Pierce Four pun menjadi sebuah motor Amerika pertama yang mengaplikasi mesin empat silinder di dapur pacunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, motor yang diproduksi hingga tahun 1913 ini tidak memiliki transmisi atau gearbox. Namun kemudian ditambahkan dengan transmisi dua percepatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tubuh eksotisnya tersebut, American Pierce Four pun berhasil merebut predikat sebagai motor lawas terbaik di ajang bergengsi Concorso d'Eleganza Villa d'Este yang dihelat akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;American Pierce Four berhasil memenang ajang tersebut setelah menyingkirkan 40 lebih motor lawas lain dengan penilaian meliputi desain, wilayah, hingga orisinalitas kendaraan. Demikian dilansir autoevolution, Minggu (29/5/02011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk motor antik termahal jatuh ke tangan Brough Superior 1929. Untuk penggemar motor antik Eropa, namanya tentu tidak asing lagi. Memang ia tidak sekondang Norton, BSA, Jawa, Triumph, atau Harley Davidson. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kuda besi ini baru saja menggetarkan jagat raya seperti yang diwartakan autoevolution, di mana Brough mencatatkan dirinya sebagai motor antik termahal di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, di balai lelang Eropa H&amp;H, Brough ditawar dengan harga tertinggi 286 ribu poundsterling atau setara Rp 4,05 miliar oleh seorang kolektor. Lelang berlangsung di museum industri sepeda motor dunia, Haynes International Motor Museum, Sparkford, Inggris, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuat Brough Superior ini adalah George Brough asal Inggris. Ia memproduksinya pada 1919 sampai 1940 di markasnya di Haydn Road, Nottingham, Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua motor bikinannya mempunyai ciri beperforma tinggi dan memiliki kualitas paling bagus. Adapun Brough merupakan mantan pebalap, perancang, dan showman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor garapannya termasuk Brough Superior termahal ini. Motor tersebut dibekali mesin SS100 berkapasitas 1.000 cc V-twin. Kecepatan maksimum yang bisa dicapai adalah 161 kilometer per jam (100 mph). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KECEPATAN yang sangat hebat untuk saat itu sehingga kendaraan tersebut (termasuk karya Brough lainnya) dijuluki "Rolls Royce"-nya sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada 1929, hanya 29 motor yang diproduksi di Pendine (Wales) dan Grand Alpine (Swiss) dengan dua opsi rangka tipe B dan D. Brough juga dilengkapi dengan sistem transmisi 3-percepatan dijuluki super-heavyweight," ujar penyelenggara lelang H&amp;H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeda motor langka ini sudah mengalami restorasi pada tahun 2000-2001 dan berfungsi normal seperti saat diluncurkan. Bahkan, moge ini berhasil digunakan untuk menjelajah sejumlah negara di Spanyol, Prancis, Austria, dan Italia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeda motor ini juga dilengkapi dengan sejumlah sertifikat asli kendaraan. Nilai jual sepeda motor ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah setelah rekor sebelumnya dipegang oleh Cyclone produksi 1915 seharga 278.400 poundsterling atau Rp 3,9 miliar. (*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-1074173442942496817?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/1074173442942496817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=1074173442942496817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1074173442942496817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1074173442942496817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/06/motor-antik-terbaik-vs-termahal.html' title='Motor Antik Terbaik vs Termahal'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-SuiesF7qO5A/TefR_KnQvMI/AAAAAAAAAVs/vhmqs9uHYTI/s72-c/terbaik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-327585420125808401</id><published>2011-05-29T22:51:00.000-07:00</published><updated>2011-05-29T22:59:34.821-07:00</updated><title type='text'>Menggantang Film Indie Kalbar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-uebuRoRZ0Qs/TeMyIkETNyI/AAAAAAAAAVk/8iqd8IB0uQ4/s1600/amie.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 184px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-uebuRoRZ0Qs/TeMyIkETNyI/AAAAAAAAAVk/8iqd8IB0uQ4/s320/amie.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612384683335825186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Film Maker Damba Dukungan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MASIH ingat perhelatan Festival Film Indonesia (FFI) 2009 silam? Ajang bergengsi insan film nasional itu, menobatkan Aria Kusumadewa dan Djenar Maesa Ayu masing-masing sebagai Sutradara Terbaik dan Sutradara Baru Terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, film keduanya adalah karya film independen atau indie. Aria melalui Identitas dan Djenar Maesa lewat Mereka Bilang Saya Monyet. Masuknya dua karya indie ini pun kemudian banyak diperbincangkan insan film.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Harapan bahwa film indie bisa diapresiasi dan mendapat tempat di tingkat nasional, juga adalah harapan cineas Pontianak. Satu di antaranya adalah Akilbudi Patriawan yang membesut film Amie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda yang hanya tamatan SMA Mujahidin Pontianak ini adalah satu dari sedikit pegiat film indie di Kalbar. Memang ada sederet nama lainnya. Sebut saja Pawadi Jihad (penulis naskah), Buhari (sutradara dan artis talent), Raditya (kameramen), Anca Apriansyah (lighting), dan Ahmad Afid (musik director).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awalnya hanya hobi. Namun, ternyata peluang menjadi cineas sangat terbuka karena di Kalbar jarang yang menggarap film indie. Kalau pun ada, seperti yang dilakukan teman-teman di sejumlah SMA di Pontianak, film indie hanya bagian dari tugas sekolah. Belum digarap profesional," kata Akilbudi kepada Tribun, Sabtu (28/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga 2011, sudah sekitar 23 judul film yang dihasilkan pemuda kelahiran Pontianak, 5 Juli 1988 ini. Di antaranya, Gangs Over (2009), Hantu Oneng (2009), Detektif Agatha (2010), Jebakan X (2011), dan terakhir adalah Amie (2011). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amie sendiri diputar di Taman Budaya Kalbar, 22-23 Mei lalu. Sebelumnya, juga sempat diputar di Singkawang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Konsekuensi film indie adalah tidak dibayar. Sebab biaya produksi hanya didapat dari donatur. Kita sudah berupaya untuk menembus sejumlah perusahaan swasta, namun masih belum direspon. Dan ini, jadi tantangan kami para pegiat film indie, untuk memproduksi film-film indie sebaik mungkin," ujar Akilbudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain karena hambatan pendanaan tadi, ia juga mengakui sulitnya mencari pemain atau artis. Mereka kurang bisa akting. Kondisi ini membuat penggarapan film indie biasanya menjadi lama karena harus latihan sebulan sebelum syuting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di luar itu, rata-rata artis di sini kurang memahami apa itu film indie. Merekrut mereka untuk bisa main dengan konsekuensi tidak dibayar, itu jadi masalah tersendiri. Kendala lainnya adalah Kalbar sering mati lampu dan daya listrik di lokasi syuting tidak memadai," papar layouter Harian Kapuas Post ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasokan listrik menurut warga Jl Tabrani Ahmad, Gg Setara Nomor 1 Pontianak ini, sangat penting. Terutama untuk menopang semua peralatan syuting. Kamera, lighting, komputer recording, rel, rata-rata butuh daya 3.000 watt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keterbatasan itu, Akilbudi dan teman-teman cineas Pontianak tetap bertekad mengembangkan film indie di Kalbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Film indie itu representasi dari idealisme cineas. Meski belum menguntungkan, kita tetap akan produksi film-film indie. Ada kepuasan batin ketika menggarap dan menyaksikan antusiasme penonton menyaksikan film yang kita garap. Rasanya ingin buat yang lebih baik lagi. Kepuasan serupa juga dirasakan teman-teman lainnya," tegas Akilbudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi katanya, mereka yang terlibat di film-film indie Pontianak, baik kru maupun artis, bisa lebih dikenal luas oleh masyarakat. Harapannya, mereka juga bisa berkiprah di pentas perfilman nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kualitas film indie? Penulis nasakah Kalbar, Pawadi Jihad, mengatakan Kalbar boleh minim soal sumberdaya manusia dan sarana serta prasarana yang mendukung perfilman di daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk kreativitas cineas Pontianak tidak kalah. "Untuk kreativitas, saya rasa kita sudah bisa disejajarkan dengan film maker yang ada di Bandung atau Jakarta," tegas penulis yang sudah menciptakan 20 naskah film ini yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, di Kalbar perlu diagendakan kompetisi film-film indie. Karena dari film indie yang dinilai bukan hanya filmnya, tapi juga sutradara, skenario, editornya, desainnya, para pemainnya bahkan sisi artistiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya yakin, jika kita bisa mengangkat film-film indie hingga kepermukaan bukan saja jago kandang, tapi bisa ikut kompetisi nasional. Peluang untuk memajukan dunia film di Kalbar secara keseluruhan bisa tercapai," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kompetisi berarti butuh dukungan semua pihak. "Yang namanya indie ya independence. Meski demikian, perlu jugalah dukungan yang lain. Contohnya sarana prasarana. Kita pernah buat film indie dan minta bantuan pemerintah, tapi tidak ada respon. Ya, jadi karena indie, ya memang harus berdiri sendiri," paparnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari film-film yang sudah dibuat, Akilbudi Patriawan, yakin bisa memproduksi film layar lebar. Menurutnya, alat-alat yang dibutuhkan untuk  pembuatan film layar lebar, pada dasarnya mereka sudah punya. Begitu juga soal teknik penggarapan dan sebagainya. (hasyim ashari/pontiana banjaria)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mugiono, Pemerhati dan Pegiat Film Indie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Berekspresi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya sudah mulai ada tanda-tanda, dunia perfilman di Kalbar tumbuh dan berkembang. Hal ini dapat dilihat dari mulai munculnya sineas-sineas muda ataupun film maker lokal untuk membuat film-film indie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka punya kualitas dan kreativitas. Banyak di antara mereka yang lulusan sinematografi, desain, fotografi, dan lainnya dari universitas maupun akademi di Jawa. Kondisi itu, ditopang lagi oleh sejumlah sekolah yang ekstrakurikulernya adalah sinematografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang muncul film maker-film maker muda kreatif dari sekolah-sekolah itu. Film indie yang dihasilkan siswa-siswa itu juga sangat bagus. Nah, inikan suatu bukti, bahwa sumber daya kita ada dan sangat kreatif. Ini juga bukti perfilman Kalbar walau lewat film indie sudah sangat maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kemauan tanpa dukungan yang berarti dari pihak-pihak yang diharapkan bisa membantu, juga kiranya tidak akan jalan. Sayangnya, sampai saat ini, kemauan dan kreatifitas sineas ini belum didukung pemerintah, pihak swasta, ataupun media elektronik lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Dewan Kesenian atau Dinas Pariwisata tidak ada yang membidangi perfilman. Kita sudah beberapa kali minta dukungan ke pemerintah. Tapi, tidak juga ada respon. Sama halnya dengan televisi lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah beri peluang untuk program film-film indie lokal agar bisa ditayangkan. Bukan merugikan, rapi malah sebaliknya bisa mengangkat rating televisi lokal itu sendiri. Imbas lainnya adalah perkembangan dunia film indie di Kalbar semakin maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya sutradara film dan artis nasional yang melirik potensi perfilman Kalbar, ternyata belum mampu menggugah para pemangku kepentingan untuk membantu mengembangkan dunia sinematografi Kalbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski masih banyak kurang di sana-sini, untuk memajukan perfilman di Kalbar jangan berhenti. Para sineas atau film maker Kalbar harus terus berkarya. Kalau film-film indie kita bisa berbicara di tingkat nasional, dampaknya bukan hanya pada penggiat film itu sendiri. Imbasnya juga akan dirasakan sektor lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya sektor pariwisata. Lihat saja sekarang sudah banyak sutradara berkelas nasional maupun artis buat film dan menggunakan masyarakat lokal. Jika kita bisa pemerintah bisa melihat peluang besar ini, berilah dukungan pada film-film indie di sini. (pontiana banjaria)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apriansyah, Pemeran Utama Film Amie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba Layar Lebar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua kali bermain film indie di Kalbar, tidak membuat Apriansyah (21) berpuas diri dalam menekuni dunia perfilman Tanah Air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya pikir banyak juga pemain film besar, awalnya menapaki karier di sinema lewat indie dulu. Malah dengan jalur indie, saya rasa pengalaman dan kualitas akting kita bisa lebih terasah," kata anak pasangan Saparudin dan Yopita ini kepada Tribun, Sabtu (28/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeran utama pria dalam film Amie sebagai Alex ini, mengakui sebenarnya sudah mengandrungi berpola akting sejak di bangku sekolah menengah atas. Dari sanalah, kiprahnya dikembangkan dengan bermain teater dan mendirikan Sanggar XQ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cita-cita saya memang pada akhirnya bisa bermain di layar lebar. Saya harap, mengasah akting di tetaer dulu dan bermain di film indie bisa membawa saya menuju layar lebar. Yang jelas jangan sampai patah semangatlah. Kalau dihati kita sudah tertanam seni peran, ya fokuskan itu saja," tutur penggemar Vino G Bastian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemain film indie Gengs Over ini menambahkan main film indie cukup memberi pengalaman berharga. Terutama bagaimana menjadi aktor sesungguhnya. Karena menjadi aktor secara instant juga, dipikirnya bukanlah hal bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banyak sih suka duka yang saya dapat main film. Waktu syuting film Amie saja kondisi saya hampir drop. Karena harus bangun subuh, syuting di panas terik matahari, kehujanan dan lainnya. Tapi dari semuanya, saya bisa nambah pengalaman, banyak teman baru, dan adanya kebersamaan," papar Apriansyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, meski dirinya belum ada tanda-tanda bisa main film nasional tapi harapan untuk peluang menuju ke sana selalu ada. Dengan melihat filmnya sudah mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat Singkawang maupun Pontianak, itu sudha cukup membuatnya bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah syuting saya merasa lega, apalagi melihat antusias dan apresiasi masyarakat Singkawang. Buat saya bangga. Kalau dipikir, apa yang saya impikan untuk jadi terkenal, walau baru tingkat daerah, itu sudah sangat menyenangkan. Tapi, masih ada impian saya yang belum tercapai, makanya saya harus terus berusaha dan lebih tekun," ujarnya. (pontiana banjaria)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-327585420125808401?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/327585420125808401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=327585420125808401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/327585420125808401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/327585420125808401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/05/menggantang-film-indie-kalbar.html' title='Menggantang Film Indie Kalbar'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-uebuRoRZ0Qs/TeMyIkETNyI/AAAAAAAAAVk/8iqd8IB0uQ4/s72-c/amie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-1706369975812099460</id><published>2011-05-26T09:57:00.000-07:00</published><updated>2011-05-26T09:59:51.555-07:00</updated><title type='text'>Jaga Orisinalitas BSA C15</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Yy_pEw0pZV8/Td6G-MGLDEI/AAAAAAAAAVU/FJijGSInv60/s1600/bsa%2Bc%2B15.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 227px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Yy_pEw0pZV8/Td6G-MGLDEI/AAAAAAAAAVU/FJijGSInv60/s320/bsa%2Bc%2B15.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611070588707343426" /&gt;&lt;/a&gt;EKO, Dwi, dan Tri punya hobi yang sama. Tiga bersaudara ini selain menggilai sepeda berbagai jenis juga punya darah rider motor-motor tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, berbagai jenis sepeda terparkir di garasi dan di ruang tengah. Mulai dari low rider, sepeda ontel, sepeda balap, hingga sepeda Vixie. Adalah, sang ayah, Margono, yang memang dikenal di Kalbar sebagai pecinta sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di garasi rumahnya yang terletak di kawasan Jl Perdana Pontianak, Kalimantan Barat, terparkir berbagai jenis motor tua. Mulai dari produk Jepang hingga eropa. Yang jepang sebut saja ada Honda XL. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Motor trail yang diperuntukkan bagi pegawai lapangan Dinas Pertanian itu, terawat dengan sangat baik. Jumlahnya ada dua unit dan tetap dipertahankan orisinil. Sementara untuk produk Eropa, lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari Birmingham Small Arms (BSA), Norton, hingga Albert John Stevens (AJS). Semuanya juga dalam kondisi siap pakai. Bahkan kerap digunakan touring. Mulai dari Singkawang, Sambas, hingga Kapuas Hulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat didatangi, BSA C 15 Tahun 1959 tampak sangat mencolok. Motor berbaju warna merah Ferari ini, menggunakan mesin C11G. Mesin 249 cc OHV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua unit kaki depan belakang, juga dibaluk pelek orisinil. "Hanya sekarang diwarnai dengan cat karena jika tidak, karat akan merusak besinya," kata Eko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna merah mendominasi sepeda motor BSA milik Eko. "Orisinal sepeda motor ini tetap terjaga dari speedometer hingga klanpot," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BSA jenis ini terlihat lebih ramping dan ringan. Kendaraan tersebut hanya diproduksi dari tahun 1959-1960. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk transmisi sepeda motor ini memiliki empat percepatan, memiliki silinder tunggal dengan sisitem pengapian mengunakan platina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin berbentuk mono blok, mesin dan transmisi telah menyatu. Untuk rotasi oli terpisah dengan mesin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oli yang ada di sepeda motor ini hanya lewat dari box menuju mesin," jelas Eko dengan menunjukan rotasi oli tersebut menuju mesin. (Tribun Pontianak)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-1706369975812099460?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/1706369975812099460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=1706369975812099460' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1706369975812099460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1706369975812099460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/05/jaga-orisinalitas-bsa-c15.html' title='Jaga Orisinalitas BSA C15'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Yy_pEw0pZV8/Td6G-MGLDEI/AAAAAAAAAVU/FJijGSInv60/s72-c/bsa%2Bc%2B15.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-7172674794658057996</id><published>2011-05-26T08:17:00.000-07:00</published><updated>2011-05-26T08:29:40.737-07:00</updated><title type='text'>AJS 350 cc Bikin Bangga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Pf75y1fKRJM/Td5vekT-h3I/AAAAAAAAAVM/JIpZ_g4r4C4/s1600/AJS%2Bok.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Pf75y1fKRJM/Td5vekT-h3I/AAAAAAAAAVM/JIpZ_g4r4C4/s320/AJS%2Bok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611044756684441458" /&gt;&lt;/a&gt;SEPEDA motor Albert John Stevens (AJS) model 16 milik Eko ini didominasi warna merah ferari, bentuk tangkinya besar terlihat kokoh. Eko mempertahankan keaslian bentuk motor tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa dikatakan motor AJS ini hampir 90 persen masih orisinal," kata Eko yang tinggal di Jl Perdana, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sepeda motor ini memiliki ukuran ban dan pelek berukuran ring 18 dengan jumlah jeruji sebanyak 40 buah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk motor tua Eropa hampir selurunya menggunakan jeruji sebanyak 40 buah sedangkan sepeda motor daru jepang menggunakan jeruji kurang itu," Jelas Eko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem transmisi motor tersebut menggunakan empat kecepatan gearbox dan lansung ke rantai. Ada yang unik pada sistem transmisi sepeda motor tesebut. Transmisi berada di sebelah kiri pengendara sedangkan rem berada di sebelah kanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika orang tidak terbiasa mengendarai sepeda motor ini pasti akan kebingungan," Ungkap Dwi adik Eko yang juga pecinta motor klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis mesin sepeda motor tersebut adalah 348 cc OH dengan pendingin udara tunggal. mesin tersebut dapat menghasilkan kekuatan hingga 16 bph ( 12 KW) atau setara dengan 5600 rpm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecepatan maksimun sepeda motor ini dapat mencapai 126 km per jam. "Jadi sepeda motor ini jika untuk touring akan terasa nyaman," jelas Eko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suspensi bagian depan kendaraan ini menggunakan teledrrolic fork dan bagian belakang menggunakan (lengan ayun) swinging arm. sistem pengereman depan dan belakan menggunakan tromol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobot asli sepeda motor tersebut kungang lebih 173 Kg. "Bobot sepeda motor AJS bisa membuat seluruh badan pegal jika hanya didorong," jelas Dwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem mesin yang digunakan terdapat pemisahan antara transmisi dan mesin dan silinder tunggal. pengapian sepeda motor tersebut menggunakan platina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipa pushroad tertutupi oleh liner blok piston. "Suara yang keras dan nyaring yang membuat sepeda motor ini terlihat semakin 'gahar'," kata Eko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AJS adalah nama merk dari motor asal Inggris yang lahir pada tahun 1909 (sumber lain ada yang mengatakan 1910). AJS dibuat oleh empat dari lima bersaudara Stevens (anak dari Blacksmith). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya mereka hanya membuat mesin untuk motor pada tahun 1897. Untuk mematenkan nama mesin tersebut, mereka memperkenalkan nama baru untuk motor tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dengan berbagai pertimbangan, akhirnya memakai nama inisial dari Saudara pertama yaitu Jack yang mempunyai nama Cristian Albert John. Alhasil lahirlah sebuah nama AJS yang merupakan singkatan dari Albert John Stevens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AJS sangat legenderis kala itu karena mampu memecahkan 117 rekor dunia dalam balapan. Namun pada tahun 1931 AJS terlilit permasalahan finansial dan akhrinya pada tahun 1938 tergabung dalam AMC (Associated Motorcycles) bersama Matchless, Norton, Francis Barnett dan James.(Tribun Pontianak)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-7172674794658057996?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/7172674794658057996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=7172674794658057996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7172674794658057996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7172674794658057996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/05/ajs-350-cc-bikin-bangga.html' title='AJS 350 cc Bikin Bangga'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Pf75y1fKRJM/Td5vekT-h3I/AAAAAAAAAVM/JIpZ_g4r4C4/s72-c/AJS%2Bok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-7079704384153404055</id><published>2011-05-26T03:20:00.000-07:00</published><updated>2011-05-26T03:22:37.654-07:00</updated><title type='text'>Menjajal Motor AA Gym</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-uyokIm97m5Y/Td4pvuEcuLI/AAAAAAAAAVE/_LWcfuBetpA/s1600/motor%2BAA%2BGym.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 183px; height: 307px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-uyokIm97m5Y/Td4pvuEcuLI/AAAAAAAAAVE/_LWcfuBetpA/s320/motor%2BAA%2BGym.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5610968085547497650" /&gt;&lt;/a&gt; PADA 2002 silam, saya berkesempatan mendatangi langsung Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, yang diasuh KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym). Saya datang bersama rombongan dari Pontianak, Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah biro perjalanan Manajemen Qolbu (MQ) Pontianak di bawah pimpinan drg Heru Zarkasi yang mengajak saya melihat langsung Ponpes Daarut Tauhid. Ada sekitar 20 orang rombongan yang ikut serta.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mereka terdiri dari sejumlah pejabat, pengusaha, dan masyarakat dari berbagai profesi lainnya. Hanya saya yang jurnalis. Tujuan kami dua hari ke sana sebenarnya ingin bersilaturahmi dengan AA Gym, melihat dari dekat bisnis yang dibangunnya, sekaligus ingin menimba pengetahun tentang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, rumah tangga AA Gym masih jauh dari prahara seperti sekarang. The Ninih, bahkan kerap mendampingi AA Gym ketika memberikan ceramah, terutama usai Salat Ashar. Tausiah dilakukan di halaman MQ TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemaah pengajian dari berbagai daerah duduk bersila. Dari mulai tua sampai yang muda. Selain menyirami rohani jemaah, AA Gym kerap bertutur tentang hobinya terbang dan berkuda. Ada juga slide yang di putar dan ditembakkan ke sebuah layar lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar tausiah, rombongan dari Pontianak disuguhkan program cuci mata ke berbagai tempat wisata di Bandung. Mulai dari Taman Bunga di Lembang hingga Saung Angklung Mang Udjo. Ketimbang memilih ke sana, saya sendiri lebih memilih menikmati Kota Bandung sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan kaki di sekitar Hotel Topaz Galeria, Bandung, tempat kami menginap. Saya senang menyusuri Jl Dr Djunjunan, Bandung, karena bisa langsung akses ke Bandung Trade Center (BTC). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana saya sempat membeli Hanphone Sonny Ericsson R310S, Sirip Hiu. Menggantikan Siemen M35 yang sudah setahun saya pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga bisa menikmati berbagai jajanan, seperti Bala-bala yang sudah lama tidak saya rasakan karena memang tidak ada di Kota Pontianak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat AA Gym, saya berkesempatan berdialog dengan AA meski tidak banyak. Apalagi kalau bukan tentang koleksi sepeda motornya. Awalnya saya penasaran ada berbagai jenis motor di depan rumah AA Gym, yang sepintas dindingnya terbuat dari bilik bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepengamatan saya, ada satu unit Honda Phantom, dua unit Kawasaki Eliminator, satu unit Honda CB Gelatik, dan satu unit Kawasaki KZ 200 atau yang biasa disapa Binter Merzy platina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun penasaran bagaimana motor sebanyak itu, bisa ada di teras rumah AA Gym. "Honda CB Gelatik itu peninggalan orangtua saya yang TNI," kata AA Gym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menuturkan, sepeda motor itu belum semuanya. Sebab masih ada satu unit Honda Phantom yang ia simpan di Jakarta. Motor itu, untuk keperluan dakwah di wilayah Jakarta dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awalnya, saya diundang ke Astra Honda Motor Jakarta. Karena macet, saya pilih naik ojek. Rupanya, orang Astra tidak tega melihat saya naik ojek. Mereka kirim motor ke Jakarta dan Bandung. Ya, Honda Phantom itu," ujar AA Gym tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sepeda motor itu jugalah, AA Gym mengaku menghabiskan sejumlah waktu senggangnya. Termasuk menelusuri sudut Kota Bandung untuk memberikan tausiah. Ia juga dikenal dekat dengan sejumlah klub motor di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AA Gym menambahkan sebenarnya, Honda Phantom dan Kawasaki Eliminator itu bukan motor besar. "Hanya karena ukuran badan saya yang kecil, motornya jadi kelihatan besar," ujar AA terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai bertemu AA Gym, saya minta izin nyemplak Honda Phantom. Tidak ada ubahan berarti. Semua masih orisinil. Kecuali ada tambahan engine guard yang dipasangi penerang tambahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain motor, ada yang membuat saya terkesan dengan AA Gym soal urusan roda dua. Ia kerap menggunakan sepeda untuk meninjau satu unit usaha ke unit usaha lainnya. Semua terletak di kawasan Ponpes Daarut Tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia naik sepeda masih mengenakan sorban dan kain sarung. Sambil membunyikan bel kring...kring..kring, AA Gym kerap memecah kerumunan jamaah dari berbagai daerah yang memenuhi ponpesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulahnya yang kocak itu, sering membuat jamaah yang melihatnya tertawa dan geleng-geleng kepala. (hasyim ashari)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-7079704384153404055?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/7079704384153404055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=7079704384153404055' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7079704384153404055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7079704384153404055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/05/menjajal-motor-aa-gym.html' title='Menjajal Motor AA Gym'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-uyokIm97m5Y/Td4pvuEcuLI/AAAAAAAAAVE/_LWcfuBetpA/s72-c/motor%2BAA%2BGym.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-6268289960483954528</id><published>2011-05-23T10:59:00.000-07:00</published><updated>2011-05-23T11:02:54.704-07:00</updated><title type='text'>Norton Road Holder Kesayangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-b80zpWDcOJU/Tdqg_rC1y5I/AAAAAAAAAU0/hR66lxL81GM/s1600/kiky.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 229px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-b80zpWDcOJU/Tdqg_rC1y5I/AAAAAAAAAU0/hR66lxL81GM/s320/kiky.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609973301590215570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Kiky: Berapapun Tidak Saya Jual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YAKIN mengikuti kata hati sebagai biker, Koordinator Borneo Check Point Club Brotherhood, Kiky Prabawa (41), sudah menjelajahi berbagai daerah di Indonesia. Seperti Putussibau, Kuching, Yogyakarta, Bromo, Bali, Semarang, Bandung, dan Jakarta menggunakan motor tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiky memulai debutnya di sepeda motor klasik karena ketularan pergaulan dengan komunitas motor klasik di Bandung. Saat itulah juga, dirinya memutuskan berpetualang ke Pontianak, Kalimantan Barat. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Awalnya ia menunggangi sepeda motor dengan mesin keluaran tahun 1952, Ducati 40cc. Kemudian berpindah pada BSA B40 dan Machtless lansiran era 60-an. Namun, hatinya kemudian tertambat di Norton 1956 bermesin 500cc. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bahkan memburu sparepart orisinilan si Road Holder, di baik dalam dan luar negeri. "Si Norton itu sudah sering dimodif. Karena kalau ada sparepart yang baru dan ori lagi, saya pasang. Tiap tahun, ganti baru. Entah berapa kali dan tidak terhitung lagi biayanya," kata Kiky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memperkirakan sudah menghabiskan lebih dari Rp 100 juta untuk modifikasi si Road Holder bernomor 13 tersebut. Selain karena bentuk yang klasik dan unik, Kiky sangat tergila-gila dengan Nortonnya karena memiliki nilai historis dalam perjalanan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tinggalkan kerjaan kantoran, hijrah, dan berjuang hidup dari kecintaan saya dengan motor klasik. Ya, bisa dikatakan nilai historis perjuangan hidup saya semua ada di motor ini," ucap Kiky yang enggan menjual motornya berapapun harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai kebebasan dari aturan dan adanya kepuasan yang sangat istimewa dirasakan Kiky, dengan memiliki tunggangan klasik seperti si Norton. Dengan cat berwarna merah dan krem dan diberi sentuhan air brush lidah menjulur simbol group legendaris Rolling Stone, kiranya Norton sebagai teman sejati selain istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu saya sering bawa istri jalan-jalan atau touring. Sekarang sudah jarang demi kesehatannya. Makanya joknya saat ini saya buat single," ujar pria asal Bandung ini disambut tawa sang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor buatan Inggris ini, dimodifikasinya dengan membuat sendiri (handmade). Mulai dari jok, knalpot, tangki oli, maupun bensin. "Karena barang ini ori dan kebanyakan dari luar, jadi kita terpaksa nunggu barang datang. Kalau ada baru kita pasang yang ori. Bukan handmade lagi. Makanya saya masih kurang puas, sama seperti shockbreaker belakang yang belum ada," papar &lt;br /&gt;Kiky sembari menunjukkan sparepart penunjang kenyamanan berkendara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norton milik Kiky tampil unik dan klasik. Dengan jok kulit single dan posisi knalpot yang sangat dekat berada dengan jok. Ini patut diwaspadai jika, ketika turun dari motor sebaiknya mengambil sebelah kiri supaya terhindar dari letupan besi panasnya.&lt;br /&gt;"Dulu waktu muda, nyantai aja suara knalpotnya berisik sampai ganggu orang lain. Tapi sekarang, saya ubah jadi halus, biar enggak mengganggu," ucapnya ditemui di kediamannya Jl Irian Nomor 22 Pontianak, Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangannya hijrah ke Bumi Khatulistiwa tidak sia-sia. Ternyata hobi bisa membuatnya survive dalam hidup. "Siapa bilang hobi tidak bisa menunjang kehidupan. Saya rasakan dan alami, hobi bisa bikin kita hidup, lahir dan batin. Kepuasan jiwa dan batin. Buktinya, saya bisa memiliki usaha dan saya juga puas bisa melakukan hobi dengan motor klasik ini," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan motornya ini pula, ia sudah menjelajahi beberapa daerah di Kalbar dan indonesia, untuk kepuasan, jalin persaudaraan serta refreshing bersama keluarga dan bikers di komunitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemerdekaan dan kebebasan diri. Inilah jiwa biker. Kadang saya refreshing dengan touring bersama teman-teman dan istri. Biasanya kita juga ke suasana alam seperti berpetualang. Kita juga rindu suasana itu sekaligus bersosialisasi, bahwa bikers bukan komunitas brutal atau anggapan miring lainnya," pungkas Kiky. (pontiana banjaria/tribun pontianak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesifikasi &lt;br /&gt;Motor   : Classic Bike Norton 1956&lt;br /&gt;Model          : Cafe Racer&lt;br /&gt;Rangka   : Norton Feather Bed (wide line)&lt;br /&gt;Shock depan  : Original Norton Road Holder&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roda depan &lt;br /&gt;Teromol  : Triumph T 110&lt;br /&gt;Pelek   : Allumunium "Horex-Willman"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roda belakang &lt;br /&gt;Teromol  : Triumph Boneville&lt;br /&gt;Pelek   : Allumunium 19" Horex-Willman&lt;br /&gt;Gear box  : Norton Comando&lt;br /&gt;Kopling  : Dry Clotch Norton Comando&lt;br /&gt;Clipon    : Triton&lt;br /&gt;Tangki bensin : Poikin (handmade) 25 liter&lt;br /&gt;Tangki oli  : Handmade&lt;br /&gt;Sepatbor  : Alloy Handmade&lt;br /&gt;Jok  : Handmade (single jok)&lt;br /&gt;Knalpot  : Handmade&lt;br /&gt;Modifikator  : Bengkel AA Kiky Prabawa&lt;br /&gt;    Jl Sungai Raya Dalam Komplek Villa Permata Indah&lt;br /&gt;    Hp 0813 2233 1202 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-6268289960483954528?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/6268289960483954528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=6268289960483954528' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6268289960483954528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6268289960483954528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/05/norton-road-holder-kesayangan.html' title='Norton Road Holder Kesayangan'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-b80zpWDcOJU/Tdqg_rC1y5I/AAAAAAAAAU0/hR66lxL81GM/s72-c/kiky.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-686367766048796587</id><published>2011-05-23T01:32:00.000-07:00</published><updated>2011-05-23T01:36:05.947-07:00</updated><title type='text'>Semangat Kekeluargaan Black Jack</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-O2bbAUqVm2w/TdocU91dvCI/AAAAAAAAAUs/XNwpuO2w72s/s1600/black%2Bjack.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 178px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-O2bbAUqVm2w/TdocU91dvCI/AAAAAAAAAUs/XNwpuO2w72s/s320/black%2Bjack.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609827432365145122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KOMUNITAS Black Jack Motoriders (BJM) Pontianak terbentuk tanpa disengaja. Berawal dari sekadar kumpul-kumpul karena memiliki kesamaan hobi dengan motor klasik. Semakin lama pertemuan dilakukan intens sejak 1996. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 6 Juni 2006 tercetuslah nama klub. Daud Hariyanto, yang merupakan satu di antara pendiri, mengaku Black Jack sebagai wadah bagi para pencinta, pengguna, dan penggemar motor klasik chopper. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aliran motor chopper dapat dilihat dari ciri-ciri yang ada, seperti model tangki yang dibikin lebih kecil dari aslinya dan juga pemotongan rangka yang dilakukan untuk membuat tampilan menjadi simpel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awalnya kami hanya kumpul-kumpul beberapa orang, namun seiring berjalannya waktu kami merasa ada persamaan hobi maka kami bentuk Black Jack. Lagipula di sini kami seperti keluarga, punya hobi serta motor yang sama," ucapnya pada Tribun, Rabu (18/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini anggota Black Jack Pontianak mencapai 30 orang dan sudah ada dua chapter di Landak serta Sanggau yang masing-masing 20-an anggota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau anggota kadang ada yang aktif, kadang juga tidak itupun tergantung. Tapi kami biasa tetap ketemu dan silaturahmi. Misalnya kalau mau mengadakan touring," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan jika komunitasnya tidak menutup kemungkinan untuk orang yang tidak memiliki motor tersebut untuk kumpul bareng, selama orang tersebut nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapapun boleh menjadi anggota kami, kami membuka untuk umum. Karena kami ingin menjalin persaudaraan dan menyalurkan hobi di dunia otomotif saja," tutur PNS Kota Pontianak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberagaman profesi dan background malah membuat mereka semakin merasa adanya ikatan kekeluargaan yangs angat erat. Karena di komunitas ini bukan hanya mahasiswa tapi juga pegawai swasta maupun pegawai negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kumpul-kumpul biasanya ngobrol tentang motor, pakai aksesori apa dan curhat-curhatan. Tampang kami aja yang begini, tapi kami bukan geng motor yang berandal atau suka buat keributan. Malah kalau ngumpul kami suka bercanda," ungkap Bendahara Black Jack, Susi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Sabtu dan Minggu malam, anggota Black Jack kumpul bareng di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jl Ahmad Yani Pontianak, Kalbar. Kumpul sesama penggemar motor adalah hal mengasyikkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut dirasakan Erwin dan Sean Black Jack. Seperti touring dan kumpul menggunakan motor chopper bersama anak-anak BJ lainnya, sudah menjadi bagian dari aktivitas yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sini semua aliran ada, punk, rock, dan berbagai profesi. Tapi kami disatukan oleh hobi dan motor yang sama. Apalagi di sini mengutamakan nilai kekerabatan. Biasanya saling bantu kalau teman kita butuh sesuatu untuk motornya. Terlebih kalau sudah touring, ada kepuasan tersendiri bagi kami dan bisa terlena. Juga ngilangin stres," ujar Erwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mereka klub motor dan mungkin ada sebagian masyarakat melihat tampang mereka akan merasa takut atau was-was. Tapi tidak sedikit juga yang menyukai gaya mereka, bahkan sampai mengacungkan jempol ketika parade iring-iringan chopper melintasi daerah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kami touring ke daerah, banyak yang lihat tuh. sampai-sampai ada yang ngacungin jempol. Enggak tahu juga sih maksudnya. Tapi artinya bagus aja kan?" tambah Erwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daud mengatakan, anggota komunitas BJ ini memang egois. Artinya karena bentuk motor yang hanya memiliki single jok, jadinya kalau mau masuk anggota harus punya motor. Karena bila tidak, motor chopper tidak ada boncengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Motor kita memang motor egois. Tapi kami tetaplah kami. Biasa saja, apa adanya. Bahkan waktu itu para sarjana dari Fakultas Teknik, minta kita yang mengarak mereka saat acara wisuda," kata Daud lalu dibenarkan rekan-rekan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalankan kegiatan komunitas, para anggota BJ memang diikat dengan peraturan wajib yang harus dipatuhi olah anggota tanpa terkecuali. Di antaranya wajib bayar iuran Rp 10 ribu per bulan, dilihat keaktifan anggota, memakai baju kebesaran BJ saat berkumpul atau touring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau mau gabung, calon anggota isi formulir dan bayar administrasi Rp 10 ribu serta dilihat dulu keaktifannya selama tiga bulan, dan pastinya punya motor chopper. Datang aja ke sekretariat kami di bengkel Black Jack Jl RE Martadinata nomor 3 Pontianak", ucap Susi, pemilik Thunder modif keluaran 2005. (pontiana banjaria)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Club Berbahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal mesin besar, knalpot freeflow dengan suara mesin knalpot menggelegar, suspensi rigid membuat sepeda motor chopper menarik perhatian di keramaian. Para pemilik chopper yang kumpul, sekilas mirip dengan pengendara Harley Davidson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya retro dengan dandanan simpel bahkan sampai tangki sepeda motor super kecil dengan setang super tinggi dan ban rendah menjadi keunikan anak-anak Black Jack. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau dilihat dari standar motor, memang kami tidak lengkap. Kalau ada razia, ya kita enggak lewat lokasi pemeriksaan. Lagipula motor ini tidak kita pakai sehari-hari. Hanya saat kumpul dan touring aja," Jelas Daud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan kalau anak geng itu berbahaya sudah mereka sadari. Namun untuk membuang image atau persepsi tersebut, mereka banyak melakukan kegiatan sosial. "Setiap touring kita ada misi baksos. Kalau nongkrong pun kami tidak macam-macamlah. Kita juga patuhi aturan lalu lintas kalau di jalan," tambah Erwin, Susi dan Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kegiatan-kegiatan ini, mungkin saja predikat negatif yang di kenal oleh masyarakat luas tentang geng akan berubah derastis menjadi positif. Lagipula tentu tidak ada ruginya melakukan aneka gerakan sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 6 Juni mendatang, BJ Pontianak akan berulang tahun ke-5. Mereka berencana mengadakan touring ke Sintang pada 25 Juni 2011. Dengan dua chapter di Landak dan Sanggau. "Selain touring, kita juga silaturahmi sama anak-anak di daerah karena mereka masih baru terbentuk. Sekalian baksos dan hiburanlah," ucap Daud. (pab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ketua Kerap Ajak Anak Istri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobi mengoleksi dan mengendarai motor chopper sudah menjadi bagian hidup Daud Haryanto. Pria kelahiran 36 tahun silam ini memang tidak bisa dilepaskan dari tunggangan klasiknya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah hobi dari dulu sih, jadi enggak bisa dihilangkan. Lagian asyik aja bisa ketemu teman- teman yang punya hobi sama," katanya pada Tribun, Rabu (18/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saat kumpul atau nongkrong bareng di base camp mereka atau di sekitar Bundaran Untan (tugu Digulis), Daud juga membawa serta anak dan istrinya. Hal itu dilakukannya agar mereka mengetahui dirinya yang tampil apa adanya bersama teman klubnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasa juga saya ajak anak dan istri. Tapi tidak satu motor, karena joknya untuk single. Mereka pakai motor lain. Inilah kekeluargaan yang kita bina, anggota juga bisa membawa keluarga atau pacar mereka saat kita kumpul," tambah pemilik Custom Rigid Chopper ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, mengenai klub, dirinya yang sudah menyatu dengan teman-temannya, menginginkan agar klub yang dibentuk bisa terus eksis dan tetap mengikat tali kekeluargaan yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengennya Black jack tetap ada, eksis, dan besar. Bukan hanya di Pontianak tapi juga di daerah lain. Itu yang penting. Juga kami pengen kita bisa ngadain baksos dengan klub motor lain di sini," harapnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun disadarinya agar club tetap bisa eksis perlu keterlibatan dan rasa persaudaraan sesama anggota juga adanya dana untuk melakukan kegiatan, contohnya touring dan bakti sosial (baksos). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uang iuran itulah yang kita gunakan untuk kegiatan BJ. Memang kadang, kalau mau touring ke luar atau baksos, kita perlu dana cukup besar.  Tapi, kalau sudah hobi dan rasa kebersamaan, masalah itu bisa kita atasi," pungkasnya. (pontiana banjaria)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Kekeluargaan Black Jack &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Black Jack Motoriders (BJM) Pontianak terbentuk tanpa disengaja. Berawal dari sekadar kumpul-kumpul karena memiliki kesamaan hobi dengan motor klasik. Semakin lama pertemuan dilakukan intens sejak 1996. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 6 Juni 2006 tercetuslah nama klub. Daud Hariyanto, yang merupakan satu di antara pendiri, mengaku Black Jack sebagai wadah bagi para pencinta, pengguna, dan penggemar motor klasik chopper. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran motor chopper dapat dilihat dari ciri-ciri yang ada, seperti model tangki yang dibikin lebih kecil dari aslinya dan juga pemotongan rangka yang dilakukan untuk membuat tampilan menjadi simpel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awalnya kami hanya kumpul-kumpul beberapa orang, namun seiring berjalannya waktu kami merasa ada persamaan hobi maka kami bentuk Black Jack. Lagipula di sini kami seperti keluarga, punya hobi serta motor yang sama," ucapnya pada Tribun, Rabu (18/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini anggota Black Jack Pontianak mencapai 30 orang dan sudah ada dua chapter di Landak serta Sanggau yang masing-masing 20-an anggota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau anggota kadang ada yang aktif, kadang juga tidak itupun tergantung. Tapi kami biasa tetap ketemu dan silaturahmi. Misalnya kalau mau mengadakan touring," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan jika komunitasnya tidak menutup kemungkinan untuk orang yang tidak memiliki motor tersebut untuk kumpul bareng, selama orang tersebut nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapapun boleh menjadi anggota kami, kami membuka untuk umum. Karena kami ingin menjalin persaudaraan dan menyalurkan hobi di dunia otomotif saja," tutur PNS Kota Pontianak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberagaman profesi dan background malah membuat mereka semakin merasa adanya ikatan kekeluargaan yangs angat erat. Karena di komunitas ini bukan hanya mahasiswa tapi juga pegawai swasta maupun pegawai negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kumpul-kumpul biasanya ngobrol tentang motor, pakai aksesori apa dan curhat-curhatan. Tampang kami aja yang begini, tapi kami bukan geng motor yang berandal atau suka buat keributan. Malah kalau ngumpul kami suka bercanda," ungkap Bendahara Black Jack, Susi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Sabtu dan Minggu malam, anggota Black Jack kumpul bareng di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jl Ahmad Yani Pontianak, Kalbar. Kumpul sesama penggemar motor adalah hal mengasyikkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut dirasakan Erwin dan Sean Black Jack. Seperti touring dan kumpul menggunakan motor chopper bersama anak-anak BJ lainnya, sudah menjadi bagian dari aktivitas yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sini semua aliran ada, punk, rock, dan berbagai profesi. Tapi kami disatukan oleh hobi dan motor yang sama. Apalagi di sini mengutamakan nilai kekerabatan. Biasanya saling bantu kalau teman kita butuh sesuatu untuk motornya. Terlebih kalau sudah touring, ada kepuasan tersendiri bagi kami dan bisa terlena. Juga ngilangin stres," ujar Erwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mereka klub motor dan mungkin ada sebagian masyarakat melihat tampang mereka akan merasa takut atau was-was. Tapi tidak sedikit juga yang menyukai gaya mereka, bahkan sampai mengacungkan jempol ketika parade iring-iringan chopper melintasi daerah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kami touring ke daerah, banyak yang lihat tuh. sampai-sampai ada yang ngacungin jempol. Enggak tahu juga sih maksudnya. Tapi artinya bagus aja kan?" tambah Erwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daud mengatakan, anggota komunitas BJ ini memang egois. Artinya karena bentuk motor yang hanya memiliki single jok, jadinya kalau mau masuk anggota harus punya motor. Karena bila tidak, motor chopper tidak ada boncengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Motor kita memang motor egois. Tapi kami tetaplah kami. Biasa saja, apa adanya. Bahkan waktu itu para sarjana dari Fakultas Teknik, minta kita yang mengarak mereka saat acara wisuda," kata Daud lalu dibenarkan rekan-rekan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalankan kegiatan komunitas, para anggota BJ memang diikat dengan peraturan wajib yang harus dipatuhi olah anggota tanpa terkecuali. Di antaranya wajib bayar iuran Rp 10 ribu per bulan, dilihat keaktifan anggota, memakai baju kebesaran BJ saat berkumpul atau touring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau mau gabung, calon anggota isi formulir dan bayar administrasi Rp 10 ribu serta dilihat dulu keaktifannya selama tiga bulan, dan pastinya punya motor chopper. Datang aja ke sekretariat kami di bengkel Black Jack Jl RE Martadinata nomor 3 Pontianak", ucap Susi, pemilik Thunder modif keluaran 2005. (pontiana banjaria)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Club Berbahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal mesin besar, knalpot freeflow dengan suara mesin knalpot menggelegar, suspensi rigid membuat sepeda motor chopper menarik perhatian di keramaian. Para pemilik chopper yang kumpul, sekilas mirip dengan pengendara Harley Davidson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya retro dengan dandanan simpel bahkan sampai tangki sepeda motor super kecil dengan setang super tinggi dan ban rendah menjadi keunikan anak-anak Black Jack. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau dilihat dari standar motor, memang kami tidak lengkap. Kalau ada razia, ya kita enggak lewat lokasi pemeriksaan. Lagipula motor ini tidak kita pakai sehari-hari. Hanya saat kumpul dan touring aja," Jelas Daud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan kalau anak geng itu berbahaya sudah mereka sadari. Namun untuk membuang image atau persepsi tersebut, mereka banyak melakukan kegiatan sosial. "Setiap touring kita ada misi baksos. Kalau nongkrong pun kami tidak macam-macamlah. Kita juga patuhi aturan lalu lintas kalau di jalan," tambah Erwin, Susi dan Sean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kegiatan-kegiatan ini, mungkin saja predikat negatif yang di kenal oleh masyarakat luas tentang geng akan berubah derastis menjadi positif. Lagipula tentu tidak ada ruginya melakukan aneka gerakan sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 6 Juni mendatang, BJ Pontianak akan berulang tahun ke-5. Mereka berencana mengadakan touring ke Sintang pada 25 Juni 2011. Dengan dua chapter di Landak dan Sanggau. "Selain touring, kita juga silaturahmi sama anak-anak di daerah karena mereka masih baru terbentuk. Sekalian baksos dan hiburanlah," ucap Daud. (pab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ketua Kerap Ajak Anak Istri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobi mengoleksi dan mengendarai motor chopper sudah menjadi bagian hidup Daud Haryanto. Pria kelahiran 36 tahun silam ini memang tidak bisa dilepaskan dari tunggangan klasiknya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah hobi dari dulu sih, jadi enggak bisa dihilangkan. Lagian asyik aja bisa ketemu teman- teman yang punya hobi sama," katanya pada Tribun, Rabu (18/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saat kumpul atau nongkrong bareng di base camp mereka atau di sekitar Bundaran Untan (tugu Digulis), Daud juga membawa serta anak dan istrinya. Hal itu dilakukannya agar mereka mengetahui dirinya yang tampil apa adanya bersama teman klubnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasa juga saya ajak anak dan istri. Tapi tidak satu motor, karena joknya untuk single. Mereka pakai motor lain. Inilah kekeluargaan yang kita bina, anggota juga bisa membawa keluarga atau pacar mereka saat kita kumpul," tambah pemilik Custom Rigid Chopper ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, mengenai klub, dirinya yang sudah menyatu dengan teman-temannya, menginginkan agar klub yang dibentuk bisa terus eksis dan tetap mengikat tali kekeluargaan yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengennya Black jack tetap ada, eksis, dan besar. Bukan hanya di Pontianak tapi juga di daerah lain. Itu yang penting. Juga kami pengen kita bisa ngadain baksos dengan klub motor lain di sini," harapnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun disadarinya agar club tetap bisa eksis perlu keterlibatan dan rasa persaudaraan sesama anggota juga adanya dana untuk melakukan kegiatan, contohnya touring dan bakti sosial (baksos). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uang iuran itulah yang kita gunakan untuk kegiatan BJ. Memang kadang, kalau mau touring ke luar atau baksos, kita perlu dana cukup besar.  Tapi, kalau sudah hobi dan rasa kebersamaan, masalah itu bisa kita atasi," pungkasnya. (pontiana banjaria)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-686367766048796587?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/686367766048796587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=686367766048796587' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/686367766048796587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/686367766048796587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/05/semangat-kekeluargaan-black-jack.html' title='Semangat Kekeluargaan Black Jack'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-O2bbAUqVm2w/TdocU91dvCI/AAAAAAAAAUs/XNwpuO2w72s/s72-c/black%2Bjack.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-2113281410798424382</id><published>2011-05-20T11:15:00.000-07:00</published><updated>2011-05-20T11:30:08.626-07:00</updated><title type='text'>Kamus Dayak Kanayatn Satu Dekade</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-qQEiRyM4U-w/TdaxV-N7F0I/AAAAAAAAAUk/IR9uGHG4c4A/s1600/kamus%2Bdayak%2Bok.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 230px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-qQEiRyM4U-w/TdaxV-N7F0I/AAAAAAAAAUk/IR9uGHG4c4A/s320/kamus%2Bdayak%2Bok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608865376973297474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pala'  : Botak. Kepala tanpa rambut, atau dengan rambut tapi tidak menutup seluruh kepala.&lt;br /&gt;Baga  : Bodoh. Tidak pintar.&lt;br /&gt;Baga' : Mabuk asmara. Jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah contoh tiga kata yang ada di Kamus Bahasa Dayak Kanaytn yang dihimpun Mantan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Landak, Silverius Mulyadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan susah payah dan perjuangan tidak kenal lelah, pensiunan PNS ini, akhirnya berhasil menyelesaikan kamus bahasa Dayak Kanaytn.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 6 April 2011 lalu, menjadi hari paling bersejarah. Tidak saja bagi Silverius sendiri, namun juga bagi masyarakat Kalbar, khususnya etnis Dayak. Diiringi gerimis, kamus bahasa Dayak Kanayatn, akhirnya berhasil di-launching di Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir dalam momen bersejarah itu, Bupati Landak Adrianus Asia Sidot, Ketua DPRD Landak Heri Saman, sejumlah Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Landak, jajaran Muspika Menjalin, pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Landak, Camat Menjalin, para Timanggong, Pasirah, Pangaraga, para pejabat adat, dan para undangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sangat senang. Dari sekitar 60-an buku yang saya sediakan. Semuanya bagai kacang goreng, ludes. Ini apresiasi yang luar biasa. Secara khusus saya persembahkan kamus ini untuk generasi muda Dayak Kanaytn, agar tidak melupakan ragam kosa kata Kanaytn," kata Mulyadi kepada Tribun Pontianak, Kamis (7/4) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Pakar DAD Landak ini menyebut, ada sekitar 20.000 kosa kata bahasa Dayak Kanayatn di dalam kamusnya. Kamus yang menurutnya masih jauh dari sempurna ini, ia godok selama 11 tahun, sejak 2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski membutuhkan satu dekade, namun Mulyadi tak putus semangat demi melestarikan warisan bahasa Kanayatn. Ia menjelaskan, dalam kamus, tak hanya berisi kosakata Kanayatn dalam percakapan, namun juga terdapat banyak penjelasan mengenai istilah ritual adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkuman bahasa Kanayatn dalam kamus tersebut, ia rangkum dari berbagai daerah sebaran subsuku Dayak Kanayatn, seperti di Kabupaten Landak, Kabupaten Pontianak, dan Kabupaten Kubu Raya (KKR).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami Margaretha ini mengatakan sebelum memutuskan untuk menulis kamus bahasa Dayak Kanayatn, ia mempelajari dulu tentang bahasa Dayak di Pulau Kalimantan. Menurutnya, bahasa Dayak di Kalimantan ada 400-an dari sekitar 400-an sub suku Dayak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kalbar sendiri terdapat 151 subu suku Dayak dengan 100 sub suku dengan 168 bahasa. "Kemajemukan bahasa ini adalah tumpukan harta karun budaya bangsa. Sekaligus menunjukkan aneka ragam keindahan, kearifan, keunikan tradisi, pengetahuan, dan teknologi. Ini adalah benteng pertahanan terakhir budaya masyarakat adat sendiri," papar Mulyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumnus Seminari Nyarungkop ini menambahkan bahasa Dayak di Kalbar, relatif lebih baik dibandingkan bahasa daerah di dunia. Mulyadi menyebut bahasa Aborigin di Australia yang kini, tergerus bahasa Inggris dan nyaris tidak digunakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun demikian, bukan berarti bahasa Dayak luput dari tekanan, himpitan, tantangan, dari penggunaan bahasa Indonesia yang notabene jadi bahasa persatuan. Ia menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah, mulai SD hingga perguruan tinggi," bebernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominasi Bahasa Indonesia itu, menurut Mulyadi berimplikasi memarjinalkan bahasa daerah yang ada. Secara psikologis, anak-anak di daerah menilai Bahasa Indonesia adalah bahasa orang pintar, dan tidak jika menggunakan bahasa daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka jadi imperior jika menggunakan Bahasa Dayak. Bahasa daerah ini kerap dianggap bahasa kampung, bahasa orang-orang tidak berpendidikan," ujar Mulyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Himpitan keberadaan bahasa Dayak juga datang dari akulturasi kebudayaan dengan mekanisme kawin campur. Misalnya, warga Dayak menikah dengan warga dari sub suku Dayak lainnya. Dengan bahasa yang berbeda, maka pasangan ini cenderung tidak menggunakan bahasa daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa daerah tidak dituturkan lagi kepada anak-anak mereka karena orangtua memilih menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar sehari-hari.  Ditanya kenapa harus Kanayatn, Mulyadi menegaskan dibanding bahasa Dayak lain, bahasa Dayak Kanayatn sangat dominan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya terdapat dan aktif digunakan di Kabupaten Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Landak, kawasan pesisir, hingga daerah perkotaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahasa Dayak Kanayatn juga mudah dimengerti karena ada serapan Bahasa Indonesia, Bahasa Asing, dan ilmiah. Karena itu, bahasa Kanayatn cukup dominan digunakan dalam percakapan maupun bahasa komunikasi di antara masyarakat Dayak," tutur Mulyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengakui, kamus yang ditulisnya tersebut belumlah sempurna. Saat ini merupakan peluncuran edisi pertama, sambil terus melakukan revisi dan pengayaan materi. Rencananya, kata Mulyadi, kamus tersebut akan diterbitkan sampai tiga edisi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harapan saya, kamus ini bisa mendokumentasikan agar khasanah Kanayatn jangan sampai punah di makan waktu," tegas Mulyadi. (hasyim ashari/dasanovi gultom)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Cinta Istri dan Cucu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silverius Mulyadi menuturkan membutuhkan waktu 11 tahun menyusun kamus, karena ia memiliki berbagai keterbatasan. Namun, keterbatasan itu mampu ia patahkan dengan semangat, kecintaan, dari sahabat dan  orang-orang dekat yang mengerti apa yang sedang ia kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mengerjakannya di waktu senggang. Semua berdikari. Tanpa dana dari mana-mana. Niat dan kecintaan kepada budayalah yang menuntun saya mengumpulkan kata demi kata," kata Mulyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, untuk menambah kosakatanya, ia mendatangi narasumber satu persatu, door to door. Terutama mereka yang selama ini diyakini sebagai penuturnya. Mereka tersebar di Kabupaten Pontianak, Kubu Raya, dan Landak. Dari merekalah, lama-lama kata yang dihimpun bertambah banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak hanya itu, kadang saya mendengar perakapan di atas opelet atau di warung-warung kecil. Lalu, kata-kata yang terlontar saya salin di kertas pembungkus rokok atau pinggiran koran agar saya tidak lupa. Itu kalau saya lupa bawa buku catatan. Sampai di rumah, baru saya salin ke buku catatan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski jaman sudah canggih dan komputer sudah merambah ke desa-desa, namun ternyata Mulyadi tidak bisa menggunakan fasilitas tersebut karena tidak memilikinya. Di rumah ia hanya punya satu unit mesin tik merk Royal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mesin tik punya sendiri. Sudah bonto (Tua.Red). Bersyukur, masih berfungsi meski tidak lagi 100 persen," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, sahabat dan sanak keluarga kadang datang membantu. Terutama cucunya yang bekerja di Bank Central Asia (BCA) di Pontianak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang paling membantu, cucu saya, Anggrelia SE. Dia yang membantu mengurus pengetikan, mengedit, sampai menyusunnya. Ia juga yang membantu untuk biaya pengetikan sampai bisa menerbitkan kamus ini," ucap Mulyadi penuh syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain, cucunya, istrinya Margaretha juga sangat membantu. Selama mengerjakan kamus, dan efektif mengetik sejak 2008, Margaretha tidak pernah mengeluh macam-macam atas apa yang ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Istri tahu kesibukan saya menyiapkan kamus ini. Jadi, ia tidak banyak ini dan itu. Dia paham betul saya sedang menyusun kamus bahasa Dayak Kanayatn. Inilah bentuk bantuan istri saya," ujarnya tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuatnya makin mantap menyelesaikan kamus, karena dukungan juga datang dari berbagai pihak. Ada tanggapan bagus dari Bupati Landak, semua tokoh adat, Pemkab, pemuda, dan masyarakat ilmiah. Jadi, kerja keras selama 11 tahun, terbayar sudah," imbuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengakui kalau kamus yang diterbitkan sendiri ini, masih prematur. Masih akan disempurnakan terus. Suatu saat, ia berencana akan mendaftarkan kamusnya sebagai Hak Astas Kekayaan Intelektual (HAKI) di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi pihak-pihak yang melakukan plagiat. (hasyim ashari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Warisan Monumental&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bupati Landak, Adrianus Asia Sidot, menyatakan keberadaan kamus bahasa Dayak Kanayatn merupakan upaya pelestarian bahasa maupun kearifan lokal untuk menghadapi era globalisasi yang telah memasuki setiap sendi kehidupan masyarakat Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, bahasa daerah atau bahasa ibu merupakan bagian dari jatidiri. Bila tak dilestarikan, niscaya budaya dan adat nenek moyang akan ikut luntur tanpa adanya pengetahuan tentang bahasa daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adanya kamus bahasa dayak kanayatn, diperlukan dalam menghadapi globalisasi. Sekarang tak sedikit remaja dayak yang tak bisa bertutur bahasa dayak secara fasih," kata Bupati Adrianus Asia Sidot kepada Tribun, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkikisnya kemampuan untuk menggunakan bahasa daerah, lanjutnya, karena pergaulan yang saat ini tanpa batas mengikuti perkembangan teknologi. Kamus bahasa dayak Kanayatn, sambung Adrianus, yang ditulis tersebut merupayakan karya monumental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengharapkan peluncuran kamus, kelak tak hanya berfungsi secara harfiah untuk mencari kosakata Dayak Kanayatn, namun menggugah semua generasi Dayak Kanayatn untuk menghargai bahasa, budaya, adat, maupun kearifan yang telah diturunkan ratusan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karenanya, kamus bahasa kanayatn ini, saya lihat merupakan karya monumental. Apalagi sang penulis merupakan tokoh tua Dayak Kanayatn," tegas Bupati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat peluncuran kamus, Bupati Landak juga menegaskan kamus ini merupakan sejarah berharga warga Dayak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejarah ini bukan berupa candi, tapi berupa buku yang akan digunakan sampai ke anak cucu kita. Apalagi kamus bahasa Dayak Kanayatn ini mempunyai nilai yang teramat tinggi. Harus diingat juga bahwa tidak semua orang bisa menulis buku, apalagi ini kamus Bahasa Dayak Kanayatn," ujar Adrianus dengan logat bahasa Dayak Kanayatn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, dalam menyusun kamus ini, bukan hanya kecerdasan yang diperlukan. Namun juga keberanian, ketekunan, ketelatenan, dan kesabaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kita harus sabar menghimpun kata demi kata untuk membuat kamus ini. Apalagi satu kata yang ada di kamus tersebut, dibongkar sampai ke dalam-dalamnya," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati menegaskan, Silverius Mulyadi sudah memulainya. Selanjutnya menjadi tugas bersama untuk mewariskan kamus Bahasa Dayak Kanayatn ini kepada anak cucu. Kepada lembaga- lembaga Dayak di Kalbar, silakan mengembangkan kamus Dayak yang sudah disusun ini.&lt;br /&gt;Memang akan membutuhkan keahlian, pendanaan, peralatan, penelitian dan sebagainya.(dasanovi gultom)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memperkaya Khasanah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dekan FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak, DR Aswandi, menilai bahasa ibu, dalam hal ini, bahasa Dayak Kanayatn, termasuk juga bahasa daerah lainnya, memang harus dipelihara. Jika tidak, ia bisa hilang. Maka, ia harus dipelajari, diteliti, dan digunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ada yang membuat kamus, ini bentuk uapaya agar bahasa ibu ini tidak mati. Dalam aktivitas sehari-hari, bahasa ibu menjadi bahasa pengantar dan penyampai pesan paling efektif di rumah," kata Aswandi kepada Tribun Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ia menjadi alat komunikasi, transformasi pemikiran, sekaligus budaya turun temurun. Secara psikologis, penggunaannya akan sangat mempengaruhi perkembangan anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelas-kelas rendah, seperti taman kanak-kanak, atau maksimal hingga kelas 3 SD, saya pikir, penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar akan sangat disenangi anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika ternyata di sekolah saat ini lebih banyak memanfaatkan Bahasa Indonesia, sebagai bahasa pengantar pendidikan, jangan dimaknai akan menggerus keberadaan bahasa ibu. Malah sebaliknya, ia akan semakin memperkaya khasanah bahasa daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, bahasa Indonesia juga merupakan bahasa serapan. Baik, dari bahasa Asing maupun bahasa daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, memang sangat dianjurkan untuk membuat berbagai kamus bahasa daerah. Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas memiliki sejumlah kamus bahasa daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sendiri punya tiga kamus Bahasa Melayu. Karena itu, keberadaan kamus Bahasa Dayak Kanayatn yang diluncurkan April lalu ini, diharapkan makin memperkaya kahasanah budaya.&lt;br /&gt;Apalagi FKIP saat ini sangat sedang mengembangkan sastra daerah," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aswandi mengaku FKIP Untan sangat terbuka untuk menjalin kerjasama, termasuk dengan penyusun Kamus Bahasa Dayak Kanayatn. FKIP siap mendukung dan bekerjasama. (hasyim ashari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Biofile&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nama  : Silverius Mulyadi&lt;br /&gt;TTL  : Karangan, 12 Juli 1940&lt;br /&gt;Pendidikan : SLTA Seminari Menengah Nyarungkop&lt;br /&gt;Pekerjaan : Pensiunan PNS&lt;br /&gt;Istri  : Margaretha&lt;br /&gt;Anak  : Cristina Rismiwati Spd&lt;br /&gt;    Martalinda SE&lt;br /&gt;    Vicensius B&lt;br /&gt;    Heri Mulyadi SH&lt;br /&gt;Alamat : Jl Raya Menjalin Hulu Nomor 04, RT01/RW01, Dusun Menjalin Hulu,       Kabupaten Landak&lt;br /&gt;Jabatan : Mantan Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak&lt;br /&gt;               Mantan Wakil Ketua DPRD Landak&lt;br /&gt;Kontak : 081256297560 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-2113281410798424382?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/2113281410798424382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=2113281410798424382' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2113281410798424382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2113281410798424382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2011/05/himpun-kata-satu-dekade.html' title='Kamus Dayak Kanayatn Satu Dekade'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-qQEiRyM4U-w/TdaxV-N7F0I/AAAAAAAAAUk/IR9uGHG4c4A/s72-c/kamus%2Bdayak%2Bok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-4826167744217886975</id><published>2010-10-24T10:49:00.000-07:00</published><updated>2010-10-24T10:55:18.737-07:00</updated><title type='text'>Touring Pontianak-Mempawah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TMRy_o8aGvI/AAAAAAAAAUU/piJ6g_Jvfdk/s1600/sepok+ah1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TMRy_o8aGvI/AAAAAAAAAUU/piJ6g_Jvfdk/s320/sepok+ah1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531672679965924082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Melelahkan Sekaligus Menyenangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurbaiti (55), terus menebar senyum. Sambil bergurau, ibu dua anak ini, memeriksa kondisi sepeda dames miliknya di depan Makorem Pontianak, Sabtu (23/10), pukul 06.30 WIB. Suaminya, Sukardi (69), ikut mengecek kelengkapan perjalanan di boncengan belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang suami istri itu, sedang mempersiapkan diri mengikuti turing Pontianak-Mempawah bersama sekitar 40 pecinta sepeda tua yang tergabung dalam Sepeda Onte Kalbar (Sepok). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Mahasiswa, pengusaha, pelajar, dosen, jurnalis, seniman, dan lain sebagainya. Sepeda yang ditunggangi juga macam-macam. Ada Simplex, Gazelle, Fongers, Batavus, Raleigh, NSU, Philips, Rugde, BSA, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebetulan di rumah tinggal kami berdua. Anak-anak sudah besar semua. Jadi, kami memutuskan ikut," kata Nurbaiti kepada Tribun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku tidak ada persiapan khusus untuk turing kali ini. Sebab, hampir setiap akhir pekan mengayuh sepeda. Aktivitas itu ia lakukan setelah aerobik dan senam jantung sehat di Stadion Sutan Syarif Abdurahman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya sarapan pagi. Itu yang paling penting untuk energi menempuh perjalanan jauh. Ini yang terjauh saya pake sepeda tua," ujar warga Jl Martadinata, Gg Bersama 1C ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukardi terlihat begitu perhatian. Ia pun terus mengiringi istri yang sudah memberinya dua anak itu. Setelah mengutarakan izin, ia tidak kuasa menolak. "Saya tidak sampai ke Mempawah. Hanya sampai Jungkat saja. Ada tugas di sana," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta lainnya, Margono AM (67) juga tidak kalah semangatnya. "Senang kumpul bareng, jadi banyak teman. Menghilangkah pikiran penat sekaligus tukar pendapat," ujar warga Jl Perdana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan serupa juga diungkapkan Dadan Kusnandar. Dosen FMIPA Universitas Tanjungpura ini, mengaku turing ini penuh keakraban sesama ontelis. "Baru pertama kali ngengkol sampai Mempawah. Cape dan lelah. Namun, sekaligus menyenangkan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Panitia Turing, Mat Solar, menuturkan banyak anggota Sepok yang ingin ikut, namun tidak bisa karena berbagai kesibukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alamdulillah lancar. Semua sudah dipersiapkan. Mulai dari mobil pengiring, sampai dengan obat-obatan. Ada satu yang sempat keram. Tapi, sudah bisa normal kembali setelah diberi obat semprot. Penginapan oke, pengamanan ok. Ini berkat dukungan semua pihak, termasuk rekan- rekan PLN Mempawah," ujar Mat Solar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Sepok, Jayus Agustono, mengatakan turing Pontianak-Mempawah merupakan satu dari tiga kota yang menjadi agenda turing tahunan di 2010. "Agendanya, kampanye bersepeda. Karena itu kita rolling di Kota Mempawah. Alhamdulillah, di sepanjang perjalanan, masyarakat sangat antusias. Banyak yang menyapa. Anak-anak sekolah juga melambaikan tangan setiap kita lewati. Berarti pesan kita memasyarakatkan sepeda sudah sampai ke masyarakat," papar Jayus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda lainnya, ini bentuk nyata Sepok untuk memeriahkan HUT ke-239 Kota Pontianak. &lt;br /&gt;Sementara di Kabupaten Pontianak, kita juga ingin memperkenalkan potensi wisata Pantai penibung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jam empat sore kita ke Penibung. Biar teman-teman bisa refreshing dari aktivitas sehari-hari. Sebagai bentuk penghargaa, peserta turing akan mempreoleh pin khusus," ujarnya. (hasyim ashari)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-4826167744217886975?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/4826167744217886975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=4826167744217886975' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/4826167744217886975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/4826167744217886975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/10/touring-pontianak-mempawah.html' title='Touring Pontianak-Mempawah'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TMRy_o8aGvI/AAAAAAAAAUU/piJ6g_Jvfdk/s72-c/sepok+ah1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-798392289945352035</id><published>2010-10-22T12:12:00.000-07:00</published><updated>2010-10-22T12:15:27.448-07:00</updated><title type='text'>Gelar Juara untuk Kalbar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TMHiytnzFeI/AAAAAAAAAUE/4yUYLMMgKc0/s1600/yohanes+yordan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TMHiytnzFeI/AAAAAAAAAUE/4yUYLMMgKc0/s320/yohanes+yordan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5530951178255537634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Yohanes Dua Kali Pukul Jatuh Speed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petinju kebanggaan Kalbar, Yohanes Yordan, berhasil keluar sebagai juara kelas ringan yunior dalam pertandingan 12 ronde Kejuaraan Tinju Profesional Indonesia (KTPI) di TVRI Senayan, Jakarta, Jumat (22/10) malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes dua kali memukul jatuh lawannya, Michael "Speed" Sigarlaki, masing-masing pada ronde ke-6 dan ronde 12. Pada ronde keenam, Sigalarki terjengkang ketika Yohanes dengan cerdik melepaskan kombinasi pukulan one-two.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sigalarki pun mendapat hitungan wasit. Namun, ia segera bangkit kembali dan terus memaksa Yohanes bertarung dalam jarak dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ronde 12, Yohanes yang sejak ronde pertama menyimpan stamina, melepaskan straight tajam dengan tangan kiri dan mendarat telak di wajah Sigalarki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ampun, petinju asal Minahasa itu pun dipaksa kembali mencium kanvas. Wasit lagi-lagi menghitung Sigalarki. Di saat bersamaan, ronde terakhir pun selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hakim pertandingan pun memberikan kemenangan mutlak untuk Yohanes. Masing-masing, 1116-110, 117-110, dan 116- 110.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puji Tuhan, akhirnya saya berhasil memenangi pertarungan ini," kata Yohanes kepada Tribun sesaat setelah turun dari ring. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mempersembahkan gelar juara yang kini disandangnya untuk seluruh warga Kalbar dan juga untuk institusinya, Brimob Polda Kalbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menuturkan, pertandingan melawan Sigalarki bukan pertandingan mudah. Pukulannya jauh lebih telak dan kuat karena bobotnya lebih berat sekitar 5 kilogram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat timbang badan, berat badan saya hanya 58,9 kilogram. Berat badan Sigalarki 63,5 kilogram. Jadi, pukulannya sangat berbahaya dan saya merasakannya sendiri di atas ring," ujar Yohanes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, pelatih Damianus Yordan memintanya untuk menjaga jarak selama pertarungan. Sebab, bertanding jarak pendek sangat tidak menguntungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meladeninya jual beli pukulan dalam jarak dekat sangat konyol. Saya ikuti terus intruksi pelatih untuk menjaga jarak, sambil melihat kesempatan melayangkan pukulan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi itupun sangat efektif. Kesabaran Yohanes, dalam hal ini  dengan tidak meladeni Sigalarki yang terus memancing emosinya sejak ronde pertama, membuahkan hasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya memang diminta jangan terpancing dan harus bisa menahan emosi," ujar Yohanes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes pun mengucapkan terimakasih kepada warga Kalbar, termasuk institusi kepolisian, Brimob Polda Kalbar, dan keluarga yang tidak henti-hentinya memberikan dukungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemenangan ini hasil kerja keras kita bersama," ujar petinju kelahiran Kayong Utara ini merendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan ini juga memperbaiki rekor bertanding Yohanes menjadi 18 kali bermain, 17 kali menang, satu kali kalah, dan belum pernah seri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Sigalarki menjadi 24 kali main, 15 kali menang, 8 kali kalah dan sekali seri.  "Saya siap bertanding di kejuaraan internasional. Saya tidak akan puas dan berhenti sampai di sini," tegas Yohanes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajer Yohanes, AKP Bedjo Rahardjo, sempat kesal karena anak asuhnya dipaksa bertanding dengan lawan yang lebih berat bobot badannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini pemaksaan. Yohanes dipaksa bermain di kelas 64 kilogram. Manajer Sigalarki tidak disiplin. Masa' berat badannya hanya susut setengah kilogram. Karena itu, sebelum pertandingan saya sudah minta beberapa syarat," kata Bedjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat tersebut imbuh Kepala Denma Brimob Polda Kalbar ini, antara lain Yohanes harus pakai sarung tangan 10 dan jika menang, Yohanes harus diakui sebagai juara nasional. (hasyim ashari)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-798392289945352035?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/798392289945352035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=798392289945352035' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/798392289945352035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/798392289945352035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/10/gelar-juara-untuk-kalbar.html' title='Gelar Juara untuk Kalbar'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TMHiytnzFeI/AAAAAAAAAUE/4yUYLMMgKc0/s72-c/yohanes+yordan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-608199723076219055</id><published>2010-10-14T11:32:00.001-07:00</published><updated>2010-10-14T11:34:54.419-07:00</updated><title type='text'>Sudah Seperti Istri Pertama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TLdNQj5AB8I/AAAAAAAAAT8/74nnEFUnJpQ/s1600/merzy+acyym.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TLdNQj5AB8I/AAAAAAAAAT8/74nnEFUnJpQ/s320/merzy+acyym.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527972014528137154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan saya dengan Kawasaki Binter Merzy atau biasa disebut KZ 200, terjadi pada 2002. Saat itu, saya melihat, Deri, teman sekantor saya di Pontianak Post, bagian ekspedisi, setiap kerja sesekali membawa motor ini. Ia punya dua motor. Dua-duanya Kawasaki. Yang pertama untuk harian Kawasaki Kaze yang satunya lagi motor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, saya masih penggemar Vespa. Saya pakai Sprint 1979 yang sudah dimodifikasi sport. Baik setang, jok, maupun knalpotnya sudah racing style. Tergiur mendengar suara mesinnya yang ngebas, saya pun menjual si Sprint untuk beli KZ 200.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Harga saat itu, deal Rp 1,8 juta. Sementara Sprint terjual Rp 2,7 juta. Sisa penjualan Sprint saya alokasikan untuk perbaikan kecil-kecilan si Merzy. Pertama tentu saja pengisi batere atau aki dan platina. Di selembar STNK yang sudah lusuh, tertulis buatan 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, bersama Merzy ada begitu banyak kenangan. Selama dua tahun, hingga 2004. Motor ini menemani tugas-tugas saya sebagai junalis. Mulai dari Singkawang, Mempawah, Pontianak, hingga ke daerah Landak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, rute Mempawah, Anjungan, sampai ke Karangan Kabupaten Landak, nyaris dijelajahi setiap akhir pekan. Beberapa kali saya menempuh perjalanan di malam hari menuju Singkawang dan Pontianak. Biasanya, pada perayaan tahun baru, libur panjang, dan hari libur nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto ini diambil oleh Bang Jhony, PNS di Humas Pemkab Kabupaten Pontianak di Mempawah. Saat itu, hujan rintik-rintik dan saya baru turun dari bertemu H Abang Rusni Usha, Wakil Bupati Kabupaten Pontianak saat itu. Ia mendampingi Bupati Cornelius Kimha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah Bang Jhony mengabadikan gambar ini, saya meluncur ke Dinas Perhubungan Kabupaten Pontianak yang berjarak hanya sekitar sepuluh meter di depan Kantor Bupati. Saat itu, ada puluhan sopir opelet dari Siantan yang mendesak pencabuan trayek. Masalah trayek ini, menyebabkan kedua kubu yang berseteru, bentrok di Terminal Jungkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tenaga, Mercy lumayan nendang. Hanya memang, ada sejumlah kelemahan. Kelehaman paling kentara adalah koil yang sering jebol. Bahkan, koil Kijang pun yang saya pakai tidak mampu menampung cadangan setrum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu, karena kiprok yang saya pakai sudah tidak orinisil lagi. Akibatnya, aki sering tekor. Ini sangat menyulitkan ketika harus menempuh perjalanan malam. Beberapa teman kemudian mengakalinya dengan punya Suzuki Shogun. Termasuk yang pakai Merzy CDI 1982-1984, mereka pakai CDI Shogun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, yang sering bermasalah adalah cylinder head. Karena terlalu panas, pakin di cylinder head kerap bocor. Akibatnya, kompresi menjadi tidak maksimal. Oli menetes ke mana-mana. bagi yang tidak hati-hati, pada saat memasang kembali empat tongkat cylinder head, dratnya bisa aus dan ada juga yang sampai pecah. &lt;br /&gt;Hal serupa juga kerap terjadi ketika menyetel kopling. Rumah stut kompling kerap gompal dan pecah karena salah menyetingnya. Tidak hanya itu, batu kick starter juga gampang sekali aus. Meski sudah berkali-kali spul digulung, batu kick starter kerap tidak berfungsi maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejauh ini, saya sangat menikmati memakai Merzy. Terbukti karena saya juga akhirnya membeli Merzy Kobra 1984, CDI. Tulisan ini, didedikasikan untuk rider-rider Binter Merzy di manapun berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama rekan-rekan di Pontianak, kami kemudian berhimpun di Black Jack, para pegila motor choopper di Kalbar. We Are Born to Ride..........!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-608199723076219055?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/608199723076219055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=608199723076219055' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/608199723076219055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/608199723076219055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/10/sudah-seperti-istri-pertama.html' title='Sudah Seperti Istri Pertama'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TLdNQj5AB8I/AAAAAAAAAT8/74nnEFUnJpQ/s72-c/merzy+acyym.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-354960277229474859</id><published>2010-10-04T06:21:00.000-07:00</published><updated>2010-10-04T06:28:28.152-07:00</updated><title type='text'>Bersama Santap Jagung Rebus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TKnWBcZOvfI/AAAAAAAAAT0/2lUk_HVkWsk/s1600/sepook.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 199px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TKnWBcZOvfI/AAAAAAAAAT0/2lUk_HVkWsk/s320/sepook.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5524181738236853746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Sepok Gelar Halal Bihalal&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suasana Kota Pontianak kemarin pagi mendung, sesekali gerimis turun. Meski begitu, sejumlah orang tampak semangat mengayuh sepeda di Jl MT Haryono. Hari ini terasa istimewa, sebab banyak komunitas sepeda yang hadir untuk silaturahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBEDA dari acara halal bihalal organisasi, lembaga, instansi, ataupun kelompok lainnya. Tempat yang mereka pilih sangat spesial, Area Car Free Day Jl MT Haryono Pontianak, tepat di depan Halte SMU Mujahiddin.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Usai para bikers bersepeda keliling di kawasan tersebut, satu persatu maupun bersama keluarga dan rombongan lainnya, mulai berdatangan ke lokasi yang dipilih untuk menggelar acara Halal Bihalal Komunitas Sepeda Kota Pontianak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana telah hadir beberapa komunitas ataupun perwakilannya seperti komunitas sepeda ontel di antaranya Sepok, Semar, Satria, dan lainnya. Juga ada komunitas sepeda TNT, BMX, dari PLN, PDAM, Telkomsel, Kepolisian, Lanal, AU dan masih banyak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halal Bihalal ini memang sangat unik dan istimewa, dari yang tidak mengenal satu sama lain, akhirnya bisa berekanalan. Dari anak-anak hingga orang dewasa. Juga mereka semua berbeda latar belakang, suku, agama dan pekerjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami di sini semuanya berbeda latar belakang maupun profesi. Tapi tujuan dan hobi kami sama yakni bersepeda. Ya, mengengkol kita bersatu dan jika ketemu di jalan bisa saling ucapkan salam," ujar Ketua Panitia Halal Bihalal tersebut, Dodi Yanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, makanan yang disuguhkan juga istimewa dan sangat berbeda dari acara halal bihalal biasanya. Jagung rebus, pisang rebus, dan kacang rebus. Itulah pilihan menu santap di acara yang digelar di jalan raya dengan alas tikar dan koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami memilih jagung, kacang dan pisang ini juga, karena Sepok itu kan kuno. Jadi karena kita yang membuat ide ini, makanya kita suguhkan makanan tempo dulu, yang mungkin tidak dibayangkan orang. Tapi, lihat saja, semua pada menyukainya," tambahnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jugalah yang dikatakan Wakil Wali Kota Paryadi yang turut hadir dalam acara tersebut. "Kebersamaan dalam komunitas sepeda di Pontianak semakin baik dan inilah bukti olahraga seperti sepeda juga bisa membentuk satu tali jalinan kebersamaan. Makanannya juga ada jagung, pisang dan kacang ini bisa sekaligus membantu para petani kita dan memanfaatkan sesuatu yang mudah didapat," ujarnya saat memberi kata sambutan yang memang sebelumnya ia terlihat &lt;br /&gt;sangat senang makan kacang rebus yang tersedia di bakiak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak memandang perbedaan itu, para bikers dikumpulkan di satu tempat dengan tujuan olahraga, hobi, dan kesenangan sekaligus kesehatan. "Mengengkol kita bersatu, karena dengan mengengkol kita bersama. Pemerintah juga sudah sangat mendukung dengan menyediakan fasilitas area Car Free Day ini," ungkap Dodi yang menyatakan ada 20 komunitas sepeda di Kota Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depannya, diharapkan halal bihalal serupa bisa dilaksanakan dan dihadiri lebih banyak lagi komunitas sepeda lainnya. Acarapun terus berlanjut dengan beragam merek, jenis, bentuk sepeda berderet di jalan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan komunitas sepeda menyatakan sikap atas pengeboman Kalimalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami menyatakan sikap ini untuk memotong opini yang berkembang di masyarakat dan media, bahwa pengeboman yang terjadi di Kalimalang itu bom sepeda. Kami dari komunitas sepeda Kota Pontianak mengutuk segala bentuk terorisme apapun dan siapapun. Kami meminta media massa untuk menghentikan opini yang berkembang tentang bom sepeda tersebut. Karena akan mengakibatkan teman-teman enggan bersepeda lagi," tegas Pembina Sepeda Lipat sekaligus Wakil Ketua Bike to Work, Bahri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang juga pengurus Sepok menambahkan banyak sekali keuntungan dengan bersepeda. Selain sehat jasmani, juga tentunya mengurangi polusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami harapkan sepeda tidak hanya menjadi sarana untuk menjadi sehat tapi juga bisa menjadi sarana untuk bekerja. Sebab dengan menggunakan sepeda, berapa banyak pemakaian BBM yang bisa dikurangi dan meminimalkan polusi," pungkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sependapat dengannya, Rajali dari perwakilan komunitas sepeda PLN turut mengatakan dengan bersepeda tubuh menjadi bugar dan banyak mendapat teman baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lewat ini kita bisa saling kenal dan salam. Juga sehat serta bisa berkembang ke arah lain, misalnya share bisnis, dan lainnya. Harapnya ke depan bisa lebih meriah lagi," ujar dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini rangkaian kegiatan kita selama Ramdhan dan Idul Fitri," ujar Ketua Sepok, Jayus Agustono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, kegitan tersebut untuk mempererat tali silaturahmi antara sesama pecinta sepeda. "Kita tak mau suatu komunitas hanya berkumpul dengan komunitas itu saja. Siapapun boleh bergabung dalam kegiatan ini. Syaratnya harus pakai sepeda," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Konsepnya jadul. Makanan yang akan kita suguhkan juga tradisional. Tema yang kita angkat 'Mengengkol kite besatu'," kata Jayus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jayus berharap, dengan kegiatan tersebut akan terjalin kerjasama dan persaudaraan antar sesama pencinta sepeda. Melalui kegiatan tersebut, ia berharap kecintaan masyarakat untuk hidup sehat dengan bersepeda akan lebih meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum car free day ada, kita sudah kampanyekan bersepeda. Kita sambut baik adanya dukungan pemerintah melalui kebijakan car free day. Setidaknya ada perhatian dari pemerintah," katanya. (pontianak banajaria/iin solihin)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-354960277229474859?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/354960277229474859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=354960277229474859' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/354960277229474859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/354960277229474859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/10/bersama-santap-jagung-rebus.html' title='Bersama Santap Jagung Rebus'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TKnWBcZOvfI/AAAAAAAAAT0/2lUk_HVkWsk/s72-c/sepook.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-7007761537450363100</id><published>2010-09-05T04:59:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T05:17:09.943-07:00</updated><title type='text'>Jepin di Ambang Kepunahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TIOJBYDBexI/AAAAAAAAATs/ud3zxDlyrS8/s1600/jepin.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 216px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TIOJBYDBexI/AAAAAAAAATs/ud3zxDlyrS8/s320/jepin.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513401025559624466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Jepin di Ambang Kepunahan&lt;br /&gt;Pegiat dan mantan penari Jepin Kalbar, Juhermi Thahir (51), mengaku prihatin dengan perkembangan tari Jepin di Kalimantan Barat. Ia melihat, beberapa jenis tari Jepin di antaranya sudah di ambang kepunahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada beberapa alasan mengapa Jepin yang menjadi ciri khas Melayu terancam punah. Di antaranya karena terjadi pergeseran pegiat seni tari yang cenderung ke arah tari kreasi dan kontemporer bukan khas nuansa Jepin. Sementara di sisi lain, banyak para pembina yang meninggal. Perhatian pemerintah daerah terhadap Jepin juga kurang," kata Juhermi kepada Tribun, Sabtu (5/6) sore.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ditemui di sebuh warung kopi di Jl Tanjungraya 1, fotograper Harian Berkat ini menuturkan mereka yang memiliki pengetahuan cukup tentang akar Jepin, banyak yang sudah meninggal. Di antaranya adalah Almarhum Yanes Chaniago, Inang Suparni, Hj Nuraini Zamil, Yusuf Daemar. Mereka adalah angkatan 1960-1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya melihat antusiasme generasi muda terhadap seni tari tradisional, terutama Jepin, cukup besar. Yang hilang adalah para pengembang (seniman pencipta) Jepin. Mereka tidak tahu harus belajar ke mana, dengan siapa. Ini yang membuat seni tari tradisional tersingkir," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi, sebagian seniman yang sudah berbuat kebingungan harus menyalurkan kreasi tarinya ke mana. Tidak ada pagelaran dan ajang festival sebagai tolok ukur keberhasilan pengembangan tari Jepin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pun ada, Jepin hanya disajikan dalam bentuk parsial. Sekadar hiburan, habis ditonton selesai. Padahal, Jepin tidak hanya tarian, ia punya makna dan deskripsi, nilai historis, serta akar budaya di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini yang kita sayangkan. Pemerintah, dalam hal ini Taman Budaya dan Dinas Pariwisata harus cepat masuk. Semua terjadi akibat pembinaan yang tidak tepat. Jepin tidak digarap, tidak digali, tidak terdokumentasikan langsung di akar-akarnya di masyarakat," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki bersahaja ini menambahkan, sebenarnya Jepin tetap ada di tengah-tengah masyarakat Melayu. Namun, tetap saja dibutuhkan pembinaan dan perhatian pemerintah. Butuh sinergi antara seniman pencipta, sanggar, dan pemerintah. "Di Samarinda, di Bali, juga di Riau ada perkampungan seni. Mengapa kita tidak," tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juhermi bersyukur, karena beberapa orang masih konsekuen melestarikan Jepin. Di antaranya, di Sambas ada Nazamudin, Muin Ikram, dan Muslimah. Di Mempawah ada Bambang, di Pontianak lestari di sejumlah sanggar seperti, Kijang Berantai, Andari, dan Bougenville.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap, seperti era 1980, tari tradisional terutama Jepin bisa diperkenalkan ke sekolah- sekolah. Jika tidak dalam bentuk ekstrakurikuler, sejatinya muatan lokal (Mulok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Sanggar Andari, Kusmindari (41), mengatakan tidak semua Jepin di ambang kepunahan. "Memang ada beberapa. Di antaranya adalah Jepin Tali dan Jepin Langkah Sanggar Remaja 80. Itu yang kita dorong dan hidupkan kembali. Hati saya terpanggil untuk melestarikan Jepin saat melihat pentas seni siswa SD. Mereka mengaku membawakan Jepin, tapi sebenarnya tidak. Dari musiknya saja bukan khas Jepin," kata Kusmendari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemui di sanggarnya di Jl Halmahera I nomor 85, Kusmendari punya obsesi untuk menulis dan mendokumentasikan secara lengkap tari Jepin Kalbar. Termasuk meminta pemerintah untuk memasukan Jepin ke dalam materi mulok di sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya berpikir untuk 10 tahun mendatang, jika Jepin tidak dilestarikan, Kalbar akan kehilangan identitas Melayunya," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berkembang di Keraton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jepin masuk pertama kali ke Kalbar dari Arab sekitar abad ke-15, tepatnya di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas pada 1928. Jepin yang berfungsi sebagai alat penyebarluas agama Islam kemudian menyebar ke Sambas dan daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja, Kerajaan Tanjungpura, Sukadana, Simpang, Mempawah, Landak, Tayan, Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang, Kubu, dan Kesultanan Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada beberapa versi Jepin. Di Sambas dikenal dengan Jepin Lembut. Di Pontianak ada Jepin Bui, daerah lainnya Jepin Langkah," kata mantan penata Teknis Taman Budaya, Juhermi Thahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memaparkan Jepin Lembut hanya dimainkan dua penari laki-laki. Gerakannya mengutamakan olah tubuh yang gemulai, indah, lembut dan mengarah pada gerakan salat dan berdoa. Lagu- lagunya juga berisi tentang pujian kepada nabi dan asma Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengiringnya musik tradisional Gambus Lodang dengan alat ketipung tiga buah dan gendang panjang.  Sementara Jepin yang berkembang di Pontianak lebih banyak menggunakan properti. Alat apa yang dibawa saat menari, itulah nama tariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya bawa kipas, namanya Jepin Kipas, pakai tali jadi Jepin Tali. Properti itu untuk memeprkaya agar tidak tertinggal. Penarinya pun disesuaikan, bisa dua orang laki-laki, berpasangan, bisa juga ramai-ramai karena tuntutan keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat musik yang digunakan pun lebih kaya. Misalnya, ada ketipung bawas, tanpa gendang panjang, ditambah akordeon dan biola. Namun, lagunya tetap islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski ada perbedaan, namun pola langkahnya sama karena baku. Yaitu, langkah biasa, gantung, gencat, dan serong. Keunikan Jepin Lembut Sambas, penarinya juga harus ikut menyanyi. Sementara Pontianak, yang bernyanyi hanya dimainkan penggambusnya," ujar Juhermi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Sanggar Andari, Kusmendari, menambahkan Jepin sangat khas. Gerakan dan musiknya sudah baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dibuka dengan laram, lampas, salam pembuka, ragam jepin, satu lagu perpindahan ditentukan lampas, dan ditutup dengan ya salam tahtim. Suara gendangnya juga spesifik. Tung.. tak..tung.. tung..tak..tung," imbuh Kusmendari yang kita membina 75 anggota aktif di Sanggar Andari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi (24), Penari&lt;br /&gt;Irama Syahdu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama terjun ke dunia tari, untuk melestarikan seni budaya. Sekalian, karena sibuk di luar menari jadi olahraga dan membentuk badan. Saya suka tari Jepin karena iramanya yang lebih syahdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau di awal dimulai dengan musik gambus. Setiap tari memiliki kesulitan tersendiri. Nah, di Jepin kesulitannya ada di langkah. Harus lebih fokus. Sebab salah hitungan sekali saja, semua langkah akan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuniantini (32), Penari&lt;br /&gt;Langkah Susah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah menekuni tari, termasuk Jepin sejak umur 3 tahun. Mungkin karena ada darah seni mengalir di tubuh saya dari orangtua, Utin Srri Bunian yang juga penari dan Agus Ahmad Kamandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bisa dibilang, saya mengusai hampir semua jenis Jepin. Dibandingkan tarian lain, Jepin memang sangat susah di langkah. (hsm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasib Pegiat Jepin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juhermi, mengenal seni tari tradisional sejak mengenyam pendidikan di SDN 3 Tarempak dan  SMP Swasta Siantan, Tanjungpinang, Riau Kepulauan, 1969. Ia membawa kecintaannya terhadap seni ke Pontianak bersama kepindahan kakaknya, Ruzhan Thahir, yang tugas di Bulog Kalbar pada 1977.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya masuk kelas 3 di SMP Muhammadiyah Pontianak. Di sini saya memberanikan diri untuk mengajar tari. Saya rekrut 11 pasang atau 22 orang siswa-siswi untuk mengikuti Festival Tari Nasional se-Kota Pontianak. Hasilnya, kami Juara II," kenang suami dari Maniah M Noor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas bakatnya itu, ia diminta melatih di Bidang Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sejak 1978-1980 sebelum akhirnya ditarik ke Taman Budaya Kalbar dan bertemu Fadil A Bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari beliaulah, saya belajar Jepin untuk pertama kali. Sejak saat itu, saya terus berburu guru- guru Jepin terbaik di penjuru Kalbar. Saya datangi langsung Nazamuddin di Sambas dan Hepsi di Singkawang untuk mengenal pola dasar Jepin Kalbar," papar Juhermi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juhermi pun banyak beradaptasi dengan narasumber di akar-akar dan pusat Jepin di masyarakat. Ada Pak Kuyung (Teluk Pakedai), Ce Mahmud dan Wanto (Sungai Jawi), dan Pak Usman (Batulayang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar langsung dari para ahli Jepin itu, membuat Juhermi mampu menggarap beberapa tari. Di antaranya Lenggang Kapuas (1982), Jepin Tempurung untuk peresmian GOR Pangsuma, Jepin Kembang Manggar tampil di Istiqlal (1991), Canggah Tiga di Mempawah, dan Tari Bumarang. Puncaknya adalah saat MTQ XIV tingkat nasional 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalbar sebagai tuan rumah diminta mengisi malam ta'aruf dengan tarian kolosal. "Semua pelatih tari menolak karena waktu hanya sebulan. Saya yang sat itu sedang sakit, merasa terpanggil untuk menyelamatkan wajah Kalbar. Hasilnya, kami memukau pengunjung dengan Jepin Jala yang dibawakan 400 penari. Bagi saya, itu adalah master piece," kenang ayah dari Sarmia Wardani (20), Syahrani (17), dan Rizki Fahrisi (10) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pagelaran itu pula yang membuatnya patah semangat. Bahkan, ia berhenti menekuni Jepin nyaris 5 tahun setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya trauma, terluka, dan sedih menusuk hati. Meski berhasil malam itu, tak satupun pangakuan datang dari pemerintah daerah. Padahal, cukuplah dengan selembar sertifikat penghargaan. Di tempat lain, saya mendapatkannya. Tapi tidak di rumah sendiri," ujarnya. (hasyim ashari)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-7007761537450363100?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/7007761537450363100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=7007761537450363100' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7007761537450363100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7007761537450363100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/09/jepin-di-ambang-kepunahan.html' title='Jepin di Ambang Kepunahan'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TIOJBYDBexI/AAAAAAAAATs/ud3zxDlyrS8/s72-c/jepin.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-1071745657601440336</id><published>2010-07-30T08:39:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T08:41:33.550-07:00</updated><title type='text'>Stop Saling Tuding</title><content type='html'>* KOSTI pasca KSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan onthelis tanah air, awalnya saya tidak ingin membuat klarifikasi terkait sejumlah komentar di WARA WIRI terkait topik KOSTI pasca KSI. Sebelum kemudian saya membaca ada komentar yang ditulis komentator yang menamakan dirinya HATI HATI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan HATI HATI menulis bahwa Agung priono, Meizi Fahrizal, Suhrowardi, Imam Soeparjo, Ananta Prawiro, Angga, Andhita Wardana, H.Didik Mulyadi, dan Gila Onthel (saya), Ternyata berasal dari IP Adress yang Sama, dan (Mungkin) berasal dari komment satu orang. Dewasalah!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, yang kedewasaannya patut dipertanyakan adalah rekan kita yang terhormat HATI HATI. Kalau memang gentlement, buka dong alamat websitenya (URL). Biar semua rekan onthelis bisa berkunjung! Biar sosoknya kelihatan terang benderang! Kecuali memang ada niatan lain, habis menuding sembunyi tangan! Dewasalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan sangat terbantu, jika rekan HATI HATI selanjutnya berbagi ilmu dengan menunjukkan benarkah komentar saya dan sejumlah nama yang disebut itu, berasal dari IP Address yang sama. Tinggal aware saja, saya tidak keberatan. Nah, nanti saya akan cocokkan dengan IP Address saya, yang sudah saya gunakan sejak dua tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang saya menulis komentar di WARA WIRI, blog yang kita sayangi, saya tidak pernah menyembunyikan identitas saya. Tinggal klik gilaonthel, rekan-rekan onthelis bisa langsung masuk ke blog pribadi saya. Keterbukaan yang saya junjung tinggi itu, sebagai bentuk apresiasi terhadap kecintaan untuk berbagi informasi tentang sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di blog yang sederhana ini, selain berisi tentang blog-blog rekan onthelis nusantara dan Malaysia, juga ada blog untuk motor antik. Beberapa di antaranya adalah jaringan yang saya bangun, sesama rekan media dan penulis. Bahkan ada beberapa tulisan saya yang sudah dibukukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah tugas-tugas saya sebagai Manajer Produksi Tribun Pontianak, sebuah surat Kabar terbesar di Kalbar, adalah hal luar biasa untuk menulis komentar sepanjang dan beragam seperti yang ditudingkan HAT HATI itu! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi dengan menggunakan nama-nama yang meminjam istilah rekan Irmanov 73, kayak daftar nama di produk susu. Sungguh itu adalah pekerjaan sia-sia dan tidak penting. Lebih penting tugas saya sehari-hari! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merancang bagaimana berita dan desain tata wajah di tiap halaman. Menyajikan berita-berita apa yang menjadi perhatian publik dan menyangkut kepentingan orang banyak di Kalbar, bahkan bangsa ini. Tidak sekadar itu, tapi juga bagaimana desain itu mampu memenangkan kompetisi ketatnya bisnis surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi seluruh desain itu, dibatasi deadline. Dan proses berpikir kreatif itu terjadi setiap hari! Untuk itulah, guna merenggangkan kepenatan di tengah-tengah adrenalin dikejar deadline, saya memilih bersepeda dan berburu klitikan. Syukur, sejak kenal sepeda antik, saya pernah memiliki Raleigh Dames, BSA Gent, dan terakhir NSU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkumpul bersama rekan-rekan di Sepeda Onte Kalimantan Barat (SEPOK), kemudian menjadi hiburan yang mampu melepaskan penat di belakang meja redaksi. Jadi, saya tidak perlu bersumpah untuk menyakinkan rekan HATI HATI, bahwa saya memang tidak pernah membuat komentar-komentar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga penting, karena dari nama-nama yang disebutkan di atas, tidak ada satu pun yang memiliki alamat blog atau website yang bisa dikunjungi. Termasuk rekan HATI HATI yang juga tidak jelas identitasnya itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada ADMIN WARA WIRI, saya berharap dicarikan solusi bagaimana caranya agar tudingan serupa tidak terjadi dikemudian hari. Sebab bukan mencari solusi malah melahirkan perasaan yang sungguh bagi saya tidak nyaman. Seperti tidak melakukan apa-apa, namun dituding melakukan apa-apa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut saya sajikan beberapa komentar di WARA WIRI dalam topik KOSTI pasca KSI. Inilah nama-nama berikut komentar yang oleh HATI HATI ditengarai dibuat oleh orang yang sama. Di bawahnya, ada juga pesan ADMIN dan rekan onthelis lain yang menanggapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agung priono (posting, Juli 27, 2010 pada 2:48 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosti kurang koordinasi&lt;br /&gt;Lebih baik intropeksi&lt;br /&gt;Perkuat Persaudaraan&lt;br /&gt;Rangkul teman seperjuangan&lt;br /&gt;mari bergandeng tangan memajukan sepeda di Indonesia&lt;br /&gt;sepeda tetap sepeda tidak ada yang merasa exlusif&lt;br /&gt;perbedaan pendapat biasa tapi jangan menzalimi rekan seperjuangan. HIDUP KOSTI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meizi fahrizal (posting Juli 27, 2010 pada 2:35 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampurasun&lt;br /&gt;salut untuk ketegasan kosti pusat&lt;br /&gt;saran:&lt;br /&gt;1. Bagi yang terlibat dalam ksi baik panitia maupun peserta lebih baik dikeluarkan dengan hormat dari kosti&lt;br /&gt;karena mereka tidak menghormati surat edaran yang dikeluarkan kosti bahwa kosti tidak dibawah ksi hanya bersifat koordinasi, berarti yang menjadi panitia dan peserta kongres KSI telah menghianati kosti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Segera keluarkan surat keputusan baru yang menegaskan kalau seluruh panitia dan peserta yang berasal dari unsur kosti yang mengikuti kongres ksi telah menghianati anggaran dasar dan anggaran rumah tangga kosti sehingga mereka harus memilih kosti atau ksi.&lt;br /&gt;Hatur nuhun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ananta prawiro (posting, Juli 27, 2010 pada 3:12 pm) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedkit sentimen yang menjurus kepada seorang sahabat kosti di dpp dari surat keputusan diatas, mohon ditinjau kembali surat tersebut yang namanya sebuah surat keputusan berkisar pada penjelasan lebih lanjut mengenai ad/art dan bersifat operasional., yang menjadi dasar hukum dalam berorganisasi adalah ad/art, untuk itu surat keputusan tersebut lucu. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua. Kalau memang mau merubah ad/art di kongres buat aturan main yang mengatur tidak boleh rangkap jabatan dsb. SK diatas merupakan pembelajaran bagi kita semua untuk berhati-hari mengeluarkan SK sehingga dapat sinkron dengan ad/art.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angga (posting, Juli 27, 2010 pada 3:19 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyok kite ngonthel nyok kite ngonthel&lt;br /&gt;Nyok onthel jangan dipolitisasi&lt;br /&gt;Nyok pengurus jangan sentimen pribadi&lt;br /&gt;Nyok kite bergandeng tangan&lt;br /&gt;Nyok majuin KOSTI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andhita Wardana (posting, Juli 27, 2010 pada 3:28 pm)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik kosti memikirkan bagaimana pertanggung jawaban kongres kosti pada bulan februari mendatang trus mikirin bagaimana kedepannya kosti.&lt;br /&gt;Ini pada ribut ngurus KSI bukankah masalah rangkap jabatan belum diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga? ya sudah begitu saja kok repot!&lt;br /&gt;Berarti belum ada aturan mainnya, kalau independen iya didalam anggaran dasar ada menyebutkan bahwa kosti organisasi yang independen kalau rangkap jabatan tidak ada.&lt;br /&gt;Berarti tidak usah diperdebatkan DPP harus menganalisa lebih jauh sebelum mengeluarkan surat keputusan. Mari kita membangun kosti tidak ada yang perlu mengundurkan diri atau diberhentikan.&lt;br /&gt;Buat rekan-rekan kosti di seluruh Indonesia ayo kita bangun kosti lupakan surat keputusan diatas yang pada akhirnya hanya merobek-robek silaturahmi para onthelis.&lt;br /&gt;SK ini memiliki efek yang luas bagi rekan-rekan DPP coba lebih arif dan bijaksana jangan emosional dan bersuujan sesama teman di kosti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Didik Mulyadi (posting, Juli 27, 2010 pada 3:42 pm)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaudaraan adalah yang utama, silaturahmi dan ukhuwah adalah wajib hukumnya.&lt;br /&gt;Kalau DPP hanya mengeluarkan SK dan memberi dampak yang memecah belah para onthelis ngapain SK tsb harus dikeluarkan hanya DEMI ego sesaat dan emosional pribadi sehingga akhirnya menghancurkan KOSTI.&lt;br /&gt;Sudah jelas SK diatas adalah biang kerok kehancuran, para yang terhormat pengurus DPP KOSTI bacalah bacalah bacalah n pahami anggaran dasar anggaran rumah tangga bukankah saudara-saudara sendiri terlibat dalam proses pembuatannya.&lt;br /&gt;INDEPENDEN KOSTI wajib hukumnya!&lt;br /&gt;Larangan RANGKAP JABATAN belum diatur.&lt;br /&gt;jadi untuk saat ini seluruh pengurus KOSTI bebas untuk berorganisasi apapun apalagi yang berbau sepeda (pit pancal) ini yang harus dipahami jangan sampai SK diatas menjerumuskan kita semua dalam sebuah lembah perpecahan dan kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADMIN (posting Juli 27, 2010 pada 4:25 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf bagi rekan - rekan Onthelis..silahkan saja mengeluarkan unek - unek, saran dan kritiknya tetapi diharapkan untuk mematuhi kode etik dengan tidak menggunakan nama yang berbeda-beda seakan-akan komentar tersebut dari orang lain.&lt;br /&gt;Jadikan WIWINAKED Blog yang sehat, Independen dan Terpercaya..&lt;br /&gt;Terima kasih &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gilaontel (Juli 28, 2010 pada 12:08 am) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ironis ketika nilai-nilai tanpa pamrih dan pretensi tentang kecintaan kita terhadap sepeda dikalahkan petak-petak organisasi dengan atau atas nama klaim apapun..tidak ada yang lebih indah dan bermanfaat juga mungkin bermartabat kecuali mengedepankan persaudaraan dan kebersamaan...mari kita ngontel dengan ikhlas!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HATI-HATI....(komentar sudah dihapus di Wara-Wiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira isinya begini: Agung priono, Meizi Fahrizal, Suhrowardi, Imam Soeparjo, Ananta Prawiro, Angga, Andhita Wardana, H.Didik Mulyadi, dan Gila Onthel, Ternyata berasal dari IP Adress yang Sama, dan (Mungkin) berasal dari komment satu orang.&lt;br /&gt;Dewasalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;irmanov73 (posting, Juli 28, 2010 pada 4:36 pm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam onthel&lt;br /&gt;hahahaha.dari nama sebanyak itu berasal dari IP/orang sama..?&lt;br /&gt;Agung priono, Meizi Fahrizal, Suhrowardi, Imam Soeparjo, Ananta Prawiro, Angga, Andhita Wardana, H.Didik Mulyadi, Gila Onthel. Ternyata berasal dari IP Adress yang Sama, dan (Mungkin) berasal dari komment satu orang.&lt;br /&gt;gak kurang itu nama.hahahaha kayak daftar nama di produk susu..hahahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Win Cibubur (posting, Juli 28, 2010 pada 5:27 pm) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagus dech klo dr IP yg sama, jd kan ketauan orangnya itu -itu aja yg coment..! Yang penting Ngonthel Bro biar badan jd sehat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dan terimakasih!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-1071745657601440336?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/1071745657601440336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=1071745657601440336' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1071745657601440336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1071745657601440336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/07/stop-saling-tuding.html' title='Stop Saling Tuding'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-6715337422448591068</id><published>2010-07-20T08:17:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T08:22:26.229-07:00</updated><title type='text'>Rudge Juragan Beras</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TEW_LXvZVcI/AAAAAAAAATU/dGHZFvx_jdc/s1600/rudge.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TEW_LXvZVcI/AAAAAAAAATU/dGHZFvx_jdc/s320/rudge.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496009122347832770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari lalu, saya sedang menikmati secangkir kopi di sebuah kedai kopi di Jl Martadinata, Pontianak. Sambil menunggu siang, saya menyimak orang dan kendaraan lalu lalang dengan aktivitasnya masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja, mata saya menyapu sosok sepeda di seberang jalan. Sepeda itu teronggok tidak berdaya, bahkan terkesan tidak diurus, di sebuah toko beras. Saya sudah sering ngopi di tempat saya ngopi saat ini. Termasuk kadang-kadang mencuri pandang ke arah orang yang keluar masuk toko tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, baru kali ini mata saya menangkap ada sepeda di sana. Penasaran, saya pun mendekati toko tersebut. Setelah minta izin, saya masuk ke dalam gudang yang berada di sisi kiri toko itu. Selama ini, gudang itu memang cenderung tertutup rapat oleh rolling door.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga unit sepeda di sana saling tindih. Dua sepeda dewas, satunya lagi sepeda anak-anak. Kondisinya sangat memprihatinkan. Semua batangnya sudah tetutup debu. Namun, dari jauh saya sudah menebak bahwa satu di antara sepeda itu adalah Rudge, sepeda buatan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu dari leher dan jepit udangnya. Ya...itu pasti Rudge! sebab saya sudah pernah melihat Rudge serupa meski yang dames. Anak-anak Sepeda Onte Kalimantan Barat (Sepok) juga ada dua orang yang punya Rudge type dames.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pontianak, di kalangan generasi tua, mereka menyebut Rudge dengan sebutan sepeda Cap Tangan. Sebutan itu merujuk pada emblem Rudge yang berlogo telapak tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ini Ruge type Gent, saya belum pernah melihatnya. Saya makin terpana, karena meski tertutup debu namun catnya masih orisinil. Hanya butuh sedikit minyak dan lap basah, usap dengan lembut, pasti mengkilat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin saya tambah kagum adalah detail aksesorisnya lumayan lengkap. Pelek, ketengkas, perseneling, lampu depan, bel, gir depan, emblem, lampu, setang, boncengan dan standar, hingga peneng masih orisinilan. Kalau pun ada yang tidak orinisil adalah sadel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu unit sepeda lainnya, saya tidak bisa mengenalinya. Tidak ada tanda-tanda yang bisa saya jadikan acuan untuk menilainya. Saya sudah memeriksanya tiap bagian. Saya menduga, itu sepeda buatan China. Karena itu, saya tidak terlalu menghiraukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian berbincang-bincang dengan penjaga toko yang ternyata adalah istri dari pemilik sepeda. "Maaf, sepeda Bapak tidak dijual. Ini sepeda bapak sejak masih jualan beras keliling sampai sekarang sudah punya toko sendiri," kata perempuan itu menyurutkan semangat saya untuk membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa mengurut dada. Ada barang indah nan menawan di depan mata namun tidak bisa memiliki. Hanya bisa memandang, mengenang, lewat gambar yang saya abadikan ini. Saya ambil foto ini menggunakan Nokia E63. Selamat menikmati dan selamat megurut dada juga...ha ha ha ha ha...kampreeeeet!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-6715337422448591068?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/6715337422448591068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=6715337422448591068' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6715337422448591068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6715337422448591068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/07/rudge-juragan-beras.html' title='Rudge Juragan Beras'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TEW_LXvZVcI/AAAAAAAAATU/dGHZFvx_jdc/s72-c/rudge.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-6785922869874876173</id><published>2010-07-19T08:17:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T08:20:19.615-07:00</updated><title type='text'>Tanjidor, Bertahan di Panggung Hiburan</title><content type='html'>PONTIANAK, TRIBUN - Pimpinan Grup Tanjidor, Setia Kawan, Ibrahim SPd, mengaku sempat jatuh bangun mempertahankan kesenian tradisional Tanjidor. Ia mengaku kesulitan mencari para pemain Tanjidor. Kalau diibaratkan mati sepuluh yang muncul hanya satu untuk kaderisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setahun lalu pernah bubar. Saat itu, nama grupnya, Mustika. Kami bubar karena para pemainnya ada yang meninggal dan pindah. Sementara mencari penggantinya sulit sekali," kata Ibrahim kepada Tribun, Sabtu (3/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala SDN 28 Pontianak ini menjelaskan karena terlanjur cinta, ia berupaya bangkit dan membentuk grup Tanjidor baru dengan nama Setia Kawan. Kali ini, ia memberikan sedikit sentuhan untuk menarik minat generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kita masukan unsur-unsur eletronik. Istilahnya kita kolaborasikan. Antara alat-alat musik Tanjidor tradisional seperti saxophone, terompet, tambur senar, drum bass, dan terombon dengan eletrik seperti gitar melodi, gitar rhythm, dan bass," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, Arif, yang baru berumur 15 tahun ikut serta. Ia memegang gitar melodi. Maka, Tanjidor yang awalnya bernuansa tradisional, kini lebih modern. Sebab ada kreasi lain dengan memunculkan suara-suara dari gitar elektrik. Bahkan, kadang ditambah keyboard. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, hampir semua lagu sekarang bisa kami bawakan. Dari mulai yang berirama gambus, sampai lagu-lagu pop. Dampaknya, Tanjidor, bisa dinikmati lebih luas oleh masyarakat," kata Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemui di rumahnya di Jl Husein Hamzah Nomor 89 Pontianak Barat, Ibrahim berharap upaya para pegiat seni Tanjidor didukung oleh niat baik pemerintah untuk melestarikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itulah. Di satu sisi pemerintah minta agar kesenian ini dilestarikan, namun pemerintah sendiri tidak ada perhatian sama sekali. Kalau pun saat ini masih bertahan, itu lebih karena kecintaan mereka yang bergabung dalam grup Tanjidor," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan serupa diutarakan Pimpinan Tanjidor Tanjung Besiku, Muhammad M Saad Ahmat (62). Ia khawatir jika tidak ada campur tangan pemerintah untuk melestarikannya, Tanjidor tradisional bisa punah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin dalam kurun lima tahun mendatang sudah tidak ada lagi. Sekarang saja sulit cari pengganti para pemain yang rata-rata umurnya sudah menjejak senja. Sudah 50 tahunan," kata M Saad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, lanjutnya, Tanjidor di daerah lain terus berkembang karena besarnya perhatian pemerintah setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah beberapa kali pergantian wali kota, tidak ada perhatian sama sekali. Padahal, kami sudah beberapa kali mewakili Kota Pontianak mengikuti pageralan dan perlombaan dan selalu keluar sebagai yang terbaik," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegiat seni yang tinggal di Kampung Dalam Bugis, Jl Tritura Nomor 7 Pontianak Timur ini, menjelaskan syukur ia masih bisa bertahan. Semua berkat dukungan teman-temannya yang masih perduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara mereka, ada yang menunjukkan kepedulian dan kecintaannya kepada Tanjidor dengan membelikan alat-alat Tanjidor yang dibutuhkan. Termasuk seragam tradisionalnya. Sebab, alat- alat Tanjidor warisan kakek dan ayahnya sudah berumur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Datuk saya sudah main Tanjidor sejak 1935. Alat-alatnya diwariskan ke Bapak, Ahmad Abubakar, dengan nama Grup Tanjidor, Sukaraja. Bapak mewariskannya ke saya," kenang M Saad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seniman Tanjidor, ia mengaku Tanjidor sudah mendarah daging. Dorongan akan kecintaan kepada seni tradisional itulah yang membuatnya berupaya keras mempertahankan kesenian itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cukuplah untuk makan sehari-hari. Dalam sepekan, biasanya sampai lima kali mentas. Untuk hajatan biasanya Rp 600-700 ribu. Khusus untuk pekan olahraga pelajar 24 Juli ini Rp 1,5 juta," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpanggil&lt;br /&gt;Tidak banyak generasi muda yang mau berkecimpung di Tanjidor. Namun tidak bagi Arif (15). Remaja yang baru lulus dari SMPN 9 Pontianak ini justru merasa terpanggil melestarikan kesenian tradisional Tanjidor, Mustika, yang sudah dirintis ayahnya, Ibrahim (53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah ikut-ikutan Bapak main sejak sebelum SD," kata Arif kepada Tribun, Sabtu (3/7).&lt;br /&gt;Ditemui di rumahnya, Arif yang biasa disapa Lulu ini menuturkan pada umur 13 tahun, baru menyadari kalau Tanjidor itu musik yang bagus. Ia pun tertarik mendalaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Lulu di Grup Mustika memberikan warna baru. Kebetulan, Tanjidor yang dikelola ayahnya merupakan Tanjidor kreasi. Di mana, mengkolaborasikan alat-alat tradisional dengan yang modern. Arif memainkan gitar melodi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya belajar gitar melodi dari teman. Hanya sedikit-sedikit. Lama kelamaan, saya jadi lancar," ujar Lulu yang punya Grup Nasyid, The Fulltime ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulu yang mengincar kursi di SMAN 4 Pontianak ini, mengaku tidak pernah malu saat tampil memainkan Tanjidor. Bahkan, ketika pada suatu pementasan disaksikan teman-teman SMP-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sama sekali tidak malu. Saya bangga bisa main Tanjidor. Teman-teman juga banyak yang bilang bagus," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap akan semakin banyak anak-anak muda yang terlibat aktif dalam Tanjidor. Dengan begitu Tanjidor akan lestari dan tidak lekang di telan zaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Arif, di grup Tanjidor lainnya, Tanjidor Tanjung Besiku, ada nama Muhammad Alkasa. Usianya baru menginjak 14 tahun. Namun, cucu dari Muhammad M Saad Ahmad ini, sudah piawai memainkan kendang drum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari 10 anak-anak yang masih kerabat yang saya kumpukan untuk melanjutkan Tanjidor, hanya tiga yang masih bertahan. Satu di antaranya adalah Alkasa. Saya sangat berharap, ia yang akan mewariskan kesenian ini," kata M Saad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Kesenian&lt;br /&gt;Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak, Ir Utin Khadijah, mengakui pembinaan terhadap kesenian tradisional di Kota Pontianak menemui sedikit kendala. Kendala itu disebabkan Dewan Kesenian Kota Pontianak yang selama ini menjadi lokomotif pembinaan kesenian tradisional fakum untuk beberapa waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kefakuman itu karena adanya peleburan perangkat SKPD. Dahulu, bidang kesenian masuk di Dinas Pendidikan Nasional. Sekarang berada dalam tanggungjawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata," kata Utin Khadijah kepada Tribun, Sabtu (3/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga Ketua Dewan Kesenian Kota Pontianak, Dra Herawati, saat ini berada di lingkungan Dinas Pendidikan. Sementara, seharusnya Dewan Kesenian bernaung di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. "Dalam waktu dekat, saya akan berkoordinasi dengan Ibu Hera untuk membicarakan hal ini," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utin menjelaskan pihaknya sudah bertemu dan berbicara langsung dengan anggota DPR yang membidangi pariwisata belum lama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hasilnya kami akan menghidupkan kembali Dewan Kesenian. Tapi, kepengurusan yang lama akan dibubarkan dahulu, baru kemudian dibentuk pengurus yang baru. Setelah itu, disusun program kerja. Baru kami akan audiensi ke Wali Kota Pontianak. Baru kemudian ke provinsi. Yang jelas semuanya harus sesuai dengan aturan main," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Kesenian, menurutnya, selama ini dibagi menjadi empat komite. Komite 1 (Seni tari), Komite II (Seni Musik), Komite III (Seni Lukis), dan Komite IV (seni Suara). Untuk pembinaan alat musik kesenian tradisional seperti Hadrah, Tanjidor, dan sebagainya masuk dalam komite II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita akan libatkan mereka yang selama ini berkecimpung di musik tradisional, termasuk Tanjidor dalam kepengurusan Dewan Kesenian. Sebab selama ini mereka yang lebih memahami apa yang paling mereka butuhkan untuk pengembangan Tanjidor," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utin membantah jika selama ini Pemkot Pontianak tutup mata atau tidak perduli dengan upaya pelestarian Tanjidor. "Kita cukup sering melibatkan mereka dalam berbaggai kegiatan Pemkot Pontianak. Nanti, setelah Dewan Kesenian ini terbentuk, program-program pembinaan itu akan lebih tepat sasaran," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menegaskan seni musik modern boleh-boleh saja berkembang, namun musik dan kesenian tradisional tidak boleh dilupakan. Sebab, menjadi identitas dan aset budaya daerah. (hsm/*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-6785922869874876173?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/6785922869874876173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=6785922869874876173' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6785922869874876173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6785922869874876173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/07/tanjidor-bertahan-di-panggung-hiburan.html' title='Tanjidor, Bertahan di Panggung Hiburan'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-208158683982803519</id><published>2010-07-18T11:38:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T11:40:38.105-07:00</updated><title type='text'>Usung Hari Bersepeda Nasional</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TENKm5YSrPI/AAAAAAAAATM/7mP4kf6Mp78/s1600/sepeda.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 188px; height: 250px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TENKm5YSrPI/AAAAAAAAATM/7mP4kf6Mp78/s320/sepeda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495318002420329714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Dari Kongres Sepeda Indonesia&lt;br /&gt;JAKARTA - Kongres Sepeda Indonesia (KSI) yang diikuti puluhan ribu peserta akhirnya rampung digelar, Minggu (18/7). Beberapa usulan pun dibuat untuk mendukung upaya memasyarakatkan sepeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu di antaranya adalah usul 17 Juli sebagai Hari Bersepeda Nasional. "Di hari itu setiap orang bersepeda atau berjalan kaki," ujar Ketua Umum Komite Sepeda Indonesia, Syahrul Effendi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KSI juga berusaha untuk memperjuangkan jalur sepeda yang membuat pengguna sepeda aman dan nyaman saat menaiki alat transportasi tanpa polusi tersebut. "Kita akan memperjuangkan hak bersepeda yang aman dan nyaman. Untuk DKI sendiri Gubernur sudah mempertimbangkan untuk mengkaji ulang adanya jalur khusus sepeda," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pagelaran KSI sendiri ternyata masuk dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kongres sepeda pertama dan terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia maupun di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita bangga karena sambutan yang sangat luas dari masyarakat bahkan kita masuk rekor dunia untuk Kongres Bersepeda," tambah pria yang saat ini masih menjabat sebagai Walikota Jakarta Selatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kongres yang dihadiri lebih dari 50 ribu orang tersebut, selain mengangkat Syahrul Effendi sebagai ketua umum, juga mengangkat Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menjadi Ketua Dewan Pembina Komite Sepeda Indonesia dan Pangdam Kodam 12 Tanjung Pura TNI Mayjen TNI Muldoko sebagai Ketua Dewan Penasihat. Sebelumnya, Katon Bagaskara didaulat menjadi Duta Sepeda Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya juga nanti harus membuat pengurus pusat dan pengurus di masing-masing wilayah di seluruh Indoesia sebagai bentuk organisasi yang solid dan besar," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KSI juga diwarnai konvoi 50 ribu sepeda. hasilnya, konvoi memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Selain itu acara ini juga mencatat rekor MURI untuk konvoi yang diikuti komunitas sepeda terbanyak. Ada 200 komunitas sepeda dari seluruh Indonesia yang mengikuti konvoi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang ambil formulir ada 50 ribu, datang dari seluruh Indonesia. Saya berharap tanggal 17 Juli bisa dijadikan hari bersepeda. Yang ikut dari Aceh sampe Merauke," ujar Syahrul Effendy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiri MURI, Jaya Suprana, pun menyerahkan piagam pemecahan rekor konvoi sepeda terbanyak pada Syahrul. Setelah itu, para penggowes pun langsung melaju dari Parkir Timur Senayan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutenya Jl Sudirman, Bunderan HI, Jl Thamrin, Jl Gajah Mada, hingga Kota Tua Jakarta. Pantauan detikcom berbagai jenis sepeda tampak dalam acara ini. Mulai sepeda onthel, fixie bike, sepeda lipat, low rider, mountain bike dan lainnya.(dtc)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-208158683982803519?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/208158683982803519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=208158683982803519' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/208158683982803519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/208158683982803519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/07/usung-hari-bersepeda-nasional.html' title='Usung Hari Bersepeda Nasional'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TENKm5YSrPI/AAAAAAAAATM/7mP4kf6Mp78/s72-c/sepeda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-3385898291497786348</id><published>2010-07-18T11:24:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T11:30:28.048-07:00</updated><title type='text'>Meneladani Kearifan Gus Dur via Kang Sobary</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TENHi18mgnI/AAAAAAAAATE/rowiw5mqTug/s1600/gus-dur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 184px; height: 250px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TENHi18mgnI/AAAAAAAAATE/rowiw5mqTug/s320/gus-dur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495314634244522610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PONTIANAK, TRIBUN - Lugas, ceplas-ceplos, dan penuh warna. Itulah refresentasi dari sikap Mohamad Sobary dalam bedah buku Jejak Guru Bangsa: Mewarisi Kearifan Gus Dur, di Pendopo Rumah Dinas Wakil Walikota Pontianak, Sabtu (17/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak menjual popularitas Gus Dur (KH Abdruahman Wahid. Red). Tapi, saya terpanggil menulis buku ini setelah ada begitu banyak buku tentang Gus Dur yang lahir dari penilaian penulisnya. Saya membayangkan berjalan di belakang Gus Dur. Mencatat apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Inilah "kitab" tentang Gus Dur menurut Gus Dur," papar Mohammad Sobary yang mengaku hanya butuh waktu sepekan untuk menyelesaikan bukunya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pria yang akrab disapa Kang Sobary juga memaparkan bagaimana Gus Dur memelihara humor untuk menandai kearifan hidup. "Gus Dur pernah berseloroh tentang penyakit matanya. Untung sakit, jadi tidak bisa melihat gambar-gambar porno," ujar Kang Sobary disambut riuh peserta bedah buku yang berasal dari berbagai etnis, organisasi, dan lintas agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobary juga memaparkan bagaimana Gus Dur sebagai remaja awal yang baru tumbuh. Kekecewaan terhadap kematian ayahnya, menjadikan Gus Dur si luka hati yang suka rebellious dan tidak perduli menabrak batas-batas yang wajar. Sebuah kenakalan yang justru membuat Gus Dur istimewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia menolak bersekolah karena hanya sekolah mengajarkannya tentang tata buku dan manajemen. Untuk apa belajar tatabuku. Toh, selama ini tanpa belajar manajemen pun pesantren mampu bertahan dalam usia ratusan tahun," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Gus Dur kemudian memilih bacaan lain yang lebih menyita perhatiannya. Ketika teman seusianya belajar tentang kitab, ia menyendiri di pojok ruangan. Ia menyimak buku-buku Karl Max tentang perjuangan kelas dan novel The Old Man and The Sea. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada yang menghampirinya. Man, kamu baca apa. Gus Dur menjawab, hadist. Kok hadist bahasa Inggris? Gus Dur menjawab singkat. Ini hadist Amerika," papar Sobary kembali memecah tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur lalu menjelaskan kepada rekannya yang bertanya itu, tentang pelajaran yang bisa dipetik dari novel yang dibacanya. Bahwa novel itu juga berisi tentang bagaimana Nelayan Tua menghargai pembantunya, menghormati tetangganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kesempatan lain, Gus Dur dari Krapyak, membawa buku-buku berbahasa Inggris karya Karl Max dan pemikiran-pemikiran kiri lainnya ke tempat Kiyai Khudori. Sang kiyai nyentrik ini sangat memahami Gus Dur. Ia menyiapkan rak agar buku-buku Gus Dur bisa tersimpan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, kepribadian dan sikap Gus Dur kemudian ikut terwarnai oleh Kiayai Khudori. "Kiyai Khudori adalah kiyai yang berani membela dan melindungi mereka yang dianggap sebagai PKI. Kepedulian terhadap kaum minoritas ini selanjutnya turut mewarnai Gus Dur," ujar Sobary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari sekian banyak nilai tentang Gus Dur, Sobary hanya menyebut dua sifat yang merupakan kata kunci untuk representasi Gus Dur. Kata itu adalah, ikhlas, berani, dan Adil. "Dalam tataran pribadi, Gus Dur itu tulus. Kalau pun ia menabrak norma, ia menabraknya dengan tulus," seloroh Kang Sobary disambut gelak tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani adalah kata kunci berikutnya. Sobary mencontohkan saat Arswendo ditangkap karena tulisannya di Majalah Monitor, Gus Dur tampil paling depan membela Arswendo. Saat itu tidak ada satupun yang berani melawan tirani Orde Baru. Saat itulah, orang kemudian baru tahu, kalau Gus Dur adalah aset bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia berani memperjuangkan apa yang diyakininya. Ia pembebas dari segenap keterbelengguan. Demokrasi terbelenggu. Media terbungkam. Minoritas tertindas. Gus Dur membebaskannya. Meski begitu, tidak perlu ada pengkultusan terhadap Gus Dur," papar Sobary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sepak terjangnya itu, Nahdlatul Ulama (NU) kemudian menjadi besar. Bahkan organisasi sebesar Muhamadiyah seperti tenggelam.  Dalam bukunya, Sobary memasukan beberapa dimensi penting. Di antaranya tentang pendidikan dalam arti luas, wawasan kebangsaan, kebudayaan dan toleransi keagamaan, perlindungan kaum minoritas, dan sikap dan idealisme politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Jejak Guru Bangsa: Mewarisi Kearifan Gus Dur, memiliki tebal 179 halaman,  diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI Jakarta, 2010. Buku bisa diperoleh di Toko Buku Gramedia. Bedah buku sendiri diselenggarakan Nahdatul Ulama (NU) PC Kubu Raya, Gerakan Pemuda (GP) Ansor PC Kota Pontianak dan Center for Research and Inter-religious Dialogue (CRID). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur CRID, Paulus Florus, menyebut kegiatan ini lahir dari diskusi ke diskusi yang digelar (CRID). "Nilai-nilai yang dikembangkan Gus Dur misalnya tentang demokrasi, perlindungan kaum minoritas, kami nilai menyentuh kondisi masyarakat Kalbar. Ke depan, kita akan terus sosialiasikan kearifan Gus Dur melalui dialog-dialog," kata Florus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalbar, Achmad Zaim, mengatakan dalam konteks Kalbar, pemikiran Gus Dur sangat relevan. Apalagi, kita baru saja menggelar Pilkada di beberapa kabupaten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengajarkan etika dalam politik. Siap menerima kekalahan jika kemenangan yang diraih tidak melanggar aturan. Kalau melanggar proses hukum, Tapi, tanpa hasutan, saling benci, dan beritikad baik saling menghargai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik demokratisasi kemudian melahirkan pergeseran. Semua orang memiliki kesempatan sama, termasuk kaum minoritas. Merupakan sunatullah kita diciptakan berbeda. Etnis, agama, dan golongan. "Kalbar yang rawan konflik mestinya mengadopsi warisan Gus Dur, tulus, adil, berani, dan ikhlas," ujar Achmad Zaim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Tokoh Tionghoa Kalbar, XF Asali, mengenal Gus Dur sebagai sosok yang lahir melebihi zamannya. Oleh karena itu pemikirannya kadang tidak bisa diterima orang banyak dan menjadi kontroversi. Ia sering melawan arus dan mendobrak norma kewajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia membela kaum minoritas dan membebaskan segala yang terbelenggu. Ia muncul dan mengaku ke publik memiliki garis keturunan Tionghoa bermarga Tan ketika warga Tionghoa sendiri malu mengakui identitasnya sebagai Tionghoa," ujarnya. (hsm)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-3385898291497786348?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/3385898291497786348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=3385898291497786348' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3385898291497786348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3385898291497786348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/07/meneladani-kearifan-gus-dur-via-kang.html' title='Meneladani Kearifan Gus Dur via Kang Sobary'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TENHi18mgnI/AAAAAAAAATE/rowiw5mqTug/s72-c/gus-dur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-7188198861213452113</id><published>2010-06-24T05:44:00.000-07:00</published><updated>2010-06-24T05:45:22.854-07:00</updated><title type='text'>Nasgor, Nasgor!</title><content type='html'>&lt;p class="mobile-photo"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TCNTYvVK8WI/AAAAAAAAAS8/ej1dNa_eY-M/s1600/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0NjctMjAxMDA2MjQtMTkxNy5qcGc%3D%3F%3D-722856"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TCNTYvVK8WI/AAAAAAAAAS8/ej1dNa_eY-M/s320/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0NjctMjAxMDA2MjQtMTkxNy5qcGc%3D%3F%3D-722856"  border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486320455554625890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Si Engkong nyeng lagi makan malam menu nasgor di warung sebelah. Tapi gading ayam eh daging ayam suir-suir kaga diembat, cuman nemplok aje di pinggir piring. Nah, ntu di layar lebar lagi ada siaran bola. Tauk tuh bola pa&amp;#39;an! Wakakakaka.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;#187;&amp;#187;&amp;#187;endi_the-djenggoet&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sent from my BlackBerry&amp;#174;&lt;br&gt;powered by Sinyal Kuat INDOSAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-7188198861213452113?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/7188198861213452113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=7188198861213452113' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7188198861213452113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7188198861213452113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/06/nasgor-nasgor.html' title='Nasgor, Nasgor!'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TCNTYvVK8WI/AAAAAAAAAS8/ej1dNa_eY-M/s72-c/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0NjctMjAxMDA2MjQtMTkxNy5qcGc%3D%3F%3D-722856' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-2434234954457834070</id><published>2010-06-18T11:57:00.000-07:00</published><updated>2010-06-18T11:59:09.411-07:00</updated><title type='text'>Udah Sepok, Pamer Loe</title><content type='html'>&lt;p class="mobile-photo"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TBvB_ZmZVcI/AAAAAAAAAS0/NWgC2Zv3y0Q/s1600/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0NDUtMjAxMDA2MTktMDE1My5qcGc%3D%3F%3D-749413"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TBvB_ZmZVcI/AAAAAAAAAS0/NWgC2Zv3y0Q/s320/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0NDUtMjAxMDA2MTktMDE1My5qcGc%3D%3F%3D-749413"  border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484190266201560514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Nih diye, dah lah sepok, eh suka pamer pula wak satu ni? Hehe, ntu ke namanye hape canggik belek beri, wak? Pinjam la kamek ni, biar bisa posting sambel nangkring beee, wakakakaka!&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;#187;&amp;#187;&amp;#187;endi_the-djenggoet&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sent from my BlackBerry&amp;#174;&lt;br&gt;powered by Sinyal Kuat INDOSAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-2434234954457834070?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/2434234954457834070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=2434234954457834070' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2434234954457834070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2434234954457834070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/06/udah-sepok-pamer-loe.html' title='Udah Sepok, Pamer Loe'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/TBvB_ZmZVcI/AAAAAAAAAS0/NWgC2Zv3y0Q/s72-c/%3D%3Futf-8%3FB%3FSU1HMDA0NDUtMjAxMDA2MTktMDE1My5qcGc%3D%3F%3D-749413' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-8800614855589039846</id><published>2010-06-18T11:51:00.000-07:00</published><updated>2010-06-18T11:50:43.330-07:00</updated><title type='text'>Maksimalkan headshet</title><content type='html'>Gua diajarin teman memaksimalkan headset. Rupanya bisa juga untuk upload ke blog. Wah makin seneng karena bisa updating tiap saat. So banyak banget untungnya punya headshet canggih. Manstap...pertamax Gan!&lt;br&gt;Sent from my BlackBerry&amp;#174;&lt;br&gt;powered by Sinyal Kuat INDOSAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-8800614855589039846?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/8800614855589039846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=8800614855589039846' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8800614855589039846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8800614855589039846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/06/maksimalkan-headshet.html' title='Maksimalkan headshet'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-2856340929765735190</id><published>2010-04-02T09:46:00.000-07:00</published><updated>2010-04-02T09:55:05.772-07:00</updated><title type='text'>Mbah Lanang dan Sejarah Becak Siantar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7YhZJ1lLvI/AAAAAAAAASs/J-pr-2RKx9M/s1600/becak-siantar1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 144px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7YhZJ1lLvI/AAAAAAAAASs/J-pr-2RKx9M/s320/becak-siantar1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455584714627034866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rambut dan kumisnya berwarna putih semua. Jalannya pun harus dibantu dengan tongkat. Namun, jika bicara semangat, dia tak kalah dengan biker mana pun. Namanya Kartiman, tetapi semua biker di Pematang Siantar mengenalnya sebagai Mbah Lanang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin mencari tahu sejarah becak siantar, becak bermesin sepeda motor BSA buatan Inggris tahun 1941-1956, Mbah Lanang adalah orang yang paling tepat untuk menceritakannya. Memang masih ada pionir becak Siantar yang masih hidup, seperti Muhammad Rohim (67). Ada juga Tikno dan Mbah Sari. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengusai seluk-beluk mesin motor Birmingham Small Arms (BSA) produksi The Birmingham Small Arms Company. Merekalah orang pertama yang kreatif menjadikan sepeda motor tua peninggalan Perang Dunia II itu sebagai becak di Pematang Siantar, Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, di tangan Mbah Lanang, catatan sejarah hingga foto-foto dokumentasi berbagai jenis serta modifikasi becak Siantar disimpan. Ia membuat catatan sederhana tentang perjalanan becak Siantar dari waktu ke waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mencatat beberapa bagian dari spare part atau suku cadang motor BSA yang sudah bisa buat sendiri oleh bengkel-bengkel dari industri rumahan di Pematang Siantar. Becak Siantar bisa sebanyak ini, sekarang tinggal sekitar 850 unit dan pernah mencapai 2.000 unit, dengan mayoritas BSA sebagai penariknya, adalah jasa orang-orang seperti Mbah Lanang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski beberapa di antara motor BSA merupakan peninggalan pasukan sekutu, terutama dari Inggris saat mereka di Pematang Siantar, dan juga bekas milik pengusaha perkebunan dari Eropa, jumlahnya paling banyak hanya 200 unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar BSA justru didatangkan dari luar Kota Pematang Siantar oleh orang seperti Mbah Lanang. Kini, mengisi sisa hari-hari tuanya, Mbah Lanang didapuk sebagai sesepuh sekaligus Penasihat BSA Owner Motocycles Siantar (BOM'S), organisasi yang mewadahi ratusan pengemudi becak Siantar dan puluhan penggemar BSA di kota yang terletak 45 kilometer dari Danau Toba ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap siang hingga sore menjelang senja, Mbah Lanang biasa berkumpul dengan bikers muda maupun pengemudi becak di Sekretariat BOM'S, Jalan Kartini, Pematang Siantar. Kakek 12 cucu ini dulunya hanya penjaga tempat penitipan sepeda di Pasar Horas, Pematang Siantar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahun 1962, saya kerja di tempat penitipan sepeda di Pajak Horas. Kerjanya menjaga agar jangan sampai ada sepeda yang masuk ke dalam pajak (pasar). Setiap pulang saya selalu naik becak dan minta ke penariknya agar saya yang bawa becaknya," kenang Mbah Lanang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kebiasaan itu, Mbah Lanang mulai belajar seluk-beluk motor BSA. Tak lama setelah menikahi Atom Saragih pada 1963, ia membeli sendiri becak Siantar. Saat itu, harga becak Siantar bermesin BSA tipe ZB31 (350 cc) hanya Rp 220 ribu. "Kalau disesuaikan dengan emas, harga sebesar itu sama dengan harga emas 12 mayam," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru satu tahun dibeli, becak tersebut kemudian dijualnya. Namun, Mbah Lanang tetap menarik becak. Hanya, kali ini dia menarik becak punya orang lain. "Dalam waktu dua tahun saya sudah bisa beli becak sendiri lagi," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman jual-beli becak kemudian membawa Mbah Lanang pada profesi baru sebagai penjual becak Siantar. Apalagi saat itu jual beli becak Siantar tengah booming. Pekerjaan sebagai pengemudi becak Siantar masih sangat menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal pengalamannya itu, dia berani mencari motor BSA hingga ke seluruh pelosok Sumut. "Mulainya di Pematang Siantar, setelah enggak ada lagi, saya mulai cari ke kota-kota lain di Sumatera Utara. Setelah di Sumatera Utara enggak ada lagi, saya cari hingga ke provinsi lain, tetapi masih di Sumatera. Baru setelah di Sumatera sudah kehabisan, saya mencari di Pulau Jawa," tutur kakaek kelahiran Pematang Siantar, 1 Februari 1941, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1980-an, Mbah Lanang mulai mencari motor BSA hingga ke pelosok kota-kota di Pulau Jawa dan Bali. "Saya datangi kota di Jawa, mulai dari Ngawi, Kediri, Surabaya, malah sampai ke Bali. Sekali berangkat paling banyak saya dapat tiga unit dan langsung dibawa ke Pematang Siantar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mbah Lanang, di kota-kota Pulau Jawa waktu itu dia sering menemukan kondisi motor BSA teronggok begitu saja tanpa perawatan. "Banyak yang diletakkan di kandang ayam dan tak terurus," ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan transportasi darat naik bus Antarlintas Sumatera (ALS), motor BSA itu dipereteli sebelum dibawa ke Pematang Siantar. Selain jalur darat, terkadang Mbah Lanang mengangkutnya melalui jalur laut dengan KM Tampomas, yang telah tenggelam di perairan Masalembo pada 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan jual-beli sepeda motor BSA dilakukan Mbah Lanang hingga era 1990-an. Dia pun tetap setia menarik becak saat tak sedang mencari motor BSA untuk dibeli. Ketika jumlah motor BSA yang dijadikan becak di Pematang Siantar mencapai puncaknya, sampai ada 2.000 unit, terjadilah titik balik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini justru banyak orang luar yang meminati sepeda motor BSA yang telah dijadikan becak di Pematang Siantar. "Kolektor sepeda motor tua membelinya dengan harga Rp 10 juta hingga Rp 17 juta. Saat jumlah BSA mulai berkurang, baru orang sadar kalau dibiarkan terus bisa tidak ada lagi yang tersisa di Pematang Siantar," ujar ayah empat anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, bersama para pengemudi becak Siantar dan bikers yang tergabung dalam BOM'S, Mbah Lanang gigih mengampanyekan kelestarian becak Siantar. Dia pun berada paling depan saat Pemerintah Kota Pematang Siantar dan DPRD setempat merancang perda peremajaan becak motor pada 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perda tersebut, memungkinkan sepeda motor baru buatan Jepang atau China menjadi penarik becak di Pematang Siantar. Sesuatu yang selama ini eksklusif untuk sepeda motor tua, seperti BSA. “Padahal, di dunia ini, sepeda motor merek BSA yang masih tegar menjelajah jalanan hanya ada di Siantar. Biarlah, kalaupun becak siantar ini harus mati, matilah dengan alami. Bukan punah karena perda," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadur dari http://www.boms-bikers.com &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-2856340929765735190?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/2856340929765735190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=2856340929765735190' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2856340929765735190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2856340929765735190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/04/mbah-lanang-dan-sejarah-becak-siantar.html' title='Mbah Lanang dan Sejarah Becak Siantar'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7YhZJ1lLvI/AAAAAAAAASs/J-pr-2RKx9M/s72-c/becak-siantar1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-6274387488401617239</id><published>2010-04-01T11:21:00.000-07:00</published><updated>2010-04-01T11:35:23.629-07:00</updated><title type='text'>Fauzi: Ini Surprise bagi Saya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7TnZYph4pI/AAAAAAAAASk/WRTAczmTQO0/s1600/fauzi4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 100px; height: 140px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7TnZYph4pI/AAAAAAAAASk/WRTAczmTQO0/s320/fauzi4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455239471951897234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Tribun Kembalikan "Amplop" ke PLN Pontianak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Cabang PLN Pontianak, Fauzi Arubusman, terkejut ketika rombongan Tribun Pontianak, Selasa (30/3), mengembalikan amplop berisi uang Rp 1 juta. Amlop itu sebelumnya diberikan kepada seorang wartawan Tribun yang menghadiri kegiatan PLN, pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"INI menjadi surprise bagi saya. Sebelumnya di tempat lain tidak pernah ditolak. Kami memberikan dana tersebut sebagai bentuk profesionalitas kepada seorang pembicara yang membagikan ilmunya kepada kami. Tidak ada maksud lain," kata Fauzi saat ditemui rombongan Tribun di ruang kerjanya sekitar pukul 14.30 WIB. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kisah amplop berisi uang Rp 1 juta tersebut berawal dari rapat kerja yang melibatkan beberapa pimpinan PLN ranting, Kamis (25/3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tribun diundang hadir dalam acara tersebut sebagai satu di antara pembicara, untuk membahas peran dan fungsi media massa sebagai jembatan antara rakyat dengan PLN. Saat itu, Tribun diwakili Manajer Produksi Hasyim Ashari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fauzi menuturkan, PLN sengaja mengundang Tribun dalam kegiatan tersebut untuk memberikan pandangan bagaimana sebaiknya menjalin hubungan dengan media massa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terkadang yang muncul bad news (berita buruk), dan ketika wartawan datang pasti langsung terpikir kami akan menghadapi masalah," ujar Fauzi tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski seusai acara rapat kerja tersebut Fauzi telah mendapat penjelasan tentang larangan menerima imbalan dalam bentuk apapun bagi wartawan Tribun, ia semula tak percara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atas dasar prinsip penghargaan, kami tetap memberikan dana tersebut," lanjut Fauzi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi Albert GJ Joko yang memimpin rombongan Tribun menjelaskan kepada Fauzi bahwa Tribun Pontianak harus melaksanakan amanat profesi, sebagai koran dari Kompas Gramedia, yang melarang wartawan menerima imbalan dalam berbagai bentuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mohon maaf sebelumnya. Kami sebagai jurnalis juga perlu uang tentunya. Tetapi, sudah menjadi komitmen Kompas Gramedia, untuk tidak menerima semua bentuk imbalan, selain yang diberikan perusahaan kepada karyawannya," ujar Albert. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aturan Kompas Gramedia, hanya dalam keadaan tertentu wartawan diperbolehkan menerima imbalan yang diberikan. Itu pun dengan pertimbangan kemanusiaan, misalnya menjaga perasaan sang sumber jika ditolak di hadapan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika itu terjadi, maka si wartawan harus melaporkan ke pimpinan di kantor pada kesempatan pertama mengenai apa yang terjadi, dan membuat berita acara mengenai penerimaan uang tersebut, serta melampirkan "barang bukti" yang ia terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbalan tersebut kemudian akan dikembalikan kepada si pemberi disertai surat berisi ucapan terimakasih atas penghargaan yang diberikan, namun sebaiknya pada kesempatan berikut tidak memberikan imbalan dalam bentuk apapun kepada wartawan Tribun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albert menceritakan, selain uang, ada juga sumber yang memberikan imbalan berupa barang.  Awalnya, ada masyarakat menghubungi Tribun, dan menyampaikan keberatan terhadap kebijakan jalan satu arah di sekitar toko miliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak diberlakukan kebijakan jalan satu arah di kawasan tersebut, toko jadi sepi pengunjung. Setelah Tribun beritakan, jalan tersebut kembali mejadi jalur dua arah, dan toko kembali ramai pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dikirimlah paket ke kantor kami, ditujukan kepada wartawan sebagai bentuk terima kasih atas pemberitaan tersebut. Barangnya berupa kacamata. Ya, harus dikembalikan, padahal kacamatanya mahal dan bagus," jelas Albert dilanjutkan tawa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godaan untuk menerima imbalan memang berat. Diakui, ada wartawan Tribun yang dikeluarkan karena terbukti menerima imbalan dari sumber. Imbalan Rp 1 juta atau Rp 10 ribu jika diterima memiliki konsekuensi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya berharap prinsip ini tidak menjadi masalah dalam hubungan antara PLN dan Tribun Pontianak. Tanggung jawab sebagai jurnalis, pertama kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemudian kepada masyarakat, dan negara," ujar Albert.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan yang disampaikan, Fauzi menyatakan bisa memahami dan menghormati prinsip Tribun Pontianak. Tapi, karena sudah dianggarkan dan dikeluarkan dana, maka secara administrasi sudah tercatat sebagai pengeluaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah dana tersebut akan disumbangkan ke masjid?" tanyanya. Usul itu langsung disetujui Albert, supaya manfaatnya dirasakan orang banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas suara azan penanda waktu ashar dikumandangkan muazzin, staf Sekretariat Redaksi Tribun Pontianak, Dewi Handayani, menyerahkan kembali amplop berisi uang Rp 1 juta kepada Fauzi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lain kali kalau kami mengundang, tidak dianggarkan lagi, ya," ucap Fauzi disambut tawa rombongan Tribun Pontianak. (dian lestari)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-6274387488401617239?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/6274387488401617239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=6274387488401617239' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6274387488401617239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6274387488401617239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/04/fauzi-ini-surprise-bagi-saya.html' title='Fauzi: Ini Surprise bagi Saya'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7TnZYph4pI/AAAAAAAAASk/WRTAczmTQO0/s72-c/fauzi4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-3182333194048733700</id><published>2010-04-01T00:07:00.000-07:00</published><updated>2010-04-01T08:33:00.801-07:00</updated><title type='text'>Pertemuan setelah 14 Tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7RHgMHRTlI/AAAAAAAAAR8/qJgt-JwMlEc/s1600/robby.1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 176px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7RHgMHRTlI/AAAAAAAAAR8/qJgt-JwMlEc/s320/robby.1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455063666985619026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rabu (24/3), sekitar pukul 11.00 WIB, handphone-ku berbunyi, pertanda ada pesan singkat masuk. "Ass.wr.wb. Syim, ane udah di Pontianak. Robby," begitu isinya. Aku terperanjat. Bujug busyet, si Robby! ya siapa lagi kalo bukan Robby J Prihana, Ketua OSIS SMAN 2 Bekasi era 1992-1993. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ke Pontianak karena ada urusan dinas menyiapkan kedatangan Wapres Boediono dan sekitar delapan menteri ke Kalbar. Rombongan berada di Pontianak, untuk meresmikan dan memberikan bantuan sejumlah proyek pembangunan pada 26-27 Maret.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika Robby menjabat Ketua OSIS, aku adalah Sekretaris OSIS. Namun, ketika di Pramuka, Aku Pradana (Ketua), Robby adalah sekretarisku. Saat acara-acara OSIS, biasanya Robby minta aku membawakan map. Sebaliknya, giliran Robby yang kuminta membawakan map ketika ada kegiatan pramuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun terakhir, aku baru tahu kalau Robby ternyata bekerja di Sekretariat Wakil Presiden. Urusan protokoler menjadi satu di antara tugas yang melekat dalam pekerjaannya. Termasuk ketika Wapres masih dijabat Sang Maestro Jusuf Kalla (JK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2008, ketika JK ke Pontianak, rupanya Robby juga mencariku di Universitas Tanjungpura. Dari seorang teman lama (Deddy Wibowo alias Komar alias Pablo), ia mendapat informasi kalau aku dosen di almamater ku itu. Ha ha ha ha....tampang begini jadi dosen, kagak dah! Saat itu, Robby kehilangan nomer kontak karena aku ganti nomor ponsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kami tidak bertemu. Padahal, satu di antara proyek yang diresmikan JK saat itu adalah Gedung Graha Pena, kantorku yang lama. Lebih lucu lagi, karena saat itu, aku juga menyantap hidangan Paspampres, setelah keliru mengambil jatah makan siang di Hotel Grand Mahkota. Kebetulan Kompas Gramedia, tempat kerjaku yang baru, sedang menggelar kegiatan Journey to Exellence di hotel yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, facebook mempertemukan kami. Meski tidak terlalu intensif balas membalas status, namun kami tahu nomor masing-masing dari laman persahabatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, aku tahu Wapres Boediono bakal ke Pontianak drai rekan-rekan redaksi Tribun Pontianak. Namun, tidak menyangka kalau Robby ikut juga. Jadi, Rabu itu, meski ingin sekali bertemu, aku tidak bisa segera bertemu Robby. Pekerjaan di kantor benar-benar tidak bisa ditinggalin. Sementara Robby juga sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Mulai protokoler acara, hingga survei lokasi yang akan didatangi Boediono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, aku sudah tidak sabar ingin mendengar dan berbagai kisah dengannya. Mungkin lebih tepat melepas kangen. Kami berpisah setelah lulus pada 1996 dan tidak pernah bertemu lagi setelah itu. Aku harus merantau ke Pontianak karena lulus UMPTN di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura. Robby, aku tidak tahu ada di mana. Belakangan dia cerita, kuliah di FISIP Universitas Padjajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang kami sepakati akhirnya datang. Waktuku cukup luang, dan Robby punya kesempatan di sela-sela jadwal kunjungan yang padat. Aku menjemputnya di lobi Hotel Kapuas Dharma, karena memang ia dan rombongan menginap di sana. Setibanya di lobi, aku menelponnya untuk segera turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kepala ku muncul berbagai pertanyaan. Apakah Robby yang akan kutemui ini adalah Robby yang ku kenal dulu? atau dia sudah berubah. Sambil menunggunya, aku berbincang-bincang dengan beberapa relasi dari Kabupaten Kubu Raya. Mereka adalah sarjana pelopor untuk program PNPM Mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, sosok yang kutunggu muncul dengan senyum khasnya. "Wah tambah buncit neh," kata Robby melempar senyum. Aku membalasnya dengan ujaran serupa. "Eloe juga Bay (aku dan teman-teman di SMA memanggilnya Obay). Tambah gemuk,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengajaknya ke sebuah sudut kota, tepatnya di Jl Gajahmada Pontianak. Di sana memang terkenal dengan jajanan pinggir jalan. Ada begitu banyak warung kopi tempat nongkrong. Dari mulai pelajar, pejabat, pengangguran hingga para pewarta. Kami memilih kursi tepat di depan Hotel Orchardz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mencicipi kopi Pontianak, Robby bercerita tentang pahit, manis, dan getirnya perjalanan hidup yang ia lalui. Sebuah cerita yang ternyata tidak jauh berbeda dengan yang kualami. Jujur, aku terkejut dengan semua penuturannya. Robby juga begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bicara ngalor ngidul. Dari kisah di SMA, bagaimana susahnya kuliah, pekerjaan, hingga urusan keluarga. Aku dan Robby sama-sama terkejut karena perjalanan hidup selama 14 tahun, nyaris sama. Kami pun mengambil hikmah masing-masing untuk menjadikan kualitas hidup ini jadi lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendapat energi baru dari sosok Robby yang baru saja kutemui. Ia jauh lebih dewasa, lebih bijak, lebih kebapakkan, lebih religius, dan pribadi yang begitu menikmati hidup. Di luar itu, ia tetap sosok Robby yang ku kenal 14 tahun lalu. Robby yang tidak kehilangan selera humor dan rendah hati. Robby yang idealis karena memang dibesarkan oleh kemapanan organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robby kembali ke Jakarta, Sabtu (27/4). Sampai kami berpisah, kami masih tidak percaya bahwa bisa bertemu dan bertatap muka setelah sekian lama tidak bertemu. Dari sana, kami yakin kesempatan untuk bertemu teman-teman lainnya, pasti mimpi yang bisa jadi kenyataan. Terimakasih Tuhan!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-3182333194048733700?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/3182333194048733700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=3182333194048733700' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3182333194048733700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3182333194048733700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/04/pertemuan-setelah-14-tahun.html' title='Pertemuan setelah 14 Tahun'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7RHgMHRTlI/AAAAAAAAAR8/qJgt-JwMlEc/s72-c/robby.1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-8792022000273635638</id><published>2010-03-29T01:38:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T23:53:24.677-07:00</updated><title type='text'>Menggugat Mandat KOSTI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7B9jMBs4UI/AAAAAAAAAR0/cbJeSOGi5KE/s1600/logo-kosti22.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 154px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7B9jMBs4UI/AAAAAAAAAR0/cbJeSOGi5KE/s320/logo-kosti22.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453997192222925122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Hasyim Ashari S.SOs&lt;br /&gt;Wakil Ketua SEPOK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelantikan pengurus Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Kalbar, Sabtu (27/3), berjalan lancar. Namun, pelantikan tersebut masih menyisakan tandatanya. Terutama di kalangan pengurus dan naggota Sepeda Onte Kalimantan Barat (SEPOK). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, SEPOK lahir dengan dasar kecintaan anggotanya kepada sepeda tua. Kami juga sepakat meletakkan dasar organisasi ini jauh dari kepentingan apapun. Meski harus diakui, anggota dan pengurus SEPOK datang dari berbagai kalangan. Namun, semangatnya tetap satu, melestarikan sepeda tua dan menjadikannya bagian dari gaya hidup sehat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Anggota dan pengurus SEPOK tidak pernah haus dari kekuasaan apapun. Apalagi organisasi ini merupakan organisasi nirlaba. Kerja keras membangun SEPOK saja, sudah cukup untuk membuktikan bahwa kami memang mencintai organisasi ini. Kecintaan itu, kami tuangkan dalam berbagai bentuk aktivitas nyata dan positif. Hingga pada sampailah pada titik, kami memang pioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca KOSTI berdiri, SEPOK ikut menjadi saksi. Meski kami hanya bisa melihatnya dengan haru dari bawah Garis Equator. Saat itu, kami bertekad KOSTI Kalbar harus terbentuk. Namun, saat itu pula, organisasi sepeda tua di Kalbar, hanya ada dua. Pertama SEPOK yang ada di Pontianak, yang kedua adalah KESATRIA dari Kabupaten Kubu Raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun menunggu waktu yang tepat untuk mendirikan KOSTI Kalbar. Pertimbangannya adalah, KOSTI, kami anggap organisasi yang harus memiliki kewibawaan di mata anggotanya. Itu artinya, unsur keterwakilan menjadi harga mati. Semua pengurus sepeda tua di Kalbar, tidak boleh jadi penonton. Mereka harus jadi aktor yang membidani kelahiran KOSTI di tanah Borneo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, rencananya pengurus SEPOK akan mencoba untuk mendirikan KOSTI Kalbar. Sebab belakangan sudah muncul organisasi serupa. Sebut saja, SEWOD yang hanya dalam lingkup satu gang, yaitu Gg Wonodadi di Kabupaten Kubu Raya, Lereng Sintang di Kabupaten Sintang, Sepeda Ontel Anak Galaherang di Kabupaten Pontianak, Pangsuma di Kabupaten Sanggau, Kropos di Singkawang, juga di Kabupaten Ketapang. Terakhir, muncul organisasi sepeda tua di Pontianak meski anggotanya hanya berada dalam satu kecamatan, bahkan hanya beranggotakan beberapa orang dalam satu gang saja. It's Ok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun berpikir, mungkin sudah saatnya membentuk KOSTI Kalbar. Mengingat, pasca sepok berdiri, ternyata turut memotivasi organisasi serupa di berbagai kabupaten dan kota di Kalbar. Namun, pengurus SEPOK tetap berpegang pada keinginan semula. KOSTI Kalbar, harus lahir dan dibidani seluruh organisasi sepeda tua yang ada di Kalbar. Ideal? KOSTI memang harus ideal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu memang butuh waktu. Sebab tidak mudah mengumpulkan mereka semua duduk dalam satu forum bersama. Namun, sejak tahun lalu, intensitas komunikasi dengan pengurus di berbagai daerah itu sudah terjalin baik. Tinggal menunggu waktu yang tepat. Bukan terjebak oleh kesempurnaan, namun kami menyakini mengumpulkan mereka bukan hal yang mustahil. Untuk itulah, SEPOK tidak ingin tergesa-gesa membentuk KOSTI Kalbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa daya. Rencana tinggal rencana. Di tengah upaya mematangkan pembentukan KOSTI Kalbar itu, muncul keinginan beberapa orang, yang ingin menggesa pembentukan KOSTI Kalbar. Tentu kami menyambut baik, siapapun mereka. Toh, mereka juga masih aktif tercatat sebagai anggota SEPOK. Sebab keinginan kita memang sama, membentuk KOSTI Kalbar. Dan sudah tentu juga, sejatinya keinginan itu tetap berada dalam koridor yang benar. Bukan grasak-grusuk, sebab ada aturan yang mengikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurus SEPOK sudah mengingatkan untuk menunda pembentukan KOSTI Kalbar, kepada beberapa orang yang ingin segera mewujudkan KOSTI Kalbar. Namun, keberatan yang diajukan dinilai hanya sebagai sentimen pribadi. Padahal, Ketua SEPOK, Jayus Agustono, melayangkan surat keberatan dalam kapasitasnya sebagai ketua organisasi dengan anggota sekitar 200 orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberatan juga datang dari Kabupaten Ketapang dan Sanggau. Namun, sekali lagi apa daya. Mimpi untuk menjadikan KOSTI Kalbar sebagai organisasi ideal, tinggal cerita. Komunikasi yang terjalin antara Pengurus Pusat KOSTI, dalam hal ini Sekjen Kosti Fahmi Saimima, bukan lagi dalam ranah organisasi dengan organisasi. Sebab, kalau itu yang terjadi tentu komunikasinya adalah dengan Ketua SEPOK, Jayus Agustono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sudah bisa ditebak, Pengurus Pusat KOSTI tetap menerbitkan surat mandat. Mandat yang tertuang dalam SK Nomor 011/PP-KOSTI/1/01/01/2010 itu menunjuk Laisah Maranatha, yang juga anggota SEPOK, sebagai pelaksana mandat. Pengurus SEPOK sekali lagi, tidak pernah memperkarakan siapapun yang menerima mandat, sepanjang memang prosedural. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, PP KOSTI menyebut secara administrasi permohonan yang diajukan Laisah dkk sudah cukup. Namun pernahkan PP KOSTI mengkonfontir langsung bagaimana lahirnya persyaratan administrasi yang dinilai cukup itu? Di sinilah kepekaan PP KOSTI turut digugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, katakan saja pengurus SEPOK kalah cepat satu langkah hanya karena menunggu moment terbaik membentuk KOSTI Kalbar. Mari masuk ke SK mandat. Dalam SK mandat itu, pelaksana mandat diminta secepatnya untuk menggelar pra-musyawarah daerah (Musda). Asumsinya, merekalah yang menjadi tim formatur untuk musyawarah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang terjadi adalah musda tidak pernah digelar. Organisasi-organisasi sepeda tua di Kalbar juga tidak pernah diajak bertemu. Pengurus SEPOK yang diundang, sudah menyatakan keberatan dan meminta agar lebih bersabar agar KOSTI Kalbar tidak lahir prematur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan itu kemudian dijawab dengan terbentuknya pengurus KOSTI Kalbar 2010-2013. Luar biasa, KOSTI Pusat yang kami nilai muncul ke dunia karena perjuangan, keringat, dan darah melalui kongres, tapi sebaliknya di daerah. Tidak perlu keringat dan darah. Tidak perlu mengakomodir aspirasi dari bawah. Hanya perlu pendapat beberapa orang saja. Cukup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya, KOSTI Kalbar hanya terbentuk dalam tempo empat hari. Disusun hanya berdasarkan rapat biasa, bukan lahir melalui musda, yang selama ini, digadang-gadang sebagai wadah tumbunya demokratisasi di tubuh KOSTI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa gunanya perintah SK PP KOSTI kepada penerima mandat untuk segera menggelar musyawarah daerah? Toh, tidak menggelar musda pun KOSTI Kalbar tetap bisa terbentuk. Atau pengurus SEPOK yang memang salah mengartikan surat mandat PP KOSTI kepada penerima mandat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, selamat! itulah senjata paling efektif mematikan demokratisasi di negeri ini. Ketika aspirasi tidak didengar, ketika petinggi mencekoki akar rumput dengan produk keputusan yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana keputusan itu dilahirkan. Inilah, penjajahan paling nyata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah, nilai-nilai luhur yang ingin ditumbuhkembangkan dalam tubuh KOSTI? Inikah konsekuensi yang harus kami tanggung setelah sekian lama mengagungkan KOSTI sebagai organisasi tertinggi sepeda tua di negeri ini? atau memang inikah pelajaran yang kami harus teladani di daerah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu untuk apa juga AD/ART KOSTI dibuat dan disebarkan ke organisasi sepeda tua lainnya di tanah air. Apakah hanya untuk sekadar disimpan di ruang sekretariat, bahkan mungkin menjelma sampah yang tidak berarti apa-apa. Sementara AD/ART harusnya menjadi sumber hukum dalam setiap gerak organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, sekali lagi, setelah gagal mengartikan SK mandat PP KOSTI, kini giliran pengurus SEPOK yang gagal menterjemahkan isi BAB VI Aturan Peralihan pasal 19 Anggaran Dasar KOSTI. Bahwa, untuk pertama kalinya pengurus pusat dibentuk oleh deklarator, pengurus provinsi dibentuk oleh koordinator wilayah, dan koordinator wilayah dibentuk oleh klub/komunitas dalam satu daerah kabupaten/kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari, jadikan moment terbentuknya KOSTI Kalbar untuk instrospeksi organisasi di tingkat klub dan KOSTI sendiri! Buat pengurus SEPOK yang hendak melayangkan Mosi Tidak Percaya, berdoa sajalah agar PP KOSTI masih punya mata, hati, dan telinga. Atau, bersiap-siap sejak dini sebelum kembali menelan pil pahit. Wassalam!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-8792022000273635638?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/8792022000273635638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=8792022000273635638' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8792022000273635638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8792022000273635638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/03/menggugat-mandat-kosti.html' title='Menggugat Mandat KOSTI'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S7B9jMBs4UI/AAAAAAAAAR0/cbJeSOGi5KE/s72-c/logo-kosti22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-5046624462565530577</id><published>2010-02-11T09:56:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T10:02:36.935-08:00</updated><title type='text'>Akhirnya Pontianak Punya Car Free Day</title><content type='html'>PONTIANAK, TRIBUN - Suasana lain dari biasanya terlihat di ruas Jl MT Haryono, Kota Pontianak, Minggu (7/2). Di tempat itu, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, meluncurkan kegiatan Car Free Day atau hari bebas kendaraan bermotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Komunitas Pekerja Bersepeda atau Bike to Work (B2W) Kalbar, Chairil Effendi, menyambut baik event tersebut. Itu sebabnya, kebiasaan bersepeda akan digalakkan kembali, karena selain membuat sehat juga menjadikan lingkungan bersih. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Bersepeda mengedepankan naturalitas, udara lebih bersih dan nyaman. Badan jadi sehat. Selain itu, mengajarkan masyarakat untuk berbagi tempat di jalan bagi pengguna sepeda," ujar Chairil yang juga Rektor Unibersitas Tanjungpura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, mengatakan, event ini tak sekadar berhenti di peluncurannya saja. Ia bertekad setiap pekan selalu digelar momen serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah, ini akan diadakan tiap Minggu. Acara yang lebih besar minimal sebulan sekali, dengan menggandeng BUMN dan perusahaan swasta," ujar Sutarmidji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dia, Car Free Day tak hanya bebas dari asap kendaraan, tapi juga bebas asap rokok. Karena itu, pengukuhan area bebas asap rokok akan dikuatkan dengan Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Area Water Front City dari Alun-alun Kapuas sampai kawasan Pasar Kapuas akan ditata supaya enak untuk olahraga jalan kaki. Mudah-mudahan dalam dua tahun ke depan, sudah terwujud," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedianya, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alifian Mallarangeng akan hadir pada kegiatan itu. Namun, karena harus mendampingi Presiden SBY ke Lampung, Andi urung hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi "mengutus" istrinya, Vitri Cahyaningsih Mallarangeng, untuk ke Pontianak. Tak hanya itu, ibunda Andi pun, Andi Asni Mallarangeng, turut serta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lingkungan Kementerian Olahraga, hadir Sekretaris Menteri Wahid Muharram. Wahid mengatakan, Menpora tetap berusaha berangkat ke Pontianak usai acara di Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitri Cahyaningsih mengatakan, Kota Pontianak merupakan tempat pertama di luar Jawa yang menggelar peluncuran Free Car Day. Di lingkungan kantor suaminya, ia dilibatkan menghidupkan kembali senam tiap Jumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suami saya, kalau tak ada rapat pagi, juga bersepeda ke kantor. Jarak rumah kami ke kantor sekitar 40 kilometer," ujar penggemar sop kepiting ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ibunda Menpora, Andi Asni, mengaku tak asing dengan Kota Pontianak. Anaknya yang merupakan adik Menpora, Andi Nina Mallarangeng, pernah bekerja sebagai Kepala Puskesmas di Mempawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sering ke sini, besan saya juga orang sini. Wah, Pontianak memang panas, ya," ujar wanita yang masih tampak bugar di usia 74 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi Mallarangeng sendiri tiba di Kota Pontianak menjelang pukul 15.00 WIB. Ia melantik pengurus B2W di Pendopo Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sekadar sepeda sebagai olahraga rekreasi, Andi menegaskan perlunya Kalbar mengembalikan kejayaan olahraga prestasi yang dulu pernah begitu bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingin kita punya momentum kebangkitan olahraga nasional. Saya ingat sejak dulu, Kalbar menjadi gudangnya atlet balap sepeda. Kalbar mestinya kembali jadi gudang pebalap sepeda lagi," tegas Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kementerian yang dipimpinnya kini tengah membuat pemetaan olahraga unggulan di masing-masing daerah. Ia meminta virus bersepeda kembali menjalar di mana-mana, terutama kalangan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi menuturkan, olahraga bersepeda tak sebatas terkait sarana ke tempat kerja, atau pun rekreasi, tapi juga prestasi. Sambil juga memperjuangkan lingkungan yang bersih dan sehat karena bebas dari asap kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi berbincang dengan pembalap sepeda Kalbar. Di antaranya Maruki Madsun yang pernah menyabet dua emas Asia, maupun pembalap wanita Secelia S Harly. Selain pembalap sepeda, ia juga berbincang dengan petinju Kalbar Daud Yordan, Yohanes Yordan, Damianus Yordan, dan beberapa petinju cilik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerapan Kalsium&lt;br /&gt;Spesialis tulang RSUD Soedarso, dr Harry Fadjar SpOT, mengatakan, aktivitas bersepeda memiliki nilai aerobik yang cukup tinggi sekaligus low impact. Usia muda sampai tua sekalipun  cocok menjalankan aktivitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bersepeda bisa menguatkan otot-otot dan dengan sendirinya keseimbangan badan lebih bagus. Tarikan otot setiap mengayuh pedal, mampu merangsang penyerapan kalsium lebih kuat," ujar Harry kepada Tribun, Minggu, di arena Free Car Day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry tergabung dalam komunitas Teman Nunggu Teman (TNT), yakni sebuah kelompok lintas profesi dengan pilihan sepeda jenis mountain bike. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerapan kalsium yang kuat, sangat baik untuk kesehatan tulang. Bagi kalangan orangtua, kegiatan bersepeda mampu membantu mencegah pengeroposan tulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengingatkan, mengayuh sepeda jangan secara tiba-tiba. Diperlukan pemanasan ringan, agar otot kaki yang melekat pada tulang tidak mengalami trauma. Apabila cara mengengkol benar, disesuaikan dengan geometri sepeda, cidera otot tak bakal terjadi. end/tribun pontianak)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-5046624462565530577?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/5046624462565530577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=5046624462565530577' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/5046624462565530577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/5046624462565530577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/02/akhirnya-pontianak-punya-car-free-day.html' title='Akhirnya Pontianak Punya Car Free Day'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-8487227795335232616</id><published>2010-01-10T09:12:00.000-08:00</published><updated>2010-01-10T09:22:40.593-08:00</updated><title type='text'>Cino Putar Video De Leon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S0oM277UPUI/AAAAAAAAARk/t20X_f8BdXc/s1600-h/cino00.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 196px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S0oM277UPUI/AAAAAAAAARk/t20X_f8BdXc/s320/cino00.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425162839060135234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;* Jelang Perebutan Juara Dunia WBA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PONTIANAK, TRIBUN - Petinju kebanggan Kalbar, Daud "Cino" Yordan, optimistis mengalahkan mantan juara dunia kelas bantam super versi WBO asal Meksiko, Daniel Ponce De Leon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya akan berlaga dalam pertarungan 12 ronde memperebutkan gelar juara dunia interim kelas bulu versi WBA di Mandalay Bay Resort, Nevada, Amerika Serikat, 30 Januari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak menjanjikan KO. Tapi, kalau ada kesempatan, saya pasti melayangkan pukulan mematikan," kata Cino kepada Tribun, Minggu (3/1). Saat dihubungi melalui telepon, ia mengaku masih berada di Kabupaten Kayong Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimisme Cino yang belum terkalahkan dalam 25 kali naik ring itu, bukan tanpa alasan. Cino mengungkapkan De Leon hanya menang reputasi karena pernah juara dunia. Namun, juara dunia yang diraihnya itu pun terkesan dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal skill, De Leon masih berada di bawah dua lawan yang pernah dihadapi Cino, Jose Antonio Meza (Meksiko) dan Robert Guerero (Amerika Serikat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cino yang menyandang titel Juara Tinju WBO Asia Pasifik Indonesia, menang angka mayoritas dari Antonio Mezza yang memegang gelar juara WBO wilayah Amerika Utara.&lt;br /&gt;Pertarungan non-gelar 10 ronde yang digelar di Las Vegas, 13 September 2008, itu berakhir dengan skor 78-74, 78-74, dan 76-76.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara melawan Robert Guerero, 8 Maret 2009, di The Tank Hall San Jose, California, pertandingan berakhir no contest karena terjadi benturan kepala (head butt). Ambisi Cino merebut gelar North American Boxing Organization (NABO) pun harus dilepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengantisipasi benturan terulang, saya akan terapkan kick 'n run. Strategi ini juga untuk menghindari De Leon yang sangat senang bertarung jarak dekat dan terbuka," kata Cino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petinju kelahiran Simpang Hulu, 10 Juli 1987, itu menjelaskan, karakter petinju Meksiko adalah tahan pukul, bertarung jarak dekat, dan pantang menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk menghadapi petinju berkarakter demikian, saya akui masih kesulitan. Tapi, saya sudah belajar bagaimana mengatasinya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menutup kekurangannya itu, Cino mengaku latihan di Kayong Utara diarahkan untuk membentuk fisik dan meningkatkan daya tahan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya dengan berlari setiap hari antara 30-40 menit, hall back, pukul sansak, hingga bertarung puluhan ronde. "Tidak ada persiapan yang terlalu khusus. Biasa saja," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui kemampuan De Leon menjadi keharusan. Untuk itu, Cino sudah sudah menyaksikan berulang-ulang empat video pertarungan De Leon. Hasilnya, ia mengaku tidak kaget dengan apa yang ditunjukkan lawannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"De Leon punya kelamahan. Dia tidak pintar mengantisipasi counter attack atau pukulan balasan. Sementara untuk counter attack, saya sangat ahli. Ini yang akan saya kembangkan," papar Cino yang dijuluki Raja KO ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, meski sudah mengetahui kekuatan dan kelemahan De Leon, Cino menilai kalau setiap menghadapai lawan tetap dibutuhkan kesabaran, kerja keras, dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, ia mengharapkan doa dari masyarakat Kalbar agar ia bisa memberikan yang terbaik. "Doakan juga semoga jadwal pertandingannya tidak berubah. Ini belum fix 100 persen. Biasalah, dalam dunia tinju semua bisa berubah. Bersiap boleh, pasti belum tentu," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku baru menerima jadwal awal, belum ada konfirmasi terakhir dari Golden Boy Promotion. Tapi, kemungkinan besar dalam pekan ini. Termasuk soal dokumen pertandingan, visa, dan lain sebagainya. "Kalau sudah mengantongi jadwal awal, biasanya jadi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinggung soal target berikutnya jika memenangi pertarungan melawan De Leon, Cino menegaskan ada satu orang yang sangat ingin ia hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada satu nama. Tapi, off the record dulu yach," tegasnya. Dimintai bocoran soal petinju itu dari negara dan di kelas apa, Chino hanya berseloroh. "Ada aja." (hsm)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-8487227795335232616?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/8487227795335232616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=8487227795335232616' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8487227795335232616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8487227795335232616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2010/01/cino-putar-video-de-leon.html' title='Cino Putar Video De Leon'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/S0oM277UPUI/AAAAAAAAARk/t20X_f8BdXc/s72-c/cino00.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-8944406478594197034</id><published>2009-12-23T08:52:00.000-08:00</published><updated>2009-12-23T08:56:09.575-08:00</updated><title type='text'>Komunitas Sepeda Tua, Iklan Motor,  dan Momentum Hari Ibu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SzJLoSUazWI/AAAAAAAAARU/wbty8G5RRno/s1600-h/fahmi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 192px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SzJLoSUazWI/AAAAAAAAARU/wbty8G5RRno/s320/fahmi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418476457164459362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Fahmi Saimima, Sekjen KOSTI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta - Semakin hari kesadaran orang akan seriusnya ancaman perubahan iklim yang dipicu oleh pemanasan global semakin besar. Dalam situasi ini tanggung jawab harus ada pada setiap negara, setiap pihak, bahkan setiap orang. Semua harus berjuang keras secara simultan untuk mengurangi dampaknya yang semakin nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang tidak mungkin menghindari teknologi. Tetapi, teknologi yang lebih kontekstual dengan situasi terkini harus dicari. Teknologi tidak boleh membutakan diri dari kenyataan bumi kita yang makin menua. Pabrik dan produk-produk bermesin termasuk mobil dan sepeda motor harus berjuang mengurangi emisi karbon, menggunakan bahan bakar sehemat dan seaman mungkin, sambil terus mencari bahan bakar alternatif.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan itu berbagai komunitas dengan gerakan cinta lingkungan pun terus menyerukan untuk merevisi gaya hidup agar lebih hemat energi, mencegah polusi, dan sebagainya. Salah satunya adalah Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) yang kehadirannya segera mendapat sambutan sangat baik di seantero Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya animo masyarakat untuk kembali bersepeda pada perjalanan jarak dekat (dalam kota) ini telah direspon oleh beberapa Pemerintah Daerah dengan disediakannya jalur khusus sepeda. Kesungguhan ini semestinya mendapatkan support sehingga menjadi salah satu langkah efektif mengantisipasi dampak global warming tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan masalah ini kami atas nama KOSTI tidak merasakan adanya support positif dari sebuah perusahaan sepeda motor atas gerakan cinta lingkungan yang kami perjuangkan. Terutama saat menyaksikan tayangan iklan produk dalam rangka menyambut Hari Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana digambarkan sosok Ibu yang begitu menderita --dengan ukuran sangat subyektif, karena masih menggunakan sepeda onthel. Lalu, "langkah mulia" yang dilakukan Sang Anak untuk membebaskan Sang Ibu dari penderitaan. Sekaligus sebagai tanda baktinya adalah membelikan Si Ibu sebuah sepeda motor baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan kami iklan ini hanya melakukan pendekatan sepihak dan menafikan sisi positif bersepeda serta sisi negatif bersepeda motor. Terutama dalam kaitan perjuangan mengantisipasi dampak global warming yang semestinya menjadi tanggung jawab kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih sayang yang menjadi tema sentral pada momentum Hari Ibu lebih membutuhkan ekspresi kualitatif. Sebuah agency yang baik semestinya mampu mengekspresikan semangat perusahaan sepeda motor itu dengan pola ungkap yang tepat tanpa harus terjebak kepada perbandingan 'head to head' antara sepeda motor yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang begitu bernilai dengan sepeda yang dipersepsikan sebagai simbol penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas penayangan iklan tersebut dengan ini kami menyatakan keberatan sekaligus menyampaikan himbauan untuk menghentikan penayangannya. Karena, akan sangat kontraproduktif bagi perjuangan kami menyelamatkan lingkungan hidup dengan kembali bersepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sesama penghuni bumi ini marilah kita bekerja sama, bahu-membahu, demi menjaga lingkungan agar tetap kondusif sebagai tempat kita tinggal hingga generasi anak-cucu kelak. (Tulisan Dari Noereska - Yogya) Keberatan bersama disampaikan pula dari Komunitas B2W Indonesia dan Bikepackers Indonesia. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Link terkait: http://sepeda.wordpress.com/2009/12/16/bagaimana-komentar-ontelis/&lt;br /&gt;http://www.sepedaku.com/forum/showtread.php?t=24676&lt;br /&gt;Iklan di: http://www.youtube.com/watch?v=_pFznRBIbvU&lt;br /&gt;Diambil dari detik.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahmi Saimima&lt;br /&gt;Vila Tomang Baru Blok F11 No 15 Tangerang&lt;br /&gt;kosti@asia.com&lt;br /&gt;08567262750 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-8944406478594197034?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/8944406478594197034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=8944406478594197034' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8944406478594197034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8944406478594197034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/12/komunitas-sepeda-tua-iklan-motor-dan.html' title='Komunitas Sepeda Tua, Iklan Motor,  dan Momentum Hari Ibu'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SzJLoSUazWI/AAAAAAAAARU/wbty8G5RRno/s72-c/fahmi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-5000456732847135454</id><published>2009-12-17T00:56:00.000-08:00</published><updated>2009-12-17T02:36:30.943-08:00</updated><title type='text'>Harley Davidson WLC, Kagak Jodoh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Syny6MO4PaI/AAAAAAAAAQU/KP0TBgyhkJM/s1600-h/villiers-1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Syny6MO4PaI/AAAAAAAAAQU/KP0TBgyhkJM/s320/villiers-1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416127108419698082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dapat si Villiers dalam keadaan mengenaskan. Tidak disangka-sangka. Saya pernah keliling pedalaman Kalbar hanya untuk mencari motor antik. Ada informasi sedikit saja saya pasti berangkat. Termasuk bela-belain izin dari kantor yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Bengkayang, Sanggau, Sintang, Singkawang, dan Ngabang pernah saya telusuri. Ada sih motor tua tapi, kebanyakan Jepang. Itupun tidak tua-tua amat. Paling banter Suzuki GT 125, GT 380, CB 125, dan Binter "KZ 200" Mercy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Binter Mercy, saya sempat menemukan beberapa motor untuk anak-anak Black Jack, yang notabene pegila motor Chopper di Pontianak. Bahkan di Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, saya menemukan Mercy 250 cc. Seumur-umur saya baru pertama itu melihat jeroan mesin Mercy dan tertulis 250 Cc.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sangat sulit menemukan motor-motor tua buatan Eropa di Kalbar.  Informasi yang saya terima dari beberapa rekan yang sampai saat ini belum membuahkan hasil di antaranya adalah ada motor tua teronggok ditumpuk bersama sabuk kelapa (Batu Buil, Sintang), BSA M21 (Sompak, Ngabang), Norton zespan (Sanggau, keuskupan), HD WLC (Entikong, keuskupan), BSA Twin (Sanggau Permai, Sanggau), BSA C11 250 cc (Sintang), BSA 250 cc (Jeruju, Pontianak), dan terakhir HD WLC serta NSU Quicky (Pontianak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicari kesana-ke sini, rupanya hanya HD WLC, NSU Quicky (Pontianak) dan BSA C11 250 cc Sintang yang infonya valid. Sayang untuk BSA C11, harganya tidak cocok. Sementara untuk HD WLC dan NSU Quicky Pontianak, sudah beberapa kali saya tawar tidak mau dilepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama saya bersabar menunggu agar HD WLC bisa saya tebus. Hampir tiga tahunan saya tunggu. Selama itu, beberapa kali saya ke rumah yang punya. Namun, tetap tidak di jual.  Motor dalam kondisi lengkap dan orisinil, malah masih ada bensin di tangkinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di simpan di sebuah garasi yang terbuat dari kayu di depan rumah. Saking beratnya si HD, garasi itu miring tidak mampu menahan beban. Saya sendiri heran, ternyata ada WLC 750 CC di Kalbar. Kabarnya ada dua WLC, yang satu punya Pak Mal anggota Motorhead. Namun, saat motor sudah sehat dan dibawa jalan-jalan, ada PM yang menahannya. Motor buatan Amerika itu pun hingga kini tidak ada kabar beritanya. Konon kini WLC itu sudah dimiliki seorang anak jenderal di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas pasti tidak ada yang menyangka, rumah tua yang seluruhnya terbuat dari kayu itu, dan ada di pemukiman nyaris kumuh, ada harta karun tidak terhingga. Ya..warisan otomotof dunia yang banyak diincar pegila motor tua. Apalagi motor dalam kondisi yang orisinil pula. Bahkan, katanya motor yang sudah ditinggal pergi pemiliknya itu, sempat hidup dan dipakai keliling kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu pemiliknya ikhlas ditebus rupiah, saya tidak menyangka bertemu Villiers 200 Cc. Belakangan, setelah Villiers hidup, saya terpaksa menjualnya karena butuh uang untuk tambah-tambah membeli rumah.  Sedih sih sedih, tapi hanya itu pilihannya. Apalagi masih ada harapan bisa memiliki HD WLC yang saya impikan siang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saya baru merasakan betapa tidak enaknya hidup tidak mengelus, melihat, dan menaiki motor antik. Hampa, tak bersemangat, seperti sebagian dari jati diri saya hilang entah kemana. Apalagi melihat rekan-rekan lainnya konvoi dan touring, plus kumpul bareng waktu ada acara temu bikers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bekerja saya memang sudah akrab dengan motor tua. Diawali dengan Vesva Super 1966, kemudian Sprint 1978, Binter Mercy 1981, Binter Mercy Cobra 1984, dan Suzuki GT 125 Cc. Disusul Villiers 200 Cc. Saya hanya berdoa sambil sedikit-sedikit berupaya bisa memiliki motor Eropa lagi. Motor yang saya impikan adalah BMW R25 dan BSA B31 350 Cc. Buat brother yang baca tulisan ini, doain yah he he he he..biar cepat terkabul! Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah asa memiliki WLC 750 Cc, saya kembali menelan kekecewaan. Sebulan lalu, saya mampir lagi ke rumah tersebut. Tentu saja untuk kembali menanyakan apakah motor itu akan dijual atau tidak. Saya kaget karena di garasi hanya ada Honda Supra 125.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WLC sudah tidak ada lagi! Yang punya rumah menuturkan motor itu sudah dijual. Ia enggan menyebut harganya. Hanya, ia bilang disamping uang tunai, Supra 125 itu juga untuk alat tukar si Tujuh Setengah. Sampai sekarang saya tidak tahu siapa yang akhirnya menjadi orang paling beruntung di dunia itu. Yang saya tahu, perasaan saya mirip lagunya Olga Syahputra...hancur hancur haaatiku! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-5000456732847135454?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/5000456732847135454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=5000456732847135454' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/5000456732847135454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/5000456732847135454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/12/harley-davidson-wlc-kagak-jodoh.html' title='Harley Davidson WLC, Kagak Jodoh'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Syny6MO4PaI/AAAAAAAAAQU/KP0TBgyhkJM/s72-c/villiers-1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-2703509617440913843</id><published>2009-10-24T02:00:00.000-07:00</published><updated>2009-10-24T02:03:44.554-07:00</updated><title type='text'>Menjemput Maut</title><content type='html'>Oleh: Hasyim Ashari&lt;br /&gt;Pada parak pagi, Aku terbangun. Terperanjat mendapati api sudah berkobar di mana-mana. Sebentar melompat ke dinding, sejurus kemudian menerjang lemari pakaian. Meninggalkan baramerah di daun pintu. Sisanya mengapit langit-langit. Kemudian jatuh melelehkan lantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang kasurku yang usang, entah kenapa lidah api enggan menjilatnya. Kecuali kepekatan asap yang mulai menusuk tulang iga. Sangit yang menggigit, menuntunku menembus bara yang menggetarkan raga. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mendatangkan tanya yang berkecamuk. Apa gerangan yang sedang terjadi. Mengapa semuanya sekian berubah. Padahal, semalam masih kulihat sebaris harapan. Berpendar bersama gemintang di keluasaan cakrawala. Sejenak setelah ayah menyanjungku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah mengeluarkan dua juta sperma ketika ereksi. Dari jumlah itu, hanya seratus ribu yang selamat. Dan kau satu-satunya yang berhasil bertemu indung telur di rahim ibumu. Sebelum lahir, kau sudah memenangkan pertarungan besar. Jadi jangan sia-siakan hidupmu. Hasilkanlah sebanyak mungkin uang, karena dengan uang kau bisa membeli segalanya. Untuk itu, melanggar prinsip sesekali, tidak apa. Dan jika seseorang mempercayaimu, terimalah dengan jiwa besar. Karena tanpa itu, kau bukan siapa-siapa," kata-kata ayah seperti wasiat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan iapun menutup ceritanya dengan menegaskan dirinya tidak tidur saat aku dilahirkan.&lt;br /&gt;"Ayah manapun akan melakukan hal serupa. Sebuah keajaiban, menemanimu melihat dunia untuk pertama kali. Kau adalah pelipur perih ayah setelah kehilangan pekerjaan," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, aku lelap dalam dekapan malam. Dengan angan mengembang, asa yang menyala-nyala dan cita-cita yang mengangkasa. Tapi pagi ini, hanya aroma kematian yang menyeruak. Bergerak di puncak ilalang yang mulai tegak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada api yang tidak lagi jinak. Aku beringsut, mencoba duduk. "Kau sudah bangun, Anakku. Sini dekat ayah," suaranya bergetar datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera meruap meraih sisi lengannya yang perkasa. Kupenuhi gerak dengan gurat isyarat. Bahwa bayang ketakutan datang entah darimana. Meracun nafasku, hingga tarik alirnya tersengal-engah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah menghela nafas. Berat, dalam dan tersendat. Bukan karena asap yang mulai pekat. Tapi seperti dihimpit beban dahsyat. Dan dibiarkannya tetap begitu. Sesaat, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Berhenti menumbuk mataku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keteduhan di wajahnya itu, seolah luluh runtuh. Ada semacam senyuman yang tidak jadi. Yang isinya cukilan misteri yang sukar kupahami. Entah bagaimana, aku merasa maut sedang bertengger di matanya. Memburu nadinya. Mengoyak belulangnya. Menohok jantungku sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap kematian yang tertutup rapat, kini ikhwal yang terbentang gamblang. Sedang aku berubah ciut. Seperti guratan fajar yang membentuk bayang kehitaman cecabang pohon-pohon perdu di halaman belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu pasti akan mati. Yang tetap tidak kuketahui adalah, akan kemanakah kematian membawa ayah, membawa jiwaku serta. Adakah menjelma sebentuk burung Srigunting, di kehidupan selanjutnya. Yang menukik menyambar perjalanan hidupku yang singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau aku akan berserak serupa debu. Melayang di semesta purba. Untuk kemudian tersesat dan menetap entah di tubuh siapa. Atau, aku tidak akan terlahir kembali. Hanya Mati saja. Dan siklus transendensi, berhenti. Titik. Dengan begitu tugas laki-laki sejati tidak pernah tuntas. Aku gagal membangun dinasti untuk orang-orang yang kucintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh belas hari yang lalu. Usai menerima surat merah jambu yang lusuh dan berdebu. Ayah seperti mayat di keranda. Diam dan dingin. Yang tersisa dari seluruh waktunya hanya kemarahan yang dipendam. Kesedihan dan kegamangan yang menjurang. Keputusasaan yang menenggelamkan keajaibannya sebagai suami, sebagai ayah dan sebagai dirinya sendiri. Ohh dimanakah cinta. Bukankah cinta adalah naluri manusia yang paling hakiki. Tanpanya, bagaimana melintasi senja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski udara mulai menipis. Bahkan panas kian mengganas. Aku tidak berani bertanya. Sampai ayah memutuskan berbicara. Dengan cerita tanpa kata. Sebab putus oleh derita. Dalam kamar yang semakin membara. Penuturannya lara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika waktunya tiba, kejarlah gadis-gadis yang menarik. Jaga dan perlakukan mereka seperti putri raja. Karena memang begitulah adanya mereka. Jangan ulangi kesalahan ayah," Ayah menutup bibirnya dengan gigi bergeretak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di matanya terlihat mendung dan petir yang siap mengubahnya menjadi hujan. Wajahnya berpaling ke arah bantal berwarna biru, yang dibelinya untuk melamar ibu. Sepuluh tahun yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah benar-benar menangis. Tanpa air mata. Sebab kering terseka tebaran bara.&lt;br /&gt;Ibu. Sosoknya seperti sebuah masa lalu. Bagai kilatan gambaran di kepala. Muncul begitu saja, lalu meruap entah kemana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitu nyata. Sebab kurasa emosi. Seperti ketika aku ingin menikam ayah, karena hanya diam. Diam dalam api yang sekam. Diam membiarkan ibu menghilang. Dari hari-hariku yang masih panjang. Dulu, dulu sekali. Ketika sebuah bisikan lembutnya, mengabarkan kalau usiaku menginjak 3 tahun. Tepat ketika ayam berkokok, ibu mengecup bibirku, mengusap rambutku.&lt;br /&gt;"Jagoan ibu, jangan nakal yah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok elok itu dengan langkah sedikit berpaling, pergi menjinjing tas besar berwarna hitam. Lalu sirna bersama bus antar negara. Meninggalkan aku yang meronta di pelukan ayah. Aku kehilangan kecantikannya. &lt;br /&gt;Ibuku memang cantik. Ayu sekali. Seperti penjelmaan dewi dan bidadari. Hatinya seperti peri. Rahangnya indah. Wajahnya dipenuhi taman bunga. Matanya embun cemara. Kalau tertidur, ia seperti berbicara banyak hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana kalau ia bangun. Ibu memang hanya bangun kalau hendak menyusuiku. Selebihnya ia tidur dengan senyuman senja musim hujan. Begitulah, tidak ada yang menandingi naturalnya cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangit sudah di mana-mana. Api semakin cepat saja merambat. Di luar, terdengar hiruk pikuk para tetangga. Kuyakin mereka kalang kabut. Sebab pagi ini bukan dipenuhi kabut, tapi api yang melaut. Aku dan ayah masih berdekapan. Duduk di atas tempat tidur. Bersandar pada dinding yang tidak lagi dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baruna. Ini surat yang dikirim ibumu. Bacalah, agar kau tidak lagi bertanya, mengapa pagi ini semuanya bara,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat aku menjamahnya, atap rumah tiba-tiba runtuh. Jatuh tepat di sampingku. Baramerah berpencar seperti kembang api. Arang dan asap pekat. Aku tergagap. Dekapan ayah terlepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat di genggamanku terlontar dan terbakar. Sejurus kemudian, sepraiku yang dekil, berkobar. Lidah-lidah api mengejar dan menjalar dengan sangar. Aku masih melihat ayah menggelepar. Selain nyawanya yang meregang, seluruh tubuhnya adalah api. Tapi keperkasaannya bangkit dan berontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan. Sudah kuputuskan, kalau kematian menjadi jalanku. Tempat dimana aku bisa berkehendak untuk berkuasa. Kematian akan menjadi kuasaku. Bukan kuasa-MU lagi. Kini akulah Sang Dalang. Akan kubuat Kau tergamam, mungkin juga sekian sedih. Bukankah begitu kau permainkan kami. Kau buat kami menangis, lain waktu Kau buat kami tertawa. Kini, lihatlah baik-baik. Aku, hamba-Mu yang taat, hamba-Mu yang dibalut taubat, akan tersayat. Lumat oleh hasrat. Hasrat untuk membunuh-Mu. Karena Kau sudah membiarkan, kehormatan istriku dikoyak majikan murtad. Karena Kau tidak berbuat apa-apa ketika kepala istriku pecah, terjun dari apartemen berlantai tujuh. Bangsaat! Keluarlah Kau Tuhan. Hadapi kuasaku,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam asap yang menggulung, ayah terhuyung. Terjerembab di tepi tempat tidur. Aku beringsut. Tapi ayah berhasil menggapai dan mendekapku. Dalam sekejap, api meraih rambut, wajah dan kulitku. Tapi aku malah menggigil kedinginan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa maut segera menjelang. Datang bersama ibu yang kurindu. Dan kematian jadi begitu membahagiakan. Bersahaja dan baka. Seperti kehidupan, aku menanti kematian kembali setiap fajar. Juga ketika senja kala. Sebab kematian adalah selapis emas yang sedih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin enigma tak bertepi.  Aku tidak pernah sampai menyentuh dasar maknanya. Kecuali aku hanya bocah dengan keterbelakangan mental seumur hidup. Yang dibesarkan oleh kecewa. Yang kehadirannya ditolak oleh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Jawi, April 2005&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-2703509617440913843?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/2703509617440913843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=2703509617440913843' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2703509617440913843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2703509617440913843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/10/menjemput-maut.html' title='Menjemput Maut'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-7501809077868662806</id><published>2009-10-09T10:36:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T10:43:37.743-07:00</updated><title type='text'>Mananggar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Ss92PVHEnSI/AAAAAAAAAQI/dHOoil7UD30/s1600-h/Ringin-waterfall7111.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 199px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Ss92PVHEnSI/AAAAAAAAAQI/dHOoil7UD30/s320/Ringin-waterfall7111.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390657284722695458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Hasyim Ashari&lt;br /&gt;Dia satu-satunya lelaki yang tahu, bagaimana menyentuh hatiku dengan benar. Kharismanya berpendar, bersama tutur sapanya yang mutiara. Mengobati dahagaku dari reguk cinta yang sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pernah memberiku setangkai mawar.  Hanya karena hari itu adalah hari kamis. Romantis, manis. Menerima hadiah bukan karena kita sedang merayakan sesuatu. Sementara hasratnya, bisa membakar gairah yang sudah lama mati sekalipun. Tanpa diminta, ia sudah mengerti apa yang diinginkan seorang istri. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kami saling mendekap dengan peluh yang melaut, langit-langit runtuh, kasur dan guling jebol, diterjang gelombang kasmaran. Oooh….!! Begitu dasyat. Selalu dasyat. Kelembutan, keindahan dan kasih sayang. Semua kudapatkan. Sebelum kemudian ajal mengakhiri segalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang mengiris mangga muda. Tiba-tiba ambulance meraung mengabarkan kematian. Auranya menebar kengerian. Membangkitkan bulu roma. Senja yang gerimis menjadi miris. Aku terperanjat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar orang mengetuk pintu. Suaranya terdengar seperti malaikat maut. Darahku berdesir, menyambar-nyambar seperti petir. Kecuali putih yang kulihat, kemudian semuanya menjadi gelap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pingsan. Tak kuasa memandang wajahnya pasi, bibirnya terkatup dan jemarinya tanpa geming. Entrapment berupa air deras yang datang tiba-tiba di buritan, gagal ditaklukannya. Perahu karetnya terhempas. Arus hole menggulungnya. Suamiku kehabisan nafas. Suamiku tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Tapi kenyataan ini, sungguh tak terbantahkan. Aku tenggelam dalam linangan air mata yang melaut. Membayangkan harus menghabiskan separuh usia tanpa dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan mengurungku. Hujan do'a sekalipun tidak mampu menyejukkan. Kehilangan menjadi kewajiban yang amat menyakitkan. Waktu telah mengubah segala-galanya. Meski hati kurebahkan pada tabah, tapi tetap terasa berat. Berat, karena aku harus belajar hidup lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara gerbang kematian menawarkan ruang maha lega. Jika bukan karena kandunganku, pasti sudah kuturut suamiku. Dengan mata pisau tertancap di ulu hati. Tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sarah..adakah kau rindu pada bebatuan yang bertebaran, arus yang mendebarkan, deretan pohon-pohon Tengkawang, kicau Burung Tingkil dan angin yang mendesir tenang. Sungguh, layaknya harmoni mahakarya. Sebuah kedamaian yang memberi semua pengertian. Sayang, izinkan aku ke Mananggar. Lusa aku kembali. Aku menyayangimu. Jika bukan karenamu, aku tidak akan bisa berdiri tegar sampai hari ini. Tapi aku juga membutuhkan Mananggar," itulah kalimat terakhir yang kudengar, dari bibirnya yang mengobati lara. Ia kemudian menyambar perahu karet, pelampung, padle, helm dan sandal gunung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mananggar dan suamiku. Keduanya seperti lahir dan  ditakdirkan untuk tidak terpisahkan. Suamiku telah jatuh cinta kepada panorama air terjun bertingkat tujuh itu. Bahkan sebelum keduanya dipertemukan oleh pandangan pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar. Sebab di tubuh Mas Doni mengalir darah petualang. Sedang Mananggar menanti ditaklukkan. Alurnya yang menganak sungai, memiliki arus bolak-balik yang unik. Karena itu, suamiku rela menempuh perjalanan 200 kilometer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan dua kali ia rela bergegas meninggalkan Pontianak menuju Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak. Katanya, Mananggar telah banyak mengajarkan kebijaksanaan. Alam memiliki philosofi sendiri tentang hidup dan kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangkan. Ukuran kita dibanding perbukitan itu, sungai-sungai itu, hamparan sabana itu, ribuan pepohonan itu. Kita hanya partikel terkecil dari cakrawala. Bahkan jika kita matipun, tak mempengaruhi semesta. Waktu tetap berputar. Melahirkan jiwa-jiwa yang lapar. Berkaca dari itu, bukankah tidak ada masalah besar dalam kehidupan manusia. Yang ada hanya masalah kecil yang belum ditemukan solusinya," kata suamiku ketika aku dibawanya serta, suatu ketika. Menutupi galau di hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku kuatir. Tapi tak kuasa menolak inginnya. Aku mencoba memahami perasaannya. Sebelas tahun menunggu momongan, tentu membuatnya lelah. Penantian tak berujung mengantarnya ke puncak putus asa. Sudah habis rasanya seluruh upaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari konsultasi ke dokter spesialis kandungan, berobat ke paranormal, hingga mencoba berbagai obat tradisional. Hasilnya, kami belum juga memiliki keturunan. Aku berharap, rafting membawanya ke dunia yang lain. Dunia dimana hanya ada keindahan dan ketakjuban. Sehingga pikiran tentang buah hati, tidak terlalu menyiksanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Setiap kembali ke rumah, selalu saja cinta yang dibawanya pulang. Berbinar dan terang benderang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kepergiannya ke Mananggar, sebenarnya aku sudah hamil satu bulan. Tapi sengaja kubungkus kabar ini rapat-rapat, sebagai kado ulang tahunnya yang ke-37. Kubayangkan wajahnya keharuan, penuh sukacita. Dia menjadi bapak dan tugasku lengkap sebagai wanita. Rumah kami sesak oleh tangis dan tawa si kecil kelak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keluarga bahagia seperti yang selalu kubaca di majalah-majalah wanita. Tapi ternyata  kematian datang lebih cepat. Membuyarkan mimpi-mimpi indah, yang belum selesai itu. Bahwa kematian mengekalkan cinta, aku tidak tahu. Yang kutahu, kematian hanya akan menjadi debu dalam ruang-ruang hampa milik kita. Jadi lupakan kematian. Lebih cepat lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seratus hari Mas Doni meninggalkan kami. Aku dan bayi dalam perutku. Kami jadi terbiasa. Tadi malam, aku seperti mendengar suaranya lagi. Layap-layap. Jauh, sangat jauh. Tapi begitu jelas. Suaranya datang membawa dingin yang sangat. Seolah ingin menyerap seluruh energi panas yang ada di dalam kamar. Tubuhku sampai menggigil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Temui aku di Mananggar..temui aku di Mananggar. Sebelum purnama sempurna," kata-katanya kemudian hilang ditelan fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terlalu nyata untuk sebuah mimpi, Aku tidak perduli. Sampai malam berikutnya, suara itu terdengar lagi. Dengan pesan serupa. Bahkan ketika aku sedang terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih memegang kemudi Daihatsu Feroza. Menyusuri jalan berbatu. Tidak terasa, aku sudah merambati Mananggar. Geli rasanya, datang ke sini hanya karena sebuah alasan. Mimpi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kupikir, mimpi juga sebuah dunia. Dunia dengan logikanya sendiri. Dengan banyak alasan yang pantas dipertimbangkan. Lebih dari itu, aku memang ingin memaguti potongan kenangan  suamiku yang masih tertinggal, meskipun terlalu menyakitkan untuk disimpan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah senja yang pucat, kuseret kaki dengan rantai-rantai dari sisa rindu yang kemarin. Rindu pada suamiku. Sampai Mananggar menumbuk mataku dengan pesonanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak air tumpah. Putih. Jernih. Sambung menyambung seperti selendang bidadari. Dentumnya mengetuk perut bumi. Di kanan dan kirinya, semua rumput penuh warna. Marun, hijau, biru, merah dan kuning. Ujung-ujungnya mendongak ke langit. Seperti hendak berteriak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupu-kupu hitam putih terbang disekitarku. Anak-anak penoreh getah, telanjang dada. Tubuhnya sangit dibakar matahari. Gigi kekuning-kuningan dan sorot mata memendam kekaguman sekaligus harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar mereka bercengkrama dalam Bahasa Dayak, seperti dendang dari sebuah negeri ujung langit. Merdu. Murni. Apalagi memperhatikan telapak-telapak tangan kecil mereka yang lincah, melempar getah ke dalam tangkin. Kemudian beringsut pulang dijemput kabut. Desau angin pada wajahku, mengabarkan sebuah tanah kelahiran yang ditinggalkan jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telingaku menangkap ada langkah mendekat. Aku menoleh ke belakang untuk memastikan. Disampingku, ternyata sudah berdiri dengan anggun seorang wanita. Kutaksir umurnya tidak lebih dari 26 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat parasnya, dia pasti dari desa sekitar. Meski demikian, ia terlihat terpelajar. Pada tangannya, anak laki-laki berayun manja. Usianya sekitar 5 tahun. Wajahnya menggemaskan. Tatapan matanya, seperti pernah kuakrabi siang malam. Tapi entah dimana. Aku jadi berkhayal. Seperti apa bayiku kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya," tanyaku memberanikan diri.&lt;br /&gt;"Baru kali ini. Mbak seperti menunggu seseorang?"&lt;br /&gt;"Iya..suamiku,"&lt;br /&gt;"Suami mbak ada di sini,"&lt;br /&gt;"Sulit untuk dijelaskan,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf mbak. Saya tidak bermaksud lancang. Tapi, bukankah untuk beberapa hal, kita memiliki keterbatasan untuk menjelaskan. Dan pada titik itu yang kita butuhkan hanya kemauan untuk mengerti,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin begitu. Ngomong-ngomong apakah adik menunggu seseorang juga," aku balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku menunggunya setiap senja. Di sini, di tempat yang amat dicintainya,"&lt;br /&gt;"Suamiku juga mencintai tempat ini," &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu kemudian menatapku. Penuh selidik tapi dalam batas kesopanan.&lt;br /&gt;"Namaku Asti. Mbak pasti, Sarah..." &lt;br /&gt;"Darimana adik tahu namaku,"&lt;br /&gt;"Bang Doni menceritakan segalanya,"&lt;br /&gt;"Asti mengenal suamiku?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memalingkan wajahnya. Tatapannya menumbuk air yang tumpah itu, dalam-dalam. Ia seperti mencari sisa-sisa keberanian untuk berkata-kata. Kulihat, kelopak matanya mulai tergenang. Ada setetes air, jatuh dari sudut mata kanannya yang teduh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih dari sekedar yang Mbak duga. Enam tahun lalu, kami menikah di sini. Dan ini Nikodemus. Dia darah daging kami. Bang Doni, memintaku menyampaikan maafnya, maaf kami. Telah merahasiakan semuanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadaku seperti hendak meledak. Ingin kuteriak. Namun suaraku tersekat. Lututku bergetar. Seluruh sendiku terasa rontok. Aku nyaris tersungkur. Tiba-tiba langit tak lagi menyimpan bintang. Sepotong purnama yang baru setengah, sirna. Seluruhnya menjadi bisu. Semua kembali kepada ketiadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngabang,  22 Januari 2004 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-7501809077868662806?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/7501809077868662806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=7501809077868662806' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7501809077868662806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7501809077868662806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/10/mananggar.html' title='Mananggar'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Ss92PVHEnSI/AAAAAAAAAQI/dHOoil7UD30/s72-c/Ringin-waterfall7111.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-4928916886984341222</id><published>2009-09-13T01:09:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T05:39:15.499-07:00</updated><title type='text'>Sejarah Sepeda Gazelle</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Sqyp8gNwJaI/AAAAAAAAAQA/ASwIe7Gmw3o/s1600-h/gazeele.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Sqyp8gNwJaI/AAAAAAAAAQA/ASwIe7Gmw3o/s320/gazeele.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380862511705761186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1892 &lt;br /&gt;Willem Kolling, yang bekerja sebagai agen kantor pos disebuah desa di Belanda yang bernama Dieren, mengundurkan diri dan memulai usaha dagang sepeda dengan memesan sebuah sepeda di Inggris. Usaha dagangnya berkembang dengan sangat bagus. Kolling kemudian memulai kerja sama dengan pengecer perangkat dari besi dan kompor Rudolf Arentzen dari Dieren.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1902 &lt;br /&gt;Arentzen dan Kolling membeli tanah dan bangunan baru ditempat berdirinya pabrik sekarang, dan memulai produksi sepeda. Dalam tahun yang sama, sepeda pertama kali yang bermerk Gazelle mulai dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1903 &lt;br /&gt;Kemudian Gazelle memperkenalkan produksi sepeda motornya yang pertama, namun tidak dibuat oleh Gazelle sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1905 &lt;br /&gt;Meskipun perkembangannya berkembang bagus Arentzen mengundurkan diri dari perusahaan itu. Posisinya digantikan oleh Hendrik Kolling, Saudara Willem Kolling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1912 &lt;br /&gt;Dengan perluasan besar-besaran terhadap tanah dan bangunan awal mereka, dan dengan alat permesinan yang modern dan spesialis, rencana produksi sendiri bisa direalisasikan sepenuhnya. Mereka memiliki spesialisasi dalam pembuatan sepeda lengkap. Sementara itu aktivitas perdagangan borongan Gazelle menjadi semakin penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1915 &lt;br /&gt;Keluarga Kolling dan kemenakan mereka Jan Breuking mengganti nama perusahaan menjadi " N.V. GAZELLE Rijwielfabriek v/h Arentzen en Kolling ". Dalam dua puluh lima tahun berikutnya perusahaan ini mengalami pertumbuhan yang mantap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan dari Outlet domestik serta permintaan international meningkat secara signifikan. Hal ini juga karena pasar yang berkembang bagi sepeda Gazelle di Indonesia, yang pada saat itu menjadi Koloni Belanda. Disamping sepeda-sepeda standar, beberapa sepeda bermotor, Delivery Bicycles dan Carrier tricycle ( sepeda muatan tiga roda ) diproduksi untuk berbagai sektor industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1930-1931 &lt;br /&gt;Gazelle memperkenalkan model kerangka silang 9X dan 8V&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1931 &lt;br /&gt;Berbagai variasi merk Invicta muncul dalam katalog Gazelle, sementara itu merk Gelria juga diperkenalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1935 &lt;br /&gt;Gazelle memperkenalkan tandem pertama yang sangat populer dalam tahun-tahun sebelum perang dunia kedua. Pada tahun perkenalannya, 600 unit tandem segera terjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1937 &lt;br /&gt;Sepeda listrik yang digerakkan oleh akumulator 12 V dan didesain oleh Philips diproduksi oleh lima pembuat sepeda yang terkenal di Belanda. Diantara mereka, Gazelle adalah yang paling penting dan mereka memproduksi 117 sepeda jenis ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sepeda jenis ini tidak pernah sangat populer. Seperti bagi banyak perusahaan belanda lainnya, perang merupakan masa yang sulit bagi Gazelle, sebagian mesin pabrik dibongkar oleh tentara jerman yang menduduki dan diangkut ke Jerman. Mesin yang masih tersisa diledakkan persis sebelum kedatangan sekutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu , Pabrik Willem Kolling menderita kerusakan hebat akibat perang. Dalam bulan Agustus 1946 sepeda Gazelle pasca perang yang pertama tersedia dan pada tahun 1950 tersedia sepeda Gazelle dengan Clip-on Motor. Produksi Carrier Bicycle dan Carrier tricycles diteruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1954 &lt;br /&gt;Perusahaan Gazelle yang sebelumnya merupakan perusahaan pribadi diubah menjadi In-corporation. Pada tahun yang sama, Gazelle membuat 1.000.000 sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1963 &lt;br /&gt;Diawal tahun 1963, Gazelle melakukan merger dengan Batavus dari Heerenveen. Kerja sama ini tidak bisa memenuhi harapan yang mendasari dan putus sesudah dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1964 &lt;br /&gt;Gazelle merupakan perusahaan pembuat sepeda belanda pertama yang memperkenalkan sepeda lipat ( folding bike ) yang dinami "kwikstep". Berbeda dengan sepeda lipat umum lainnya, kwikstep dilipat pada sumbu horizontal dibawah siku-siku bawah (botoom bracket) tidak pada sumbu vertikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1966 &lt;br /&gt;Gazelle memperkenalkan kembali model tandem, kali ini jenis modern yang tidak begitu berat. pada tahun yang sama 2.000.000 sepeda Gazelle dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1968 &lt;br /&gt;Gazelle mengambil alih merk Juncker, Simplex dan Locomotive serta merk moped terkenal Berini. Selain hub (poros) depan dengan rem tromol (drum-brake front hub) bermerek Gazelle, yang masih diproduksi sampai sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gazelle juga memproduksi three-speed rear hub (poros belakang dengan tiga kecepatan) dan dengan rem teromol pada tahun enam puluhan. sesudah membuat sekitar 45.000-50.000 unit, produksi dihentikan diakhir tahun enam puluhan karena biaya yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1971 &lt;br /&gt;Gazelle diambil alih oleh Tube Investment (TI). Nama perusahaan ini sekarang adalah " Gazelle Rijwielfabriek B.V " sebuah perseroan terbatas swasta (private limited company).&lt;br /&gt;Tahun 1987 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TI menjual divisi sepedanya kepada Derby Cycles Corp. Perusahaan multinasional dengan kantor pusat di New York ini sekarang juga memiliki perusahaan pembuat sepeda Raleigh, produsen sepeda Sturmey-Archer serta merk-merk sepeda Jerman yang terkenal Kalkhoff, Rixe, Winora dan Staiger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1992 &lt;br /&gt;Gazelle merayakan ulang tahun yang ke-100. Pada tahun yang sama,produksi total komulatifnya mencapai 8 juta unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1999 &lt;br /&gt;Dibulan April, Gazelle mencapai tonggak sejarah baru : 10 juta sepeda telah dikeluarkan oleh pabrik. Gazelle sekarang mempekerjakan 550 karyawan dan menghasilkan lebih dari 300.000 sepeda dalam setahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gazelle merupakan salah satu dari sedikit perusahaan pembuat sepeda besar yang masih membuat sendiri sebagian besar rangkanya. 20% dari total produksi diekspor ke Belgia dan wilayah-wilayah Jerman yang berdekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2001 &lt;br /&gt;Derby Cycles Corporation menjual Gazelle kepada dana Investasi Belanda " Gilde Buy Out Fund ". Gazelle berkembang bagus,tetapi Derby mengalami masalah finansial yang serius. Produksi tahunannya adalah sekitar 380.000 unit, sementara pangsa pasar Gazelle mencapai sekitar tiga puluh persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, Gazelle masih menjadi pemimpin industri sepeda belanda. Sepeda Gazelle diproduksi dalam jumlah besar dan dikenal sebagai sepeda yang sangat nyaman dan tangguh Mercedes Benz-nya merk-merk sepeda Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Sepeda muatan Gazelle yang bisa dilipat (Diproduksi pertama kali tahun 1930), kotak muatannya bisa dilipat dan chasisnya juga bisa diubah. Sepeda Gazelle bisa dilacak tahun pembuatannya dengan sangat mudah. ada daftar nomor kerangka untuk periode 1916-1950, yang berasal dari arsip-arsip Gazelle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gazelle menggunakan nomor kerangka langsung sampai tahun 1974. Angka pertama mengacu kepada angka terakhir tahun pembuatan. Semenjak 1981, Gazelle menggunakan nomor kerangka dengan tujuh angka. (Sumber : Theo Matthijs and Herbert Kuner, 1999-2006)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-4928916886984341222?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/4928916886984341222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=4928916886984341222' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/4928916886984341222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/4928916886984341222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/09/sejarah-sepeda-gazelle.html' title='Sejarah Sepeda Gazelle'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Sqyp8gNwJaI/AAAAAAAAAQA/ASwIe7Gmw3o/s72-c/gazeele.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-3199258449814751725</id><published>2009-08-21T11:21:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T11:27:14.287-07:00</updated><title type='text'>Tribun Terbesar di Kalbar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/So7m6C23ddI/AAAAAAAAAPw/8dznxI5unCU/s1600-h/tribun.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 185px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/So7m6C23ddI/AAAAAAAAAPw/8dznxI5unCU/s320/tribun.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372485290373379538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Hasil LP3ES di 15 Kota Besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat survei kita tanyakan media apa yang tiap hari mereka baca. Dari yang disebutkan, Tribun Pontianak, teratas."&lt;br /&gt;Shanty Margaretha&lt;br /&gt;Supervisor LP3ES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, TRIBUN - Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), mengukuhkan Harian Tribun Pontianak sebagai koran terbesar yang paling disukai pembaca Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penetapan lembaga independen yang tak diragukan kredibilitas, akuntabilitas dan integritasnya ini, didasarkan fakta hasil riset tim LP3ES terhadap surat kabar, majalah, tabloid dan media online di 15 kota besar di Indonesia. Survei terhadap 2.971 responden ini, menempatkan Tribun Pontianak sebagai koran terbesar yang paling dibaca masyarakat Kalbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat survei, kita tanyakan kepada ibu-ibu dan pembaca di Kalbar, media apa yang tiap hari mereka baca. Dari tiga nama yang disebutkan, Tribun Pontianak, teratas dan sering disebutkan," kata Supervisor LP3ES untuk wilayah Kalimantan Barat, Shanty Margaretha kepada Tribun, Jumat (21/8). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang patut disyukuri lagi, Tribun Pontianak sebagai grup Kompas Gramedia, tampil sebagai market leader tak sampai setahun, setelah terbit untuk melayani masyarakat Kalbar, 1 Agustus 2008 lalu. Urutan kedua ditempati koran lama, Pontianak Pos dan urutan ketiga, Metro Pontianak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shanty yang tergabung dalam tim peneliti LP3ES mengungkapkan, alasan utama pembaca Kalbar adalah berita Tribun Pontianak bermutu, mengedepankan standar jurnalistik sebagaimana yang dianut harian terbesar di Indonesia Kompas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemberitaan yang ditampilkan sudah memenuhi standar. Pelatihan bagi wartawannya serta komposisi beritanya, oke," jelas Shanty. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, masyarakat pembaca Kalbar terpesona tampilan cover yang atraktif, enak dipandang, enak dibaca disertai foto-foto menarik, dan harganya terjangkau. "Cetakannya juga sangat bagus," puji Shanty, mengutip aspirasi pembaca Kalbar.&lt;br /&gt;          Kepercayaan Publik &lt;br /&gt;Agar makin memberi manfaat optimal terhadap masyarakat Kalbar, Shanty menyarankan Tribun segera me-launching Tribun Portal. Dengan berita yang real time yang bisa di-klik kapan pun dan di mana pun, peran dan pengaruh Tribun Pontianak makin impresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak, Albert Joko yang mensyukuri hasil riset lembaga independen itu, menyampaikan terimakasih yang besar kepada pembaca di Kalbar. &lt;br /&gt;"Tribun berterimakasih setinggi-tingginya kepada segenap pembaca budiman yang setia membaca Tribun tiap hari. Hasil survei LP3ES ini nyata sebagai kepercayaan masyarakat kepada Tribun. Kepercayaan ini sekaligus amanah yang wajib dijawab Tribun dengan mutu layanan produk unggul dan berpijak nilai manfaat masyarakat," tutur Albert Joko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, hasil survei LP3ES bekerjasama dengan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) ini, disampaikan Direktur Eksekutif SPS Pusat Asmono Wikan dalam bentuk executive summary berjudul, Studi Perilaku Masyarakat dalam Mengkonsumsi Media Massa dalam Rapat Kerja SPS di Hotel Millennium Jakarta, Kamis (20/8) lalu. Raker dihadiri seluruh pengurus SPS se-Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota tim riset LP3ES, Hendrajit saat mempresentasikan hasil survei menyatakan, keberadaan surat kabar di Indonesia diperkirakan mampu bertahan sampai 15 tahun ke depan, karena beberapa keunggulannya dibanding media lain, seperti televisi, radio, maupun online. "Patut disyukuri, tapi tidak boleh euforia karena ke depan tetap bisa rawan," kata Hendrajit.&lt;br /&gt;         Keunggulan Grup Kompas&lt;br /&gt;Menurut Hendrajit, surat kabar memiliki keunggulan dibanding media lain, yaitu kedalaman berita serta kearsipan yang membuat masyarakat tetap tertarik. Survei yang digelar di 15 kota, menggunakan sampel yang dipilih secara acak distratifikasi tak proposional pada masing-masing kota, seimbang secara gender dan kategori remaja dan dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metodologi survei ini, merepresentasi pendapat masyarakat pembaca media cetak di 15 kota, dalam kelompok pembaca remaja (usia 12-18 tahun) dan dewasa (di atas 18 tahun). Sampel yang diambil sebanyak 2.971 responden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner mulai 23 Juni 2009 sampai 29 Juni 2009. Tim survei LP3ES menetapkan margin of error 1,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Tribun Pontianak yang tampil sebagai koran terbesar, grup Tribun di Manado, yakni Tribun Manado, dan Banjarmasin Post di Banjarmasin, juga tampil sebagai market leader di provinsi masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di Kalbar, LP3ES menggelar survei di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Padang, Batam, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, Manado dan Denpasar. &lt;br /&gt;Di Jakarta, Harian Kompas tetap nomor satu, urutan berikutnya Pos Kota lalu Warta Kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di Batam, grup Tribun, yakni Tribun Batam menempati urutan kedua paling banyak dibaca setelah Batam Pos. Survei LP3ES juga mengungkap pertumbuhan tiras surat kabar harian, mingguan tabloid dan majalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suratkabar harian paling sering dibaca, yakni mencapai 91,1 persen, jauh meninggalkan tabloid maupun majalah bulanan. Sedangkan cakupan sebarannya, surat kabar yang paling sering dibaca adalah surat kabar lokal dengan proporsi 69,0 persen, diikuti dengan surat kabar regional 22,4 persen dan surat kabar nasional 8,6 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, di survei tersebut terungkap rubrik yang paling sering dibaca adalah kecelakaan, musibah, bencana mencapai 67,9 persen. Berikutnya, rubrik kriminal dan pendidikan yang diminati pembaca. (rzi/kompas.com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-3199258449814751725?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/3199258449814751725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=3199258449814751725' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3199258449814751725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3199258449814751725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/08/tribun-terbesar-di-kalbar.html' title='Tribun Terbesar di Kalbar'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/So7m6C23ddI/AAAAAAAAAPw/8dznxI5unCU/s72-c/tribun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-8930647794232226646</id><published>2009-08-11T07:44:00.000-07:00</published><updated>2009-08-11T07:45:50.795-07:00</updated><title type='text'>Pertemuan</title><content type='html'>Oleh: Hasyim Ashari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama aku tertahan untuk tidak pulang ke tanah kelahiranku, Bekasi. Meski sebenarnya, hasrat untuk bertemu ayah, ibu dan ketiga adikku membuat dadaku penuh sesak oleh rindu. Belum lagi kenangan masa kecil yang tercecer pada jalan setapak, melekat pada pematang sawah, pada angin dan gerai tawa penduduk desa yang renyah, segar dalam ingatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah tidak pernah lelah memanggilku kembali. Untuk sekedar singgah atau bahkan mencumbui mereka sepanjang usia tidurku. Tentu saja, karena seperti aku menyimpannya, mereka juga memiliki lembaran indah bersamaku. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setiap saat, setiap nafas yang kuhela dan pandangan yang kubuang. Namun kesibukanku sebagai wartawan, nyaris tidak memberikan ruang yang cukup untuk pulang. Kecuali kemarin, ketika pimpinan memintaku mengikuti lokakarya Peace Jurnalisme di Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peace Jurnalism adalah sebuah pendekatan yang menempatkan jurnalis sebagai juru damai di daerah konflik. Aku tidak punya kata untuk menolak. Karena lokakarya tersebut, sangat berarti untuk menopang tugas-tugas peliputanku kelak. Apalagi Pontianak dikenal sebagai daerah yang memiliki potensi konflik cukup tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh kali kerusuhan antar etnis. Ratusan nyawa tak berdosa terkubur sia-sia. Dan, perih yang memilukan itu, nyaris menganga setiap tahun. Lebih dari itu, aku memang memerlukan jeda untuk membebaskan diri dari aura andrenalin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas peliputan dan deadline yang tidak kenal kompromi, telah menyisakan guratan didahiku, menyerupai alur anak-anak Sungai Kapuas. Aku masih dikerubung keraguan, sesaat sebelum pesawat yang membawaku dari Surabaya,  landing di Cengkareng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Singgah ke Bekasi, atau langsung ke Pontianak" gumamku. Kulirik jam di lobi bandara, pukul 15.30 WIB. Sementara pesawat ke Pontianak take off jam lima sore. Aku menuju cafe, kemudian memesan secangkir kopi hangat dan Dunkin Donnuts. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekasi, kota itu selalu membangkitkan kenangan pada kekasihku. Tujuh tahun yang lalu. Ketika kebesaran cinta melebihi tubuhku yang ringkih. Sebelum keputusan menyakitkan lahir, dibidani oleh keadaan yang melunjak. Sebelum cinta menyerah oleh dua keinginan yang berlainan. Dan pelukan hangat tidak lagi mampu menyatukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun aku tidak pernah merasa ditinggalkan, karena ku tahu ia tidak sungguh-sungguh ingin melakukannya. Aku tidak pernah berhenti mencintainya. Pribadinya selalu kukagumi dan tak mampu kutolak, hadir setiap saat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan hingga aku menjauh ke Pontianak, bahkan jika dia sedang bercumbu dengan laki-laki lain sekalipun. Hatiku mengingatnya, karena itu dia selalu hidup. Tidak pernah jauh apalagi menghilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, namanya menjadi bunga yang menerbarkan aroma wewangian putri-putri khayangan, tumbuh subur di lubuk hatiku. Aku merasakannya. Dia membuatku mabuk kepayang. Jika aku singgah, kuasakah aku menolak perasaan seorang laki-laki? Haruskah terkoyak kembali luka lama yang merahnya membakar seluruh emosiku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum setengah kopi kureguk, ketika langkah kaki gemeretak mendekat. Tapi aku terlalu lelah untuk terusik karenanya. Sampai kudengar suara yang nadanya dawai nirwana dan nyanyiannya adalah senandung dewa-dewi. Ketika mereka rindu redam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Darma? Hei..sedang apa di sini?," suara itu menohok tepat dijantungku.  Aku rasa dadaku gemetar. Gemetar oleh pertemuan yang sudah lama kuhindari. Gemetar seperti terbangun dari mimpi menakutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tidak bermimpi, sama sekali tidak. Laras benar-benar berdiri di sampingku. Menemukanku bulat-bulat ketika aku menjaga jarak. Meski aku sebenarnya tidak ingin menghindar. Keadaan yang memaksaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata Tuhan selalu tahu, kapan memisahkan dan mempertemukan. Tiba-tiba aku seperti lahir kembali, setelah perasaan cemas membunuh keberanianku pelan-pelan.&lt;br /&gt;"Laras !!. A..aku menunggu pesawat ke Pontianak. Laras sendiri sedang apa?,"&lt;br /&gt;"Laras kan memang sering ke Bandara. Biasa antar anak-anak berangkat ke Singapura. Ini juga baru selesai check in,"&lt;br /&gt;"Kamu...sudah punya anak? Berapa?" tanyaku penuh selidik. Melirik cincin di jari manisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Becanda kamu. Anak-anak itu maksudnya Tenaga Kerja Wanita. Dua tahun terakhir, Laras bekerja di sebuah PJTKI sebagai tutor bahasa inggris dan mengurusi keberangkatan. Kantornya di di Belakang Terminal Kampung Rambutan. Jadi, hampir setiap hari Laras ke bandara. Ngomong-ngomong tidak singgah ke Bekasi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenernya, aku ingin sekali. Tapi ..."&lt;br /&gt;"Takut bertemu Laras...!," dia selalu begitu. Selalu bisa membaca isi kepalaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan, tatapan itu masih bijak. Senyumnya mutiara dan wajahnya seteduh cemara. Kecuali kejelitaannya yang semakin dewasa, semua masih belia seperti tujuh tahun lalu, ketika aku melumatnya dengan cemas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakjuban itu dan pesona kesederhanaanya adalah sisi lain keajaiban yang kutemukan dari diri seorang perempuan. Tidak, emosiku harus kutekan sekelebat kilat di tengah prahara. Edan! &lt;br /&gt;"Laras. Maaf aku harus chek in. Sebentar lagi pesawatku berangkat. Senang bertemu denganmu," aku tergopoh menyabet ransel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku berkecamuk. Rindu dan perih menjadi satu. Walau sebenarnya, aku ingin menatap wajahnya sepanjang hari ini. Jika saja, dia bukan milik orang lain dan tidak di tengah keramaian, aku pasti sudah memeluknya, hingga tulang belulangnya luruh dan bersatu dengan kulit serta dagingku. Dia lantas menghidupi separuh sisa hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dar..tunggu sebentar. Laras ingin menjelaskan semuanya," &lt;br /&gt;"Simpan saja penjelasan itu. Aku sudah tahu semua. Aku memakluminya, karena itu aku tidak pernah menaruh sakit hati, apalagi dendam. Waktu yang mengajariku demikian. Aku sungguh tak ingin mengusik bahagiamu. Sudahlah..!" aku bergegas.  Meninggalkan Laras yang berlari kecil memburu langkahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dar..tunggu," Laras meraih lenganku. Jemarinya dingin, bergetar.&lt;br /&gt;"Kamu yang mengajari Laras untuk jujur dan mendengarkan apa kata hati. Laras tahu perasaan Darma, jadi jangan membohongi diri sendiri,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Laras tahu apa tentang perasaanku. Mengapa baru sekarang. Bagaimana dengan tujuh tahun yang lalu. Mengapa Laras menutup hati, hingga seluruh pengorbanan, pengertian, dan kesetiaan yang kutanam, tidak mampu membukanya,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak bolehkah orang membuat satu saja pilihan keliru dalam hidupnya. Sementara, kekeliruan itu yang kemudian mengajarinya bagaimana menjadi dewasa. Karena itulah, Laras ingin menebusnya Dar. Sekarang.! Har ini.! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terperanjat. Menatap bibirnya yang bergetar. "Laras kuatir besok Laras sudah benar-benar menjadi milik orang lain dan kita tidak punya kesempatan lagi memperbaikinya. Jika tidak ingin memulainya lagi, maka akhirilah ini dengan indah. Pikirkanlah. Sehari saja. Laras tidak minta apa-apa, hanya seluruh waktu dalam satu harimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya basah. Aku tahu Laras, dia tidak pernah main-main. Hatiku terenyuh. Tidak pantas memang aku bersama tunangan orang lain, meskipun dia mantan kekasihku. Lebih dari itu, karena akupun milik juwita yang sedang menunggu. Yang digenggamannya kecemasan dan harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku masih mencintai Laras. Bahkan, kadarnya tidak berkurang. Malah bertambah sayangku. Jarak dan waktu, telah memupuknya menjadi kasih. Sore itu aku membatalkan penerbangan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meraih jemari Laras dan menuntunnya ke dalam bus kota, ketika senja jatuh di Jakarta. Sinarnya keemasan dan warnanya kuning gading berebut ruang dengan pekat di ufuk timur. Gedung-gedung pencakar langit, takzim bertengadah menyambut malam, sebelum kerlip temaram neon menambah kemegahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja ini, keindahannya masih seperti tujuh tahun yang lalu. Ketika kami berdekapan dalam seragam abu-abu. Sejak saat itu, kami selalu menunggu datangnya senja. Dimanapun ia menjatuhkan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Darma..satu senja saja sudah membekukan seluruh cinta yang Laras bina selama empat tahun bersama Doni. Laras semakin yakin, kalau cinta sejati itu benar-benar ada. Laras juga percaya bahwa setiap manusia memiliki pasangan jiwanya. Laras tahu cinta sejati tidak harus mengorbankan cinta orang lain. Sementara pasangan jiwa, kebijaksanaannya melebihi simbol-simbol ikatan perkawinan. Laras boleh jadi melahirkan lusinan keturunan laki-laki lain, tapi kenyataan tidak terbantah, kalau kamulah sebelah jiwa Laras," &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Laras berpacu dengan bus yang melesat menyisir belantara Jakarta menuju timur. Dia menyandarkan kepalanya dibahuku. Sementara aku melepaskan bebanku pada kelembutan sikapnya, pada harum dan kehangatan kulitnya dan pada rambutnya yang bergelombang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbicara penuh makna, tanpa kata, tanpa penjelasan, tanpa pertanyaan. Kami sudah mengerti tanpa harus memberi pengertian. Sehingga tidak ada lagi yang harus diungkapkan. Hanya nafas cinta yang memburu. Seperti tujuh tahun yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang senja itu, aku tidak hanya memaafkan Laras, tapi juga mengampuni keadaan. Dan bila saja Tuhan memanggilku saat ini, aku ingin diserakan bersama gugusan gemintang. Bersama cakrawala menjadi pandu bagi seluruh sejoli yang sedang kasmaran, di bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwita, aku tahu ini penghianatan atas percayamu. Tak kusangsikan kau adalah kekasihku, istriku, hidupku selamanya. Tapi Laras, jiwanya sudah menikahi jiwaku, jauh sebelum kita bertemu. Aku tidak mampu menolak, meski untuk satu hari. Setelah itu, akan kuserahkan semua milikku di bawah panji-panji kesetiaanmu. Maaf!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 4 Maret 2003 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-8930647794232226646?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/8930647794232226646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=8930647794232226646' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8930647794232226646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8930647794232226646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/08/pertemuan.html' title='Pertemuan'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-7832265523864496963</id><published>2009-08-07T01:19:00.000-07:00</published><updated>2009-08-07T08:54:19.813-07:00</updated><title type='text'>Motor Pertama di Pulau Jawa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Snvk5uyBrvI/AAAAAAAAAPg/o7HnABvfos8/s1600-h/hilderbrand.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 255px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Snvk5uyBrvI/AAAAAAAAAPg/o7HnABvfos8/s320/hilderbrand.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367135061403610866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Si Kereta Setan Hildebrand Und Wolfmuller&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta Setan. Begitu orang menyebut kendaraan bermotor pertama di Jawa yang tidak ditarik oleh kuda atau hewan lainnya. Pokoknya, "kereta setan" yang maksudnya sepeda motor itu bikin bengong orang yang melihat "kereta setan" ini melintas. Saking terkesima dengan sepeda yang bisa lari sendiri dengan kencang maka kendaraan itu pun diberi nama "kereta setan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata si kereta setan itu adalah kendaraan bermotor pertama di Jawa. Jadi, bukan mobil yang hadir pertama di Jawa, tapi sepeda motor. Orang pertama yang memiliki kereta setan ini adalah seorang masinis pabrik gula di Umbul, dekat Probolinggo. Namanya John C Potter, ia bukanlah orang Probolinggo tapi orang Inggris.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Potter, demikian disebutkan oleh JJ de Vries dalam Jaarboek van Batavia en Omstreken, Batavia, sampai-sampai membuat Hildebrand dan Wolfmuller - pemilik pabrik sekaligus penemu sepeda motor - kepayahan mencari letak kota Probolinggo lantaran mereka harus mengirimkan pesanan sepeda motor, atas nama Potter, dari Jerman ke pelosok Jawa Timur kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hildebrand dan Wolfmuller tercatat sebagai penemu sepeda motor pertama di dunia pada tahun 1893. Nama mereka berdua menjadi nama pabrik sepeda motor, Hildebrand Und Wolfmuller. JJ de Vries menulis, bahkan bagi orang di masa sekitaran abad 20, sepeda motor temuan Hildebrand dan Wolfmuller dinilai ajaib. Bisa dibayangkan bagaimana orang di masa lampau ternganga dengan sepeda motor yang berjalan tanpa rantai, kopling, magnet, bahkan tanpa baterai dan seutas kabel pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeda motor ini hanya menggunakan dua silinder horisontal dan dua tabung yang dipanaskan dengan bahan bakar naphta (minyak bumi berwarna kuning). Untuk menjalankannya perlu waktu 20 menit. Bangkai motor ini ditemukan di tahun 1932. Tercecer di bengkel Potter. Bangkai ini kemudian disusun kembali sebagai barang antik  dan ditempatkan di museum lalu lintas Surabaya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Bicara soal sepeda motor, akhir pekan ini, 8 dan 9 Agustus, Motor Besar Club (MBC) DKI Jakarta akan menggelar acara di kawasan Kota Tua yang dipusatkan di Taman Fatahillah termasuk Munas MBC di Museum Bank Mandiri. Acara bertema "Batavia Bike Week" ini digelar untuk pertama kali sebagai kepedulian kelompok ini dalam upaya memperkenalkan kawasan bersejarah di Jakarta sambil menyalurkan hobi terhadap motor besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintas Jawa&lt;br /&gt;Tidak mau kalah dengan pengendara mobil, pengendara sepeda motor pun berupaya membukukan rekor perjalanan lintas Jawa dari Batavia (Jakarta) sampai Soerabaja (Surabaya) yang berjarak sekitar 850 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 7 Mei 1917, Gerrit de Raadt dengan mengendarai sepeda motor Reading Standard membukukan rekor perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dalam waktu 20 jam dan 45 menit. Sepuluh hari setelahnya, 16 Mei 1917, Frits Sluijmers dan Wim Wygchel yang secara bergantian mengendarai sepeda motor Excelsior memperbaiki rekor yang dibukukan Gerrit de Raadt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mencatat waktu 20 jam dan 24 menit, dengan kecepatan rata-rata 42 kilometer per jam.&lt;br /&gt;Rekor itu tidak bertahan lama. Sembilan hari sesudahnya, 24 Mei 1917, Goddy Younge dengan sepeda motor Harley Davidson membukukan rekor baru dengan catatan waktu 17 jam dan 37 menit, dengan kecepatan rata-rata 48 kilometer per jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekor itu sempat bertahan selama lima bulan sebelum dipecahkan oleh Barend ten Dam yang mengendarai sepeda motor Indian dalam waktu 15 jam dan 37 menit pada tanggal 18 September 1917, dengan kecepatan rata-rata 52 kilometer per jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat rekornya dipecahkan oleh Barend ten Dam, enam hari sesudahnya, 24 September 1917, Goddy Younge yang berasal dari Semarang kembali mengukir rekor baru dengan catatan waktu 14 jam dan 11 menit, dan kecepatan sepeda motor Harley Davidson yang dikendarainya rata-rata 60 kilometer per jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal tahun 1960-an, mulai masuk pula skuter Vespa, yang disusul dengan skuter Lambretta pada akhir tahun 1960-an. Pada masa itu, masuk pula sepeda motor asal Jepang, Suzuki, Honda, Yamaha, dan belakangan juga Kawasaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perjalanan waktu, sepeda motor asal Jepang mendominasi pasar sepeda motor di negeri ini. Urutan teratas ditempati oleh Honda, diikuti oleh Yamaha di tempat kedua dan Suzuki di tempat ketiga. (warta kota/kompas gramedia). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-7832265523864496963?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/7832265523864496963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=7832265523864496963' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7832265523864496963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7832265523864496963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/08/motor-pertama-di-pulau-jawa.html' title='Motor Pertama di Pulau Jawa'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Snvk5uyBrvI/AAAAAAAAAPg/o7HnABvfos8/s72-c/hilderbrand.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-2890716739935109239</id><published>2009-08-06T10:24:00.000-07:00</published><updated>2009-08-07T00:46:17.486-07:00</updated><title type='text'>Mbah Surip Genjot Sepeda Ontel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SnsStD85rFI/AAAAAAAAAPY/tNmpRIhLBdY/s1600-h/mbah+suripppp.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 203px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SnsStD85rFI/AAAAAAAAAPY/tNmpRIhLBdY/s320/mbah+suripppp.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366903946306235474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Dari Mojokerto ke Jakarta&lt;br /&gt;Lelaki nyentrik, unik, dan sederhana itu menjejakkan kaki di Jakarta pada 1985. Tujuannya bukan untuk menjadi seniman, melainkan bertemu dengan petinju idolanya, Elias Pical, yang saat itu sedang naik daun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berambisi mengalahkan Elias Pical dalam adu panco. Lelaki kelahiran 1949 itu, yakin bakal menaklukkan sangan juara dunia. Apalagi, di kampungnya, Mojokerto, tidak ada yang bisa melawan Mbah Surip tanding panco. Ia kemudian bulat menetapkan hati ke Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menyangka, kalau Mbah Surip tidak memilih menggunakan angkutan umum. Ia menggoes sepeda ontel dari Mojokerto ke ibu kota negara. Tidak tanggung-tanggung, ia tempuh perjalanan dalam waktu empat hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Jakarta, Mbah Surip bingung karena tak punya tempat tinggal di Jakarta akhirnya ia pun melangkahkan kakinya ke Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ), Bulungan. Kepada seorang temannya, Andi, ia minta diantar ke rumah Elias Pical. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi menyanggupi, dengan persyaratan Mbah Surip harus mengalahkan orang-orang KPJ lebih dulu. Semua orang di KPJ kalah kecuali Andi.  Walau sudah mencoba berulang-ulang, Mbah Surip tetap saja kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian bertanding panco dengan Elias Pical pun tidak pernah terjadi. Sebab Mbah Surip sendiri sudah asik di KPJ. Tekadnya yang luar biasa untuk sruvive membuat lelaki &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob Boreno, pelukis kenamaan di Kaltim menuturkan ia bertemu Mbah Surip tahun 1986. Mereka sama-sama berprofesi sebagai seniman di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (Gerajas) di Jl Bulungan, Jakarta Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu, Mbah Surip ke mana-mana selalu pakai sepeda ontel. Sepedanya suka saya umpetin (sembunyikan, Red.). Kalau ban sepedanya bocor, minta uang ke saya untuk menambal," ujar Om Bob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di matanya, Mbah Surip memiliki sifat yang sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya. "Kalau dia dapat rejeki habis ngamen, dan dia mau makan, dia tanya dulu teman-teman kiri kanan siapa yang belum makan, dia mau ngajak makan, dia yang bayar," papar Om Bob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan tak kenal menyerah, dedikasi dan kesetiaan kepada teman, mengantarkan Mbah Surip yang sederhana ke jenjang ketenaran. Orang mengenalnya di mana-mana, anak-anak, remaja, orangtua, kerap melantunkan Tak Gendong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti popularitas Mbah Surip, selain jadi ikon baru rumah-rumah produksi dan stasiun televisi, ring-back tone (RBT) Tak Gendong mampu merebut hati 130 ribu pelanggan Indosat dan XL. Ratusan ribu pelanggan itu mengaktivasi RBT Tak Gendong per Februari sampai Juni 2009.&lt;br /&gt;Dari laris-manisnya RBT ini, Mbah Surip ketiban bagian Rp 4,5 miliar dari total pemasukan Rp 9 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, lihatlah ia sama sekali tidak berubah. Corak kehidupan jelata, bersahaja, dan selalu tertawa, tak ubahnya ekspresi seorang manusia miskin yang jujur dalam menjalani kehidupannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah saat diikuti reporter Viva News, Mbah Surip makan di sebuah warteg.  Ada pengemis dan pengamen yang mendekat. Ia buru-buru merogoh dua lembar Rp 50 ribu dari sakunya. Uang yang masih dalam amplop itu, adalah honornya jadi bintang tamu di Ceriwis di TRANS TV .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Bangsa Indonesia kehilangan seniman unik, nyentrik dan bertalenta tinggi ala Mbah Surip, Pelantun lagu Tak Gendong ini meninggal mendadak sekitar pukul 11.30 WIB, di rumah Mamiek Srimulat di Kampung Makassar, Jakarta Timur. &lt;br /&gt;Selamat jalan Mbah..i love you full.!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-2890716739935109239?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/2890716739935109239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=2890716739935109239' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2890716739935109239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2890716739935109239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/08/mbak-surip-genjot-sepeda-ontel.html' title='Mbah Surip Genjot Sepeda Ontel'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SnsStD85rFI/AAAAAAAAAPY/tNmpRIhLBdY/s72-c/mbah+suripppp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-460134261848086102</id><published>2009-07-27T00:58:00.000-07:00</published><updated>2009-07-30T07:17:27.026-07:00</updated><title type='text'>Dursdley Pedersen?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SnGrZ2kDuoI/AAAAAAAAAPQ/FFl3DsWL_fs/s1600-h/SepedaTua-satu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SnGrZ2kDuoI/AAAAAAAAAPQ/FFl3DsWL_fs/s320/SepedaTua-satu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364257091806804610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SnGrGSJ86MI/AAAAAAAAAPI/TRY93x80HEc/s1600-h/pedersen_4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 262px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SnGrGSJ86MI/AAAAAAAAAPI/TRY93x80HEc/s320/pedersen_4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364256755616114882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan gambar sepeda ini di Antara Foto.&lt;br /&gt;Sepeda ini satu di antara peserta pameran di Jawa Timur..&lt;br /&gt;Adakah rekan-rekan yang tahu..sepeda jenis apa ini? Sebab emblemnya gak kelihatan.&lt;br /&gt;Selain konstruksi rangkanya yang unik..penggerak roda juga menggunakan Gardan.&lt;br /&gt;Saya hanya menemukan kesamaan bentuk rangka sepeda ini dengan Merk Dursdley Pedersen.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, Dursdley rata-rata memakai rantai sebagai penggerak roda...&lt;br /&gt;Sungguh beruntung yang punya sepeda ini. Ternyata Indonesia memang kaya raya dengan sepeda antik...&lt;br /&gt;Untuk lengkapnya bisa dilihat di www.dursley-pedersen.net&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-460134261848086102?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/460134261848086102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=460134261848086102' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/460134261848086102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/460134261848086102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/07/duredley-pedersen.html' title='Dursdley Pedersen?'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SnGrZ2kDuoI/AAAAAAAAAPQ/FFl3DsWL_fs/s72-c/SepedaTua-satu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-2808140372183062077</id><published>2009-05-31T21:53:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T21:56:55.354-07:00</updated><title type='text'>Lahan Aloevera Menyusut Drastis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SiNfh_WvGdI/AAAAAAAAANg/wgH9OkBJkGs/s1600-h/lidah+buaya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 252px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SiNfh_WvGdI/AAAAAAAAANg/wgH9OkBJkGs/s320/lidah+buaya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342218620538657234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Petani Sulit Pasarkan Hasil Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PONTIANAK, TRIBUN - Asosiasi Petani Aloevera Kalbar, menyambut baik rencana Dinas Perdagangan dan Industri Kalbar, yang mencanangkan program One Village One Product (Ovop), dengan menjadikan aloevera atau lidah buaya sebagai komoditas unggulan Kota Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saat ini banyak petani yang sudah beralih menanam pepaya Hawai, karena kesulitan menjual aloevera.  "Jumlah petani dan areal tanam Aloevera menyusut drastis. Jika pada 2001-2005 ada sekitar 100 hektare, dalam empat tahun terakhir berkurang menjadi sekitar 50 hektare saja. Petani sulit menjual hasil panen," kata Ketua Asosiasi Petani Aloevera Kalbar, Tjin Djie Sen, kepada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tribun&lt;/span&gt;, Minggu (31/5).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Djie Sen menuturkan, pabrik pengolahan lidah buaya, PT Niramas di Jl 28 Oktober yang menjadi harapan para petani di Pontianak Utara, ternyata tidak maksimal menyerap hasil panen. Bahkan, sejak tiga bulan terakhir, mereka tidak lagi meminta pasokan dari petani. "Kalau ada permintaan dari luar negeri, baru mereka pesan. Kalau tidak, petani hanya menjualnya kepada home industri di Pontianak. tentu saja permintaanya jauh lebih kecil," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djie Sen menjelaskan PT Niramas, biasanya sekali order ke petani bisa mencapai 8 ton lidah buaya. Namun, kalau ke home industri paling besar hanya 200 kilogram per hari. Jika ke kios-kios di Jl Budi Utomo paling hanya 100 kilogram per hari. Belum lagi, banyak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;home industry &lt;/span&gt;yang memiliki kebun lidah buaya sendiri. "Kalau persoalan pemasaran ini tidak segera dipecahkan, saya yakin tidak ada lagi yang menanam lidah buaya," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, bertani lidah buaya sebenarnya sangat menguntungkan. Untuk satu hektare lahan produktif bisa menghasilkan 3 ton per sekali panen. Lidah buaya bisa dipanen dua kali sepekan. Artinya, jika harga per koligram Rp 800, minimal petani  bisa mengantongi hampir Rp 5 juta per pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Persoalannya sekarang, siapa yang mau beli. Tanaman sudah siap panen, pembelinya terbatas. Terpaksa kita gilir biar semua kebagian. Sementara petani yang masuk asosiasi ada 58 orang," kata Djie Sen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, banyak petani yang kemudian beralih menanam pepaya Hawai karena dianggap lebih mudah dijual. Bahkan, tanaman lidah buaya yang sudah ada dicabut karena menanggap lidah buaya tidak lagi menguntungkan. Lahan yang adapun jadi sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aliong, petani lidah buaya di Jl Budi Utomo, Sungai Selamat, menjual 14 ribu batang lidah buaya miliknya seharga Rp 24 juta. Padahal, per pekan untuk lidah buaya sebanyak itu, bisa menghasilkan 6 ton per sekali panen. Ingat, lidah buaya itu dipanen seumur hidup. Kemungkinan Aliong beralih ke pepaya," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asosiasi saat ini sedang memikirkan bagaimana bisa mengekspor pelepah lidah buaya ke Singapura dan Kuala Lumpur, Malaysia. Langkah itu sudah pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Sekali kirim msatu peti kemas bisa 20 ton pelepah lidah buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita berharap pemerintah campur tangan untuk mencarikan pasar lidah buaya. Tidak hanya untuk Pontianak, namun juga untuk petani di Rasau Jaya. Kita sering ikut pameran, namun tidak ada tindaklanjut. Sepertinya usaha kami sia-sia," tegas Djie Sen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani aloevera di Parit Pangeran Dalam, Jiman Saputro, hanya tersenyum ketika Tribun bertanya tentang niat pemerintah menjadikan aloevera sebagai produk unggulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setahun lalu, Wali Kota Buchary A Rachman mengatakan aloevera jadi maskot Kota Pontianak. Saya bertanya, bagaimana dengan petaninya Pak. Kami kesulitan memasarkannya. Kalau saja PT Niramas rutin mengambil aloevera petani, pemerintah tidak perlu lagi campur tangan. Petani sudah terbantu. Sekarang, kenyataannya bagaimana. Banyak petani yang beralih menaman pepaya," papar Jiman yang memiliki 3.000 batang pohon lidah buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiman menjual hasil panennya kepada home industri yang ada di Pontianak. Namun itupun permintaannya sangat terbatas, karena hanya sebulan dua kali. Sekali kirim sekitar 200 kilogram atau setara Rp 1,6 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pontianak Utara, Bambang Irawan, membenarkan&lt;br /&gt;keluhan-keluhan tersebut. "Pupuk misalnya, kita bisa distribusikan sekitar 28 ton per bulan dari 33 ton pupuk bersubsidi yang dialokasikan. Tidak ada masalah krusial lain kecuali pemasaran. Yang juga patut jadi perhatian adalah dukungan infrastruktur," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akses Jalan Rusak Parah&lt;br /&gt;Djie Sen dan Jiman, menyoroti kondisi jalan di sentra lidah buaya yang saat ini rusak parah. Penetapan Pontianak Utara sebagai sentra aloevera ternyata tidak dibarengi dengan infrastruktur yang memadai. "Bagaimana kita bisa mengangkut lidah buaya, pepaya, dan hasil pertanian lainnya jika jalan rusak begini," kata Djie Sen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan yang rusak tersebut menjadi urat nadi para petani di kawasan Parit Bugis dan Parit Jawa. masing-masing Jl Kebangkitan Nasional yang rusak sekitar 4 kilometer, Jl Parit Pangeran Dalam rusak sepanjang 2 kilometer, Jl 28 Oktober rusak sejauh 1 kilometer dan Jl Padat Karya juga rusak sekitar setengah kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harus hati-hati. Kalau tidak, pepaya bonyok sebelum tiba di pasar. Jl Parit Pangeran Dalam ini, terakhir dibangun pada 2005. Karena pengerjaanya terkesan asal-asalan, sekarang hancur," ujar Jiman, Ketua RW28, yang tinggal di Parit Pangeran Dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantauan Tribun, di empat jalan utama itu, banyak lubang berdiameter setengah meter dengan kedalaman sekitar 15 centimeter. Lubang-lubang itu hampir merata dan berjarak sekitar 20 centimeter. Bahkan, di Jl Parit Pengeran Dalam dua gorong-gorong amblas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djie Sen dan Jiman menegaskan, sudah berkali-kali mengusulkan di musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) di tingkat desa, namun sampai saat ini belum ada realisasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Fraksi Golkar, DPRD Kota Pontianak, Firdaus Zar'in, mengaku beberapa kali pernah mendapat keluhan warga terkait kerusakan jalan di kawasan tersebut. "Keluhan itu sudah lama. Kita&lt;br /&gt;juga prihatin. Apalagi kawasan itu merupakan sentra aloevera. Kalau tidak didukung dengan infrastruktur memadai, bagaimana bis aproduktif," kata Firdaus Zar'in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum cek masalah ini ke Dinas Pekerjaan Umum Kota Pontianak. Sebab masalahnya Jl Kebangkitan Nasional masuk jalan provinsi. Kewenangannya ada di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi. Tapi, ia meminta agar kedua lembaga itu bersinergi untuk memperbaiki jalan yang rusak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya akan mendorong teman-teman di Fraksi Golkar untuk memperjuangkan anggaran bagi perbaikan jalan Kebangkitan Nasional pada anggaran biaya tambahan (ABT), Juli, tahun ini. Kami siap memperjuangkannya. Ini juga sebagai kado terakhir," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perluas publikasi&lt;br /&gt;Kesibukan terlihat di Isun Vera, sebuah home industry pengolahan lidah buaya di Komplek Bumi Indah Khatulistiwa, Blok A Nomor 3, Siantan Hulu. Fatmah (17) dan Sari (17),  mengemas teh lidah buaya  ke dalam bukus-bukus kecil. Sementara Ira (21), mengepak jelly lidah buaya di sebelahnya. Mereka adalah tiga dari 15 karyawan yang bekerja di Isun Vera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kerjanya dibagi-bagi. Ada yang membuat teh, ada yang membuat dodol, jelly, selai, dan kerupuk. Sekarang kita juga buat tas dan dompet dari kulit lidah buaya. Untuk bahan baku kita beli dari petani 200 kilogram per hari. Tapi, kita juga punya kebun 2 hektare," kata pemilik Isun Vera, Sunani, kepada Tribun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan pekerjanya adalah mereka yang hanya tamatan sekolah dasar. Ada juga yang tamatan SMA. Per bulan Sunani menggaji mereka nilai nilai yang disesuaikan dengan masa kerja dan beban pekerjaan. "Gajinya antara Rp 350 ribu-1,2 juta per bulan. Ya, kita merasa bangga bisa menyediakan lapangan pekerjaan untuk warga sekitar," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan berkacamata ini menuturkan permintaan terhadap produk olahan lidah buaya cukup besar. Apalagi setelah beberapa stasiun televisi nasional meliput tanaman dan produk lidah buaya. Kini, ia bisa memenuhi permintaan dari Jakarta, Banjarmasin, Pangkalanbun, Yogyakarta, dan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang paling laris adalah teh lidah buaya dan jelly. Mereka rutin memesan minimal sebulan sekali. Per bulan omzetnya bisa mencapai Rp 10 juta," papar Sunani yang berharap publikasi dan promosi produk olahan lidah buaya diperluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kualitas produk, Sunani mengaku sudah mematenkan merek dagangnya di Jakarta sejak dua tahun lalu. Sertifikatnya akan keluar bulan Agustus mendatang. Sementara untuk sertifikasi halal sedang dalam proses dan gratis. (hsm)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-2808140372183062077?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/2808140372183062077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=2808140372183062077' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2808140372183062077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2808140372183062077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/05/lahan-aloevera-menyusut-drastis.html' title='Lahan Aloevera Menyusut Drastis'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SiNfh_WvGdI/AAAAAAAAANg/wgH9OkBJkGs/s72-c/lidah+buaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-7134853235200317623</id><published>2009-05-29T09:05:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T09:09:46.858-07:00</updated><title type='text'>Bangkai Simplex Cycloid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SiAImvNaHII/AAAAAAAAANY/EzmPED2R3xo/s1600-h/simplex+euy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SiAImvNaHII/AAAAAAAAANY/EzmPED2R3xo/s320/simplex+euy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341278619662163074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau rezeki emang gak kemana. Kagak bakal tertukar. Tapi, kali ini saya yang kurang beruntung. Saya yang berharap bisa menemukan Simplex, eh..rupanya rekan saya, Atel, yang ketiban durian runtuh. Tapi tak mengapa, saya ikut merasa senang. Sebab tuh Simplex gak jatuh ke tangan yang keliru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atel menelpon saya sekitar pukul 23.00 WIB, belum lama ini. Waktu itu, saya sedang nongkrong di sebuah kafe di bilangan Jl Gajahmada Pontianak. Sepulang kerja, saya dan beberapa teman memang ngumpul di sana. Bicara tentang ini itu, termasuk tentang sepeda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Bang, saya baru dapat Simplex nih. Cuman, bentuk setangnya agak aneh. Bener apa enggak?" tanya Atel di ujung telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian memintanya menjelaskan, anehnya di mana. Rupanya, posisi handle rem yang konstruksinya masuk ke batang setang. Tidak seperti sepeda tua biasa yang posisi handlenya ada di luar. Saya langsung teringat referensi yang pernah saya baca di Simplex Forum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu Simplex Cycloid. Tapi, tidak tahu apakah Neo atau model lainnya," &lt;br /&gt;Setelah membaca komentarnya Andyt, ternyata sepeda tersebut dekat ke Simplex Cycloid Elite. Satu di antaranya adalah konstruksi setangnya yang masuk. Andyt mengatakan, banyak Simplex yang menggunakan setir (Setang) Simplex model biasa, misalnya Cycloide Standaart, Cycloide Radium, dan Cycloide Model Extra. Di Surabaya saja, pasaran setir yang model masuk sekitar Rp 400-500 ribu perunit dan tergantung kondisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ente gak mau, biar gua yang bayar Tel,"&lt;br /&gt;Atel tertawa di ujung teleponnya."Ha ha ha ha," &lt;br /&gt;Saya langsung menyarankan Atel, untuk segera membayar si Simplex. Bukan apa-apa, kalau kelamaan, takut pemiliknya keburu menyadari kalau sepeda yang tidak dipakainya lagi itu tergolong varian langka. Saya ingat betul komentar Bang Lai di Simplex Forum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cycloide sekarang banyak dicari. Entah karena konstruksi yang enak, ataukah lagi ikut-ikutan demam memburu Cycloide. "Barangnya langka banget. Jadi makin sulit nemunya. Lima tahun lalu saja, ketika belum banyak orang tahu cycloide sudah sulit nyarinya. Apalagi sekarang," kata Bang Lai.&lt;br /&gt;Rekan Bang Lai, mendapat Cycloide seri 2 cuman dihargai Rp 1,2 juta! "Itu harta karun kata saya," tegas Bang Lai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku heran banget haree genee dapet Cycloide bagus, cuman segitu. Ia bahkan bersloroh, jangankan Rp 1,2  juta, keluar Rp 5,1juta pun banyak orang berani demi si Cycloid.&lt;br /&gt;Andyt menambahkan, Simplex Cycloide adalah buruan utama penggemar sepeda kuno di Indonesia dua tahun terakhir. Sehingga jenis ini menjadi sangat..sangat..langka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan yang muncul sudah gado-gado (onderdil tidak semua asli dan dicampur dengan opsi merek sepeda lain), dan ada pula yang palsu (dari frame Hima, atau Valuas atau merek kurang terkenal lainnya) dan celakanya dijual dengan harga mahal sebagai Cycloide asli. Pembeli yang kurang jeli hanya menyesal dikemudian hari. Jadi sebaiknya hati-hati. Satu tromol Cycloide-nya saja dengan kondisi 80 persen laku Rp 1 juta lebih. Busyet dah!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atel kembali menuturkan, beberapa ciri yang menjadi ciri khas Cycloid Elite, sudah gak pada kelihatan kecuali setangnya. Tidak hanya itu, nomer serinya juga diawali dengan angka 7, bukan 1 atau 2. Namun, ternyata ada juga Simplex Cycloid yang seri 7. Tapi, saya tidak tahu kapan tanggal pembuatannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah komentar menyebut tahun pembuatan Simplex Cycloid, cenderung tahun tua kira-kira 1935 ke bawah. Namun ada juga yang mulai dibuat tahun 1950-1955. Untuk lebih jelas tentang Simplex bisa kunjungi http://www.rijwiel.net/artsim_n.htm, tentang penomoran produksi Simplex. Hmm..ternyata banyak harta karun di Kalbar. Setelah si cantik frame "S" Neckarsulm Stickmachen Union (NSU), kini ada Simplex Cycloid Elite yang bangkit dari kubur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-7134853235200317623?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/7134853235200317623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=7134853235200317623' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7134853235200317623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7134853235200317623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/05/bangkai-simplex-cycloid.html' title='Bangkai Simplex Cycloid'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SiAImvNaHII/AAAAAAAAANY/EzmPED2R3xo/s72-c/simplex+euy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-7058473068988130818</id><published>2009-05-02T22:02:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T22:04:12.301-07:00</updated><title type='text'>Awas, Selingkuh Bikin Ketagihan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Sf0ltqQxMxI/AAAAAAAAANQ/ic-NeqvYmiw/s1600-h/boyke.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 220px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Sf0ltqQxMxI/AAAAAAAAANQ/ic-NeqvYmiw/s320/boyke.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331459000245498642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Boyke Ingatkan Keganasan Kanker Rahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PONTIANAK, TRIBUN - Dokter spesialis kandungan terkemuka, dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS, menegaskan selingkuh sama dengan mengkonsumsi narkoba. Sekali mencoba pasti bikin ketagihan dan sulit untuk dihilangkan. Tidak hanya itu, selingkuh juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan kehidupan rumah tangga dan karier.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Contohnya seperti yang menerpa Ketua KPK, Antasari Azhar," ujar Boyke saat berkunjung ke Tribun Pontianak, Sabtu (2/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pasien yang datang berkonsultasi ke Klinik Pasutri miliknya, perselingkuhan menjadi penyebab ketidakharmonisan hubungan suami istri atau sebaliknya, hubungan suami istri yang tidak harmonis memicu perselingkuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selingkuh tidak hanya dilakukan suami, namun juga istri. Dari lima laki-laki empat di antaranya selingkuh. Sementara dari lima wanita dua di antaranya juga selingkuh. Ironisnya, dari 10 kasus perselingkuhan hanya dua kasus yang sampai ke jenjang perkawinan. Sisanya, dilakukan untuk having fun," kata Boyke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boyke menuturkan sedikitnya pasangan selingkuh yang menikah karena kebanyakan laki-laki itu buaya. Sementara wanita menginginkan kehidupan yang lebih stabil. Apalagi, belakangan selingkuh menjadi bagian dari gaya hidup kalangan mapan. Sebab mereka bergelimang uang dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Golongan ini berselingkuh untuk mendapatkan pengakuan dan status sosial. Karena itu mereka menjalin hubungan dengan perempuan atau laki-laki yang derajat sosialnya lebih tinggi ataudari kalangan artis misalnya. Jadi jelas orientasinya bukan seks semata," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boyke juga menegaskan mereka yang selingkuh di usia dewasa, biasanya secara kasat mata memiliki tampang baik-baik, bahkan cenderung alim pada masa mudanya. Justru mereka yang pada masa muda kerap bergaul dengan teman-teman wanita yang kecil kemungkinan berselingkuh ketika berumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu-ibu yang datang ke saya, banyak yang komplain. Tidak mungkin suami saya selingkuh Dok. Dia sudah empat kali umroh. Lalu saya jawab, waktu umroh 'barangnya' pakai sorban gak Bu," ujar Boyke tertawa.&lt;br /&gt;Kanker rahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boyke menuturkan, berhenti dari RS Kanker Dharmais karena ia tidak sanggup melihat pasien-pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi sehat, kemudian pulang ke rumah dalam keadaan meninggal. Serviks menjadi pembunuh nomor satu perempuan di Indonesia. Hal ini disebabkan mayoritas penderita datang berobat ketika kesehatannya kritis atau ketika penyakitnya sudah stadium lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sudah kena kanker rahim, sekali suntik obatnya bisa Rp 14 juta. Setelah disuntik, rambut rontok dan seluruh kulit mengering serta terkelupas. Pasiennya meninggal dalam kondisi yang mengenaskan bukan," paparya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanker ini disebabkan oleh virus yang ditularkan suami kepada istrinya saat berhubungan intim. Mereka yang selingkuh dan bergonta-ganti pasangan menjadi kelompok yang rentan menularkan kanker mematikan ini. Karena itu, Boyke beranggapan ada hubungan antara kanker serviks dengan hubungan suami istri dan keharmonisan dalam rumah tangga. "Kalau rumah tangga harmonis, termasuk soal hubungan suami istri, yakinlah akan baik-baik saja," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serviks tidak bisa dilihat secara fisik karena tidak menimbulkan gejala. Satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan Pap Smear dan Pap Net. Pap Smear adalah screening untuk mendeteksi perubahan sel sel yang terjadi di dalam serviks uterus. Sementara Pap Net adalah pemeriksaan dengan pengambilan lendir leher rahim sama seperti papsmear konvensional, tetapi dengan memanfaatkan teknologi komputer dalam menganalisanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tingkat akurasi Pap Net sampai 95 persen. Sedangkan Pap Smear hanya 80 persen. Harga pemeriksaan Pap Smear mulai Rp 150 ribu dan Pap Net mulai Rp 350 ribu," ujar Boyke yang saat ini sedang mengkampanyekan bahaya kanker serviks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang ingin mengantisipasi serviks, Boyke menganjurkan untuk divaksin. Termasuk mereka yang belum pernah melakukan hubungan intim. Namun vaksin ini hanya efektif diberikan untuk mereka yang berusia antara 10 tahun hingga 55 tahun. Di atas itu, vaksin menjadi tidak banyak pengaruhnya. Harga vaksin mulai dari Rp 750 ribu dilakukan sebanyak tiga kali selama enam bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang dilansir Kompas.com, diperkirakan 52 juta perempuan Indonesia berisiko terkena kanker serviks. Sementara 36 persen perempuan dari seluruh penderita kanker adalah pasien kanker serviks. Ada 15.000 kasus baru per tahun dengan kematian 8.000 orang per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka harapan hidup lima tahun jika kanker ini diketahui dan diobati pada stadium 1 adalah 70-75 persen, pada stadium 2 adalah 60 persen, pada stadium 3 tinggal 25 persen, dan pada stadium empat penderita sulit diharapkan bertahan. (hsm)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-7058473068988130818?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/7058473068988130818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=7058473068988130818' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7058473068988130818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7058473068988130818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/05/awas-selingkuh-bikin-ketagihan_02.html' title='Awas, Selingkuh Bikin Ketagihan'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/Sf0ltqQxMxI/AAAAAAAAANQ/ic-NeqvYmiw/s72-c/boyke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-3873572917548505791</id><published>2009-03-08T07:46:00.000-07:00</published><updated>2009-03-08T08:44:14.879-07:00</updated><title type='text'>Ngembat Jatah Makan Siang Paspamres</title><content type='html'>Kelompok Kompas Gramedia yang terdiri dari, Hotel Santika, Toko Buku Gramedia, Radio Sonora, dan Tribun Pontianak menggelar kegiatan Journey to Exellence 2009 di Hotel Grand Mahkota, Jumat (6/3).  Kalau ada acara begituan, sudah pasti ada makan siangnya atau lunch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk urusan yang satu ini, saya agak terlambat karena harus Salat Jumat dulu. Sudah pun selesai, saya masih harus ngopi sejenak karena diajak teman lama saya Ade Rianto. Kebetulan kami salat di masjid yang sama tidak jauh dari Hotel Grand Mahkota. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ade bercerita tentang facebook yang menggila di tempat kerjanya, tempat kerja saya yang lama. Menurutnya, ia bisa bertemu dengan rekan-rekan SMA-nya dulu lewat interaksi di laman yang sedang trend tersebut. Dia juga bertutur tentang ayahnya yang sebulan lalu meninggal karena sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan terus mengalir. Apalagi warung kecil di sudut Jl H Nurali menyuguhkan suasana adem, segar, karena banyak pepohonan. Kalau saja tidak ingat ada kegiatan, ingin rasanya berlama-lama. Saya pamit dan kamipun berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sempat mengantar saya hingga ke pintu belakang Hotel Grand Mahkota. Di lobi, saya bertemu rekan sekantor, Stefanus Akim yang pura-pura kelihatan penting dengan membaca Koran Kompas. Saya bilang saya lapar. "Itu yang di sebelah sana," kata Akim menjawab pertanyaan saya di manakah letak meja makannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengikuti telunjuk redaktur yangg terkenal dengan slogan "Dua Kali dia Pak Lamhot" di kantor. Di meja makan, saya bertemu dengan Pak Nur Secioto, Pimpinan Perusahaan yang sedang bercakap- cakap dengan anak buahnya. "Sudah makan belum Sim?" tanya Pak Nur dengan senyumnya yang khas. "Belum Pak," jawab saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian bergegas menuju meja panjang yang menyajikan aneka lauk pauk makan siang. Meja itu tersusun atas dua sisi. Masing-masing sisi menyajikan menu makan siang. Karena yang di sebelah dekat meja Pak Nur Secioto lauk pauknya ditutup semua, saya bergeser ke sisi satunya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya di situ semua menu terbuka. Ukuran piringnya juga besar-besar. Lauk pauknya terlihat sangat segar dan enak. Saya mengambil piring dan mengambil nasi putih, dua potong daging, dan Cap Cai. Saya agak grogi karena ada pelayan yang terus mengikuti saya di belakang. Terutama setiap kali saya memindahkan lauk ke piring yang saya pegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat akan mengambil Cap Cai itulah, tiba-tiba hanphone saya bergetar. "Bos yang ente ambil litu jatah makan siang paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden)," rupanya Stefanus Akim yang menelpon saya. Ia tertawa kecil di ujung telepon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah bodoo amat, gua lagi laper," jawab saya singkat. Saya menoleh ke lobi. Akim terkekeh sambil memegang koran. Saya menoleh di sekitar meja, rupanya banyak pria berbadan tegap sedang makan siang. Mereka berpakaian cokelat tua dengan kancing kemeja keemasan. Rupanya, mereka Paspampres yang mengawal kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, ngeper juga saya. Jangan-jangan gara-gara saya salah ambil menu, ada anggota Paspamres yang tidak kebagian jatah makan siang. Dengan menyembunyikan sedikit rasa malu, saya beringsut mencari meja makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya makan, saya terus memperhatikan pelayan yang mengikuti saya tadi. Jangan-jangan, dia mendatangi saya dan membuat nafsu makan saya hilang. Alhamdulillah, rupanya tidak. Tidak lama kemudian, ada tamu hotel yang juga turun makan. Dia menuju menu yang disajikan untuk paspamres. Belum apa-apa, pelayan yang tadi mengikuti saya langsung mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf Pak! yang sebelah sini khusus untuk paspamres. Tamu yang lain silakan mengambil makan siang di sebelah sana," katanya. Si tamu hotel itu kemudian berpindah meja dan mengambil jatah makan siangnya satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya tersenyum dalam hati. Mmebayangkan, bagaimana kalau si tamu hotel itu adalah saya. Ditegur ketika suasana ruang makan sedang ramai. Pasti mokal abis. Di luar itu,  rupanya di antara begitu banyak tamu hotel, hanya saya yang bisa mencicipi masakan khusus paspampres. He he he ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan, saya menghampiri Stefanus Akim yang masih sibuk baca koran. Aneh juga saya pikir, ada orang yang buat koran, hobinya baca koran. Kalau baca majalah mungkin beda. Begitu tahu saya datang, Akim langsung memberi hormat dengan mengangkat tangan kanannya tepat di kening. "Siap Pak! Laksanakan perintah!" dan kamipun tertawa. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-3873572917548505791?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/3873572917548505791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=3873572917548505791' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3873572917548505791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3873572917548505791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/03/ngembat-jatah-nakan-siang-paspamres.html' title='Ngembat Jatah Makan Siang Paspamres'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-3337562332876898136</id><published>2009-03-07T22:25:00.000-08:00</published><updated>2009-03-07T22:32:06.920-08:00</updated><title type='text'>Black Campaign sampai Iklan Terselubung Rawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SbNmDLVAuhI/AAAAAAAAANA/epiDaFAWXBs/s1600-h/20090303haq_panwas_KPID_+%28127%29+ok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SbNmDLVAuhI/AAAAAAAAANA/epiDaFAWXBs/s320/20090303haq_panwas_KPID_+%28127%29+ok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310700590366505490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Coffe Morning Tribun Pontianak Bersama KPID dan Panwaslu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PONTIANAK, TRIBUN - Obrolan pagi Anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kalbar dan Komisi Penyiaran Informasi Daerah (KPID) Kalbar bersama jajaran Redaksi Tribun Pontianak, Selasa (3/3) siang, berlangsung hangat.&lt;br /&gt;iskusi informal bertajuk Bersama Kita Tingkatkan Mutu Pemilu di Kalbar itu, diwarnai pengkajian terhadap pasal-pasal dalam UU Nomor 42 Tahun 2008 yang bersifat multi-tafsir. Seirus, tapi tetap santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Panwaslu Warih Yulikanti dan Hawad Sriyanto SH begitu bersemangat melayani pertanyaan- pertanyaan tajam kru redaksi.&lt;br /&gt;Demikian halnya Anggota KPID, Syarif Muhammad Hery Alkadrie dan Sumarsono yang tiada bosa mengurai masalah-masalah periklanan yang belum gamblang betul ketentuannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Saya yakin beberapa teman media, termasuk lembaga penyiaran memberi peluang kepada seluruh peserta Pemilu. Kadang memang terjadi, peserta Pemilu yang tidak menangkap peluang itu," tutur Hawad Sriyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati kebebasan berkampanye melalui iklan televisi, radio, media massa saat ini, menyimpan potensi pelanggaran ketentuan yang ada. "Dalam proses itu, bukan tidak mungkin terjadi pelanggaran kampanye. Misalnya, black campaign dan iklan-iklan terselubung," kata Hawad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warih menjelaskan seperangkat larangan kampanye di media massa antara lain, menjual blocking segmen atau blocking time, menerima sponsor atau format dalam bentuk apa pun untuk kampanye, dan menjual spot iklan yang tak dimanfaatkan peserta Pemilu kepada peserta Pemilu lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Media juga harus bisa mematuhi ketentuan masa tenang. Yaitu, tiga hari menjelang pemilihan. Selama masa tenang, tidak boleh lagi muncul atribut, lambang, dan slogan yang mengarah kepada penyampaian visi misi peserta Pemilu," tegasnya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Cabut Izin&lt;br /&gt;Disinggung kebiasaan Paswaslu kewalahan, bahkan lepas dalam mengawasi pelanggaran selama Pemilu, Hawad mengatakan, Panwaslu tak bekerja sendirian. Melainkan berkoordinasi dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Dewan Pers, dan pemerintah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika pelanggaran peserta Pemilu, kita memberikan laporan kepada KPU. Jika media massa yang melanggar ketentuan, kita akan arahkan ke dewan pers," tuturnya.&lt;br /&gt;"Jika berkaitan tempat-tempat yang dilarang untuk pemasangan baliho, spanduk, dan atribut lainnya, pemerintah daerah yang akan menertibkan melalui satuan polisi pamong praja setelah mendapat surat dari Panwaslu," jelas Hawad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Panwaslu menjalin kerjasama dengan aparat penyidik (Kejaksaan dan Polri).&lt;br /&gt;KPID pun fokus mengawasi pernyiaran publik, baik media televisi dan radio. "Kita bisa berikan teguran dan sanks-sanksi, kalau lembaga penyiaran publik tersebut melakukan pelanggaran," tegas Sumarsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media elektronik, radio dan televisi, berlangganan maupun komunitas harus memberi alokasi waktu yang adil dan berimbang untuk kampanye.&lt;br /&gt;"Memang space dan durasi tidak dibatasi sebagai konsekusnsi keputusan MK. Yang dipantau&lt;br /&gt;KPID advertorial tak dibatasi untuk media, tapi dibingkai  ketentuan UU Penyiaran. Tidak boleh lebih 20 persen dari jam tayang," jelas Hery Alkadrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga penyiaran publik yang melanggar UU Nomor 10 Tahun 2008, sanksinya berupa teguran tertulis, penghentian sementara mata acara, pengurangan durasi hingga pencabutan izin penyelenggaraan penyiaran. (hsm)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-3337562332876898136?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/3337562332876898136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=3337562332876898136' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3337562332876898136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/3337562332876898136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/03/black-campaign-sampai-iklan-terselubung.html' title='Black Campaign sampai Iklan Terselubung Rawan'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SbNmDLVAuhI/AAAAAAAAANA/epiDaFAWXBs/s72-c/20090303haq_panwas_KPID_+%28127%29+ok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-5115408933189027688</id><published>2009-03-06T03:18:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T05:35:09.764-08:00</updated><title type='text'>Permintaan Impor Bibit Sawit Capai 13 Juta</title><content type='html'>PONTIANAK, TRIBUN - Kepala Bidang Perlindungan Dinas Perkebunan Kalbar, Wawan Hermawan, mengatakan 66 perusahaan perkebunan besar swasta (PBS) saat ini kesulitan untuk mendapatkan bibit kelapa sawit bersertifikat dari tujuh sumber benih di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, mereka mengajukan izin impor kecambah sawit dari Malaysia, Costa Rica, dan Papua Nuguinea. Pada 2008 saja, jumlah permintaan bibit impor mencapai 13,06 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun, jumlah tersebut juga tidak dapat dipenuhi semuanya. Realisasinya dari permintaan hanya 3,21 persen atau sekitar 420 ribu bibit sawit. Jadi, hampir sebagian besar perusahaan tidak mendapat bibit," kata Wawan Hermawan kepada Tribun, Rabu (4/3).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mantan Kabid Pencemaran dan Pengrusakan Lingkungan Bapedalda Kalbar ini, menjelaskan angka permintaan tersebut jauh lebih besar dari 2007 yang hanya 3,57 juta bibit. Sedang realisasinya sekitar 1,59 juta bibit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan bibit impor pada 2007, juga lebih besar dari permintaan pada 2006 yang berjumlah 3,4 juta dengan realisasi 961.500 bibit. Sedangkan pada 2005 permohonan mendatangkan bibit sawit impor mencapai 5,8 juta. Namun hanya bisa dipenuhi sekitar 1,9 juta  bibit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Impor bibit sawit diawasi ketat. Perusahaan perkebunan yang akan mengimpor harus mendapat izin dari Dinas Perkebunan Kalbar. Hal itu dilakukan untuk mempermudah pengawasan. Jika tidak, kita khawatir bibit-bibit itu bukan untuk komsumsi sediri. Tetapi, dijual kembali kepada perusahaan dan petani yang membutuhkan. Itu yang tidak boleh," papar Wawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berkacamata ini menegaskan, keputusan impor tersebut tidak terlepas dari tujuh sumber benih yang tidak mampu menyuplai kebutuhan benih untuk perkebunan di Kalbar. Tujuh sumber benih itu adalah PPKS, Lonsum, Socfindo, Tyunus, Dami Mas, Tania Selatan, BSM, Selapan Jaya, Bhakti Tani Nus, dan Selaras Inti Pratama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada 2008 saja, permintaan terhadap benih pada perusahaan yang terdapat di Sumatera itu, sekitar 53,36 juta. Namun, hanya mampu direalisasikan sekitar 4,32 juta bibit," katanya.&lt;br /&gt;Wawan menambahkan ketujuh sumber benih itu hanya mampu memproduksi sekitar 130 juta bibit sawit per tahun. Jumlah bibit sawit itu untuk menyuplai kebutuhan perkebunan se-Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena itu, tidak mengherankan harus antre untuk memperoleh bibit. Rata-rata bibit sudah dipesan setahun sebelumnya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelangkaan bibit ini, kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dengan menjual bibit ilegal. Dinas Perkebunan Kalbar sendiri sepanjang 2000-2008 menangkap sekitar 110 ribu bibit ilegal tersebut. "Harganya memang jauh lebih murah. Biasanya diminati petani. Kuallitas bibit tersebut baru terlihat pada tahun keempat karena tidak berbuah," tegas Wawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, Wawan mengingatkan areal perkebunan sawit di Kalbar sudah overload. Saat ini terdapat sekitar 293 perusahaan perkebunan dan yang aktif hanya 162 perusahaan. Lahan yang terpakai sudah mencapai 460 ribu hektare dari 1,5 juta hektare yang ditargetkan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika dilihat perkembangannya, pertumbuhan areal perkebunan sawit Kalbar memang lamban. Sebab perusahaan sejauh ini kesulitan bibit sawit. Jadi, paling lahannya itu-itu saja," katanya. (hsm)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-5115408933189027688?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/5115408933189027688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=5115408933189027688' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/5115408933189027688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/5115408933189027688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/03/permintaan-impor-bibit-sawit-capai-13.html' title='Permintaan Impor Bibit Sawit Capai 13 Juta'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-2480348568988391065</id><published>2009-02-17T20:26:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T20:32:51.757-08:00</updated><title type='text'>NSU Ikut Pameran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZuPMBOUjHI/AAAAAAAAAMY/2qnRUqxH2hk/s1600-h/gb-5.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZuPMBOUjHI/AAAAAAAAAMY/2qnRUqxH2hk/s320/gb-5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303990422808595570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di antara sepeda-sepeda yang dipamerkan di Mal Matahari, sepeda milik saya, Neckarsulm Stickmachen Union (NSU), adalah yang paling kusam. Bukan hanya karena belum di cat, bekas las-lasan juga masih terlihat di sana sini, terutama di sepakbor, jepit udang, dan batang S-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit menyesal meninggalkan dan percaya begitu saja saat tukang las menggarap NSU. Sebab, begitu selesai, hasilnya tidak sesuai dengan harapan saya. Caranya membuat sambungan dan memotong sangat kasar dan bisa dilihat, lengkungan S terutama yang bawah, terlihat tidak mulus. Bentuknya jadi seperti patah, padahal tidak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam pameran tersebut, ada tiga jenis sepeda Jerman yang dipamerkan. Masing-masing Bismack, NSU, dan Opel. Untuk sepeda merek Opel, terlihat sangat istimewa karena tidak ada sambungan antara batang dengan batang lainnya. Semua seperti dibuat dengan cara dipress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menyaksikan sepeda-sepeda Jerman tersebut, ada aktivis WWF-Indonesia, yang asal Jerman. Dia takjub dan tidak percaya ada sepeda yang dibuat negaranya bisa sampai ke Pontianak. Dia kemudian tertarik dengan bel kecil yang nemplok di sepeda saya. Ia ingin sekali memilikinya karena juga punya sepeda, meski bukan sepeda tua. Sebagai kenang-kenangan, saya merelakan bel kecil tersebut untuk dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya sedang menyempurnakan si NSU. Namun sulit sekali memperoleh yang orisinilan. Terutama setang dengan kosntruksi rem tusuk. Setangnya sih ada, namun sudah patah termakan usia. Saya juga kesulitan untuk mencari lampu karbit, gir depan, emblem, sadel, dan ketengkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada rekan-rekan yang punya barang-barang tersebut, sudilah berbagi informasi. Siapa tahu harganya bisa cocok. Terimakasih. Hidup sepeda ontel. Hidup NSU!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-2480348568988391065?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/2480348568988391065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=2480348568988391065' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2480348568988391065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/2480348568988391065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/02/nsu-ikut-pameran.html' title='NSU Ikut Pameran'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZuPMBOUjHI/AAAAAAAAAMY/2qnRUqxH2hk/s72-c/gb-5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-1317027856182712309</id><published>2009-02-17T09:02:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T09:36:55.124-08:00</updated><title type='text'>Pameran Sepeda Betot Perhatian Warga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZr1cBd__FI/AAAAAAAAAMQ/fLz1f0NSTxM/s1600-h/gambar1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZr1cBd__FI/AAAAAAAAAMQ/fLz1f0NSTxM/s320/gambar1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303821372961586258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZr07DTYXbI/AAAAAAAAAMI/-sum3OX-gHw/s1600-h/gb6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZr07DTYXbI/AAAAAAAAAMI/-sum3OX-gHw/s320/gb6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303820806518234546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZr0ezrvPyI/AAAAAAAAAMA/KHKr87vAH6Y/s1600-h/gb-4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZr0ezrvPyI/AAAAAAAAAMA/KHKr87vAH6Y/s320/gb-4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303820321289092898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZrzj6u8mrI/AAAAAAAAAL4/92v0zUAtf8o/s1600-h/gb-2+ok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZrzj6u8mrI/AAAAAAAAAL4/92v0zUAtf8o/s320/gb-2+ok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303819309569317554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZrzK1wZVWI/AAAAAAAAALw/QcQ_N8GATMA/s1600-h/gb7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZrzK1wZVWI/AAAAAAAAALw/QcQ_N8GATMA/s320/gb7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303818878736487778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pameran Sepeda Tua yang dihelat Sepeda Onte Kalbar (Sepok) di Mal Matahari pada 17-18 Januari 2009 membetot perhatian warga Kota Pontianak. Termasuk Wali Kota Pontianak, Sutarmidji SH Mhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memuji Sepok yang telah menambah khasanah pariwisata Kota Pontianak. Bahkan, dalam waktu dekat berencana menggandeng Sepok untuk sosialisasi bersepeda di kalangan pelajar SLTP. Wali Kota juga akan mencanangkan aktivitas bersepeda bagi warga kota. Setidaknya, dalam tiga bulan ada satu hari yang digunakan untuk bersepeda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pengelola Mal Matahari, tidak menyangka kalau antusiasme pengunjung begitu besar. Karena itu, dari jadwal yang telah ditetapkan selama 17-18 Januari, pameran diperpanjang hingga 19 Januari. Untuk satu hari itu, pengelola mal tidak memungut biaya tempat alias gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di basedment Mal Matahari, pengunjung terus berdatangan dari pagi hingga mal tutup. Mereka terheran-heran ternyata masih ada sepeda-sepeda tua dengan kondisi sangat bagus. Lengkap dengan berbagai aksesoris yang berumur tidak muda lagi. Belum lagi ulah anggota Sepok yang bikin heboh dengan berpenampilan gaya zaman dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sekitar 45 sepeda di areal seluas 70 meter persegi. Jumlah sepeda dibatasi karena memang ruang yang tersedia tidak memadai. Kalaupun diperluas, maka konsekuensinya harus bayar lebih mahal. Sepeda-sepeda yang dipajang adalah sepeda-sepeda terpilih yang merepresentasikan merek, jenis, dan negara produsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia sengaja tidak memasang pembatas di areal pameran untuk memberikan ruang lebih leluasa kepada pengunjung untuk berinteraksi dengan sepeda-sepeda tersebut. Jadi, mereka bisa memagang dan berfoto bersama di areal pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung makin antusias karena di areal dilengkapi dengan keterangan tentang sejarah singkat sepeda-sepeda tersebut. Ada juga foto-foto dan film dokumentasi tentang aktivitas Sepok selama setahun. Semua tersaji di layar proyektor cukup besar. Kemeriahan semakin terasa karena ada musik tanjidor yang jadi pengiring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran tersebut hanya rangkaian Hari Ulang Tahun Pertama Sepok yang jatuh pada 12 Januari 2008. Kegiatan lainnya adalah Fun Bike dan konvoi keliling kota. Berikut saya tampilkan sebagian suasana pameran. Selamat menikmati!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-1317027856182712309?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/1317027856182712309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=1317027856182712309' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1317027856182712309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/1317027856182712309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/02/pameran-sepeda-betot-perhatian-warga.html' title='Pameran Sepeda Betot Perhatian Warga'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZr1cBd__FI/AAAAAAAAAMQ/fLz1f0NSTxM/s72-c/gambar1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-6781972852894771105</id><published>2009-02-17T04:08:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T04:31:38.763-08:00</updated><title type='text'>Titik Api Kalbar Tertinggi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZquBB-ybGI/AAAAAAAAALY/gfBJ0WT5Me8/s1600-h/20090215_Dasa02_Gambut_Terbakar2-ok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZquBB-ybGI/AAAAAAAAALY/gfBJ0WT5Me8/s320/20090215_Dasa02_Gambut_Terbakar2-ok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303742843917069410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;PONTIANAK, TRIBUN - Sepanjang dua tahun terakhir, 2007-2008, titik api di wilayah Kalbar adalah yang tertinggi di Indonesia. Titik api yang terdeteksi berasal dari kawasan hutan tanaman industri (HTI), perkebunan sawit, dan lahan lainnya termasuk lahan milik masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski dengan titik api tertinggi, sejauh ini belum ada upaya berarti dari instansi terkait untuk mencegah terulangnya kembali pembakaran lahan," kata Forest Fire Coordinator WWF-Indonesia, Dedi Hariri, kepada Tribun, Selasa (17/2).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di temui usai diskusi di Sekretariat Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Kalbar, Dedi menuturkan&lt;br /&gt;pada 2007 dari 31.648 titik api di Indonesia, 6.450 titik api atau yang terbanyak berada di Kalbar. Diikuti kemudian oleh Sumatera Selatan dengan 4.814 titik api dan Kalimantan Tengan dengan 4.305 titik api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, kebakaran lahan yang terjadi dari tahun ke tahun sejatinya sudah bisa diantisipasi. Namun sepertinya, upaya pencegahan belum terlihat. Pemerintah baru bergerak begitu hutan dan lahan terbakar. "Padahal, untuk mengatasi kebakaran tersebut, jauh lebih sulit. Satu di antaranya karena peralatan yang kita miliki sangat terbatas. Australia dengan peralatan memadai saja, tidak berdaya menjinakan api," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedi menuturkan, proses penegakan hukum juga masih lemah. Padahal, sudah ada UU Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Perda Nomor 6 tahun 1998 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan. Ada juga Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan.&lt;br /&gt;"Tampaknya belum ada pelaku pembakar lahan yang sampai ke pengadilan. Kalaupun ada, saya tidak yakin jeratan pasal yang dikenakan tidak bisa dielakkan oleh para pelaku," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatannya, pada 2007 dari 6.450 titik api, 35,5 persen berada di perkebunan kelapa sawit, HTI sebesar 25,5 persen dan lahan lain termasuk milik masyarakat sebesar 39,0 persen. Pada 2008, dari 5.671 titik api, sebanyak 47,07 persen berasal dari perkebunan sawit, 46,23 persen lahan lain termasuk milik masyarakat dan sisanya, 6,7 persen berada di areal HTI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WWF sendiri berupaya proaktif dengan melakukan pendekatan ke pemerintah, pengusaha, dan masyarakat untuk mencegah pembukaan lahan dengan sistem bakar. Ke pemerintah, WWF melakukan inisiasi produk hukum, seperti Perda Kebakaran Hutan yang saat ini dilakukan di Kaltim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami melakukan MoU Zero Burning dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalbar. Sementara masyarakat kami ajak untuk tidak membakar lahan. Kalaupun cara membakar tidak bisa dihindari, pembakaran dilakukan dengan kendali api. Untuk ini, kami bahu membahu dengan LSM Diantama," papar Dedi. (hsm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Terbanyak&lt;br /&gt;Pada 2007 terdapat 31.838 titik api&lt;br /&gt;Kalbar, 6.450 titik api&lt;br /&gt;Sumsel, 4.814 titik api&lt;br /&gt;Kalteng, 4.305 titik api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2008 terdapat 32.838 titik api&lt;br /&gt;Kalbar, 5.671 titik api&lt;br /&gt;Riau, 3.879 titik api&lt;br /&gt;Jatim, 3.182 titik api&lt;br /&gt;Sumber: WWF-Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-6781972852894771105?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/6781972852894771105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=6781972852894771105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6781972852894771105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6781972852894771105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/02/titik-api-kalbar-tertinggi.html' title='Titik Api Kalbar Tertinggi'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZquBB-ybGI/AAAAAAAAALY/gfBJ0WT5Me8/s72-c/20090215_Dasa02_Gambut_Terbakar2-ok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-8000636000113398904</id><published>2009-02-13T23:22:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T23:37:41.335-08:00</updated><title type='text'>Jujur Saya Gamang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZZzemVt7bI/AAAAAAAAALQ/KWRO73mMevc/s1600-h/narsis+ah-ok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZZzemVt7bI/AAAAAAAAALQ/KWRO73mMevc/s320/narsis+ah-ok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302552580800245170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan jurnalis adalah menulis. Apa jadinya kalau seorang jurnalis “kehilangan” pekerjaan sementara dia masih aktif di penerbitan surat kabar.  Situasi itu, kini saya hadapi. Jujur, sudah sekitar 5 tahun ini saya gamang. Ketika, posisi redaktur dipercayakan kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sudah mulai terasa banyak keterampilan saya yang hilang perlahan. Sebut saja, saat mengetik saya tidak piawai lagi menggunakan sepuluh jari seperti dulu. Sebab saya hanya mengedit tulisan reporter. Itu artinya hanya dua atau beberapa huruf yang kerap saya tekan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketajaman naluri dalam membaca persoalan di masyarakat dan menggiring problem solutif juga mulai tumpul. Semua terlihat biasa dan bukan berita. Sementara saya rindu bercengkrama dengan nara sumber yang pernah saya akrabi dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau setidaknya bertemu dengan para nara sumber baru. Karena dari mereka saya mendapat segudang pelajaran berarti. Tentu saja tentang banyak hal seperti pekerjaan sebagai jurnalis yang menuntut tahu ini dan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mengalihkan kerinduan menulis berita dengan menggarap beberapa cerita pendek. Awalnya sedikit terobati. Namun, kepuasannya tetap saja berbeda. Cerita pendek adalah ceita pendek. Menulis berita adalah menulis berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai beripikir, apakah fase ini yang ditakuti rekan-rekan jurnalis senior yang pernah saya dengar. Bahwa penyakit wartawan adalah merasa mapan. Jangan cepat menjadi mapan kalau ingin menjadi wartawan berkualitas. Sebab penyakit mapan adalah kanker yang menempelkan rasa sakit di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menjalar di tubuh, penyakit malas sudah pasti. Kalau merambat ke otak, akan malas berpikir dan menganalisis. Bila lari ke hati, ia menjadi malas bertindak, beranjak, dan bekerja. Tiba-tiba, tubuh merasa berat meski sekadar membaca hal-hal ringan. Apalagi menghadapi layar komputer untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, banyak jurnalis yang cepat merasa mapan. Mereka merasa sebagai penguasa di posisi tertentu dan merasa yang paling tahu segalanya. Akibatnya, ia kerap mengabaikan pendapat orang lain. Terutama rekan-rekan yang dipercaya menjabat sebagai redaktur, koordinator liputan, redaktur pelaksana, atau manajer produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, jabatan-jabatan struktural itu benar-benar memabukkan. Apalagi jabatan itu dibarengi dengan segala hal fasilitas. Kemudian kita merasa cukup. Merasa hebat sudah jadi redaktur, jadi koordinator liputan, jadi ini dan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, jabatan-jabatan itu membatasi ruang gerak penulisan. Kalau pun ada, hanya sekadar editing, entah kata atau kalimat kah. Pada judul, pada lead, atau pada tata wajah kah. Paling banter merencanakan liputan, mengevaluasi, sekaligus menyajikan dalam bentuk produk penulisan. Eksekusi, lagi-lagi itu urusan reporter!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masuk jabatan struktural, memang yang dibutuhkan lebih banyak kemampuan analisis ketimbang teknis. Lebih sering bergelut dengan konsep manajerial ketimbang operasional. Begitu kata teori manajemen yang pernah saya pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, sejumlah rekan-rekan, termasuk saya, tidak menyadari kalau jabatan-jabatan tersebut bisa sangat mematikan. Bayangkan saja, sampai ada ungkapan “Untuk apa ke lapangan, kan sudah ada reporter.” Dan sepertinya, tugas sebagai seorang jurnalis selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sejatinya sikap tersebut, terutama sikap merasa mapan, dihindari. Sebab, dalam dunia jurnalistik tidak ada karya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;master piece.&lt;/span&gt; Semua karya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;in the making&lt;/span&gt;. Artinya, apapun jabatannya, kalau memang ia merasa sebagai jurnalis, ia harus turun ke lapangan. Tidak sekadar merekam persitiwa, namun juga menciptakan berita-berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat rekan-rekan yang merasa puas, bersiaplah. Untuk mereka yang tidak resah karena tidak menulis, waspadalah. Sebab tidak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Bukankah kebanggaan seorang jurnalis adalah ketika orang lain mengakui kualitas karya tulisannya? Apa yang bisa dibanggakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;la wong &lt;/span&gt;menulis saja tidak?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-8000636000113398904?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/8000636000113398904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=8000636000113398904' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8000636000113398904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8000636000113398904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/02/jujur-saya-gamang.html' title='Jujur Saya Gamang'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZZzemVt7bI/AAAAAAAAALQ/KWRO73mMevc/s72-c/narsis+ah-ok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-308603844343426678</id><published>2009-02-12T05:34:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T08:00:08.179-08:00</updated><title type='text'>Sepok Sempurnakan Kepengurusan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZQnBcOmm6I/AAAAAAAAALI/vYPEbjYHIPk/s1600-h/3076735432_f2830e6871-ok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZQnBcOmm6I/AAAAAAAAALI/vYPEbjYHIPk/s320/3076735432_f2830e6871-ok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301905567032712098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PONTIANAK, TRIBUN - Komunitas Sepeda Onte Kalbar (Sepok) menyempurnakan kepengurusan periode 2008-2011 dalam Rapat Tahunan yang digelar di gedung pertemuan SD Negeri 59 Pontianak, Minggu (8/2) pagi. Sekitar 115 anggota sepok, termasuk penasehat hadir dalam kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rapat Tahunan merupakan amanat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Jadi, sifatnya wajib dilaksanakan," kata Ketua Sepok, Jayus Agus Tono, kepada Tribun.&lt;br /&gt;Dia menuturkan, Rapat Tahunan digelar untuk memaparkan laporan dan evaluasi program kerja pada 2008, reorganisasi dan menyempurnakan kepengurusan, serta penyusunan rencana program kerja untuk 2009-2010.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kami mengedepankan transparansi. Karena itu, semua harus dilaporkan kepada anggota, termasuk aliran dana dan kegiatan. Sementara penyempurnaan kepengurusan mutlak diperlukan karena tuntutan organisasi bertambah besar. Karena itu, dari empat divisi kita tambah menjadi 9 divisi, termasuk pembentukan koordinator wilayah untuk mempermudah koordinasi," papar Jayus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, penetapan program kerja akan membantu arah kegiatan Sepok sepanjang setahun ini. Satu di antara program kerja itu adalah  Sepok Masuk Sekolah yang bertujuan menumbuhkan kecintaan bersepeda kepada pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, penasehat Sepok, Margono, meminta semua anggota untuk tetap solid dan menghargai satu sama lain. "Sepok bertambah besar. Tugas kita bersama untuk menjaga keutuhan organisasi agar kiprah Sepok semakin dirasakan masyarakat banyak," pinta lelaki yang menjadi penasehat sejumlah organisasi otomotif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Susunan Pengurus Sepok 2008-2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penasehat&lt;/span&gt;  : Margono, Jumanadi, Kemis, Maruki Matsum, H Eka Kurniawan, Yatna&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketua&lt;/span&gt;   : Jayus Agustono&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wakil Ketua&lt;/span&gt;  : Hasyim Ashari&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekretaris  &lt;/span&gt;: Ardi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bendahara&lt;/span&gt;  : Rudi Agus Hariyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Divisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PSDM&lt;/span&gt;   : Suro, Mei Irmoko&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesekretariatan&lt;/span&gt; : Jaya, Arie&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Humas   &lt;/span&gt;: Rully&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Usaha Dana&lt;/span&gt;  : Bahri, Sadimo, Stefanus Paiman&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Advokasi&lt;/span&gt;  : Stefanus Paiman, Ragito, Agus Handi, Joko Sulistio&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Transportasi&lt;/span&gt;  : Hafidz, Ibrahim&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teknik &lt;/span&gt;  : Kasman, Igun&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perlengkapan&lt;/span&gt;  : Eko, Ali, Tomo, Nanda, Junian, Surdiati, Joko Sulistio&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dokumentasi&lt;/span&gt;  : Atel, Faisal&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koordinator Wilayah&lt;/span&gt; : Pontianak Barat (Topan, Tampoi), Pontianak Selatan (Giwan, Madi), Pontianak Timur (Isnaeni, Toro), Pontianak Tenggara (Wawa), Pontianak Kota (Yani, Mat Solar), Kabupaten Kubu Raya (Abu, Oki, Agus, Dodi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rencana Program Kerja 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menghadiri Munas Kosti&lt;br /&gt;2. Gerakan cinta bersepeda ke pelajar SLTP&lt;br /&gt;3. Penerbitan Kartu Anggota dan Kartu Iuran (Maret)&lt;br /&gt;4. Silaturahmi Bulanan&lt;br /&gt;5. Touring ke Anjungan (7 Juni), Sungai Kakap (2 Agustus), Mempawah (29 Maret), Sungai Ambawang (1 November)&lt;br /&gt;6. Outbond Sepok n Familly ke Pantai Kijing (19-20 Juli)&lt;br /&gt;7.Persiapan HUT ke-2 SEPOK Januari 2010&lt;br /&gt;8. Fun Bike (Tematik)&lt;br /&gt;9. Kunjungan ke Markas Veteran (17 Agustus)&lt;br /&gt;10. Kegiatan Ramadhan (Pawai Taaruf, Takjil, Selikuran, dan Halal bi Halal)&lt;br /&gt;11. Pembuatan Akte Notaris&lt;br /&gt;12. Pembuatan Buku Rekening SEPOK&lt;br /&gt;13. Berpartifipasi dalam berbagai kegiatan jika diperlukan&lt;br /&gt;14. Menghadiri undangan rekan-rekan ontelis nusantara jika memungkinkan&lt;br /&gt;15. Rally Wisata (sounding ke Wali Kota)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Program kerja 2008 yang Terlaksana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Internal :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Penyusunan pengurus Inti&lt;br /&gt;2. Pembuatan lambang, bendera, pin, dan kaus Sepok&lt;br /&gt;3. Penentuan besar iuran anggota Rp 2.000 per bulan&lt;br /&gt;4. Pengadaan sekretariat&lt;br /&gt;5. HUT ke-1 Sepok (fun bike, pameran sepeda tua di mal matahari)&lt;br /&gt;6. Konvoi tiap sabtu sore di Jl Gajahmada dan minggu pagi di GOR Pangsuma&lt;br /&gt;7. Penyusunan AD/ART Sepok&lt;br /&gt;8. Pembuatan stempel&lt;br /&gt;9. Pembuatan kop surat&lt;br /&gt;10. Pendataan anggota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eksternal&lt;/span&gt; :&lt;br /&gt;11. Penyelengara Fun Bike Hemat energi PLN Kalbar&lt;br /&gt;12. Penyelenggara Fun Bike Stop Global Warming Bapedalda Kalbar&lt;br /&gt;13. Pameran Sepeda Tua Hari Kebangkitan Nasional&lt;br /&gt;14. Sosialisasi ke media massa&lt;br /&gt;15. Koordinasi dengan KOSTI&lt;br /&gt;16. Menghadiri Halan bi halal KOSTI&lt;br /&gt;17. Menghadiri Peringatan Titik Kulminasi Matahari di Tugu Khatulistiwa&lt;br /&gt;18. Berpartisipasi dalam Pesta Rakyat BRI&lt;br /&gt;19. Promosi Kart "luna maya" XL&lt;br /&gt;20. Touring ke sejumlah kota di Kalbar (Jungkat dan Singkawang)&lt;br /&gt;21. Berpartisipasi dalam HUT Bank Kalbar&lt;br /&gt;22. Menghadiri sejumlah undangan (Wisuda STIEP, Teknik UNTAN, EGP SMAN 1 Pontianak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekretariat Sepeda Onte Kalimantan Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jl Sumatera Nomor 6-7 Pontianak-Kalbar&lt;br /&gt;Tlp : 08164987621 - 05617008558&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-308603844343426678?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/308603844343426678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=308603844343426678' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/308603844343426678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/308603844343426678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/02/sepok-sempurnakan-kepengurusan.html' title='Sepok Sempurnakan Kepengurusan'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SZQnBcOmm6I/AAAAAAAAALI/vYPEbjYHIPk/s72-c/3076735432_f2830e6871-ok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-8248358896553912501</id><published>2009-02-07T06:36:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T06:40:57.597-08:00</updated><title type='text'>Searching Berita Pertama</title><content type='html'>Sambil menunggu waktu deadline di Tribun Pontianak, saya iseng mencoba searching berita yang pernah saya tulis di Pontianak Post, tempat saya bekerja dulu. Dikit demi sedikit, berita itu saya kumpulkan melalui bantuan paman Google. Dapatlah beberapa di antaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membacanya kembali, saya kadang tertawa sendiri. Tidak percaya pernah membuat berita-berita tersebut. Pertama nulis berita pada Oktober 2000. Saya bermaksud mencari berita pertama saya yang dipublikasikan, soal perceraian tapi tidak ketemu. Meski begitu saya berharap berita yang ada ini bermanfaat. Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 7 Januari 2001&lt;br /&gt;DR (HC) Drs Ikot Rinding, Sosok Dan Kiprahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena prestasinya di bidang pendidikan, putra daerah asal Landak ini mendapat gelar Doktor honoris causa (HC) dari Senior University Of Canada. Rika pangilannya saat masih anak-anak, adalah seorang putra daerah, anak petani yang berhasil menginjakkan kakinya di gedung DPR-MPR RI di Jakarta, Kamis dua pekan lalu Rika menerima Hasyim Ashari dari AP Post, banyak hal yang diungkapkan politisi yang juga tokoh pendidikan ini, dia juga secara khusus menyoroti kondisi pendidikan di Kalbar. Berikut petikan wawancaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering disebut-sebut, sumber daya manusia di Kalbar masih tertinggal, menurut anda bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum SDM yang kita miliki masih tertinggal. Dimungkinkan disebabkan oleh tingkat pendidikan kita yang masih rendah dan belum merata diseluruh wilayah Kalbar. Sebab Pemda belum memiliki perhatian yang serius terhadap sektor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait erat dengan SDM, bagaiamana dengan sosok pendidikan di Kalbar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terjadi kerusuhan dibeberapa wilayah di tanah air, sesungguhnya bukan hanya di Kalbar saja, namun penurunan kuantitas dan kualitas pendidikan hampir merata semua daerah. Terutama diluar Jawa. Secara umum, pendidikan di Kalbar jauh tertingal dari daerah lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikasinya, untuk Nilai Ebtanas Murni saja kita masih kecil. Hal itu terjadi karena, masih banyak kendala yang dihadapi sektor pendidikan di daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa Anda uraikan biang dari semua itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti pemda tidak memiliki konsep yang jelas akan dikemanakan dunia pendidikan Kalbar. Hingga hari ini saja tidak ada konsep pendidikan khusus yang mengarah pada pengembangan potensi daerah masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, pemda belum mejadikan sektor ini sebagai sektor pembangunan yang harus diprioriotaskan. Indikasinya cukup jelas. Dari tahun ke tahun anggaran yang diperuntukkan bagi sektor pendidikan sangat kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga tidak mengherankan jika tidak terjadi pemerataan pendidikan di wilayah Kalbar. Baik dari segi sarana dan prasarana fisik maupun materinya. Bahkan pemda juga enggan untuk memanfaatkan dan mengembangkan peneliti daerahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa Anda contohkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa lihat, sudah berapa kali pemda lebih memilih dan percaya terhadap para peneliti dari pulau Jawa untuk melakukan studi kelayakan dan penelitian akan program dan proyek pembangunan Kalbar. Padahal dari segi kualitas dan latar belakang edukatif peneliti yang kita miliki tidak kalah. Ini menandakan pemda kurang cooperating. Bukan hanya itu, biaya untuk beasiswa bagi mahasiswa dan dosen baik untuk pendidikan dan penelitian juga disediakan sangat kecil. Itu artinya sama saja dengan mematikan potensi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa Anda uraikan relevansi sektor pendidikan dengan potensi yang dimiliki daerah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genderang otonomi daerah oleh pusat telah dibunyikan. Mau tidak mau daerah harus menyambutnya dengan persiapan dipelbagai sektor. Terutama sektor yang potensial untuk bisa menghasilkan Pendapatan Asli Daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengolah sektor tersebut diperlukan berbagai perangkat. Disamping peraturan, juga sumber daya manusianya harus menunjang. Mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan itu. Menurut hemat saya, sudah seharusnya pemda mengembangkan sektor pendidikan yang mampu menunjang pengembangan potensi daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, Kapuas Hulu dan Putussibau yang kaya akan aset pariwisata, dibanguan sebuah sekolah lanjutan kusus untuk keperluan pariwisata itu. Ketapang dan Sintang, dengan potensi hutannya juga harus dilengkapi dengan sekolah kehutanan. Landak dengan potensi perkebunan dan pertanian, juga harus dilengkapi dengan pendidikan disektor tersebut. Pontianak yang potensial untuk sektor perdagangan dan industri juga demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah harus sekaku itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ideologis harus. Karena itu pilihan yang mau tidak mau harus diambil. Pasalnya sejauh ini pendidikan yang kita bangun secara keseluruhan masih umum. Dan sama sekali lemah akan muatan lokalnya. Hal inipun dilakukan untuk menghindari adanya overlapping sektor pendidikan.&lt;br /&gt;http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Tokoh&amp;id=2394&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 13 November 2000&lt;br /&gt;Hari Ini, STKIP Wisuda Lulusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak- Hari ini Senin (13/11), Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pontianak, akan menglangsungkan wisuda lulusannya, Sebelumya Sabtu (11/11), diadakan Yudisum dari Ketua Jurusan masing-masing ke Ketua STKIP Pontianak. Menurut Ketua Panitia, Drs Siswayo MPd , Kalau tidak ada halangan, Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi PGRI Pusat akan menghadiri acara wisuda ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisuda akan dilangsungkan di gedung Kartini jalan Ahmad Yani pukul 08.30, dalam rapat senat terbuka yang dipimpin Ketua STKIP Ketua STKIP Prof DR Uray Husna Asmara MPd. Dijelaskannya dari 67 wisudawan, untuk Strata I sebanyak 65 orang dan 2 orang untuk Strata 2. Menurut Ketua panitia, Drs Siswoyo, MPd, Srata II (S-2), berasal dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), jurusan Matematika, dan Universitas Negeri Malang (UM), jurusan Konseling.Para mahasiswa S-2 ini dibiayai oleh STKIP Pontianak. Dari 65 wisudawan, masing masing 3 orang jurusan Matematika, 7 orang jurusan Administrasi Pendidikan, 37 Jurusan Pendidikan Pembinaan Kewarganegaraan (PPKN), serta 20 jurusan Bimbingan Konseling. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wisuda kali ini STKIP, Jumrah tercatat sebagai lulusan tertinggi dengan IPK 3,16 jurusan Bimbingan Konseling, sedangkan Tonisi Marsoit (40), lulusan terlama 17 tahun. Tonisi Marsoit sekarang bertugas di Kodim 1205 Sintang. Ditanya soal keterlambatanya dalam meyelesaikan kuliahnya, Tonisi menjawab bahwa ia selama ini sering tugas negara." Tugas negara labih penting," ujarnya kepada AP Post di ruang Aula STKIP dengan bahasa Batak yang kental.(hsm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 1 November 2001&lt;br /&gt;Abdurrahman Terkapar Ditusuk Sahabat Sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak-Hanya karena saling ejek, Abdurrahman alias Cendol (22) terkapar ditusuk sahabatnya sendiri Rn, di Terminal Kapuas Indah, Rabu (31/10) pukul 14.30 WIB. Akibatnya, Cendol yang tinggal di Komplek Acisa Permai ini mengalami luka tusuk cukup dalam pada rusuk kanan dan kepala bagian atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan yang berhasil diperoleh AP Post di TKP, sejak tengah hari cendol minum disebuah kedai yang terletak di Komplek Terminal Kapuas Indah. Tidak lama berselang, ia dihampiri Rn. Lalu terjadilah perang mulut diantara keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cendol yang terlalu banyak menenggak alkohol, tidak lagi bisa mengendalikan diri. lalu terjadilah perkelahian diantara keduanya, yang lantas mengalihkan perhatian warga sekitar. Ketika itulah, Rn tiba-tiba mencabut sebilah pisau dari balik pinggangnya. Dalam sekejap ia menyarangkan mata pisaunya tepat di rusuk sebelah kanan Cendol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan sempoyongan dan terus memegangi luka yang menganga, Rn kembali melayangkan bogem mentah, hingga Cendol roboh. Saat itulah, kembali ia menusukkan pisau yang masih berlumuran darah itu tepat di kepada lawannya. Warga yang menyaksikan peristiwa tersebut, tidak bisa berbuat banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas telah merobohkan Cendol, Rn melarikan diri. berkat laporan warga, tidak berapa lama kemudian, petugas datang ke lokasi dan melarikan Cendol ke Disdokkes Polda Kalbar. Sementara, hingga kini Rn masih buron. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka itu bersahabat dan sudah biasa minum-minum di tempat itu," ujar seorang petugas parkir di Pasar Kapuas Indah menjawab pada AP Post. Sementara itu, tim medis Disdokkes Polda Kalbar, berusaha memberikan pertolongan kepada Cendol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Luka-lukanya pun dijahit dan diobati. Namun tidak berapa lama setelah ia diobati, tiba-tiba ia bangkit bergegas meloncat pagar dan berusaha melarikan diri. Cendol dengan sekuat tenaga berlari ke arah Jalan Achmad Yani. Petugas segara memburu korban yang diduga kabur lantaran terlibat tindak kriminal lainnya itu. Dengan mudah petugas berhasil meringkus Cendol. Namun ia terus meronta dan berusaha sekuat tenaga untuk kabur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengawalan ketat, ia kemudian dirujuk ke RSUD dr Soedasro. Sebelum berusaha kabur dari Disdokkes Cendol meminta tim medis agar bersedia mengantarnya ke rumah orangtuanya di Acissa Permai. Namun karena masih dalam penyidikan petugas, tim medis tidak bersedia memenuhi permintaan korban.(hsm)&lt;br /&gt;http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Metropolis&amp;id=10752&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 18 Desember 2000&lt;br /&gt;Belanja Terganggu Air Pasang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak- Sejumlah kawasan kota kembali tergenang air akibat pasang yang kembali melanda pada pagi hari. Genangan umumnya terjadi pada daerah yang berada dekat dengan bibir sungai, seperti kawasan Jeruju, Jalan Pak Kasih dan daerah pinggiran Sungai lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat pasang ini, kompleks Kapuas Indah yang padat dengan pungunjung ini cukup tergaggu, apalagi pada Minggu kemarin terjadi peningkatan arus orang berbelanja, sehubungan semakin dekatkan Natal dan Lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali itu, Kompleks Yuka, yang terletak di jalan Komyos Sudarso, Jeruju, Pontianak, sudah empat hari yang lalu tergenang air. Bahkan, ketinggian air hingga mencapai lutut. Sehingga warga yang hendak keluar masuk komplek, yang hanya beberapa puluh meter dari sungai kapuas itu, terpaksa menggulung celananya, ada mengangkat roknya tinggi-tinggi, belum lagi sepatu yang juga terpaksa di tenteng. Sebab jika tidak, warga akan basah kunyup dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Jumat (15/12) ada beberapa rumah warga yang tergenang air. Masjid Al-Muqiminpun tidak jauh berbeda. Bagian dalamnya dimasuki air itu. Menurut penuturan Yuli, kejadian seperti ini, sudah sering kali terjadi. Bahkan katanya, hampir setiap tahun. Maka tidak heran, jika beberapa rumah warga sengaja dibangun agak tinggi dari permukaan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap bulan desember, komplek Yuka sudah langganan banjir," tutur Yuli, menjawab AP Post, Minggu (17/12). Ia juga menceritakan, pada tahun yang lalu, warga yang sedang sholat Idul Fitri, sempat terusik karena halaman dan bagian dalam masjid yang tepat berada di sebelah rumahnya itu, tergenang air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus terang, saya merasa cemas juga mas, takut-takut pasangnya bertambah besar dan hujan terus turun, wah bisa banjir nanti," ungkap Muhammad Sulaiman, yang ketika ditemui AP Post, sedang membersihkan teas rumahnya yang tergenang air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebagian warga merasa kuatir, lain halnya dengan anak-anak. Mereka terlihat sangat gembira. Bercanda dan "berkubang" setiap harinya. "Nyaman Bang, sejuk," seloroh Andi yang tengah bermain air di parit dekat rumahnya bersama lima orang rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari topografinya, komplek Yuka memang tergolong lebih rendah dibandingkan daerah lain disekitarnya. Belum lagi, posisinya yang sangat berdekatan dengan sungai Kapuas. Namun walaupun "banjir" itu kerap kali terjadi, warga komplek tetap bertahan untuk tinggal. "Semoga saja, tahun ini pasangnya tidak sampai besar, apalagi banjir," ujar Yuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata genangan airpun tidak hanya terjadi di kopmplek Yuka, halaman Universitas Pancabhaktipun ikut tergenang. Belum lagi halaman SMK 2 Pontianak yang setiap kali pasang juga tidak kalah banjirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping ruas jalan sepanjang jeruju, genangan air diatas mata kakipun terjadi di pasar Kapuas Indah, tepatnya disekitar terminal oplet, dibawah jembatan penyeberangan. Sudah beberapa hari ini, mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB air sungai Kapuas perlahan menggenangi terminal yang cukup ramai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal ini sangat menggangu para pengguna jalan dan para sopir angkutan. Belum lagi air yang tergenang itu, keruh. Karena bercampur dengan sampah-sampah pasar dan air bah.(hsm)&lt;br /&gt;http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Kota&amp;id=1512&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 28 Februari 2003&lt;br /&gt;Penipuan Berkedok Barang Antik Merajalela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Pinyuh,-  Penipuan berkedok penjualan barang-barang antik, masih saja merajalela di Terminal Sungai Pinyuh dan sekitarnya. Tidak sedikit korban yang berjatuhan. Karena itulah warga meminta kepada aparat keamanan untuk menyikapi persoalan tersebut. Jika tidak, warga dan penumpang di terminal akan terus menjadi sasaran empuk sindikat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang berhasil dihimpun Pontianak Post, para penipu itu sangat rapai mengorganisir diri. Di kawasan Terminal Sungai Pinyuh sendiri, jumlahnya mencapai 20 orang. Mereka tersebar di sejumlah lokasi. Tidak saja di dalam terminal namun juga disejumlah tempat pemberhentian bus antar kota lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama yang berada di Jalan Jurusan Seliung. Kerja mereka dibagi dalam tiga waktu yaitu pagi, siang dan sore. Setiap waktu dilakoni oleh kelompok yang berbeda, namun masih dalam satu sindikat. Dalam menjalankan aksinya, mereka tidak bekerja sendirian. Namun dengan cara berkelompok antara dua sampai lima orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, mereka mendekati korbannya dengan pura-pura menjual barang-barang antik. Misalnya keris sakti, cincin kebal dan sebagainya. Setelah calon korbannya ditawari, kemudian berdatangan anggota sindikat lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bersikap sebagaimana mestinya, sehingga calon korbannya bertambah yakin. Setelah korbannya tertarik dengan barang dan harga yang disepakati serta membayarnya, anggota sindikat tersebut pergi menjauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kembali lagi ke lokasi semula, setelah korbannya melanjutkan perjalanannya kembali. Banyak yang mengakui kehebatan anggota sindikat ini dalam menjual barang. Sehingga, banyak warga yang akhirnya memilih untuk membelinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dengan harga ratusan ribu rupiah. Tidak hanya itu, seperti dihipnotis para korbannya, juga enggan untuk melaporkan penipuan yang telah menimpanya kepada petugas. Keadaan tersebut, yang selanjutnya menyulitkan polisi untuk melakukan penyelidikan dan penangkapan. Sebab, bukti awal berupa laporan dari warga, tidak ada. Selain itu, disebut-sebut ada oknum petugas yang "melindungi" aktivitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, beberapa waktu silam, jajaran Kepolisian Sektor Sungai Pinyuh, berhasil menangkap Ag, setelah ketahuan melakukan penipuan serupa.&lt;br /&gt;"Saya memang belum pernah kena tipu kawanan itu. Tetapi seorang rekan saya pernah ditipu sekali. Saat itu, dia tidak sadar telah membeli sebuah keris kecil berwarna kuning keemasan yang katanya berkhasiat untuk membuat rezeki lancar dan tubuh tidak mempan senjata tajam," kata Herman (32) penumpang asal Sanggau ketika ditemui Pontianak Post di pemberhentian bus ABM, Sungai Pinyuh kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, penipuan sejenis tidak hanya terjadi di Terminal Sungai Pinyuh dan sekitarnya. Melainkan juga di terminal-terminal lain, tidak terkecuali pasar. Di Terminal Batulayang dan Siantan, aksi penipuan tersebut sudah berlangsung lama. Dia, seperti juga penumpang lainnya berharap berharap, pihak kepolisian semakin gencar memerangi mereka. Mengingat sepekterjangnya sudah sudah sangat meresahkan.(hsm)&lt;br /&gt;http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&amp;id=21852&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 2 Februari 2003&lt;br /&gt;Aktivitas Ekonomian Sungai Pinyuh Lumpuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Pinyuh,-  Diperkirakan aktivitas ekonomi Sungai Pinyuh lumpuh total, selama perayaan tahun baru imlek 2554. Para pedagang dari etnis Thionghoa memutuskan untuk menutup toko-toko mereka. Mereka baru akan buka kembali pada Rabu (4/2) mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan Pontianak Post, warga etnis Thionghoa memilih untuk merayakan imlek bersama sanak keluarga. Ada juga yang berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya. Dari yang hanya sekedar mengucapkan selamat hingga saling bertukar bingkisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingkisan juga diberikan kepada para tetangga mereka yang bukan dari golongan etnis Thionghoa. Mereka membagikan kue dodol yang lebih dikenal dengan Kue Keranjang. Mereka nampak begitu gembira dan bahagia. Hal itu ditunjukkan dengan pakain mereka yang serba baru. Keceriaan juga terlihat diraut wajah anak-anak kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi merka imlek berarti angpau dan baju baru. Mereka terlihat hilir mudik di sekitar Pasar Sungai Pinyuh. Ada yang jalan kaki, ada juga yang mengayuh sepeda pancal. Warna merah, putih, kuning dan biru terlihat mendominasi corak pakaian yang mereka kenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara malam tahun baru imlek, diwarnai dengan hujan lebat. Hujan yang turun sejak pukul 18.00 Wib itu, baru berhanti sekitar pukul 02.00 Wib dini hari. Namun begitu, hujan tidak menghalangi warga Thionghoa untuk menyiapkan pergantian tahun. Ada yang membakar lilin di pekong-pekong, ada juga yang membeli pernak-pernik imlek, semisal buah Jeruk Bali segar berwarna kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jeruk ini disimpan di loteng untuk keberuntungan. Setelah selesai imlek lalu di makan. Makanya, harus jeruk yang bagus biar keberuntungan di tahun ini juga bagus," kata Aphin, warga Pasar Baru yang ditemui Pontianak Post. Seperti pemilik toko lainnya, Aphin juga demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan imlek di Sungai Pinyuh kali ini, memang sedikit lebih sederhana, jika tidak dibilang sepi. Tidak ada lagi pertunjukkan barongsai dan aksi naga seperti tahun sebelumnya. Kemeriahan berupa pesta petasan dan kembang api juga tidak terlihat. Meskipun ada, jumlahnya tidak semeriah tahun lalu. Secara turun temurun, pesta kembang api dan naga selalu meramainkan pergantian tahun di Sungai Pinyuh.(hsm)&lt;br /&gt;http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&amp;id=19272&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 17 April 2003&lt;br /&gt;Posisikan Sungai Pinyuh &lt;br /&gt;Sebagai Poros Pontianak-Kuching&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Pinyuh,-  Sejumlah kalangan berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pontianak dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar memposisikan kawasan Sungai Pinyuh sebagai poros Pontianak-Kuching. Demikian salah satu point yang terungkap dalam seminar Kebijakan Strategi Pengembangan Kota Sungai Pinyuh yang dilangsungkan di Gedung Liong Sin, Sungai Pinyuh, Rabu (16/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir dalam seminar tersebut, Ir H Said Djafar mantan Kepala Kimpraswil Kalbar yang memaparkan konsep dasar pengembangan kota, Ir Matsum dari Bappeda Kabupaten Pontianak memaparkan tata ruang Sui Pinyuh dan implementasinya, Drs Marsono dari Dinas Kimtakot Kabupaten Pontianak yang menguraikan kendala pelaksanaan Perda 03 Tahun 2000 tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) serta Drs Samsir Ismail, MM dari Ikatan Cendikiawan Musim Indonesia (ICMI) Kabupaten Pontianak yang membawa materi peran swasta dalam pertumbuhan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminar terungkap, Kota Sungai Pinyuh cocok dikembangkan sebagai jalur lintas poros Kuching-Pontianak. Tidak bisa dipungkiri bahwa Sungai Pinyuh menjadi kawasan transit bagi warga yang pulang dan pergi dari dan ke Kuching. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, pemerintah hanya tinggal melengkapi diri untuk membangun inprastruktur memadai yang diperlukan. Misalnya, tempat kerja, tempat transportasi, tempat tinggal, rekreasi, transportasi, dengan memperhatikan aspek keamanan, kebersihan, dan keselarasan serta nilai-nilai budaya setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merealisasikan kondisi itu, diperlukan dukungan dari segenap masyarakat, pengusaha dan pemerintah sendiri. Sejauh ini, jika melihat kondisi riil Sungai Pinyuh saat ini, memang akan banyak kendala dan perubahan besar. Mengingat Kota Sungai Pinyuh yang semrawut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seminar digelar untuk mencari format pengembangan Sungai Pinyuh ke depan. Sehingga bisa diberikan masukan kepada Pemkab Pontianak dalam rangka penyusunan Rencana Umum Tataruang Kota (RUTRK)," kata Susanto, ketua penyelenggara.(hsm)&lt;br /&gt;http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&amp;id=25681&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Perjalanan Karir&lt;br /&gt;SUNGAI AMBAWANG-Akhirnya, Kecamatan Sungai Raya keluar sebagai juara umum MTQ ke-23 Kabupaten Pontianak yang dilaksanakan di Sungai Ambawang, Jumat (29/3) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecamatan Sungai Raya menyisihkan 14 kecamatan lainnya-termasuk juara umum MTQ ke-22 Kecamatan Mempawah Hilir-dengan mendominasi hampir diseluruh cabang yang dipertandingkan. Atas prestasi tersebut, kontingen Sungai Raya berhak membawa pulang hadiah piala bergilir Bupati Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedasaran hasil keputusan dewan juri, yang diketuai oleh Drs M Yusuf Was Syarif, cabang tilawah, golongan dewasa putra Sujai (Sei Raya) keluar sebagai juara pertama. Diikuti Dedi afriadi (Sei Kakap) dan Mustafa Tuwuh (Mempawah Hilir) sebagai juara kedua dan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan golongan putri, Asnawati A Kadir (Sei Kakap), Rosnani Hanafi (Sei Raya) dan Siti Munirah (Sei Raya) masing-masing sebagai juara pertama, kedua dan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan remaja putra, juara pertama Achmad Dahlan (Sei Raya), juara kedua Anwar deraman (Siantan) dan juara ketiga Hendra Pradana (Sei Kakap). Sementara dibagian putri, keluar sebagai peserta terbaik pertama Rabiah Alias (Siantan), terbaik kedua Lilis Suryani (Sei Kakap) dan Hamidah (Sei Raya) sebagai terbaik ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibagian anak-anak, golongan putra juara pertama Ahmad Syuaibi (Sei Raya), kedua Abdul Muthalib (Kubu) dan ketiga Taufik Akbar (Sei Ambawang).&lt;br /&gt;Dibagian putri, Syamsiah M Sood (Sei Kakap) juara pertama, Jumirah (Teluk Pakedai) jura kedua dan Novianti (Batu Ampar) juara ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan cacat netra dibagian putri, Marwati Sarijan (sei Kakap) sebagai juara ketiga (hanya satu peserta), dibagian putra, Mursalin (Siantan) dan Isya Munadi (Sei kakap) sebagai juara kedua dan ketiga (hanya dua peserta). Dicabang Hifzil quran golongan 1 juzz dan tilawah, Marlinda (Sei Kakap) sebagai juara pertama, Sumiyati Arifin (Sei Pinyuh) juara kedua dan Khairul Ahwal (Sei Ambawang) keluar sebagai juara ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibagian putra, Anas hafiludin (Sei Ambawang) sebagai terbaik pertama, M Indra (SEI Pinyuh) Terbaik kedua dan Yusran Sunadi (Sei Kakap) terbaik ketiga. sementara golongan 5 juzz dan tilawah, Ahmadi (Sei Kakap) membuktikan dirinya sebagai peserta putra terbaik, diikuti Subairi (Sei Ambawang) dan Mursalin (Sei Raya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Fahmil qur,an terbaik pertama diraih regu C (Sei Raya), terbaik kedua grop A (Mempawah Hilir) dan terbaik ketiga grop B (Sei Kakap). Dicabang syrhil quran, predikat juara pertama diraih Mempawah Hilir, kedua Siantan dan ketiga Sei Raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Khotil, golongan hiasan mushaf, bagian putri juara pertama diraih Nurhamni (Mempawah Hilir), juara kedua Rubiyanti (Sei Kunyit) dan ketiga Maryana (Sei Raya). Dibagian putra, juara pertama Jumadi (Sei Kunyit), kedua Irwanto (Sei Kakap), ketiga Mahrus (Sei Raya). Golongan naskah, dibagian putri juara pertama diraih Deti Darmawati (Sei Pinyuh), juara kedua Luluk (Sei Raya) dan Supriyati (Rasau Jaya). Dibagian putra, terbaik pertama diraih Khairani (Sei Kunyit), kedua Sesep (Mempawah Hilir) dan ketiga Tri Kuncoro (Sei Pinyuh).(hsm/pk) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 11 Maret 2003&lt;br /&gt;Digelar, Pekan Pengenalan Internet Pelajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Pinyuh,-  Kantor Biro Pontianak Post Sungai Pinyuh, menggelar pekan pengenalan internet bagi pelajar, 24 Februari-01 Maret kemarin. Kegiatan yang tidak dipungut biaya tersebut, diikuti oleh pelajar SLTP dan SMU yang ada di Mempawah dan sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara lain, SLTP Negeri 1 Mempawah, SLTP Negeri 1 Sungai Pinyuh (Anjungan-red), SMU Negeri 1 dan 2 Mempawah, SMU Negeri I Sungai Pinyuh, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah AL-Fallah Mempawah. Masing-masing sekolah mengirimkan tiga orang pelajar. Sehingga jumlahnya menjadi 21 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan pengenalan internet tersebut, menandai telah beroperasinya Warung Internet (warnet) InfoNet Biro Sungai Pinyuh. Selain itu juga sebagai bentuk nyata partisipasi Pontianak Post grup untuk ikut memasyarakatkan teknologi informasi dan komunikasi internet. Khususnya kepada pelajar di daerah agar mereka tidak Gatek alias gagap teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimal tidak tertinggal jauh dengan pelajar-pelajar lainnya, di kota lain seperti Pontianak dan Singkawang. Sejauh ini, sebagian pelajar di Mempawah dan sekitarnya, masih belum mengenal dan menggunakan kemudahan yang ditawarkan teknologi informasi berbasis sistem komputerisasi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, ketika program tersebut ditawarkan kepada sekolah-sekolah, mereka menyambutnya dengan baik. Begitupun, para pelajar yang mengikuti program itu, merasa sangat beruntung.&lt;br /&gt;"Kami mendapatkan sesuatu yang baru. Meski sebenarnya kami mengetahui teknologi informasi seperti ini, sudah berkembang sejak beberapa tahun silam. Akan tetapi, baru sekarang inilah, kami berkesempatan mengenal, menikmati dan menggunakan internet. Kalau bisa Pontianak Post memberikan kesempatan kepada pelajar-pelajar lainnya," kata Rio salah satu pelajar yang ambil bagian dalam kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pelajar seperti Rio, yang baru berhadapan dengan komputer dan internet, mengaku awalnya cukup sulit untuk belajar.&lt;br /&gt;Tetapi, setelah mendapat bimbingan dari instruktur selama dua jam, diapun bisa memahaminya dengan baik. Sementara itu, menurut Ilam, operator InfoNet yang sekaligus dipercaya sebagai instruktur dalam pekan pengenalan internet tersebut menceritakan, dari 21 pelajar itu, ada sebagian yang sudah mengenal dan akrab dengan internet. Namun sebagian lainnya, belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi mereka yang minimal sudah mengenal komputer, hampir tidak ada kesulitan mengajarkan internet. Namun bagi yang belum mengenal komputer sama sekali, memang ada hambatan berarti tapi kebanyakan mereka mau belajar dan bisa juga mengikuti seluruh materi yang diajarkan," kata Ilam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, materi yang diajarkan kepada pelajar tersebut antara lain membuat elektronik mail (e-mail), webs searching, chating dan sebagian pengenalan dasar-dasar komputer bagi mereka yang belum mengenal komputer sama sekali. Waktu sebanyak dua jam digunakan cukup efektif. Satu jam pertama untuk pengenalan dan satu jam lainnya memberikan kesempatan kepada mereka untuk mempraktekkan sendiri materi yang sudah diberikan.(hsm)&lt;br /&gt;http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&amp;id=22731&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 23 November 2000&lt;br /&gt;Pertanian, Pemda Kota Kurang Berbuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak- Kepala Balai Imformasi dan Penyuluh Pertanian Kalimantan Barat, Ir Muchtiar mengatakan, bahwa sektor pertanian cukup potensial untuk dikembangkan di Kota Pontianak. Sayangnya, menurut Muchtiar, sektor ini luput dari perhatian pemerintah Kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terlihat dari tidak dimasukkannya area pertanian di dalam rencana tata ruang kota. Padahal masyarakat tani jumlahnya relatif besar, apalagi pontianak berkedudukan sebagai basis kegiatan perdagangan dan jasa. Walau demikian jajaran pertanian akan tetap eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, menurut sejumlah pedagang di Pasar Mawar, Pasar Dahlia dan Pasar Flamboyan, hingga saat ini banyak sayur-mayur yang dijual di pasaran itu, berasal dari Jawa, sebagian lagi didatangkan dari luar daerah. Bahkan cabe yang dapat tumbuh baik juga didatangkan dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, itu Muchtiar mengungkapkan banyak lahan tidur di Kota Pontianak yang seharusnya bisa dimanfaatkan. Dulu, ketika krisis mulai mendera Pemda Kota pernah melancarkan program pemanfaatan lahan tidur, namun hanya sebentar namun tidak ada ada lagi gemanya. "Kami bertekad, setiap jengkal tanah Kota harus ditanami," menjawab AP Post Rabu (22/11), disela-sela kegiatan Pelatihan Teknis Penyuluh Pertanian Kota Pontianak, di Ruang Rapat Paripurna Bappeda Kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun daerah yang potensial menjadi sentra pertanian, menurutnya, adalah kecamatan Pontianak Utara. Karena kondisi tanah di daerah tersebut sangat cocok untuk budidaya pepaya, lidah buaya dan sayur-sayuran serta tanaman holtikultura lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, menurut Muchtiar, keinginan wali kota untuk menjadikan kota pontinak sebagai proyek percontohan pengembangan agribisnis harus mendapatkan dukungan semua pihak. Dengan demikian ekonomi kerakyatan akan terbangun, sehingga kesejahteraan masyarakat petani dapat diperbaiki.(hsm)&lt;br /&gt;http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Kota&amp;id=1303&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 6 April 2001&lt;br /&gt;*Dari Kunjungan Komisi V DPR-RI&lt;br /&gt;Pelindo Belum Siap Hadapi AFTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETUA Tim Komisi V DPR-RI, DR HM Azwir Dainy Tara menilai, Pelabuhan Indonesia Cabang Pontianak (Dwikora) untuk saat ini masih belum bisa mendukung penuh lajunya pengembangan dan pertumbuhan ekonomi Kalbar yang kian pesat dari hari kehari. Apalagi dalam menyongsong AFTA nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, jika tidak dilakukan langkah-langkah antisipasi, bukan tidak mungkin, pelabuhan ini akan tidak mampu memberikan pelayan maksimal kepada para investor dan masyarakat. Menurutnya, kurangnya dukungan itu itu dapat dilihat dari terbatasnya kawasan pelabuhan yang hanya 4 hektar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal idealnya, sebuah pelabuhan memiliki luas minimal 20-30 hektar. Selain itu, letaknya yang ditepi sungai juga menjadi kendala. Sebab, daerah aliran sungai mudah terjadi pendangkalan akibat dari erosi di daerah hulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kapasitas jalan juga tidak memadai untuk dilintasi mobil-mobil kontainer. "Tim akan merekomendasikan kekurangan Pelabuhan Pontianak ini ke Pusat, selanjutnya dalam waktu dekat akan dicarikan jalan keluar untuk pemecahan masalah-masalah tadi," kata Azwir kepada AP Post, usai pertemuannya dengan jajaran departemen perhubungan dan PT Pelindo II Cabang Pontianak, Rabu (4/4). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal dibenarkan oleh General Manager PT Pelindo II Cabang Pontianak, Drs Edy Purwanto. Menurutnya, untuk accesroad, memang kurang memadai. Kapasitas jalan yang hanya 8 ton harus dilewati oleh kontainer berkapasitas 12-15 ton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga jalan-jalan cepat mengalami kerusakan. Selain itu, pengelola pelabuhan setiap tahunnya harus mengeluarkan Rp 9,78 milyar untuk pengerukkan. Jika tidak dilakukan pengerukkan akan sangat menghambat kecepatan dan ukuran kapal yang akan masuk pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut diperparah oleh banyaknya kapal-kapal yang berlabuh dan tidak melakukan aktivitas. Disamping itu, lokasi dan peralatan untuk aktivitas bongkar muat barang juga terbatas. "Kami minta kerjasama dengan pemerintah kota dan provinsi untuk membangun prasarana jalan dan perluasan dermaga," tutur Edy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga bertutur, Pelindo baru saja melakukan perluasan 100 meter ke arah Barat serta penambahan truck, empat unit forklip. Ditambahkan Azwir, untuk meningkatkan kinerja Pelabuhan Pontianak, Pemerintah Pusat akan segera mengusahakan keuangannya dan kontraktornya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia mengaku belum dapat memastikan kapan realisasinya, siapa pihak-pihak tersebut dan berapa besar bantuannya. Namun yang jelas kata dia, pelabuhan Pontianak harus dikembangkan, sebab kedepan fungsinya akan sangat vital dan urgent, baik untuk cargo, penumpang, terutama bagi perdagangan antarpulau dan negara. " Perkembagan dan pertumbuhan sebuah kawasan sangat tergantung dari sarana dan prasarana perghubungan. Salah satunya pelabuhan. Jika tidak, potensi yang dimiliki daerah tidak akan bisa dimanfaatkan secara maksimal," papar wakil ketua fraksi Golkar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pertemuannya dengan pihak PT Pelindo II Cabang Pontianak dan Departemen Perhubungan, tercetus wacana untuk membangun sebuah pelabuhan yang lebih besar di sebuah lokasi yang lebih memadai. Misalnya di tepi laut. Atau dengan membangun sebuah pelabuhan khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya PTPN XIII dengan investor Malaysia bekerjasama membangun sebuah pelabuhan untuk mengangkut CPO. Dari hasil pengamatan tim, Kalbar lebih beruntung dari daerah lainnya. Sebab sudah terlihat kepastian investor masuk, sementara daerah lainnya masih meragukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui, investor pada umumnya memang sangat tertarik pada sektor agrobisnis. Sehingga karet, sawit dan produk perkebunan lainnya selalu jadi incaran mereka. Praktis untuk menunjang percepatan distribusi sumber-sumber itu diperlukan pelabuhan yang representatif. " Namun membangun sebuah pelabuhan baru itu tidak semudah memindahkan rumah. Banyak faktor yang harus diperhatikan," ucap Edy.(hsm)&lt;br /&gt;http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pinyuh&amp;id=2463&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 24 Januari 2003&lt;br /&gt;2003, KTNA Usung Program Prioritas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempawah,-  Memasuki tahun 2003, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pontianak telah menyiapkan sejumlah program prioritas yang ditengarai mampu memberikan konstribusi langsung bagi upaya peningkatan kesejahteraan nelayan dan petani di Kabupaten Pontianak. Demikian diutarakan Ketua KTNA Kabupaten Pontianak H Daeng Rusli kepada Pontianak Post, Rabu (22/1) siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sudah membicarakan penyusunan program prioritas tersebut. Tidak saja dengan pengurus namun juga melibatkan pihak eksekutif dalam hal ini instansi terkait," kata Daeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memaparkan, program-program prioritas tersebut, digolongkan kedalam tiga bidang. Yaitu bidang perikanan, peternakan dan pertanian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bidang perikanan, pihaknya akan memperjuangkan Kantor Perikanan dan Kelautan menjadi Dinas Perikanan dan Kelautan, optimalisasi pemanfaatan sumberdaya laut bagi kepentingan Pendapatan Asli Daerah dan mendesak pemerintah bertindak tegas terhadap sepakterjang kapal-kapal nelayan asing yang kerap beroperasi di perairan nelayan Kabupaten Pontianak dan sekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-8248358896553912501?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/8248358896553912501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=8248358896553912501' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8248358896553912501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8248358896553912501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/02/searching-berita-pertama.html' title='Searching Berita Pertama'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-5890886030758697607</id><published>2009-02-07T05:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T05:26:10.160-08:00</updated><title type='text'>Madu Organis Siap Ekspor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SY2Lw4i782I/AAAAAAAAALA/aDvRarfRktg/s1600-h/oke.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SY2Lw4i782I/AAAAAAAAALA/aDvRarfRktg/s320/oke.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300046008413844322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Omzet per Musim Capai Rp 4 Miliar&lt;br /&gt;PONTIANAK, TRIBUN - Pendamping Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) Kapuas Hulu, Thomas Irawan Sihombing, mengatakan pihaknya sedang menyiapkan ekspor madu hutan organis asal Danau Sentarum ke Sarawak, Malaysia Timur dan Brunei Darussalam.&lt;br /&gt;Langkah itu diambil mengingat harga jual di sana lebih menggiurkan di samping jarak tempuh yang lebih dekat ketimbang ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Secara geografis, Kapuas Hulu memiliki keuntungan karena berbatasan langsung dengan Sarawak. Jaraknya hanya sekitar 80 kilometer lewat jalur darat. Bandingkan dengan jarak tempuh ke Jakarta," kata Thomas kepada Tribun di Sekretariat Bersama Karimata 43, Sabtu (7/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berharap pemerintah segera membuka Pos Lintas Batas (PLB) Badau-Aruk pada Maret 2009 seperti yang direncanakan. Dengan begitu, akan semakin cepat kemungkinan ekspor madu hutan ke Sarawak. Sebab, petani akan lebih diuntungkan karena harga jual yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk madu hutan ukuran 600 mililiter harganya Rp 60 ribu. Bandingkan dengan harga di Pontianak yang Rp 70 ribu per kilogram atau ke Jakarta yang dihargai Rp 45 ribu per kilogramnya," papar Thomas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditanya tentang standar mutu, lelaki berkacamata ini menegaskan sejak 2005, produsen kelompok kecil usaha madu hutan sudah melakukan Sistem Pengawasan Mutu Internal (SPMI) untuk memperoleh Sertifikat Organis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sistem ini menjamin tiap periau secara internal melakukan pengawasan terhadap dirinya. Kegiatan- kegiatan terdokumentasi secara tertulis dan dapat diperiksa pihak lain secara obyektif. Hasilnya, pada 2007 APDS berhasil menerapkan SPMI dan memastikan 4,3 ton madu hutan yang diproduksi organis," tegas Thomas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun itu juga, Board of Indonesian Organic Certifications (BIOCert) memberikan Sertifikat Organis kepada APDS. Sertifikat itu diserahkan langsung oleh Menteri Kehutanan, MS Kaban, di Cisarua, Bogor, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan anggota APDS saat ini berjumlah 8 periau dari 33 periau yang ada di kawasan Danau Sentarum. Dari jumlah tersebut kapasitas produksi pada musim 2008-2009 mencapai 16,5 ton. Sebanyak 10 ton dijual ke Dian Niaga, Jakarta. Sisanya sekitar 1,5 ton dipasarkan ke Riak Bumi. Total omzet penjualan sebesar Rp 517,5 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau seluruh periau yang ada berhimpun, omzet kita bisa menyentuh angka Rp 4 miliar. Dengan asumsi kapasitas produksi bisa 30 ton per musim," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periau adalah organisasi tradisional pengelolaan madu hutan di Danau Sentarum. Tiap periau beranggotakan 10-30 orang. APDS terbentuk untuk memaksimalkan dan memberdayakan lembaga tersebut dengan pendampingan dari Aliansi Organis Indonesia (AOI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2004-2007, hanya 5 periau yang bergabung di APDS dengan kapasitas produksi madu hutan organis 4,3 ton. Pada 2008-2009, jumlahnya meningkat jadi 8 periau dengan produksi mencapai 10 ton. Sayang, pada musim 2007-2008, hampir semua periau gagal panen karena banjir menerjang kawasan ekosistem lebah Apis Dorsata yang selama ini menghasilkan madu hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melihat periau-periau yang ada, sekitar 500 kepala keluarga menggantungkan hidupnya dari madu organis ini. Potensi ekonomi ini sangat besar untuk dikembangkan. Apalagi, baru sekitar 12 ribu hektare yang dikelola dari sekitar 132 ribu hektare lahan yang tersedia," tegas Thomas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, lanjut Thomas, APDS masih menemukan sejumlah kendala dalam memproduksi madu hutan organis. Pertama, masa panen alami madu yang terbatas yaitu setahun sekali antara bulan November- Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan para petani menemukan panen sistem baru. Di mana, tidak semua sarang diambil. Melainkan menyisakan anakan dan hanya mengambil madunya saja. Dengan cara ini, panen bisa sampai 3 kali setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, madu yang dijual adalah madu asli. Belum ada diversifikasi produk lainnya. Apalagi, selama ini, Pemkab Kapuas Hulu belum pernah melakukan pendampingan terkait peningkatan kualitas produk. Untuk packing saja misalnya baru dilakukan saat tiba di Dian Niaga, dengan merek Dorsata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan ketiga adalah kadar air yang masih tinggi dalam madu yang dihasilkan. Saat ini, rata-rata terdapat 27 persen kandungan air. Sementara standar idealnya 21 persen.&lt;br /&gt;"Untuk menurunkan kadar air dan kelembaban kita menggunakan dehumidifier. Namun, harus didatangkan dari Jakarta dan harganya relatif mahal. Untuk yang fortabel misalnya harus merogoh kocek Rp 7,8 juta per unit," papar Thomas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan lainnya adalah ancaman banjir dan kekeringan di Danau Sentarum. Lebah Apis Dorsata menggantungkan hidup dari alam. Karena itu, disebut madu hutan organis karena memang tidak menggunakan bahan-bahan kimia dalam produksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apis Dorsata hanya memakan sari pati delapan bunga di Danau Sentarum. Di antaranya adalah bunga putat, kawi, dan masung. "Untuk menjaga ketersediaan pakan lebah Apis Dorsata, Periau Semalah misalnya sudah membudidayakan bunga-bunga tersebut di areal seluas 8 hektare," ujar Thomas seraya mengatakan untuk pemasaran produk di dalam negeri tidak mengalami kendala berarti karena sudah bekerjasama dengan mitra Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI). Dalam waktu dekat APDS bersama AOI akan mengadakan lawatan bisnis ke Serawak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenali Madu Asli&lt;br /&gt;Ambil madu sedikit. Teteskan ke dalam gelas berisi air putih. Kalau tetesan madu bisa bertahan hingga ke dasar gelas, maka madu itu masih murni.  Namun, kalau madu yang diteteskan terurai bersama air putih, maka madunya sudah tidak asli lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak benar kalau madu alsi tidak dikerumuni semut. Malah sebaliknya pasti disenangi semut. Kalau semut tidak mengerumuni madu, artinya madu sudah terpermentasi dan sudah tidak asli lagi. (hasyim ashari)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-5890886030758697607?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/5890886030758697607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=5890886030758697607' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/5890886030758697607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/5890886030758697607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/02/madu-organis-siap-ekspor.html' title='Madu Organis Siap Ekspor'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SY2Lw4i782I/AAAAAAAAALA/aDvRarfRktg/s72-c/oke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-7048741280951222686</id><published>2009-01-09T22:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-09T22:52:50.985-08:00</updated><title type='text'>Pameran Sepeda Tua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SWhFl67-rMI/AAAAAAAAAKw/uJWcsVQsS2Q/s1600-h/oke+deh1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SWhFl67-rMI/AAAAAAAAAKw/uJWcsVQsS2Q/s320/oke+deh1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289554280124951746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sepeda Onte Kalimantan Barat (SEPOK) akan menggelar berbagai kegiatan dalam rangka Hari Uang Tahun (HUT) ke-1SEPOK. Kegiatan dipusatkan di Mal Matahari, Jl Jenderal Urip Pontianak, Kalimantan Barat, pada 18 Januari 2009 sejak pukul 06.00 WIB sampai 21.30 WIB.&lt;br /&gt;Berbagai acara digelar untuk memeriahkan kegiatan bertema Bangga Bersepeda itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pameran Sepeda Tua&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pameran menampilkan sepeda-sepeda tua koleksi anggota SEPOK. Berbagai merek dari Jerman, Belanda, Jepang, Inggris, dan China akan dipajang. Sebut saja, Gazelle, BSA, Mister, Hercules, Fongers, Batavus, Raleigh, New Hudson, The Speed, Robinson, NSU, Philips, Humber, dan masih banyak lagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran kegiatan ini untuk memperkenalkan kembali sejarah sepeda tua yang ternyata juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah Kalbar. Sebab, sepeda-sepeda yang tergolong langka dan diburu rekan-rekan kolektor juga ada di Pontianak dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fun Bike&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Fun Bike akan diikuti sekitar 600 peserta. Selain dari SEPOK juga dari klub sepeda lain seperti Pontianak Low Roder dan TNT. Masyarakat umum juga boleh ikut serta. Apapun jenis sepedanya. Apalagi, kegiatan ini bertujuan menggiatkan kembali aktivitas bersepeda yang menyehatkan. Selain itu, panitia juga menyediakan berbagai doorprize menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lomba Lukis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lomba melukis diperuntukkan bagi siswa-siswi Taman Kanak-kanan. Tema lukisan tentang sepeda. Panitia menyediakan hadiah menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hiburan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, para pengunjung juga akan dihibur berbagai tarian tradisional khas Kalbar. Dan tentu saja aksi anak-anak SEPOK yang sebagian adalah musisi. Lagu Sepeda Tua, yang agak ngerock dan menjadi mars SEPOK juga akan disuguhkan. Pokonya dijamin seru abis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kami mengundang semua masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Semua kegiatan gratis alias tidak bayar. Tinggal datang, dapatkan kesenangan sekaligus hadiahnya. Kami tunggu di Mal Matahari.....!!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-7048741280951222686?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/7048741280951222686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=7048741280951222686' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7048741280951222686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/7048741280951222686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2009/01/pameran-sepeda-tua.html' title='Pameran Sepeda Tua'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SWhFl67-rMI/AAAAAAAAAKw/uJWcsVQsS2Q/s72-c/oke+deh1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-6304931420626034994</id><published>2008-12-25T23:06:00.000-08:00</published><updated>2008-12-26T00:49:29.092-08:00</updated><title type='text'>Rumah Tanpa Huruf R</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SVSEM156hPI/AAAAAAAAAKo/9eguL2sMKqA/s1600-h/belajar2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 302px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SVSEM156hPI/AAAAAAAAAKo/9eguL2sMKqA/s320/belajar2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283993618975720690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat kecil dulu, kalau berkelahi dengan teman sepermainan saya sering diolok. Bahan olok-olokan itu pula yang memancing perkelahian semakin menjadi-jadi. Tidak jarang yang berakhir dengan baju robek, atau wajah membiru. Atau setidaknya menangis tersedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah yang paling suka mengolok saya adalah Kubil. Nama aslinya adalah Hardi. Rumah kami hanya dibatasi kebun langsat dan rambutan. Disebut Kubil karena meski orang Betawi asli, matanya sipit. Persis tokoh kartun Kubil di Harian Pos Kota.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap hari, apalagi kalau dia kalah main sepakbola, Jaban, atau Tojo. Senjata pamungkasnya pasti keluar. "Cadel, cadel, cadel!!" begitu dia menghardik saya.&lt;br /&gt;Saya kemudian membalasnya dengan mengatakan "Congek woii congek!"&lt;br /&gt;Seperti halnya saya, Kubil juga punya kekurangan. Dari telinganya mengeluarkan cairan berwarna putih kekuningan yang beraroma tidak sedap. Kalau sudah saling ejek begitu, selanjutnya pasti baku hantam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Jujur saya merasa minder karena lidah saya pendek. Jadi, tidak bisa mengucapkan huruf R. Perasaan itu masih tumbuh saat saya di SMP dan SMA. Apalagi, setiap Senin atau Sabtu, saya kerap diminta jadi Pemimpin Upacara Bendera. Atau minimal membaca UUD 1945.&lt;br /&gt;"Kepada pembina upacala, holmat glakk!" begitu kira-kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit terhibur karena di kampung saya ada anak Jakarta yang baru pindah. Satu keluarga, mereka tidak bisa menyebut huruf R. Bahkan, kalau berbicara yang mereka sebut huruf L bukan R. Ternyata, ada yang lebih parah. Dari sana saya mulai kritis. Karena, Babeh, Enyak, dan ketiga adik saya bisa melafalkan R dengan baik. Artinya, cadel bukanlah keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejumlah referensi, cadel adalah ketidakmampuan mengucapkan satu huruf unik. Umumnya huruf R. Meski ada juga sebagian orang yang justru bisa menyebut huruf R namun cadel untuk huruf lainnya. Orang Jepang misalnya, kebanyakan cadel pada huruf L.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cadel sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu cadel karena faktor psikologis dan cadel karena faktor neurologis. Cadel yang disebabkan faktor neurologis berarti disebabkan adanya gangguan di pusat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasinya, mereka (umumnya anak) dengan gangguan ini harus segera dibawa ke neurolog. Pada prinsipnya, gangguan ini masih bisa ditangani. Namun bila kerusakannya termasuk parah, bukan tidak mungkin akan terbawa sampai dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cadel yang kedua adalah cadel yang disebabkan faktor psikologis. Karena kehadiran adik, contohnya, maka untuk menarik perhatian orang tua, anak akan menunjukkan kemunduran kemampuan bicara dengan menirukan gaya bicara adik bayinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasinya, orang tua harus menunjukkan bahwa perhatian padanya tidak akan berkurang karena kehadiran adik. Selain itu, orang tua juga harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar, jangan malah menirukan pelafalan yang tidak tepat. Pada kasus yang parah, dianjurkan membawa anak ke ahlinya agar bisa tergali apa masalah yang melatarbelakanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, saya terkena cadel neurologis dan terbawa hingga dewasa. Layaknya orang dewasa, saya membutuhkan pendamping hidup. Sungguh tak dinyana, perempuan yang saya nikahi, Mina, juga tidak fasih melapal huruf R. Bahkan, kadarnya lebih parah dari saya. Kalau lagi iseng saya sering menggodanya, juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun setelah menikah, kami dianugerahi bocah mungil Bagas Kusuma Wardhana. Saat lahir, selain nama, apalagi yang dipikirkan kalau bukan jangan-jangan Bagas juga tidak bisa bisa menyebut huruf R. Kekhawatiran itu makin memuncak saat Bagas belajar bicara, huruf S, ,N, dan huruf R-nya tidak karuan. Huruf lainnya, vokal kah atau konsonan bisa ia serap dengan baik dan mengucapkannya dengan baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kehadiran Bagas, saya dan istri kalau tidak terpaksa, sangat jarang menyebut kata yang ada huruf R-nya. Begitu Bagas mbrojol ke muka bumi, kami tambah jarang menyebutnya. Khawatir kalau Bagas ikut-ikutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, nyaris selama empat tahun ini, di rumah kami jarang sekali terdengar ada huruf R diucapkan. Kami terus merangsang Bagas agar bisa menyebut huruf R, S, dan N. Saat umurnya, 2 tahun tujuh bulan, dia mengalahkan huruf S dan N. Tapi, tidak untuk huruf yang kami takuti, R. Dia masih saja cadel. Jangan-jangan....jangan-jangan...kami sudah berpikiran buruk saja. Karena memang hampir menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian coba berimprovisasi, tanpa konsultasi ke psikolog, bagaimana agar bagas sukses menaklukan huruf R. Di antaranya dengan membelikan VCD lagu-lagu pop dewasa dan sebuah lap top mainan yang mengajarkan mengeja huruf dan angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, kami memberikan keleluasaan Bagas untuk bermain sesukanya. Termasuk dengan anak- anak yang usianya lebih tua. Jujur, dia lebih banyak belejar mengenal sendiri, terutama huruf R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, sungguh di luar dugaan. Dua pekan lalu, Bagas sudah bisa menyebut hurur R dengan baik. Saking senangnya, kadang kami membuatnya jengkel. Misalnya, ketika menyebut kata kamar. Kami kerap melontarkan pertanyaan terbuka dan berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, Bagas tadi sembunyi di mana?&lt;br /&gt;Dia menjawab, "Di kamar,"&lt;br /&gt;"Dimana? " tanya saya lagi.&lt;br /&gt;"Di kamar," katanya.&lt;br /&gt;"Maaf Gas, Ayah tidak dengar,"&lt;br /&gt;"Di kamar Ayah. Makanya perhatiin kalau Bagas lagi ngomong," ujarnya geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan istriku tersenyum lebar.  &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Alhamdulillah..Bagas tidak cadel. Tidak seperti Ayah dan Bundanya. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kini, setelah hampir empat tahun, akhirnya ada huruf R di rumah kami. Duh...Senangnya bukan main! Padahal, kami hanya dikasih huruf R.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-6304931420626034994?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/6304931420626034994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=6304931420626034994' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6304931420626034994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/6304931420626034994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2008/12/rumah-tanpa-huruf-r.html' title='Rumah Tanpa Huruf R'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SyorUsewHYI/AAAAAAAAAQs/3JbaUkALhqk/S220/acim.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SVSEM156hPI/AAAAAAAAAKo/9eguL2sMKqA/s72-c/belajar2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1554350043952854966.post-8175061565818473362</id><published>2008-12-18T02:37:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T20:13:08.780-08:00</updated><title type='text'>Muda-Andreas Cetak Sejarah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SUoqQq0t1LI/AAAAAAAAAKQ/GlP037JNr-Q/s1600-h/muda+mahendrawan+ishaqssqqqqqq.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 235px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KP7nzRJr1PQ/SUoqQq0t1LI/AAAAAAAAAKQ/GlP037JNr-Q/s320/muda+mahendrawan+ishaqssqqqqqq.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281079978906997938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Kemenangan Ketiga Calon Independen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat betul, pengamat politik Fachry Ali, sempat berujar saat mengomentari kemenangan Irwandi Yusuf yang menangi Pemilu Gubernur Nanggroe Aceh Darussalaam (NAD), pada 11 Desember 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irwandi dan Muhammad Nazar adalah pasangan calon independen. Mereka mengantongi 38,20% suara sekaligus mengalahkan pasangan Golkar malik Raden-Sayed Fuad Zakaria dan kandidat dari PPP Ahmad Humam Hamid-Hasbi Abdullah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kasus Irwandi Yusuf itu langka. Belum pernah ada kejadian sebelumnya calon independen menang. Di negara-negara yang mengakomodir calon independen dalam undang-undangnya, mungkin kemenangan calon independen NAD ini adalah baru pertama kali di dunia," kata Fachry Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, pengamat dari LIPI itu harus segera meralat ucapannya. Sebab, Oktober 2008, sejarah kemenangan calon independen terulang untuk kedua kalinya. Kali ini, giliran pasangan OK Arya Zulkarnain-Gong Matua Siregar yang memenangi Pemilu Bupati Batubara, Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya mengantongi 34,67 persen suara. Unggul atas pesaing terdekat psangan Yahdi Khoir Harahap-Surya yang diusung PAN dan Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Desember 2008, pencapaian cemerlang calon nonpartai politik juga mewarnai Pemilu Bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat. Pasangan independen Muda Mahendrawan-Andreas Muhrotien tidak tergoyahkan meski pemilihan harus dua putaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya mengalahkan Pasangan Sujiwo-Sapta Oktohari yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) dengan perbandingan suara 123.448 dan 91.539. Dengan begitu, berarti sudah tiga pasangan calon Independen yang memenangi pemilihan kepala daerah di Indonesia sejauh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai faktor, saya hanya ingin mencermati bagaimana Irwandy Yusuf, OK Arya Zulkarnain, dan Muda Mahendrawan membetot perhatian masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Irwandi Yusuf adalah cerdik pandai dibalik upaya perdamaian di Aceh. Selain ditunjuk sebagai senior Representative GAM (TNA) untuk Misi Pemantau Aceh (AMM), ia juga dipercaya petinggi GAM di Swedia sebagai Koordinator Juru Runding GAM. Saat rapat pertama di Aceh Monitoring Mission, dia tampil sebagai koordinator Juru Runding GAM di Aceh (2001-2002).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;sementara Oka Arya dan Muda Mahendrawan, gigih berupaya memekarkan wilayah masing-masing. Oka memperjuangkan Kabupaten Batubara lepas dari Kabupaten Induknya, Asahan. Sementara Muda Mahendrawan begitu mengakar karena kukuh mengusung pemekaran Kabupaten Pontianak menjadi Kabupaten Kubu Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan calon independen sebenarnya bukan barang baru dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Pada 1955, Indonesia pernah mengakui M Hasan yang duduk sebagai anggota legislatif dari luar partai politik. Untuk partai, Indonesia juga sempat terhenyak saat Partai Dayak menang di Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti sejarah itu pula yang menegaskan sesungguhnya calon independen memiliki akar dalam sejarah ketatanegaraan negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tetap saja kemenangan ketiga pasangan calon independen di atas menimbulkan perbincangan hangat di masyarakat. Teman-teman ngopi saya sempat mempertanyakan apa yang sesungguhnya terjadi dengan mesin-mesin partai politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang besar apa PDI P dan Golkar di Kubu Raya? Kurang kuat bagaimana PAN, Golkar, dan PPP di Aceh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustahil mereka tidak bergerak. Apalagi, tiap partai memiliki hierarki kepengurusan dan basisi massa yang jelas. Dan, paling mungkin digerakkan menjadi mesin penghimpun suara terefektif. Karena, umumnya mereka loyal terhadap pengurus partai yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah, meminjam istilah mantan Ketua MPR, Amien Rais, sebuah pelajaran berharga bagi partai politik. Betapa kehadiran calon independen membuat oase di tengah hujatan dan kurang berwibawanya partai politik akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai-partai lebih sering sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka sepertinya membicarakan kepentingan publik, tapi hanya di awal, untuk kemudian rakyat hanya menjadi bahan tawar-menawar kekuasaan. Mereka sepertinya sibuk memperhatikan konstituen, tapi hanya saat-saat pemilihan umum untuk akhirnya mereka lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja, bagaimana partai politik berkecenderunan untuk menjadi oligarki karena seringkali kurang mengkonsultasikan pencalonan seseorang melalui partai dengan konstituennya. Partai sekadar menjadi&lt;br /&gt;juri untuk meloloskan seseorang menjadi calon kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran calon independen sebetulnya merupakan mekanisme kontrol terhadap partai-partai politik.&lt;br /&gt;Namun demikian, partai-partai politik tidak perlu takut menyikapai fenomena ini, selama memiliki manajemen yang baik dan bertanggung jawab kepada konstituennya. Dan mereka mengembalikan fungsi sebagai organisasi yang mengartikulasikan kepentingan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang calon independen ini lebih pas dipakai dalam pemilihan kepala daerah dibandingkan dalam pemilihan presiden. Tetapi, siapa yang bisa menyangka. Gubernur Aceh sudah, Bupati Batu-bara sudah. Bupati Kubu Raya sudah. Presiden Indonesia, mungkinkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman di Amerika Serikat memperlihatkan sulitnya calon independen menang dalam pemilihan presiden. Sepanjang sejarah negeri Paman Sam itu, hanya George Washington yang bisa menjadi presiden tanpa lewat partai. Apalagi ada mekanisme pemilihan pendahuluan guna menentukan calon partai dalam pemilihan presiden untuk menjamin aspirasi rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, calon independen seperti Ross Perot atau Ralph Nader, hanya menjadi semacam penggembira. Walaupun mereka punya banyak uang. Di tataran politik lokal, calon independen memang bisa menang meski sepanjang sejarah, baru tiga gubernur nonpartai yang terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakomodirnya calon Independen tidak terlepas keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), yang mengabulkan yudicial review pasal 59 UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pilkada. Isinya calon perseorangan dibolehkan ikut berlaga dalam pemilihan kepala daerah dengan memerhatikan ketentuan pasal 58 UU Pemda melalui mekanisme yang demokratis dan transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, hakikat demokrasi adalah kesetaraan semua warga untuk mendapatkan hak mereka. Tak ada yang diistimewakan, tak ada pula yang dikekang, termasuk soal hak dipilih. Inilah makna yang pantas digarisbawahi dari keputusan Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan beberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan keputusan itu, kini kandidat kepala daerah tak perlu mendapat dukungan partai untuk berlaga di ajang pemilihan kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah fakta demokrasi kita. Publik tidak bodoh. Mereka punya mekanisme sendiri untuk menolak hegemoni partai. Ketika partai tidak lagi merepresentasikan konstituennya, mereka memilih untuk tidak memilih atau mencoblos calon independen, seperti yang terjadi di Aceh, Batubara, dan Kubu raya. Fenomena maraknya golongan putih dan populernya calon independen seharusnya menjadi pelajaran bagi partai-partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya calon independen tidaklah berarti menyingkirkan peran partai. Demokrasi yang sehat tetap membutuhkan partai, karena di sinilah mekanisme rekrutmen calon pemimpin yang lebih teratur bisa berjalan. Partai juga diperlukan untuk menyederhanakan konflik politik dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas partai-partai politik sekarang adalah bagaimana agar mereka mampu memperkecil kesenjangan antara harapan publik dan peran yang dijalankan partai. Bila kesenjangan itu teratasi, calon independen dengan sendirinya tak akan banyak mendapat pendukung. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1554350043952854966-8175061565818473362?l=gilaontel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gilaontel.blogspot.com/feeds/8175061565818473362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1554350043952854966&amp;postID=8175061565818473362' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8175061565818473362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1554350043952854966/posts/default/8175061565818473362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gilaontel.blogspot.com/2008/12/muda-andreas-cetak-sejarah.html' title='Muda-Andreas Cetak Sejarah'/><author><name>gila^ontel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04911651998705936575</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_KP7nzR
